© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Psikopatologi?

image

Psikopatologi adalah studi tentang penyakit mental, tekanan mental, dan abnormal/perilaku maladaptif. Istilah ini paling sering digunakan dalam psikiatri di mana patologi mengacu pada proses penyakit. Psikologi abnormal adalah istilah yang sama digunakan lebih sering di bidang psikologis non-medis.

1 Like

Psikopatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala gangguan jiwa pada manusia. Psikopatologi merupakan studi tentang penyakit mental, tekanan mental, dan perilaku tidak normal.

• Psikopatologi tidak hanya mengetengahkan konsep penyakit psychological functioning, tapi juga mengetengahkan bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh faktor-faktor psikologis.

Dalam istilah lain psikologi abnormal juga sering disamakan dengan psikopatologi.

Ada dua hal penting yang harus dipahami dalam pembahasan psikopatologi yaitu jenis gangguan jiwa dan proses terjadinya.

Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal, antara lain:

1. Statistical infrequency

  • Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang yang akan diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva.

  • Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan, intelegensi, ketrampilan membaca, dsb.

  • Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius.

  • Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal.

2. Unexpectedness

  • Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi.

3. Violation of norms

  • Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi.

  • Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal.

  • Kriteria ini mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal.

  • Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi abnormal.

4. Personal distress

  • Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu.

  • Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan.

  • Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik.

  • Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum.

5. Disability

  • Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan.

  • Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disability dalam masalah seksual.

Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Dan adanya kriteria pertimbangan sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta waktu.

Patologi (pathology) adalah pengetahuan tentang penyakit atau gangguan. Sedang psikopatologi (psychopathology) adalah cabang psikologi yang berkepentingan untuk menyelidiki penyakit atau gangguan mental dan gejala-gejala abnormal lainnya (Chaplin, 1999).

Psikopatologi atau sakit mental adalah sakit yang tampak dalam bentuk perilaku dan fungsi kejiwaan yang tidak stabil. Istilah psikopatologi mengacu pada sebuah sindroma yang luas, yang meliputi ketidaknormalan kondisi indra, kognisi, dan emosi. Asumsi yang berlaku pada bidang ini adalah bahwa sindrom psikopatologis atau sebuah gejala tidak semata-mata berupa respon yang dapat diprediksi terhadap gejala tekanan kejiwaan yang khusus, seperti kematian orang yang dicintai, tetapi lebih berupa manifestasi psikologis atau disfungsi biologis seseorang (Mujib & Mudzakir, 2001).

Dalam tinjauan psikologi, psikopatologi dapat bertolak dari tiga asumsi yang masing-masing memiliki aplikasi psikologis yang berbeda.

  1. Asumsi pertama, dikembangkan oleh aliran psikoanalisa yang ditokohi oleh Sigmund Freud. Menurut Freud, pada dasarnya jiwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan sakit, jahat, buruk, bersifat negatif atau merusak. Agar manusia berkembang dengan positif, diperlukan cara-cara pendamping yang bersifat impersonal dan direktif atau mengarahkan.

  2. Asumsi kedua, dikembangkan aliran behavioristik oleh BF. Skinner. Menurut aliran ini, pada dasarnya jiwa manusia itu dilahirkan dalam kondisi netral (tidak sakit dan tidak sehat) seperti tabularasa (kertas putih), hanya lingkungan yang menentukan arah perkembangan jiwa tersebut. Lingkungan yang baik akan membentuk suasana psikologis yang baik dan harmonis, sebaliknya lingkungan yang buruk akan berimplikasi pada gejala psikologis yang buruk pula. Asumsi ini selain bersifat deterministik dan mekanistik juga memperlakukan manusia seperti makhluk yang tidak memiliki jiwa yang unik. Jiwa manusia dianggap seperti jiwa hewan yang tidak memiliki kecenderungan apa-apa dan dapat diatur seperti mesin atau robot.

  3. Asumsi ketiga, dikembangkan aliran humanistik yang ditokohi Abraham Maslow dan Carl Rogers. Menurut aliran ini jiwa manusia dilahirkan dalam kondisi sadar, bebas, bertanggung jawab dan dibimbing oleh daya-daya positif yang berasal dari dirinya sendiri ke arah pemekaran seluruh potensi manusia secara penuh. Agar berkembang ke arah positif, manusia tidak memerlukan pengarahan melainkan membutuhkan suasana dan pendamping personal serta penuh penerimaan dan penghargaan demi berkembangnya potensi positif yang melekat dalam dirinya. Normalitas manusia merupakan nature yang alami, fitri, dan dari semula dimiliki manusia, sedang abnormalitas merupakan nature yang baru datang setelah terjadi anomali (inkhiraf) pada diri manusia (Mujib & Mudzakir, 2001).

Menurut Atkinson terdapat enam kriteria untuk menentukan kesehatan mental seseorang, yaitu:

  1. Adanya persepsi yang realistis dan efisien dalam mereaksi atau mengevaluasi apa yang terjadi di dunia sekitarnya.

  2. Mengenali diri sendiri, baik berkaitan dengan kesadaran atau motifnya

  3. Kemampuan untuk mengendalikan perilaku secara sadar, seperti menahan perilaku impulsif dan agresif.

  4. Memiliki harga diri dan dirinya dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya

  5. Kemampuan untuk membentuk ikatan kasih, seperti tidak menuntut berkelebihan pada orang lain dan dapat memuaskan orang lain bukan hanya memuaskan diri sendiri.

  6. Ada jiwa yang antusias yang mendorong seseorang untuk mencapai produktivitas (Atkinson, Tt).