Apa yang dimaksud dengan Psikopat ?

Psikopat

Psikopat secara etimologi berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan phatos yang berarti penyakit. Psikopat tidak sama dengan gila ( skizofrenia/psikosis ). Seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya.

Apa yang dimaksud dengan Psikopat ?

Psikopat merupakan hambatan kejiwaan yang menyebabkan pengidapnya mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri terhadap norma-norma sosial yang ada di lingkungannya. Pengidap psikopat memperlihatkan sikap egosentris yang besar. Seolah-olah semua patokan untuk semua perbuatannya adalah dirinya sendiri.

Menurut Kartini Kartono dalam bukunya yang berjudul Psikologi Abnormal, Psikopat adalah bentuk kekalutan mental (mental disorder) yang ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi sehingga seorang psikopat tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral dan selalu terjadi konflik dengan norma-norma sosial dan hukum.

Psikopat merupakan kelainan dan gangguan jiwa yang ciri utamanya yaitu memiliki ketidakmampuan dalam memyesuaikan diri. Selain itu seorang psikopat juga tidak memiliki tanggung jawab moral dan sosial, berkepribadian labil serta emosinya tidak matang.

Seorang psikopat dapat melakukan apapun yang diinginkan dan meyakini bahwa yang dilakukannya tersebut benar. Sifatnya yang pembohong, manipulatif, tanpa rasa belas kasihan, serta tidak bersalah setelah menyakiti orang lain. Bahkan terkadang seorang psikopat dapat bertindak kejam kepada siapapun, tidak peduli saudara, kerabat, atau orang tua. Selain tidak peduli terhadap siapun, psikopat selalu melihat kelemahannya karena orang lain.

Menurut Tieneke, perilaku psikopatik biasanya muncul dan berkembang pada masa dewasa. Puncaknya yaitu ketika seseorang berada di usia sekitar 40 tahun, kemudian mengalami fase plateau pada usia sekitar 50 tahun kemudian sedikit demi sedikit menghilang. Psikopat juga bisa disebabkan oleh kesalahan pola asuh. Ia menyarankan agar bersikap waspada pada anak yang pemarah, suka berkelahi dan melawan, melanggar aturan, dan bersikap kejam pada hewan serta anak yang lebih kecil.

Jenis Psikopat


Dalam buku The Mask of Sanity karya Dr. Cleckley, terdapat 4 jenis psikopat. Jenis-jenis tersebut antara lain:

  • Primary psychopath yang bergeming terhadap hukuman, penahanan dan tekanan. Orang jenis ini mempunyai cara sendiri untuk memaknai kata dan kehidupan.

  • Secondary psychopath merupakan seorang pengambil resiko serta tanggap terhadap tekanan. Orang jenis ni juga mudah cemas dan merasa bersalah.

  • Distempered psychopath, cenderung marah dan apabila kumat hamper mirip seperti orang yang sakit ayan (epilepsi). Psikopat tipe ini juga cenderung pecandu obat, kleptomania, pedofilia, bahkan yang paling parah menjadi pembunuh dan pemerkosa berantai.

  • Charismatic psychopath merupakan jenis yang berbohong, menarik dan menawan. Mereka biasanya mempunyai bakat tertentu, namun dengan kelebihan tersebut dipergunakan untuk menipu dan memperdaya orang lain.

Referensi

  • Ivana Sajogo, Didi Aryono Budiono, Kepribadian Antisosial: Fokus pada White-Coolar Crime
  • Singgih Dirgagunarsa, Pengantar Psikologi , (Jakarta: Mutiara, 1998).
  • Kartini Kartono , Psikologi Abnormal , (Bandung: Bandar Maju, 2000).

Psikopat berasal dari kata psyche (jiwa) dan pathosi (penyakit). Secara harfiah, psikopat berarti sakit jiwa. Namun, psikopat tak sama dengan kegilaan (skizofrenia/psikosis), sebab seorang psikopat umunya disebut “Sosiopat”, karena prilakunya yang antisosial yang merugikan orang-orang terdekat tanpa empati sedikitpun, meski mereka menyadari seluruh perbuatannya.

Definisi psikopat dapat menjadi berbeda-beda karena tergantung pada peneliti, psikopat didefinisikan sedikit berbeda dan seringkali banyak sifat psikopat yang dipertimbangkan. Definisi sederhana psikopat yang bersumber dari Society for the Scientific Study of Psychopathy. Psikopat adalah Sebuah konstelasi sifat yang terdiri dari fitur afektif, fitur interpersonal, serta perilaku impulsif dan antisosial. Fitur afektif termasuk kurangnya rasa bersalah, empati, dan ikatan emosional yang mendalam dengan orang lain; fitur interpersonal termasuk narsisme dan pesona dangkal; dan impulsif dan perilaku antisosial termasuk ketidakjujuran, memanipulasi, dan pengambilan risiko yang ceroboh. Meskipun psikopat merupakan faktor risiko untuk agresi fisik, itu tidak berarti sama dengan itu. Berbeda dengan individu dengan gangguan psikotik, kebanyakan psikopat berhubungan dengan kenyataan dan tampaknya rasional. Individu psikopat sering ditemukan di penjara, tetapi dapat ditemukan di lingkungan masyarakat juga.

Penyebab Psikopat

Tidak ada yang tahu persis apa yang menyebabkan psikopat tetapi dapat menjadi kemungkinan berasal dari kombinasi faktor genetika, lingkungan dan interpersonal. Sebagai contoh, anak-anak psikopat lebih cenderung menjadi psikopat sendiri, menunjukkan pengaruh genetik.

Selain itu, beberapa pengalaman awal kehidupan telah terbukti meningkatkan risiko menjadi seorang psikopat. Pola asuh yang buruk, pola asuh yang berfokus pada hukuman (bukan hadiah) dan pola asuh yang tidak konsisten tampaknya membantu menyebabkan sifat psikopat. Faktor risiko tambahan untuk psikopati meliputi:

  • Penyalahgunaan zat oleh orang tua
  • Perpisahan dari orang tua atau kurangnya keterlibatan orang tua
  • Kekerasan fisik atau kelalaian anak

Tanda dan Gejala Psikopat: Penyebab Psikopat

Tanda-tanda dan gejala-gejala psikopati diidentifikasi paling umum dalam studi ilmiah; “scientific studies by Hare’s 20-item Psychopathy Checklist-Revised”. Berikut adalah gejala dan tanda-tanda psikopat:

  • Pesona dan kebahagiaan yang dangkal
  • Rasa harga diri meningkat
  • Kebutuhan konstan untuk stimulasi
  • Berbohong secara patologis
  • Menipu orang lain; menjadi manipulatif
  • Kurangnya penyesalan atau rasa bersalah
  • Emosi dangkal
  • Sifat berkulit tebal; kurangnya empati
  • Menggunakan orang lain (gaya hidup parasit)
  • Kontrol perilaku yang buruk
  • Perilaku seksual bebas
  • Masalah perilaku di awal kehidupan
  • Kurang realistis, tujuan jangka panjang
  • Menjadi impulsif
  • Tidak bertanggung jawab
  • Menyalahkan orang lain dan menolak untuk menerima tanggung jawab
  • Memiliki beberapa hubungan perkawinan
  • Kenakalan saat muda
  • Pencabutan pembebasan bersyarat
  • Tindak pidana di beberapa bidang (fleksibilitas kriminal)

Apakah Psikopat Penyakit Mental?: Penyebab Psikopat

Psikopat juga kadang-kadang dikenal sebagai gangguan kepribadian psikopat dan dianggap sebagai penyakit mental. Seperti halnya penyakit mental pada umumnya, tidak ada penyembuhan yang diketahui untuk psikopat dan perawatan psikopat dewasa telah terbukti tidak efektif. Namun, perawatan anak-anak dengan sifat-sifat psikopat telah menunjukkan beberapa harapan.

Bagaimana Menentukan Seseorang adalah Psikopat?

Seorang psikopat cenderung memiliki pemahaman diri yang rendah dalam menggambarkan keluhan yang dirasakan. Orang dengan gangguan kepribadian antisosial seperti psikopat hampir tidak pernah merasa perlu untuk berkonsultasi ke dokter karena gangguan yang dideritanya. Mereka seringkali baru diperiksa oleh dokter karena telah melanggar hukum, atau perilakunya menimbulkan dampak buruk bagi dirinya dan orang lain. Diperlukan serangkaian pemeriksaan untuk menentukan apakah seseorang benar-benar memiliki gangguan perilaku antisosial ini. Berikut tahapan pemeriksaan yang bisa dilakukan dokter:

  • Penelurusan riwayat kehidupan dan tipe kepribadian seseorang yang dicurigai psikopat.

  • Dokter juga akan melakukan evaluasi psikologis untuk memeriksa dengan saksama pikiran, perasaan, pola perilaku, dan riwayat keluarga. Evaluasi psikologi juga mungkin termasuk tes psikologi tentang kepribadian seseorang, dan bagaimana pikiran orang tersebut mengenai keinginan bunuh diri, menyakiti diri sendiri atau orang lain.

  • Memeriksa gejala-gejala lain yang terkait dengan gangguan kesehatan mental.

Pemeriksaan di atas harus dilakukan karena dalam kehidupan sehari-hari, psikopat bisa saja tampil normal dan tak menonjol. Mereka bisa memiliki profesi tetap selayaknya manusia normal. Namun, jika memiliki tanda-tanda yang mencurigakan ke arah gangguan kepribadian, sebaiknya konsultasikan ke dokter

1 Like

Secara harfiah psikopat berarti sakit jiwa. Berasal dari kata psyche yang artinya jiwa dan pathos yang artinya penyakit. Orang awam lazimnya menyebut gila. Tahun 1952 dalam ilmu psikiatri terjadi perubahan nomenklatur kepribadian psikopatik menjadi kepribadian sisiopatik. Namun pada 1968 terminologi kepribadian sosiopatik berubah menjadi bentuk gangguan kepribadian antisosial, yang dipakai hingga saat ini.

Menurut Singgih Dirgagunarsa mengatakan bahwa psikopat merupakan hambatan kejiwaan yang menyebabkan pengidapnya mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri terhadap norma-norma sosial yang ada di lingkungannya. Pengidap psikopat memperlihatkan sikap egosentris yang besar. Seolah-olah semua patokan untuk semua perbuatannya adalah dirinya sendiri.

Sedangkan menurut Kartini Kartono dalam bukunya yang berjudul Psikologi Abnormal, Psikopat adalah bentuk kekalutan mental (mental disorder) yang ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi sehingga seorang psikopat tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral dan selalu terjadi konflik dengan norma-norma sosial dan hukum.

Berdasarkan penjelasan Kartini Kartono dan Singgih Dirgagunarsa dapat disimpulkan bahwa psikopat merupakan kelainan dan gangguan jiwa yang ciri utamanya yaitu memiliki ketidakmampuan dalam memyesuaikan diri. Selain itu seorang psikopat juga tidak memiliki tanggung jawab moral dan sosial, berkepribadian labil serta emosinya tidak matang.

Seorang psikopat dapat melakukan apapun yang diinginkan dan meyakini bahwa yang dilakukannya tersebut benar. Sifatnya yang pembohong, manipulatif, tanpa rasa belas kasihan, serta tidak bersalah setelah menyakiti orang lain. Bahkan terkadang seorang psikopat dapat bertindak kejam kepada siapapun, tidak peduli saudara, kerabat, atau orang tua. Selain tidak peduli terhadap siapun, psikopat selalu melihat kelemahannya karena orang lain.

Menurut Dra Tieneke Syaraswati dari FK Universitas Indonesia, di Amerika Serikat jumlah pengidap psikopat cukup banyak sedangkan di Indonesia data pastinya belum ada. Namun, Dra Tieneke meyakini jumlahnya cukup banyak.

Dra Tieneke juga menjelaskan, perilaku psikopatik biasanya muncul dan berkembang pada masa dewasa. Puncaknya yaitu ketika seseorang berada di usia sekitar 40 tahun, kemudian mengalami fase plateau pada usia sekitar 50 tahun kemudian sedikit demi sedikit menghilang. Psikopat juga bisa disebabkan oleh kesalahan pola asuh. Ia menyarankan agar bersikap waspada pada anak yang pemarah, suka berkelahi dan melawan, melanggar aturan, dan bersikap kejam pada hewan serta anak yang lebih kecil.

Indikator Psikopat


Seseorang yang antisosial cenderung tidak memperdulikan norma-norma sosial yang ada, pemberontak serta tidak mempedulikan aturan yang ada. Kepribadiannya sulit ditebak. Hal ini bisa dilihat dari tidak stabilnya dalam hubungan interpersonal dan lebih mementingkan citra diri. Seorang psikopat selalu bertindak berdasarkan kata hatinya tanpa memoedulikan apakah tindakannya merugikan orang lain atau tidak. Orang seperti ni juga cenderung melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang (impulsif) dan selalu berfikiran negatif. Selain itu ia juga memiliki sifat pendendam, sekali saja orang lain melakukan kesalahan seumur hidup ia akan mengingatnya dan suatu saat akan diungkit lagi.

Selain itu seorang psikopat juga memiliki sifat yang histrionic (pandai bersandiwara). Ia selalu ingin menarik perhatian dan emosinya tidak bisa dikontrol (meledak-ledak). Selain itu juga memiliki sifat narcisstic (luar biasa egois). Hal tersebut ditunjukkan dengan sikapnya yang selalu ingin dikagumi orang lain. Ia selalu ingin menjadi satu-satunya yang ada dalam hidup seseorang yang ia cintai. Hanya dia yang boleh dipuja.

Dr. Hervey Cleckley dalam bukunya yang berjudul The Mask of Sanity (1941), Ia menggambarkan seorang psikopat sebagai pribadi yang charming, likeable, intelek, impresif dan pandai merayu. Pada umunya mereka juga cerdas secara akademik.7 Namun dibalik itu semua mereka lebih banyak memiliki sifat negatif seperti tidak bertanggung jawab, merusak diri sendiri dan orang lain, dan sering mengatakan ingin bunuh diri ketika hubungan cintanya kandas.

Prof. Robert D Hare dalam bukunya yang berjudul Without Conscience menyebutkan 20 ciri-ciri psikopat. 15 Diantaranya yaitu:

  1. Egosentris dan menganggap dirinya hebat
  2. Sering berbohong, fasih dan dangkal
  3. Tidak mempunyai rasa sesal dan bersalah ketika melakukan kesalahan. Terkadang ia mengakui kesalahannya, namun ia remehkan
  4. Ketika masih kecil senang melakukan pelanggaran
  5. Bersikap acuh tak acuh terhadap masyarakat
  6. Tidak memiliki sikap empati. Bagi pengidap psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala orang tidak ada bedanya
  7. Bersifat agresif
  8. Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Bagi seorang psikopat tidak ada waktu untuk memikirkan baik-buruk sebuah tindakan. Mereka tidak peduli dengan dampak perbuatannya
  9. Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangannya
  10. Manipulatif dan curang
  11. Hidup sebagai parasite karena memanfaatkan orang lain demi kesenangannya
  12. Seorang psikopat biasanya cerdas, dan mungkin paling cerdas diatara anak- anak lain
  13. Biasanya banyak mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya.
  14. Memiliki perikaraan sengan akurasi yang tinggi (perkiraannya jarang salah dan mayoritas benar.
  15. Mengetahui sesuatu yang tidak diketahui. Biasanya banyak yang benar dan sedikit yang salah.

Berdasarkan ciri-ciri tersebut, penulis menganalisa bahwa psikopat terbagi atas 3 kategori yaitu psikopat ringan, psikopat sedang, dan psikopat berat. Psikopat ringan yaitu psikopat yang melakukan perilaku yang secara umum menyimpang dari norma-norma sosial. Contohnya yaitu berdasarkan survey di Amerika Serikat yang mengatakan bahwa 1 diantara pengguna facebook merupakan pengidap psikopat. Ciri-ciri psikopat ringan diantaranya:

  1. Sering berbohong. Mereka menggunakan foto profil palsu, nama palsu dan data palsu.
  2. Egosentris. Pengidap psikopat kategori ringan enggan menerima saran-saran positif dan suka membantah.
  3. Tidak merasa bersalah dan menyesal. Mereka senang menyerang pribadi pembuat status tanpa merasa bersalah.
  4. Senang membuat kesalahan dengan menggunakan foto profil porno, foto tidak sopan, dan suka membuat status yang tidak layak dibaca.
  5. Bersikap acuh tak acuh dengan mengomentari status orang lain dengan sinis.
  6. Kurang empati. Mereka merasa lebih pandai, lebih tahu dan lebih mengerti dari teman facebook lainnya.
  7. Agresif yaitu dengan mencela status dan penulis status
  8. Impulsif dan mudah bereaksi. Apabila ada status yang bernada provokatif, ia langsung bereaksi keras

Kategori yang kedua yaitu psikopat ringan. Mereka yang masuk ke dalam kategori ini yaitu melakukan perilaku yang secara umum menyimpang dari dari norma-norma hukum. Ciri-cirinya yaitu:

  1. Sering berbohong. Mereka melakukan penipuan, pungli (pungutan liar), korupsi, nepotisme, suap, dan lain-lain.
  2. Egosentris yaitu melakukan pemerasan dan pemalakan
  3. Tidak mempunyai rasa sesal dan bersalah, mereka selalu mengulangi perbuatan jahatnya
  4. Sikap acuh tak acuh dengan tidak takut tehadap ancaman hukum
  5. Kurang empati. Mereka suka mempermainkan perasaan orang lain
  6. Senang melakukan pelanggaran dan suka melakukan tindakan kriminal
  7. Agresif. Sifat ini ditunjukkan dengan suka memaksa
  8. Impulsif dan mudah bereaksi
  9. Manipulatif dengan suka mencari-cari alasan dan pembenaran atas perbuatan kriminalnya

Yang terakhir yaitu psikopat kategori berat. Psikopat kategori ini yaitu mereka yang melakukan perilaku yang secara umum menyimpang dari norma-norma agama. Ciri-cirinya yaitu:

  1. Sering berbohong. Psikopat kategori ini meskipun sudah disumpah atas nama Tuhan, tetapi tetap saja berbohong ketika di pengadilan
  2. Egosentris dengan merasa agamanya yang paling benar
  3. Senang melakukan pelanggaran agama. Misalnya berjudi dan berzina
  4. Bersikap acuh tak acuh dengan tidak mau menghargai penganut agama lain
  5. Impulsif dan mudah bereaksi. Misalnya bersikap anarki terhadap hal-hal yang tujuannya mungkin baik namun caranya salah dan tidak religius.

Indikator atau ciri-ciri tersebut hanya indikator awal yang tingkat kebenarannya sekitar 50 persen. Untuk membuktikan seseorang mengidap psikopat diperlukan observasi baik secara medis maupun psikologis. Walaupun demikian indicator awal biasanya cukup bisa dijadikan gambaran yang sebenarnya.

Dalam buku The Mask of Sanity karya Dr. Cleckley menjelaskan bahwa terdapat 4 jenis psikopat. Jenis-jenis tersebut antara lain:

  1. Primary psychopath yang bergeming terhadap hukuman, penahanan dan tekanan. Orang jenis ini mempunyai cara sendiri untuk memaknai kata dan kehidupan.

  2. Secondary psychopath merupakan seorang pengambil resiko serta tanggap terhadap tekanan. Orang jenis ni juga mudah cemas dan merasa bersalah.

  3. Distempered psychopath, cenderung marah dan apabila kumat hamper mirip seperti orang yang sakit ayan (epilepsi). Psikopat tipe ini juga cenderung pecandu obat, kleptomania, pedofilia, bahkan yang paling parah menjadi pembunuh dan pemerkosa berantai.

  4. Charismatic psychopath merupakan jenis yang berbohong, menarik dan menawan. Mereka biasanya mempunyai bakat tertentu, namun dengan kelebihan tersebut dipergunakan untuk menipu dan memperdaya orang lain.

Faktor Penyebab psikopat


Sampai saat ini banyak penelitian yang mendukung berbagai faktor tentang penyebab kelainan psikopat, antara lain:

  1. Kelainan otak
    Hubungan antara gejala kelainan psikopat dengan kelainan sistem serotonin kelainan struktural, dan kelainan fungsional otak. (Pridmore, Chambers & McArthur, 2005)9. Sebuah studi di Amerika menemukan bahwa lebih dari 20 persen narapidana di sebuah penjara menengah setempat merupakan pengidap psikopati atau psikopat. Untuk mengetahui penyebabnya, para peneliti menggunakan alat scan MRI untuk mengamati aktivitas otak para narapidana di Rutan tersebut, ada sekitar 120 tahanan. Dari jumlah tersebut peneliti mengelompokkan menjadi 3 kategori. Psikopat rendah, tinggi, dan sedang.

    Setelah digolongkan berdasarkan kategori, peneliti menunjukkan beberapa gambar orang yang sedang kesakitan, seperti tertimpa benda berat atau terjepit pintu. Mereka disuruh membayangkan jika hal tersebut terjadi pada orang lain yang mereka kenal. Hasilnya, peneliti menemukan minimnya aktivitas pada bagian otak utama, termasuk amigdala (bagian otak yang paling berperan mengatur emosi). Menurut pemimpin penelitian, Prof. Jean Decety respon yang terhambat pada amigdala dan korteks prevontal ventromedial terbukti sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya tentang psikopati.

  2. Lingkungan
    Orang yang mengidap psikopat memilik latar belakang masa kecil yang tidak memberikan peluang untuk mengembangkan masa emosinya secara maksimal. (Kirkman, 2002). Menurut Kartini Kartono, seseorang dapat menderita psikopat karena kurang atau tidak adanya kasih sayang yang diterima dari lingkungannya, terutama keluarga. Apabila pada lima tahun pertama dalam hidupnya dia tidak pernah mengalami kelembutan, kemesraan, dan kasih sayang, hal ini menjadikan individu tersebut gagal dalam mengembangkan kemampuan untuk menerima dan memberikan perhatian serta kasih sayang terhadap orang lain.

  3. Kepribadian sendiri
    Adanya hubungan antara perilaku para pengidap psikopat dengan skor yang tinggi dalam tes kepribadian Revised NEO Personality Inventory (NEO-P- I-R,1992). (Miller & Lynam, 2003).

Referensi

http://digilib.uinsby.ac.id/4239/3/Bab%202.pdf

Singgih Dirgagunarsa (1999) menyatakan bahwa psikopat merupakan hambatan kejiwaan yang menyebabkan penderita mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri terhadap norma-norma sosial yang ada di lingkungannya. Penderita psikopat memperlihatkan sikap egosentris yang besar, seolah-olah patokan untuk semua perbuatan dirinya sendiri saja.

Menurut Kartini Kartono (1999), psikopat adalah bentul kekalutan mental (mental disorder) yang ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi sehingga penderita tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral dan selalu konflik dengan norma-norma sosial dan hukum. Selanjutnya Kartini Kartono menyebutkan gejala-gejala psikopat antara lain sebagai berikut.

  1. Tingkah laku dan realasi sosial penederita selalu asosial, eksentrik dan kronis patologis, tidak memiliki kesadaran social dan inteligensi sosial.
  2. Sikap penderita psikopat selalu tidak menyenangkan orang lain.
  3. Penderita psikopat cenderung bersikap aneh, sering berbuat kasar bahkan ganas terhadap siapapun.
  4. Penderita psikopat memiliki kepribadian yang labil dan emosi yang tidak matang.

Bersadarkan pendapat yang dikemukakan oleh Singgih Dirgagunarsa dan Kartini Kartono tersebut dapat disimpulkan pengertian mengenai psikopat sebagai berikut.

  1. Bahwa psikopat merupakan kelainan atau gangguan jiwa dengan
  2. Ciri utamanya ketidak mampuan penderita dalam menyesuaikan
  3. Diri dengan norma yang berlaku di lingkungan sosialnya.
  4. Bahwa penderita psikopat tidak memiliki tanggung jawab moral dan sosial.
  5. Bahwa perbuatan penderita psikopat dilakukan dengan acuan egonya.
  6. Bahwa penderita psikopat memiliki kepribadian yang labil dan emosi yang tidak matang.

Faktor Penyebab Terjadinya Psikopat


Seseorang dapat menderita psikopat karena kurang atau tidak adanya kasih sayang yang diterima dari lingkungannya, terutama keluarga. Selama lima tahun pertama dalam hidupnya dia tidak pernah merasakan kelebutan, kemesraan, dan kasih sayang, sehingga individu yang bersangkutan gagal dalam mengembangkan kemampuan untuk menerima dan memberikan perhatian dan kasih saying pada orang lain (Kartini Kartono, 1990).

Bahwa terjadinya psikopat tidak terlepas bahkan ditentukan oleh lingkungan keluarga tidak dapat dipungkiri. Dalam Hal ini Elizabeth Hurlock (1997) mengutip pendapat penulis yang tidak bernama antara lain sebagai berikut.

  1. Bila seorang anak hidup dalam kecaman, dia belajar mengutuk.
  2. Bila dia hidup dalam permusuhan, dia belajarberkelahi.
  3. Bila dia hidup dalam toleransi, dia belajar bersabar.
  4. Bila dia hidup dalam kebijaksanaan, dia belajar mengharga keadilan.
  5. Bila dia hidup akan suasana aman, dia belajar percaya akan dirinya dan orang lain.

Psikopat adalah gangguan jiwa yang dianggap berbahaya dan merugikan masyarakat. Namun demikian, psikopat apabila dilihat sepintas memiliki sifat baik dan disukai banyak orang dengan kemampuannya untuk berbohong dan memanipulasi keadaan, tetapi dibalik semua itu mereka sangatlah merugikan masyarakat. Orang-orang seperti inilah yang sering disebutkan oleh para ahli sebagai psikopat yang menderita kelainan atau patologi (studi ilmiah terkait proses penyakit).

Menurut Kartini Kartono (1989), psikopat adalah bentuk kekalutan mental (mental disorder) yang ditandai dengan tidak ada pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi, orangnya tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral, selalu konflik dengan norma sosial dan hukum (karena sepanjang hayatnya hidup dalam lingkungan sosial yang abnormal dan moral) yang diciptakan oleh angan-angan sendiri.

Menurut Dirgagunarsa (1998), psikopat merupakan hambatan kejiwaan yang menyebabkan penderita mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri terhadap norma-norma sosial yang ada di lingkungannya. Penderita psikopat memperlihatkan sikap egosentris yang besar, seolah-olah patokan untuk semua perbuatan dirinya sendiri saja.

Ciri-ciri Psikopat

Berikut ini merupakan beberapa ciri umum yang biasanya terlihat pada penderita gangguan jiwa psikopat berdasarkan Psychopath Check List-Revised (PCL-R), yaitu sebagai berikut:

  1. Sering berbohong, fasih dan dangkal. Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar bicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang sosiologi, psikiatri, kedokteran, psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain. Seringkali pandai mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta.

  2. Egosentris dan menganggap dirinya hebat.

  3. Perfeksionis. Menjalankan segala cara agar tujuannya tercapai.

  4. Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah. Psikopat selalu meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli.

  5. Senang melakukan pelanggaran dan bermasalah perilaku di masa kecil.

  6. Sikap antisosial di usia dewasa.

  7. Kurang empati.

  8. Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar rumah.

  9. Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menerang orang hanya karena hal sepele.

  10. Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan sesuatu demi kesenangan belaka.

  11. Manipulatif dan curang. Psikopat juga sering menunjukan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar. Bagi psikopat hal ini tidak berlaku. Karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah “dingin”.

  12. Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya.

Faktor Penyebab Psikopat

Dr. Robert Hare, seorang ahli psikologis dunia, di mana dalam bukunya, Without Conscience, ia mengatakan bahwa penyebabnya masih belum bisa diprediksi secara pasti apakah hal tersebut merupakan pengaruh dari faktor eksternal (kehidupan sosial, lingkungan), faktor internal (genetik, kerusakan fungsi otak), atau mungkin juga faktor keduanya. Walau kini banyak ahli yang menyetujui bahwa faktor-faktor tersebut saling mempengaruhi.

Menurut Dr. Kartini Kartono, seseorang dapat menderita psikopat karena kurang atau tidak adanya kasih sayang yang diterima dari lingkungannya, terutama keluarga. selama lima tahun pertama dalam hidupnya, dia tidak pernah merasakan kelembutan, kemesraan, dan kasih sayang, sehingga individu yang bersangkutan gagal dalam mengembangkan kemampuan untuk menerima dan memberikan perhatian dan kasih sayang pada orang lain.

Tahap Mendiagnosis Psikopat

Ada lima tahap awal untuk mendiagnosis seseorang menderita gangguan jiwa psikopat atau tidak, yaitu :

  1. Mencocokan kepribadian pasien dengan kriteria-kriteria psikopat. Pencocokan ini dilakukan dengan cara mewawancara keluarga dan orang- orang terdekat pasien dan pengamatan perilaku pasien dari waktu ke waktu.

  2. Memeriksa kesehatan otak dan tubuh lewat pemindaian menggunakan elektroensefalogram, MRI, dan pemeriksaan secara lengkap.

  3. Wawancara menggunakan metode DSM ( Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder ) IV ( The American Psyciatric Association Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder versi IV ) yang dianggap berhasil untuk menentukan kepribadian antisosial.

  4. Memperhatikan gejala kepribadian pasien. Biasanya sejak usia pasien 17 tahun mulai menunjukan tanda-tanda gangguan kejiwaan.

  5. Melakukan psikotes. Psikopat biasanya memiliki IQ yang tinggi.

Penanganan dan Pencegahan

Pada umumnya psikopat tidak dapat diobati dan diterapi secara sempurna, tetapi hanya bisa terobservasi dan terdeteksi. Untuk tahap pengobatan dan rehabilitasi psikopat saat ini baru dalam tahap pemahaman gejala. Terapi yang paling sering dilakukan adalah non-obat seperti konseling. Namun melihat kompleksitas masalahnya, terapi psikopat bisa dikatakan sulit bahkan tidak mungkin.

Bahkan menurut Dr. Robert Hare, perawatan terhadap penderita psikopat bukan saja tidak menyembuhkan, melainkan justru menambah parah gejalanya, karena psikopat yang bersangkutan bisa semakin canggih dalam memanipulasi perilakunya yang merugikan orang lain. Beberapa hal, kata Dr. Hare akan membaik sendiri dengan bertambahnya usia, misalnya energi yang tidak sebesar waktu muda. Perilaku psikopatik biasanya muncul dan terlihat pada masa remaja kemudian berkembang pada masa dewasa, mencapai puncak di usia 40 tahun-an, mengalami fase plateau sekitar usia 50 tahun-an lantas perlahan memudar.

Psikopat

Psikopat tergolong dalam prilaku abnormal. Psikopat disebut juga pribadi sosiopatik atau pribadi antisosial atau dissosial. Berbeda dengan schizophrenia , kehidupan orang-orang psikopat umumnya terlihat normal. Bahkan tidak jarang seorang psikopat adalah orang-orang yang menarik.

Psikopat merupakan suatu gejala kelainan kepribadian yang sudah sejak lama dianggap berbahaya dan mengganggu masyarakat. Di dalam ilmu kedokteran psikopat masuk ke dalam klasifikasi gangguan kepribadian dalam bidang sosial (dis-sosial). Yang masuk dalam klasifikasi gangguan kepribadian dis-sosial yaitu antisosial, asosial dan amoral. Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Psikopat tidak sama dengan skizofrenia karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatan yang dilakukannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, sedangkan pengidapnya terkadang disebut “orang gila tanpa gangguan mental”.

Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi penduduk dunia mengidap psikopat. Beberapa pakar memprediksi 3 dari 10 laki-laki di Amerika Serikat adalah psikopat dan 1 dari 30 laki-laki di Inggris adalah psikopat. Prediksi tersebut didasarkan pada penelitian yang didasarkan pada sebagian besar respondennya adalah laki-laki. Psikopat ditemukan berbagai kelas sosial, bak laki-laki dan perempuan, yang merugikan masyarakat luas. Sekitar 80% psikopat hidup bebas di masyarakat dan berpenampilan layaknya manusia normal.

Ciri-ciri seorang pengidap psikopat menurut Psychopathic Checklist-Revised : fasih berbicara dengan daya tarik yang superfisial, merasa diri berharga, berbohong, kurang merasa bersalah, kurang bisa mengontrol emosi, tidak punya empati, gaya hidup parasit, kurangnya kontrol prilaku, prilaku seks yang menyimpang dan sembarangan gagal mengerjakan tanggung jawab pribadi, dan impulsif. (Pasanen dan Lee, 2008; Blair, 2010; James, 2010).

Setiap penyakit, baik itu penyakit fisik atau mental pasti memiliki cara dalam pengobatannya. Pengobatan tersebut bisa berupa obat-obatan maupun terapi. Terapi sendiri memiliki bermacam-macam jenis dan teknik yang disesuaikan dengan penyakit diidap salah satu jenis terapi ialah psikoterapi. Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Istilah ini mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosionalnya dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran dan emosinya, sehingga individu tersebut mampu mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.

Referensi

http://digilib.uinsby.ac.id/4239/2/Bab%201.pdf