Apa yang dimaksud dengan psikologi sosial?

Psikologi sosial

Psikologi sosial mempelajari tentang bagaimana masyarakat berpikir, mempengaruhi dan merlasikan antar anggota masyarakat itu sendiri.

Menurut Gordon Allport, dalam bukunya yang berjudul “The historical background of social psychology” menyebutkan bahwa psikologi sosial adalah disiplin ilmu yang menggunakan metode ilmiah “untuk memahami dan menjelaskan cara kita berpikir, perasaan dan perilaku individu dipengaruhi oleh kehadiran orang lain baik secara aktual atau tersirat lewat imajinasi kita."

berikut beberapa definisi terkait dengan piskologi sosial menurut beberapa ahli lainnya :

  • Sherif & Muzler, 1958: Psikologi Sosial adalah ilmu tentang pengalaman dan perilaku individu dalam kaitannya dengan situasi stimulus social.
  • Dewey & Huber, 1966: Psikologi social adalah study tentang manusia individual ketika ia berinteraksi, biasanya secara simbolik dengan lingkungannya.
  • Shaw & Constanzo, 1970: Psikologi Sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku individual sebagai fungsi rangsang-rangsang sosial.
  • Smith & Mackie, 2000: Social psychology is the scientific study of social and cognitive processes on the way individuals perceive, influence and relate to others.
  • Baron & Byrne, 2004: Psikologi Sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami asal-usul dan penyebab dari tingkah laku dan pemikiran individu pada konteks situasi social.

Beberapa teori kontemporer terkait psikologi sosial, antara lain :

  • Teori Behavioristik

Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan.

Teori behaviorisme hanya menganalisa perilaku yang nampak, dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan.

Pada teori belajar ini sering disebut Stimulus - Respon (S-R) psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan.

  • Teori Belajar Sosial

Belajar sosial (juga dikenal sebagai belajar observasional atau belajar vicarious atau belajar dari model) adalah proses belajar yang muncul sebagai fungsi dari pengamatan, penguasaan dan, dalam kasus proses belajar imitasi, peniruan perilaku orang lain. Jenis belajar ini banyak diasosiasikan dengan penelitian Albert Bandura, yang membuat teori belajar sosial. Di dalamnya ada proses belajar meniru atau menjadikan model tindakan orang lain melalui pengamatan terhadap orang tersebut. Penelitian lebih lanjut menunjukkan adanya hubungan antara belajar sosial dengan belajar melalui pengkondisian klasik dan operant.

Pada teori belajar sosial, setiap proses belajar terjadi dalam urutan tahapan peristiwa, yaitu :

  1. Fase Perhatian (attentian), Memberikan perhatian pada orang yang ditiru. Dalam fase ini mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan, keterlibatan perasaan, tingkat kerumitan, kelaziman, nilai fungsi) dan karakteristik pengamatan (kemampuan indera, minat, persepsi, penguatan sebelumnya).
  2. Fase Pengingat (retention), Seorang pengamat harus dapat mengingat apa yang yang telah dilihatnya. Dia harus mengubah informasi yang diamatinya menjadi bentuk gambaran mental, atau mengubah simbol-simbol verbal, dan kemudian menyimpan dalam ingatannya. Mencakup kode pengkodean simbolik, pengorganisasian pikiran, pengulangan simbol, pengulangan motorik.
  3. Reproduksi motorik (reproduction), mengubah ide gambaran, atau ingatan menjadi tindakan. Mencakup kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan umpan balik.
  4. Peneguhan/Motivasi (reinforcement/motivation), mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri.
  • Teori Gestalt dan Kognitif

Psikologi Gestalt merupakan salah satu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau secara totalitas. Data-data dalam psikologi Gestalt disebut sebagai Fenomena (gejala).

Fenomena adalah data yang paling dasar dalam Psikologi Gestalt. Dalam hal ini Psikologi Gestalt sependapat dengan filsafat fenomonologi yang mengatakan bahwa suatu pengalaman harus dilihat secara netral. Dalam suatu fenomena terdapat dua unsur yaitu obyek dan arti. Obyek merupakan sesuatu yang dapat dideskripsikan, setelah tertangkap oleh indera, obyek tersebut menjadi suatu informasi dan sekaligus kita telah memberikan arti pada obyek itu.

Kofka don Kohler berkesimpulan bahwa belajar bukanlah suatu perbuatan yang mekanistik. melainkan suatu perbuatan yang mengandung pengertian (insignt) dan maksud yang penuh. Belajar yang sebenarnya adalah “insightfull learning". Pemecahan masalah bukan melalul “trial and error“, melainkan dengan menggunakan akal dan pengertian

  • Teori Lapangan

Pendiri teori lapangan (field theory) adalah Kurt Lewin (1890-1947). Pemikiran teori lapangan berbasis pada konsep lapangan atau ruang hidup (life space). Kurt Lewin mengemukakan bahwa segenap peristiwa perilaku, seperti bermimpi, berkeinginan atau bertindak, merupakan fungsi dari ruang hidupnya (Hergenhahn, 2000). Dalam formula yang lebih matematis, pemikiran beliau dapat dirumuskan ke dalam rumusan berikut:

b (behavior / perilaku),
p (person / orang) dan,
e (enviroment / lingkungan).

Dalam formula itu terkandung suatu pengertian bahwa perilaku manusia, termasuk perilaku sosialnya, merupakan hasil dari interaksi dari karakteristik kepribadian individu dan lingkungannya.

  • Teori Pertukaran Sosial

Teori pertukaran sosial (social exchange theory) merupakan perkembangan lanjut dari cara pandang teori behavioristik. Salah satu tokoh teori pertukaran sosial adalah George Homan (Stephan dan Stephan, 1990).

Menurut teori pertukaran sosial, individu memasuki dan mempertahankan suatu hubungan sosial dengan orang lain karena ia merasa mendapat banyak keuntungan-keuntungan berupa ganjaran dari hubungan itu.

  • Interaksionisme Simbolik

Perspektif teori ini dalam psikologi sosial dan sosiologi banyak mendapat pengaruh dari pakar-pakar filsafat pragmatisme Anglo Saxon. Dua orang di antara pakar-pakar filsafat pragmatisme Anglo Saxon itu adalah William Jaames (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952).

Teori Interaksi Simbolik merupakan teori yang memiliki asumsi bahwa manusia membentuk makna melalui proses komunikasi. Teori interaksi simbolik berfokus pada pentingnya konsep diri dan persepsi yang dimiliki iindividu berdasarkan interaksi dengan individu lain.

Menurut Herbert Blumer, terdapat tiga asumsi dari teori ini adalah ; Manusia bertindak berdasarkan makna yang diberikan orang lain kepada mereka, Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia dan Makna dimodifikasi melalui interpretasi.

Menurut La Rossan, asumsi dalam teori ini adalah ; Interaksi antar individu dapat mengembangkan konsep diri seseorang dan Konsep diri memberikan motif yang penting untuk perilaku seseoang.

  • Etnometodologi

Istilah ini biasanya digunakan oleh para ahli antropologi berkenaan dengan metode untuk menganalisis keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik hidup yang dilakukan oleh orang-orang asli di daerah tertentu (Zanden, 1984).

Dalam makna yang bersifat literer, etnometologi berarti prosedur yang digunakan orang dalam usaha membuat kehidupan sosial dan masyarakat menjadi lebih dapat dipahami dan memungkinkan untuk diteliti.

Fokus utama etnometodologi adalah mengkaji aktivitas praktis hidup sehari-hari orang yang secara etnis hidup dalam wilayah geografis dan kebudayaan tertentu, termasuk perilaku sosial.

Berbeda dari interaksi simbolik yang lebih mementingkan interaksi antarindividu, perspekti etnometodologi memiliki fokus pada metode yang menggambarkan cara individu mengkonstruksi interaksi dan citra hidup sosial yang mempengaruhi kehidupan sosial.

  • Teori Peran

Peran adalah sekumpulan norma yang mengatur individu-individu yang berada dalam suatu posisi atau fungsi sosial tertentu memiliki keharusan untuk berperilaku tertentu (Myers, 2002). Teori peran (role theory) memberi penelaah terhadap perilaku sosial dengan penekanan pada konteks status, fungsi, dan posisi sosial yang terdapat dalam masyarakat.

Perilaku sosial seseorang dalam sebuah kelompok merupakan hasil aktualisasi dari suatu peran tertentu.

Peran terdiri atas harapan-harapan yang melekat pada ciri-ciri perilaku tertentu yang seharusnya dilaksanakan oleh seseorang yang menduduki posisi atau status sosial tertentu di masyarakat.

Beberapa definisi Psikologi Sosial.

  1. With few exceptions, social psychologist regard their discipline as an attempt to understand and explain how the thought, feeling, or behavior of individuals are influenced by the actual, imagined, or implied presence of others” (Allport, 1968 : 3)

  2. “Social psychology is the scientific study of how people think about, influence, and relate to one another”(Myers, 1999 : 5)

  3. “Social psychology is the scientific field that seeks to understand the nature and causes of individual behavior and thought in social situations” (Baron and Byrne, 199 : 6)

Dua definisi terakhir di atas, secara eksplisit mengemukakan bahwa Psikologi Sosial merupakan studi ilmiah (scientific field/study).

Dari ketiga definisi di atas tampak bahwa dalam Psikologi Sosial perilaku individu senantiasa dikaitkan dengan kehadiran orang lain, baik secara nyata maupun secara tersirat

Apa yang dimaksud dengan kehadiran orang lain di sini?

Definisi Allport dengan jelas mengemukakan bahwa kehadiran atau pengaruh orang lain itu bisa nyata (actual), dibayangkan (imagined) dan secara tidak langsung (implied). Dengan rumusan yang berbeda, Baron dan Byrne, demikian pula Myers sebenarnya mengemukakan tentang pengaruh kehadiran orang lain terhadap perilaku individu sebagai ruang lingkup Psikologi Sosial.

Sebenarnya kehadiran orang lain dan pengaruhnya terhadap perilaku individu ini bukanlah hal baru dalam Psikologi Sosial. Sejarah Psikologi Sosial menunjukkan bahwa kurang lebih seabad yang lalu seorang psikolog bernama Norman Triplett (1898) mencatat bahwa waktu tempuh seorang pembalap sepeda yang berlomba dengan sesama pembalap sepeda lain ternyata lebih cepat dibandingkan dengan pembalap sepeda yang mengayuh sepedanya sendirian dan berpacu dengan jam pengukur waktu.

Gejala ini, sekian puluh tahun kemudian diteliti oleh Zajonc (1965) dan disebut sebagai fasilitasi sosial (social facilitation). Artinya, kehadiran orang lain membangkitkan gugahan (arousal) pada individu atau kelompok yang selanjutnya akan meningkatkan kinerja individu atau kelompok.

Perhatikan seorang atlet atau tim olahraga yang bermain semangat dan akhirnya meraih juara ketika bermain di hadapan publiknya sendiri. Sebaliknya, ada kemungkinan ketika bertanding di kandang lawan, atlet atau tim olahraga yang bersangkutan mengalami demam panggung, melakukan banyak kesalahan dan limbung (groggy) disebabkan oleh ulah penonton yang menyorakinya, mencemoohkan, atau melecehkan mereka.

Perilaku penonton di kandang lawan ini disebut sebagai penghambat sosial (social inhibition/social impairment) karena melemahkan semangat atlet atau tim yang bersangkutan.

Bila kita kembali pada pertanyaan terdahulu: apakah perilaku karyawan yang sibuk mempersiapkan diri karena akan bertemu dengan Direktur Utamanya merupakan ruang lingkup Psikologi Sosial atau bukan ?

Jelas perilaku karyawan tersebut merupakan perilaku sosial. Karena meskipun ia sibuk berdandan sendirian, namun pada saat berdandan itu ia membayangkan (imagine) kehadiran Direktur Utamanya, di samping jelas pula bahwa tindakan memilih kemeja, celana, sepatu, dan membeli dasi, dan seterusnya itu karena ia akan bertemu dengan orang yang sangat diseganinya. Sementara bila ia akan bertemu dengan rekan kerjanya yang satu derajat, bisa dipastikan ia tidak akan sibuk berdandan yang berbeda dari dandanan sehari-harinya.

Demikianlah dalam kehidupan sehari-hari banyak perilaku kita yang bukan saja dipengaruhi oleh kehadiran orang lain (individu atau kelompok), tetapi juga oleh situasi sosial (norma dan konteks sosial). Bahkan, kehidupan kita sehari-hari sangat diwarnai oleh perilaku sosial daripada perilaku individual.

Misalnya: orang jujur karena memegang teguh pesan orang tuanya (obedience), meskipun orang tuanya sudah lama meninggal dunia; membeli TV baru karena dibujuk atau terbujuk oleh penjual/pramuniaga (persuasion/compliance) atau karena tetangga baru saja membeli TV (conformity); mengenakan kemeja batik lengan panjang pada saat resepsi pernikahan; dan seterusnya.

Satu hal yang harus Anda ketahui adalah perilaku sosial bukan hanya terjadi karena pengaruh kehadiran orang lain, tetapi bisa juga terjadi karena pengaruh hasil kebudayaan. Hal ini dikemukakan oleh Sherif dan Sherif yang mendefinisikan Psikologi Sosial sebagai berikut.

“Social psychology is a scientific study of the experience and behavior or individuals in relation to social stimulus situations” (Sherif & Sherif, 1956 : 4)

Apa yang dimaksud dengan social stimulus situation (situasi stimulus sosial) dalam definisi Sherif dan Sherif di atas?

Situasi stimulus sosial terdiri dari orang lain (individu atau kelompok) dan hasil kebudayaan (materi: bangunan, peralatan, komputer, mobil, pesawat terbang, dan lain-lain, serta nonmateri (adat-istiadat, peraturan, pranata sosial, dan lain-lain).

Contoh dari pengaruh kelompok terhadap perilaku individu, dapat kita saksikan pada saat individu bergabung dengan massa yang melakukan demonstrasi terhadap pemerintah yang menaikkan harga BBM. Individu yang sehari-harinya takut pada aparat keamanan, bisa menjadi beringas, melempar batu ke arah petugas, membakar ban mobil, dan merusak gedung.

Pokoknya, ia berperilaku berbeda sama sekali dengan perilakunya sehari-hari di rumah dan di lingkungan kerjanya. Sedangkan contoh dari pengaruh hasil kebudayaan nonmateri adalah orang yang membuka alas kaki tatkala masuk mesjid, mengenakan kain sarung, dan memakai tutup kepala; menyalami orang tua, melakukan kenduri saat seorang ibu hamil tujuh bulan, dan lain- lain.

Perlu ditegaskan kembali perbedaan antara perilaku individual dan perilaku sosial. Bila mahasiswa tadi merenung seorang diri di kamar indekosnya, di tengah malam yang sunyi sambil memikirkan dan mendoakan kesembuhan orang tuanya yang sedang sakit di desa maka perilaku tanpa kehadiran orang lain ini bukan merupakan perilaku individual, melainkan perilaku sosial karena mahasiswa tadi menghubungkan dirinya dengan orang tuanya di desa.

Beberapa ahli menganggap bahwa pengertian Psikologi Sosial sering disamakan dengan psikologi massa atau perilaku kolektif (collective behavior) karena keduanya melibatkan sejumlah orang banyak.

Psikologi massa merupakan bagian dari ruang lingkup Psikologi Sosial yang membicarakan perilaku kelompok. Dengan kata lain, ruang lingkup Psikologi Sosial tidak hanya terbatas pada membicarakan kelompok atau psikologi massa, melainkan termasuk juga persepsi sosial, kognisi sosial, sikap, kepemimpinan, perilaku menolong, dan lain-lain.

Kesimpulannya, Ruang lingkup Psikologi Sosial, antara lain, meliputi persepsi sosial (pemahaman mengenai orang lain dan dampaknya pada perilaku kita), kognisi sosial (berpikir mengenai orang lain dan lingkungan sosial), sikap (melakukan penilaian mengenai orang lain), identitas sosial (memantapkan jati diri), prasangka dan diskriminasi (memahami penyebabnya dan akibatnya terhadap kelompok tertentu), perilaku prososial (memberi bantuan pada orang lain), kepemimpinan (kemampuan mempengaruhi orang lain/bawahan), perilaku agresif (perilaku yang bertujuan menyakiti orang lain), pengembangan diri/self (pembentukan diri merupakan hasil interaksi dengan orang lain), hubungan antarkelompok (konflik antarkelompok, kompetisi, kooperasi), dinamika kelompok (perubahan sikap anggota kelompok disebabkan oleh interaksi antaranggota kelompok), dan lain-lain.

Psikologi sosial adalah psikologi yang khusus membicarakan tentang tingkah laku atau aktifitas-aktifitas manusia hubungannya dengan situasi sosial.

Dalam psikologi sosial terdapat 3 ruang lingkup utama yang menjadi pokok pembahasannya, yaitu:

  1. Studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu, misalnya : studi tentang persepsi, motivasi proses belajar, atribusi (sifat)
  2. Studi tentang proses-proses individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial, perilaku meniru dan lain-lain
  3. Studi tentang interaksi kelompok, misalnya : kepemimpinan, komunikasi hubungan kekuasaan, kerjasama dalam kelompok, persaingan, konflik

Definisi Psikologi Sosial adalah

  1. Sheriff & Muzfer (1956) : ilmu tentang pengalaman dan perilaku individu dalam kaitannya dengan situasi stimulus sosial
  2. Krechm Cructhfield, dan Ballachey (1962) : Ilmu tentang peristiwa perilaku hubungan interpersonal (antarpribadi)
  3. Watson (1966) : ilmu tentang interaksi manusia
  4. Dewey dan Huber (1966) : studi tentang manusia individual ketika ia berinteraksi, biasanay secara simbolik, dengan lingkungannya.
  5. Jones & Gerard (1967) : subdisiplin dari psikologi yang mengkhususkan diri pada studi ilmiah tentang perilaku individual sebagai stimulus sosial
  6. McDavid & Harari (1968) : studi ilmiah tentang pengalaman dan perilaku individual dalam kaitannya dengan individu, kelompok, dan kebudayaan lain.
  7. Shaw & Costanzo (1970) : ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku individual sebagai fungsi rangsang-rangsang sosial.
  8. Baron & Byrne (1994) : adalah bidang ilmiah yang mencari pengertian tentang hakikat dan sebab-sebab dari perilaku dan pikiran-pikiran individu dalam situasi sosial.

Tiga wilayah studi psikologi sosial (Shaw dan Costanzo, dalam Sarwono):

  1. Studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individual, misalnya studi tentang persepsi, motivasi, proses belajar, atribusi (sifat).
  2. Studi tentang proses-proses individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial, dsb.
  3. Studi tentang interaksi kelompok, misalnya kepemimpinan, komunikasi, hubungan kekuasaan, konformitas, kerjasama, persaingan, peran, dsb.

Menurut Michener dan Delamater, wilayah kajian psikologi:

  1. Pengaruh individu terhadap orang lain
  2. Pengaruh kelompok pada individu
  3. Pengaruh individu terhadap kelompok/orang lain
  4. Pengaruh satu kelompok terhadap kelompok lain

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sosial dapat dikategorikan dalam 5 faktor utama (Baron & Byrne, 1994):

  1. Aksi (tindakan) dan karakteristik dari orang-orang lain
  2. Proses kognitif dasar, proses yang mendasari pikiran, keyakinan, ide, dan penilaian tentang orang lain yang dimiliki individu
  3. Variable-variabel ekologi (lingkungan) – pengaruh secara langsung ataupun tidak langsung dari lingkungan fisik
  4. Konteks kebudayaan dimana perilaku sosial terjadi
  5. Aspek biologis dari warisan sifat-sifat genetic yang relevan dengan perilaku sosial.

psikologi sosial

Psikologi sosial adalah suatu studi tentang hubungan antara manusia dan kelompok. Para ahli dalam bidang interdisipliner ini pada umumnya adalah para ahli psikologi atau sosiologi, walaupun semua ahli psikologi sosial menggunakan baik individu maupun kelompok sebagai unit analisis mereka.

Shaw dan Costanzo menyatakan bahwa psikologi sosial merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang tingkah laku individu yang merupakan rangsangan sosial.

image
Psikologi sosial adalam merupakan cabang ilmu dari psikologi yang baru muncul dan intensif dipelajari pada tahun 1930. Secara sederhana objek material dari psikologi sosial adalah fakta-fakta, gejala-gejala serta kejadian-kejadian dalam kehidupan sosial manusia. Sekilas ternyata objek psikologi sosial mirip dengan ilmu sosiolgi dan bila digambarkan sebenarnya psikologi sosial adalah merupakan pertemuan irisan antara ilmo psikologi dan ilmu sosilogi.

Definisi Psikologi Sosial

Ada berbagai macam definisi psikologi sosial antara lain:

  • Psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia (Hubert Bonner)
  • Ilmu yang memepelajari tingkah laku manusia sebagai anggota suatu masyarakat (AM Chorus)
  • ilmu yang mempelajari Segi-segi psikologi tingkah laku manusia yang dipengarui interaksi sosial
  • Social psychology is the scientific study how people think about, influence, and relato to another (Myers, 1983)
  • Psikologi sosial adalah studi alami tentang sebab-sebab dari perlaku sosial manusia (Michener & Delamater, 1999)

Gordon Allport (1968) menjelaskan bahwa seorang boleh disebut sebagai psikolog sosial jika dia “berupaya memahami, menjelaskan, dan memprediksi bagaimana pikiran, perasaan, dan tindakan individu-individu dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, dan tindakan-tindakan orang lain yang dilihatnya, atau bahkan hanya dibayangkannya”

Psikologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya. Psikologi sosial berangkat dari gagasan bahwa pengenalan tingkah laku dan proses tersebut berlangsung pada lingkup sosial (yang dapat mempengaruhi individu) dan kemudian melahirkan studi tentang proses intrapsikis dalam diri seseorang dalam kaitan interaksinya secara interpsikis antar sesama (Nurrachman, 2005).

Hal inilah yang membuat psikologi sosial distinct sifatnya dari bidang‐bidang psikologi yang lain, yang memfokuskan diri hanya pada variabel internal individu sebagai penentu perilakunya, seperti motivasi, kebutuhan, dan sebagainya.

Mengangkat variabel stimulus sosial sebagai bidan perilaku, Shaw and Costanzo (1982) mendefinisikan psikologi sosial sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku individual sebagai fungsi stimulus‐stimulus sosial. Senada dengan pendapat ini, Sherif & Muzfer, 1956 (dalam Sarwono dan Meinarno, 2009) mendefinisikan psikologi sosial sebagai ilmu tentang pengalaman dan perilaku individu dalam kaitannya dengan situasi stimulus sosial.

Alport (dalam Sarwono dan Meinarno, 2009) kemudian memberikan penekanan pada pengaruh kehadiran orang lain pada pikiran, perasaan dan perilaku individu. Seseorang dapat disebut psikolog sosial jika dia ʺberupaya memahami, menjelaskan, dan memprediksi bagaimana pikiran, perasaan, dan tindakan individu‐individu dipe‐ ngaruhi oleh pikiran, perasaan, dan tindakan‐tindakan orang lain yang dilihatnya, atau bahkan hanya dibayangkannyaʺ

Interaksi kedua elemen tersebut di atas, stimulus sosial dalam hal ini ling‐ kungan, dan persepsi individu terhadap lingkungannya, dirumuskan sangat mena‐ rik dalam dinamika perilaku individu oleh Kurt Lewin (dalam Koentjoro, 2005): B = f (P,E). Perilaku (behavior) adakah fungsi dari individu (person) dan lingkungan (environment).

Mempelajari perilaku yang adalah objek dan fokus psikologi tak dapat melepaskan ataupun mengkotakkan individu dan lingkungan. Keduanya berinteraksi secara dinamis dan berkesinambungan dalam membentuk perilaku. Lewin (dalam Nurrachman, 2005), mengatakan bahwa kita akan memperoleh pengetahuan yang berguna tetapi tidak lengkap bila kita hanya melihat apa yang ada di dalam diri individu sebagai jawaban.

Hal yang sama akan terjadi kalau kita hanya melihat apa yang ada dalam lingkungan individu. Kita harus melihat apa yang ada di dalam dan di luar individu, mengakui bahwa adalah kombinasi atau interaksi dari kedua variabel inilah yang menentukan bagaimana dan mengapa seseorang berperilaku (Krupat, 1994) Bagaimana psikologi sosial sangat berkaitan erat dengan sosiologi, dijelaskan oleh Nurrachman, 2008 sebagai berikut; psikologi sosial berbagi elemen bersama dengan sosiologi, yaitu pengakuan bahwa perilaku individu secara kritis dipengaruhi oleh apa yang (sedang) terjadi di luar diri individu dalam lingkungannya.

Sementara sosiologi cenderung mempelajari manusia pada tingkat agregat, mengedepankan struktur sosial dan pola organisasi sosial atau kelompok di mana individu berada, psikologi sosial tanpa mengesampingkan faktor di atas, berfokus pada individu dan bagaimana ia berkontribusi kepada ling‐ kungannya, dan bagaimana hal itu juga merupakan hasil bentukan lingkungannya.
Pendekatan yang memilah psikologi dan sosiologi, dan melihat psikologi sosial sebagai intersection keduanya sangat kaku and membatasi ruang gerak psikologi sosial. Konsep ini tidak mampu memben‐ dung aspirasi psikologi sosial dalam perkembangannnya (Koentjoro, 2005).

Stephan and Stephan, 1985 (dalam Koentjoro, 2005) selanjutnya mengusulkan suatu perspektif dalam pembelajaran psikologi sosial, yaitu perspektif psikologi dan sosiologi dalam mempelajari psikologi sosial dan keduanya masih bernama psiko‐ logi sosial. Satu sisi lebih menekankan pada perspektif psikologis, yaitu psychological social psychology dan sisi lainnya menekankan perspektif sosiologis yaitu sociological social psychology. Model pemahaman Stephan and Stephan ini masih membatasi ruang gerak psikologi sosial (Koentjoro, 2005).

Berdasarkan fakta bahwa psikologi sosial bersentuhan dengan seluruh kajian cabang ilmu psikologi yang lain, serta bermulti interaksi dengan semua bidang keilmuan yang lain, maka Koentjoro mengusulkan suatu pemahaman psikologi sosial yang multi interaktif antara psikologi dengan ilmu yang lain khususnya yang menyangkut masalah human social behavior, yakni kognisi sosial, pengaruh sosial dan hubungan inter‐ personal. Lingkaran ini elastic sifatnya dan fleksibel. Singgungan serta besarnya inter‐ section antar bidang ilmu dapat bervariasi.

Pendekatan Experimental Social Psychology & Critical Social Psychology


Dua perspektif psikologi sosial, yaitu psikologis dan sosiologis membawa keka‐ yaan dan keunikan pada perkembangan pendekatan serta metode analisa psikologi sosial. Shaw & Costanzo (1982) menyatakan bahwa sejak awal, psikologi sosial adalah disiplin yang terbagi, sebagian cenderung memilah psikologi sosial yang psikologis dan sebagian psikologi sosial yang sosiologis.

McDougall pada tahun 1908 (dalam Rogers, 2003) mendefinisikan psikologi sosial sebagai ilmu yang mempelajari ma‐ nusia secara tidak bebas, karena ling‐ kunganlah yang membuatnya menjadi manusia seutuhnya. Dalam penelitiannya yang lebih mengarah pada perspektif psikologis, Mc Dougal mendekati psikologi sosial dengan orientasi experimental social psychology, melakukan analisa terhadap psikologi dengan pendekatan ilmiah.

Salah satu contoh teori terlahir dari pendekatanini adalah social change : perubahan masya‐ rakat primitif ke masyarakat yang lebih beradab. Hal itu telah memberikan sebuah penemuan bahwa manusia secara individu memang merupakan hasil dari kemung‐ kinan instinktif. Nampak jelas peran penga‐ ruh teori Darwin pada teori McDougall, bahkan ia mengklaim teori ini dengan istilah evolutionary psychology.

Di sisi lain, William James yang mem‐ publikasikan The Principles of Psychology pada tahun 1907 (dalam Rogers, 2003) me‐ nyumbangkan beberapa gagasan penting bagi psikologi sosial dari perspektif sosio‐ logis. Pendekatan yang digunakan adalah critical sosial psychology . Dengan memperke‐ nalkan stream of consciousness , ia memberi‐ kan penjelasan tentang perilaku manusia. Baginya, emosi, perasaan, imaji, dan ide ada pada level yang sama, yang disebutnya sebagai ketidaksadaran (sering disebut de‐ ngan transitivity) , dan “kesadaran” menu‐ rutnya adalah sesuatu yang disebabkan hal‐hal tersebut yang kemudian menim‐ bukan pengenalan, dan kesadaran akan sesuatu. Hal ini kemudian dikenal dengan substantivity .

Metode Penelitian Psikologi Sosial

Rogers (2003) menyatakan ada bebe‐ rapa metode penelitian yang digunakan dalam psikologi sosial.

  1. Pertama, metode induktif, secara ontologis menegaskan bah‐ wa dunia sosial ada “di luar” tindakan manusia, dan secara epistemologis meng‐ anut paham positifisme, dengan tujuan mengobservasi dunia sosial dan mengidentifikasi keteraturan sistematis dalam sebab dan akibat antara beberapa variabel yang kita observasi, untuk mengembangkan suatu hukum universal dan kemudian meng‐ ujinya.

  2. Kedua, metode deduktif, yang secara epistemologis menganut paham rasionalis‐ me dan secara ontologis menempatkan diri dalam posisi bahwa fenomena yang satu berhubungan dengan fenomena yang lain. Metode ini mengembangkan teori‐teori untuk menemukan suatu hukum umum, dengan menguji hipotesis‐hipotesis kita sebagai cara membuktikan kebenaran teori tersebut.

  3. Ketiga, metode retroductive , yang secara epistemologis bersifat realism kritis, bertujuan untuk memperoleh pemahaman dari realitas sosial melalui pengamatan terhadap kejadian‐kejadian teratur dan menghasilkan model untuk menjelaskannya.

  4. Keempat adalah metode abductive, yang secara epistemologis adalah relativis kritis, bertujuan mengamati anomali‐ano‐ mali yang ada, menemukan mengapa dan bagaimana berbagai realitas sosial terben‐ tuk dan digunakan untuk menjelaskan fenomena yang terjadi.

Keempat metode inilah yang lazim digunakan dalam penelitian psikologi sosial. Metode penelitian induktif dan deduktif sering digunakan dalam pende‐ katan experimental social psychology, semen‐ tara, critical social psychology menggunakan metode abductive dan retroductive. Blaikie, 2000 (dalam Rogers, 2003) mengatakan bahwa pendekatan critical social psychology terbagi menjadi dua garis besar epistemo‐ logi: realis dan relativis. Realis bergagasan bahwa tindakan sosial adalah hasil dari struktur sosial dan mekanisme yang ada. Di sisi lain, gagasan relativis menyatakan bahwa dinamika keberagaman dan peru‐ bahan realitas sosial yang menghasilkan tindakan sosial.

Teori‐Teori dan Sumbangannya terhadap Psikologi Sosial


Untuk menjadi sains, psikologi sosial membutuhkan bebeberapa teori yang men‐ dasarkan diri pada data atau fakta dari pengalaman untuk menjawab berbagai masalah sosial di atas (Sarwono, 2008). Teori adalah serangkaian hipotesis atau proposisi yang saling berhubungan tentang suatu gejala (fenomena) atau sejumlah geja‐ la. Shaw and Costanzo (1982) memetakan setidaknya enam orientasi teori besar da‐ lam perilaku psikologi sosial.

Rangkuman Teori‐Teori Psikologi Sosial

  1. COGNITIVE THEORY
    Pendekatan kognitif untuk memahami perilaku manusia. Psikologi kognitif mempelajari tentang cara manusia menerima, mempersepsi, mempelajari, menalar, mengingat dan berpikir tentang suatu informasi. Persepsi, belajar dan ingatan, berpikir dan penalaran, bahasa. Sumbangan teori bagi psikologi sosial ialah; tingkah laku, struktur persepsi dan kognitif, dan reorganisasi kognitif.

  2. PSIKOANALITIK
    Setidaknya, teori ini menghasilkan tiga aplikasi:

    • Metode investigasi pikiran;
    • Teori yang sistematis tentang perilaku manusia;
    • Metode penyembuhan penyakit emosi dan psikologis

    Selain itu, terdapat juga pengertian tentang variabel interpersonal & aparat psikis (libido, struktur kejiwaan, struktur kepribadian); perkembangan psikoseksual (tingkat oral, anal, falik); pertahanan ego (represi, proyeksi, pembentukan reaksi, penolakan, sublimasi). Sumbangan teori bagi psikologi sosial ialah; konsep diri, presentasi diri, cinta, pernikahan, perselingkuhan, tingkah laku, pranata sosial, konflik manusia, fungsi masyarakat, ego sebagai pengantara superego dan ied, prototype hubungan individu dan masyarakat. Tokohnya adalah ; Sigmund Freud, Bion, Bennis & Sheppard, Schutz, Samoft.

  3. REINFORCEMENET
    Reinforcement adalah konsep utama dalam analisa perilaku secara eksperimental dan kuantitatif. Teori reinforcement menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan sekarang kemungkinan adalah dari masa depan yang diinginkan—dapat diukur dengan frekuensi dan kecepatan yang diberikan untuk merespons sesuatu. Lingkungan adalah reinforcer . Sumbangan teori bagi psikologi sosial adalah ; teori belajar sosial dan tiruan, teori jual beli dengan penguat sosial, sikap. Tokohnya adalah J.B.Watson , B. F. Skinner, C.L.Hull.

  4. ROLE THEORY
    Role theory memberikan pemahaman bahwa hak, ekspektasi, norma dan tingkah laku harus dipenuhi. Dalam teori ini, manusia banyak menghabiskan waktunya dalam kelompoknya; dalam kelompok ini, orang sering membuat perbedaan posisi; posisi yang berbeda ini ada karena adanya harapan orang lain; harapan yang dirumuskan menjadi norma‐norma jika ada beberapa orang yang merasa nyaman (dan juga bisa menyertakan penghargaan atau pun vonis untuk sikap yang diharapkan) ; orang pada umumnya memiliki peran masing‐masing; antisipasi melalui vonis dan penghargaan menginspirasikan perannya. Sumbangan teori bagi psikologi sosial adalah Self monitoring, impresi, self awareness , stereotip, prasangka dan diskriminasi, individu dalam kelompok, konformitas, compliance, obedience. Tokohnya adalah Biddle &Thomas.