© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Psikologi Positif atau Positive Psychology?

Psikologi positif adalah perspektif ilmiah tentang bagaimana membuat hidup lebih berharga. Tujuan dari psikologi positif adalah memberikan pandangan tentang manusia dari sisi lain, yaitu dengan cara menampilkan sifat-sifat indah dari manusia. Intervensi psikologi positif dapat melengkapi intervensi yang ada pada kajian psikologi yang dinilai masih tradisional, hal itu untuk mengurangi penderitaan dan membawa puncaknya kepada kebahagiaan.

Apa yang dimaksud dengan Psikologi Positif atau Positive Psychology ?

Untuk memahami Psikologi Positif secara utuh, perlu diyakini bahwa manusia bukan hanya sebagai individu yang memiliki masalah psikologis semata. Akan tetapi, setiap manusia memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan hal-hal yang baik dan mampu mengelola hal tersebut. Sehingga dalam Psikologi Positif lebih diutamakan bagaimana seseorang berfungsi secara optimal dan faktor-faktor apa sajakah yang berpengaruh terhadap hal tersebut.

Menurut beberapa ahli definisi, Psikologi Positif adalah upaya teoritik dan riset mengenai proses membuat hidup menjadi lebih bermakna (Peterson & Park, 2003).

Psikologi Positif merupakan ilmu yang mempelajari kondisi dan proses-proses yang berpengaruh pada pengembangan atau fungsi optimal dari individu, kelompok, dan institusi (Gable & Haidt, 2005).

Menurut Compton (2005), Psikologi Positif merupakan ilmu yang menggunakan teori-teori psikologis, penelitian, dan teknik intervensi untuk memahami sisi positif, adaptif, kreatif, dan elemen-elemen yang bermakna secara emosional pada perilaku manusia.

Tujuan yang ingin dicapai pada kajian Psikologi Positif adalah kebahagiaan (happiness). Kebahagiaan pada manusia, meliputi perasaan positif (kenyamanan-enjoyable) dan kegiatan positif tanpa unsur perasaan (keterlibatan).

RUANG LINGKUP PSIKOLOGI POSITIF

Terdapat tiga pilar utama dalam Psikologi Positif, yaitu :

  1. Pengkajian terhadap karakter positif (virtues), yaitu : kreatif, memiliki rasa ingin tahu, memiliki keterbukaan pikiran, memiliki kegemaran belajar, memiliki kearifan, memiliki keberanian, tabah dalam kesulitan, murah hati, dan penuh semangat.

  2. Pengkajian terhadap emosi positif, yaitu : kebahagiaan (Happiness), kasih sayang (Love), bersyukur (Gratitude), memaafkan (Forgiveness), mengharap hal baik (Hope), dan gembira (Humor).

  3. Pengkajian terhadap institusi positif, seperti pemerintah yang demokrasi, keluarga yang kukuh, organisasi yang menjunjung kebebasan informasi, yang mana masing-masing memiliki sifat-sifat : adil, peduli (caring), bertanggung jawab, beradab (civil society), toleransi, non-diskriminatif, saling mendukung, dan saling menghargai.

KEBAHAGIAAN (HAPPINESS)

Kebahagiaan sendiri terbagi menjadi emosi positif, keterlibatan, dan makna hidup. Menurut Selligman (2002), dalam mencapai kebahagiaan individu menghindari bentuk-bentuk kesenangan sesaat, tingkat kepuasan minimal, dan kehampaan makna. Apabila hal tersebut diaplikasikan dalam psikoterapi, maka tidak sekedar memperbaiki gangguan mental individu tersebut, tetapi terapis juga membantu individu untuk mengenali dan membangun kekuatan serta kebajikan (virtue) yang dimiliki.

KEKUATAN DAN KEBAJIKAN (STRENGTH & VIRTUE)

Adapun kebajikan yang diungkap dalam Psikologi Positif terdiri atas enam hal, yang didalamnya memiliki 24 kekuatan karakter individu yang bersifat universal. Enam kebajikan tersebut adalah wisdom & knowledge, courage, humanity, justice, temperance, dan transcendence.

ASSESMEN DALAM PSIKOLOGI POSITIF

Ada beberapa bentuk alat penilaian berupa skala psikologis yang dapat membantu kita mengukur kebahagiaan, antara lain: Steen Happiness Index (SHI) yang dikembangkan sejak tahun 1999, terdiri atas 20 item dan 5 pilihan jawaban ekstrim untuk merefleksikan tiga bentuk hidup bahagia (menyenangkan, keterlibatan, dan kebermaknaan). Assesmen yang lain adalah General Happiness Scale (Lepper, 1999), dan Happiness Scale (Fordyce, 1977).

Martin E. P Seligman, seorang profesor psikologi di Universitas Pennsylvania dan pernah menjabat sebagai Presiden American Psychological Association (APA) mulai berpikir bahwa manusia tidak hanya dapat dipelajari dari sisi negatifnya saja, tetapi juga dari sisi positifnya.

Martin E. P Seligman menilai selama ini kajian psikologi sering di warnai dengan topik negatif tentang manusia. Martin E. P Seligman juga berpendapat bahwa psikologi bukan hanya studi tentang penyakit, kelemahan, dan kerusakan, tetapi psikologi juga merupakan studi tentang kebahagiaan, kekuatan, dan kebajikan (Seligman, 2005).

Psikologi positif adalah perspektif ilmiah tentang bagaimana membuat hidup lebih berharga. Martin E. P Seligman dalam pidato pelantikannya mengatakan bahwa sebelum perang dunia II, psikologi memiliki tiga misi yaitu menyembuhkan penyakit mental, membuat hidup lebih bahagia, dan mengidentifikasi serta membina bakat mulia dan kegeniusan. Setelah perang dunia II, dua misi psikologi yang terakhir diabaikan.

Berdasarkan kondisi tersebut maka ditegakkan tiga tonggak utama psikologi positif, yaitu studi tentang emosi positif, studi tentang sifat-sifat positif, terutama tentang kekuatan dan kebajikan, dan studi tentang lembaga-lembaga positif yang mendukung kebajikan (Seligman, 2005).

Tujuan dari psikologi positif adalah memberikan pandangan tentang manusia dari sisi lain, yaitu dengan cara menampilkan sifat-sifat indah dari manusia. Intervensi psikologi positif dapat melengkapi intervensi yang ada pada kajian psikologi yang dinilai masih tradisional, hal itu untuk mengurangi penderitaan dan membawa puncaknya kepada kebahagiaan (Seligman dan Csikszentmihalyi dalam Mardliyah, 2010).

Sesungguhnya berbagai kekuatan yang dimiliki tiap orang dalam dirinya merupakan senjata utama dalam terapi. Hal inilah yang akhirnya semakin mendorong Martin E. P Seligman dan para tokoh psikologi positif lainnya untuk membangun kualitas-kualitas terbaik dalam hidup, tidak hanya sekedar memperbaiki hal-hal buruk yang telah terjadi.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka muncul aliran psikologi modern yang dinamakan psikologi positif. Bidang psikologi positif terdiri dari pengalaman subjektif yang positif, kesejahteraan (well-being), kepuasan, keterlibatan (flow), kegembiraan, kebahagiaan, dan pandangan kognitif yang konstruktif mengenai masa depan, seperti optimisme, harapan, dan keyakinan (Seligman dalam Syinder & Lopez dalam Mardliyah, 2010).

Martin E. P Seligman, seorang profesor psikologi di Universitas Pennsylvania dan pernah menjabat sebagai Presiden American Psychological Association (APA) mulai berpikir bahwa manusia tidak hanya dapat dipelajari dari sisi negatifnya saja, tetapi juga dari sisi positifnya.

Martin E. P Seligman menilai selama ini kajian psikologi sering di warnai dengan topik negatif tentang manusia. Martin E. P Seligman juga berpendapat bahwa psikologi bukan hanya studi tentang penyakit, kelemahan, dan kerusakan, tetapi psikologi juga studi tentang kebahagiaan, kekuatan, dan kebajikan (Seligman, 2005).

Psikologi positif adalah perspektif ilmiah tentang bagaimana membuat hidup lebih berharga. Martin E. P Seligman dalam pidato pelantikannya mengatakan bahwa sebelum perang dunia II, psikologi memiliki tiga misi yaitu; menyembuhkan penyakit mental, membuat hidup lebih bahagia, dan mengidentifikasi serta membina bakat mulia dan kegeniusan. Setelah perang dunia II, dua misi psikologi yang terakhir diabaikan.

Berdasarkan kondisi tersebut maka ditegakkan tiga tonggak utama psikologi positif, yaitu studi tentang emosi positif, studi tentang sifat-sifat positif, terutama tentang kekuatan dan kebajikan, dan studi tentang lembaga-lembaga positif yang mendukung kebajikan (Seligman, 2005).

Tujuan dari psikologi positif adalah memberikan pandangan tentang manusia dari sisi lain, yaitu dengan cara menampilkan sifat-sifat indah dari manusia. Intervensi psikologi positif dapat melengkapi intervensi yang ada pada kajian psikologi yang dinilai masih tradisional, hal itu untuk mengurangi penderitaan dan membawa puncaknya kepada kebahagiaan (Seligman dan Csikszentmihalyi dalam Mardliyah, 2010).

Sesungguhnya berbagai kekuatan yang dimiliki tiap orang dalam dirinya merupakan senjata utama dalam terapi. Hal inilah yang akhirnya semakin mendorong Martin E. P Seligman dan para tokoh psikologi positif lainnya untuk membangun kualitas-kualitas terbaik dalam hidup, tidak hanya sekedar memperbaiki hal-hal buruk yang telah terjadi.

latar belakang tersebut maka muncul aliran psikologi modern yang dinamakan psikologi positif. Bidang psikologi positif terdiri dari pengalaman subjektif yang positif, kesejahteraan (well-being), kepuasan, keterlibatan (flow), kegembiraan, kebahagiaan, dan pandangan kognitif yang konstruktif mengenai masa depan, seperti optimisme, harapan, dan keyakinan (Seligman dalam Syinder & Lopez dalam Mardliyah, 2010).