Apa yang dimaksud dengan Psikologi Faal?

Ilmu psikologi merupakan ilmu yang luas dan ambisius, dilengkapi oleh biologi dan ilmu saraf pada perbatasannya dengan ilmu alam dan dilengkapi oleh sosiologi dan anthropologi pada perbatasannya dengan ilmu sosial. Oleh sebab itu, ilmu ini penting untuk diketahui karena menyangkut perilaku kita sebagai manusia. Salah satu ilmu psikologi adalah psikologi faal.

Psikologi faal merupakan ilmu psikologi yang mempelajari perilaku manusia yang berkaitan dengan fungsi dan kerja organ-organ dalam tubuh. Contohnya mempelajari bagaimana otot seseorang akan bekerja ketika sedang menangis, tertawa, marah, dan lain-lain. Karena itu ketika kamu akan mendalami ilmu psikologi faal ini, kedepannya ketika sedang menangani sebuah studi kasus, kamu akan lebih memerhatikan pengaruh kondisi biologis atau faal seseorang terhadap tindakan atau perilaku orang tersebut. Misal ketika orang tersebut sering marah atau kesal, apa yang akan terjadi pada kondisi psikisnya, begitupun ketika sedih atau bahagia, dan lain-lain.

Psikologi faal, berasal dari Psikologi dan Ilmu Faal. PSIKOLOGI adalah Ilmu yang
mempelajari perilakumanusia (Bigot,dkk, 1950), sedangkan ILMUFAALadalah Ilmuyang
mempelajari tentang fungsidan kerja alat-alat dalamtubuh.]adi Psikologi Faal adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan fungsi dan kerja alat-alat dalam tubuh.

Dalam mempelajari perilaku manusia kita mengenal adanya 3 fungsi utama yang mempengaruhi perilaku individu, yaitu:

  • fungsi kognisi (pikiran),
  • fungsi afeksi (emosi), dan
  • fungsi konasi (kemauan/kehendak).

Dalam Psikologi Faal, titik berat perhatian adalah meninjau kondisi faali atau kondisi biologis yang mempengaruhi fungsi-fungsi perilaku tersebut.

Charles Bell (1774-1842) dan Francois Magendie (1783-1855) adalah dua tokoh yang untuk pertama kali menemukan keberadaan syaraf sensorik dan syaraf motorik pada tubuh manusia. Syaraf sensorik berfungsi mengirimkan informasi sensorik dari seluruh tubuh berupa impuls ke sistem syaraf pusat. Sebaliknya, syaraf motorik bertugas membawa impuls motorik dari sistem syaraf pusat ke otot-otot tubuh, sehingga menimbulkan reaksi atau gerakan tertentu dari anggota tubuh.

Wilhelm Wundt (1832-1920) berpendapat akan adanya ‘aliansi antara dua bidang ilmu’, yakni fisiologi dan psikologi. Dengan adanya aliansi ini, secara metodologis berarti alat atau teknik pengukuran dalam bidang fisiologi diterapkan kepada bidang psikologi. Wundt menamakan bidang ilmu temuannya ini ‘psikologi eksperimental’.

Psikologi Faal adalah cabang psikologi yang mencoba menjelaskan, sebisa mungkin, tentang psikologi – dari sudut pandang proses otak, genetika dan hal-hal terkait lainnya. Psikologi faal juga mengkaji tujuan atau fungsi dari perilaku –dari sudut pandang biologi.

Perkembangan Psikologi Faal

Buku teks pertama tentang psikologi

  1. Wilhelm Wundt

  2. Principles of Physiological Psychology

Mekanisme fisiologis dapat membantu kita memahami proses psikologis. Contoh: kerusakan pada otak di bagian tertentu dapat menyebabkan masalah tertentu pada kemampuan bahasa.

Tujuan Penelitian Psikologi Faal

  1. Menjelaskan fenoma
  • Melakukan generalisasi

  • Membuat kesimpulan umum berdasarkan sejumlah observasi terhadap fenomena yang serupa satu dengan lainnya

  1. Melakukan reduksi
  • Menggambarkan fenomena tertentu dengan melihat proses-proses yang mendasarinya

  • Menjelaskan fenomena yang kompleks secara sederhana.

Akar Psikologi Faal

  1. Kebudayaan kuno di Mesir, India dan Cina. Contoh: jantung adalah tempatnya pikiran dan emosi

  2. Hippocrates. Bukan, pikiran dan emosi ada di otak

  3. Aristotle berpendapat bahwa psikologi faal berarti keliru, otak dan jantung berbeda fungsi. Otak bertujuan mendinginkan gelojak jantung.

  4. Galen – Mempelajari otak sapi, domba, babi, kucing, anjing dan monyet

  5. Descartes – Berspekulasi tentang peran mind (pemikiran) dan brain (otak) dalam mengendalikan perilaku – Menyimpulkan bahwa ada keterkaitan antara pemikiran manusia dan otak – bertempat di titik pineal otak – Titik awal dari sejarah modern psikologi faal.

  6. Galvani, berpendapat bahwa psikologi faal artinya mempelajari bagaimana syaraf menghantarkan pesan dan bagaimana syaraf mengendalikan otot. Stimulasi listrik pada syaraf katak menyebabkan ototnya berkontraksi

  7. Muller, setiap syaraf bekerja dengan cara yang berbeda  Otak terbagi-bagi berdasarkan fungsinya.

  8. Flourens : Menghilangkan bagian-bagian tertentu dari otak binatang dan mengamati perilakunya

  9. Broca :

  • Melakukan otopsi otak dari seorang pria yang terkena stroke sehingga kehilangan kemampuan berbicara

  • Menemukan bahwa bagian tertentu dari cerebral cortex di sisi kiri otak menjalankan fungsi-fungsi yang dibutuhkan dalam berbicara.

  1. Fritsch dan Hitzig
  • Stimulasi listrik di bagian-bagian tertentu pada otak sisi tertentu menyebabkan otot-otot tertentu di sisi tubuh yang berlawanan menjadi berkontraksi
  1. Von Helmholtz
  • Mengukur kecepatan reaksi dari syaraf

Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai perilaku manusia (Bigot, dkk, 1950). Sedangkan, ilmu Faal adalah ilmu yang mempelajari mengenai fungsi dan kerja anggota tubuh. Psikologi faal (physiological psychology) adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang berfokus pada perilaku manusia yang berkaitan dengan fungsi dan kerja alat-alat tubuh… Psikologi faal dalam kaitannya dengan segi fisiologis manusia. Dengan kata lain, psikologi faal adalah gabungan antara psikologi dan fisiologi.

Ilmu ini khususnya mempelajari fungsi dan respon otak dan organ-organ tubuh terhadap perilaku tertentu, misalnya stress, marah, gembira, dsb. Penelitian membuktikan bahwa stress yang dialami seseorang (fenomena psikis) dapat menimbulkan atau memperparah penyakit (fenomena fisiologis) pada orang tersebut.

Psikologi faal ini mengandalkan pendekatan empiris dan praktis dalam mempelajari otak dan perilaku manusia. Para ahli psikologi faal umumnya mempercayai bahwa pikiran manusia merupakan fenomena yang berakar dari sistem syaraf. Sehingga, dengan memahami mekanisme sistem syaraf, dapat diungkapkan banyak hal berkaitan dengan perilaku manusia.

Francis Bacon (1561-1626), yang dikenal sebagai “Bapak Empirisisme”, berpendapat bahwa pada dasarnya “pengetahuan diperoleh dari pengalaman”, terutama pengalaman inderawi. Empirisisme menyatakan bahwa teori dan hipotesa harus diuji melalui pengamatan dan eksperimen. Dengan demikian, Bacon menolak rasionalisme yang semata-mata berpegang pada penalaran (reasoning ) sebagai jalan untuk mendapatkan pengetahuan. Metode induktif, yakni metode yang menggunakan bukti empirik yang spesifik untuk sampai kepada suatu kesimpulan yang bersifat umum, harus diutamakan sebagai metode sains.

Kemudian, Charles Bell (1774-1842) dan Francois Magendie (1783-1855) adalah dua tokoh yang untuk pertama kali menemukan keberadaan syaraf sensorik dan syaraf motorik pada tubuh manusia. Syaraf sensorik berfungsi mengirimkan informasi sensorik dari seluruh tubuh berupa impuls ke sistem syaraf pusat. Sebaliknya, syaraf motorik bertugas membawa impuls motorik dari sistem syaraf pusat ke otot-otot tubuh, sehingga menimbulkan reaksi atau gerakan tertentu dari anggota tubuh.

Wilhelm Wundt (1832-1920) berpendapat akan adanya ‘aliansi antara dua bidang ilmu’, yakni fisiologi dan psikologi. Dengan adanya aliansi ini, secara metodologis berarti alat atau teknik pengukuran dalam bidang fisiologi diterapkan kepada bidang psikologi. Wundt menamakan bidang ilmu temuannya ini ‘psikologi eksperimental’.

Ada pula Johannes Mueller (1801-1858) dengan “Hukum Energi Spesifik” (Law of Specific Energies), menyatakan bahwa jenis persepsi inderawi yang diterima bergantung kepada reseptor yang mengirimkan informasi sensorik itu. Kemudian persepsi inderawi tersebut tidak bergantung kepada sumber rangsangan tersebut. Oleh karena itu, perbedaan persepsi yang diterima oleh indera dengar, pandang atau sentuh tidak disebabkan oleh sumber rangsang itu sendiri, melainkan oleh perbedaan struktur syaraf yang dirangsang olehnya.

Lalu, Marshall Hall (1790-1857) dalam penelitiannya tentang gerak refleks, menyatakan bahwa setiap gerak refleks yang terjadi dipengaruhi hanya oleh syaraf tulang punggung (spinal cord) dan tidak oleh otak. Sehingga terjadi gerak yang tidak disadari. Baca juga: Psikologi Keluarga

Mengenai pendefinisian gerak refleks ini timbul kontroversi antara Pfluger dan Lotze . Menurut Pfluger, refleks bermanfaat bagi organisme, sehingga merupakan gerakan yang disadari. Sedang Lotze berpendapat, walaupun bermanfaat tapi refleks tidak berfungsi dalam situasi baru yang belum pernah dihadapi oleh organisme. Menurut Lotze, dalam setiap situasi yang baru bagi organisme tersebut, gerakan yang disadari adalah cara organisme menyesuaikan diri dengan situasi baru itu.