Apa yang dimaksud dengan Prosa?

Prosa

Prosa adalah pengucapan dengan pikiran yang berbeda dengan puisi yang merupakan pengucapan dengan perasaan (H.B. Jassin).

Apa yang dimaksud dengan Prosa ?

Prosa adalah karangan yang bersifat menerangkan secara terurai mengenai suatu masalah atau hal/peristiwa dan lain-lain. Dengan demikian, karangan bentuk ini jelas tidak bisa singkat dan pendek karena harus menerangkan secara panjang lebar dan sejelas-jelasnya akan sesuatu. Ketepatan dan kejelasan kalimat menjadi sangat penting.

Prosa sifatnya bebas, yaitu tidak terikat irama, rima, jumlah larik. Tetapi, prosa lama masih bersandar pada irama, pada gaya bahasa masyarakat lama atau bahasa klise, misalnya hatta, syahdan, arkian, kata sahibul hikayat dan wallahu alam bisawah. Bentuk bebas tetapi masih bersandar pada irama maka bentuk karya sastra itu disebut prosa liris.

Cerpen, dongeng, novel atau hikayat merupakan cerita karya sastra yang mengungkapannya secara mendalam, terperinci dan luas. Tokoh-tokoh cerita, peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadiannya diungkapkan dengan penguraian. Tokoh cerita diungkapkan atau diceritakan semua yang ada pada tokoh cerita, bahkan sampai pada hal-hal yang kecil. Pengungkapan semua peristiwa secara jelas disebut prosa karena bentuk karya sastra ini sifatnya penguraikan seluruh pikiran dan perasaan serta tidak terikat syarat-syarat tertentu (Zainuddin, 1991).

Ragam Prosa

Prosa terdiri atas prosa lama yakni, dongeng, mite, legenda, sage, fabel, hikayat dan prosa baru yakni, cerita pendek atau cerpen, roman dan novel, biografi dan otobiografi, kisah, tembo atau sejarah, esei, kritik sastra (Zulfahnur, 1996).

  • Dongeng

    Dongeng merupakan suatu cerita fantasi yang kejadiannya tidak benar-benar terjadi atau cerita yang sepenuhmya merupakan hasil imajinasi pengarang. Jacob Grimn dalam Zulfahnur mengemukakan, dongeng-dongeng menggambarkan peri kehidupan dan kebudayaan nenek moyang bangsa Jerman, serta sumber mempelajari bahasa dan menemukan hukum-hukum bahasa Jerman.

    Menurut Sutjipto (1964) salah satu dongeng yang umum di Indonesia dan di Jepang ialah cerita seorang pemuda yang mengambil pakaian atau sayap dari seorang bidadari yang mandi di tempat pemandian. Cerita ini di Indonesia dikenal dengan cerita Jaka Tarub dan di Jepang dinamakan Ha-Goromo yang artinya pakaian.

  • Mite atau Mitos

    Mite berasal dari bahasa Yunani yaitu mythosyang berarti cerita dewata, isinya tentang cerita yang berlatar belakang sejarah yang dipercayai banyak orang bahwa cerita tersebut pernah terjadi dan mengandung hal-hal gaib. Beberapa cerita mitos yang dikenal dalam sastra Indonesia ialah Nyi Roro Kidul, Dewi Sri, Mahabaratha dan Ramayana.

  • Legenda

    Istilah Legenda berasal dari bahasa Inggris legend, berisi tentang kejadian alam atau bisa juga asal-usul suatu tempat, benda, kejadian di suatu tempat atau daerah tertentu. Beberapa contoh legenda ialah Sangkuriang, Asal Mula Tangkupan Perahu, Malin Kundang.

  • Sage

    Istilah sage dikemukakan oleh Rider‟s Dictionary dalam Zulfahnur disebut saga yang artinya cerita lama tentang kepahlawanan. Sage mengandung unsur- unsur sejarah didalamnya dan dihiasi dengan segala keajaiban atau cerita khayal yang mengandung unsur sejarah, misalnya: sage Putri Hijau, Lutung, Layonsari.

  • Fabel

    Fabel ialah cerita rekaan tentang hewan dan pelakunya hewan yang diperlakukan seperti manusia. Meskipun ceritanya tentang kehidupan dunia hewan tetapi merupakan simbolik dari kehidupan manusia, fabel banyak mengandung ajaran bagi kehidupan manusia. Kesusastraan Indonesia cukup kaya dengan cerita fabel ini misalnya, Cerita Si Kancil yang Cerdik, Kera Menipu Harimau.

  • Hikayat

    Kata hikayat berasal dari bahasa Arab yang berarti cerita panjang penuh khayalan. Hikayat diartikan suatu cerita prosa yang berpusat pada kisah kehidupan raja-raja. Biasanya hikayat dibaca untuk pelipur lara dan pembangkit semangat juang atau sekadar untuk meramaikan pesta. Contoh hikayat antara lain, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Seribu Satu Malam, Hikayat Panji Semirang.

  • Cerita Pendek (Cerpen)

    Cerpen merupakan cerita berbentuk prosa yang pendek. Ukuran pendek di sini bersifat relatif. Adapun Jabob Sumardjo dan Saini K.M dalam Suyanto (2012:46), menilai ukuran pendek ini lebih didasarkan pada keterbatasan pengembangan unsur-unsurnya. Cerpen harus memiliki efek tunggal dan tidak kompleks.

    Hanry S. Canby mengemukakan, kesan yang satu dan hidup itulah seharusnya hasil dari sebuah cerpen, dari pendapat ini jelaslah bahwa sebuah karangan pendek tentang keadaan di pasar bukanlah sebuah cerpen. Tetapi karangan tentang keadaan di pasar itu akan menjadi cerpen jika di dalamnya dijalinkan suatu peristiwa, suatu kejadian yang menyangkut persoalan jiwa salah seorang atau beberapa orang yang ada di pasar itu. Contoh dari cerpen ternama Indonesia yakni “Robohnya Surau Kami” karya Ali Akbar Navis.

  • Roman dan Novel

    Menurut Badudu, roman berasal dari bahasa Romawi. Istilah novel berasal dari bahasa Latin “Novellus” yang diturunkan dari kata “novies” yang berarti baru atau cerita yang hadir setelah puisi,drama, dll. (Tarigan,1985). Roman adalah cerita fiksi yang melukiskan kronologi kehidupan tokoh-tokoh yang rinci dan mendalam. Novel merupakan cerita fiksi yang melukiskan suatu peristiwa yang luar biasa dari kehidupan tokoh cerita dan peristiwa tersebut menimbulkan pergolakan batin yang mengubah nasibnya.

  • Biografi dan Otobiografi

    Biografi merupakan suatu cerita (novel biografi) yang melukiskan riwayat hidup seorang tokoh, menceritakan masa kecil, cita-cita,kehidupan keluarga, perjuangan dan kesuksesan yang tokoh dapatkan.contohnya ialah “Gelombang Hidupku” oleh Ramadhan K.H. Otobiografi merupakan suatu cerita yang melukiskan kehidupan seorang tokoh yang ditulisnya sendiri, contohnya “Pengalaman Masa Kecil”oleh Nur Sutan Iskandar.

  • Kisah

    Semacam cerita yang mengisahkan suasana, keadaan dan kejadian-kejadian yang dilihat, dialami penulis, tetapi didalamnya tidak menceritakan persoalan jiwa seseorang tokoh. Kisah juga disebut lukisan karena kisahnya melukiskan suasana atau peristiwa yang dilihat pengarang. Contoh “Surabaya” oleh Idrus, berisi kisah tentang suasana pertempuran di Surabaya pada masa revolusi.

  • Sejarah atau Tembo

    Karangan yang berisi uraian sejarah suatu kerajaan yang umumnya mengenai silsilah raja dan keturunannya, asal-usul kerajaan yang acapkali bercampur dengan dengeng. Sejarah sejenis hikayat namun ada berisi petunjuk (perundang-undangan) bagi raja untuk menjalankan pemerintahan, sejarah juga sering disebut dengan istilah tambo. Contohnya:”Sejarah Melayu”oleh Tun Sri Lanang,”Tambo Babat Tanah Jawi” oleh Bucahari Aljauhari, “Mahkota Raja- Raja” oleh Tujussalatin berisi 24 pasal yang antara lain mengandung filsafat hidup yang tinggi yakni bagaimana manusia harus mengenal dirinya dan Tuhannya, juga menerangkan kewajiban raja kepada rakyat dan sebaliknya.

  • Esei ( Essay)

    Karangan yang membahas persoalan dibidang seni dan kebudayaan pada umumnya. Pengarang mengemukakan pendapat dan pemikirannya tentang objek seni atau kebudayaan yang diminatinya. Contoh-contoh esei dalam sastra Indonesia: “Potret Seorang Penyair”, “Sebagai Si Malin Kundang” Oleh Gunawan Mohammad, “Antologi Esei Tentang Persoalan-Persoalan Sastra Indonesia Dalam Kritik Esai”oleh H.B. Jassin.

  • Kritik Sastra

    Kritik sastra adalah sebuah karangan yang memberikan penilaian objektif terhadap suatu karya sastra seperti novel, cerpen, puisi, drama,dll. Isi di dalamnya menunjukan keunggulan dan kelemahannya. Contonya ialah “Tanggapan Dunia Asrul Sani” oleh M. S. Hutagalung

Prosa adalah karangan bebas yang tidak terikat oleh banyaknya baris, banyaknya suku kata, dalam setiap baris serta tak terikat oleh irama dan rimanya seperti dalam puisi. Prosa berbeda dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya.

Kata prosa berasal dari bahasa Latin " prosa " yang artinya “terus terang”. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya. Prosa kadangkala juga disebut dengan istilah “gancaran”. Karya sastra menurut ragamnya dibedakan atas prosa, puisi, dan drama.

Jenis-Jenis Prosa


1. Prosa Modern

Yang termasuk kedalam prosa modern yaitu :

  • Cerita pendek/cerpen, adalah cerita berbentuk prosa yang pendek.

  • Novelet, adalah cerita yang panjangnya lebih panjang dari cerpen, tetapi lebih pendek dari novel.

  • Novel/roman, adalah cerita berbentuk prosa yang menyajikan permasalahan-permasalahan secara kompleks, dengan penggarapan unsur-unsurnya secara lebih luas dan rinci.

  • Cerita anak, adalah cerita yang mencakup rentang umur pembaca beragam, mulai rentang 3-5 tahun, 6-9 tahun, dan 10-12 tahun (bahkan 13 dan 14) tahun.

  • Novel remaja (chicklit dan teenlit), adalah novel yang ditulis untuk seg- men pembaca remaja.

2. Prosa Lama

Yang termasuk kedalam prosa lama yaitu :

  • Dongeng, adalah cerita yang sepenuhmya merupakan hasil imajinasi atau khayalan pengarang di mana yang diceritakan seluruhnya belum pernah terjadi.

  • Fabel, adalah cerita rekaan tentang binatang dan dilakukan atau para pelakunya binatang yang diperlakukan seperti manusia. Contoh: Cerita Si Kancil yang Cerdik, Kera Menipu Ha- rimau, dan lain-lain.

  • Hikayat, adalah cerita, baik sejarah, maupun cerita roman fiktif, yang dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekedar untuk meramaikan pesta. Contoh; Hikayat Hang Tuah, Hikayat Seribu Satu Malam, dan lain-lain.

  • Legenda, adalah dongeng tentang suatu kejadian alam, asal- usul suatu tempat, benda, atau kejadian di suatu tempat atau daerah. Contoh: Asal Mula Tangkuban Perahu, Malin Kundang, Asal Mula Candi Prambanan, dan lain-lain.

  • Mite, adalah cerita yang mengandung dan berlatar belakang sejarah atau hal yang sudah dipercayai orang banyak bahwa cerita tersebut pernah terjadi dan mengandung hal-hal gaib dan kesaktian luar biasa. Contoh: Nyi Roro Kidul.

  • Cerita Penggeli Hati, sering pula diistilahkan dengan cerita noodlehead karena terdapat dalam hampir semua budaya rakyat. Cerita-cerita ini mengandung unsur komedi (kelucu- an), omong kosong, kemustahilan, ketololan dan kedunguan, tapi biasanya mengandung unsur kritik terhadap perilaku manusia/mayarakat. Contohnya adalah Cerita Si Kabayan, Pak Belalang, Lebai Malang, dan lain-lain.

  • Cerita Perumpamaan, adalah dongeng yang mengandung kiasan atau ibarat yang berisi nasihat dan bersifat mendidik. Sebagai contoh, orang pelit akan dinasihati dengan cerita seorang Haji Bakhil.

Kata prosa diambil dari bahasa Inggris, prose. Kata ini sebenarnya menyaran pada pengertian yang lebih luas, tidak hanya mencakup pada tulisan yang digolongkan sebagai karya sastra, tapi juga karya non fiksi, seperti artikel, esai, dan sebagainya.

Prosa yang sejajar dengan istilah fiksi (arti rekaan) dapat diartikan : karya naratif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, tidak sungguh-sungguh terjadi di dunia nyata. Tokoh, peristiwa dan latar dalam fiksi bersifat imajiner. Hal ini berbeda dengan karya nonfiksi. Dalam nonfiksi tokoh, peristiwa, dan latar bersifat faktual atau dapat dibuktikan di dunia nyata (secara empiris).

Jenis-jenis Prosa

Jenis-jenis prosa fiksi ada dua, yaitu prosa lama dan prosa modern. (Wayan,2012).

1. Prosa lama

Prosa lama adalah karya prosa yang hidup dan berkembang dalam masyarakat tradisional. Prosa lama adalah prosa yang lahir dan hidup dalam masyarakat lama Indonesia, yakni masyarakat yang masih sederhana dan masih terikat atau terkungkung oleh adat-sitiadat. Karya yang dihasilkan selalu berisikan hal-hal yang bersifat moral, pendidikan, nasihat, adat, dan ajaran agama. Cara penulisannya juga terikat oleh aturan-aturan klasik.

Ciri Prosa Lama, adalah:

  • Bersifat statis,

  • Diferensiasi sedikit,

  • Bersifat tradisional,

  • Bersfat anonim (tanpa pengarang)

  • Tidak mengindahkan sejarah atau perhitungan tahun,

  • Bahasanya menunjukkan bentuk-bentuk yang tradisional,

  • Sifatnya fantasis atau khayal,

  • Bahasanya bersifat klise,

  • Tema dan isi cerita berkisar pada perjuangan dan perbedaan antara sifat baik dan buruk,

  • Sangat terikat oleh aturan dan kebiasaan adat-istiadat, dan

  • Istana sentris

Jenis prosa lama adalah: (1) dongeng, (2) hikayat, (3) sejarah, (4) cerita berbingkai

2. Prosa Baru

Pengertian Prosa Baru adalah prosa yang mengalami pembaruan dari aturan prosa lama yang terikat. Pengarang prosa baru bersifat terbuka dan menerima pengaruh luar. Pengaruh luar paling kuat yang memengaruhi kehidupan sastra dan sastrawan Indonesia adalah Eropa. Dengan sifat masyarakatnya yang terbuka dan dinamis, karya-karya prosa yang dihasilkan oleh masyarakat baru Indonesia waktu itu mulai fleksibel dan bersifat universal.

Secara umum, ciri khas prosa baru adalah sebagai berikut,

  • Masyarakat sentris, artinya cerita yang diungkapkan sering didasarkan pada kenyataan hidup sehari-hari.

  • Selalu berubah dan berkembang secara dinamis.

  • Diketahui siapa pengarangnya karena dinyatakan secara jelas.

  • Tidak begitu terikat oleh aturan sastra klasik.

  • Bahasa tidak bersifat klise dan dipengaruhi oleh kesusasteraan Barat.

  • Mulai dipublikasikan secara luas dan memperkenalkan nama pengarangnya.

Jenis prosa baru, yakni: (1) cerita anak, terdiri atas: (a) cerita keajaiban, (b) Cerita Fantasi, © Cerita fiksi ilmu pengertahuan, (2) Novel Remaja, (3) cerpen, (4) Novel yang terdiri atas: novel popular, novel literer, novel picisan, Novel Absurd, novel horror, (5) novellet/novella, dan (6) Roman yang terdiri atas: roman sosial, roman sejarah, roman jiwa, roman tendens, roman percintaan, roman detektif, dan roman perjuangan, (7) ftragmen, dan (8) telenovella.

Prosa adalah karangan yang bersifat menerangkan secara terurai mengenai suatu masalah atau hal/peristiwa dan lain-lain. Dengan demikian, karangan bentuk ini jelas tidak bisa singkat dan pendek karena harus menerangkan secara panjang lebar dan sejelas-jelasnya akan sesuatu. Ketepatan dan kejelasan kalimat menjadi sangat penting.

Secara umum H.B. Jassin mengatakan bahwa prosa ialah pengucapan dengan pikiran yang berbeda dengan puisi yang merupakan pengucapan dengan perasaan (Suroto, 1989). Prosa sifatnya bebas, yaitu tidak terikat irama, rima, jumlah larik. Tetapi, prosa lama masih bersandar pada irama, pada gaya bahasa masyarakat lama atau bahasa klise, misalnya hatta, syahdan, arkian, kata sahibul hikayat dan wallahu a‟lam bisawah.

Bentuk bebas tetapi masih bersandar pada irama maka bentuk karya sastra itu disebut prosa liris. Cerpen, dongeng, novel atau hikayat merupakan cerita karya sastra yang mengungkapannya secara mendalam, terperinci dan luas. Tokoh-tokoh cerita, peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadiannya diungkapkan dengan penguraian.

Tokoh cerita diungkapkan atau diceritakan semua yang ada pada tokoh cerita, bahkan sampai pada hal-hal yang kecil. Pengungkapan semua peristiwa secara jelas disebut prosa karena bentuk karya sastra ini sifatnya penguraikan seluruh pikiran dan perasaan serta tidak terikat syarat-syarat tertentu (Zainuddin, 1991).

Unsur-Unsur Prosa

Menurut Aning Naafiah, (2012) unsur-unsur prosa terbagi menjadi dua yaitu unsur dalam atau intrinsik dan unsur ekstrinsik sebagai berikut ini.

  • Unsur Intrinsik
  1. Tema
    Tema adalah gagasan pokok, ide dasar, atau yang melatar belakangi isi dari keseluruhan cerita. Tema diperoleh melalui hubungan antara masalah, tokoh, latar, alur, dan struktur yang lain, seperti sudut pandang, bahasa, dan gaya bahasa. Tema biasanya bersifat sesuatu yang umum dan dapat diterima, misal tema kepahlawanan, percintaan, kemiskinan, dan pendidikan.

  2. Masalah atau Permasalahan
    Masalah atau permasalahan merupakan bagian yang membangun cerita atau karya. Ini merupakan isi dari cerita itu sendiri. Masalah biasanya dibagi menjadi dua, yakni masalah utama maslah mayor dan masalah tambahan atau maslah minor. Masalah masalah juga penggerak alur cerita.

  3. Alur atau Plot
    Plot merupakan punggung cerita. Peristiwa merupakan isi dari plot yang dihubungkan dengan hubungan sebab akibat. Secara sederhana plot merupakan jalannya cerita yang berisi peristiwa yakni peristiwa utama dan tambahan. Peristiwa utama wajib hadir dalam cerita, sedangkan peristiwa tambahan tidak begitu penting atau sisipan dalam prosa. Cirinya adalah bila dihilangkan tidak mengganggu jalannya cerita.

  4. Tokoh,Karakter, dan Penokohan
    Tokoh adalah aktor atau orang/benda/sesuatu yang menjadi orang hidup dalam satu cerita. Tokoh ini juga sama artinya dengan karakter. Penokohan adalah proses dari perubahan watak dari tokoh atau karakter. Penokohan juga sama dengan karakterisasi atau perwatakan. Sedangkan watak adalah sifat yang ada dalam diri tokoh, biasanya jarang bisa berubah. Proses berubahnya watak itu disebut karakterisasi, perwatakan, dan penokohan.

  5. Latar
    Latar adalah tempat terjadinya suatu peristiwa atau kejadian dalam sebuah cerita, atau suatu yang melatarbelakangi kejadian suatu peristiwa.

  6. Sudut Pandang
    Sering disebut juga gaya bercerita, dibagi menjadi beberapa macam, yaitu gaya bercerita orang pertama yang dicirikan dengan menggunakan kata „aku‟ dan gaya bercerita orang ketiga yang dicirikan dengan menggunakan kata „dia‟. Selain itu, dalam satu cerita sering terdapat gaya bercerita campuran, yang biasanya dicirikan dengan sudut pandang „aku‟ dan „dia‟.

  7. Unsur Lain
    Unsur lain adalah unsur selain unsur utama seperti tema, plot, tokoh, dan latar. Unsur lain ini berupa bahasa dan nada cerita. Bahasa yang dimaksud adalah bahasa yang digunakan dalam cerita, misalnya bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia atau Jawa. Selain itu, unsur yang digunakan dalam bahasa antara lain panjang pendek kalimat, jenis kaliamat (kata tunggal, pasif, aktif, kalimat berita, kalimat perintah, kalimat majemuk, dan lain-lain), Ragam kaliamat (santai, resmi, berita), dan juga gaya bahasa yang berupa majas. Nada sering disebut juga dengan suasana yang muncul setelah atau ketika membaca cerita, suasana itu dapat berupa suasana sedih, gembira, marah atupun bersemangat.

  • Unsur Ekstrinsik

Unsur yang berada diluar cerita, unsur ini biasanya dihubungkan dengan masalah sosial yang ada diluar cerita. Misalnya, berhubungan dengan sejarah, pendidikan, politik, keagamaan, dan lain-lain. Satu cerita dapat juga berisi unsur ekstrinsik yang berupa gambaran atau cermin dari lingkungan teks. Sebagai contohnya adalah novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang memiliki unsur ekstrinsik tentang masalah pendidikan dan keadaan daerah terpencil di Indonesia, secara ekonomi.