Apa yang dimaksud dengan perubahan sosial?

image

Perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Apa yang dimaksud dengan perubahan sosial ?

Perubahan sosial merupakan perubahan kehidupan masyarakat yang berlangsung terus-menerus dan tidak akan pernah berhenti, karena tidak ada satu masyarakatpun yang berhenti pada suatu titik tertentu sepanjang masa.

Artinya, meskipun para Sosiolog memberikan klasifikasi terhadap masyarakat statis dan dinamis, namun yang dimaksud masyarakat statis adalah masyarakat yang sedikit sekali mengalami perubahan dan berjalan lambat, artinya di dalam masyarakat statis tersebut tetap mengalami perubahan. Adapun masyarakat dinamis adalah masyarakat yang mengalami berbagai perubahan yang cepat.

Manusia memiliki peran sangat penting terhadap terjadinya perubahan masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin melakukan perubahan, karena manusia memiliki sifat selalu tidak puas terhadap apa yang telah dicapainya, ingin mencari sesuatu yang baru untuk mengubah keadaan agar menjadi lebih baik sesuai dengan kebutuhannya.

Manusia sebagai mahluk Tuhan, dibekali akal-budi untuk memenuhi kebutuhannya. Kelebihan manusia terletak pada akal-budi tersebut, yakni sebagai potensi dalam diri manusia yang tidak dimiliki oleh mahluk lain. Akal merupakan kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir digunakan oleh manusia untuk memecahkan masalah - masalah hidup yang dihadapinya. Budi merupakan bagian dari kata hati, berupa paduan akal dan perasaan, yang dapat membedakan antara baik dan buruk sesuatu.

Dengan berbekal akal-budi tersebut manusia memiliki tujuh kemampuan yang berfungsi untuk: menciptakan, mengkreasi,memperlakukan, memperbarui, memperbaiki, mengembangkan, dan meningkatkan segala hal dalam interaksinya dengan alam maupun manusia lainnya ( Herimanto dan Winarno, 2009 )

Ketujuh kemampuan tersebut merupakan potensi yang dimiliki manusia untuk kepentingannya dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya, yaitu mempertahankan dan meningkatkan derajat kehidupannya, mengembangkan sisi kemanusiaannya, dengan cara menciptakan kebudayaan ( selanjutnya manusia juga mengkreasi, memperlakukan, memperbarui, memperbaiki, mengembangkan dan meningkatkan kebudayaan ).
Kebudayaan yang dihasilkan melalui akal budi manusia sering menjadi pencetus terjadinya perubahan sosial. Artinya perubahan sosial tidak terlepas dari perubahan kebudayaan.

Bahkan Kingsley Davis ( Soerjono Soekanto, 2000 ) berpendapat bahwa perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Adapun menurut PB Horton dan CL Hunt ( 1992 ), hampir semua perubahan besar mencakup aspek sosial budaya. Oleh karena itu dalam menggunakan istilah perubahan sosial dan perubahan budaya, perbedaan di antara keduanya tidak terlalu diperhatikan.

Di samping itu, kedua istilah tersebut seringkali ditukar - pakaikan; kadangkala digunakan istilah perubahan sosial - budaya ( sosiocultural change ) agar dapat mencakup kedua jenis perubahan tersebut. Yang jelas perubahan - perubahan sosial dan kebudayaan mempunyai satu aspek yang sama yaitu kedua - duanya bersangkut-paut dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara suatu masyarakat memenuhi kebutuhan – kebutuhannya.

Beberapa Definisi Perubahan Sosial :

Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi karena adanya ketidak sesuaian di antara unsur-unsur sosial yang berbeda di dalam kehidupan masyarakat, sehingga menghasilkan pola kehidupan yang baru ( berbeda dengan pola kehidupan sebelumnya). Perubahan sosial mencakup perubahan dalam nilai - nilai sosial, norma-norma sosial, susunan lembaga kemasyarakatan, pelapisan sosial, kelompok sosial, interaksi sosial, pola-pola perilaku, kekuasaan dan wewenang, serta berbagai segi kehidupan masyarakat lainnya.

Berikut ini merupakan definisi perubahan sosial yang dikemukakan oleh para Sosiolog :

  1. Kingsley Davis :
    Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Menurutnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis telah menyebabkan perubahan dalam hubungan-hubungan antara buruh dengan majikan, dan seterusnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik

  2. John Lewis Gillin dan John Philip Gillin :
    Perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara hidup yang diterima, akibat adanya perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi, maupun karena adanya difusi dan penemuan baru dalam masyarakat.

  3. Robert M MacIver :
    Perubahan-perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial ( social relationships) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan ( equilibrium ) hubungan sosial

  4. Selo Soemarjan :
    Perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

  5. William F. Ogburn :
    Perubahan sosial menekankan pada kondisi teknologis yang menyebabkan terjadinya perubahan pada aspek-aspek kehidupan sosial, seperti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat berpengaruh terhadap pola berpikir masyarakat.

Melihat begitu luasnya cakupan perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat, maka untuk mengetahui suatu perubahan sosial dapat dilakukan dengan jalan melakukan pengamatan yang cermat terhadap suatu masyarakat dan membandingkannya dengan keadaan masyarakat tersebut pada masa lampau / sebelumnya, untuk memahami perbedaan keadaannya.

Teori Perubahan Sosial

Dalam menjelaskan fenomena perubahan sosial terdapat beberapa teori yang dapat menjadi landasan bagi kita dalam memahami perubahan sosial yang berkembang di masyarakat. Teori perubahan sosial tersebut di antaranya adalah:

1) Teori Evolusi ( Evolutionary Theory)

Menurut James M. Henslin (2007), terdapat dua tipe teori evolusi mengenai cara masyarakat berubah, yakni teori unilinier dan teori multilinier :

  • Pandangan teori unilinier mengamsusikan bahwa semua masyarakat mengikuti jalur evolusi yang sama. Setiap masyarakat berasal dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih kompleks ( sempurna ), dan masing-masing melewati proses perkembangan yang seragam. Salah satu dari teori ini yang pernah mendoninasi pemikiran Barat adalah teori evolusi dari Lewis Morgan, yang menyatakan bahwa semua masyarakat berkembang melalui tiga tahap: kebuasan, barbarisme, dan peradaban. Dalam pandangan Morgan, Inggris ( masyarakatnya sendiri ) adalah contoh peradaban. Semua masyarakat lain ditakdirkan untuk mengikutinya.

  • Pandangan teori multilinier menggantikan teori unilinier dengan tidak mengamsusikan bahwa semua masyarakat mengikuti urutan yang sama, artinya meskipun jalurnya mengarah ke industrialisasi, masyarakat tidak perlu melewati urutan tahapan yang sama seperti masyarakat yang lain.
    Inti teori evolusi, baik yang unilinier maupun multilinier, ialah asumsi mengenai kemajuan budaya, di mana kebudayaan Barat dianggap sebagai tahap kebudayaan yang maju dan superior / sempurna. Namun, ide ini terbantahkan dengan semakin meningkatnya apresiasi terhadap kayanya keanekaragaman ( dan kompleksitas) dari kebudayaan suku bangsa di dunia. Di samping itu, masyarakat Barat sekarang berada dalam krisis ( rasisme, perang, terorisme, perkosaan, kemiskinan, jalanan yang tidak aman, perceraian, sex bebas, narkoba, AIDS dan sebagainya ) dan tidak lagi dianggap berada di puncak kebudayaan manusia.

2) Teori Siklus ( Cyclical Theory )

Menurut PB Horton dan CL Hunt ( 1992 ) dalam bukunya “Sociology”, para penganut teori siklus juga melihat adanya sejumlah tahapan yang harus dilalui oleh masyarakat, tetapi mereka berpandangan bahwa proses perubahan masyarakat bukannya berakhir pada tahap “terakhir” yang sempurna, tetapi berlanjut menuju tahap kepunahan dan berputar kembali ke tahap awal untuk peralihan selanjutnya. Beberapa dari penganut teori siklus tersebut dipaparkan sebagai berikut :

Menurut pandangan seorang ahli filsafat Jerman, Oswald Spengler ( 1880-1936 ) setiap peradaban besar mengalami proses pentahapan kelahiran, pertumbuhan, dan keruntuhan. Oswald Spengler terkenal dengan karyanya “The Decline of the West” / Keruntuhan Dunia Barat.

Pitirim Sorokin (1889-1968) seorang ahli Sosiologi Rusia berpandangan bahwa semua peradaban besar berada dalam siklus tiga sistem kebudayaan yang berputar tanpa akhir, yang meliputi :

  • kebudayaan ideasional ( ideational cultural) yang didasari oleh nilai-nilai dan kepercayaan terhadap unsur adikodrati ( super natural );

  • kebudayaan idealistis (idealistic culture) di mana kepercayaan terhadap unsur adikodrati dan rasionalitas yang berdasarkan fakta bergabung dalam menciptakan masyarakat ideal; dan

  • kebudayaan sensasi ( sensate culture) di mana sensasi merupakan tolok ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.

Arnold Toynbee ( 1889-1975), seorang sejarawan Inggris juga menilai bahwa peradaban besar berada dalam siklus kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan, dan kematian. Menurutnya peradaban besar muncul untuk menjawab tantangan tertentu, tetapi semuanya telah punah kecuali peradaban Barat, yang dewasa ini juga tengah beralih menuju ke tahap kepunahannya.

3) Teori Fungsionalis ( Functionalist Theory )

Penganut teori ini memandang setiap elemen masyarakat memberikan fungsi terhadap elemen masyarakat lainnya. Perubahan yang muncul di suatu bagian masyarakat akan menimbulkan perubahan pada bagian yang lain pula. Perubahan dianggap mengacaukan keseimbangan masyarakat. Proses pengacauan itu berhenti pada saat perubahan tersebut telah diintegrasikan ke dalam kebudayaan ( menjadi cara hidup masyarakat).

Oleh sebab itu menurut teori ini unsur kebudayaan baru yang memiliki fungsi bagi masyarakat akan diterima, sebaliknya yang disfungsional akan ditolak.

Menurut sosiolog William Ogburn, meskipun unsur - unsur masyarakat saling berhubungan, beberapa unsurnya bisa berubah sangat cepat sementara unsur yang lain berubah secara lambat, sehingga terjadi apa yang disebutnya dengan ketertinggalan budaya ( cultural lag ) yang mengakibatkan terjadinya kejutan sosial pada masyarakat, sehingga mengacaukan keseimbangan dalam masyarakat. Menurutnya, perubahan benda-benda budaya materi / teknologi berubah lebih cepat daripada perubahan dalam budaya non materi / sistem dan struktur sosial. Dengan kata lain, kita berusaha mengejar teknologi yang terus berubah, dengan mengadaptasi adat dan cara hidup kita untuk memenuhi kebutuhan teknologi ( Henslin, 2007 )

4) Teori Konflik ( Conflict Theory )

Menurut pengikut teori ini, yang konstan ( tetap terjadi ) dalam kehidupan masyarakat adalah konflik sosial, bukannya perubahan. Perubahan hanyalah merupakan akibat dari adanya konflik dalam masyarakat, yakni terjadinya pertentangan antara kelas kelompok penguasa dan kelas kelompok tertindas. Oleh karena konflik sosial berlangsung secara terus menerus, maka perubahanpun juga demikian adanya.

Menurut Karl Marx, konflik kelas sosial merupakan sumber yang paling penting dan berpengaruh dalam semua perubahan sosial. Perubahan akan menciptakan kelompok dan kelas sosial baru. Konflik antar kelompok dan kelas sosial baru tersebut akan melahirkan perubahan berikutnya. Menurutnya, konflik paling tajam akan terjadi antara kelas Proletariat (buruh yang digaji) dengan kelas Borjuis (kapitalis/pemilik industri) yang diakhiri oleh kemenangan kelas proletariat, sehingga terciptalah masyarakat tanpa kelas (PB Horton dan CL. Hunt,1992). Namun asumsi Marx terhadap terciptanya masyarakat tanpa kelas tersebut sampai saat ini tidak terbukti. Artinya kehidupan masyarakat tetap diwarnai adanya perbedaan kelas sosial.

Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial

Di dalam kehidupan masyarakat dapat kita jumpai berbagai bentuk perubahan sosial yang dapat digambarkan sebagai berikut: ( Henslin, 2007; PB Horton dan CL Hunt, 1992; Soerjono Soekanto, 2000 )

  1. Perubahan Sosial secara Lambat
    Perubahan sosial secara lambat dikenal dengan istilah evolusi, merupakan perubahan-perubahan yang memerlukan waktu lama, dan rentetan-rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti. Ciri perubahan secara evolusi ini seakan perubahan itu tidak terjadi di masyarakat, berlangsung secara lambat dan umumnya tidak mengakibatkan disintegrasi kehidupan.

    Perubahan secara lambat terjadi karena masyarakat berusaha menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Oleh sebab itu perubahan yang terjadi melalui evolusi terjadi dengan sendirinya secara alami, tanpa rencana atau kehendak tertentu.

  2. Perubahan Sosial secara Cepat
    Perubahan sosial yang berjalan cepat disebut revolusi. Selain terjadi secara cepat, juga menyangkut hal-hal yang mendasar bagi kehidupan masyarakat serta lembaga-lembaga kemasyarakatan, dan sering menimbulkan disintegrasi dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik.

  3. Perubahan Sosial Kecil
    Perubahan sosial kecil merupakan perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung / berarti bagi masyarakat karena tdak berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan dan lembaga kemasyarakatan.

  4. Perubahan Sosial Besar
    Perubahan sosial besar merupakan perubahan yang dapat membawa pengaruh besar dalam berbagai aspek kehidupan serta menimbulkan perubahan pada lembaga kemasyarakatan seperti yang terjadi pada masyarakat yang mengalami proses modernisasi - industrialisasi.

  5. Perubahan Sosial yang Direncanakan ( Dikehendaki )
    Perubahan Sosial yang dikehendaki atau direncanakan merupakan perubahan yang diperkirakan atau direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang akan mengadakan perubahan di dalam masyarakat. Pihak-pihak yang menghendaki perubahan dinamakan Agent of change ( agen perubahan), yaitu seseorang atau sekelompok orang yang telah mendapat kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin dari satu atau lebih lembaga - lembaga kemasyarakatan, serta memimpin masyarakat dalam mengubah sistem sosial.

    Suatu perubahan yang dikehendaki atau yang direncanakan selalu berada di bawah pengendalian serta pengawasan Agent of change tersebut. Cara-cara mempengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu dinamakan rekayasa sosial ( sosial engineering) atau yang biasa disebut sebagai perencanaan sosial.

  6. Perubahan Sosial yang Tidak Direncanakan ( Tidak Dikehendaki )
    Perubahan sosial yang tidak direncanakan ( tidak dikehendaki) merupakan perubahan yang berlangsung tanpa direncanakan / dikehendaki oleh masyarakat dan di luar jangkauan pengawasan masyarakat.

    Konsep perubahan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki tidak mencakup pengertian apakah perubahan-perubahan tadi diharapkan atau tidak diharapkan oleh masyarakat. Karena bisa terjadi, perubahan yang tidak direncanakan/tidak dikehendaki ternyata diharapkan dan diterima oleh masyarakat, seperti reformasi yang terjadi di Indonesia.

Menurut Davis (1960), perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Perubahan kebudayaan mencakup unsur-unsur kebudayaan yang universal, sedangkan perubahan social meliputi perubahan dalam struktur sosial. Keterkaitan antara perubahan sosial dengan perubahan kebudayaan dirdasarkan pada perspektif bahwa perubahan kebudayaan yang ditimbulkan dan mempengaruhi organisasi sosial dapat mengakibatkan terganggunya keseimbangan sosial. Apabila keseimbangan social terganggu maka akan menumbulkan perubahan dalam struktur sosial.

Secara umum, perubahan sosial dapat diartikan sebagai perubahan pola hubungan sosial dan struktur sosial. Misalnya, perubahan peran istri dalam keluarga, berkurangnya sifat gotong royong pada masyarakat, dan perubahan penilaian terhadap tenaga kerja. Iver (1957) memberikan batasan tentang perubahan sosial sebagai perubahan dalam hubungan sosial (social relationship) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial.

Sumber-sumber Perubahan Sosial


Perubahan sosial tidak terjadi dengan sendirinya melainkan memiliki sumber-sumber yang dapat mendorong terjadinya perubahan tersebut. Menurut Astrid S. Susanto (1985), perubahan sosial terjadi sebagai hasil interaksi banyak faktor. Hal ini dapat terjadi karena manusia berkeinginan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di sekelilingnya. Faktor utama terjadinya perubahan sosial adalah:

  • keadaan geografi,
  • keadaan biofisik kelompok,
  • kebudayaan, dan
  • sifat anomi manusia.

Menurut Margono (dalam Soekanto: 1990) mengemukakan bahwa secara umum terdapat empat sumber perubahan sosial, yaitu:

  • Ketidakpuasan masyarakat terhadap situasi yang ada, karena itu ada keinginan untuk situasi yang lain;
  • Adanya pengetahuan tentang perbedaan antara yang ada dan yang seharusnya bisa ada;
  • Adanya tekanan dari luar seperti kompetisi, keharusan menyesuaikan diri, dan lain-lain;
  • Kebutuhan dari dalam untuk mencapai efisiensi dan peningkatan produktivitas.

Sedangkan menurut Sorokin (1987), secara psikologis masyarakat potensial untuk berubah terutama yang berkenaan dengan tida aspek, yaitu:

  • perubahan idea (ideational change),
  • pengaruh unsur material terhadap mental manusia/masyarakat (sensational change),
  • perubahan ideologi (idealistic change).

Menurut Robert L. Sutherland (1961), faktor penyebab perubahan sosial adalah berasal dari manusia itu sendiri yakni usaha untuk mempertahankan hidup dan memperbaiki nasib. Dengan demikian, faktor: inovasi, invensi, adaptasi, dan adopsi menjadi penyebab terjadinya perubahan sosial.

Menurut V. Baal (1977) perubahan sosial dapat disebabkan dari dua proses, yaitu: proses dari dalam masyarakat sendiri (proses endogen), dan proses sebagai akibat adanya kontak dengan masyarakat atau kebudayaan dari luar (proses eksogen).

Perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Pandangan serupa dikemukakan oleh Wilbert Moore yang memandang perubahan sosial sebagai perubahan struktur sosial, pola perilaku dan interakasi sosial. Sedangkan Menurut Mac Iver, perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (Robert H. Laurer, 1993).

Setiap manusia selama hidup pasti mengalami perubahan-perubahan. Perubahan dapat berupa pengaruhnya terbatas maupun luas, perubahan yang lambat dan ada perubahan yang berjalan dengan cepat. Perubahan dapat mengenai nilai dan norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan sebagainya. Perubahan- perubahan yang terjadi pada masyarakat merupakan gejala yang normal. Pengaruhnya bisa menjalar dengan cepat ke bagian-bagian dunia lain berkat adanya komunikasi modern (Soerjono Soekanto, 2009).

Definisi perubahan sosial menurut beberapa ahli sosiologi: Soerjono Soekanto (2009).

  1. Kingsley Davis mengartikan “perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat” (Soerjono Soekanto, 2009).

  2. MacIver mengatakan “perubahan-perubahan sosial merupakan sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial (social relationships) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial” (Soerjono Soekanto, 2009).

  3. JL.Gillin dan JP.Gillin mengatakan “perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, idiologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat”(Soerjono Soekanto, 2009).

  4. Selo Soemardjan. Rumusannya adalah “segala perubahan- perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat” (Soerjono Soekanto, 2009).

Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat yang dapat mempengaruhi pola interaksi sosial yang dapat bersifat membangun karakter manusia menuju proses yang lebih baik atau malah sebaliknya.

Karakteristik Perubahan Sosial


Perubahan Sosial memiliki beberapa karakteristik yaitu:

  1. Pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.

  2. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.

  3. Perubahan-perubahan dalam hubungan sosial (social relationships) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial.

  4. Suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan- perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, idiologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.

  5. Modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia.

  6. Segala bentuk perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Bentuk-bentuk Perubahan


1. Perubahan lambat dan perubahan cepat

Perubahan-perubahan yang memerlukan waktu yang lama, rentetan-rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat, dinamakan evolusi. Pada evolusi perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu. Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan, dan kondisi-kondisi baru yang timbul sejalan pertumbuhan masyarakat (Soerjono Soekanto, 2009). Sementara itu perubahan-perubahan sosial yang berlangsung dengan cepat dan menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat.

Secara Sosiologis agar suatu revolusi dapat terjadi, maka harus dipenuhi syarat-syarat tertentu antara lain:

  1. Harus ada keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan.

  2. Adanya seorang pemimpin atau sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut.

  3. Pemimpin diharapkan dapat menampung keinginan-keinginan masyarakat untuk kemudian merumuskan serta menegaskan rasa tidak puas tadi menjadi program dan arah gerakan.

  4. Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat.

  5. Harus ada momentum yaitu saat dimana segala keadaan dan faktor sudah tepat dan baik untuk memulai suatu gerakan.

2. Perubahan Kecil dan Perubahan Besar

Perubahan kecil adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau yang berarti bagi masyarakat. Perubahan mode pakaian, misalnya, tidak akan membawa pengaruh apa- apa bagi masyarakat dalam keseluruhannya, karena tidak mengakibatkan perubahan- perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sedangkan perubahan besar adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yaitu membawa pengaruh besar pada masyarakat (Soerjono Soekanto, 2009).

3. Perubahan yang dikehendaki (intended-change) atau perubahan yang direncanakan (planned-change) dan perubahan yang tidak dikehendaki (unitended-change) atau perubahan yang tidak direncanakan (unplanned-change)

Perubahan yang dikehendaki atau direncanakan merupakan perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan didalam masyarakat. Pihak-pihak yang menghendaki perubahan dinamakan agen of chage yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga- lembaga kemasyarakatan. Sedangkan perubahan sosial yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan merupakan perubahan-perubahan yang terjadi tanpa dikehendaki atau berlangsung diluar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan masyarakat (Soerjono Soekanto, 2009).

Faktor Penyebab Perubahan Sosial


Soerjono Soekanto (2009), Secara umum penyebab dari perubahan sosial budaya dibedakan atas dua golongan besar, yaitu: Perubahan yang berasal dari masyarakat itu sendiri dan Perubahan yang berasal dari luar masyarakat. Secara jelas akan dipaparkan di bawah ini:

  1. Perubahan yang Berasal dari Masyarakat.

    • Bertambah atau berkurangnya penduduk. Perubahan jumlah penduduk merupakan penyebab terjadinya perubahan sosial, seperti pertambahan atau berkurangnya penduduk pada suatu daerah tertentu. Bertambahnya penduduk pada suatu daerah dapat mengakibatkan perubahan pada struktur masyarakat, terutama mengenai lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sementara pada daerah lain terjadi kekosongan sebagai akibat perpindahan penduduk tadi.

    • Penemuan-penemuan baru. Penemuan-penemuan baru akibat perkembangan ilmu pengetahuan baik berupa teknologi maupun berupa gagasan-gagasan menyebar ke masyarakat, dikenal, diakui, dan selanjutnya diterima serta menimbulkan perubahan sosial.

  2. Perubahan yang Berasal dari Luar Masyarakat

    • Sebab-sebab yang berasal dari lingkungan alam fisik yang ada disekitar manusia. Menurut Soerjono Soekanto sebab yang bersumber pada lingkungan alam fisik yang kadang-kadang disebabkan oleh tindakan para warga masyarakat itu sendiri. Misalnya, penebangan hutan secara liar oleh segolongan anggota masyarakat memungkinkan untuk terjadinya tanah longsor, banjir dan lain sebagainya.

    • Peperangan. Peperangan yang terjadi dalam satu masyarakat dengan masyarakat lain menimbulkan berbagai dampak negatif yang sangat dahsyat karena peralatan perang sangat canggih.

    • Pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Adanya interaksi langsung antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya akan menyebabkan saling pengaruh. Selain itu pengaruh dapat berlangsung melalui komunikasi satu arah yakni komunikasi masyarakat dengan media-media massa.

Gerth dan Mills (dalam Soekanto, 1983) mengasumsikan beberapa hal, misalnya perihal pribadi-pribadi sebagai pelopor perubahan, dan faktor material serta spiritual yang menyebabkan terjadinya perubahan. Lebih lanjut menurut Soekanto, faktor-faktor yang menyebabkan perubahan adalah:

  1. Keinginan-keinginan secara sadar dan keputusan secara pribadi.
  2. Sikap-sikap pribadi yang dipengaruhi oleh kondisi-kondisi yang berubah.
  3. Perubahan struktural dan halangan struktural.
  4. Pengaruh-pengaruh eksternal.
  5. Pribadi-pribadi kelompok yang menonjol.
  6. Unsur-unsur yang bergabung menjadi satu.
  7. Peristiwa-peristiwa tertentu.
  8. Munculnya tujuan bersama.

Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam fungsi dan struktur masyarakat yang memengaruhi sistem sosial, nilai, sikap, serta perilaku individü dan kelompok.

Menurut Robert H. Lauer, terdapat dua teori utama dalam perubahan sosial, yaitu sebagai berikut.

  1. Teori siklus, yaitu perubahan yang berulang-ulang menyerupai spiral. Menurut teori siklus, apa yang terjadi sekarang pada dasarnya memiliki kesamaan atau kemiripan dengan apa yang telah terjadi sebelumnya. Pola perubahan ini dapat digambarkan sebagai berikut. Di dalam perubahan ini, tidak ada batas yang jelas antara pola hidup primitif, tradisional, modern.

  2. Teori perkembangan, yaitu linier perubahan yang berkembang menuju suatu titik tertentu, seperti perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern yang kompleks. Pola perubahan ini dapat digambarkan sebagai berikut. Perubahan sosial menurut pola linier. Masyarakat berkembang dari semula modern primitif, tradisional dan menjadi modern. Teori ini dilihat dari sudut pandang tradisional primitif masyarakat modern.

Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial


Bentuk-bentuk perubahan sosial adalah sebagai berikut.

  1. Perubahan lambat (evolusi).
    Perubahan sosial yang terjadi dalam proses lambat, memakan waktu cukup lama dan tidak disertai kehendak tertentu dari masyarakat yang bersangkutan. Perubahan evolutif mengikuti kondisi perkembangan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Masyarakat hanya berusaha menyesuaikan diri dengan keperluan keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Teori evolusi digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu unilinear theories of evolution, universal theory of evolution,dan multilined theories ofevolution.

  2. Perubahan cepat (revolusi).
    Perubahan sosial yang berlangsung cepat karena menyangkut unsur-unsur kehidupan atau lembaga-lembaga kemasyarakatan. Dalam revolusi perubahan dapat direncakan atau tidak direncanakan, dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Namun, revolusi seringkali diawali ketegangan atau konflik dalam tubuh masyarakat bersangkutan.

  3. Perubahan kecil.
    Merupakan perubahan yang terjadi pada struktur sosial namun perubahan tersebut tidak memiliki dampak berarti bagi masyarakat karena tidak memengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan. Contohnya, perubahan mode pakaian atau mode rambut.

  4. Perubahan besar.
    Kebalikan dari perubahan kecill perubahan beşar adalah perubahan yang mengakibatkan terjadinya perubahan pada struktur, lembaga dan stratifikasi masyarakat. Contohnya, perubahan masyarakat agraris menjadi industrialisasi. Perubahan tersebut memberi pengaruh beşar pada kondisi geografisı berubahnya fungsi lahan menjadi tempat industri, dan perubahan mata pencaharian masyarakat.

  5. Perubahan yang dikehendaki (intended change) atau direncanakan (planned change)
    Merupakan perubahan yang telah direncanakan dan disepakati deh pihak-pihak yang ingin melakukan perubahan dalam masyarakat. Pihak-pihak tersebut dinamakan sebagai pelaku perubahan (agent ofchange).Pelaku perubahan adalah orang atau sekelompok orang yang memiliki wewenang dan kekuasaan untuk melakukan perubahan dalam masyarakat dan mengawasi serta mengendalikan perubahan tersebut. Orang atau sekelompok orang tersebut telah dipercaya masyarakat dan memiliki kedudukan dalam lembaga kemasyarakatan. Agent ofchange akan melakukan rekayasa sosial (social engineering) atau perencanaan sosial (social planning) dengan cara memengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur. Contohnya, pemerintah mengadakan program keluarga berencana (KB) dan program konversi minyak tanah ke gas.

  6. Perubahan yang tidak dikehendaki (unintended change) atau tidak direncanakan (unplanned change)
    Merupakan perubahan yang tidak dikehendaki dan terjadi di luar jangkauan masyarakat. Perubahan yang tidak dikehendaki atau tidak direncanakan biasanya disebabkan oleh gagalnya masyarakat dalam mengantisipasi dan memperhitungkan perubahan yang akan terjadİ sehingga memicu kekacuan atau kendala dalam masyarakat. Sebagai contoh, jebolnya tanggul Situ Gintung karena tidak pernah dipelihara dan dijaga kelestarian lingkungan. Akibatnya, banyak pemukiman penduduk terendam air dan menimbulkan korban jiwa.

  7. Perubahan struktural
    Perubahan yang sangat mendasar yang menyebabkan timbulnya reorganisasi atau tata ulang struktur dalam masyarakat. Contohnya, berubahnya sistem monarki atau kerajaan menjadi negara demokrasi.

  8. Perubahan proses
    Perubahan yang sifatnya tidak mendasar dan tidak berpengaruh pada struktur kemasyarakatan. Perubahan tersebut hanya untuk memperbaiki dan menyempurnakan sistem yang sudah ada. Contohnya, revişi undang-undang atau peraturan pemerintahan yang sifatnya memperbaiki kekurangan yang ada dan menyempurnakan undang-undang atau peraturan sebelumnya.

Teori perubahan sosial dikemukakan oleh para ahli dengan aksentuasi yang berbeda-beda, sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing. Terlepas dari perbedaan pandangannya, yang jelas, para ahli sepakat bahwa perubahan sosial terkait dengan masyarakat dan kebudayaan serta dinamika dari keduanya.

Ogburn tidak memberi definisi tentang perubahan-perubahan sosial, melainkan memberikan pengertian tertentu tentang perubahan-perubahan sosial itu. Dia mengemukakan bahwa ruang lingkup perubahan-perubahan sosial meliputi unsurunsur kebudayaan baik yang material maupun yang non-material. Yang ditekankannya adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur non-material (Soekanto, 1990). Dengan pengertian ini sebenarnya Ogburn mau mengatakan bahwa perubahanperubahan sosial terkait dengan unsur-unsur fisik dan rohaniah manusia akibat pertautannya dengan dinamika manusia sebagai suatu totalitas. Perubahan pola pikir, pola sikap dan pola tingkah laku manusia (yang bersifat rohaniah) lebih besar dipengaruhi oleh perubahan-perubahan kebudayaan yang bersifat material. Misalnya kondisi-kondisi ekonomis, geografis, atau biologis (unsur-unsur kebudayaan material) menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada aspekaspek kehidupan sosial lainnya (pola pikir, pola sikap, dan pola tingkah laku).

Pengertian tentang perubahan sosial juga dikemukakan oleh Gillin dan Gillin. Kedua ahli ini mengatakan bahwa perubahanperubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat (Soekanto, 1990). Pengertian yang dikemukakan oleh Gillin dan Gillin ini menunjuk pada dinamika masyarakat dan reaksinya terhadap lingkungan sosialnya baik menyangkut tentang cara ia hidup, kondisi alam, cara ia berkebudayaan, dinamika kependudukan maupun filsafat hidup yang dianutnya setelah ia menemukan hal-hal baru dalam kehidupannya. Pendapat Gillin dan Gillin ini tidak berbeda jauh dengan pendapat Koenig yang mengatakan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia.

Referensi

Sumber : https://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/42870/Jelamu.pdf;sequence=1

Manusia makhluk dinamis, artinya tidak ada manusia yang tidak melakukan perubahan dalam aktivitas kehidupannya sehari-hari. Perubahan sosial terjadi karena manusia bagian dari pada gejala perubahan sosial dan perubahan sosial yang terjadi tidak saja satu sisi melainkan banyak sektor dan faktor yang mengalami berbagai perubahan di berbagai bidang yang lain.

Menurut Farley (1990), bahwa perubahan sosial merupakan perubahan kepada pola perilaku, hubungan sosial, lembaga dan struktur sosial pada waktu tertentu. Hal tersebut terkait dengan adanya perubahan kepada interaksi dalam masyarakat ketika mereka melakukan tindakan dalam masyarakat itu sendiri. Sejalan dengan itu, menurut Gillin dan Gillin dalam Leibo (1986: 53), perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi pada kehidupan manusia yang diterima, berorientasi kepada perubahan kondisi geografis kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideologi maupun difusi dalam penemuan-penemuan hal-hal yang baru. Selain itu, Adam Smith menyatakan perubahan akan terjadi berkaitan dengan perekonomian masyarakat yang mengalami pergantian.

Moore dalam Lauer (1993), bahwa perubahan sosial sebagai ekspresi mengenai struktur dalam masyarakat seperti norma, nilai, serta struktur yang saling mencakup antara satu dengan yang lain. Selain itu, Rogers, et , al ., (1988) , menyatakan bahwa perubahan sosial adalah suatu proses yang melahirkan perubahan dalam struktur dan fungsi dari suatu sistem kemasyarakatan. Perubahan sosial bersifat berantai dalam kehidupan ini, maka perubahan sosial terlihat berlangsung terus sesuai dengan keadaan dimana masyarakat mengadakan reorganisasi unsur-unsur struktur sosial yang terkena perubahan.

Pengertian yang dikemukakan para ahli di atas memberikan asumsi bersifat makro. Sehingga Sztompka (2004: 5) mencoba memberikan batasan sejumlah pengertian yang telah kita bicarakan di atas masalah perubahan sosial. Menurut Sztompka, perubahan sosial sangat berhubungan dengan perubahan struktur ketimbang tipe lain, di mana perubahan struktur lebih mengarah kepada perubahan sistem. Hal tersebut berorientasi bahwa jika struktur berubah akan mengakibatkan semua unsur dalam masyarakat akan berubah. Sejalan dengan itu, Soekanto (2000) berpendapat bahwa suatu kondisi sosial primer yang berubah dalam masyarakat akan mengakibatkan perubahan terhadap yang lain. Misalnya, terjadinya perubahan ekonomi, politik, geografis, dan sebagainya yang menyangkut kepada perubahan aspek kehidupan lainnya.

Kategori Perubahan Sosial

Mengenai perubahan telah kita bahas pada kajian perubahan sosial di atas. Perubahan tidak terjadi pada satu sisi melainkan banyak faktor atau sektor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat. Kajian perubahan sosial menurut Rogres (1987) dalam (Susilawati, 2003) membagi atas 3 kategori perubahan sosial dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

1. Immanent Change

Perubahan sosial merupakan perubahan yang tidak saja terjadi dalam kehidupan masyarakat yang kecil melainkan perubahan juga terjadi pada masyarakat yang besar, artinya pada masyarakat pasti mengalami perubahan, karena masyarakat tidak bersifat statis akan tetapi bersifat dinamis. Immanent change adalah salah satu kategori dalam perubahan sosial, yaitu perubahan sosial yang berasal dalam sistem itu sendiri dengan sedikit atau tanpa inisiatif dari luar. Artinya, perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat dipengaruhi oleh faktor dari dalam itu sendiri.

2. Selective Contact Change

Perubahan sosial banyak faktor atau sektor yang mempengaruhi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Selective contact change merupakan salah satu perubahan sosial yang dipengaruhi oleh faktor dari luar atau dari pihak luar. Secara tidak sadar dan spontan perubahan sosial yang terjadi membawa ide atau gagasan yang baru dalam aktivitas kehidupan masyarakat kepada anggota-anggota masyarakat.

3. Directed Contact Change

Kategori dalam menganalisis perubahan sosial tidak saja dialokasikan dua yang telah kita bicarakan di atas melainkan, kita bisa menganalisis perubahan sosial dari kategori directed contact change. Yang dimaksud dengan directed contact change merupakan perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat karena adanya faktor atau ide serta gagasan yang baru dari luar yang dilakukan dengan sengaja ( outsider).

Dimensi Perubahan Sosial

Mengenai dimensi perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat terbagi atas tiga, yaitu:

1. Dimensi Perubahan Sosial pada Struktur

Perubahan struktur merupakan perubahan kepada perilaku masyarakat akibat adanya faktor dari dalam, maupun dari luar. Masyarakat mengalami perubahan sosial tidak saja satu sisi melainkan banyak sisi yang mengakibatkan masyarakat melakukan perubahan. Di daerah pertanian misalnya salah satu perubahan sosial akibat masukannya teknologi yang mengubah dimensi struktural. Masuknya traktor di daerah pertanian mengakibatkan berkurangnya peran kaum perempuan, yang selama ini sebagai wanita berperan aktif dalam pertanian dan berkurangnya peran buruh tani karena mesin yang dijadikan sebagai pengatur pelaksanaan pertanian.

Perubahan struktur dalam masyarakat terkait dengan kebijakan yang dikeluarkan dalam mengambil keputusan. Misalnya, larangan mencari nafkah ekonomi melalui hutan yang mengakibatkan perubahan terhadap pendapatan dalam rumah tangga. Hal tersebut berorientasi kepada kebijakan atas larangan yang dilakukan para elite masyarakat.

2. Dimensi Perubahan Sosial pada Budaya

Perubahan budaya merupakan perubahan kepada nilai atau adanya ide yang dibangun dalam masyarakat, terkait faktor dalam diri sendiri, maupun faktor luar yang mempengaruhinya. Biasanya perubahan sosial pada budaya akibat adanya modernisasi atau penemuan baru yang terintegrasi dalam kehidupan masyarakat. Peristiwa perubahan sosial pada budaya terkait dengan culture lag, culture survival, cultural conflict, and cultural shock.

3. Dimensi Perubahan Sosial pada Interaksional

Masyarakat yang dipengaruhi oleh masuknya teknologi mengakibatkan hubungan sehari-hari semakin menjauh. Interaksi yang dibangun secara primer membawa pengaruh kepada tatanan hidup untuk bisa melakukan aktivitas sehari-hari. Perkembangan teknologi juga menjadikan manusia hidup bersifat impersonal dalam segala tindakan. Akibat perkembangan teknologi memberikan batasan para pekerja untuk berkerja sama dan sering mengakibatkan konflik pada komunitas masyarakat. Masyarakat yang dekat dengan teknologi dan teknologi dijadikan sebagai media hidup mereka menyebabkan hubungan sosial yang bertatap muka semakin hilang dan menimbulkan konflik dalam masyarakat.