Apa yang Dimaksud dengan Pertikaian dalam Ilmu Sosiologi?

Dalam ilmu sosiologi terdapat istilah pertikaian.

Apa yang dimaksud dengan pertikaian dalam ilmu sosiologi?

Pertentangan atau pertikaian adalah suatu proses sosial ketika individu atau kelompok berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan dengan ancaman atau kekerasan.

Peyebab terjadinya pertentangan, yaitu :

1. Perbedaan individu-individu

Pertentangan terjadi antara orang per orang yang dapat menghasilkan bentrokan, terjadi karena berbagai macam alasan yang membuat mereka bertikai.

2. Perbedaan kebudayaan

Pertentangan disebabkan perbedaan kepribadian , nilai, dan cara pandang yang dilatarbelakangi oleh perbedaan budaya. Masalah nilai-nilai yang dipegang masing-masing orang atau kelompok, ketika nilai tersebut tak dihormati atau dilecehkan, akan memicu pertikaian yang serius dan diungkapkan dalam bentuk pertikaian fisik juga.

3. Perbedaan kepentingan

Kepentingan yang berbeda antar-individu atau kelompok juga akan memicu konfl ik yang serius. Ada berbagai macam kepentingan yang terdefi nisikan, entah kepentingan ekonomi, politik, maupun budaya, dan lain sebagainya. Kepentingan yang paling nyata dan mudah dikenal adalah kepentingan ekonomi karena berkaitan dengan hal yang nyata dan material. Penyerangan militer Amerika Serikat (AS) ke Irak, misalnya, yang utama adalah kepentingan ekonomi dalam mencaplok kekayaan alam Timur Tengah, terutama minyak, meskipun menggunakan alasan pemusnahan senjata kimia.

4. Perubahan sosial

Sebenarnya ada konflik (pertentangan) dulu baru ada perubahan? Ataukah, ada perubahan dulu baru ada pertentangan? Keduanya mungkin saja terjadi. Akan tetapi, penulis lebih berpandangan bahwa yang pokok adalah ada konfl ik dulu, baru ada perubahan. Perubahan disebabkan adanya kekuatan sosial (material) yang baru yang dihasilkan oleh pertentangan antara yang baru tersebut dan yang lama. Jika tidak tumbuh Gilda-Gilda, mungkin tak akan ada cikal bakal kaum borjuis di Eropa sebagai kekuatan baru. Nah, kekuatan baru ini ternyata bertentangan keberadaannya dengan kekuatan lama (hubungan sosial feodal yang didominasi tuan tanah atau para landlord). Kaum borjuis/pedagang/ pemodal/industrialis kepentingannya adalah mengembangkan modal dengan menginginkan tatanan ekonomi modern yang lebih progresif, sedangkan kaum tuan tanah menghendaki tatanan ekonomi lama dan mereka juga masih berkuasa dengan tatanan politik monarki absolut (kerajaan).

Oleh karena itulah, pertentangan antara kedua kelas (kelompok sosial) baru dan yang lama (termasuk hubungan produksi lama, feodalisme, dan tatanan politik lama monarki) terjadi. Pertentangan ini boleh terungkap dalam bentuk pertentangan politik, sosial, bahkan juga pertentangan akan nilai-nilai. Kaum feodal masih memandang sesuatu dengan cara lama, misalnya pusat tata surya adalah Bumi (geosentris), sedang kekuatan baru memandang bahwa pusat tata surya adalah Matahari (heliosentris). Ketika Copernicus menemukan teori Heliosentris dengan bantuan teleskop, pertentangan pemahaman terjadi, terwujud dengan sikap dipancungnya si ilmuwan yang membawa spirit baru (pengetahuan Ilmiah).

Kaum borjuis menginginkan negara modern (demokrasi), sedangkan kaum feodal masih keenakan dengan sistem kerajaan, pertentangan ini dimenangkan oleh kaum borjuis setelah pertikaian fisik melalui gerakan revolusi berdarah (Revolusi Prancis, misalnya). Setelah feodalisme tumbang, lambat laun kaum borjuis mulai berkuasa dan lahirlah tatanan ekonomi (hubungan produksi) yang baru, namanya kapitalisme. Akan tetapi, selalu muncul kekuatan sosial baru yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu buruh (waged-labor, pekerja di pabrik yang mendapatkan upah dan yang tak memiliki alat produksi apa-apa, selain tubuh dan keterampilan kerja di pabrik).

Maka, pertentangan baru muncul: antara pemilik modal yang ingin mencapai keuntungan sebanyak mungkin dengan salah satu cara menggaji buruh semurah mungkin, dan buruh yang ingin mendapatkan upah secukup mungkin untuk kesejahteraannya. Pertentangan (kontradiksi) tersebut kadang juga muncul dalam konfl ik terbuka, seperti aksi massa (demonstrasi) kaum buruh yang menuntut gaji dan ingin menguasai pabrik secara bersama (tidak ada buruh majikan, tetapi manajemen bersama), hingga aksi-aksi anarkis yang semarak terjadi di Eropa sejak pabrikpabrik memiskinkan buruh dan warga perkotaan. Kaum buruh juga menggunakan perjuangan senjata untuk melawan sistem kapitalis, seperti pernah menang di Uni Soviet dalam Revolusi Bolsevik 1917. Pertentangan antara buruh dan majikan akan terus terjadi dalam sistem kapitalis, hingga sekarang.

Jadi, konflik yang berkaitan dengan pertikaian tujuan, nilai, atau kepentingan dapat mengubah pola-pola dan organisasi sosial yang baru, terutama akibat pertentangan yang bersifat pokok dan menimbulkan antagonisme yang tajam (tak terdamaikan). Antagonisme yang tajam dan konfl ik yang tak dapat dicegah akan melahirkan penghancuran salah satu kekuatan. Maka, lahirlah tatanan sosial baru. Tak heran bila terjadi pergolakan yang berupa revolusi. Maka, tatanan masyarakat baru akan muncul, akan mengubah polah- pola hubungan sosial dan nilai-nilai sosial, meninggalkan pola-pola budaya dan nilai-nilai lama.

Jadi, itulah sisi positif pertentangan, yaitu mengubah kualitas suatu sistem sosial . Kualitas baru biasanya lebih baik. Akan tetapi, ada pula konfl ik yang tidak menajam dan hanya sebatas pertentangan biasa. Positifnya adalah dengan adanya konflik, berarti ada masalah dalam masyarakat. Hal ini akan membuat para pengambil kebijakan berpikir bahwa kebijakan mereka salah dan menimbulkan pergolakan. Ketika pemerintah menaikkan harga BBM, dengan segera terjadi pertentangan, bahkan terjadi bentrok dalam aksi antara penentang (rakyat) dan pemerintah yang langsung diwakili oleh aparat polisi. Bentrok berdarah pula.

Dari situ akhirnya banyak orang yang memahami bahwa kebijakan itu salah dan tidak benar. Pemerintah pun terpaksa menunda atau membatalkan kebijakan yang menyusahkan rakyat itu. Dalam hal ini, konfl ik adalah sarana bagi penyadaran manusia.

Demikian pula dalam konteks sosial, bangsa yang maju dan besar adalah bangsa yang pernah mengalami berbagai macam konfl ik dalam masyarakatnya, terutama pergolakan besar berupa revolusi. Sejarah menunjukkan bahwa negara-negara besar dan adikuasa adalah negara yang pernah mengalami revolusi besar. Ini karena revolusi dan pergolakan mengubah kesadaran massa, mengubah cara pandang dan watak lama menjadi watak baru yang lebih maju. Jadi, konfl ik harus kita lihat sebagai suatu yang positif saja.

Bentuk-bentuk pertentangan antara lain :

  1. Pertentangan pribadi: pertentangan dan pertikaian antara dua orang atau lebih yang tidak melibatkan kelompok, tetapi hanya perorangan saja;
  2. Pertentangan rasial: pertentangan yang bernuansa ras, menganggap ras masing-masing sebagai yang paling unggul;
  3. Pertentangan antara kelas-kelas sosial, umumnya disebabkan adanya perbedaan-perbedaan kepentingan, sebagaimana contoh pertentangan kelas antara tuan-budak (era per-budakan), tuan tanah-tani hamba (era feodalisme), kapitalis-buruh (era kapitalis);
  4. Pertentangan politik, yaitu pertentangan dan pertikaian dalam masyarakat dalam kaitannya dengan perebutan kekuasaan , terutama pada level kenegaraan. Biasanya, terjadi antara partai-partai politik yang berfungsi menyalurkan kepentingankepentingan politik masyarakat;
  5. Pertentangan yang bersifat internasional; dapat berupa pertentangan dan konfl ik antar-negara atau bisa juga konfl ik antara negara dan kelompok sosial (misalnya, yang ingin memisahkan diri, lihat kasus India-Kashmir), tetapi menjadi perhatian dunia dan melibatkan kepentingan internasional. Di masa Perang Dingin, sebelum tahun 1990, dunia berada pada konfl ik antara kekuatan Blok Barat (di bawah pimpinan Amerika Serikat) dan Timur (yang dipimpin Uni Soviet), hampir tak ada konfl ik yang terjadi di wilayah negara yang tak melibatkan atau tak diwarnai kepentingan politik dua blok tersebut.

Akibat bentuk-bentuk pertentangan adalah sebagai berikut:

1. Bertambahnya solidaritas in-group atau malah sebaliknya, yaitu terjadi goyah dan retaknya persatuan kelompok

Apabila sebuah kelompok berkonfl ik dengan kelompok lainnya, biasanya perasaan kebersamaan di antara anggota kelompok akan semakin meningkat. Misalnya, ketika ada upaya dari pihak luar untuk mengoyak kedaulatan wilayah suatu negara atau mengklaim hasil budaya suatu bangsa, dengan cepat perasaan sesama bangsa (senasib dan sepenanggungan naik). Sebenarnya, makna musuh dari luar bukan berarti ancaman dari luar negeri, melainkan suatu yang dianggap merusak bangsa. Ketika pemerintahan Soeharto ingin menyatukan kekuatankekuatan yang dianggapnya bisa dirangkul untuk pembangunan, isu “awas ekstrem Kiri” (komunis) dan “awas ekstrem Kanan” (Islam garis keras) digelorakan—upaya ini juga digunakan untuk menumpulkan penentangan rakyat miskin yang ditindas kebijakan pembangunan kapitalistis Soeharto tersebut.

2. Perubahan kepribadian

Tanpa adanya konflik, manusia tak akan tumbuh dan berubah dewasa. Pribadi yang maju dan dewasa (matang) biasanya dalam hidupnya dilalui oleh konfl ik yang membuatnya belajar. Tanpa berhadapan dengan konflik, seorang akan menjadi pribadi yang “cemen”, tidak kuat, lemah dan tak tahan banting dalam menghadapi persoalan. Pribadi semacam ini, ketika suatu saat akan menghadapi persoalan yang tiba-tiba datang padanya dengan tingkat kesulitan yang luar biasa, dia akan kaget dan jiwanya mudah retak (terguncang).

3. Akomodasi, dominasi, dan takluknya satu pihak tertentu

Ada kemungkinan bahwa menajamnya konfl ik akan berujung pada pertikaian yang mengakibatkan pergolakan yang hasilnya adalah salah satu pihak yang kalah. Yang menang akan menguasai dan takluk pada yang menang. Akan tetapi, adakalanya jika kekuatan antara keduanya seimbang dan konflik belum begitu antagonis. Maka, akan muncul proses akomodasi untuk menegosiasi kepentingan dua belah pihak untuk saling diakomodasi. Tujuan akomodasi adalah untuk mencegah terjadinya konfl ik yang menajam.