Apa yang dimaksud dengan penyuluhan pertanian?

Penyuluhan pertanian

Penyuluhan pertanian, menurut KBBI, mempunyai arti usaha dalam membantu dan meningkatkan pengetahuan petani dalam bidang pertanian untuk meningkatkan efisiensi usaha tani

1 Like

Penyuluhan merupakan cara pendidikan non-formal bagi masyarakat, khususnya untuk para petani dan keluarganya di pedesaan dengan tujuan agar sasaran mampu, sanggup dan berswadaya memperbaiki usaha taninya, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan peternak.

Penyuluhan merupakan sistem belajar untuk menjadi mau, tahu, dan bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Tujuan dari penyuluhan pertanian adalah menumbuhkan perubahan perilaku petani dan keluarganya, sehingga akan tumbuh minat untuk mengembangkan kemauan guna melaksanakan kegiatan usaha taninya agar tercapai produktivitas usaha yang tinggi. Perubahan perilaku yang ada diharapkan petani lebih terbuka dalam menerima petunjuk dan bimbingan serta lebih aktif dan dinamis dalam melaksanakan usaha taninya (Azwar,S. 2001).

Penyuluhan juga dapat diartikan sebagai perubahan perilaku (sikap, pengetahuan dan keterampilan) petani, sehingga fungsi penyuluhan dapat tercapai, yaitu sebagai penyebar inovasi, penghubung antara petani, penyuluh dan lembaga penelitian, melaksanakan proses pendidikan khusus, yaitu pendidikan praktis dalam bidang pertanian dan mengubah perilaku lebih menguntungkan (Levis, 1996).

Penyuluhan pertanian sebenarnya merupakan perubahan perilaku melalui pendidikan non-formal. Penyuluhan sebagai proses pendidikan memiliki ciri-ciri antara lain:

  1. Penyuluhan adalah sistem pendidikan non-formal (di luar sekolah) yang terencana, dapat dilakukan di mana saja, tidak terikat waktu, disesuaikan dengan kebutuhan sasaran dan pendidikan dapat berasal dari salah satu anggota peserta didik;

  2. Penyuluhan merupakan pendidikan orang dewasa (Mardikanto, 1993).

Menurut Kartasapoetra (1994), tujuan penyuluhan pertanian dibedakan menjadi 2 yaitu;

  1. Tujuan jangka pendek, yaitu menimbulkan dan merubah pengetahuan, kecakapan, sikap dan bentuk tidakan petani serta merubah sifat petani yang pasif dan statis menjadi aktif dan dinamis.

  2. Tujuan jangka panjang, yaitu meningkatkan taraf hidup masyarakat tani atau agar kesejahteraan hidup petani lebih terjamin.

Menurut Mardikanto (1993), tujuan penyuluhan berdasarkan tingkatannya meliputi :

  1. Tujuan dasar atau tujuan akhir yang seharusnya terjadi di dalam masyarakat, yaitu tercapainya kesejahteraan masyarakat;

  2. Tujuan umum, seperti perubahan sikap, ketrampilan, dan pengetahuan demi meningkatkan produksi dan pendapatan petani;

  3. Tujuan pedoman, yaitu arah tujuan dari kegiatan penyuluhan itu sendiri.

Tenaga penyuluh pertanian


Menurut Rogers (1983), istilah penyuluh dapat diartikan sebagai seseorang yang atas nama pemerintah atau lembaga penyuluhan berkewajiban untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sasaran penyuluhan untuk mengadopsi inovasi materi penyuluhan yang disampaikan. Penyuluh atau agent of change merupakan seorang petugas lapangan dari suatu instansi / lembaga yang sudah diberi pelatihan dengan kemampuan tertentu sesuai dengan kegiatan penyuluhan yang ia berikan (Isbandi, 2005).

Penyuluh pertanian berperan sebagai pembimbing petani, organisator, motivator dan dinamisator petani, pendamping teknis bagi petani, penghubung komunikasi antara petani dengan lembaga penelitian dan pemerintah dan sebagai agen pembaruan bagi petani dalam membantu masyarakat petani dalam usaha mereka meningkatkan kesejahteraan melalui peningkatan dan mutu hasil produksi usaha tani mereka (Suhardiyono, 1992).

Fungsi penyuluhan pertanian


Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2006, yang tertuang dalam BAB II Pasal 4, fungsi sistem penyuluhan pertanian meliputi:

  1. Memfasilitasi proses pembelajaran dari penyuluh kepada sasaran;

  2. Mengupayakan kemudahan akses bagi penyuluh dan sasaran terhadap sumber informasi, teknologi dan sumber daya yang ada, agar sasaran dapat mengembangkan usahanya;

  1. Meningkatkan kemampuan kepemimpinan, manajerial, organisasi dan kewirausahaan bagi para penyuluh dan sasaran dan
  1. Membantu menganalisis dan memecahkan masalah serta merespon peluang dan tantangan yang dihadapi pelaku penyuluhan.

Mardikanto (1993) menyatakan bahwa, secara garis besar fungsi penyuluhan pertanian merupakan suatu kegiatan untuk menambah kesanggupan bagi para petani dalam usaha memperoleh hasil- hasil yang dapat memenuhi kebutuhan, menambah pengetahuan dan ketrampilan, memperbaiki cara hidup, perubahan perilaku dan sikap yang lebih baik demi meningkatkan penghasilan dan taraf hidup mereka.

Menurut Isbandi (2005), proses pendidikan non formal (penyuluhan) memiliki beberapa fungsi diantaranya :

  1. Sebagai sarana atau wadah penyebaran inovasi baru;

  2. Media penghubung antara lembaga penelitian, pemerintah dan penerima;

  3. Menterjemahkan inovasi atau gagasan ide baru ke dalam bahasa yang mudah diserap dan dipahami;

  4. Mengubah perilaku lama menjadi perilaku baru dan

  5. Melaksanakan kegiatan pendidikan dan proses pembelajaran dengan cara-cara tertentu yang disesuaikan dengan kondisi keadaan pelaku penyuluhan.

Van den Ban dan Hawkins (1999) menyatakan, bahwa fungsi utama penyuluhan pertanian selain sebagai sarana alih teknologi baru dari peneliti ke petani, juga sebagai suatu proses bagi petani dalam membantu mengambil suatu keputusan sendiri dengan menambah pilihan dan dengan cara menolong mengembangkan wawasan atau informasi mengenai konsekuensi dari masing-masing pilihan tersebut, informasi tidak hanya didapat dari agen penyuluhan namun juga dari berbagai sumber lain, termasuk pengalaman pribadi atau pengalaman mitra kerja petani tersebut.

Perencanaan program penyuluhan pertanian


Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2006, BAB I Pasal I program penyuluhan pertanian adalah rencana tertulis yang disusun secara sistematis untuk memberikan arah dan pedoman dalam pencapaian tujuan. Menurut Mardikanto (1993) perencanaan program penyuluhan merupakan suatu kerangka kerja yang dijadikan acuan oleh para penyuluh dan semua pihak yang terlibat untuk mengambil keputusan tentang kegiatan-kegiatan yang ingin dilaksanakan demi tercapainya tujuan pembangunan yang diinginkan.

Program penyuluhan merupakan hasil dari berbagai langkah yang harus dipahami dan dilaksanakan secara logis, dimulai dari penetapan tujuan, kebijakan, prosedur kerja, pengumpulan informasi, pemilihan panitia pelaksana, diskusi dan konsultasi rencana kerja, penyusunan rencana kerja, revisi akhir rencana kerja, persetujuan dan pengesahan dari pihak-pihak yang terkait, pelaksanaan program rencana kerja, evaluasi pelaksanaan rencana kerja (Suhardiyono, 1992).

Proses penyuluhan


Proses penyuluhan merupakan proses perubahan perilaku baik pengetahuan, sikap dan ketrampilan agar mereka tahu, mau dan mampu melakukan perubahan demi tercapainya peningkatan produksi, pendapatan dan kesejahteraan keluarga (Mardikanto, 1993). Isbandi (2005) menyatakan, bahwa dalam proses penyuluhan membutuhkan komunikasi yang bertujuan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan.

Suhardiyono (1992) menyatakan, bahwa proses penyuluhan merupakan suatu proses kegiatan belajar mengajar di bidang penyuluhan yang dirancang untuk membantu petani dalam mengubah seseorang dalam bertingkah laku dan mengembangkan diri mereka agar mampu mencapai tujuan yang diinginkan. Menurut Setiana (2005), proses penyuluhan juga merupakan suatu proses belajar mengajar yang tidak terlepas dengan kondisi interaktif antara penyuluh dengan sasaran penyuluhannya, yang meliputi proses penyebarluasan informasi, proses penerangan, proses perubahan perilaku, proses pendidikan dan proses rekayasa sosial atau transformasi sosial.

Materi penyuluhan


Mardikanto (1993) menyatakan, bahwa materi penyuluhan adalah segala bentuk pesan yang ingin disampaikan oleh seorang penyuluh kepada masyarakat sasarannya dalam upaya mewujudkan proses komunikasi pembangunan. Materi atau bahan penyuluhan adalah segala bentuk pesan, informasi, inovasi teknologi baru yang diajarkan atau disampaikan kepada sasaran meliputi berbagai ilmu, teknik, dan berbagai metode pengajaran yang diharapkan akan dapat mengubah perilaku, meningkatkan produktivitas, efektifitas usaha dan meningkatkan pendapatan sasaran (Isbandi, 2005).

Menurut Setiana (2005), materi penyuluhan adalah segala sesuatu yang disampaikan dalam kegiatan penyuluhan, baik yang menyangkut ilmu atau teknologi baru, yang sesuai dengan kebutuhan sasaran, dapat meningkatkan pendapatan, memperbaiki produksi dan dapat memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh sasaran penyuluhan. Materi atau pesan yang ingin disampaikan dalam proses penyuluhan harus bersifat informatif, inovatif, persuasif, dan intertainment agar mampu mendorong terjadinya perubahan-perubahan ke arah terjadinya pembaharuan dalam segala aspek kehidupan masyarakat sasaran dan mewujudkan perbaikan mutu hidup setiap individu warga masyarakat yang bersangkutan (Mardikanto,1993).

Pengetahuan peternak dipengaruhi oleh pendidikan, sedangkan materi penyuluhan dapat memberikan pengetahuan kepada peternak apabila penyuluhan disesuaikan dengan karakteristik peternak (Levis, 1996)

Metode penyuluhan


Metode penyuluhan merupakan cara melakukan kegiatan penyuluhan untuk mengubah perilaku sasaran dengan langkah yang sistematis, untuk mendapatkan hasil yang efektif dan efisien (Isbandi, 2005). Suhardiyono (1992), menyatakan bahwa metode penyuluhan merupakan suatu cara pengajaran yang bersifat khusus (berorientasi pada kepentingan petani) guna membangkitkan motivasi dan kemauan petani untuk meningkatkan kondisi sosialnya serta meningkatkan kepercayaan diri untuk mampu melakukan langkah-langkah perbaikan dalam berusaha tani guna meningkatkan kesejahteraan seperti yang diharapkan.

Menurut Mardikanto (1993), pemilihan metode penyuluhan sebaiknya diprogram menyesuaikan diri dengan kebutuhan sasaran, karakteristik sasaran, sumber daya yang tersedia dan kondisi lingkungan (termasuk waktu dan tempat) diselenggarakannya kegiatan penyuluhan tersebut.

Media penyuluhan


Media atau saluran komunikasi adalah alat pembawa pesan yang disampaikan dari sumber kepada penerima. Media komunikasi penyuluhan berdasarkan jenisnya dibagi menjadi media perorangan (PPL, petugas), media forum (ceramah, diskusi), media cetak (koran, poster, leaflet, folder) dan media dengar pandang (TV, radio, film). Media penyuluhan sangat diperlukan agar penyuluh memberi manfaat sehingga penetapan bentuk penyuluhan diharapkan berdasarkan atas pertimbangan waktu, penyampaian, isi, sasaran dan pengetahuan sasaran (Levis, 1996).

Penyuluhan dalam prakteknya menurut Kartasapoetra (1994), dapat dilaksanakan dengan menggunakan media penyuluhan langsung dan tidak langsung. Media penyuluhan langsung, yaitu dimana penyuluh dengan petani dapat berhadapan untuk mengadakan acara tukar pikiran yang memungkinkan penyuluh dapat berkomunikasi secara langsung dan memperoleh respon langsung dari sasaran dalam waktu yang relatif singkat, sedangkan media penyuluhan tidak langsung, lewat perantara orang lain, surat kabar atau media lain yang tidak memungkinkan penyuluh dapat menerima respon dari sasarannya dalam waktu yang relatif singkat.

Media tidak langsung menurut bentuknya dapat dibagi atas :

  1. Media elektronik, yaitu TV, radio, film, slide ;
  2. Media cetak, berupa pamflet, leaflet, folder, brosur, placard, dan poster.

Penyuluhan dengan media cetak menurut Mardikanto (1993) adalah penyuluhan yang menggunakan hasil cetakan, berupa tulisan, gambar atau campuran antara tulisan dan gambar sebagai saluran atau media komunikasinya. Penggunaan media cetak dalam penyuluhan sangat penting, karena dapat memeberikan sumbangan yang berharga sebagai bahan bacaan yang bermanfaat. Widjaya (1993), menyatakan, bahwa kelebihan media cetak adalah relatif murah dan dapat disimpan dengan mudah, sehingga dapat lebih efektif untuk mempengaruhi pengetahuan. Sedangkan kelemahan media cetak adalah kurang efektif apabila diterapkan bagi sasaran yang buta huruf.

Media penyuluhan adalah suatu alat atau wadah pengantar dari suatu pihak untuk disampaikan kepada pihak lain. Media penyuluhan dapat digunakan dalam kegiatan penyuluhan untuk mengubah perilaku tradisional menjadi perilaku yang modern dan inovatif. Media penyuluhan yang dapat digunakan antara lain orang atau institusi, media cetak, pertemuan, elektronik dan kunjungan(Isbandi, 2005).

Alat bantu dalam kegiatan penyuluhan merupakan sesuatu yang dapat dilihat, didengar, dirasakan oleh panca indera manusia, dan berfungsi sebagai alat untuk menjelaskan uraian yang disampaikan secara lisan oleh seorang penyuluh, guna membantu proses belajar, agar materi atau informasi penyuluhan yang disampaikan lebih mudah diterima dan dipahami (Mardikanto, 1993).

1 Like

Menurut beberapa ahli, definisi penyuluhan pertanian adalah sebagai berikut :

  • Penyuluhan adalah suatu sistem pendidikan di luar sekolah untuk keluarga petani di pedesaan dimana mereka belajar sambil berbuat untuk menjadi tahu, mau dan bisa menyelasaikan sendiri masalah yang mereka hadapi secara baik, menguntungkan dan memuaskan (Soekandar Wiriaatmadja, 1973).

  • Penyuluhan adalah seseorang yang melakukan usaha cara pendidikan yang bersifat normatif untuk para petani dan keluarganya (Samsudin S, 1977).

  • Penyuluhan pertanian adalah upaya pemberdayaan petani dan nelayan beserta keluarganya melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, sikap dan kemandirian agar mereka mau dan mampu, sanggup dan berswadaya memperbaiki/meningkatkan daya saing usahanya, kesejahtaraan sendiri serta masyarakatnya (Zakaria, 2006).

  • Penyuluhan pertanian dapat juga diartikan sebagai sistem pembelajaran luar sekolah (non formal) untuk para petani dan keluarganya (ibu tani dan petani muda) dengan tujuan agar mereka mau dan mampu, sanggup dan berswadaya meningkatkan kesejahteraan sendiri serta masyarakatnya (Padmanagara, 2012).

Dari pengertian di atas maka dapatlah diartikan penyuluhan pertanian adalah seorang yang bertugas memberikan bimbingan dan binaan terhadap para petani dan keluarganya tanpa dipaksa tetapi dengan kesadaran sendiri. Dari penyuluhan itu diharapkan para petani menjadi sadar dan yakin bahwa sesuatu yang dianjurkan dapat memperbaiki kehidupannya.

Azas penyuluhan


Pada pasal 2 dalam UU No. 16 tahun 2006 tentang SP3K disebutkan bahwa penyuluhan diselenggarakan berasaskan demokrasi, manfaat, kesetaraan, keterpaduan, keseimbangan, keterbukaan, kerja sama, partisipatif, kemitraan, berkelanjutan dan bertanggung gugat.

Berdasarkan hal tersebut, maka dijelaskan masing-masing azas dari penyuluhan pertanian seperti:

  • Demokrasi yaitu penyuluhan yang diselenggarakan dengan saling menghormati pendapat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku utama dan pelaku usaha.

  • Manfaat yaitu penyuluhan yang harus memberikan nilai manfaat bagi peningkatan dan perubahan perilaku untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraan pelaku utama dan pelaku usaha.

  • Kesetaraan yaitu hubungan antara penyuluh, pelaku utama dan pelaku usaha yang merupakan mitra sejajar.

  • Keterpaduan yaitu penyelenggaraan penyuluhan yang dilaksanakan secara terpadu antara kepentingan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

  • Keseimbangan yaitu penyelenggaraan penyuluhan harus memperhatikan keseimbangan antara kebijakan, inovasi teknologi dengan kearifan masyarakat setempat, pengarusutamaan gender, keseimbangan pemanfaatan sumberdaya dan kelestarian lingkungan serta keseimbangan antara kawasan yang maju dengan kawasan yang relatif masih tertinggal.

  • Keterbukaan yaitu penyelenggaraan penyuluhan dilakukan secara terbuka antara penyuluh dengan pelaku utama serta pelaku usaha.

  • Kerjasama yaitu penyelenggaraan penyuluhan harus diselenggarakan secara sinergis dalam kegiatan pembangunan perikanan yang merupakan tujuan bersama antara pemerintah dan masyarakat.

  • Partisipatif yaitu penyelenggaraan penyuluhan yang melibatkan secara aktif pelaku utama dan pelaku usaha dan penyuluh sejak perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi.

  • Kemitraan yaitu penyelenggaraan penyuluhan yang dilaksanakan berdasarkan prinsip saling menghargai, saling menguntungkan, saling memperkuat, dan saling membutuhkan antara pelku utama dan pelaku usaha yang difasilitasi oleh penyuluh.

  • Keberlanjutan yaitu penyelenggaraan penyuluhan dengan upaya secara terus menerus dan berkesinambungan agar pengetahuan, keterampilan, serta perilaku pelaku utama dan pelaku usaha semakin baik dan sesuai dengan perkembangan sehingga dapat terwujud kemandirian.

  • Bertanggung gugat yaitu evaluasi kinerja penyuluhan dikerjakan dengan membandingkan pelaksanan yang telah dilakukan dengan perencanaan yang telah dibuat dengan sederhana, terukur, dapat dicapai, rasional, dan kegiatannya dapat dijadwalkan (Departemen Pertanian, 2006).

Tujuan penyuluhan


Tujuan utama penyuluhan pertanian adalah perubahan perilaku petani dan keluarganya sehingga diharapkan dapat mengelola usahataninya dengan produktif, efektif dan efisien. Padmanagara (2012) menyatakan bahwa tujuan penyuluhan adalah membantu dan memfasilitasi para petani beserta keluarganya untuk mencapai tingkat usahatani yang lebih efisien/produktif, taraf kehidupan keluarga dan masyarakat yang lebih memuaskan melalui kegiatan-kegiatan yang terencana untuk mengembangkan pengertian, kemampuan, kecakapan mereka sendiri sehingga mengalami kemajuan ekonomi.

Tujuan suatu progam penyuluhan pertanian seharusnya di satu pihak melatih dan memotivasi petani untuk saling mengajarkan inovasi-inovasi yang diperkenalkan dan di lain pihak mengajar mereka bagaimana dapat menyempurnakan inovasi-inovasi tersebut. Melalui suatu proses uji coba secara terbatas, para petani dapat belajar bagaimana cara mengembangkan dan menyesuaikan teknologi-teknologi baru secara berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan produktivitas mereka. Singkatnya, tujuan program penyuluhan bukan mengembangkan usahatani para petani, namun mengajarkan kepada mereka suatu proses yang dapat digunakan sendiri untuk mengembangkan usahatani mereka sendiri (Bunch, 2001).

Wahjuti (2007) menyatakan bahwa tujuan penyuluhan pertanian yang paling utama adalah agar terjadi dinamika dan perubahan-perubahan pada diri petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian dan pelaku usaha beserta keluarganya. Dinamika dan perubahan-perubahan yang diharapkan mencakup perilaku ( behavior ) yang meliputi pengetahuan, ketrampilan dan sikap maupun kepribadian ( personality ) yang meliputi kemandirian, ketidaktergantungan, keterbukaan, kemampuan kerjasama, kepemimpinan, daya saing dan sensitive gender sehingga mereka mau dan mampu menolong dirinya sendiri dalam mengatasi permasalahan-permasalahn untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya serta meningkatkan kesadaaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Fungsi penyuluhan pertanian


Kartasapoetra (1994) menyatakan bahwa fungsi penyuluhan yang pertama harus memberikan jalan kepada petani untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan dalam berusahatani seperti cara-cara atau teknologi baru untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraan petani dan keluarganya. Melalui penyuluhan, maka penyuluh merupakan rekan kerja petani dalam melaksanakan Good Agriculture Practices ( GAP ). Penyuluh dapat membimbing, mengarahkan petani dengan pengetahuan dan teknologi yang berkembang untuk diterapkan para petani masing-masing dalam praktek usahataninya. Fungsi penyuluhan yang lain adalah sebagai penyampai, pengusaha dan penyesuai program nasional dan regional agar dapat diikuti dan dilaksanakan oleh para petani. Program-program masyarakat petani harus terlahir dari itikad baik para petani untuk mensukseskan atau partisipasinya dalam tujuan pembangunan yang dapat diperhatikan oleh pemerintah (pembuat program tingkat nasional dan regional).

Dalam Undang-undang RI No. 16 Tahun 2006 tentang SP3K dijelaskan bahwa fungsi system penyuluhan pertanian adalah:

  • Memfasilitasi proses pembelajaran pelaku utama dan pelaku usaha;

  • Mengupayakan kemudahan akses pelaku utama dan pelaku usaha ke sumber informasi, teknologi dan sumberdaya lainnya agar mereka dapat mengembangkan usahanya;

  • Meningkatkan kemampuan kepemimpinan, manajerial dan kewirausahaan pelaku utama dan pelaku usaha;

  • Membantu pelaku utama dan pelaku usaha dalam menumbuhkembangkan organisasinya menjadi organisasi ekonomi yang berdaya saing tinggi, produktif menerapkan tata kelola berusaha yang baik dan berkelanjutan;

  • Membantu menganalisis dan memecahkan masalah serta merespon peluang dan tantangan yang dihadapi pelaku utama dan pelaku usaha dalam mengelola usahanya;

  • Menumbuhkan kesadaran pelaku utama dan pelaku usaha terhadap kelestarian lingkungan serta melembagakan nilai-nilai budaya pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan yang maju serta modern bagi pelaku utama dan pelaku usaha.

Berdasarkan uraian tujuan dan fungsi penyuluhan pertanian yang termuat dalam UU tersebut maka diperlukan suatu konsekuensi dan strategi yang logis untuk mencapai tujuan penyuluhan yang mendukung keberhasilan program pembanguan pertanian secara efektif dan efisien serta berkelanjutan dengan implementasi metoda dan teknik yang relevan dan akuntable .

Kinerja Penyuluh Pertanian


Kinerja merupakan istilah yang berasal dari kata job performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya) yang dicapai seseorang, perbandingan hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerjapersatuan waktu, hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu disimpulkan bahwa kinerja adalah prestasi kerja atau hasil kerja (output) baik kualitas maupun kuantitas yang dicapai seseorang persatuan periode waktu dalam melaksanakan tugas kerjanya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegara, 2006).

Kinerja ( performance ) dapat diartikan sebagai sesuatu pencapaian persyaratan pekerjaan tertentu yang akhirnya secara nyata tercermin keluaran yang dihasilkan dan disebutkan juga istilah kinerja hasil kerja selama periode tertentu dibandingkan dengan kemungkinan misalnya standar, target/sasaran.

Kinerja ( performance ) mengacu kepada kadar pencapaian tugas-tugas yang membentuk sebuah pekerjaan karyawan. Kinerja merefleksikan seberapa baik karyawan memenuhi persyaratan sebuah pekerjaan. Sering disalahartikan sebagai upaya ( effort ) yang mencerminkan energi yang dikeluarkan, kinerja diukur dari segi hasil (Simamora dan Henry, 2004).

Wibowo (2007) menyatakan bahwa kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen, dan memberikan kontribusi pada ekonomi. Kinerja mempunyai makna yang luas, bukan hanya hasil kerja, tetapi termasuk bagaiman proses pekerjaan berlangsung. Dengan demikian, kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut. Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya. Selanjutnya dikatakan bahwa sasaran kinerja merupakan suatu pernyataan secara spesifik yang menjelaskan hasil yang dicapai, kapan, dan oleh siapa sasaran yang ingin dicapai tersebut diselesaikan.

Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 5/Permentan/KP.120/7/2007 tanggal 25 Juli 2007 tentang pedoman penilaian penyuluh pertanian berprestasi telah mengamanatkan agar Kementerian Pertanian melaksanakan penilaian kinerja penyuluh pertanian dan memberikan penghargaan kepada penyuluh yang berprestasi.

Penilaian prestasi kerja meliputi:

  • Kegiatan utama penyluh petanian.
  • Perencanaan penyuluh pertanian,
  • Programa penyuluhan pertanian,
  • Rencana kerja penyuluh pertanian,
  • Penyusunan materi penyuluhan,
  • Penerapan metode penyuluhan,
  • Pengembangan swadaya dan swakarsa petani,
  • Pengembangan wilayah,
  • Pengembangan profesi penyuluh,
  • Pengembangan hubungan kerjasama dengan lembaga pemerintah dan non pemerintah.
1 Like

Penyuluhan pertanian dapat dikatakan sebagai ilmu sosial yang mempelajari sistem serta proses perubahan yang terjadi pada individu dan masyarakat supaya terwujud perubahan yang jauh lebih baik dalam bidang pertanian. Seperti yang dijelaskan dalam Undang-undang (UU) No. 16 Tahun 2006. Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan kerja sama, partisipatif, kemitraan, berkelanjutan, berkeadilan, pemerataan dan bertanggung jawab. penyuluhan diselenggarakan berasaskan demokrasi, manfaat, kesetaraan, keterpaduan, keseimbangan, keterbukaan.

Tujuan dan sasaran penyuluhan pertanian sangat jelas untuk pertanian di Indonesia yaitu memberdayakan petani hingga mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan memberikan perlindungan hukum dan keadilan untuk keluarganya menjadi kriteria penting yang juga diperhatikan pemerintah. Aspek sosial dalam perlindungan dan keadilan diimplementasikan oleh lembaga atau Dinas terkait serta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Tujuan dan sasaran kebijakan penyuluhan pertanian mencakup pelaku utama (penyuluh) dan pelaku usaha (petani). Tujuan akhir pemerintah yaitu meningkatkan pemberdayaan petani sehingga menjadi sejahtera dan meningkatkan produksi pertanin, adanya kesetaraan kepada seluruh petani di Indonesia. Namun, implementasi penyuluhan pertanian masih terdapat permasalahan yang harus diperhatikan pemerintah. Berikut merupakan beberapa hal yang harus diperhatikan dan diperbaiki oleh Pemerintah untuk menunjang implementasi kebijakan penyuluhan pertanian agar mencapai tujuan dan sasaran:

  • Kualitas dan jumlah SDM penyuluh : Kualitas SDM penyuluh rendah menjadi salah satu permasalahan. Ketidakmampuan penyuluh dalam menjalankan program dari pemerintah dan minimnya disiplin ilmu yang dimiliki menjadi kendala dalam penyuluhan. Selain itu, kurangnya jumlah penyuluh serta sebaran penyuluh yang tidak merata.
  • Sarana dan prasarana penyuluhan : masih banyak penyuluh yang belum mendapatkan sarana dan prasarana dalam melakukan penyuluhan. Kondisi tersebut berpengaruh pada kinerja penyuluh dalam menjalankan aktivitasnya
  • Mobilisasi dan perpindahan penyuluh : Motivasi dan semangat penyuluh dalam melakukan berbagai aktivitas penyuluhan dapat menentukan keberhasilan petani ataupun kelompok tani. Tekanan dan masalah sosial lainnya mempengaruhi mobilisasi penyuluh
Referensi

Vintarno, J., Sugandi, Y. S., Dan Adiwisastra, J. (2019). Perkembangan Penyuluhan Pertanian Dalam Mendukung Pertumbuhan Pertanian Di Indonesia. Universitas Padjadjaran. Responsive, Volume 1 No. 3

Penyuluhan pertanian terdiri dari dua kata yang merupakan kata majemuk yaitu gabungan dari kata “penyuluhan” dan ‘pertanian’. Penyuluhan berasal dari kata ‘suluh’ yang berarti obor atau pemberi terang dalam gelap. Oleh karena itu, penyuluhan dapat diartikan sebagai usaha memberi terang atau petunjuk bagi orang yang berjalan dalam kegelapan. Pertanian berarti penerapan karya manusia pada alam tumbuhan dan hewan sehingga dapat memperoleh dan menaikkan produksi yang lebih bermanfaat bagi kehidupannya sendiri beserta keluarganya serta bagi lingkungan masyarakat.

Penyuluhan pertanian dari arti katanya adalah usaha untuk memberikan keterangan, penjelasan, petunjuk, bimbingan, tuntuna, jalan, dan arah yang harus ditempuh oleh setiap orang yang berusaha tani agar menaikkan guna, mutu dan nilai produksinya sehingga lebih bermanfaat.

Pada prakteknya penyuluhan pertanian adalah suatu sistem pendidikan di luar sekolah (non formal) yang ditujukan kepada petani dan keluarganya, dimana mereka belajar sambil berbuat (learning by doing) untuk mengetahui dan bisa menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi secara baik, menguntungkan dan memuaskan.

Sjawal (1984) mengemukakan bahwa sebagai sistem pendidikan, penyuluhan adalah usaha untuk menimbulkan perubahan yang diinginkan dalam perilaku (behavior) para petani dan keluarganya. Perilaku yang diinginkan meliputi pengetahuan yang lebih luas, keterampilan teknis yang lebih baik, kecakapan mengelolah yang lebih efisien, sikap yang progresif dan motivasi tindakan yang lebih rasional.

Totok Mardikanto dan Sri Sutarni Mardikanto merumuskan definisi pneyuluhan pertanian sebagai ‘suatu sistem pendidikan non formal di luar sekolah bagi para petani dan keluarganya agar terjadi perubahan perilaku yang lebih rasional dengan belajar sambil berbuat (learning by doing) sampai mereka tahu, mau, dan mampu berswakarsa untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi baik sendiri-sendiri maupun secara bersamaan guna terus memajukan usaha tani dan menaikkan jumlah, mutu, macam, serta jenis dan nilai produksinya sehingga tercapai kenaikan pendapatan yang lebih bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarganya, dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya’.

Penyuluhan yang berasal dari kata dasar “suluh” atau obor, sekaligus sebagai terjemahan dari kata “voorlichting” dapat diartikan sebagai kegiatan penerangan atau memberikan terang bagi yang dalam kegelapan. Sehingga penyuluhan juga sering diartikan sebagai kegiatan penerangan (Totok Mardikanto, 2009).

Penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat kepeutusan yang benar (Van den Ban dan Hawkins, 1999).

Penyuluhan pertanian diartikan sebagai pendidikan luar sekolah yang ditujukan kepada petani dan keluarganya agar dapat bertani lebih baik, berusahatani yang lebih menguntungkan dan terwujudnya kehidupan yang lebih sejahtera bagi keluarga dan masyarakatnya (Totok Mardikanto, 2009).

Definisi penyuluhan pertanian menurut UU Nomor 16 Tahun 2006 adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumber daya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraan, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian lingkungan hidup (Isran Noor, 2012).

Menurut Isran Noor (2012), fungsi penyuluh pertanian adalah berperan sebagai motivator, fasilitator, dan dinamisator dalam kegiatan penyuluhan pertanian seperti membantu mencarikan informasi inovasi/ teknologi, permodalan, pemasaran, mengajarkan keterampilan, menawarkan/ merekomendasikan paket teknologi, menfasilitasi, dan mengembangkan swadaya dan swakarya petani. Ada beberapa peran penyuluh pertanian, diantaranya:

  1. Memfasilitasi proses pembelajaran bagi pelaku utama dan pelaku usaha
  2. Mengupayakan kemudahan akses pelaku utama dan pelaku usaha ke sumber informasi, teknologi, dan sumberdaya lainnya
  3. Meningkatkan kemampuan kepemimpinan, manajerial, dan kewirausahaan pelaku utama dan pelaku usaha
  4. Membantu pelaku utama dan pelaku usaha dalam menumbuh-kembangkan organisasinya menjadi organisasi ekonomi yang berdaya saing tinggi, produktif, menerapkan tata kelola berusaha yang baik dan berkelanjutan
  5. Membantu menganalisis dan memecahkan masalah serta merespon peluang dan tantangan yang dihadapi pelaku utama dan pelaku usaha dalam mengelola usaha
  6. Menumbuhkan kesadaran pelaku utama dan pelaku usaha terhadap kelestarian fungsi lingkungan
  7. Melembagakan nilai-nilai budaya pembangunan pertanian yang maju dan modern bagi pelaku utama dan pelaku usaha secara berkelanjutan

Proses penyuluhan

Proses penyuluhan merupakan proses perubahan perilaku baik pengetahuan, sikap dan ketrampilan agar mereka tahu, mau dan mampu melakukan perubahan demi tercapainya peningkatan produksi, pendapatan dan kesejahteraan keluarga (Mardikanto, 1993). Isbandi (2005) menyatakan, bahwa dalam proses penyuluhan membutuhkan komunikasi yang bertujuan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan.

Suhardiyono (1992) menyatakan, bahwa proses penyuluhan merupakan suatu proses kegiatan belajar mengajar di bidang penyuluhan yang dirancang untuk membantu petani dalam mengubah seseorang dalam bertingkah laku dan mengembangkan diri mereka agar mampu mencapai tujuan yang diinginkan.

Menurut Setiana (2005), proses penyuluhan juga merupakan suatu proses belajar mengajar yang tidak terlepas dengan kondisi interaktif antara penyuluh dengan sasaran penyuluhannya, yang meliputi proses penyebarluasan informasi, proses penerangan, proses perubahan perilaku, proses pendidikan dan proses rekayasa sosial atau transformasi sosial.

Materi penyuluhan

Mardikanto (1993) menyatakan, bahwa materi penyuluhan adalah segala bentuk pesan yang ingin disampaikan oleh seorang penyuluh kepada masyarakat sasarannya dalam upaya mewujudkan proses komunikasi pembangunan.

Materi atau bahan penyuluhan adalah segala bentuk pesan, informasi, inovasi teknologi baru yang diajarkan atau disampaikan kepada sasaran meliputi berbagai ilmu, teknik, dan berbagai metode pengajaran yang diharapkan akan dapat mengubah perilaku, meningkatkan produktivitas, efektifitas usaha dan meningkatkan pendapatan sasaran (Isbandi, 2005).

Menurut Setiana (2005), materi penyuluhan adalah segala sesuatu yang disampaikan dalam kegiatan penyuluhan, baik yang menyangkut ilmu atau teknologi baru, yang sesuai dengan kebutuhan sasaran, dapat meningkatkan pendapatan, memperbaiki produksi dan dapat memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh sasaran penyuluhan.

Materi atau pesan yang ingin disampaikan dalam proses penyuluhan harus bersifat informatif, inovatif, persuasif, dan intertainment agar mampu mendorong terjadinya perubahan-perubahan ke arah terjadinya pembaharuan dalam segala aspek kehidupan masyarakat sasaran dan mewujudkan perbaikan mutu hidup setiap individu warga masyarakat yang bersangkutan (Mardikanto,1993).

Pengetahuan peternak dipengaruhi oleh pendidikan, sedangkan materi penyuluhan dapat memberikan pengetahuan kepada peternak apabila penyuluhan disesuaikan dengan karakteristik peternak (Levis, 1996).

Penyuluhan adalah upaya perubahan berencana yang dilakukan melalui sistem pendidikan non formal dengan tujuan merubah perilaku (sikap, pengetahuan, keterampilan) sasaran untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya, sehingga kualitas kehidupannya menjadi meningkat.

Inti dari kegiatan penyuluhan adalah untuk memberdayakan masyarakat. Memberdayakan berarti memberi daya kepada yang tidak berdaya dan atau mengem-bangkan daya yang sudah dimiliki menjadi sesuatu yang lebih ber-manfaat bagi masyarakat yang bersangkutan. Dalam konsep pemberdayaan tersebut, terkandung pema-haman bahwa pemberdayaan tersebut diarahkan terwujudnya masyarakat yang mandiri dalam pengertian dapat mengambil keputusan (yang terbaik) bagi kesejahteraannya sendiri (Margono Slamet, 2000).
Sebagai proses komunikasi pembangunan, penyuluhan tidak sekadar upaya untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan, tetapi yang lebih penting dari itu adalah, untuk menumbuh-kembangkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan (Mardikanto, 1987).

Pengertian penyuluhan pertanian adalah suatu bentuk upaya yang dilakukan untuk memperbaharui perilaku dan pola pikir para petani dan keluarganya, sehingga mereka mampu mandiri dan memiliki inisiatif serta kemampuan dalam mengembangkan segala bentuk usaha kegiatan dalam hal pertanian yang mendukung perbaikan taraf hidup mereka. Tujuan dari penyuluhan pertanian dapat dijabarkan menjadi dua, yaitu: 1. Tujuan jangka pendek yang diharapkan dapat menumbuhkan perubahan-perubahan positif di dalam diri petani dengan adanya peningkatan pengetahuan, kemampuan dan kemandirian yang memberi mereka inisiatif untuk kemajuan usaha kegiatan pertanian. 2. Tujuan jangka panjang yang diharapkan mampu untuk memperbaiki taraf hidup para petani dan menambah kesejahteraan hidup para petani.

Ada beberapa unsur yang akan terlibat di dalam penyuluhan pertanian, antara lain : Penyuluh pertanian, Penyuluh pertanian adalah orang yang bertugas untuk memberikan arahan dan dorongan terhadap para petani agar lebih peka dan dapat menerima serta menggunakan teknologi untuk menambah kesejahteraan mereka. Sasaran penyuluhan pertanian, Mereka adalah para petani yang akan diberikan materi penyuluhan. Metode penyuluhan pertanian adalah tata cara yang digunakan dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian, metode ini harus bersifat mendidik dan membimbing agar dapat diterapkan dan mampu mengubah pola pikir peserta penyuluhan. Kemudian, media penyuluhan pertanian merupakan suatu alat yang menghubungkan penyuluh pertanian dengan materi penyuluhan dan para peserta penyuluhan. Serta materi penyuluhan pertanian adalah materi yang disampaikan pada saat penyuluhan, biasanya berupa ilmu pengetahuan atau teknologi baru di dalam pertanian, kemudian penentuan waktu penyuluhan pertanian adalah waktu terselenggaranya penyuluhan dan penentuan tempat penyuluhan pertanian adalah tempat diadakannya acara penyuluhan.

image580x449

Keterampilan petani dalam mengelola pertaniannya menjadi salah satu kebutuhan yang menunjang keberhasilan para petani dalam mengolah lahan. Keterampilan tersebut tidak didapat secara instan oleh para petani. Kebanyakan petani belajar dari orang tua mereka bagaimana mengolah lahan mereka dengan baik. Apakah itu cukup? Tentu saja tidak. Diperlukan kegiatan penyuluhan pertanian sebagai pendidikan non-formal para petani untuk dapat memanfaatkan lahan dan menghasilkan produk pertanian yang berkualitas.

Penyuluhan yang berasal dari kata dasar “suluh” atau obor, sekaligus sebagai terjemahan dari kata “voorlichting” dapat diartikan sebagai kegiatan penerangan atau memberikan terang bagi yang dalam kegelapan. Sehingga penyuluhan juga sering diartikan sebagai kegiatan penerangan (Totok Mardikanto, 2009). Penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat kepeutusan yang benar (Van den Ban dan Hawkins, 1999). Penyuluhan pertanian diartikan sebagai pendidikan luar sekolah yang ditujukan kepada petani dan keluarganya agar dapat bertani lebih baik, berusahatani yang lebih menguntungkan dan terwujudnya kehidupan yang lebih sejahtera bagi keluarga dan masyarakatnya (Totok Mardikanto, 2009).

Kerjasama antara penyuluh dengan petani atau kelompok tani sangat diperlukan untuk menghasilkan petani yang baik dan berkualitas. Oleh karena itu, penyuluh berperan sebagai organisator dan dinamisator yaitu melakukan pembinaan kelompoktani yang diarahkan pada penerapan sistem agribisnis, peningkatan peranan.

Tujuan Penyuluhan Pertanian

Penyuluhan pertanian mempunyai dua tujuan yang akan dicapai yaitu : tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Tujuan jangka pendek adalah menumbuhkan perubahan-perubahan yang lebih terarah pada usaha tani yang meliputi: perubahan pengetahuan, kecakapan, sikap dan tindakan petani keluarganya melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dengan berubahnya perilaku petani dan keluarganya, diharapkan dapat mengelola usahataninya dengan produktif, efektif dan efisien (Zakaria, 2006). Tujuan jangka panjang yaitu meningkatkan taraf hidup dan meningkatkan kesejahteraan petani yang diarahkan pada terwujudnya perbaikan teknis bertani (better farming), perbaikan usahatani ( better business ), dan perbaikan kehidupan petani dan masyarakatnya ( better living ).

image
Gambar 1. Peran penyuluh pertanian terhadap kelompok tani

Dari pengalaman pembangunan pertanian yang telah dilaksanakan di Indonesia selama tiga-dasawarsa terakhir, menunjukkan bahwa, untuk mencapai ketiga bentuk perbaikan yang disebutkan di atas masih memerlukan perbaikan-perbaikan lain yang menyangkut (Deptan, 2002):

  1. Perbaikan kelembagaan pertanian ( better organization ) demi terjalinnya kerjasama dan kemitraan antar stakeholders .
  2. Perbaikan kehidupan masyarakat ( better community ), yang tercermin dalam perbaikan pendapatan, stabilitas keamanan dan politik, yang sangat diperlukan bagi terlaksananya pembangunan pertanian yang merupakan sub-sistem pembangunan masyarakat ( community development ).
  3. Perbaikan usaha dan lingkungan hidup ( better enviroment ) demi kelangsungan usahataninya.Tentang hal ini, pengalaman menunjukkan bahwa penggunaan pupuk dan pestisida secara berlebihan dan tidak seimbang telah berpengaruh negatif terhadap produktivitas dan pendapatan petani, serta kerusakan lingkungan-hidup yang lain, yang dikhawatirkan akan mengancam keberlanjutan ( sustainability ) pembangunan pertanian itu sendiri. (Sumber : Kusnadi, Dedy.2011. Modul Dasar- Dasar Penyuluhan Pertanian . Bogor. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian.)

Prinsip Penyuluhan Pertanian

Mathews (1973) menyatakan bahwa: Prinsip adalah suatu pertanyaan tentang kebijaksanaan yang dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan dan melaksanakan kegiatan secara konsisten. Karena itu prinsip berlaku umum, dapat diterima secara umum, dan telah diyakini kebenarannya dari berbagai hasil pengamatan dalam kondisi yang beragam. Dengan demikian, ”prinsip” dapat dijadikan sebagai landasan pokok yang benar, bagi pelaksanaan kegiatan yang akan dilaksanakan. Menurut Soekandar (1973) prinsip penyuluhan pertanian banyak sekali jumlahnya, namun beberapa hal yang penting mengenai prinsip penyuluhan pertanian adalah sebagai berikut:

  1. Penyuluhan pertanian seyogyanya diselenggarakan menurut keadaan yang nyata,
  2. Penyuluhan pertanian seharusnya ditujukan kepada kepentingan dan kebutuhan sasaran
  3. Penyuluhan pertanian ditujukan kepada seluruh anggota keluarga tani
  4. Penyuluhan pertanian adalah pendidikan untuk demokrasi
  5. Harus ada kerjasama yang erat antara penyuluh, peneliti dan lembaga lain yang terkait
  6. Rencana kerja penyuluhan pertanian sebaiknya disusun secara bersama antara petani dan penyuluh
  7. Penyuluhan pertanian bersifat luwes dan dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan

Ruang Lingkup Penyuluhan Pertanian

  1. Penyuluhan Pertanian sebagai Kegiatan Agribisnis
    Memenuhi kebutuhan pangan merupakan tugas yang terus menerus dihadapi oleh suatu negara dan penduduknya. Apabila kebutuhan pangan tersebut terpenuhi, maka baru dapat dihasilkan kehidupan. Dengan demikian kegiatan pertanian yang efisien memainkan peranan yang penting. Penyuluh pertanian harus mempersiapkan diri dengan programprogram pembelajaran yang bertujuan untuk :

    • Mengurangi biaya pemasaran produksi pertanian,
    • Memperluas jangkauan pemasaran produksi pertanian,
    • membantu masyarakat memahami sistem pemasaran.
  2. Penyuluhan Pertanian sebagai Kegiatan Keluarga Tani
    Bagi kebanyakan orang, kebutuhan selalu melebihi apa yang dapat diraihnya. Ini memaksa orang untuk membuat berbagai keputusan mengenai sumberdaya apa yang harus diraihnya dan bagaimana melaksanakannya. Ini memerlukan kemampuan manajerial yang baik dalam kemampuan membuat keputusan untuk meraih tujuan. Keluarga tani selalu menghadapi perubahan yang menyangkut produksi, harga barang dan jasa, perubahan pekerjaan dan kependudukan. Keadaan ini mempengaruhi usahanya, kehidupannya dan jenis pekerjaannya yang terbuka baginya. Tuntutan akan program kesejahteraan keluargapun perlu mendapat perhatian. Penyuluhan pertanian perlu juga memperbaiki dan memperkuat program pengembangan pemuda tani. Disamping program magang juga diupayakan agar kontak tani menjadi lebih peka terhadap masalah yang dihadapi pemuda tani dan berupaya mencari pemecahannya.

  3. Penyuluhan Pertanian sebagai Bagian dari Pembangunan Masyarakat
    Pembangunan masyarakat yang demokratis bukan hanya berkaitan dengan rencana dan statistik, target dan anggaran, teknologi dan metode, perlengkapan dan staf profesional, atau instansi dan organisasi untuk mengelola kesemuanya, tetapi berkaitan dengan penggunaan efektif dari halhal tersebut sebagai usaha pendidikan untuk mengubah pikiran dan tindakan, sehingga mereka mampu membantu diri mereka sendiri, meraih perbaikan ekonomi dan sosial. Masyarakat dapat diperbaiki dan dikembangkan. sumberdayanya .Untuk mengembangkan sumberdaya mereka dengan baik., penyuluh pertanian akan berhadapan dengan tiga jenis sumberdaya :

    • Alam : tanah, air, iklim, mineral, dll
    • Manusia : masyarakat dengan sikapnya, keterampilan dan bakatnya
    • Kelembagaan : sekolah, tempat beribadah, pasar, instansi pemerintah dan organisasi masyarakat lainnya yang memenuhi kepentingan masyarakat.

Dalam melaksanakan tugasnya, penyuluh pertanian akan melayani beragam masyarakat dengan beragam kegiatan. Tetapi tujuan dasarnya akan selalu sama, yaitu mengembangkan masyarakat sendiri, membantu mereka menggali potensinya berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan harapan.

  1. Penyuluhan Pertanian sebagai Upaya Berkelanjutan
    Terdapat lima aspek yang saling mempengaruhi pembangunan pertanian yang berkelanjutan, yakni :

    • Praktek usahatani yang berkelanjutan
    • Proses belajar praktek usahatani tersebut
    • Kegiatan fasilitas proses belajar tersebut
    • Kelembagaan yang mendukung kegiatan fasilitas meliputi pasar, ilmu pengetahuan, penyuluhan pertanian, jaringan inovasi dan lain-lain
    • Kerangka kebijaksanaan yang menunjang berupa peraturan, subsidi, dll. Kelima aspek tersebut membentuk kesatuan yang saling berkaitan dan selaras. Praktek usahatani yang berkelanjutan memerlukan adanya proses belajar, yang selanjutnya memerlukan kegiatan fasilitas, dukungan kelembagaan dan kerangka kebijaksanaan yang menunjang.
  2. Penyuluhan Pertanian sebagai Upaya Pengembangan SDM
    Upaya pembangunan pertanian erat kaitannya dengan upaya pengembangan sumberdaya manusia, khususnya para petani, karena para petani yang mengatur dan menggiatkan pertumbuhan tanaman dan hewan ternak dalam usahataninya. Dalam menjalankan usahataninya, para petani menjalankan peranannya sebagai juru tani, manajer dan juga manusia. Sebagai juru tani para petani memelihara tanaman dan hewan ternak untuk mendapatkan hasilnya yang berfaedah. Sejalan dengan berkembangnya pertanian, tugas sebagai juru tani juga berkembang misalnya memupuk, mengatur irigasi dengan lebih baik, melakukan pengendalian hama terpadu dan menerapkan cara-cara baru lainnya.

Sistem Penyuluhan Pertanian di Indonesia

Menurut Badan SDM Pertanian (2003), Penyuluhan pertanian sebagai suatu sistem pemberdayaan petani merupakan suatu sistem pendidikan non formal bagi keluarga petani yang bertujuan membantu petani dalam meningkatkan keterampilan teknis, pengetahuan, mengembangkan perubahan sikap yang lebih positif dan membangun kemandirian dalam mengelola lahan pertaniannya. Penyuluhan pertanian sebagai perantara dalam proses alih teknologi maka tugas utama dari pelayanan penyuluhan adalah memfasilitasi proses belajar, menyediakan informasi teknologi, informasi input dan harga input-output serta informasi pasar. Basuki (2001) mengkaji tentang hubungan keeratan antara sumber teknologi, peran penyuluh dan kegiatan petani menunjukkan bahwa terjadi hubungan positip antara peran 3 penyuluh dengan kegiatan petani, dan antara sumber teknologi dan petani, sedangkan hubungan kurang erat terjadi antara sumber teknologi dan peran penyuluh.

image
Gambar 2. Komponen utama dalam sistem penyuluhan (Alma S. Tan, 1997)

Menurut Alma S. Tan di dalam Valera, et al. (1987), bahwa konsep atau pemikiran mengenai fungsi penyampaian penyluhan (Extension Dilevery System) dapat dilihat dari dinamika, proses dalam kerangka sistem (system framework).

Sistem penelitian adalah suatu kegiatan penelitian untuk menghasilkan ilmu dan teknologi yang dapat dimanfatkan oleh pengguna (petani). Teknologi-teknologi yang dihasilkan melalui penelitian tersebut berupa teknologi tepat guna sesuai dengan kondisi masyarakat lokal (pengetahuan, ekonomi, pendidikan, kebiasaan, tujuan dan nilai-nilai budaya).
Sistem perubahan adalah suatu sitem di mana kegiatan-kegiatan lebih diarahkan pada suatu perubahan pada sistem sosial terutama dalam transfer teknologi. Faktor dari sistem ini adalah doktrin, kerja keras, kelembagaan, pengorganisasian program. Sistem klien adalah kelompok, komunitas dan masyarakat desa yang merupakan Klien dari sistem penyampaian penyuluhan. Di dalam konteks penyuluhan, klien merupakan sasaran utama dalam pembangunan pertanian. Klien merupakan penerima informasi inovasi teknologi sesuai kebutuhannya yang diperoleh dengan memanfaatkan saluran komunikasi yang ada.

Penyuluh lapangan dituntut untuk melakukan penumbuhan ekonomi lokal melalui pendekatan kelembagaan, pendekatan wilayah dan pendekatan komoditas unggulan. Faktor utama yang dibangun berkaitan dengan pengembangan sistem dan usaha agribisnis adalah melakukan penumbuhan, pengembangan dan penguatan kelembagaan pedesaan serta membangun jaringan kerjasama antara elemen-lemen kelembagaan agribisnis industrial pedesaan (AIP). Penyelenggaraan penyuluhan pertanian yang diprioritaskan pada pengembangan sistem dan usaha agribisnis maka secara philosofi sistem penyuluhan pertanian dapat menggunakan pendekatan : (1) agro-ekosistem; (2) wilayah; (3) agribisnis; (4) kelembagaan; dan (5) kesejahteraan. Pendekatan sistem penyuluhan tersebut lebih diarahkan pada penumbuhan ekonomi wilayah sehingga dapat menjangkau semua klien dalam sistem sosial. Pendekatan-pendekatan tersebut tentunya menggunakan berbagai metode penyuluhan yang ada sesuai kondisi klien dan sistem sosial. Namun demikian pendekatan-pendekatan tersebut harus dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi dengan dukungan kebijakan pembangunan pertanian daerah serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan bagi penyuluh pertanian selaku pelaksana di lapangan.

Sumber

(Sumber : http://ntb.litbang.pertanian.go.id/pu/pi/YG_Sistem%20Penyuluhan.pdf)
(Sumber : Kusnadi, Dedy.2011. Modul Dasar- Dasar Penyuluhan Pertanian . Bogor. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian.)
(Sumber : http://repository.usu.ac.id)