Apa yang dimaksud dengan penyakit bean stem rot atau Penyakit Busuk Pangkal Batang?

Bean stem rot adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur pada tanaman kacang.

2 Likes

Tanaman kacang merupakan tanaman dari Famili Leguminoceae yang memiliki sumber protein penting dalam upaya memperbaiki kandungan gizi. Hal ini menjadikan tanaman kacang sangat diperhatikan karena bisa menjadi pangan yang bergizi dan pengadaannya yang murah dapat menggantikan sumber protein hewani seperti daging dan susu. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan, tanaman kacang-kacangan juga dapat berperan penting dalam meningkatkan sektor industri seperti manfaat dari kacang tanah itu sendiri yaitu sebagai pembuatan margarin, sabun, minyak goreng, dan lainnya (Cibro 2008).

Pada saat ini produktivitas tanaman kacang-kacangan di Indonesia masih rendah yaitu sekitar 1,2 t/ha untuk kedelai, 1,1 t/ha untuk kacang tanah dan 1,0 t/ha untuk kacang hijau (BPS 2002). Salah satu hal yang menyebabkan produktivitas tanaman kacang-kacangan menjadi rendah adalah serangan berbagai penyakit virus, dari hasil penelitian telah diketahui bahwa rata-rata kehilangan hasil mencapai antara 20-60%.

Penyakit Busuk Pangkal Batang


Di Indonesia sangat banyak dijumpai penyakit pada kacang-kacangan, salah satunya yaitu penyakit Bean Stem Rot atau busuk pangkal batang yang disebabkan oleh patogen cendawan Sclerotium rolfsii.

Penyakit Bean Stem Rot

Gambar 1a) Gejala tanaman kacang yang layu dan serangan *Sclerotium rolfsii* pada pangkal batang. 1b) Gejala pada polong dan terdapat miselium cendawan di sekitar pangkal batang Sumber : [dispertan.bantenprov.go.id](https://dispertan.bantenprov.go.id/lama/read/artikel/741/Penyakit-Busuk-Batang-pada-Tanaman-Aneka-Kacang.html)

Penyakit ini sudah tersebar luas pada lebih dari 200 spesies tanaman. Kerugian hasilnya sangat tinggi akibat Sclerotium rolfsii terjadi di sebagian besar negara penghasil tanaman kacang-kacangan seperti Amerika Serikat, Amerika Latin, China, India, Thailand, Mesir, Mali, Nigeria, Senegal, Bangladesh, Australia, dan Indonesia (Mehan et al 1995).

Kondisi lahan yang lembab merupakan lingkungan kondusif yang dapat memicu parahnya infeksi S. rolfsii pada aneka tanaman kacang. Keparahan penyakit juga tergantung dari rendahnya ketahanan varietas kacang yang ditanam. Kerugian hasil kacang tanah yang disebabkan oleh penyakit busuk pangkal batang cukup tinggi berkisar yaitu antara 13-59% (Nautiyal 2002).

Gejala Penyakit Busuk Pangkal Batang


Untuk mengetahui awal dari keberadaan penyakit dan kondisi lanjutnya maka perlu mengetahui gejala penyakit tersebut. Gejala mula-mula timbul pada batang atau daun yang dekat dengan permukaan tanah, biasanya pada bagian ini terdapat kumpulan miselium putih dan skletorium.

Gejala Penyakit Busuk Pangkal Batang

Gambar 2a) Gejala awal tanaman kacang keseluruhan terlihat sehat, 2b) gejala di bagian pangkal batang terlihat busuk dan terdapat miselia cendawan *Sclerotium rolfsii*. 2c) Gejala lanjut tanaman kacang menjadi layu dan mati. Sumber : [agrokomplekskita.com](https://agrokomplekskita.com/layu-pada-kacang-tanah/)

Gejala penyakit berupa lesio (ruam) pada pangkal batang, lesio berwarna coklat muda, kemudian berkembang menjadi coklat tua. Infeksi pada pangkal batang dan perakaran mengganggu aliran nutrisi dan air dalam tanaman, sehingga timbul gejala layu. Pada tingkat infeksi lanjut, jamur tumbuh berupa miselia tipis berwarna putih, bentuk teratur seperti bulu, dan mudah dilihat secara visual pada pangkal batang dan permukaan tanah di sekitar lubang tanam. Gejala penyakit melanjut berupa busuk perakaran dan pangkal batang, rebah bibit (damping-off), layu, tanaman mati, serta busuk polong (Akram et al 2007).

Miselia pada perkembangannya akan mengalami pemadatan sehingga terbentuk struktur butiran yang dikenal sebagai sklerosia. Mula-mula sklerotia berwarna putih kemudian berubah menjadi coklat muda sampai coklat tua. Seringkali sklerotia terbentuk secara berlimpah pada tanaman terinfeksi parah atau mendekati mati, dan tetap hidup walaupun tidak ada tanaman inang yang sesuai.

Bioekologi dan Morfologi Patogen


Cendawan Scleroitum rolfsii awalnya memproduksi miselium yang berfungsi sebagai penyerapan makanan saat cendawan menginvasi tanaman inang. Hal ini juga membantu cendawan jika cendawan sudah berada di lingkungan yang sesuai dan memiliki persediaan makanan yang cukup untuk bisa bereproduksi menjadi spora. (Gambar 3a. dan 3b.)(Tasnin et al 2015).

Penyakit Busuk Pangkal Batang

Gambar 3a) dan 3b) Miselium *Sclerotium roflsii* 3c)dan 3d) *Clamp connection*. 3e) Perbanyakan di PDA. 3f) Koloni *Sclerotium rolfsii* Sumber : [reaserchgate.net](https://www.researchgate.net/publication/325131166_Diagnosis_and_Integrated_Management_of_Fruit_Rot_in_Cucurbita_argyrosperma_Caused_by_Sclerotium_rolfsii/figures?lo=1&utm_source=google&utm_medium=organic)

Clamp connection merupakan struktur unik dari filum Basidiomycota, struktur ini dibentuk oleh sel hifa yang tumbuh pada cendawan Sclerotium rolfsii. Clamp connection dibuat untuk memastikan setiap sel atau segmen hifa dari cendawan dipisahkan oleh septa. Hal ini digunakan untuk membuat variasi genetik di dalam hifa selama reproduksi seksual. (Gambar 3c. dan 3d.) (Sukamto dan Wahyuno 2013).

Cendawan Sclerotium rolfsii jika diperbanyak di media PDA akan membentuk koloni dengan miselium berwarna putih seperti kapas kompak dan padat (Gambar 3e). Sklerotium (0,5-2,0 mm) yang dibentuk pada mulanya berwarna putih kemudian menjadi coklat gelap. Tipe perkecambahan sklerotia berbentuk dispersif (hifa keluar dari semua sudut sklerotia) dengan benang-benang halus bercabang (Gambar 3f).

Sclerotium rolfsii menghasilkan oxalic acid yang merupakan suatu phytotoxin penyebab warna ungu pada polong dan klorosis atau nekrosis pada daun. Sklerotium yang tertanam di dalam tanah dapat bertahan sampai satu tahun, tetapi bila di atas permukaan tanah dapat sampai beberapa tahun.

Pengendalian Penyakit Busuk Pangkal Batang


Dibutuhkan arah pengendalian yang tepat supaya penyakit tidak resisten dan semakin menyebar diperlukan Pengendalian Hayati Terpadu (PHT).

WhatsApp Image 2020-12-14 at 16.57.33

Gambar 4. Hiperparasitisme *Trichoderma harzianum* dengan *Sclerotium roflsii* Sumber : [semantischolar.org](https://www.semanticscholar.org/paper/Mycoparasitism-studies-of-Trichoderma-harzianum-of-Troian-Steindorff/4d7c076c0fa96ed5b1a2c4e189c161036fa76576/figure/2)

Pengendalian tersebut diantaranya :

  1. Mekanis dan Fisik

    • Mencabut dan membuang tanaman yang terinfeksi
    • Monitoring tanaman untuk mencegah gejala penyakit berlanjut
  2. Biologi atau Hayati

    Menggunakan agens pengendali hayati (APH) berupa cendawan antagonis seperti Trichoderma spp., Pecillium sp. dan Gliocladium virens; sertabakteri antagonis seperti Bacillus spp., dan Pseudomonas fluorescens.. Mekanisme dari Trichoderma harzianum dengan Sclerotium roflsii dengan cara hiperparasitisme. T. harzianum yang diberikan melalui benih diikuti semprot dengan fungisida karboksin 0,1% dapat meningkat efikasinya untuk mengendalikan penyakit damping-off S. rolfsii pada kedelai (Soesanto 2001).

    Aplikasi APH Pseudomonas fluorescenspada tanah pot yang mengandung inokulum S. rolfsii , dengan konsentrasi aplikasi 108 sel/ml dan dosis 100 ml/liter tersebut dapat menekan kejadian penyakit busuk batang kedelai dengan keefektifan cukup baik mencapai 55,2%. Selain itu APH Pseudomonas fluorescens tersebut dapat menurunkan populasi dan pertumbuhan propagul sklerosia di tanah (Rahayu dan Tantawizal 2008).

  3. Pengendalian Nabati

    Menggunakan ekstrak mimba Azadirachta sp., ekstrak air daun selasih Ocimum gratissimum dan daun kayu putih Eucalyptus globulus (Okwute dan Egharevba 2013).

  4. Pengendalian kimiawi

    Menggunakan beberapa fungisida seperti kaptan dan karboksin efektif mengendalikan penyakit damping-off S. rolfsii pada kedelai.

    Pengendalian ini sebaiknya dilakukan tidak secara rutin sebagai alternatif jika pengendalian lainnya tidak efektif dilakukan.

Daftar Pustaka
  • Akram , M., S. Ajmal, M. Munir. 2007. Inheritance of traits related to seedling vigor and grain yield in rice (Oryza sativa). Jurnal Botani. 39 (1) : 37-45

  • BPS. 2002. Statistica Year Book 2002. Jakarta (ID) : Biro Pusat Statistik, Statistika Indonesia.

  • Cibro M.A. 2008. Respon Beberapa Varietas Kacang Tanah (Arachis hypogea L.) Terhadap Pemakaian Mikoriza Pada Berbagai Cara Pengolahan Tanah. Medan (ID) : Universitas Sumatera Utara.

  • Mehan, V.K., Y. J. Tan, B.S. Liao. 1995. Inoculation Techniques to Evaluate Resistance of Groundnut to Bacterial Wilt. pp. 59–62 In V.K. Mehanand D. McDonald (eds.). Techniques For Diagnosis of P. solanacearum and for Resistance Screening Against Groundnut Bacterial Wilt. ICRISAT Technical Manual no.1.

  • Nautiyal PC. 2002. Groundnuts: Postharvest Operations. Research Centre for Groundnuts (ICAR). [www.icar.org.in] diakses 19 September 2018.

  • Okwute S.K., Egharevba. H.O. 2013. Piperine-type amides : review of the chemical and biological charateristics. International Journal Chemistry. 5(3) : 99 -122.

  • Rahayu M., Tantawizal. 2008. Efikasi formula sederhana Pseudomonas fluorescens untuk pengendalian penyakit busuk batang kedelai. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. 244-251.

  • Soesanto L. 2001. Pseudomonas fluorescens P60 sebagai agensi hayati jamur Verticillium dahlia Kleb. Jurnal Penelitian Pertanian Agrin. 5(10) : 33-40

  • Sukamto, Wahyuno D. 2013. Identifikasi dan karaterisasi Sclerotium rolfsii Sacc. penyebab [enyakit busuk batang nilam (Pogostemon cablin Benth). 24(1) : 35-41

  • Tasnin, Umrah, Miswan, Rasak A.R. 2015. Studi pengamatan pertumbuhan miselium dan pembentukan pinhead jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) pada media serasah daun kakao (Theobroma cacao L.) dan serbuk gergaji. Biocelebes. 9 (2) : 35-41

1 Like