Apa yang dimaksud dengan Penggunaan obat yang tidak rasional?

Penggunaan obat yang rasional

Penggunaan obat yang rasional adalah pengobatan yang sesuai indikasi, diagnosis, tepat dosis obat, cara dan waktu pemberian, tersedia setiap saat dan harga terjangkau.

Apa yang dimaksud dengan Penggunaan obat yang tidak rasional ?

Penggunaan obat yang tidak rasional dapat dikategorikan sebagai berikut:

1. Peresepan berlebih (overprescribing)

Yaitu jika memberikan obat yang sebenarnya tidak diperlukan untuk penyakit yang bersangkutan.

Contoh:

  • Pemberian antibiotik pada ISPA non pneumonia (umumnya disebabkan oleh virus)
  • Pemberian obat dengan dosis yang lebih besar daripada yang dianjurkan.
  • Jumlah obat yang diberikan lebih dari yang diperlukan untuk pengobatan penyakit tersebut.
  • Pemberian obat berlebihan memberi resiko lebih besar untuk timbulnya efek yang tidak diinginkan seperti:
    • Interaksi
    • Efek Samping
    • Intoksikasi

2. Peresepan kurang (underprescribing),

Yaitu jika pemberian obat kurang dari yang seharusnya diperlukan, baik dalam hal dosis, jumlah maupun lama pemberian. Tidak diresepkannya obat yang diperlukan untuk penyakit yang diderita juga termasuk dalam kategori ini.

Contoh :

  • Pemberian antibiotik selama 3 hari untuk ISPA pneumonia.
  • Tidak memberikan oralit pada anak yang jelas menderita diare.
  • Tidak memberikan tablet Zn selama 10 hari pada balita yang diare

3. Peresepan majemuk (multiple prescribing)

Yaitu jika memberikan beberapa obat untuk satu indikasi penyakit yang sama. Dalam kelompok ini juga termasuk pemberian lebih dari satu obat untuk penyakit yang diketahui dapat disembuhkan dengan satu jenis obat.

Contoh:

Pemberian puyer pada anak dengan batuk pilek berisi:

  • Amoksisilin,
  • Parasetamol,
  • Gliseril guaiakolat,
  • Deksametason,
  • CTM, dan
  • Luminal.

4. Peresepan salah (incorrect prescribing)

Mencakup pemberian obat untuk indikasi yang keliru, untuk kondisi yang sebenarnya merupakan kontraindikasi pemberian obat, memberikan kemungkinan resiko efek samping yang lebih besar, pemberian informasi yang keliru mengenai obat yang diberikan kepada pasien, dan sebagainya.

Contoh :

  • Pemberian antibiotik golongan kuinolon (misalnya siprofloksasin & ofloksasin) untuk anak.
  • Meresepkan asam mefenamat untuk demam.bukannya parasetamol yang lebih aman

Dalam kenyataannya masih banyak lagi praktek penggunaan obat yang tidak rasional yang terjadi dalam praktek sehari-hari dan umumnya tidak disadari oleh para klinisi. Hal ini mengingat bahwa hampir setiap klinisi selalu mengatakan bahwa pengobatan adalah seni, oleh sebab itu setiap dokter berhak menentukan jenis obat yang paling sesuai untuk pasiennya. Hal ini bukannya keliru, tetapi jika tidak dilandasi dengan alasan ilmiah yang dapat diterima akan menjurus ke pemakaian obat yang tidak rasional.

Contoh lain ketidakrasionalan penggunaan obat dalam praktek sehari hari:

  • Pemberian obat untuk penderita yang tidak memerlukan terapi obat.
    Contoh:
    Pemberian roboransia untuk perangsang nafsu makan pada anak padahal intervensi gizi jauh lebih bermanfaat.

  • Penggunaan obat yang tidak sesuai dengan indikasi penyakit.
    Contoh:
    Pemberian injeksi vitamin B12 untuk keluhan pegal linu.

  • Penggunaan obat yang tidak sesuai dengan aturan.
    Contoh:

    • Cara pemberian yang tidak tepat, misalnya pemberian ampisilin sesudah makan, padahal seharusnya diberikan saat perut kosong atau di antara dua makan.
    • Frekuensi pemberian amoksisilin 3 x sehari, padahal yang benar adalah diberikan 1 kaplet tiap 8 jam.
  • Penggunaan obat yang memiliki potensi toksisitas lebih besar, sementara obat lain dengan manfaat yang sama tetapi jauh lebih aman tersedia.
    Contoh:
    Pemberian metilprednisolon atau deksametason untuk mengatasi sakit tenggorok atau sakit menelan.padahal tersedia ibuprofen yang jelas lebih aman dan efficacious.

  • Penggunaan obat yang harganya mahal, sementara obat sejenis dengan mutu yang sama dan harga lebih murah tersedia.
    Contoh:
    Kecenderungan untuk meresepkan obat bermerek yang relatif mahal padahal obat generik dengan manfaat dan keamanan yang sama dan harga lebih murah tersedia.

  • Penggunaan obat yang belum terbukti secara ilmiah manfaat dan keamanannya.
    Contoh:
    Terlalu cepat meresepkan obat obat baru sebaiknya dihindari karena umumnya belum teruji manfaat dan keamanan jangka panjangnya, yang justru dapat merugikan pasien.

  • Penggunaan obat yang jelas-jelas akan mempengaruhi kebiasaan atau persepsi yang keliru dari masyarakat terhadap hasil pengobatan.
    Contoh:
    Kebiasaan pemberian injeksi roborantia pada pasien dewasa yang selanjutnya akan mendorong penderita tersebut untuk selalu minta diinjeksi jika datang dengan keluhan yang sama.