© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan penganggaran modal (Capital Budgeting)?

penganggaran modal

Capital budgeting adalah sebuah analisis yang digunakan untuk menganalisis kelayakan suatu proyek ataupun investasi (capital investment) dalam jangka panjang yang diharapkan menghasilkan keuntungan di masa yang akan datang.

Capital Budgeting adalah proses untuk menentukan manakah investasi sesungguhnya yang harus diterima dan layak untuk mendapatkan alokasi pendanaan dari perusahaan

“Capital Budgeting is the process of determining which real investment projects should be accepted and given an allocation of funds from the firm”

Untuk mengevaluasi proses penganggaran modal, maka harus konsisten dengan tujuan pemilik perusahaan yang paling utama yaitu memaksimalkan keuntungan dan kekayaan para pemilik perusahaan.

“To evaluate capital budgeting processes, their consistency with the goal of shareholder wealth maximization is of utmost importance”.

Capital budgeting bertujuan untuk membuat keputusan investasi dengan berbagai pertimbangan yang komprehensif sehingga keputusan pendanaan yang dilakukan memberikan keuntungan dari kepada perusahaan sekaligus memberikan keuntungan kepada para pemegang saham.

Metode yang digunakan dalam membuat analisa keputusan investasi (Capital Budgeting) dan
yang dikenal secara umum adalah ada empat metode yaitu :

  1. Payback Period (PBP)
  2. Internal Rate of Return (IRR)
  3. Net Present Value (NPV)
  4. Profitability Index (PI)

Capital Budgeting (Penganggaran Modal) adalah keseluruhan proses perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai pengeluaran dana dimana jangka waktu kembalinya dana tersebut melebihi waktu satu tahun. Batas waktu satu tahun tersebut tidaklah mutlak, termasuk dalam pengeluaran dana ini adalah pengeluaran dana untuk pembelian aktiva, yaitu tanah, bangunan, mesin, alat-alat lainnya.

Beberapa tujuan dari dilakukannya analisis capital budgeting diantaranya adalah:

  • Melibatkan jumlah modal yang besar sehingga harus menanggung biaya modal (bunga) yang besar pula termasuk opportunity cost saat biaya tersebut tidak digunakan untuk kepentingan membiayai investasi lain (mengetahui tingkat keuntungan yang dihasilkan oleh investor).

  • Meliputi jangka waktu yang lama, dimana semakin lama jangka waktu investasi, berarti ketidakpastian dan risiko yang melingkupi suatu investasi makin besar.

  • Keterbatasan sumber daya dimana pengalokasian sumber daya untuk suatu investasi akan menghilangkan kesempatan untuk melaksanakan investasi lain (menentukan prioritas investasi).

  • Adanya berbagai kesempatan atau alternatif investasi, dimana kegiatan yang sama atau berbeda di lingkungan yang berbeda dapat menghasilkan output yang berbeda.

Analisis capital budgeting merupakan salah satu usaha untuk menjamin agar pengeluaran modal, yang ketersediaanya bersifat terbatas dapat mencapai titik optimum tujuan pencapaian dari perusahaan sebagaimana yang diharapkan baik dari segi manfaat, ekonomi, finansial dan sosial.

Arus Kas


Proses capital budgeting sangat penting untuk dilakukannya proyeksi arus kas dari proyek perusahaan, baik yang akan dikeluarkan sebagai investasi awal maupun arus kas yang akan menjadi penerimaan (cash inflows) dan pengeluaran (cash outflows) dengan jangka waktu tertentu sesuai dengan umur dari manfaat proyek tersebut.

Menurut Clark (1989), arus kas dalam suatu usaha terdiri dari dua hal yaitu arus kas keluar (cash outflow) dan arus kas masuk (cash inflow) dan selanjutnya apabila diselisihkan dari dua arus kas tersebut akan diperoleh arus kas bersih (net cash flow). Proyeksi arus kas dan pengeluaran investasi perusahaan akan di-present value-kan dikarenakan faktor waktu dari arus kas masuk dan keluar merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam melakukan analisis capital budgeting.

Arus kas keluar dalam suatu usaha atau proyek adalah kas yang dikeluarkan untuk membeli harta tetap (barang modal) dan kebutuhan modal kerja bersih seperti pembelian mesin baru, peralatan pabrik, bangunan, kendaraan, furnitur dan lain-lain yang dilakukan di awal periode (selama periode konstruksi) dan selama periode operasi yang dilakukan baik untuk meningkatkan kapasitas produksi maupun untuk mempertahankan tingkat produksi dan kualitas tertentu akan dimasukkan dalam pembelian harta tetap (barang modal).

Sedangkan untuk kebutuhan modal kerja setiap periode diperhitungkan sebagai perubahan modal kerja dari waktu ke waktu (incremental working capital). Arus kas masuk dari suatu usaha adalah pendapatan yang dihasilkan setelah perusahaan mulai dioperasikan. Selain dari kegiatan penjualan produk atau jasa, perusahaan bisa mendapatkan pendapatan dari penekanan biaya operasional.

PENENTUAN ASUMSI

Estimasi cash flow dari pendapatan dan biaya harus ditetapkan sebelumnya pada satu titik waktu tertentu dimasa saat ini terutama untuk pembangunan proyek yang bersifat jangka panjang sehingga belum dapat diketahui dengan pasti nilai dari pendapatan yang akan diterima dan biaya yang akan dikeluarkan untuk proyek baru tersebut. Maka dalam hal ini asumsi yang berdasar sangat penting karena pemilihan asumsi pada dasarnya tidak terlepas dengan unsur peralaman dan ketidakpastian dengan kondisi yang akan terjadi dimasa yang akan datang.

Bagi perusahaan yang bergerak dalam bidang apapun hingga saat ini belum dapat memperkirakan secara pasti seberapa akuratkah asumsi yang digunakan dalam melakukan suatu analisis. Maka yang dapat dilakukan oleh perusahaan dalam hal ini hanyalah memperkirakan asumsi tersebut senyata mungkin dengan kenyataan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dalam hal ini unsur yang sangat menentukan diantaranya adalah bagaimana peramalan yang dilakukan oleh perusahaan.

Terdapat empat kriteria bagaimana metode suatu peramalan dapat dilakukan, yaitu (Wikipedia, 2007):

  • Time Series method, metode ini menggunakan data historis sebagai dasar untuk melakukan estimasi outcomes dimasa yang akan datang.

  • Causal/econometric methods, metode ini menggunakan asumsi yang memungkinkan untuk dapat mengidentifikasi faktor utama yang akan berdampak pada variabel yang sedang diramal.

  • Judgemental method, metode ini meramalkan keputusan atau pendapat dengan mendirikan satu keputusan berdasarkan pada intuisi, opini dan estimasi probabilitas.

  • Other methods, metode ini menggunakan tolak ukur berdasarkan simulasi, prediksi pasar, probabilistic dan ensemble forecasting.

Metode Analisis Capital Budgeting


Berdasarkan survey yang dilakukan (Graham, 2006) dalam melakukan analisis kelayakan investasi dari suatu proyek dengan menggunakan metode capital budgeting, para CFO dari berbagai perusahaan yang didasarkan pada karakteristik seperti ukuran investasi perusahaan, P/E rasio, leverage, tingkat kredit, kebijakan deviden dan industrinya.

Sedangkan dalam membuat keputusan, tingkat kepopuleran metode yang digunakan dalam membuat keputusan adalah Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR). Untuk melengkapi analisis kelayakan usaha maka perlu dilakukan perhitungan Profitability Index (PI) dan Discounted Payback Period (DPP).

NET PRESENT VALUE (NPV)

Menurut Hayes (2002), Net present value (NPV) adalah salah satu teknik dalam capital budgeting untuk mengukur profitabilitas rencana investasi proyek dengan menggunakan faktor nilai waktu uang. NPV merupakan selisih antara present value yang didapat dari investasi yang ditanamkan dengan nilai sekarang dari penerimaan arus kas masuk dimasa yang akan datang.

Aturan dasar investasi adalah sebagai berikut: terima proyek (investasi layak dilakukan) jika nilai NPV lebih besar dari nol (0) sedangkan jika nilai NPV leih kecil dari nol (0), proyek tersebut harus ditolak (investasi tidak layak untuk dilakukan). Hal tersebut biasa dikenal dengan sebutan ‘NPV Rule’ (Ross, Westerfield, Jaffe, 2005).

Menurut Hayes (2002) terdapat kekuatan dan kelemahan pada penggunaan keuntungan metode NPV ini selain penggunaannya yang sederhana diantaranya adalah penggunaan nilai waktu uang untuk menghitung nilai sesuai dengan arus kas yang diperoleh pada masa yang akan datang sehingga terdapat gambaran profitabilitas proyek yang lebih mendekati kenyataan.

Kekuatan kedua dari metode evaluasi proyek ini adalah penggunaan suku bunga kredit yang dipinjam oleh investor untuk membiayai proyek sebagai faktor pendiskonto. Hal tersebut menyebabkan penggunaan metode NPV menjadi fleksibel karena dapat disesuaikan dengan tingkat suku bunga kredit yang dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Akan tetapi dilain pihak, dalam melakukan evaluasi profitabilitas proyek dengan menggunakan metode NPV dimana dalam menghitung NPV diperlukan keahlian financial analyst sehingga penggunaannya terbatas.

INTERNAL RATE OF RETURN (IRR)

IRR merupakan metode lain yang dapat digunakan untuk mengevaluasi profitabilitas rencana investasi dengan memperhitungkan nilai waktu uang. IRR adalah discount rate atau faktor pendiskonto yang apabila digunakan untuk mendiskonto seluruh cash inflows dan salvage value akan menghasilkan jumlah present value yang sama dengan jumlah investasi. Jadi dalam hal ini IRR dapat menggambarkan presentasi keuntungan serealistik mungkin yang akan diperoleh dari investasi barang modal atau proyek yang direncanakan.
Formula dari perhitungan IRR sendiri menggunakan rumus yang sama dengan rumus NPV.

Dalam NPV yang dicari nilai akhirnya dengan menggunakan discount rate tertentu di mana discount rate tersebut berasal dari cost of capital bila perusahaan sepenuhnya menggunakan equity dan WACC bila terdapat debt. Sementara itu dalam IRR yang dicari adalah nilai discount rate yang dapat memberikan nilai NPV sama dengan nol (zero).

Apabila perhitungan IRR lebih besar dari pada cost of capital, maka return yang dihasilkan akan lebih besar dari yang diharapkan. Dengan return yang lebih besar tersebut maka proyek investasi tersebut dapat diterima. Jika IRR lebih kecil dari cost of capital-nya maka perkiraan return yang dihasilkan dari usulan investasi akan lebih kecil dari yang diharapkan sehingga proyek investasi tersebut tidak layak untuk dilakukan.

Terdapat kelebihan pada perhitungan IRR menurut Peterson (2000). Kelebihan dari penggunaan metode IRR adalah dampak dari investasi dapat dilihat dengan jelas dalam perhitungan, menghitung semua arus kas masuk yang ada, mempertimbangkan konsep time value of money dan risiko investasi yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Kelemahan dari penggunaan metode IRR adalah membutuhkan nilai dari cost of capital, tidak dapat memberikan hasil yang maksimal pada pemilihan proyek dengan modal yang berupa rasio serta kurang dapat memberikan keputusan yang tepat untuk proyek mutual exclusive.

PROFITABILITY INDEX

Profitability index (PI) adalah rasio present value dari cash flow setelah investasi awal pada tahun ke-0 dengan jumlah investasi awal tahun ke-0. Aturan pengambilan keputusan terhadap rasio PI: Proyek investasi akan diterima bila nilai PI lebih besar daripada 1 sedangkan bila nilai PI lebih kecil dari 1 maka proyek tersebut akan ditolak.

DISCOUNTED PAYBACK PERIOD

Payback Period (PP) merupakan waktu yang diperlukan oleh satu proyek investasi untuk mengembalikan seluruh dana yang telah diinvestasikan dalam proyek tersebut. Metode PP ini merupakan metode yang paling sederhana untuk mengevaluasi layak tidaknya suatu proyek dijalankan karena metode perhitungan yang cepat, berdasarkan intuisi serta umum digunakan dalam bisnis.

Proyek dengan nilai PP yang paling kecil merupakan proyek yang akan dipilih oleh perusahaan untuk dijalankan. Hal tersebut dikarenakan semakin kecil nilai PP dari suatu proyek maka semakin kecil risiko yang akan dihadapi berkaitan dengan keadaan uncertainty di masa mendatang. Namun dikarenakan setiap perusahaan memiliki harapan jangka waktu pengembalian yang berbeda maka payback period tersebut harus memperhatikan berapa lama perusahaan mengharapkan pengembalian suatu investasi yang ditanamkan pada proyek tersebut.

Apabila periode pengembalian berdasarkan pada hasil hitungan lebih pendek dari waktu yang diperkirakan, maka proyek investasi tersebut layak untuk dijalankan. Akan tetapi apabila sebaliknya dimana periode pengembalian investasi lebih panjang dari perkiraan maka proyek tersebut sebaiknya tidak dijalankan.

Metode payback period memiliki beberapa kelemahan. Salah satu diantaranya adalah tidak adanya pertimbangan akan adanya time value of money. Time value of money sangat penting mengingat konsep ini menilai bahwa nilai uang saat ini berbeda dengan nilai uang dimasa yang akan datang yang disebabkan oleh adanya berbagai hal, diantaranya adalah tingkat inflasi. Untuk proyek jangka panjang hal ini menjadi perhatian penting dikarenakan adanya perbedaan nilai uang tersebut yang akan berdampak pada nominal yang akan mereka terima di kemudian hari.

Discounted Payback Period (DPP) merupakan metode yang sama dengan payback period, akan tetapi pada metode ini sudah memasukkan unsur perhitungan time value of money. Maka sebagaimana yang terlihat pada formula DPP, nilai net cash flow dan investasi merupakan nilai yang sudah di present value-kan terlebih dahulu.

BIAYA MODAL (Cost of Capital)

Sumber dana yang digunakan oleh perusahaan, baik yang berupa pinjaman (cost of debt) maupun modal sendiri (cost of equity), menanggung suatu beban yang pada umumnya dikatakan sebagai biaya modal (cost of capital). Biaya modal usaha yang menggunakan kedua komponen tersebut merupakan rata-rata tertimbang atau disebut juga sebagai weighted average cost of capital (WACC) dengan pembobotannya adalah berupa porsi masing-masing sumber dana yang digunakan.

COST OF EQUITY

Dalam menentukan cost of equity yang akan dijadikan sebagai discount rate dari proyek sulit untuk ditentukan karena biaya modal sendiri merupakan opportunity cost dari pemilik perusahaan apabila dana tersebut diinvestasikan pada proyek atau usaha lain. Sehingga dalam upayanya mendapatkan nilai dari cost of equity dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan diantaranya adalah:

  1. Menambahkan sejumlah spread tertentu diatas cost of debt. Pertimbangan ini dapat digunakan mengingat besaran cost of equity selalu lebih besar daripada cost of debt dan besaran spread tersebut disesuaikan dengan imbalan yang diharapkan oleh investor dari setiap rupiah yang diinvestasikan.

  2. Menggunakan capital asset pricing model (CAPM), dimana cost of equity adalah sebesar tingkat bunga bebas risiko (risk free rate) ditambahkan dengan risk premium untuk menutupi risiko investasi tersebut.

COST OF DEBT

Saat suatu investasi dimana pembiayaan modal tidak menggunakan equity sepenuhnya dikarenakan menginginkan risk sharing, maka perusahaan tersebut dapat menggunakan debt yang kemudian akan menjadi discount factor adalah weighted average cost of capital.

Besarnya cost of debt dari perusahaan adalah senilai tingkat bunga pinjaman dari bank yang dikaitkan dengan kesehatan dan rating perusahaan. Hal tersebut dapat tercermin dari time interest earned yang tinggi, debt ratio yang relatif rendah dan rasio keuangan lainnya yang lebih baik dibandingkan perusahaan yang kurang sehat.

Cost of debt yang digunakan untuk usaha baru biasanya memiliki tambahan persyaratan yaitu kreditur (bank) menentukan struktur permodalan (hutang dibandingkan dengan modal sendiri) selain dari besaran tingkat bunga pinjaman yang dibebankan oleh kreditur. Sedangkan apabila investasi digunakan untuk penambahan kapasitas produksi dari perusahaan yang sudah memiliki rating dan pinjaman sebelumnya maka lebih fleksibel dalam penentuan struktur modalnya.