© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Pengambilan keputusan (Decision Making)?

Pengambilan keputusan

Pengambilan keputusan (Decision Making) merupakan pemilihan keputusan atau kebijakan yang didasarkan atas kriteria tertentu. Proses ini meliputi dua alternatif atau lebih karena seandainya hanya terdapat satu alternatif tidak akan ada satu keputusan yang akan diambil.

Berikut definisi pengambilan keputusan menurut beberapa ahli :

  • Menurut Beach & Connolly, pengambilan keputusan merupakan bagian dari suatu peristiwa yang meliputi diagnosa, seleksi tindakan dan implementasi.

  • menurut Suharnan (2005), pengambilan keputusan adalah proses memilih atau menentukan berbagai kemungkinan diantara situasi- situasi yang tidak pasti.

  • Sweeney dan Farlin mendefinisikan pengambilan keputusan sebagai proses dalam mengevaluasi satu atau lebih pilihan dengan tujuan untuk meraih hasil terbaik yang diharapkan.

  • Menurut Davis, pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.

  • Kinicki dan Kreitner mendefinisikan pengambilan keputusan sebagai proses mengidentifikasi dan memilih solusi yang mengarah pada hasil yang diinginkan.

  • Janis dan Mann menyebutkan: “Decision making as a matter of conflict resolution and avoidance behaviors due to situational factors”. Pengambilan keputusan adalah sebagai masalah dari resolusi konflik dan perilaku menghindari karena faktor-faktor situasional (Heredia, Arocena and Gárate, 2004).

  • Zaleny (1973) memberikan definisi sebagai berikut “Decison making is a dynamic process: a complex search for information, full of detours, enrich by feedback from casting about all directions gathering and discarding information”. Dapat diartikan bahwa pengambilan keputusan itu adalah sebuah proses yang dinamik, dimulai dari pencarian kompleks untuk informasi, penuh jalan memutar, memperkaya tanggapan dari pemilihan tentang segala arah mengumpulkan dan membuang informasi.

  • Menurut Stoner pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.

  • Moorhead dan Griffin (2010) berpendapat bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu proses pengambilan pilihan dari sejumlah alternatif yang didalamnya terdapat elemen-elemen informasi, tujuan, pilihan tindakan, kemungkinan tindakan-hasil, nilai yang berhubungan dngan tujuan setiap hasil dan salah satu pilihan tindakan.

  • Menurut Salusu (2004) pengambilan keputusan adalah proses memilih alternatif-alternatif bagaimana cara bertindak dengan metode efisien sesuai dengan situasi.

  • Menurut Ranyard (1997) proses pengambilan keputusan adalah proses yang memakan waktu yang lama dan melibatkan pencarian informasi, penilaian pertimbangan yang diikuti dengan proses penyesuaian diri terhadap dampak dari keputusan tersebut, dan pemahaman terhadap tujuan serta nilai-nilai yang mendasari keputusan tersebut.

Faktor-faktor Pengambilan Keputusan


Menurut Hasan (2002) dalam pengambilan keputusan ada beberapa faktor atau hal yang mempengaruhinya, faktor-faktor tersebut antara lain posisi atau kedudukan, masalah, situasi, kondisi dan tujuan.

  • Posisi/kedudukan
    Dalam kerangka pengambilan keputusan, posisi/kedudukan sesorang dapat dilihat dalam hal berikut.

    1. Letak posisi; dalam hal ini apakah ia sebagai pembuat keputusan, penentu keputusan, ataukah yang menjalani.
    2. Tingakatan posisi; dalam hal ini apakah sebagai strategi, policy, peraturan, organisasional, operasional, teknis.
  • Masalah
    Masalah adalah apa yang menjadi penghalang untuk tercapainya tujuan, yang merupakan penyimpangan dari pada apa yang diharapkan, direncanakan, atau dikehendaki dan harus diselesaikan.

  • Situasi
    Situasi adalah keseluruhan faktor-faktor dalam keadaan yang berkaitan satu sama lain dan yang secara sama-sama memancarkan pengaruh terhadap kita beserta apa yang hendak kita perbuat.

  • Kondisi
    Kondisi adalah keseluruhan dari faktor-faktor yang secara bersama-sama menentukan gaya gerak, daya berbuat atau kemampuan kita. Sebagian beasar faktor-faktor tersebut merupakan sumber daya-sumber daya.

  • Tujuan
    Tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan perorangan, tujuan unit (kesatuan), tujuan organisasi, maupun tujuan usaha, pada umumnya telah tertentu/telah ditentukan. Tujuan yang ditentukan dalam pengambilan keputusan merupakan tujuan antara atau objektif.

Menurut Terry, faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut.

  • Hal-hal yang berwujud dan tak berwujud, yang emosional maupun yang rasional.

  • Tujuan organisasi. Setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan sebagai bahan dalam pencapaian tujuan dari organisasi.

  • Orientasi. Keputusan yang diambil tidak boleh memiliki orientasi kepada diri pribadi, tetapi harus lebih berorientasi kepada kepentingan organisasi.

  • Alternatif-alternatif tandingan. Jarang sekali ada satu pilihan yang betul-betul memuaskan, karenanya, harus dibuat alternatif-alternatif tandingan.

  • Tindakan. Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental, karenanya harus diubah menjadi tindakan fisik.

  • Waktu. Pengambilan keputusan yang efektif memerlukan waktu dan proses yang lebih lama.

  • Kepraktisan. Dalam pengambilan keputusan diperlukan pengambil keputusan yang praktis untuk memperoleh hasil yang optimal (lebih baik).

  • Pelembagaan. Setiap keputusan yang diambil harus dilembagakan, agar dapat diketahui tingkat kebenarannya.

  • Kegiatan berikutnya. Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian mata rantai kegiatan berikutnya.

Menurut Millet, faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut.

  • Pria dan wanita. Pria pada umumnya bersifat lebih tegas atau berani dan cepat mengambil keputusan dan wanita umumnya relatif lebih lambat dan sering ragu-ragu.

  • Peranan pengambil keputusan. Peranan bagi orang yang mengambil keputusan itu perlu diperhatikan, mencakup kemampuan mengumpulkan informasi, kemampuan menganalisis dan menginterpretasikan, kemampuan menggunakan konsep yang cukup luas tentang perilaku manusia secara fisik untuk memperkirakan perkembangan-perkembangan hari depan yang lebih baik.

  • Keterbatasan kemampuan. Perlu disadari adanya kemampuan yang terbatas dalam pengambilan keputusan di bidang manajemen, yang dapat bersifat institusional ataupun bersifat pribadi.

Kemdal dan Montgomery mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan yaitu, Circumstances, Preferences, Emotions, Actions, dan Beliefs.

  • Circumstances : Dalam Bahasa Indonesia berarti keadaan sekitar.
    Kategori ini meliputi segala sesuatu yang stabil atau keluar dari kontrol pengambilan keputusan seperti peristiwa eksternal, komponen lingkungan, pengaruh dari orang lain, dan kualitas stabil. Keadaan relatif obyektif dalam arti bahwa orang lain mungkin memiliki akses untuk informasi yang dimaksud. Aspek ini berhubungan dengan adanya pengaruh eksternal dari individu, sehingga individu dapat mengambil keputusan karena mendapat masukan dari orang lain dan pandangan lingkungan sekitar. Contoh “Ibuku berfikir menikah adalah ide yang baik”; “Banyak berita yang beredar tentang mudahnya menjalani kehidupan sebagai pasangan muda”.

  • Preferences : berkaitan dengan keinginan, harapan dan tujuan yang bervariasi pada setiap individu.
    Preferensi termasuk segala sesuatu yang diinginkan dan lebih disukai pengambil keputusan, termasuk keinginan, mimpi, harapan, tujuan dan kepentingan. Mereka adalah tujuan-diarahkan dan kuat. Aspek ini berhubungan dengan faktor internal dalam diri individu. Contoh: “Aku berpikir kebebasan lebih penting daripada keamanan”; "Saya ingin memiliki rumah sendiri saat telah menikah”.

  • Emotions : reaksi negatif atau positif terhadap situasi, orang lain, dan alternatif-alternatif yang berbeda.
    Emosi mengacu pada suasana hati dan reaksi positif atau negatif terhadap situasi, orang dan alternatif yang berbeda. Contoh: “Ini adalah periode dalam hidup saya ketika saya merasa sangat tidak bahagia”; “Aku menyukainya saat aku bertemu dengannya.” Laporan emosi yang lebih dikodekan ke berbagai jenis emosi positif dan emosi negatif.

    • Emosi positif: Happiness (kondisi pikiran positif, misalnya, kepuasan, kesenangan, sukacita, kenyamanan); Cinta / Menyukai (fokus pada objek dinilai positif, misalnya, penghargaan, tarik, kasih sayang); Harapan (fokus pada kemungkinan, tetapi tidak yakin, situasi masa depan yang positif, misalnya, kerinduan, optimisme); Lega (fokus pada tidak adanya objek dinilai negatif).

    • Emosi negatif: Ketidakbahagiaan (keadaan negatif pikiran, misalnya, ketidakpuasan, kesedihan, kecanggungan, kebosanan); Benci/Dislike (fokus pada objek dinilai negatif, misalnya, tidak suka, jijik); Takut (fokus pada kemungkinan situasi negatif di masa depan dengan unsur-unsur ketidakpastian dan kurangnya kontrol, misalnya, khawatir, cemas, tidak aman); Malu/rasa bersalah, (evaluasi negatif dari diri sendiri atau orang lain dan atau tindakan); Menyesal (fokus pada konsekuensi negatif dari tindakan dan suatu hararapan yang berbeda); dan Ambivalensi (kesulitan memilih antara dua atau lebih kemungkinan sitausi di masa depan).

  • Actions : merupakan interaksi individu dengan lingkungan dalam pencarian informasi, berdiskusi dengan orang lain, membuat rencana, dan membuat komitmen.
    Dalam hal pengambilan keputusan menikah, individu akan berusaha untuk mencari informasi, berdiskusi dengan orang lain maupu pasangannya, ia juga akan membuat rencana dan komitmen bersama pasangannya. Contoh: "Saya berjanji untuk tetap berhubungan”; “Kami berjanji untuk mempertahankan hubungan ini dan melanjutkannya kejenjang yang lebih serius”

  • Beliefs : pembuktian dari apa yang diyakini atau dijadikan acuan, hal mengacu pada hipotesis dan teori, misalnya, tentang konsekuensi dari keputusan. Dalam pengambilan keputusan menikah, individu memiliki keyakinan terhadap hal-hal yang akan terjadi dalam pernikahannya atau konsekuensi dari pernikahan tersebut. Contoh: “Saya pikir kehidupan saya akan lebih baik saat saya telah menikah”; “Saya pikir tidak selalu menyedihkan kala menikah selagi masih menjadi mahasiswa”.

Faktor‐faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan individual dapat dibedakan menjadi dua faktor utama, yaitu :

  • Faktor internal, yang berasal dari dalam individu Faktor internal meliputi kreativitas individu, persepsi, nilai‐nilai yang dimiliki individu, motivasi dan kemampuan analisis permasalahan.

  • Faktor eksternal, yang berasal dari luar individu. Faktor eksternal meliputi rentang waktu dalam membuat keputusan, informasi dan komunitas individu saat mengambil keputusan, seperti peran pengaruh sosial maupun peran kelompok

Proses Pengambilan Keputusan


Lahirnya suatu keputusan tidak serta serta merta berlangsung secara sederhana begitu, sebab sebuah keputusan itu selalu saja lahir berdasarkan dari proses yang memakan waktu, tenaga dan pikiran hingga akhirnya terjadinya suatu pengkristalan dan lahirlah keputusan tersebut. Saat pengambilan keputusan adalah saat dimana kita sepenuhnya memilih kendali dalam bertindak sedangkan saat kejadian tak pasti adalah saat dimana sesuatu di luar diri kitalah yang menentukan apa yang akan terjadi artinya kendali diluar kemampuan kita. Selanjutnya yang dianggap penting adalah pertanggungjawaban dari keputusan itu sendiri kepada pihak yang berkepentingan.

Menurut Stephen Robbins dan Marry Coulter, proses pengambilan keputusan merupakan serangkaian tahap yang terdiri dari delapan langkah yang meliputi mengidentifikasi masalah, memilih suatu alternatif, dan mengevaluasi keputusan. Berikut urutan proses dalam pengambilan keputusan :

  • Mengidentifikasi Masalah
  • Mengidentifikasi Kriteria Keputusan
  • Memberi Bobot Pada Kriteria
  • Mengembangkan Alternatif- alternatif
  • Menganalisis Alternatif
  • Memilih Satu Alternatif
  • Melaksanakan Alternatif tersebut
  • Mengevaluasi Efektifitas Keputusan

Gaya Pengambilan Keputusan


Kuzgun mengidentifikasi bahwa terdapat 4 gaya dalam pengambilan keputusan, yaitu:

  • Rational (rasional)
    Gaya rasional ditandai dengan strategi yang sistematis dan planful dengan orientasi masa depan yang jelas. Para pembuat keputusan rasional menerima tanggung jawab untuk pilihan yang berasal dari internal locus of control dan aktif, disengaja dan logis.

  • Intutive (intuisi)
    Gaya intuisi ditandai dengan ketergantungan pada pengalaman batin, fantasi, dan kecenderungan untuk memutuskan dengan cepat tanpa banyak pertimbangan atau pengumpulan informasi. Para pengambil keputusan intuisi menerima tanggung jawab untuk pilihan, tetapi fokus pada emosional kesadaran diri, fantasi dan perasaan, sering secara impulsive.

  • Dependent (dependen)
    Gaya pengambilan keputusan dependen, menolak tanggung jawab atas pilihan mereka dan melibatkan tanggung jawab kepada orang lain, umumnya figur otoritas. Dalam arti lain, gaya keputusan ini cenderung atas keputusan orang lain yang mereka anggap sebagai figur otoritas (seperti orang tua, keluarga, teman)

  • Indecisiveness (keraguan)
    Gaya pengambilan keputusan Indecisiveness (keraguan) cenderung menghindari situasi pengambilan keputusan atau tanggung jawab terhadap orang lain. Secara signifikan orang ragu-ragu perlu lebih banyak waktu ketika mereka harus memilih suatu pilihan, tetapi mereka juga lebih selektif dan kurang lengkap dalam pencarian informasi.

Moorhead dan Griffin membagi gaya atau pendekatan pengambilan keputusan menjadi empat, yaitu pendekatan rasional, pendekatan keperilakuan, pendekatan praktis dan pendekatan personal.

  • Pendekatan pengambilan keputusan rasional (rational decision making approach) adalah sebuah proses langkah-demi-langkah yang sistematis untuk mengambil keputusan. Langkah-langkah dalam pengambilan keputusan ini yaitu:

    1. Menyatakan sasaran situasional
    2. Mengidentifikasi masalah
    3. Menentukan jenis keputusan
    4. Menghasilkan alternatif
    5. Mengevaluasi alternatif
    6. Memilih satu alternatif
    7. Menerapkan rencana
    8. Kendali: ukur dan sesuaikan
  • Pendekatan keperilakuan memiliki asumsi penting bahwa pengambil keputusan beroperasi dengan rasionalitas terbatas, bukan dengan rasionalitas sempurna yang diasumsikan oleh pendekatan rasional. Rasionalitas terbatas adalah gagasan bahwa pengambil keputusan tidak dapat menangani informasi seluruh aspek dan alternatif berkenaan dengan satu masalah sehingga memilih untuk menangani beberapa subset yang penting. Pendekatan keperilakuan digolongkan dengan :

    1. Penggunaan prosedur dan aturan baku,
    2. suboptimisasi, dan
    3. satisfaksi.
  • Pendekatan Praktis memiliki langkah-langkah seperti pada proses pendekatan rasional, tetapi kondisi-kondisi yang dikenali oleh pendekatan keperilakuan ditambahkan untuk menambahkan proses yang lebih realistis.

  • Pendekatan personal dalam hal ini dapat dilihat dari model yang dihadirkan Irving Janis dan Leon Mann, biasa disebut dengan model konflik. Didasarkan pada penelitian dalam psikologi sosial dan proses keputusan individual serta merupakan pendekatan yang sangat personal pada pengambilan keputusan.

Menurut Terry, gaya dari pengambilan keputusan yang berlaku adalah sebagai berikut:

  • Intuisi. Pengambilan keputusan yang berdasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif, sehingga mudah terkena pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi ini mengandung beberapa kelebihan dan kelemahan.

    Kelebihan dari gaya intuisi ini yaitu:

    1. Waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif lebih pendek.
    2. Untuk masalah yang pengaruhnya terbatas, pengambilan keputusan akan memberikan kepuasan pada umumnya.
    3. Kemampuan mengabil keputusan dari pengambil keputusan itu sangat berperan, dan itu perlu dimanfaatkan dengan baik.

    Kelemahannya antara lain sebagai berikut.

    1. Keputusan yang dihasilkan relatif kurang baik.
    2. Sulit mencari alat pembandingnya
    3. Dasar-dasar lain dalam pengambilan keputusan sering kali diabaikan.
  • Pengalaman. Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung ruginya, baik-buruknya keputusan yang akan dihasilkan. Karena pengalaman, sesorang yang menduga masalahnya walaupun hanya dengan melihat sepintas saja mungkin sudah dapat menduga cara penyelesaiaannya.

  • Fakta. Pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid, dan baik. Dengan fakta, maka tingkat keoercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan-keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada.

  • Wewenang. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhdap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya.

  • Rasional. Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan, konsisten untuk memaksimalkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan.

Pembuatan keputusan (decision making) berada di antara perumusan kebijakan dan implementasi, akan tetapi kedua hal tersebut saling terkait satu sama lain. Keputusan mempengaruhi implementasi dan implementasi tahap awal akan mempengaruhi tahap pembuatan keputusan yang pada gilirannya, akan mempengaruhi implementasi berikutnya.

Pembuatan keputusan bukanlah proses pasif. Keputusan adalah sebuah proses dan keputusan awal sering kali hanya merupakan sinyal penunjuk arah dorongan awal, yang nantinya akan mengalami revisi dan diberi spesifikasi, jika kita defenisikan pembuatan keputusan sebagai suatu proses penentuan pilihan, maka gagasan tentang keputusan akan menyangkut serangkaian poin dalam ruang dan waktu ketika pembuat kebijakan mengalokasikan nilai-nilai (values).

Pembuatan keputusan dalam pengertian ini ada diseluruh siklus kebijakan, misalnya: keputusan mengenai apa yang bias digolongkan sebagai “problem”, informasi apa yang harus dipilih, pemilihan startegi untuk mempengaruhu kebijakan, pemilihan opsi-opsi kebijakan yang harus dipertimbangkan, pemilihan cara menyeleksi opsi, dan pemilihan cara-cara mengevaluasi kebijakan-kebijakan. Pada masing-masing poin tersebut terdapat proses pembuatan keputusan.

Beberapa keputusan melibatkan alokasi nilai dan distribusi sumbeer daya melalui perumusan kebijakan, atau melalui pelaksanaan program. Karenanya pembuatan keputusan etrjadi di arena dan level yang berbeda-beda. Pada satu level ada keputusan oleh actor kebijakan tinggi (high policy actor) untuk membuat kebijakan kesehatan nasional atau kebijakan dalam bidang ekonomi. Pada level lainnya ada keputusan dari aktor lain. Beberapa keputusan lebih signifikan ketimbang keputusan lainnya, dan beberapa keputusan lain kurang signifikan dibandingkan keputusan lainnya. Pemerintahan modern harus dilihat sebagai aktivitas penyusunan kebijakan yang kompleks dan berlapis-lapis, dimana penyusunan ini dilakukan dibanyak titik yang berbeda-beda.Dalam rangka pengambilan keputusan dari sebuah kebijakan terdapat berbagai factor yang dapat mempengaruhi pembuatan keputusan (Parsons, 2006:249).

Pendekatan-Pendekatan dalam Pengambilan Keputusan

Terdapat beberapa pendekatan yang menjadi faktor yang mempengaruhi pembuatan keputusan, antara lain: (Parsons, 2006: 274-326)

1. Pendekatan Rasionalitas

Pendekatan rasional untuk pembuatan keputusan memiliki dua konteks atau sumber yaitu :

  • Ide rasionalitas ekonomi seperti yang dikembangkan dalam teori ekonomi
  • Ide rasionalitas birokratis seperti dirumuskann oleh teori sosiologis tentang organisasi dan masyarakat itu sendiri.

Sebuah pendekaatan ideal pengambilan keputusan kebijakan publik secara rasional terdiri dari „seorang individu rasional‟ yang menempuh aktifitas- aktifitas berikut ini secara berurutan:

  1. Menentukan sebuah tujuan untuk memecahkan sebuah masalah
  2. Seluruh alternatif strategi untuk mencapai tujuan itu dieksplorasi dan didaftar
  3. Segala konsekuensi yang signifikan untuk setiap alternatif diperkirakan dan kemungkinan munculnya setiap konsekuensi diperhitungkan.
  4. Terakhir, strategi yang paling dekat dengan pemecahan masalah atau bisa memecahkan masalah dengan biaya paling rendah dipilih berdasarkan kalkulasi tersebut.

Pendekatan rasional adalah „rasional‟ dalam pengertian bahwa pendekatan tersebut memberikan preskripsi berbagai prosedur pengambilan keputusan yang akan menghasilkan pilihan cara yang paling efisien untuk mencapai tujuan kebijakan. Teori-teori rasionalis berakar dalam aliran-aliran pemikiran positifisme dan rasionalisme jaman pencerahan yang berusaha untuk mengembangkan pengetahuan yang ilmiah untuk meningkatkan kondisi hidup manusia. Ide-ide ini didasarkan pada keyakinan bahwa berbagai permasalahan sosial seharusnya diselesaikan

2. Pendekatan Kekuasaan

Pendekatan kekuasaan (power) memandang pembuatan keputusan sebagai sesuatu yang dibentuk dan ditentukan oleh struktur kekuasaan: kelas, orang kaya, tatanan birokratis, dan tatanan politik, kelompok penekan, dan kalangan professional atau ahli pengetahuan teknis. Enam macam pendekatan kekuasaan dalam pembuatan keputusan:

  • Elitisme: berfokus pada cara kekuasaan dikonsentrasikan.
    Model proses kebijakan elitis berpendapat bahwa kekuasaan terkosensentrasi ditangan sebagian orang atau kelompok. Menurut model ini pembuatan keputusan adalah proses yang dilaksanakan demi keuntungan elit-elit tertentu. Sebagai sebuah model pembuatan keputusan, tujuan elitism didasarka pada analisis terhadap cara dunia riil berjalan. Dikatakan bahwa dalam dunia riil ada pihak-pihak yang berada diatas yang memegang kekuasaan dan ada massa yang tidak memegang kekuasaan. Model ini berasal dari ilmu social modern, yakni berakar pada pendapat seorang ahli yaitu Karl Marx, yang berpendapat bahwa elitisme adalah sesuatu yang tak bisa dihinda; masyarakat tanpa kelas adalah mitos, dan demokrasi tal lebih adalah sekedar pura-pura. Demokrasi juga dapat dilihat sebagai sebentuk politik, dimana elit-elit politik bersaing untuk mendapatkan suara dari rakyat guna mengamankan legitimasi kekuasaan.

  • Pluralisme: berfokus pada cara kekuasaan didistribusikan.
    Dalam mengkaji kebijakan publik, kaum pluralis cenderung mengasumsikan kebijakan public pada dasarnya adalah hasil dari persaingan bebas antara ide dan kepentingan. Kekuasaan dianggap didistribusikan secara luas dan system politik sangat teratur sehingga proses politik pada esensinya dikendalikan oleh tuntutan dan opini public. Di wilayah pluralis, partisipasi dalam permainan politik etrbuka untuk semua orang, akan tetapi pandangan demokrasi liberal ini ditentang karena banyak pihak yang beranggapan tidak selalu benar bahwa orang dengan kebutuhan yang banyak akan paling aktif berpartisipasi dalam pentas politik. Barang siapa yang menentukan permainan apa yang akan berlaku maka ia berhak menentukan siapa yang ikut dalam permainan politik itu sendiri.

  • Marxisme: berfokus pada konflik kelas dan kekuasaan ekonomi.
    Gagasan bahwa problem dan agenda adalah satu set dalam satu dimensi yang tidak bisa diamati secara behavioral adalah gagasan yang bisa dijumpai dalam teori-teori yang lebih luas, yang bisa kita sebut teori mendalam. Teori mendalam ini menyatakan bahwa pelaksanaan kekuasaan dalam mendefenisikan problem dan menetapkan agenda adalah sesuatu yang terjadi di tingkat yang lebih dalam ketimbang yang kita lihat dipermukaan atau di level keputusan.

  • Korporatisme: berfokus pada kekuasaan kepentingan yang terorganisir.
    Korporatisme adalah istilah yang berasal dari abad pertengahan dan dalam gerakan fasis pada periode antar perang dunia. Istilah ini mengandung teori tentang masyarakat yang didasarkan pada pelibatan kelompok-kelompok dalam proses pembuatan kebijakan Negara sebagai mode untuk mengatasi konflik kepentingan. Akan tetapi sebagai kerangka analitis yang dikennal sebagai neo-korporatisme telah ternoda, lebih banyak ketimbang konsep lainnya. Istilah ini menjadi teori popular pada 1970-an dan 1980-an sebagai explanatory, dan mungkin yang lebih signifikan sebagai alat yang dipakai para politisi dan kelompok lainnya.

  • Profesionalisme: berfokus pada kekuasaan kalangan professional.
    Perhatian utama dalam analisis kebijakan kontemporer adalah sejauh mana elit professional mendapatkan kekuasaan dalam pembuatan keputusan dan dalam implementasi kebijakan public di dalam demokrasi liberal.Aliran liberal, khususnya, mengkritik cara dimana pertumbuhan big government membuat pembuatan keputusan menjadi dikuasai oleh kelompok professional yang lebih tertarik pada pengambilan keuntungan dan kepentingan mereka sendiri ketimbang kepentingan public yang mereka layani.

  • Teknokrasi: berfokus pada kekuasaan pakar teknis.
    Model pembuatan keputusan ini menganggap masyarakat sebagai entitas yang bergerak menuju aturan berdasarkan rasionalitas ilmiah. Model ini adalah ide-ide yang banyak diexplorasi dalam fiksi sains, dan merupakan tema esensial dari para filsup. Model ini menopang teori manajemen. Sebagai gerakan social, teknokrasi muncul di AS sebelum perang dunia pertama. Pada periode antara dua perang dunia, kampanye mendukung agar masyarakat diatur secara rasional.

3. Pendekatan Pilihan Publik

Para ahli teori kekuasaan birokrasi dalm proses pembuatan keputusan mengatakan bahwa salah satu karakteristik utama dari negara modern adalah cara dimana kekuasaan birokratis, atau teknokratik, semakin bertambah dengan melayani kepentingan “dirinya sendiri” daripada melayani kepentingan public. Fokus pada birokrasi sangat penting untuk menganut aliran pilihan public (public choice), yang ide-idenya sangat berpengaruh dalam penentuan agenda politik pada akhir 1970-an.Asal-usul pendekatan ini bisa ditemui dalam karya Gordon Tallock dan Anthony Dawson.

Perhatian mereka adalah pada alasan dan motivasi dari agen-agen administrative dan departemen pemerintahan. Sebagai aliran teori, pengaruh mereka terhadap agenda politik, terutama di Inggris dan AS, tidak bisa diremehkan.Alasan dibalik pengaruh ini adalah fakta bahwa argument pilihan public tentang ketidakefisienan dan pembengkakan birokratis telah didukung oleh think thank partai-partai politik. Karya Gordon Tullock umumnya dianggap sebagai kontribusi paling awal untuk pendekatan pilihan publik.

4. Pendekatan Institusional

Pendekatan kebijakan sebagian besar berkembang dari kekecewaan terhadap pendekatan yang murni pada politik, yakni dari segi eksekutif, legislative, dan konstitusi.Kotak hitan David Easton memberikan prosfek analisis yang melihat pada politik dan kebijakan dengan cara yang mengabaikan institusi dan konstitusi dan lebih menitikberatkan pada proses kebijakan secara keseluruhan. Akan tetapi, belakangan muncul kesadaran akan arti penting penempatan kebijakan public dalam konteks institusi.

Terdapat tiga kerangka analisis institusional:

  • Institusionalisme sosiologis;
  • Institusionalisme ekonomi;
  • Institusionalisme politik

Kerangka pertama adalah sezaman dengan fungsionalisme structural David Easton. Perhatiannya melampaui struktur formal dari institusi- institusi dan mengkaji apa yang institusi lakukan atau apa fungsinya, dan bagaimana mereka menjalankan fungsi itu dalam realitas, yang berbeda dengan gagasan tipe rasional.Sebagai sebuah pendekatan, kerangka ini orientasinya empiris dan penyampaian gagasannya melalui studi kasus yang mudah difahami, bukan dengan model teoritis yang biasa dipakai dalam teori ekonomi.

Institualisme sosiologis lebih memilih pendekatan historis untuk studi kasus, dan berbeda dengan institualisme ekonomi yang lebih focus pada institusi perusahaan. Di lain pihak, instutusi ekonomi berkembang dari teori-teori perusahaan yang aplikasinya utamanya dalan hal analisis ekonomi. Ada beberapa upaya untuk mengaplikasikan teori-teori tersebut untuk pembaruan institusi politik maupun kebijakan public. Pendekatan yang berasal dari arah lain, seperti teori hubungan antara masyarakat dan Negara, dan konsekuensinya defenisi institusi mereka berbeda.Jadi, meski mereka bersama-sama menitikberatkan pada soal institusi, namun mereka berbeda dalam hal lain, seperti apa makna dari konsep institusi itu sesungguhnya. Masing-masing memberikan pandangan yang berbeda tentang bagaimana institusi membentuk cara pengambilan keputusan, dan khususnya dalam institualisme ekonomi, tentang bagaimana institusi itu disusun agar bisa berfungsi secara efisien.

5. Pendekatan Informasional/Psikologis

Pendekatan informasional/psikologis yaitu pendekatan mengenai bagaimana ide, model, metafora yang dikemukakan dalam disiplin-displin ini dapat membantu menganalisis pembuatan keputusan di daam dan untuk proses kebijakan. Psikologi banyak memberi kontribusi dalam dan untuk proses kebijakan.

Terdapat dua pendekatan utama untuk pembuatan keputusan yang berasal dari teori psikologi dan informasi yaitu :

  • pendekatan pembuatan keputusan yang memfokuskan pada faktor-faktor
    seperti emosi manusia, personalitas, motivasi, perilaku kelompok dan hubungan interpersonal;

  • pendekatan yang berhubungan dengan isu-isu seperti bagaimana manusia mengenali problem, bagaimana mereka menggunakan informasi, bagaimana mereka membuat pilihan atas berbagai opsi, bagaimana mereka memahami realitas atau masalah, bagaimana informasi diproses, dan bagaimana informasi dikomunikasikan dalam organisasi.

1 Like