Apa yang dimaksud dengan Pengambilan keputusan (Decision Making)?

Pengambilan keputusan

Pengambilan keputusan (Decision Making) merupakan pemilihan keputusan atau kebijakan yang didasarkan atas kriteria tertentu. Proses ini meliputi dua alternatif atau lebih karena seandainya hanya terdapat satu alternatif tidak akan ada satu keputusan yang akan diambil.

1 Like

Berikut definisi pengambilan keputusan menurut beberapa ahli :

  • Menurut Beach & Connolly, pengambilan keputusan merupakan bagian dari suatu peristiwa yang meliputi diagnosa, seleksi tindakan dan implementasi.

  • menurut Suharnan (2005), pengambilan keputusan adalah proses memilih atau menentukan berbagai kemungkinan diantara situasi- situasi yang tidak pasti.

  • Sweeney dan Farlin mendefinisikan pengambilan keputusan sebagai proses dalam mengevaluasi satu atau lebih pilihan dengan tujuan untuk meraih hasil terbaik yang diharapkan.

  • Menurut Davis, pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.

  • Kinicki dan Kreitner mendefinisikan pengambilan keputusan sebagai proses mengidentifikasi dan memilih solusi yang mengarah pada hasil yang diinginkan.

  • Janis dan Mann menyebutkan: “Decision making as a matter of conflict resolution and avoidance behaviors due to situational factors”. Pengambilan keputusan adalah sebagai masalah dari resolusi konflik dan perilaku menghindari karena faktor-faktor situasional (Heredia, Arocena and Gárate, 2004).

  • Zaleny (1973) memberikan definisi sebagai berikut “Decison making is a dynamic process: a complex search for information, full of detours, enrich by feedback from casting about all directions gathering and discarding information”. Dapat diartikan bahwa pengambilan keputusan itu adalah sebuah proses yang dinamik, dimulai dari pencarian kompleks untuk informasi, penuh jalan memutar, memperkaya tanggapan dari pemilihan tentang segala arah mengumpulkan dan membuang informasi.

  • Menurut Stoner pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.

  • Moorhead dan Griffin (2010) berpendapat bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu proses pengambilan pilihan dari sejumlah alternatif yang didalamnya terdapat elemen-elemen informasi, tujuan, pilihan tindakan, kemungkinan tindakan-hasil, nilai yang berhubungan dngan tujuan setiap hasil dan salah satu pilihan tindakan.

  • Menurut Salusu (2004) pengambilan keputusan adalah proses memilih alternatif-alternatif bagaimana cara bertindak dengan metode efisien sesuai dengan situasi.

  • Menurut Ranyard (1997) proses pengambilan keputusan adalah proses yang memakan waktu yang lama dan melibatkan pencarian informasi, penilaian pertimbangan yang diikuti dengan proses penyesuaian diri terhadap dampak dari keputusan tersebut, dan pemahaman terhadap tujuan serta nilai-nilai yang mendasari keputusan tersebut.

Faktor-faktor Pengambilan Keputusan


Menurut Hasan (2002) dalam pengambilan keputusan ada beberapa faktor atau hal yang mempengaruhinya, faktor-faktor tersebut antara lain posisi atau kedudukan, masalah, situasi, kondisi dan tujuan.

  • Posisi/kedudukan
    Dalam kerangka pengambilan keputusan, posisi/kedudukan sesorang dapat dilihat dalam hal berikut.

    1. Letak posisi; dalam hal ini apakah ia sebagai pembuat keputusan, penentu keputusan, ataukah yang menjalani.
    2. Tingakatan posisi; dalam hal ini apakah sebagai strategi, policy, peraturan, organisasional, operasional, teknis.
  • Masalah
    Masalah adalah apa yang menjadi penghalang untuk tercapainya tujuan, yang merupakan penyimpangan dari pada apa yang diharapkan, direncanakan, atau dikehendaki dan harus diselesaikan.

  • Situasi
    Situasi adalah keseluruhan faktor-faktor dalam keadaan yang berkaitan satu sama lain dan yang secara sama-sama memancarkan pengaruh terhadap kita beserta apa yang hendak kita perbuat.

  • Kondisi
    Kondisi adalah keseluruhan dari faktor-faktor yang secara bersama-sama menentukan gaya gerak, daya berbuat atau kemampuan kita. Sebagian beasar faktor-faktor tersebut merupakan sumber daya-sumber daya.

  • Tujuan
    Tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan perorangan, tujuan unit (kesatuan), tujuan organisasi, maupun tujuan usaha, pada umumnya telah tertentu/telah ditentukan. Tujuan yang ditentukan dalam pengambilan keputusan merupakan tujuan antara atau objektif.

Menurut Terry, faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut.

  • Hal-hal yang berwujud dan tak berwujud, yang emosional maupun yang rasional.

  • Tujuan organisasi. Setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan sebagai bahan dalam pencapaian tujuan dari organisasi.

  • Orientasi. Keputusan yang diambil tidak boleh memiliki orientasi kepada diri pribadi, tetapi harus lebih berorientasi kepada kepentingan organisasi.

  • Alternatif-alternatif tandingan. Jarang sekali ada satu pilihan yang betul-betul memuaskan, karenanya, harus dibuat alternatif-alternatif tandingan.

  • Tindakan. Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental, karenanya harus diubah menjadi tindakan fisik.

  • Waktu. Pengambilan keputusan yang efektif memerlukan waktu dan proses yang lebih lama.

  • Kepraktisan. Dalam pengambilan keputusan diperlukan pengambil keputusan yang praktis untuk memperoleh hasil yang optimal (lebih baik).

  • Pelembagaan. Setiap keputusan yang diambil harus dilembagakan, agar dapat diketahui tingkat kebenarannya.

  • Kegiatan berikutnya. Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian mata rantai kegiatan berikutnya.

Menurut Millet, faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut.

  • Pria dan wanita. Pria pada umumnya bersifat lebih tegas atau berani dan cepat mengambil keputusan dan wanita umumnya relatif lebih lambat dan sering ragu-ragu.

  • Peranan pengambil keputusan. Peranan bagi orang yang mengambil keputusan itu perlu diperhatikan, mencakup kemampuan mengumpulkan informasi, kemampuan menganalisis dan menginterpretasikan, kemampuan menggunakan konsep yang cukup luas tentang perilaku manusia secara fisik untuk memperkirakan perkembangan-perkembangan hari depan yang lebih baik.

  • Keterbatasan kemampuan. Perlu disadari adanya kemampuan yang terbatas dalam pengambilan keputusan di bidang manajemen, yang dapat bersifat institusional ataupun bersifat pribadi.

Kemdal dan Montgomery mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan yaitu, Circumstances, Preferences, Emotions, Actions, dan Beliefs.

  • Circumstances : Dalam Bahasa Indonesia berarti keadaan sekitar.
    Kategori ini meliputi segala sesuatu yang stabil atau keluar dari kontrol pengambilan keputusan seperti peristiwa eksternal, komponen lingkungan, pengaruh dari orang lain, dan kualitas stabil. Keadaan relatif obyektif dalam arti bahwa orang lain mungkin memiliki akses untuk informasi yang dimaksud. Aspek ini berhubungan dengan adanya pengaruh eksternal dari individu, sehingga individu dapat mengambil keputusan karena mendapat masukan dari orang lain dan pandangan lingkungan sekitar. Contoh “Ibuku berfikir menikah adalah ide yang baik”; “Banyak berita yang beredar tentang mudahnya menjalani kehidupan sebagai pasangan muda”.

  • Preferences : berkaitan dengan keinginan, harapan dan tujuan yang bervariasi pada setiap individu.
    Preferensi termasuk segala sesuatu yang diinginkan dan lebih disukai pengambil keputusan, termasuk keinginan, mimpi, harapan, tujuan dan kepentingan. Mereka adalah tujuan-diarahkan dan kuat. Aspek ini berhubungan dengan faktor internal dalam diri individu. Contoh: “Aku berpikir kebebasan lebih penting daripada keamanan”; "Saya ingin memiliki rumah sendiri saat telah menikah”.

  • Emotions : reaksi negatif atau positif terhadap situasi, orang lain, dan alternatif-alternatif yang berbeda.
    Emosi mengacu pada suasana hati dan reaksi positif atau negatif terhadap situasi, orang dan alternatif yang berbeda. Contoh: “Ini adalah periode dalam hidup saya ketika saya merasa sangat tidak bahagia”; “Aku menyukainya saat aku bertemu dengannya.” Laporan emosi yang lebih dikodekan ke berbagai jenis emosi positif dan emosi negatif.

    • Emosi positif: Happiness (kondisi pikiran positif, misalnya, kepuasan, kesenangan, sukacita, kenyamanan); Cinta / Menyukai (fokus pada objek dinilai positif, misalnya, penghargaan, tarik, kasih sayang); Harapan (fokus pada kemungkinan, tetapi tidak yakin, situasi masa depan yang positif, misalnya, kerinduan, optimisme); Lega (fokus pada tidak adanya objek dinilai negatif).

    • Emosi negatif: Ketidakbahagiaan (keadaan negatif pikiran, misalnya, ketidakpuasan, kesedihan, kecanggungan, kebosanan); Benci/Dislike (fokus pada objek dinilai negatif, misalnya, tidak suka, jijik); Takut (fokus pada kemungkinan situasi negatif di masa depan dengan unsur-unsur ketidakpastian dan kurangnya kontrol, misalnya, khawatir, cemas, tidak aman); Malu/rasa bersalah, (evaluasi negatif dari diri sendiri atau orang lain dan atau tindakan); Menyesal (fokus pada konsekuensi negatif dari tindakan dan suatu hararapan yang berbeda); dan Ambivalensi (kesulitan memilih antara dua atau lebih kemungkinan sitausi di masa depan).

  • Actions : merupakan interaksi individu dengan lingkungan dalam pencarian informasi, berdiskusi dengan orang lain, membuat rencana, dan membuat komitmen.
    Dalam hal pengambilan keputusan menikah, individu akan berusaha untuk mencari informasi, berdiskusi dengan orang lain maupu pasangannya, ia juga akan membuat rencana dan komitmen bersama pasangannya. Contoh: "Saya berjanji untuk tetap berhubungan”; “Kami berjanji untuk mempertahankan hubungan ini dan melanjutkannya kejenjang yang lebih serius”

  • Beliefs : pembuktian dari apa yang diyakini atau dijadikan acuan, hal mengacu pada hipotesis dan teori, misalnya, tentang konsekuensi dari keputusan. Dalam pengambilan keputusan menikah, individu memiliki keyakinan terhadap hal-hal yang akan terjadi dalam pernikahannya atau konsekuensi dari pernikahan tersebut. Contoh: “Saya pikir kehidupan saya akan lebih baik saat saya telah menikah”; “Saya pikir tidak selalu menyedihkan kala menikah selagi masih menjadi mahasiswa”.

Faktor‐faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan individual dapat dibedakan menjadi dua faktor utama, yaitu :

  • Faktor internal, yang berasal dari dalam individu Faktor internal meliputi kreativitas individu, persepsi, nilai‐nilai yang dimiliki individu, motivasi dan kemampuan analisis permasalahan.

  • Faktor eksternal, yang berasal dari luar individu. Faktor eksternal meliputi rentang waktu dalam membuat keputusan, informasi dan komunitas individu saat mengambil keputusan, seperti peran pengaruh sosial maupun peran kelompok

Proses Pengambilan Keputusan


Lahirnya suatu keputusan tidak serta serta merta berlangsung secara sederhana begitu, sebab sebuah keputusan itu selalu saja lahir berdasarkan dari proses yang memakan waktu, tenaga dan pikiran hingga akhirnya terjadinya suatu pengkristalan dan lahirlah keputusan tersebut. Saat pengambilan keputusan adalah saat dimana kita sepenuhnya memilih kendali dalam bertindak sedangkan saat kejadian tak pasti adalah saat dimana sesuatu di luar diri kitalah yang menentukan apa yang akan terjadi artinya kendali diluar kemampuan kita. Selanjutnya yang dianggap penting adalah pertanggungjawaban dari keputusan itu sendiri kepada pihak yang berkepentingan.

Menurut Stephen Robbins dan Marry Coulter, proses pengambilan keputusan merupakan serangkaian tahap yang terdiri dari delapan langkah yang meliputi mengidentifikasi masalah, memilih suatu alternatif, dan mengevaluasi keputusan. Berikut urutan proses dalam pengambilan keputusan :

  • Mengidentifikasi Masalah
  • Mengidentifikasi Kriteria Keputusan
  • Memberi Bobot Pada Kriteria
  • Mengembangkan Alternatif- alternatif
  • Menganalisis Alternatif
  • Memilih Satu Alternatif
  • Melaksanakan Alternatif tersebut
  • Mengevaluasi Efektifitas Keputusan

Gaya Pengambilan Keputusan


Kuzgun mengidentifikasi bahwa terdapat 4 gaya dalam pengambilan keputusan, yaitu:

  • Rational (rasional)
    Gaya rasional ditandai dengan strategi yang sistematis dan planful dengan orientasi masa depan yang jelas. Para pembuat keputusan rasional menerima tanggung jawab untuk pilihan yang berasal dari internal locus of control dan aktif, disengaja dan logis.

  • Intutive (intuisi)
    Gaya intuisi ditandai dengan ketergantungan pada pengalaman batin, fantasi, dan kecenderungan untuk memutuskan dengan cepat tanpa banyak pertimbangan atau pengumpulan informasi. Para pengambil keputusan intuisi menerima tanggung jawab untuk pilihan, tetapi fokus pada emosional kesadaran diri, fantasi dan perasaan, sering secara impulsive.

  • Dependent (dependen)
    Gaya pengambilan keputusan dependen, menolak tanggung jawab atas pilihan mereka dan melibatkan tanggung jawab kepada orang lain, umumnya figur otoritas. Dalam arti lain, gaya keputusan ini cenderung atas keputusan orang lain yang mereka anggap sebagai figur otoritas (seperti orang tua, keluarga, teman)

  • Indecisiveness (keraguan)
    Gaya pengambilan keputusan Indecisiveness (keraguan) cenderung menghindari situasi pengambilan keputusan atau tanggung jawab terhadap orang lain. Secara signifikan orang ragu-ragu perlu lebih banyak waktu ketika mereka harus memilih suatu pilihan, tetapi mereka juga lebih selektif dan kurang lengkap dalam pencarian informasi.

Moorhead dan Griffin membagi gaya atau pendekatan pengambilan keputusan menjadi empat, yaitu pendekatan rasional, pendekatan keperilakuan, pendekatan praktis dan pendekatan personal.

  • Pendekatan pengambilan keputusan rasional (rational decision making approach) adalah sebuah proses langkah-demi-langkah yang sistematis untuk mengambil keputusan. Langkah-langkah dalam pengambilan keputusan ini yaitu:

    1. Menyatakan sasaran situasional
    2. Mengidentifikasi masalah
    3. Menentukan jenis keputusan
    4. Menghasilkan alternatif
    5. Mengevaluasi alternatif
    6. Memilih satu alternatif
    7. Menerapkan rencana
    8. Kendali: ukur dan sesuaikan
  • Pendekatan keperilakuan memiliki asumsi penting bahwa pengambil keputusan beroperasi dengan rasionalitas terbatas, bukan dengan rasionalitas sempurna yang diasumsikan oleh pendekatan rasional. Rasionalitas terbatas adalah gagasan bahwa pengambil keputusan tidak dapat menangani informasi seluruh aspek dan alternatif berkenaan dengan satu masalah sehingga memilih untuk menangani beberapa subset yang penting. Pendekatan keperilakuan digolongkan dengan :

    1. Penggunaan prosedur dan aturan baku,
    2. suboptimisasi, dan
    3. satisfaksi.
  • Pendekatan Praktis memiliki langkah-langkah seperti pada proses pendekatan rasional, tetapi kondisi-kondisi yang dikenali oleh pendekatan keperilakuan ditambahkan untuk menambahkan proses yang lebih realistis.

  • Pendekatan personal dalam hal ini dapat dilihat dari model yang dihadirkan Irving Janis dan Leon Mann, biasa disebut dengan model konflik. Didasarkan pada penelitian dalam psikologi sosial dan proses keputusan individual serta merupakan pendekatan yang sangat personal pada pengambilan keputusan.

Menurut Terry, gaya dari pengambilan keputusan yang berlaku adalah sebagai berikut:

  • Intuisi. Pengambilan keputusan yang berdasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif, sehingga mudah terkena pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi ini mengandung beberapa kelebihan dan kelemahan.

    Kelebihan dari gaya intuisi ini yaitu:

    1. Waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif lebih pendek.
    2. Untuk masalah yang pengaruhnya terbatas, pengambilan keputusan akan memberikan kepuasan pada umumnya.
    3. Kemampuan mengabil keputusan dari pengambil keputusan itu sangat berperan, dan itu perlu dimanfaatkan dengan baik.

    Kelemahannya antara lain sebagai berikut.

    1. Keputusan yang dihasilkan relatif kurang baik.
    2. Sulit mencari alat pembandingnya
    3. Dasar-dasar lain dalam pengambilan keputusan sering kali diabaikan.
  • Pengalaman. Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung ruginya, baik-buruknya keputusan yang akan dihasilkan. Karena pengalaman, sesorang yang menduga masalahnya walaupun hanya dengan melihat sepintas saja mungkin sudah dapat menduga cara penyelesaiaannya.

  • Fakta. Pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid, dan baik. Dengan fakta, maka tingkat keoercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan-keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada.

  • Wewenang. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhdap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya.

  • Rasional. Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan, konsisten untuk memaksimalkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan.

Pembuatan keputusan (decision making) berada di antara perumusan kebijakan dan implementasi, akan tetapi kedua hal tersebut saling terkait satu sama lain. Keputusan mempengaruhi implementasi dan implementasi tahap awal akan mempengaruhi tahap pembuatan keputusan yang pada gilirannya, akan mempengaruhi implementasi berikutnya.

Pembuatan keputusan bukanlah proses pasif. Keputusan adalah sebuah proses dan keputusan awal sering kali hanya merupakan sinyal penunjuk arah dorongan awal, yang nantinya akan mengalami revisi dan diberi spesifikasi, jika kita defenisikan pembuatan keputusan sebagai suatu proses penentuan pilihan, maka gagasan tentang keputusan akan menyangkut serangkaian poin dalam ruang dan waktu ketika pembuat kebijakan mengalokasikan nilai-nilai (values).

Pembuatan keputusan dalam pengertian ini ada diseluruh siklus kebijakan, misalnya: keputusan mengenai apa yang bias digolongkan sebagai “problem”, informasi apa yang harus dipilih, pemilihan startegi untuk mempengaruhu kebijakan, pemilihan opsi-opsi kebijakan yang harus dipertimbangkan, pemilihan cara menyeleksi opsi, dan pemilihan cara-cara mengevaluasi kebijakan-kebijakan. Pada masing-masing poin tersebut terdapat proses pembuatan keputusan.

Beberapa keputusan melibatkan alokasi nilai dan distribusi sumbeer daya melalui perumusan kebijakan, atau melalui pelaksanaan program. Karenanya pembuatan keputusan etrjadi di arena dan level yang berbeda-beda. Pada satu level ada keputusan oleh actor kebijakan tinggi (high policy actor) untuk membuat kebijakan kesehatan nasional atau kebijakan dalam bidang ekonomi. Pada level lainnya ada keputusan dari aktor lain. Beberapa keputusan lebih signifikan ketimbang keputusan lainnya, dan beberapa keputusan lain kurang signifikan dibandingkan keputusan lainnya. Pemerintahan modern harus dilihat sebagai aktivitas penyusunan kebijakan yang kompleks dan berlapis-lapis, dimana penyusunan ini dilakukan dibanyak titik yang berbeda-beda.Dalam rangka pengambilan keputusan dari sebuah kebijakan terdapat berbagai factor yang dapat mempengaruhi pembuatan keputusan (Parsons, 2006:249).

Pendekatan-Pendekatan dalam Pengambilan Keputusan

Terdapat beberapa pendekatan yang menjadi faktor yang mempengaruhi pembuatan keputusan, antara lain: (Parsons, 2006: 274-326)

1. Pendekatan Rasionalitas

Pendekatan rasional untuk pembuatan keputusan memiliki dua konteks atau sumber yaitu :

  • Ide rasionalitas ekonomi seperti yang dikembangkan dalam teori ekonomi
  • Ide rasionalitas birokratis seperti dirumuskann oleh teori sosiologis tentang organisasi dan masyarakat itu sendiri.

Sebuah pendekaatan ideal pengambilan keputusan kebijakan publik secara rasional terdiri dari „seorang individu rasional‟ yang menempuh aktifitas- aktifitas berikut ini secara berurutan:

  1. Menentukan sebuah tujuan untuk memecahkan sebuah masalah
  2. Seluruh alternatif strategi untuk mencapai tujuan itu dieksplorasi dan didaftar
  3. Segala konsekuensi yang signifikan untuk setiap alternatif diperkirakan dan kemungkinan munculnya setiap konsekuensi diperhitungkan.
  4. Terakhir, strategi yang paling dekat dengan pemecahan masalah atau bisa memecahkan masalah dengan biaya paling rendah dipilih berdasarkan kalkulasi tersebut.

Pendekatan rasional adalah „rasional‟ dalam pengertian bahwa pendekatan tersebut memberikan preskripsi berbagai prosedur pengambilan keputusan yang akan menghasilkan pilihan cara yang paling efisien untuk mencapai tujuan kebijakan. Teori-teori rasionalis berakar dalam aliran-aliran pemikiran positifisme dan rasionalisme jaman pencerahan yang berusaha untuk mengembangkan pengetahuan yang ilmiah untuk meningkatkan kondisi hidup manusia. Ide-ide ini didasarkan pada keyakinan bahwa berbagai permasalahan sosial seharusnya diselesaikan

2. Pendekatan Kekuasaan

Pendekatan kekuasaan (power) memandang pembuatan keputusan sebagai sesuatu yang dibentuk dan ditentukan oleh struktur kekuasaan: kelas, orang kaya, tatanan birokratis, dan tatanan politik, kelompok penekan, dan kalangan professional atau ahli pengetahuan teknis. Enam macam pendekatan kekuasaan dalam pembuatan keputusan:

  • Elitisme: berfokus pada cara kekuasaan dikonsentrasikan.
    Model proses kebijakan elitis berpendapat bahwa kekuasaan terkosensentrasi ditangan sebagian orang atau kelompok. Menurut model ini pembuatan keputusan adalah proses yang dilaksanakan demi keuntungan elit-elit tertentu. Sebagai sebuah model pembuatan keputusan, tujuan elitism didasarka pada analisis terhadap cara dunia riil berjalan. Dikatakan bahwa dalam dunia riil ada pihak-pihak yang berada diatas yang memegang kekuasaan dan ada massa yang tidak memegang kekuasaan. Model ini berasal dari ilmu social modern, yakni berakar pada pendapat seorang ahli yaitu Karl Marx, yang berpendapat bahwa elitisme adalah sesuatu yang tak bisa dihinda; masyarakat tanpa kelas adalah mitos, dan demokrasi tal lebih adalah sekedar pura-pura. Demokrasi juga dapat dilihat sebagai sebentuk politik, dimana elit-elit politik bersaing untuk mendapatkan suara dari rakyat guna mengamankan legitimasi kekuasaan.

  • Pluralisme: berfokus pada cara kekuasaan didistribusikan.
    Dalam mengkaji kebijakan publik, kaum pluralis cenderung mengasumsikan kebijakan public pada dasarnya adalah hasil dari persaingan bebas antara ide dan kepentingan. Kekuasaan dianggap didistribusikan secara luas dan system politik sangat teratur sehingga proses politik pada esensinya dikendalikan oleh tuntutan dan opini public. Di wilayah pluralis, partisipasi dalam permainan politik etrbuka untuk semua orang, akan tetapi pandangan demokrasi liberal ini ditentang karena banyak pihak yang beranggapan tidak selalu benar bahwa orang dengan kebutuhan yang banyak akan paling aktif berpartisipasi dalam pentas politik. Barang siapa yang menentukan permainan apa yang akan berlaku maka ia berhak menentukan siapa yang ikut dalam permainan politik itu sendiri.

  • Marxisme: berfokus pada konflik kelas dan kekuasaan ekonomi.
    Gagasan bahwa problem dan agenda adalah satu set dalam satu dimensi yang tidak bisa diamati secara behavioral adalah gagasan yang bisa dijumpai dalam teori-teori yang lebih luas, yang bisa kita sebut teori mendalam. Teori mendalam ini menyatakan bahwa pelaksanaan kekuasaan dalam mendefenisikan problem dan menetapkan agenda adalah sesuatu yang terjadi di tingkat yang lebih dalam ketimbang yang kita lihat dipermukaan atau di level keputusan.

  • Korporatisme: berfokus pada kekuasaan kepentingan yang terorganisir.
    Korporatisme adalah istilah yang berasal dari abad pertengahan dan dalam gerakan fasis pada periode antar perang dunia. Istilah ini mengandung teori tentang masyarakat yang didasarkan pada pelibatan kelompok-kelompok dalam proses pembuatan kebijakan Negara sebagai mode untuk mengatasi konflik kepentingan. Akan tetapi sebagai kerangka analitis yang dikennal sebagai neo-korporatisme telah ternoda, lebih banyak ketimbang konsep lainnya. Istilah ini menjadi teori popular pada 1970-an dan 1980-an sebagai explanatory, dan mungkin yang lebih signifikan sebagai alat yang dipakai para politisi dan kelompok lainnya.

  • Profesionalisme: berfokus pada kekuasaan kalangan professional.
    Perhatian utama dalam analisis kebijakan kontemporer adalah sejauh mana elit professional mendapatkan kekuasaan dalam pembuatan keputusan dan dalam implementasi kebijakan public di dalam demokrasi liberal.Aliran liberal, khususnya, mengkritik cara dimana pertumbuhan big government membuat pembuatan keputusan menjadi dikuasai oleh kelompok professional yang lebih tertarik pada pengambilan keuntungan dan kepentingan mereka sendiri ketimbang kepentingan public yang mereka layani.

  • Teknokrasi: berfokus pada kekuasaan pakar teknis.
    Model pembuatan keputusan ini menganggap masyarakat sebagai entitas yang bergerak menuju aturan berdasarkan rasionalitas ilmiah. Model ini adalah ide-ide yang banyak diexplorasi dalam fiksi sains, dan merupakan tema esensial dari para filsup. Model ini menopang teori manajemen. Sebagai gerakan social, teknokrasi muncul di AS sebelum perang dunia pertama. Pada periode antara dua perang dunia, kampanye mendukung agar masyarakat diatur secara rasional.

3. Pendekatan Pilihan Publik

Para ahli teori kekuasaan birokrasi dalm proses pembuatan keputusan mengatakan bahwa salah satu karakteristik utama dari negara modern adalah cara dimana kekuasaan birokratis, atau teknokratik, semakin bertambah dengan melayani kepentingan “dirinya sendiri” daripada melayani kepentingan public. Fokus pada birokrasi sangat penting untuk menganut aliran pilihan public (public choice), yang ide-idenya sangat berpengaruh dalam penentuan agenda politik pada akhir 1970-an.Asal-usul pendekatan ini bisa ditemui dalam karya Gordon Tallock dan Anthony Dawson.

Perhatian mereka adalah pada alasan dan motivasi dari agen-agen administrative dan departemen pemerintahan. Sebagai aliran teori, pengaruh mereka terhadap agenda politik, terutama di Inggris dan AS, tidak bisa diremehkan.Alasan dibalik pengaruh ini adalah fakta bahwa argument pilihan public tentang ketidakefisienan dan pembengkakan birokratis telah didukung oleh think thank partai-partai politik. Karya Gordon Tullock umumnya dianggap sebagai kontribusi paling awal untuk pendekatan pilihan publik.

4. Pendekatan Institusional

Pendekatan kebijakan sebagian besar berkembang dari kekecewaan terhadap pendekatan yang murni pada politik, yakni dari segi eksekutif, legislative, dan konstitusi.Kotak hitan David Easton memberikan prosfek analisis yang melihat pada politik dan kebijakan dengan cara yang mengabaikan institusi dan konstitusi dan lebih menitikberatkan pada proses kebijakan secara keseluruhan. Akan tetapi, belakangan muncul kesadaran akan arti penting penempatan kebijakan public dalam konteks institusi.

Terdapat tiga kerangka analisis institusional:

  • Institusionalisme sosiologis;
  • Institusionalisme ekonomi;
  • Institusionalisme politik

Kerangka pertama adalah sezaman dengan fungsionalisme structural David Easton. Perhatiannya melampaui struktur formal dari institusi- institusi dan mengkaji apa yang institusi lakukan atau apa fungsinya, dan bagaimana mereka menjalankan fungsi itu dalam realitas, yang berbeda dengan gagasan tipe rasional.Sebagai sebuah pendekatan, kerangka ini orientasinya empiris dan penyampaian gagasannya melalui studi kasus yang mudah difahami, bukan dengan model teoritis yang biasa dipakai dalam teori ekonomi.

Institualisme sosiologis lebih memilih pendekatan historis untuk studi kasus, dan berbeda dengan institualisme ekonomi yang lebih focus pada institusi perusahaan. Di lain pihak, instutusi ekonomi berkembang dari teori-teori perusahaan yang aplikasinya utamanya dalan hal analisis ekonomi. Ada beberapa upaya untuk mengaplikasikan teori-teori tersebut untuk pembaruan institusi politik maupun kebijakan public. Pendekatan yang berasal dari arah lain, seperti teori hubungan antara masyarakat dan Negara, dan konsekuensinya defenisi institusi mereka berbeda.Jadi, meski mereka bersama-sama menitikberatkan pada soal institusi, namun mereka berbeda dalam hal lain, seperti apa makna dari konsep institusi itu sesungguhnya. Masing-masing memberikan pandangan yang berbeda tentang bagaimana institusi membentuk cara pengambilan keputusan, dan khususnya dalam institualisme ekonomi, tentang bagaimana institusi itu disusun agar bisa berfungsi secara efisien.

5. Pendekatan Informasional/Psikologis

Pendekatan informasional/psikologis yaitu pendekatan mengenai bagaimana ide, model, metafora yang dikemukakan dalam disiplin-displin ini dapat membantu menganalisis pembuatan keputusan di daam dan untuk proses kebijakan. Psikologi banyak memberi kontribusi dalam dan untuk proses kebijakan.

Terdapat dua pendekatan utama untuk pembuatan keputusan yang berasal dari teori psikologi dan informasi yaitu :

  • pendekatan pembuatan keputusan yang memfokuskan pada faktor-faktor
    seperti emosi manusia, personalitas, motivasi, perilaku kelompok dan hubungan interpersonal;

  • pendekatan yang berhubungan dengan isu-isu seperti bagaimana manusia mengenali problem, bagaimana mereka menggunakan informasi, bagaimana mereka membuat pilihan atas berbagai opsi, bagaimana mereka memahami realitas atau masalah, bagaimana informasi diproses, dan bagaimana informasi dikomunikasikan dalam organisasi.

1 Like

Pengambilan keputusan menurut Geoge R. Terry adalah pemilihan alternatif prilaku (kelakuan) dari dua atau lebih alternative yang ada. Menurut James A.F. Stoner, keputusan adalah pemilihan di antara berbagai alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu:

  • ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan;
  • ada beberapa alternatif yang harus dipilih salah satu yang terbaik; dan
  • ada tujuan yang ingin dicapai dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tersebut.

Pengertian keputusan yang lain dikemukakan oleh Prajudi Atmosudirjo bahwa keputusan adalah suatu pengakhiran daripada proses pemikiran tentang suatu masalah dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif.

Pembuatan keputusan atau desicion making ialah proses memilih atau menentukan berbagai kemungkinan-kemungkinan dian tara situasi- siuasi yang tidak pasti. Pembuatan keputusan terjadi didalam situasi yang meminta seseorang harus

  • membuat prediksi kedepan,
  • memilih salah satu diantara dua pilihan atau lebih atau membuat estimasi (prakiraan) mengenai frekuensi kejadian berdasarkan bukti-bukti yang terbatas

Menurut George R. Terry pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada Margon dan cerullo, memberikan definisi sebagai berikut: “ a desicion is a conclusion reached after consederation, it occurs when one option is selected, to the exclusion of other ” (suatu keputusan adalah sebuah kesimpulan yang dipakai sesudah dilakukan pertimbangan, yang terjadi setelah satu kemungkinan dipilih sambil menyampingkan yang lain.

Menurut James A. F. Stoner pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah. Pengambilan keputusan sebagai kelanjutan dari cara pemecahan masalah memiliki fungsi sebagai pangkal atau permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah secara individual dan secara kelompok baik secara institusional maupun secara organisasional. Di samping itu, fungsi pengambilan keputusan merupakan sesuatu yang bersifat futuristik, artinya bersangkut paut dengan hari depan, masa yang akan datang, dimana efek atau pengaruhnya berlangsung cukup lama.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan itu adalah suatu cara yang digunakan untuk memberikan suatu pendapat yang dapat menyelesaikan suatu masalah dengan cara / tehnik tertentu agar dapat lebih diterima oleh semua pihak.

  1. Jenis-jenis pengambilan keputusan remaja putus sekolah

    Menurut George r terry yaitu:

    • Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi

      Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan lebih bersifat subjektif yaitu mudah terkena sugesti, pengaruh luar, dan faktor kejiwaan lain. Sifat subjektif dari keputusuan intuitif ini terdapat beberapa keuntungan, yaitu :

      • Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk memutuskan.
      • Keputusan intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan.
    • Pengambilan Keputusan Rasional

      Keputusan yang be rsifat rasional berkaitan dengan daya guna. Masalah–masalah yang dihadapi merupakan masalah yang memerlukan pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif. Dalam masyarakat, keputusan yang rasional dapat diukur apabila kepuasan optimal masyarakat dapat terlaksana dalam batas-batas nilai masyarakat yang di akui saat itu.

    • Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta

      Ada yang berpendapat bahwa sebaiknya pengambilan keputusan didukung oleh sejumlah fakta yang memadai. Sebenarnya istilah fakta perlu dikaitkan dengan istilah data dan informasi. Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan data. Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari data. Dengan demikinan, data harus diolah lebih dulu menjadi informasi yang kemudian dijadikan dasar pengambilan keputusan.

  2. Faktor- faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan

    • Menurut George R Terry yaitu:

      • Hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud yang emosional maupun rasional perlu di perhitungkan dalam pengambilan keputusan.
      • Setiap keputusan nantinya harus dapat di jadikan bahan untuk menjadi tujuan organisasi
      • Setiap eputusan jaganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain.
      • Jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan.
      • Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental, dari tindakan mental ini kemudian harus di ubah menjadi tindakan fiksik.
      • Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang baik.
      • Setiap keputusan hendaknya dikembangkan agar dapat diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul
      • Setiap keputusan itu merupakan tindakan pemulaan dari serangkain kegiatan berikutnya

Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga mempengaruhi pengambilan keputusan.

  1. Fisik

    Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan

  2. Emosional

    Didasarkan pada perasaan atau sikap orang akan bereaksi pada situasi secara subjective, emosi adalah perasaan intens yang ditunjukkan seseorang atau sesuatu, emosi adalah reaksi terhadap sesorang atau kejadian.

    Perasaan termasuk gejala jiwa yang dimiliki oleh semua orang, hanya corak dan tingkatanya tidak sama. Perasaan tidak termasuk gejala mengenal, walaupun demikian sering juga perasaan berhubungan dengan dengan gejala mengenal. Perasaaan adalah suatu keadaan kerohanian atau peristiwa kejiwaan yang kita alami dengan senang atau tidak senang dalam hubungna dengan peristiwa mengenal dan bersifat objektif jadi unsure-unsur perasaan yaitu:

    • Bersifat subjektif daripada gejala mengenal
    • Bersangkut paut dengan gejala mengenal
    • Perasaan yang dialami sebagai rasa senang atau tidak senang, yang tingkatanya tidak sama. Perasaan lebih erat hubunganya dengan pribadi seseorang dan berhubungan pula dengan gejala-gejala jiwa yang lain. oleh sebab itu tanggapan perasaan sesorang sesuatu tidak sama dengan tanggapan perasaan orang lain, terhadap hal yang sama.
  3. Rasional

    Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahi situasi dan berbagai konsekuensinya. Pengetahuan itu sendiri adalah hasil “ tahu” setelah sesorang melakukan penginderaan terhaap sesuatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu: indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Informasi merupakan data yang diolah menjadi bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendatang

  4. Praktikal

    Didasarkan pada keeterampilan individual dan kemampuan melaksanakan sesorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuan dalam bertindak.
    Kemampuan merupakan kapasitas seseorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan, sedangkan kemampuan intelektual merupakan kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktifitas mental, berfikir, menalar dan memecahkan masalah.

  5. Interpersonal

    Didasarkan pada jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang ke orang lainya dapat mempengaruhi tindakan individual jejaring sosial merupakan struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul ( yang umumnya adalah individu atau organisasi) yang dijalin dengan satu atau lebih relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman dan keturunan. Analisis jaringan jejaringan sosial memandang hubungan sosial sebagai simpul dan ikatan. Simpul adalah actor individu di dalam jaringan sedangkan ikatan adalah hubungan antar actor tersebut. Bisa terdapat banyak jenis ikatan antar simpul.

Pengambilan keputusan merupakan salah satu bentuk perbuatan berpikir dan hasil dari suatu perbuatan itu disebut keputusan. Pengambilan keputusan dalam Psikologi Kognitif difokuskan kepada bagaimana seseorang mengambil keputusan. Dalam kajiannya, berbeda dengan pemecahan masalah yang mana ditandai dengan situasi dimana sebuah tujuan ditetapkan dengan jelas dan dimana pencapaian sebuah sasaran diuraikan menjadi sub tujuan, yang pada saatnya membantu menjelaskan tindakan yang harus dan kapan diambil. Pengambilan keputusan juga berbeda dengan penalaran, yang mana ditandai dengan sebuah proses oleh perpindahan seseorang dari apa yang telah mereka ketahui terhadap pengetahuan lebih lanjut.

Menurut Suharnan, pengambilan keputusan adalah poses memilih atau menentukan berbagai kemungkinan diantara situasi-situasi yang tidak pasti. Pembuatan keputusan terjadi di dalam situasi-situasi yang meminta seseorang harus membuat prediksi kedepan, memilih salah satu diantara dua pilihan atau lebih, membuat estimasi (prakiraan) mengenai frekuensi prakiraan yang akan terjadi.6 Salah satu fungsi berpikir adalah menetapkan keputusan. Keputusan yang diambil seseorang beraneka ragam. Tapi tanda-tanda umumnya antara lain : keputusan merupakan hasil berpikir, hasil usaha intelektual, keputusan selalu melibatkan pilihan dari berbagai alternatif, keputusan selalu melibatkan tindakan nyata, walaupun pelaksanaannya boleh ditangguhkan atau dilupakan.

Berdasarkan beberapa definisi diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Pengambilan Keputusan (Decision Making) merupakan suatu proses pemikiran dari pemilihan alternatif yang akan dihasilkan mengenai prediksi kedepan.

Dasar-dasar Pengambilan Keputusan


George R. Terry menjelaskan dasar-dasar dari pengambilan keputusan yang berlaku, antara lain :

  1. Intuisi
    Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan lebih bersifat subjektif yaitu mudah terkena sugesti, pengaruh luar, dan faktor kejiwaan lain. Sifat subjektif dari keputusuan intuitif ini terdapat beberapa keuntungan, yaitu :
  • Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk memutuskan.

  • Keputusan intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan.

    Pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat Untuk masalah-masalah yang dampaknya terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan yang bersifat intuitif akan memberikan kepuasan. Akan tetapi, pengambilan keputusan ini sulit diukur kebenarannya karena kesulitan mencari pembandingnya dengan kata lain hal ini diakibatkan pengambilan keputusan intuitif hanya diambil oleh satu pihak saja sehingga hal-hal yang lain sering diabaikan.

  1. Pengalaman
    Dalam hal tersebut, pengalaman memang dapat dijadikan pedoman dalam menyelesaikan masalah. Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi pengetahuan praktis. Pengalaman dan kemampuan untuk memperkirakan apa yang menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah penyelesaiannya sangat membantu dalam memudahkan pemecahan masalah.

  2. Fakta
    Keputusan yang berdasarkan sejumlah fakta, data atau informasi yang cukup itu memang merupakan keputusan yang baik dan solid, namun untuk mendapatkan informasi yang cukup itu sangat sulit.

  3. Wewenang
    Keputusan yang berdasarkan pada wewenang semata maka akan menimbulkan sifat rutin dan mengasosiasikan dengan praktik diktatorial. Keputusan berdasarkan wewenang kadangkala oleh pembuat keputusan sering melewati permasahan yang seharusnya dipecahkan justru menjadi kabur atau kurang jelas.

  4. Rasional
    Keputusan yang bersifat rasional berkaitan dengan daya guna. Masalah – masalah yang dihadapi merupakan masalah yang memerlukan pemecahan rasional.Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif. Dalam masyarakat, keputusan yang rasional dapat diukur apabila kepuasan optimal masyarakat dapat terlaksana dalam batas-batas nilai masyarakat yang di akui saat itu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Pengambilan Keputusan


Menurut Terry faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan, yaitu :

  1. Hal-hal yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang emosional maupun yang rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.
  2. Setiap keputusan harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan Setiap keputusan jangan berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi harus lebih mementingkan kepentingan.
  3. Jarang sekali pilihan yang memuaskan, oleh karena itu buatlah altenatif-alternatif tandingan.
  4. Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental dari tindakan ini harus diubah menjadi tindakan fisik.
  5. Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang cukup lama.
  6. Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
  7. Setiap keputusan hendaknya dilembagakan agar diketahui keputusan itu benar.
  8. Setiap keputusan merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan mata rantai berikutnya.

Arroba, menyebutkan lima faktor yang mempengaruhi Pengambilan Keputusan, antara lain:

  1. Informasi yang diketahui perihal masalah yang dihadapi
  2. Tingkat pendidikan
  3. Personality
  4. Coping, dalam hal ini dapat berupa pengalaman hidup yang terkait dengan pengalaman (proses adaptasi).
  5. Culture

Sedangkan menurut Kotler, faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan antara lain:

  1. Faktor Budaya, yang meliputi peran budaya, sub budaya dan kelas sosial.
  2. Faktor sosial, yang meliputi kelompok acuan, keluarga, peran dan status.
  3. Faktor pribadi, yang termasuk usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri.

Engel, Blackwell, dan Miniard menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan seseorang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, faktor perbedaan individu dan proses psikologi.

  • Faktor lingkungan tersebut, antara lain :
  1. Lingkungan sosial
    Dalam lingkungan sosial, pada dasarnya masyarakat memiliki strata sosial yang berbeda-beda.Statifikasi lebih sering ditemukan dalam bentuk kelas sosial, pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan sebagainya. Keberadaan lingkungan sosial memegang peranan kuat terhadap proses pengambilan keputusan seseorang untuk melakukan perilaku baik yang positif ataupun negatif. Karena dalam lingkungan sosial tersebut individu berinteraksi antara satu dengan lainnya.

  2. Lingkungan keluarga
    Keluarga adalah kelompok yang terdiri atas dua atau lebih orang yang berhubungan melalui darah, perkawinan, adopsi serta tinggal bersama. Lingkungan keluarga sangat berperan penting pada bagaimana keputusan untuk melakukan perilaku negatif seperti seks pranikah, minum-minuman keras, balap motor dan sebagainya itu dibuat karena keluarga adalah lingkungan terdekat individu sebelum lingkungan sosialnya. Bila dalam suatu keluarga tidak harmonis, atau seorang anak mengalami “broken home” dan kurangnya pengetahuan agama dan pendidikan, maka tidak menuntut kemungkinan seorang anak akan melakukan perilaku yang beresiko.

    Keluarga dapat didefinisikan sebagai suatu unit masyarakat yang terkecil dan juga berpengaruh dalam pengambilan keputusan. Sedangkan menurut Mufidah keluarga merupakan bagian terkecil dari masyarakat, namun memiliki peranan yang sangat penting. Dalam keluarga, seseorang mulai berinteraksi dengan orang lain. Keluarga merupakan tempat belajar pertama yang nantinya mempengaruhi keprbadian seseorang.

  • Faktor Perbedaan Individu, antara lain :
  1. Status Sosial
    Kartono status sosial merupakan kedudukan yang dimiliki seseorang dalam hubungannya dengan atau untuk membedakannya dari anggota-anggota lainnya dari suatu kelompok sosial. Status sosial dapat dijadikan alasan seseorang melakukan perilaku negatif.

    Sedangkan menurut Kotler, status sosial merupakan kelompok yang relatif homogen dan tetap dalam suatu masyarakat yang tersusun secara hierarkis dan anggotanya memiliki nilai, minat dan perilaku yang mirip.15 Status sosial akan menunjukkan bagaimana seseorang tersebut berperilaku dalam kehidupan sosialnya.

  2. Kebiasaan
    Kebiasaan adalah respon yang sama cenderung berulang- ulang untuk stimulus yang sama. Kebiasaan merupakan perilaku yang telah menetap dalam keseharian baik pada diri sendiri maupun lingkungan sosialnya.

  3. Simbol pergaulan
    Simbol pergaulan adalah segala sesuatu yang memiliki arti penting dalam lingkungan pergaulan sosial. Lingkungan pergaulan yang terdiri dari mahasiswa yang senang gonta-ganti pasangan dan melakukan perilaku beresiko menunjukkan simbol dan ciri pada kelompok tersebut. Sehingga apabila seseorang ingin menjadi salah satu kelompoknya, mau tidak mau harus mengikuti kebiasaan dalam kelompok tersebut.

  4. Tuntutan
    Adanya pengaruh dominan dalam keluarganya, baik itu lingkungan keluarga, pergaulan maupun lingkungan sosialnya, maka dengan kesadaran diri ataupun dengan terpaksa seseorang akan melakukan prilaku beresiko.

  • Faktor Psikologi, antara lain :
  1. Persepsi
    Menurut Walgito, persepsi merupakan yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera. Sedangkan menurut Rakhmat, persepsi seseorang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai, harapan dan kebutuhan yang sifatnya individual sehingga antara individu satu dengan yang lainnya dapat terjadi perbedaan individu terhadap objek yang sama.

  2. Sikap
    Menurut Notoatmojo, sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap merupakan kesiapan terhadap reaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.

  3. Motif
    Motif adalah kekuatan yang terdapat pada diri organisme yang mendorong untuk berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung tetapi motif dapat diketahui atau terinferensi dari perilaku. Motif merupakan suatu alasan atau dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu, melakukan tindakan, dan bersikap tertentu untuk mencapai suatu tujuan.

  4. Kognitif
    Menurut Rakhmat, kognisi adalah kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki seseorang.

  5. Pengetahuan
    Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan hal ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penglihatan terjadi melalui penginderaan, penglihatan, penciuman, perasa dan peraba.Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Proses Pengambilan keputusan (Decision Making)


Kotler, menjelaskan proses pengambilan keputusan antara lain sebagai berikut :

  1. Identifikasi masalah
    Dalam hal ini diharapkan mampu mengindentifikasikan masalah yang ada di dalam suatu keadaan.

  2. Pengumpulan dan penganalisis data
    Pengambil keputusan diharapkan dapat mengumpulkan dan menganalisis data yang dapat membantu memecahkan masalah yang ada.

  3. Pembuatan alternatif-alternatif kebijakan
    Setelah masalah dirinci dengan tepat dan tersusun baik, maka perlu dipikirkan cara-cara pemecahannya.

  4. Pemilihan salah satu alternatif terbaik
    Pemilihan satu alternatif yang dianggap paling tepat untuk memecahkan masalah tertentu dilakukan atas dasar pertimbangan yang matang atau rekomendasi. Dalam pemilihan satu alternatif dibutuhkan waktu yang lama karena hal ini menentukan alternatif yang dipakai akan berhasil atau sebaliknya.

  5. Pelaksanaan keputusan
    Dalam pelaksanaan keputusan berarti seorang pengambil keputusan harus mampu menerima dampak yang positif atau negatif. Ketika menerima dampak yang negatif, pemimpin harus juga mempunyai alternatif yang lain.

  6. Pemantauan dan pengevaluasian hasil pelaksanaan
    Setelah keputusan dijalankan seharusnya pimpinan dapat mengukur dampak dari keputusan yang telah dibuat.

Menurut Munandar A.S, proses pengambilan keputusan dimulai berdasarkan adanya masalah antara keadaan yang diinginkan dan keadaan yang ada. Keadaan yang diinginkan biasanya dipengaruhi oleh :

  1. Kebudayaan
  2. Kelompok acuan, perubahan dalam kelompok dapat mengubah hal diinginkan
  3. Ciri-ciri keluarga
  4. Status atau harapan finansial
  5. Keputusan-keputusan sebelumnya mempengaruhi pengenalan masalah
  6. Perkembangan individu dapat mempengaruhi keadaan yang diinginkan, kematangan seseorang mempengaruhi pilihannya
  7. Situasi perorangan yang sedang berlangsung saat ini

Jenis Pengambilan keputusan (Desicion making)


  1. Pengambilan keputusan terprogram :

Jenis pengambilan keputusan ini.mengandung suatu respons otomatik terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Masalah yang bersifat pengulangan dan rutin dapat diselesaikan dengan pengambilan keputusan jenis ini. Tantangan yang besar bagi seorang analis adalah mengetahui jenis- jenis keputusan ini dan memberikan atau menyediakan metode- metode untuk melaksanakan pengambilan keputusan yang terprogram di mana saja. Agar pengambilan keputusan harus didefinisikan dan dinyatakan secara jelas. Bila hal ini dapat dilaksanakan, pekerjaan selanjutnya hanyalah mengembangkan suatu algoritma untuk membuat keputusan rutin dan otomatik.

Dalam kebanyakan organisasi terdapat kesempatan-kesempatan untuk melaksanakan pengambilan keputusan terprogram karena banyak keputusan diambil sesuai dengan prosedur pelaksanaan standar yang sifatnya rutin. Akibat pelaksanaan pengambilan keputusan yang terprogram ini adalah membebaskan manajemen untuk tugas-tugas yang lebih penting. Misalkan : keputusan pemesanan barang, keputusan penagihan piutang, dan lain-lain.

  1. Pengambilan keputusan tidak terprogram

Menunjukkan proses yang berhubungan dengan masalah – masalah yang tidak jelas. Dengan kata lain, pengambilan keputusan jenis ini meliputi proses-proses pengambilan keputusan untuk menjawab masalah-masalah yang kurang dapat didefinisikan. Masalah-masalah ini umumnya bersifat kompleks, hanya sedikit parameter – parameter yang diketahui dan kebanyakan parameter yang diketahui bersifat probabilistik. Untuk menjawab masalah ini diperlukan seluruh bakat dan keahlian dari pengambilan keputusan, ditambah dengan bantuan sistem informasi. Hal ini dimaksud untuk mendapatkan keputusan tidak terprogram dengan baik.

Perluasan fasilitas fasilitas pabrik, pengembangan produk baru, pengolahan dan pengiklanan kebijaksanaan-kebijaksanaan, manajemen kepegawaian, dan perpaduan semuanya adalah contoh masalah-masalah yang memerlukan keputusan-keputusan yang tidak terprogram. Sangat banyak waktu yang dikorbankan oleh pegawai-pegawai tinggi pemerintahan, pemimpin-pemimpin perusahaan, administrator sekolah dan manajer organisasi lainnya dalam menjawab masalah dan mengatasi konflik. Ukuran keberhasilan mereka dapat dihubungkan secara langsung. Misalkan: Pengalaman manajer merupakan hal yang sangat penting didalam pengambilan keputusan tidak terprogram.

Referensi

http://etheses.uin-malang.ac.id/1772/5/09410127_Bab_2.pdf