Apa yang dimaksud dengan pendekatan thinking, feeling dan acting (TFA) dalam konseling?

Konseling bertujuan membantu individu untuk belajar mengambil keputusan dan mengoptimalkan segala kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh individu dalam rangka menyelesaikan masalah yang ia hadapi.

Apa yang dimaksud dengan pendekatan thinking, feeling dan acting (TFA) dalam konseling ?

Pendekatan konseling yang berorientasi pada thinking, feeling dan acting (TFA) adalah pendekatan integratif sistematik yang mengintegrasikan berbagai macam pendekatan dan teknik-teknik konseling dalam suatu kerangka kerja. Kerangka kerja komperhensif, sistematis ini jelas diperlukan oleh konselor untuk membantu berbagai macam klien dengan efektif dan kualifaid.

Dalam memahami karakteristik masalah individu maka akan dijelaskan dari sudut pandang pendekatan TFA. Adapun penjelasan masalah individu dalam perspektif TFA adalah sebagai berikut:

1. Pendekatan yang berorientasi pada pemikiran

Pada gambar di bawah ini, ditunjukkan segitiga TFA dengan tiga bagian yang terpisah oleh garis yang terputus-putus. Pada bagian puncak terdapat pendekatan konseling yang menekankan atau memusatkan perhatian pada aspek kognitif (thinking) dari tingkah laku. Dalam pendekatan yang berorientasi pada pemikiran (thinking approach) memiliki anggapan dasar bahwa jika individu memiliki pemikiran yang tak rasional dan tak logis maka ia adalah pribadi yang bermasalah (tidak sehat) dan akan menjadi pribadi yang sehat bila konselor dapat membantu klien mengubah pemikiran yang tak rasional dan tak logis menjadi berpikir rasional dan logis.

Segitiga TFA
Gambar Segitiga TFA menunjukkan pendekatan berorientasi pemikiran

Dalam pendekatan ini dapat di contohkan sebagai berikut:

Andi sadar bahwa ia adalah anak yang pintar. Ia selalu risau tentang bagaimana sesuatu pada dirinya akan ditampilkan pada orang lain dan apakah ia telah melakukan “hal yang baik”. Karena desakan bahwa ia menyatakan pada dirinya sendiri “Saya harus mengerjakan ini secara cermat, sempurna atau kalau tidak orang lain akan mengangap saya ceroboh, tak berarti dan tidak pintar “. Hal ini membuat Andi selalu risau akan penilaian orang lain. Ia lalu minta bantuan dari seorang konselor beriorientasi kognitif/pemikiran yang berfokus membantu Andi melihat keyakinan yang tak rasional, seperti :

“Saya harus mengerjakan ini secara cermat, sempurna dalam tiap hal yang saya kerjakan atau kalau tidak orang lain akan menggangap saya ceroboh, tak berarti dan tidak pintar “

Melalui konseling, Andi telah dapat melihat betapa tidak raional pemikirannya dan betapa ia telah tenggelam dalam lingkaran pola perusakan diri (self destruction). Dengan kata lain Pemikiran (Thinking) negatif, perusakan diri menimbulkan perasaan (Feeling) penghukuman diri disertai dengan Tindakan (Acting) menarik diri karena malu pada orang lain karena menurut Andi orang lain akan memberi cap bahwa ia gagal, bodoh, tidak cermat, dsb.

Konselor membantunya mengerahkan bisik diri (Self talk) dan pemikiran diri yang lebih rasional, sembari menghilagkan keharusan-keharusan yang tak rasional (seperti, saya harus/mesti/wajib melakukan…apapan yang terjadi). Pemikiran rasional, misalnya bahwa tidak semua hal perlu dilakukan “secerrmat-cermatnya, sempurna”, dan semacamnya. Akibatnya Andi jelas-jelas merubah pandangan pada diri sendiri dan memandang secara realistis pada apa yang ia (atau orang lain) harapkan ia lakukan. Akibat selanjutnya, ia telah mampu beralih dari pikiran dasar yang tak rasional, tak realistis, ke cara- cara berpikir (Thinking) lebih rasional dan berakibat pada perasaan (Feeling) dan tindakan (Action) lebih positif.

2. Pendekatan yang berorientasi pada perasaan

Pada gambar di bawah ini terdapat feeling approach (pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada perasaan).

Segitiga TFA menunjukkan pendekatan berorientasi perasaan
Gambar Segitiga TFA menunjukkan pendekatan berorientasi perasaan

Dalam pendekatan ini, perhatian utama konselor berfokus pada emosi, afeksi dan perasaan klien. Dalam pendekatan yang berorientasi pada perasaan (feeling approach) memiliki anggapan dasar bahwa jika perasaan dan emosi kusut individu tidak dapat mengekpresikan dan memahami perasaan-perasaan yang dialaminya maka individu tersebut adalah individu yang “tidak sehat” atau dapat dikatakan individu bermasalah.

Individu akan menjadi individu yang sehat bila individu tersebut dapat memahami dan mengekspresikan perasaan-perasaan yang dialaminya. Dengan demikian individu akan memperoleh insight dan mengambil tindakan yang pantas. Dalam hal ini konselor menitik beratkan pada membantu klien mengekspresikan, mengklarifikasi, menguraikan, dan memahami emosi yang muncul. Seringkali sebagi hasil penguraian kekusutan emosional, klien mengalami insight (berpikir lebih gamblang mengenai situasi bersangkutan dan kemudian mampu mengambil tindakan yang pantas/layak.

Contoh pendekatan ini adalah sebagai berikut:

Dina telah mengalami tekanan emosional (stres) yang semakin berat dalam enam bulan terakhir. Atas saran seorang teman ia minta konseling dari seorang konselor. Konselor memfokuskan bantuannya perhatiannya pada masa kesepian, rasa sendirian, dan rasa tak berharga Dina yang telah dialaminya sejak tunangan menikah dengan orang lain enam bulan lalu. Dalam proses konseling Dina telah mampu memverbalisasikan dan mengekspresikan perasaan dan emosi pribadinya yang paling dalam pada suasana aman dan santai. Akibat dari pelepasan emosi tadi, Dina mengalami perasaan lega, melepaskan semua beban dari emosi yang tak tercetuskan yang selama ini tidak pernah ia bicarakan bersama orang lain.

Dalam proses itu ia mencapai sejumlah pengamatan jelas (insightful) tenatang situasinya. Ia mulai lambat laun bertambah maju, berpikir positif dan merencanakan jenis aktivitas lain yang ingin ia tekuni pada masa datang. Disamping menemukan pacar pengganti. Proses yang telah berlangsung yaitu dengan membebaskan perasaan (feeling), maka klien mampu berpikir (thinking) lebih jelas dan mengambil tindakan (action) sesuai keperluannya.

3. Pendekatan yang berorientasi pada tindakan

Pada bagaian kanan segitiga adalah daerah tindakan. Dalam pendekatan yang berorientasi pada tindakan (action approach) memiliki anggapan dasar bahwa jika individu tidak dapat merubah dari tingkah laku yang menimbulkan masalah (maladjusment) kepada tingkah laku yang sesuai dan mendukung kepada tingkah laku yang bermanfaat maka individu tersebut mengalami masalah.

Dalam hal ini konselor membantu individu tersebut dengan melakukan sesuatu yang akan lebih mendukung perubahan tindakan atau perilaku yang efektif misalnya dengan merubah pekerjaan, merubah lingkungan, merubah cara melakukan sesuatu, merubah sikap, dan semacamnya

image
Gambar Segitiga TFA menunjukkan pendekatan berorientasi tindakan

Contoh pendekatan ini adalah sebagai berikut:

Budi berhenti dari pekerjaan yang telah ditekuninya selama sepuluh tahun. Ia tidak bisa mendapatkan lapangan kerja pengganti. Setelah tiga bulan berlalu ia terus mendapat omelan dari istrinya, selalu timbul masalah dengan dua anaknya yang belasan tahun. Hal ini membuat Budi makin bertambah berat beban pikirannya. Belakangan ia meminta konseling kepada seorang konselor untuk mengatasi masalahnya. Konselor membantu Budi dengan mulai menyusun rencana-rencana tindakan yang dapat membantu Budi mencari secara aktif lapangan kerja sesuai dengan keterampilan dan pengalaman kerja yang lalu.

Dalam hal ini Budi berusaha untuk merubah tindakannya dengan belajar beberapa keterampilan yang mendukung memperoleh suatu pekerjaan baru. Akhirnya setelah Budi mendapatkan pekerjaan baru maka beban pikiranya berangsur-angsur hilang, hubungan antara ia dengan anggota keluarga semakin meningkat dengan pesat dan merasakan semakin nyaman.