© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Pencapaian Identitas (Identity Achievement)?

pencapaian identitas

1 Like

Pencapaian identitas atau Identity Achivement merupakan sebuah fase dimana orang tersebut telah mengalami sebuah moratorium psikologis, telah menyelesaikan krisis identitas mereka dengan secara berhati-hati mengevaluasi sejumlah alternatif dan pilihan, dan telah menyimpulkan dan memutuskan sendiri setiap pilihan yang akan dilakukan.

Seseorang yang berada dalam tipe ini sudah mengalami masa krisis dan telah membuat komitmen.

Pencapaian identitas adalah tahap kehidupan dimana seseorang akhirnya mencapai “perasaan sejati diri”. Untuk mencapai tahap ini membutuhkan eksplorasi diri dan meng-eksplorasi pilihan-pilihan yang tersedia di dalam kehidupannya.

Tahapan ini tidak akan pernah tercapai sampai dewasa ketika seseorang belum banyak memiliki pengalaman hidup di belakang mereka. Hal ini kadang terlihat saat orang dewasa bisa melakukan perubahan besar dalam kehidupan atau karir mereka.

Contohnya adalah seseorang yang meninggalkan pekerjaan yang menguntungkan untuk mengejar pekerjaan seni atau pekerjaan yang jauh lebih rendah (tapi secara pribadi lebih memuaskan)

Para Psikolog percaya bahwa pencapaian identitas (identity achievement) hanya dapat terjadi setelah seseorang telah mengeksplorasi, secara aktif, berbagai pilihan yang tersedia untuknya. Dengan kata lain, seseorang harus menjalani krisis identitas (atau moratorium identitas) untuk mencapai pencapaian identitas.

Baca : Krisis identitas

Misalnya, seseorang yang dalam pencapaian identitas berkaitan dengan pekerjaan akan terlebih dahulu mencoba berbagai rute karir melalui magang di banyak perusahaan, melakukan penelitian secara online dan mencari informasi dengan banyak bertanya sebelum mengidentifikasi mana pilihan yang paling sesuai baginya.

Ketika seseorang berada pada fase krisis identitas, mereka akan mencoba beberapa hal, seperti kepercayaan, politik atau gaya hidup dan lain sebagainya.

Mereka hanya mengeksplorasinya tanpa mencari tau lebih dalam. Saat ini mungkin suka musik rap, suatu hariberalih mendengarkan musik klasik. Atau, saat ini berpakaian seperti hippie selama berbulan-bulan, lalu tiba-tiba berubah menjadi rapi.

Anak-anak dan remaja hampir tidak mungkin mencapai status pencapaian identitas. Mereka cenderung tidak yakin dengan identitas mereka (identity diffusion).

Baca : Difusi Identitas

Orang dewasa pun, dari segi umur, belum tentu dapat mencapai tahap ini.Orang dewasa bisa mencapai tahap pencapaian identitas dengan cara memilih panggilan hati, nilai dan cita-cita serta gaya hidup tertentu.

Mengalami pencapaian identitas memberi individu rasa keunikan dan membantu dia menguraikan kelemahan dan kekuatan dan mengambil sikap dalam berbagai hal.

Menurut Marcia (1996), Identity Achivement adalah status identitas dari seseorang yang telah menyelesaikan periode eksplorasi (krisis) dan telah membuat komitmen dalam pilihan karier. Ciri-ciri orang yang memiliki status identitas ini adalah:

  • mantap
  • mampu memberikan alasan untuk pilihan mereka dalam kariernya
  • mampu menggambarkan bagaimana komitmen tersebut dapat dipilih
  • mampu menghadapi stress
  • telah menginternalisasi proses pengaturan diri sendiri
  • peka terhadap harapan lingkungan.

Atau dengan kata lain mereka membuat komitmen tentang pilihan ini berdasarkan self constructed yaitu identitas yang ditemukan ini bukanlah identitas yang terakhir, tetapi mereka akan berusaha memodifikasinya terus menerus sesuai dengan pengalaman mereka dan setelah remaja memahami pilihan karier yang realistik, maka dia harus membuat pilihan dan berperilaku sesuai dengan karier, dengan kata lain pada status identity achievement, remaja melakukan proses eksporasi terhadap berbagai pilihan pekerjaan, kemudian membuat komitmen untuk memilih salah satu jenis karier. Jadi ada eksplorasi dan komitmen.

Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan Identity Achivement memiliki indikator sebagai berikut:

  • Mampu membuat pilihan karier dengan mantap dan mampu memberikan alasan untuk pilihan kariernya tersebut.
  • Mampu memberikan alasan untuk kariernya.
  • Mampu menghadapi stress.
  • Mampu bertahan dari pengaruh lingkungan yang dapat mengubah harga diri.

Seseorang yang berada dalam status identity achievement telah mengalami sebuah moratorium psikologis, telah menyelesaikan krisis identitas mereka dengan secara berhati-hati mengevaluasi sejumlah alternatif dan pilihan, dan telah menyimpulkan dan memutuskan sendiri setiap pilihan yang akan dilakukan.

Identity achievement menurut Fuhrmann (1990) hanya dicapai oleh individu yang telah mengalami krisis yang akhirnya mencapai sebuah identitas yang ditunjukkan dengan komitmen yang dipilih tanpa terjadi lagi kebingungan pada pilihan-pilihan identitas yang ada. Individu akan merasa diterima dan nyaman dengan kehidupan mereka serta mereka akan tenang, dewasa, bertoleransi dan aktif. Mereka secara utuh dapat mandiri dari orangtua dan menjadi lebih dewasa dalam berhubungan dengan orang lain (Fuhrmann, 1990).

Dalam proses kognitif, Marcia menjelaskan identity achievement individu telah menunjukkan kemampuan untuk tetap dapat befungsi dengan baik dalam kondisi stres dan menggunakan rencana, pemikiran rasional, dan strategi logis pengambilan keputusan daripada status identitas lainnya. Kelompok ini juga telah menunjukkan tingkat tertinggi penalaran moral mengenai isu-isu keadilan dan kepedulian terhadap orang lain (Adams & Berzonsky, 2003). Identity achievement individu telah mampu mengembangkan hubungan interpersonal yang saling menguntungkan dengan teman dan orang lain, serta mereka dapat memutuskan diri pada orang lain (Adams & Berzonsky, 2003).

Aspek-Aspek Identity Achievement


Identity achievement termasuk salah satu tipe dalam status identitas. Sehingga aspek-aspek identity achievement sama dengan aspek- aspek status identitas diri.

Identitas memiliki dua domain utama, yaitu ideologi yang terdiri dari pilihan mengenai pekerjaan, agama, politik, dan falsafah hidup; dan domain interpersonal yang terdiri dari persahabatan, ketertarikan lawan jenis, peran jenis kelamin, dan rekreasi (Adams & Berzonsky, 2003). Aspek-aspek identity achievement adalah sebagai berikut :

1. Domain Ideologi

Domain ideologi yaitu pendekatan individu untuk melihat konteks masyarakat dari buah pemikiran dan ide-ide yang telah ia pelajari dan dapatkan semasa hidup (Pastorino,dkk, 1997).

Marcia (1993) menyatakan adanya ideologi, ditandai dengan mengevaluasi ulang keyakinan masa lalu dan mencapai sebuah resolusi yang membuatnya bebas untuk bertindak. Secara umum, individu tidak menunjukkan kebingungan atau kekagetan jika terjadi perubahan mendadak dalam lingkungannya atau tanggung jawab yang tidak ia harapkan. Domain ideologi terdiri dari : pekerjaan, agama, politik, dan falsafah hidup.

2. Domain Interpersonal

Domain interpersonal adalah orientasi hubungan individu dalam konteks keluarga dan hubungan dekat dengan orang lain. (Pastorino,dkk, 1997). Domain interpersonal terdiri dari: persahabatan, ketertarikan dengan lawan jenis, peran jenis kelamin, dan rekreasi.

Berdasarkan beberapa uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa identity achievement memiliki dua dimensi seperti yang dikemukakan oleh Adams & Berzonsky (2003) sesuai dengan teori Marcia yaitu (1) domain ideologi yang meliputi; pekerjaan, agama, politik, dan falsafah hidup, (2) domain interpersonal yang meliputi; persahabatan, ketertarikan dengan lawan jenis, peran jenis kelamin, dan rekreasi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Identity Achievement


Marcia (dalam Desmita, 2005) mengidentifikasikan beberapa variabel yang saling mempengaruhi proses pembentukan identitas, yaitu:

  • Tingkat identifikasi dengan orang tua sebelum dan selama masa remaja.

  • Gaya pengasuhan orangtua.

  • Adanya figur yang menjadi model.

  • Harapan sosial tentang pilihan identitas yang terdapat dalam keluarga, sekolah, dan teman sebaya.

  • Tingkat keterbukaan individu terhadap berbagai alternatif identitas.

  • Tingkat kepribadian pada masa pra-remaja yang memberikan sebuah landasan yang cocok untuk mengatasi masalah identitas.

Fuhrmann (1990), mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan identitas :

1. Pola Asuh

Pola asuh orang tua mempunyai pengaruh penting dalam pembentukan identitas diri remaja.

2. Homogenitas Lingkungan

Seseorang cenderung memperoleh identitas yang foreclosure pada lingkungan yang homogen karena tidak mengalami krisis dan memperoleh komitmen dari nilai-nilai orang tua dengan mudah. Sebaliknya, pada lingkungan yang heterogen, individu diharapkan pada banyak pilihan sehingga sering mengalami krisis dan dipaksa untuk menentukan suatu pilihan tertentu.

3. Model untuk Identifikasi

Anak mengadakan identifikasi dengan orang-orang yang dikagumi dengan harapan kelak akan menjadi seperti orang tersebut. Remaja menjadikan idola dan model dalam hidupnya. Orang yang berperan dewasa sebagai model bagi remaja dapat mempengaruhi pembentukan identitas diri.

4. Pengalaman Masa Kanak-Kanak

Individu yang mampu menyelesaikan konflik-konflik pada masa kanak-kanak akan mengalami kemudahan dalam menyelesaikan krisis identitas pada masa remaja.

5. Perkembangan Kognisi

Individu yang memiliki kemampuan operasional formal akan mempunyai komitmen yang kuat dan konsisten sehingga dapat menyelesaikan krisis identitas dengan baik.

6. Sifat Individu

Rasa ingin tahu dan keinginan yang kuat untuk mengadakan eksplorasi membantu tercapainya identity achievement.

7. Pengalaman Kerja

Individu yang telah memiliki pengalaman kerja atau telah memasuki dunia kerja akan menstimulasi identitas diri.

8. Identitas Etnik

Etnis dan harapan dari lingkungan etnis tempat individu tinggal akan mempengaruhi pencapaian identitas.

Berdasarkan beberapa uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi identitas. Fuhrmann (1990) mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan identitas yaitu: pola asuh, homogenitas lingkungan, model untuk identifikasi, pengalaman masa kanak-kanak, perkembangan kognisi, sifat individu, pengalaman kerja, dan identitas etnik.