Apa yang dimaksud dengan pembelajaran metode Inkuiri?

Belajar

Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Secara bahasa, inkuiri berasal dari kata inquairy yang merupakan kata dalam bahasa inggris yang berarti; penyelidikan/meminta keterangan; terjemahan bebas untuk konsep ini adalah “siswa diminta untuk mencari dan menemukan sendiri”.

Dalam konteks penggunaan inkuiri sebagai metode belajar mengajar, siswa ditempatkan sebagai subjek pembelajaran, yang berarti bahwa siswa memiliki andil besar dalam menentukan suasana dan model pembelajaran.

Dalam metode ini setiap siswa didorong untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar, salah satunya dengan cara aktif mengajukan pertanyaan yang baik terhaadap setiap materi yang disampaikan dan pertanyaan tersebut tidak harus selalu dijawab oleh gur, karena semua siswa meliki kesempatan yang sama untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.

Dalam hal ini, kategori pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang sedang dibicarakan/ dibahas, dapat dijawab sebagian atau keseluruhannya dan dapat diuji serta diselidiki secara bermakna. Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode ini tidak memberi celah kepada siswa untuk melakukan D3: datang, duduk, diam. Demikian juga halnya dengan guru; guru tidak lagi berperan sebagai orator yang yang menyampaikan materi pelajaran layaknya membaca tuntutan dalam sebuah aksi demonstrasi.
Siswalah yang harus diberi ruang untuk menyerap, mengerti dan merespons setiap bagian dari materi yang disampaikan.

Guru harus berlomba dengan dirinya sendiri untuk membuat siswa menikmati dan menndapat hasil yang maksimal dari proses belajar yang dilakukan, bukan berlomba untuk menyelesaikan materi pelajaran trepat sebelum ujian, seperti yang umum terjadi. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa proses belajar boleh molor asalkan siswa senang, karena walau bagaimanapun setiap proses belajar memiliki durasi yang harus tetap dipenuhi.

Tujuan pembelajaran inkuiri


Penekanan utama dalam proses belajar berbasis inkuiri terletak pada kemampuan siswa untuk memahami, kemudian mengidentifikasi dengan cermat dan teliti, lalu diakhiri dengan memberikan jawaban atau solusi atas permasalahan yang tersaji. Sekilas masalah, metode ini tampak seperti metode trategi pemecahan masalah (problem solving), namun sesungguhnya metode ini berbeda; titik tekan yang menjadi perhatian utama dalam pembelajaran berbasis inkuiri bukan terletak pada solusi atau jawaban yang diberikan, tetapi pada proses pemetaan masalah yang menghasilkan penyajian solusi atau jawaban yang valid dan yang meyakinkan; siswa bukan hanya mampu untuk menjawab ‘apa’ tetapi juga mengerti ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’.

Selain itu, pembelajaran berbasis inkuri bertujuan untuk mendorong siswa semakin berani dan kreatif dalam berimajinasi. Dengan imajinasi, siswa dibimbing untuk menciptakan penemuan penemuan, baik yang berupa penyempurnaan dari apa yang telah ada, maupun menciptakan ide, gagasan, atau alat yang belum pernah ada sebelumnya. Dalam metode ini, imajinasi diatata dan dihargai sebagai wujud dari rasa penasaran yang alamiah. Hal ini disebabkan oleh bukti yang menunjukan bahwa banyak penemuan penting yang ada saat ini hanya bermula dari imajinasi. Oleh karenanya, siswa didorong bukan saja untuk mengerti materi pelajaran, tetapi juga mampu menciptakan penemuan. Dengan kata lain, siswa tidak akan lagi berada dalam lingkup pembelajaran telling science akan tetapi didorong hingga bisa doing science.

Alasan Menggunakan Metode Pembelajaran Inkuiri


Karena proses pembelajaran harus memilki arah yang jelas, pada gilirannya banyak pertanyaan yang muncul dan target yang harus dicapai dalam proses ini berlangsung, diantaranya:

  • Apa yang harus dipahami oleh siswa?
  • Materi apa yang paling diinginkan oleh siswa?
  • Bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan materi pelajaran?
  • Bagaiamana cara membuat siswa lebih dari sekedar paham?

Dalam pengertian ilmiah seperti yang tertuang dalam dictionary of psychology, prose belajar diartikan dalam dua koridor utama berikut: proses memperoleh pengetahuan (the proces of acquiring knowledge), dan perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil dari latihan yang kuat (A relatively permanent change in response potentiality which occurs as a result of reinforced practice).

Guru dan siswa membutuhksn proses yang panjang dalam men ‘transfer’ pengetahuan, tugas utama guru (dan juga lembaga terkait) adalah membuat proses yang panjang tersebut tetap kondusif, aspiratif dan produktif. Semangat dan motivasi siswa harus tetap dijaga dan dikembangka supaya proses belajar menyenangkan. Dengan demikian, materi pelajaran dapat disampaikan dengan cepat, tepat dan mudah dicerna.

Hal ini selaras dengan maksud an pengertian dasar dari pembelajaran berbasis inkuiri seperti yang diungkapkan oleh W.Gulo berikut:

“pembelajaran inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, anilitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri”.

Keterlibatan siswa dalam setiap proses belajar merupakan bagian penting dalam mengembangkan kemampuan siswa itu sendiri, karena keterlibatan tersebut merupakan kegiatan mental-intelektual dan sosial-emosional. Dalam keterlibatan itu, siswa (baik secara mandiri atau dengan bantuan dari guru atau teman) cenderung mengembangkan mental-intelektualnya, yakni untuk secara berani dan meyakinkan, menerima, menghayati, menelaah dan mengajukan solusi atas masalah yang ada.

Titik tekan utama pada pembelajaran inkuiri tidak lagi berpusat pada guru (teacher-centered instruction), tetapi pada pengembangan nalar kritis siswa (student-centered approach). Siswa diminta tidak hanya menerima, melainkan juga menelaah, memilah dan memberi respons atas materi pelajaran yang diberikan. Jadi dalam konteks ini, guru bukan lagi ‘setir’ yang menentukan arah haluan pembelajara, ia hanya akan berfungsi layaknya ‘pemantik’ yang menghidupkan semangat dan motivasi siswa untuk kemudian membiarkan siswa menikmati proses belajar tersebut.

Lebih jauh Jill L. Lane menegaskan:

Pembelajaran berbasis inkuiri memberikan kesempatan kepada guru untuk membantu siswa mempelajari isi dan konsep materi pelajaran dengan meminta mereka mengembangkan hipotesis. Oleh karenanya, metode ini memberikaan kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk merefleksikan pembelajaran mereka, mendapat pemahaman yang lebih dalam atas konsep pembelajaran dengan gaya yang mereka sukai, dan menjadi pemikir kritis yang lebih baik.

Jadi dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan metode inkuiri siswa akan lebih diikut sertakan dalam pembelajaran diberikan keleluasaan untuk mengembangkan potensi yang di milikinya, guru hanya menjadi fasilitator dan memberikan motivasi kepada siswa.

Ciri-ciri Pembelajaran Inkuiri


Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengetahui efektivitas inkuiri dalam proses pembelajaran, salah satunya dengan mengamati ciri-cirinya. Berikut adalah ciri-ciri yang dimaksud.

  • Metode inkuiri menekankan kepada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Artinya metode inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran yang disampaikan.

  • Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari suatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri. Dengan demikian metode pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa. Oleh karena itu, kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri.

  • Tujuan dari penggunaan metode pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis. Atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental, dengan demikian siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai materi pembelajaran, akan tetapi lebih pada bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang di milikinya untuk lebih mengembangkan pemahamannya terhadap materi pelajaran tertentu.

Sebagai metode pembelajaran yang berorientasi pada penemuan (discovery), inkuiri mendorong guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam ‘bentuk jadi’ dengan tujuan dapat merangsang beragam pertanyaan atau bahkan keraguan. Selanjutnya guru mendorong siswa untuk mencari mengamati dan menemukan masalahnya.

Berikut adalah ‘rangkaian’ aktivitas yang dilakukan siswa dalam mencari, mengamati, dan menemukan masalah:

  • Siswa menemukan masalah sendiri atau mempunyai keinginan sendiri untuk memecahkan masalah.

  • Masalah dirumuskan seoperasional mungkin, sehingga terlihat kemungkinannya untuk dipecahkan.

  • Siswa merumuskan hipotesis, untuk menuntun mencari data.

  • Siswa menyusun cara-cara pengumpulan data dengan melakukan eksperimen, mengadakan pengamatan, membaca atau mendapatkan sumber lain yang relevan.

  • Siswa melakukan penelitian secara individual atau kelompok untuk pengumpulan data.

  • Siswa mengolah data dan mengambil kesimpulan.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Inkuiri


Kelebihan dari Metode Inkuiri ini antara lain adalah :

  • Real life skill, siswa belajar tentang hal-hal penting namun mudah dilakukan, siswa didorong untuk ‘melakukan’ bukan hanya ‘duduk, diam, dan mendengarkan’.

  • Open ended topic, tema yang dipelajari tidak terbatas, bisa bersumber dari mana saja, buku pelajaran, pengalaman siswa, guru, internet, televisi, radio, dan seterusnya. Siswa akan belajar lebih banyak.

  • Intuitif, imajinatif, inovatif, siswa belajar dengan mengarahkan seluruh potensi yang mereka miliki, mulai dari kreatifitas hingga imajinasi. Siswa akan menjadi pembelajar aktif, out of the box, siswa akan belajar karena mereka membutuhkan bukan sekedar kewajiban.

  • Berpeluang melakukan penemuan, dengan berbagai observasi dan eksperimen, siswa memilki peluang besar untuk melakukan penemuan. Siswa akan mendapat hasil dari materi atau topik yang mereka pelajari.

Selain yang sudah disebutkan, Bruner, seorang psikolog dari Harvard University di Amerika Serikat juga menegaskan metode inkuiri memilki kelebihan sebagai berikut :

  • Siswa akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih baik.

  • Membantu dalam menggunakan daya ingat dan transfer pada situasi – situasi proses belajar yang baru.

  • Mendorong siswa untuk berpikir inisiatifdan merumuskan hipotesisnya sendiri.

  • Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.

  • Memberikan kepuasan yang bersipat intrinsik.

  • Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.

Selain kelebihannya metode inkuiri juga mempunyai kekurangan, berikut kekurangan metode inkuiri:

  1. Jika sistem pembelajaran inkuiri digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.

  2. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.

  3. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.

  4. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka strategi pembelajaran inkuiri akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.

Langkah Pelaksanaan Metode Pembelajaran Inkuiri


Secara umum, Sanjaya (2012) mengemukakan bahwa proses pembelajaran dengan mengguanakan strategi pembelajaran inkuiri dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

1. Orientasi

Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsive. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Berbeda dengan tahapan preparation dalam strategi pembelajaran ekspositori (SPE), sebagai langkah untuk mengkondisikan agar siswa siap menerima pelajaran.

Pada langkah orientasi dalam metode inkuiri, guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah.

Langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting, keberhasilan metode pembelajaran inkuiri sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah. Tanpa kemauan dan kemampuan itu tak mungkin proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar.

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi ini adalah

  1. Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.

  2. Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakuakn oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.

  3. Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.

2. Merumuskan Masalah

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka teki itu. Dikatakan teka teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat.

Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam metode pembelajaran inkuiri, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir. Dengan demikian, teka teki yang menjadi masalah dalam berinkuiri adalah teka teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan. Ini penting dalam pembelajaran inkuiri.

Beberapa hal yang harus diperhatiakan dalam merumuskan masalah, diantaranya:

  1. Masalah hendaknya dirumusakn sendiri oleh siswa. Siswa akan memiliki motivasi belajar yang tinggi manakala dilibatkan dalam merumuskan masalah yang hendak dikaji. Dengan demikian, guru sebaiknya tidak merumuskan sendiri masalah pembelajaran, guru hanya memberikan topik yang akan dipelajari, sedangkan bagaimana rumusan masalah yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan sebaiknya diserahkan kepada siswa.

  2. Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka teki yang jawabannya pasti. Artinya guru dapat mendorong agar siswa dapat merumuskan masalah yang menurut guru jawaban sebenarnya sudah ada, tinggal siswa mencari dan mendapatkan jawabannya secara pasti.

  3. Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa. Artinya sebelum masalah itu dikaji lebih jauh melalui proses inkuiri, guru perlu yakin terlebih dahulu bahw siswa sudah memiliki pemahaman tentang konsep-konsep yang ada dalam rumusan masalah. Jangan harap siswa dapat melakukan tahapan inkuiri selanjutnya, manakala ia belum paham konsep-konsep yang terkandung dalam rumusan masalah.

3. Merumuskan Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Potensi berpikir itu dimulai dari kemampuan setiap individu untuk menebak atau mengira-ngira (berhipotesis) dari suatu permasalahan. Manakala individu dapat membuktikan tebakannya, maka ia akan sampai pada posisi yang bisa mendorong untuk berpikir lebih lanjut. Oleh sebab itu, potensi untuk mengembangkan kemampuan menebak pada setiap individu harus dibina.

Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis.

Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat berpengaruh oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis.

4. Mengumpulkan Data

Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya. Oleh sebab itu, tugas dan peran gutu dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.

Sering terjadi kemacetan berinkuiri adalah manakala siswa tidak apresiatif terhadap pokok permasalahan. Tidak apresiatif itu biasanya ditunjukkan oleh gejala-gejala ketidak bergairahan dalam belajar. Manakala guru menemukan gejala-gejala semacam ini, maka guru hendaknya secara terus menerus memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar melalui penyuguhan berbagai jenis pertanyaan secara merata kepada seluruh siswa sehingga meraka terangsang untuk berpikir.

5. Menguji Hipotesis

Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data dan informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atau jawaban yang diberikan. Disamping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggung jawabkan.

6. Merumuskan Kesimpulan

Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumukan kesimpulan merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, oleh karena banyaknya data yang diperoleh, menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.

Sistem Evaluasi


Dalam pembelajaran berbasis inkuiri, tujuan utama melakukan evaluasi bukan untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi selama proses pembelajaran berlangsung, bukan pula tenatang mencari-cari kekurangan yang mungkin sempat terlewatkan. Evaluasi ditujukan untuk menggali lebih dalam masukan-masukan atau pendapat lain yang diras kurang tergali selama proses belajar berlangsung.

Oleh karenanya sesi evaluasi harus diberi jatah yang cukup, karena masukan-masukan atau ide-ide bagus sangat mungkin muncul disesi ini. Hal yang perlu dilakukan dalam sesi ini adalah menyegarkan kembali ingatan siswa terhadap poin-poin penting yang muncul selama proses pembelajaran berlangsung, termasuk juga pendapat-pendapat siswa yang agak ‘berbobot’. Siswa perlu kembali diingatkan tentang hal ini, sambil dibantu dengan penjelasan guru terkait dengan kekurangan atau bahkan kesalahan yang mungkin ada dalam pendapat atau opini siswa. Sehingga dalam praktiknya, guru perlu untuk memancing-mancing siswa untuk memperbaiki atau memperkuat pendapat atau temuan mereka.

Berikut ini contoh dari evaluasi di dalam pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri,

Tabel evaluasi metode inkuiri

Evaluasi Keterangan
Evaluasi materi Tadi kita telah membahas materi Ada tiga poin penting terkait dengan materi tersebut, Yakni 1… 2… 3… namun poin yang ke 2… sepertinya masih menyisakan maslah, karena … Bukankah seharusnya begini …
Evaluasi opini / temuan siswa Tiga orang teman kita tadi memberikan opini yang sangat baik terkait dengan materi yang kita bahas, yakni: … namun jika diperhatikan lagi pendapat '… ternyata bersebrangan dengan data yang ada. Nah, bagaimana menurut kalian?

Model pembelajaran inkuiri merupakan suatu proses pembelajaran yang diawali dengan kegiatan merumuskan masalah, mengembangkan hipotesis, mengumpulkan bukti, menguji hipotesis, menarik kesimpulan sementara, dan menguji kesimpulan sementara tersebut sampai pada kesimpulan yang diyakini kebenarannya. Jadi, pembelajaran dengan inkuiri menuntut siswa untuk menemukan sendiri atas pemecahan suatu masalah berdasarkan data-data yang nyata hasil dari observasi atau pengamatannya.Siswa harus memproses informasi secara mental untuk memahami makna dan secara aktif terlibat dalam pembelajaran. Pembelajaran model inkuiri mewujudkan learning by doing dan sejalan dengan teori konstruktivisme. Trowbridge & Sund (1984) menyatakan bahwa.

The essence of inkuiri teaching is arranging the learning environment to facilitatate student centered instruction and giving sufficient guidance to insure direction and success in discovering scientific concepts and prinsiples. One way a teacher helps a student obtain a sense of direction and use his minda is through questioning. The art of being a good conversationalist requires listening and insightful questions. A good inkuiri orierted teacher excellent conversationalist. He listen well and asks appropriate question assisting assisting individuals in organizing their thoughts and gaining insight .

Hal terpenting dalam mengajar melalui inkuiri adalah kemampuan mengorganisasikan lingkungan pembelajaran untuk memfasilitasi kegiatan siswa serta memberikan cukup bimbingan untuk memastikan setiap langkah kegiatan agar dapat menemukan konsep dan prinsip.

Hasil penelitian I Ketut Neka (2015) menyatakan model pembelajaran inkuiri terbimbing memberi peluang kepada siswa untuk berpartisipasi aktif dalam menemukan dan memanfaatkan sumber belajar. Siswa akan memperoleh pengalaman lebih bermakna dan apa yang dipelajari akan lebih kuat melekat dalam pikiran mereka. Hal ini berdampak posiitif terhadap perolehan hasil belajar siswa.

Guru melalui pembelajaran inkuiri terbimbing harus merancang pembelajaran inkuiri yang melibatkan siswa secara aktif di mana pada proses awal pembelajaran guru memberi banyak bimbingan kemudian secara teratur mengurangi frekuensi bimbingan. Dengan demikian, siswa dapat menjadi penyelidik yang baik dan pengetahuan ilmiahnya dapat terpenuhi.

Pengertian Inkuiri


Model pembelajaran inkuiri pertama kali dikembangkan oleh Richard Suchman tahun 1962 (Joyce and Well, 2009), untuk mengajar para siswa memahami proses meneliti dan menerangkan suatu kejadian. Ia menginginkan agar siswa bertanya mengapa suatu peristiwa terjadi, kemudian ia mengajarkan kepada siswa prosedur dan menggunakan organisasi pengetahuan dan prinsip-prinsip umum. Siswa melakukan kegiatan, mengumpulkan, dan menganalisis data, sampai akhirnya siswa menemukan jawaban dari pertanyaan.

Menurut Trianto (2010) Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual.Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.

Menurut Hanafiah (2010), inkuiri adalah suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan prilaku. Sehingga pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau pristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan penemuannya dengan penuh percaya diri.

Menurut Hamalik (2011) bahwa Pengajaran berdasarkan inkuiri adalah suatu strategi yang berpusat pada siswa di mana kelompok siswa inkuiri ke dalam suatu isu atau mencari jawaban- jawaban terhadap isi pertanyaan melalui suatu prosedur yang digariskan secara jelas dan struktural kelompok.

Berdasarkan pendapat di atas, dipilihnya metode inkuiri terbimbing, karena guru berperan dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya, dan siswa menyelesaikan masalah secara diskusi kelompok dan menarik kesimpulan secara mandiri. Sehingga inkuiri terbimbing dapat diartikan sebagai salah satu model pembelajaran berbasis inkuiri/penemuan yang menyajikan masalah dan penyelesaian dari masalah ditentukan guru.

Menurut Dimyati & Mujiono (2006), belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.

Menurut Sanjaya (2008) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan gambaran kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam satu kompetensi dasar. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan- kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman dari proses pembelajaran. Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru setelah selesai memberikan materi pelajaran pada satu pokok bahasan.

Secara sederhana, Ansberry dan Morgan (2007) menyatakan

“inkuiri is an approach to learning that involve exploring the world and that leads to asking questions, testing ideas, and making discovery in the search for understanding”.

Ansberry dan Morgan mendefinisikan pendekatan pembelajaran yang melibatkan penyelidikan dan mengarahkan pada pertanyaan, menguji ide-ide, dan membuat penemuan dalam mencari pemahaman.

Menurut Meador (2010),

“inkuiri learning is a dynamic approach that involve exploring the world, asking question, making discoveries and rigolously testing those discoveries in the search for new understanding”

yang berarti pembelajaran inkuiri merupakan suatu pendekatan yang melibatkan siswa untuk menyelidiki, mengajukan pertanyaan, membuat penemuan, menguji hipotesis untuk mendapatkan pemahaman baru.

Menurut Albert Learning (2004), model pembelajaran inkuiri dinyatakan sebagai berikut.

“Inkuiri based learning is a process where student are involved in their learning, formulate question, investigate widely and then build new understanding, meaning and knowledge. That knowledge is new to the student and may be used to answer a question, to develop a solution or to support a position or point of view. The knowledge is usually presented to other and may result in some sort of action”.

Pendapat beberapa ahli yang didukung oleh National Science Educational Standard (NRC: 2000) mendefinisikan inkuiri sebagai bentuk aktivitas yang melibatkan kegiatan pengamatan, mengajukan pertanyaan, mencari rujukan atas data yang diperoleh melalui buku- buku dan sumber informasi lainnya, merencsiswaan penyelidikan, meninjau ulang apa yang diketahui dari bukti-bukti hasil percobaan sederhana, menggunakan perangkat-perangkat untuk mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi data, pengajuan jawaban, penjelasan dan perkiraan serta mengkomunikasikan hasil.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa inkuiri adalah pembelajaran yang melibatkan siswa dalam menemukan pengetahuan atau pemahaman untuk menyelidiki, mulai dari melakukan pengamatan, mengajukan pertanyaan, merencsiswaan penyelidikan, mengumpulkan data atau informasi dan melakukan penyelidikan, menganalisi data, membuat kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil penyelidikan.

Pembelajaran inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Siswa berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Guru berperan membimbing dan bertindak membawa perubahan, fasilitator, motivator bagi siswanya. Khususnya di lingkungan sekolah dasar, membutuhkan bimbingan yang lebih intensif kepada siswa dalam menerapkan proses inkuiri ini di dalam pembelajaran maka untuk Sekolah Dasar sebaiknya menggunakan inkuiri terbimbing. Melalui pembelajaran inkuiri guru memberi bimbingan dan arahan kepada siswa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan penyelidikan. Kegiatanini menuntut siswa untuk memiliki keaktifan yang sangat tinggi dalampembelajaran.

Salah satu model pembelajaran untuk mengembangkan aspek kognitif dan sosioemosi siswa usia sekolah dasar awal adalah model instruksional kognitif yang digagas Bruner (2004) yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discovery learning). Bruner menekankan pentingnya pemahaman tentang apa yang dipelajari dan memerlukan keaktifan dalam belajar sebagai dasar adanya pemahaman yang benar (true understanding) serta mementingkan proses berfikir induktif dalam belajar. Disarankan agar siswa belajar melalui berpartisipasi secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, agar mereka memperoleh pengalaman, dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengijinkan mereka untuk menemukan prinsip-prinsip itu sendiri dan tidak sekedar menerima penjelasan dari para guru.Proses ini dinamakan discovery learning.

Salah satu model discovery learning adalah inkuiri yang diformat oleh Dewey (1910) dan telah diadaptasi dalam berbagai bentuk atau strategi. Walaupun demikian kegiatan inkuiri pada dasarnya meliputi kegiatan guru menyampaikan suatu masalah yang menimbulkan tanda tanya, mengajukan pertanyaan atau problem, sedangkan siswa merumuskan hipotesis untuk menjelaskan atau untuk menyelesaikan masalah kemudian mengumpulkan atau menguji hipotesis dan dilanjutkan dengan menarik kesimpulan (Woolfolk, 2004).

Discovery learning (Cruickshank, 2006) termasuk salah satu bentuk pembelajaran yang berbasis pada teori kontruktivisme yakni sebuah cara pengajaran dan belajar yang lahir dari ide para tokoh Dewey, Piaget, Montessori dan Vigotsky dan para tokoh pembaharu pendidikan seperti pendidikan progesif (progressive education), inkuiri-diskoveri, open education dan pembelajaran bahasa. Konstruktivis memaksimalkan pemahaman siswa dan menekankan peran aktif siswa dalam membangun pemahaman dan pemerolehan informasi.

Pembelajaran inkuiri terjadi apabila para pembelajar diminta untuk mendapatkan sesuatu.Seorang guru lebih memilih mengajukan pertanyaan tentang sesuatu daripada menyebutkannya. Menurut Cruickshank, dkk, setidaknya ada 3 maksud guru menggunakan inkuiri adalah:

  • Pertama , mengharapkan pembelajar mengetahui bagaimana berpikir dan mendapatkan sesuatu untuk mereka. Sebaliknya mereka tidak diharapkan menjadi kurang dependen atau mandiri dalam menerima penngetahuan dari para guru dan kesimpulan yang diperoleh orang lain.

  • Kedua , mengharapkan pembelajar mengenali bagaimana pengetahuan diperoleh.Hal ini berarti para guru mengharapkan para siswa belajar melalui mengumpulkan ( collecting ), mengorganisasi ( organizing ), dan menganalisa informasi ( analyzing information ) untuk sampai kepada kesimpulan sendiri.

  • Ketiga, para guru menginginkan siswa menggunakan kemampuan tertinggi dalam berpikir (highest-order thinking skill) yakni kemampuan menganalisa (analyze), mensintesis (synthesize) dan menilai (evaluate).

Menurut Sandra L. Laursen, dkk. (2014). menyatakan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri memiliki kelebihan yang sangat berarti dalam mendorong kolaborasi dan keterlibatan siswa. Rahmatsyah & Simamora (2011) dalam penelitiannya menyatakan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing memiliki tahapan pembelajaran yang membangkitkan keaktifan siswa sehingga selain aktivitas meningkat, hasil belajar juga meningkat. Interaksi melalui kegiatan diskusi juga akan melatih siswa, untuk mengembangkan kepekaan sosialnya, karena siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk meningkatkan komunikasi dan kemampuan berpikir.

Karakteristik Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing


Menurut Sanjaya (2014), ada beberapa hal yang menjadi karakteristik utama dalam pembelajaran inkuiri, yaitu:

Inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untu mencari dan menemukan. Siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal di dalam proses pembelajaran, tetapi siswa juga berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri.

Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dan sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belajar). Dengan demikian, metode pembelajaran inkuiri menempatkan guru sebagai sumber belajar akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.

Tujuan dari penggunaan inkuiri dalam pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Siswa tidak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran dalam metode inkuiri, akan tetapi bagaimana siswa dapat menggunakan kemampuan yang dimilikinya secara optimal.

Lebih lanjut, National Science Educational Standard (NRC, 2000) menyatakan lima ciri esensial dari inkuiri, antara lain.

  • Siswa tertarik pada pertanyaan-pertanyaan yang berorientasi ilmiah.
    Pertanyaan-pertanyaan berorientasi ilmiah berpusat pada objek, organisme dan peristiwa-peristiwa di alam. Guru memiliki peran penting dalam membimbing identifikasi pertanyaan, khususnya ketika pertanyaan tersebut berasal dari para siswa. Inkuiri yang berhasil berawal dari pertanyaan-pertanyaan bermakna dan relevan bagi para siswa, namun dapat menjawab juga melalui pengamatan dan pengetahuan ilmiah yang diperoleh dari sumber-sumber yang terpercaya

  • Siswa memberikan prioritas terhadap pembuktian yang membuat mereka mengembangkan dan mengevaluasi penjelasan-penjelasan terhadap pertanyaan-pertanyaan berorientasi ilmiah. Akurasi dari pengumpulan bukti diverifikasi dengan mengecek pengukuran, mengulang pengamatan, atau mengumpulkan data-data berbeda yang berkaitan dengan fenomena yang sama. Bukti adalah subyek dari pertanyaan dan penyelidikan lebih lanjut.Para siswa menggunakan bukti untuk mengembangkan penjelasan terhadap fenomena ilmiah di dalam kelas inkuiri.

  • Siswa menyusun penjelasan dari bukti terhadap pertanyaan- pertanyaan berorientasi ilmiah. Penjelasan-penjelasan ilmiah harus konsisten dengan bukti dari percobaan dan pengamatan tentang alam.Penjelasan adalah cara untuk mempelajari tentang apa yang belum dikenal dengan menghubungkan hasil pengamatan dengan yang sudah lebih dahulu diketahui. Bagi para siswa, hal ini berarti membangun ide- ide baru diatas pemahaman siswa yang sekarang.

  • Siswa mengevaluasi penjelasannya berdasarkan penjelasan- penjelasan alternatif, khususnya yang mereflesikan pemahaman ilmiah. Penjelasan-penjelasan alternative mungkin ditinjau ulang setelah para siswa berdiskusi, membandingkan hasil atau mengecek hasil mereka dengan yang diajukan oleh guru atau materi.

  • Siswa berkomunikasi dan menilai penjelasan yang mereka ajukan. Mengkomunikasikan penjelasan dengan meminta siswa untuk berbagi pertanyaan akan membuka kesempatan pafda siswa lain untuk bertanya, memeriksa bukti, dan menyarankan beberapa penjelasan alternative dari pengamatan yang sama. Berbagai penjelasan dapat memcahkan kontradiksi dan memantapkan sebuah argument berdasarkan empirik.

Pembelajaran yang hanya berpusat pada guru ( teacher centered ) menjadikan siswa relatif pasif karena pembelajaran hanya didominasi oleh guru. Materi yang didapat siswa hanya berupa hafalan jangka pendek.Proses Pembelajaran yang berorientasi terhadap target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi mengingat jangka pendek, namun gagal dalam membekali siswa memecahkan persoalan-persoalan dalam kehidupan jangka panjang (Depdiknas, 2006).

Hal-hal tersebut sudah seharusnya segera dikoreksi guru karena proses belajar yang seharusnya berlangsung adalah proses yang sebagaimana ditekankan oleh aliran konstruktivisme yaitu lebih ditekankan pada keterlibatan aktif peserta didik melalui pendekatan proses mental untuk mengkonstruksi dan mentransformasikan pengetahuannya.

Sebagai fasilitator peranan guru dalam pembelajaran adalah menstimulasi dan memotivasi siswa, mendiagnosis dan mengatasi kesulitan siswa, serta menyediakan pengalaman untuk menumbuhkan pemahaman siswa. Guru harus menyediakan dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada siswa untuk belajar secara aktif, Sehingga para siswa dapat menciptakan, membangun, mendiskusikan, membandingkan, bekerja sama, dan melakukan eksperimen dalam kegiatan belajarnya.

Menurut Rahayu dan Nuryata (2012) tugas guru sebagi fasilitator adalah

  • menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi peserta didik,
  • memberi kesempatan bagi peserta didik menemukan dan menerapkan idenya sendiri,
  • menyadarkan peserta didik agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

Model pembelajaran yang dikembangkan harus dikemas dengan cukup baik agar proses pembelajaran berjalan dengan aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Selain penggunaan model pembelajaran, minat belajar siswa merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pembelajaran. Terdapat faktor-faktor yang berinteraksi dalam pembelajaran, faktor siswa dengan segala karakteristiknya sebagai titik sentral dalam pembelajaran dan faktor guru sebagai instrument input dalam proses pembelajaran, karena siswa yang mengalami pembelajaran maka siswa pulalah yang harus bertanggung jawab atas pembelajaran dirinya (Marhaeni, 2012).

Jenis-jenis Model Pembelajaran Inkuiri


Inkuiri terbimbing (Guided inkuiri)

Inkuiri terbimbing digunakan bagi siswa yang belum mempunyai pengalaman belajar dengan metode inkuiri. Guru memberikan bimbingan dan pengarahan yang cukup luas. Bimbingan lebih banyak diberikan pada tahap awal dan sedikit demi sedikit dikurangi sesuai dengan perkembangan pengalaman siswa.Sebagiaan besar perencanaan dibuat oleh guru dan para siswa tidak merumuskan masalah.

Inkuiri terbimbing berorientasi pada aktivitas kelas yang berpusat pada siswa dan memungkinkan siswa belajar memanfaatkan berbagai sumber belajar yang tidak hanya menjadikan guru sebagai sumber belajar. Siswa secara aktif akan terlibat dalam proses mentalnya melalui kegiatan pengamatan, pengukuran, dan pengumpulan data untuk menarik suatu kesimpulan. Dalam pembelajaran inkuiri terbimbing siswa secara aktif dalam proses pembelajaran yaitu melalui dari perencanaan, pelaksanaan, sampai proses evaluasi. Dengan menerapkan pembelajaran berbasis inkuiri akan memacu keingintahuan siswa dalam menemukan hal-hal yang ingin diketahui siswa.

Inkuiri bebas (free inkuiri)

Siswa melakukan sendiri penelitian seperti seorang ilmuan pada inkuiri bebas.Siswa harus dapat mengidentifikasi dan merumuskan masalah berbagai topik permasalahan yang hendak diselidiki mada pembelajaran.metode yang digunakan adalah inkuiri role approach yang melibatkan siswa dalam kelompok tertentu, setiap anggota kelompok memiliki tugas sebagai misalnya sebagai koordinator kelompok, pembimbing teknis, pencatatan data dan pengevaluasian proses.

Model inkuiri didefinisikan oleh Piaget (Sund dan Trowbridge, 1973) sebagai pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi siswa untuk melakukaneksperimen sendiri; dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, inginmelakukan sesuatu, ingin menggunakan simbul-simbul dan mencari jawaban ataspertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan dengan yang ditemukan orang lain.

Kuslan Stone (Dahar,1991) mendefinisikan model inkuiri sebagai pengajaran di mana guru dan siswa mempelajari peristiwa- peristiwa dangejala-gejala ilmiah dengan pendekatan dan jiwa para ilmuwan. Pengajaranberdasarkan inkuiri adalah suatu strategi yang berpusat pada siswa di msiswaelompok-kelompok siswa dihadapkan pada suatu persoalan atau mencarijawaban terhadap pertanyaan pertanyaan di dalam suatu prosedur dan strukturkelompok yang digariskan secara jelas (Hamalik, 1991).

Inkuiri bebas yang dimodifikasi (modified free inkuiri)

Guru memberikan permasalahan dan kemudian siswa diminta memecahkan permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur pada pembelajaran berbasis inkuiri.Untuk itu guru dituntut harus mampu merancang dan melakssiswaan proses pembelajaran dengan tepat. Setiap siswa memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapat hidup di masyarakat dan bekal ini diharapkan diperoleh melalui pengalaman belajar di sekolah.Oleh sebab itu pengalaman belajar di sekolah sedapat mungkin memberikan bekal siswa dalam mencapai kecakapan untuk berkarya.Kecakapan ini disebut dengan kecakapan hidup yang cakupannya lebih luas dibanding hanya sekadar keterampilan.

Meador (2010) dan Windschitl (2002) membagi inkuiri menjadi beberapa level inkuiri dari level yang paling rendah hingga level yang paling tinggi berdasarkan penerapannya yang ditunjukkan pada table dibawah ini.

Tabel Level Pembelajaran Inkuiri

Level Inkuiri Deskripsi Yang diberikan pada siswa
Confirmation Siswa memastikan prinsip melalui aktivitas yang hasilnya telah diketahui terlebih dahulu Masalah, prosedur dan solusi
Structures Inkuiri Siswa menyelidiki pertanyaan yang disajikan guru melalui prosedur yang ditentukan Masalah dan prosedur
Guided Inkuiri Siswa menyelidiki pertanyaan yang disajikan oleh guru dengan menggunakan rancangan dan prosedur penelitian yang dibuat siswa Masalah
Open Inkuiri Siswa menyelidiki topic yang berhubungan dengan pertanyaan yang dirumuskan melalui rancangan/prosedur yang dibuat prosedur siswa Topik

Sumber: Meador, 2010 dan Windschintl, 2002

Secara umum Kuhlthau (2007) mengatakan bahwa inkuiri terbimbing (guided inkuiri) membantu siswa untuk berlatih dalam sebuah tim, mengembangkan kompetensi dalam penelitian, pengetahuan, motivasi, pemahaman bacaan, perkembangan bahasa, kemampuan menulis, pembelajaran kooperatif dan ketrampilan sosial.

Hasil penelitian Laela Ngasarotur (2015) menyebutkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar fisika siswa diantaranya yaitu: Terlaksananya langkah-langkah kegiatan dengan model inkuiri terbimbing dalam proses pembelajaran, permasalahan yang disajikan dalam LKS mampu membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa, alat-alat praktikum yang menunjang kegiatan pembelajaran dan adanya kesempatan siswa untuk mengkomunikasikan hasil diskusi

Terdapat enam prinsip dalam inkuiri terbimbing (guded inkuiri) (Kuhlthau, 2007) antara lain sebagai berikut:

  1. siswa belajar secara aktif mengehubungkan dan bercermin dari pengalaman;
  2. siswa belajar dengan membangun pengetahuan dari apa yang mereka siap ketahui;
  3. siswa mengembangkan berpikir tingkat tinggi melalui berpikir kritis dalam proses belajar;
  4. siswa mempunyai cara berbeda dalam belajar; 5) siswa belajar melalui interaksi sosial dengan siswa lainnya; dan 6) siswa belajar melalui pedoman dan pengalaman yang sesuai dengan perkembangan kognitif mereka.

Pendekatan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada siswa yang memiliki minat belajar tinggi memberikan peluang kepada siswa untuk bisa mengeksplorasikan kemampuannya sehingga pada saat proses pembelajaran terjadi siswa mampu mengembangkan kemampuan yang mereka miliki secara optimal.

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing


Penggunaan inkuiri terbimbing (guided inkuiri) memiliki beberapa keuntungan untuk siswa (Kuhlthau, 2007) antara lain.

  • Siswa dapat mengembangkan ketrampilan bahasa, membaca dan ketrampilan sosial

  • Siswa dapat membangun pemahaman sendiri

  • Siswa mendapat kebebasan dalam melakukan penelitian

  • Siswa dapat meningkatkan motivasi belajar dan mengembangkan strategi belajar untuk menyelesaikan masalah

Selain itu, penggunaan inkuiri terbimbing (guided inkuiri) juga mempunyai beberapa kelemahan antara lain :

  • Proses pembelajaran membutuhkan waktu yang lebih lama

  • Inkuiri terbimbing (guided inkuiri) sering bergantung pada kemampuan matematika siswa, kemampuan bahasa siswa, ketrampilan belajar mandiri dan self-management

  • Siswa yang aktif mungkin tetap tidak paham atau mengenali konsep dasar, aturan dan prinsip, serta siswa sering kesulitan untuk membuat pendapat, membuat hipotesis, membuat rancangan percobaan dan menarik kesimpulan.

Langkah-langkah Kegiatan Model Pembelajaran Inkuiri


1. Orientasi

Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:

  • Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapaioleh siswa.

  • Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswauntukmencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah- langkah inkuiri sertatujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan merumuskan masalahsampai dengan merumuskan kesimpulan.

  • Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukandalamrangka memberikan motivasi belajar siswa.

2. Merumuskan masalah

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatupersoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalanyang menantang siswa untuk memecahkan teka- teki itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.

3. Merumuskan hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap siswa adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.

4. Mengumpulkan data

Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untukmenguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkandata merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembanganintelektual. Proses pemgumpulan databukan hanya memerlukan motivasi yangkuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuanmenggunakan potensi berpikirnya.

5. Menguji hipotesis

Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuaidengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.

6. Merumuskan kesimpulan

Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.

Alasan rasional penggunaan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai matematika dan akan lebih tertarik terhadap matematika jika mereka dilibatkan secara aktif dalam “melakukan” penyelidikan. Investigasi yang dilakukan olehsiswa merupakan tulang punggung pembelajaran dengan pendekatan inkuiri. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep matematika dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa.

Sehingga diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berpikir ilmiah tersebut. Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri merupakan pendekatan pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar, peranan guru dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri adalah sebagai pembimbing dan fasilitator.

Tahapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing


Tahapan model pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inkuiri) yang diadaptasi dari model inkuiri disajikan pada table di bawah ini sebagai berikut:

Tabel Sintaks Model Inkuiri Terbimbing

Tahap Aktivitas Guru
Tahap 1 Identifikasi masalah dan melakukan pengamatan Guru menyajikan kejadian-kejadian atau fenomena dan siswa melakukan pengamatan yang memungkinkan siswa menemukan masalah
Tahap 2 Mengajukan pertanyaan Guru membimbing siswa mengajukan pertanyaan berdasarkan kejadian dan fenomena yang disajikan
Tahap 3 Merencanakan penyelidikan Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kecil heterogen, membimbing siswa untuk merencanakan penyelidikan, membantu menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dan menyusun prosedur kerja yang tepat
Tahap 4 Mengumpulkan data/informasi dan melaksanakan penyelidikan Guru membimbing siswa melaksanakan penyelidikan dan memfasilitasi pengumpulan data
Tahap 5 Menganalisis data Guru membantu siswa menganalisis data dengan berdiskusi dalam kelompoknya
Tahap 6 Membuat kesimpulan Guru membantu siswa dalam membuat kesimpulan betdasarkan hasil kegiatan penyelidikan
Tahap 7 Mengkomunikasikan hasil Guru membimbing siswa dalam mempresentasikan hasil kegiatan penyelidikan yang telah dilakukan

(Sumber: adaptasi dari NRC, 2000)

Teori-Teori Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing


Teori Piaget

Menurut Piaget dalam Slavin (2006), perkembangan bergantung sebagian besar bergantung pada sejauh mana siswa aktif berinteraksi pada lingkungannya. Teori perkembangan Piaget mewakili konstruktivisme, yang memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana siswa secara aktif membangun sistem permaknaan dan pemahaman tentang realitas melalui pengalaman dan interaksi.

Implikasi dari teori perkembangan kognitif oleh Piaget, yaitu

  • memusatkan proses berpikir siswa, tidak sekedar pada hasilnya,

  • memperhatikan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran,

  • memaklumi perbedaan individual dalam kemajuan perkembangan.

Menurut Piaget dalam Dahar (2011), perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi, yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi memberikan organisme kemampuan untuk mensistematikkan atau mengorganisasikan proses fisik atau psikologis menjadi sistem yang teratur dan berhubungan atau terdruktur. Menurut Piaget, adaptasi adalah proses menyesuaikan skema sebagai tanggapan atas lingkungan melalui asimilasi dan akomodasi (Slavin, 2006).

Teori piaget tersebut yang mendasari teori konstruktivistik. Menurut teori konstruktivistik, perkembangan intelektual adalah suatu proses dimana siswa secara aktif membangun pemahamannya dari hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya. Siswa secara aktif membangun pengetahuannya dengan terus menerus melakukan akomodasi dan asimilasi terhadap informasi-informasi yang diterima. Implikasi dari teori piaget dalam pembelajaran adalah sebagai berikut (Trianto, 200715) antara lain:

  1. memusatkan perhatian pada proses berpikir siswa, bukan hasilnya;

  2. menekankan pada pentingnya peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatannya secara aktif dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran di kelas, pengetahuan diberikan tanpa adanya tekanan, melainkan siswa didorong menemukan sendiri melalui proses interaksi dengan lingkungannya; dan

  3. memaklumi adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan, sehingga guru harus melakukan upaya khusus untuk mengatur kegiatan kelas dalam bentuk individu-individu.

Berdasarkan teori piaget, pembelajaran inkuiri cocok diterapkan dalam kegiatan pembelajaran karena menyandarkan pada proses dan hasil belajar. Proses belajar diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir, sedangkan sisi hasil belajar diarahkan untuk mengkonstruksi pengetahuan dan penguasaan materi pelajaran baru. Selain itu, yang dinilai dalam pembelajaran inkuiri adalah proses menemukan sendiri hal baru dan proses adaptasi. Kedua proses tersebut harus berkesinambungan secara tepat dan serasi antara hal baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.

Teori Perkembangan Social Vygotsky

Pembelajaran melibatkan perolehan tanda-tanda melalui pengajaran dan informasi dari orang lain. Perkembangan melibatkan penghayatan siswa terhadap tanda-tanda ini sehingga sanggup berpikir dan memecahkan masalah (Slavin, 2006). Teori Vygotsky beranggapan bahwa pembelajaran terjadi apabila siswa-siswa bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya (zone of proximal development). Yaitu perkembangan kemampuan siswa sedikit si atas kemampuan yang sudah dimilikinya. Satu hal lagi dari Vygotsky adalah scaffolding, yaitu pemberian bantuan pada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran kemudian menguranginya dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil tanggung jawab yang semakin besar setelah siswa dapat melakukannya.

Pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inkuiri) adalah zona intervensi (campur tangan) di mana petunjuk dan bantuan khusus diberikan untuk membimbing siswa dalam mengumpulkan informasi untuk menyelesaikan tugasnya kemudian sedikit demi sedikit dikurangi sesuai dengan perkembangan pengalaman siswa.

Teori Penemuan Jerome Bruner

Fokus dari pendekatan Bruner adalah pendekatan penemuan (discovery approach). Bruner memberi dukungan teoritis pada pembelajaran penemuan (discovery learning) , yaitu model pengajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur dan ide-ide kunci dari suatu disiplin ilmu, perlunya keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran, dan pembelajaran sejati datang melalui penemuan (Arends, 2009). Ketika belajar penemuan diterapkan dalam sains dan ilmu social, itu menekankan penalaran induktif dan proses penyelidikan yang menjadi karakteristik metode ilmiah dan pemecahan masalah.

Bruner menegaskan bahwa orang dapat belajar dengan baik ketika mereka secara aktif terlibat dari pada menjadi penerima pasif informasi. Bruner menjelaskan bahwa siswa tidak cukup hanya menerima informasi saja, namun perlu dilibatkan dalam menafsirkan untuk pemahaman yang mendalam.Pembelajaran melibatkan informasi yang diberikan untuk menciptakan hasil pemikiran (Kuhlthau, 2007).

Penerapan ide-ide Bruner dalam pembelajaran menurut Woolfolk (2009) sebagai berikut:

  1. menyajikan contoh dan bukan contoh dari konsep yang diajarkan,

  2. membantu siswa mencari hubungan antara konsep,

  3. mengajukan pertanyaan dan membiarkan siswa mencoba menemukan jawabannya,

  4. mendorong siswa untuk membuat dugaan yang bersifat intuitif.

Teori Konstruktivisme John Dewey

Dewey adalah seorang kontruktivisme pertama yang mengeluarkan filsafat pendidikannya yang mempersiapkan siswa untuk bekerja, kewarganegaraan, dan kehidupan bermasyarakat yang bebas.Hasil karyanya “ Democracy and Education” , memberikan landasan bagi pembelajaran inkuiri. Dewey dalam Kuhlthau (2007) menjelaskan bahwa pendidikan bukan sekedar memberitahu dan diberitahu tapi sebuah sebuah proses aktif dan konstruktif. Menurutnya pembelajaran sebagai proses kreatif dari penyelidikan, dimulai dengan usulan karena informasi baru yang menimbulkan pertanyaan atau masalah. Siswa melalui refleksi secara aktif merefleksikan informasi baru untuk membentuk ide-ide mereka sendiri melalui proses pembelajaran yang secara bertahap menyebabkan pemahaman mendalam. Fakta-fakta, data, informasi yang membangun ide dapat digunakan siswa untuk menarik kesimpulan dari apa yang ia ketahui yang mengarahkan pada pemahaman yang mendalam.

Berdasarkan uraian di atas, Dewey menguraikan langkah-langkahnya dari berpikir reflektif, yaitu

  • mendefinisikan masalah,
  • mengkondisikan masalah yang terkait, di mana siswa mengidentifikasi dan menentukan masalah yang dihadapi,
  • merumuskan hipotesis untuk memecahkan masalah,
  • menguraikan nilai dari berbagai solusi dengan menimbang kemungkinan hipotesis berikut dengan akibatnya, dan
  • menguji ide-ide untuk memberikan solusi yang dipandang terbaik dari masalah yang dihadapi.

Dengan demikian, pendekatan ini mirip dengan metode ilmiah di mana suatu hipotesis dapat diuji dan dirumuskan.

Sumber : Nurdyansyah, Eni Fariyatul Fahyuni, 2016, Inovasi Model Pembelajaran, Nizamial Learning Center