© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan pembelajaran berbasis ramah otak atau brain fiendly teaching?

Pembelajaran berbasis ramah otak

Pembelajaran berbasis ramah otak sering juga disebut juga pembelajaran berbasis cara kerja otak atau pembelajaran berbasis kemampuan otak.

Pembelajaran ramah otak adalah pembelajaran dimana guru dapat mengelola kelasnya dengan baik sehingga siswa merasa aman dan nyaman serta antusias menerima pelajaran. Selain itu, guru akan mengarahkan dan menyemaikan keyakinan bahwa seluruh materi pelajaran adalah mudah (Mahfudz, 2012).

Jensen dalam Rudi, (2015) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis kemampuan otak adalah pembelajaran yang diselaraskan dengan cara kerja otak yang didesain secara alamiah untuk belajar. Sehingga, pembelajaran berbasis otak ini merupakan salah satu upaya dalam mempertimbangkan bagaimana otak belajar dengan optimal.

Menurut Mahfudz (2012), terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh para guru agar proses pembelajaran tergolong mendidik yang ramah otak, diantaranya yaitu :

  • Kondisi dalam keadaan alpha zone
    Kondisi yang siap menerima pelajaran itulah yang dimaksud dengan kondisi alpha. Kondisi alpha merupakan kondisi tersenyum, kondisi dimana siswa merasa rileks dan bergairah untuk menerima pelajaran.

  • Menyapa dengan tulus
    Hal ini diperlukan agar guru mengetahui kondisi siswa sebelum pembelajaran dimulai.

  • Penyampaian penemuan-penemuan baru
    Mengawali pelajaran dengan sebuah crita lucu yang membuat siswa tertawa, dapat membantu siswa berimajinasi.

  • Sugesti diri
    Guru yang ramah otak akan mengarahkan siswa untuk meyakini bahwa dirinya adalah siswa yang cerdas.

  • Melibatkan emosi
    Keterlibatan emosi kedalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan mendorong para siswa untuk mereflesikan perasaan siswa.

  • Mengatur ritme konsentrasi
    Sudah seharusnya guru memberikan waktu jeda setiap 20 menit sekali selama beberapa saat saja, kurang lebih 1 sampai 2 menit. Waktu jeda, dapat diisi oleh siswa untuk minum atau makan makanan kecil, brain gym, bercerita, humor, dsb. Jeda merupakan salah satu strategi untuk mengembalikan konsentrasi siswa pada saat pembelajaran. Mengatur waktu jeda dapat menaikkan daya serap siswa. Karena otak mengalami dehidrasi setiap 20 sampai 30 menit sekali.

  • Mengiringi belajar dengan musik
    Musik melepaskan dominasi otak kiri yang sifatnya lebih logis dan kritis. Msik juga menyeimbangkan cara kerja otak kanan. Sehingga, kedua belahan otak sama-sama bekerja. Musik yang diperuntukkan untuk belajar adalah musik klasik.

  • Melayani seluruh tipe belajar siswa
    Berikut merupakan beberapa tipe belajar yang dimiliki siswa:

    • Visual learners
      Gaya belajar melalui penjelasan, melihat. Dalam gaya belajar visual learners, siswa sulit untuk mengikuti anjuran secara lisan.

    • Audiotory learners
      Gaya belajar yang mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami dan mengingat informasi.

    • Kinesthetic learners
      Gaya belajar mengandalkan sentuhan untuk memberikan informasi tertentu agar bisa mengingat informasi.

  • Melakukan brain gym
    Senam otak membantu memaksimalkan kerja otak kanan dan otak kiri. Senam otak (brain gym) adalah serangakaian latihan berbasis gerakan tubuh sederhana. Gerakan itu dibuat untuk merangsang otak kiri dan kanan. Brain gym juga dapat membantu melepaskan stres, menjernihkan pikiran, meningkatkan daya ingat, dan sebagainya.

Kagan (2014) mengatakan bahwa pembelajaran ramah otak (brain friendly) adalah “teaching aligned with how brains best function with how brains best attend to, process, retain, and recall information” .

Pembelajaran ramah otak

Sebuah pengajaran yang bertujuan untuk mengoptimalkan kerja otak yang selaras atau sesuai dengan bagaimana fungsi otak pada mestinya, yaitu untuk memproses, menyimpan atau mempertahankan dan mengingat kembali informasi). Kagan menyebutkan terdapat enam prinsip dalam brain fiendly teaching yaitu: Nourishment , safety, social, emotion, attention, dan stimuli.

  • Nourishment (makanan)
    Memelihara otak dengan menjaga dan memperhatikan asupan makanan atau nutrisi, karena otak yang baik membuat aktifitas belajar menjadi lebih baik.

  • Safety (keselamatan/keamanan)
    Dengan terciptanya lingkungan kelas yang aman akan membuat proses pembelajaran menjadi lebih efektif.

  • Social (sosial)
    Otak adalah organ sosial dimana otak akan terlibat dan lebih berperan aktif saat kita berinteraksi yang kooperatif.

  • Emotion (emosi)
    Emosi dapat memfasilitasi dan menghambat belajar. Dikatakan mampu memfasilitasi yaitu ketika otak berada dalam keadaan good maka hal ini dapat memfasilitasi/mendorong pemikiran, dan kreativitas, sementara dikatakan menghambat yaitu apabila otak berada dalam keadaan bad maka hal ini dapat mematikan kemampuan untuk berpikir dan berkreasi.

  • Attention (perhatian)
    Dengan adanya perhatian, berarti memberikan kesempatan kepada para siswa untuk memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang yang telah disampaikan.

  • Stimuli (rangsangan)
    Dengan adanya atau diberikannya suatu rangsangan, itu akan menjadikan otak lebih berperan aktif, otak akan mencari, mempertahankan beberapa jenis informasi yang jauh lebih baik.

Mujiono (2013) mengemukakan pembelajaran ramah otak merupakan model pembelajaran yang mengoptimasi lingkungan sebagai kunci dalam menciptakan kelas yang ramah. Aktifitas belajar yang terjadi melibatkan subjek belajar secara langsung, mengoptimasi semua sumber belajar, dan memberi peluang untuk mengeksplorasi secara luas. Pembelajaran ini tidak terlalu membebani otak dengan konsep dan prinsip yang terfragmentasi.

Jadi, pembelajaran ramah otak merupakan serangkaian kegiatan dimana guru dapat mengelola kelasnya dengan baik, melibatkan peserta didik secara langsung dalam proses pembelajaran serta memberikan peluang untuk mengeksplorasi pemahaman serta pengetahuannya secara luas. Kegiatan pembelajaran ini telah diseting sebagaimana fungsi otak yang memiliki peran untuk memproses, menyimpan atau mempertahankan serta mengingat kembali informasi yang sudah didapat, sehingga setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilalui akan mempunyai/memberikan makna/nilai, karena kegiatan di kelas bukan hanya sekedar duduk, mendengarkan dan mengerjakan soal-soal latihan.

Guru yang ramah otak akan menumbuhkan rasa aman dan nyaman pada diri setiap peserta didiknya dikarenakan kegiatan pembelajaran ini tidak akan membebani otak, sehingga otak akan bekerja secara optimal yang pada akhirnya selain kegiatan pembelajaran yang menyenangkan, materi tersampaikan maka tujuan pembelajaran pun akan tercapai.