© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Pemasaran Berjenjang (Multi level Marketing)?

Pemasaran berjenjang

Pemasaran berjenjang (Multi-level marketing; MLM) adalah strategi pemasaran di mana tenaga penjual (sales) tidak hanya mendapatkan kompensasi atas penjualan yang mereka hasilkan, tetapi juga atas hasil penjualan sales lain yang mereka rekrut. Tenaga penjual yang direkrut tersebut dikenal dengan anggota “downline”.

Istilah lain yang digunakan untuk MLM adalah penjualan piramida,pemasaran jaringan, dan pemasaran berantai.

Menurut Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat, beberapa perusahaan yang menggunakan sistem pemasaran berjenjang telah mengeksploitasi anggota jaringan mereka dan tidak sesuai dengan skema piramida.

Apa yang dimaksud dengan Pemasaran Berjenjang (Multi level Marketing) ?

Menurut MLM Leaders (2007), Multi Level Marketing ( MLM ) adalah metode pendistribusian barang atau jasa dengan sistem penjualan langsung melalui program pemasaran berbentuk jaringan. Dimana para distributornya akan mendapatkan pendapatan dari penjualan langsung yang dilakukan sendiri dan pendapatan dari total omzet jaringan atau kelompok dari organisasi yang telah dibangunnya.

Menurut Odop (2007), Multi Level Marketing merupakan sebuah cara memasarkan produk dari produsen ke customer melalui agen atau distributor tunggal mandiri. Agen atau distributor mandiri ini mendapatkan kompensasi bonus yang diberikan oleh perusahaan atas jasanya menjual dan memperkenalkan produk.

Sedangkan menurut Poe (2000), pemasaran berjenjang ( MLM ) adalah suatu sistem yang memungkinkan para wiraniaga bekerja dari rumah, merekrut wiraniaga lain, dan memperoleh komisi dari hasil penjualan yang dilakukan wiraniaga yang telah direkrutnya ( dan juga dari wiraniaga yang kemudian direkrut oleh wiraniaga yang baru direkrut tadi dan seterusnya).

Karakteristik Bisnis MLM


Menurut MLM Leaders (2007), beberapa karakteristik dari bisnis MLM :

1. Modal Rendah

Modal yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis MLM tidaklah tinggi, hanya berkisar pada puluhan ribu rupiah. Rendahnya modal awal ini disebabkan karena :

  • Sebagai distributor / agen, perusahaan MLM tidak harus menyediakan tempat seperti ketika membuka toko atau kantor, untuk jenis usaha lainnya. Seseorang bisa menggunakan rumah sebagai tempat usaha. Bahkan, ada perusahaan MLM yang menyediakan tempat / kantor sebagai pusat kegiatan para agen / distributornya.

  • Sebagai distributor / agen tidak perlu memiliki persediaan / stok barang yang banyak cukup hanya sebagai contoh produk saja.

    Kalaupun ingin memiliki persediaan produk, persediaan itu hanya bertujuan untuk memudahkan dalam melakukan transaksi. Ketika terjadi transaksi di rumah konsumen atau prospek, tidak perlu membuang waktu untuk perjalanan pulang pergi dari rumah konsumen ke kantor perwakilan perusahaan hanya untuk membeli satu atau dua produk. Persediaan atau stok barang yang besar dilakukan oleh pihak perusahaan, ataupun pihak yang telah ditunjuk oleh perusahaan sebagai perwakilan di wilayah tersebut. Hal inilah yang membuat distributor / agen sebuah perusahaan MLM tidak membutuhkan modal yang besar.

  • Sebagai distributor / agen tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menggaji manajemen. Perusahaan MLM biasanya telah menyiapkan manajemen untuk menangani bidang administrasi serta seluruh kegiatan operasional lainnya. Dengan demikian, para distributor / agen cukup hanya memfokuskan diri pada bidang pemasaran dan pembentukan jaringan rekan kerja ( networking ).

    Selain itu, modal awal yang dikeluarkan sebenarnya hanya digunakan untuk mengganti biaya cetak dari:

    • Lembaran brosur yang mengulas tentang profil perusahaan
    • Lembaran brosur yang berisi keterangan mengenai produk - produk yang dimiliki perusahaan.
    • Lembaran informasi yang berisi rencana bisnis perusahaan.
      Informasi yang diberikan meliputi jumlah pendapatan yang bisa diterima, cara memperoleh pendapatan yang lebih besar lagi, serta langkah-langkah, atau persyaratan yang harus dipenuhi baik dalam volume penjualan maupun banyaknya jumlah rekan kerja yang berhasil dibentuk.

2. Pengarahan dan Bimbingan

Bisnis MLM menjadi sebuah bisnis dambaan. Setiap orang yang ingin memiliki sebuah bisnis pasti menginginkan adanya bimbingan dari seseorang yang lebih memiliki pengalaman dalam bisnis, atau usaha tersebut. Dalam bisnis MLM, setiap orang akan mendapatkan bimbingan yang berasal dari upline dan support system. Tidak adanya pengarahan dan bimbingan akan mempersulit, bahkan menghambat seseorang dalam membangun sebuah bisnis.

3. Resiko kecil

Bisnis MLM memiliki resiko yang sangat kecil, bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada. Kecilnya resiko dalam bisnis ini disebabkan oleh :

  • Modal usaha yang kecil. Ketika terjadi sesuatu yang sangat buruk, dan seseorang harus berhenti menjalankan bisnis ini, orang itu tidak akan kehilangan modal atau uang dalam jumlah besar. Bandingkan dengan kerugian yang dialami ketika seseorang berhenti menjalankan bisnis lain yang dibuka dan dijalankan sendiri.

  • Sistem transaksi cash and carry. Semua pembayaran dilakukan secara tunai oleh setiap rekan kerja. Hal ini membuat seseorang yang menjalankan bisnis ini tidak memiliki piutang tak tertagih, seperti yang biasanya ada pada bidang bisnis lainnya.

  • Tanggung jawab terpisah. Masing-masing orang memiliki tanggung jawab dan kewajiban sendiri-sendiri.

4. Pendapatan tidak terbatas / besar

Bisnis jaringan adalah sebuah bisnis yang memiliki potensi pendapatan yang sangat besar, bahkan bisa dikatakan tidak terbatas. Hal ini disebabkan karena dalam jaringan bisnis seseorang tidak ada pembatasan jumlah rekan kerja yang boleh dimiliki.

5. Perluasan wilayah / ekspansi usaha

Ekspansi usaha adalah salah satu cara untuk memperbesar pendapatan dan juga memperkecil resiko kehilangan pendapatan. Perluasan wilayah menjadi satu hal yang penting untuk dilakukan karena kita tidak pernah tahu kapan akan terjadi sesuatu pada salah satu wilayah usaha kita. Hal-hal yang bisa terjadi pada sebuah wilayah:

  • Bencana alam
  • Kerusuhan
  • Keadaan ekonomi yang memburuk
  • Perubahan kebijakan
  • Kestabilan keamanan dan politik satu wilayah yang bisa berubah sewaktu-waktu

Kemudahan dalam melakukan perluasan wilayah bisnis MLM disebabkan oleh:

  1. Kegiatan bisnis MLM tidak membutuhkan tempat, atau outlet khusus. Kegiatan dari bisnis ini bisa dilakukan dimana saja, bahkan di rumah sekalipun.
  2. Perluasan wilayah bisnis tidak membutuhkan persediaan barang yang terlalu banyak.
  3. Perluasan wilayah bisnis tidak membutuhkan pengurusan ijin untuk menjalankan usaha.
  4. Distributor MLM tidak membutuhkan karyawan untuk menjalankan usahanya.
  5. Rekan kerja yang dibutuhkan pada suatu wilayah baru bisa dibentuk dari siapapun, bahkan orang yang baru dikenal di wilayah tersebut.

Alasan Pendistribusian Secara MLM


Menurut Prana ( 2007 ), ada beberapa alasan mengapa perusahaan memilih MLM untuk mendistribusikan produknya, diantaranya :

1. Biaya overhead distribusi yang rendah

Typical distribusi melalui retail melibatkan serangkaian regional, negara, kota, dan retailer lokal untuk mendistribusikan barang - barang. Masing - masing perlu mendapatkan keuntungan dan melakukan mark up harga dari barang.

Jalur distribusi non MLM :

Manufacturer -> transporter -> wholesaler -> retailer -> advertisers -> customers

Jalur distribusi MLM :

Manufacturer -> representative -> customer

2. Tim sales dan marketing yang termotivasi

Ada banyak sekali produk yang membanjiri pasaran. Dibutuhkan dana marketing yang besar untuk bisa memperoleh tempat di customer. Dengan menggunakan konsep MLM, maka peranan marketing dilakukan oleh customer. Selain itu banyak produk yang membutuhkan penjelasan yang rinci dibandingkan dengan yang dapat dilakukan pada iklan TV selama 30 detik.

Sistem Konsep Kerja MLM


Menurut Priyadi ( 2006 ), Kunci dari sistem konsep MLM adalah kelompok distributor. Pada MLM yang baik, kelompok distributor ini secara keseluruhan tidak merugi. Materi yang masuk ke kelompok distributor ini haruslah lebih besar daripada materi yang keluar meninggalkan kelompok ini.

Untuk mengetahuinya harus memilah - milah jenis - jenis transaksi dari sudut pandang kelompok distributor.

  1. Produsen mengirim produk ke distributor

    • Produk untuk dikonsumsi distributor sendiri
    • Produk untuk dikonsumsi konsumen di luar distributor
  2. Distributor mengirim produk ke konsumen

  3. Konsumen membayar harga produk ke distributor

  4. Distributor membayar harga produk ke produsen.

    • Harga produk untuk dikonsumsi distributor sendiri
    • Harga produk untuk dikonsumsi konsumen di luar distributor
  5. Sumber daya yang harus dikeluarkan distributor sebagai konsekuensi menjalankan tugas sebagai distributor

  6. Perpindahan dana akibat proses perekrutan

    • Dana yang diterima oleh distributor sebagai konsekuensi memiliki downline
    • Dana yang disetor oleh distributor sebagai konsekuensi memiliki upline.

Poin 1b dan poin 2 saling mengeliminasi. Poin 3 lebih besar daripada poin 4b, selisihnya adalah profit bagi distributor secara keseluruhan. Poin 1a dan 4a dapat disatukan sebagai transaksi jual beli antara produsen dan distributor, produsen mendapatkan uang harga produk dari distributor, sedangkan distributor tidak mendapatkan profit, tetapi mendapatkan manfaat dari produk. Poin 6a dan 6b saling mengeliminasi.

Setelah mengeliminasi faktor-faktor yang saling berlawanan, hasilnya adalah seperti di bawah ini :

  1. Transaksi jual beli antara produsen dan distributor ( Poin 1a dan 4a). Produk dipakai oleh distributor sendiri.
  2. Konsumen mengirim dana sebagai keuntungan kotor ke distributor, jika distributor menjual produk ke konsumen di luar distributor ( Poin 3 dan 4b )
  3. Sumber daya yang harus dikeluarkan distributor sebagai konsekuensi menjalankan tugas sebagai distributor.

Transaksi di atas sudah melalui proses generalisasi. Bisa saja seorang distributor menerima bonus dari produsen, dari upline-nya, dari upline upline- nya. Tetapi pada dasarnya uang yang diterima berasal dari keuntungan hasil penjualan produk ke kelompok masyarakat nondistributor. Sedangkan bonus yang diterima akibat merekrut seorang distributor akan saling menghilangkan dengan dana yang disetorkan oleh distributor baru tersebut.

Dengan demikian, satu-satunya sumber keuntungan yang didapatkan oleh kelompok distributor secara kolektif adalah jika mereka menjual produk ke masyarakat yang tidak bergabung dalam kelompok distributor. Pendapatan kelompok distributor secara keseluruhan menjadi positif seandainya poin 2 > poin 3.

Tipe-Tipe Distributor MLM


Menurut Odop (2007), tipe-tipe distributor MLM dibagi menjadi lima, yaitu :

1. Pedagang Multi Level

Orang-orang ini memiliki pengalaman yang sarat tentang pahit manisnya berbisnis jaringan, namun kiprah mereka penuh dengan intrik dan trik jitu dalam membangun bisnis. Di tangan mereka, sebuah organisasi jaringan bisa berkembang pesat, bisa juga mati dalam waktu yang singkat. Pedagang multi level tidak pernah mau tahu apa akibat dari intrik bisnis yang mereka lakukan terhadap distributor lini bawah. Masalah apakah member lini bawah menjerit karena kerugian investasi, para pedagang MLM tidak akan ambil pusing.

Tingkat keahlian pedagang MLM di atas rata-rata, namun mereka tidak memiliki kredibilitas sebagai seorang pebisnis jaringan sejati yang mengutamakan pelayanan kepada anggota lini bawah. Para pelaku jenis ini adalah yang paling berbahaya bagi masa depan member jaringan MLM. Kebanyakan para pedagang ini ditunjang oleh perusahaan-perusahaan MLM yang tidak bonafit. Akibatnya, banyak MLM baru hanya menjadi MLM musiman.

2. Pemain Multi Level

Pemain MLM bukan menjadi pemimpin sejati dalam bisnis, tetapi mereka akan mencari kesempatan yang lebih menguntungkan dengan berpindah ke perusahaan baru. Yang tidak baiknya terkadang mereka menghancurkan perusahaan sebelumnya dengan pemberitaan yang buruk demi memindahkan organisasi lini bawahnya untuk ikut berkiprah di perusahaan di mana sekarang bernaung.

3. Pemimpin Multi Level

Kelompok ini terdiri dari orang-orang distributor inti yang bekerja dengan dedikasi dan etos profesionalisme luar biasa. Mereka memiliki jiwa kepemimpinan hebat, kemauan yang kuat, serta berorientasi jangka panjang. Para pemimpin MLM ini adalah orang- orang yang memiliki integritas tinggi, mau melayani member-nya. Sukses sejati bagi mereka adalah sukses dari semua kesuksesan yang ditawarkan bisnis MLM, pure success yang terdiri dari finansial, spiritual, dan waktu. Tidak peduli sesulit apapun badai yang menimpa bisnis, mereka tetap berjalan terus memperbaiki lagi membangun titik distribusi yang lebih kuat, membangun fondasi bisnis dari para leader-leader lini bawah yang bisa diandalkan. Mereka adalah orang yang telah terbukti mampu menjadi inspirator bagi seluruh member-nya.

4. Pengguna Produk

Orang-orang ini tidak tertarik menjalankan bisnis dengan serius. Ketika mereka mau, mereka akan jalan sesuai iramanya. Bagi mereka yang penting manfaat dan kegunaan produk, bukan potensi bisnis dan pendidikan sumber daya manusia. Setengah dari para member perusahaan MLM adalah orang-orang dengan tipikal bisnis model ini. Tipe pengguna produk adalah orang-orang baik hati yang lebih suka berjualan karena memanfaatkan kegunaan produk yang mereka nilai sangat berguna bagi orang lain.

5. Masuk Langsung Mati

Kelompok yang telah bergabung, besoknya mengundurkan diri, alias “Masuk Langsung Mati”. Orang-orang ini bergabung sebentar, menginvestasikan modalnya dan mendapatkan produk, tanpa melihat manfaat dan keunggulan produk tanpa melihat kemungkinan peluang, tanpa ingin mengembangkan diri di bisnis MLM dan besoknya mengundurkan diri. Mereka tidak sempat berkarya, tidak sempat melakukan apa-apa.

Istilah dalam Dunia MLM


Berikut ini isitilah-istilah yang sering digunakan dalam bisnis Multi Level Marketing:

A. Upline

Menurut MLM Leaders (2007), Upline, yaitu rekan kerja yang telah mengajak seseorang untuk menekuni usaha MLM. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka miliki, mereka dapat mengarahkan, membimbing, serta mendampingi seseorang saat menjalankan bisnis ini.

B. Downline

Menurut MLM Leaders (2007), Downline adalah semua jaringan di bawah upline. Ini termasuk orang yang upline sponsori sendiri dan orang yang disponsori.

C. Crossline / Sideline

Menurut Supiansyah ( 2007 ), Crossline atau sideline adalah apabila antara mitra yang satu dengan mitra yang lain tidak berada dalam satu garis jaringan ( network family ) atau dengan kata lain berada di luar jaringannya.

D. Support System

Menurut MLM Leaders (2007), Support system adalah sebuah organisasi yang menyediakan berbagai sistem pendidikan untuk distributor dalam sebuah MLM. Biasanya perusahaan MLM hanya menyediakan produk atau jasa yang akan dipasarkan dan juga bonus yang akan dibayarkan kepada distributor. Support system yang menyediakan pendidikan dan alat penunjang yang memudahkan distributor dalam menjalankan bisnis MLM-nya.

Secara Etimologi Multi Level Marketing (MLM) berasal dari bahasa Inggris Multi berarti banyak sedangkan level berarti jenjang atau tingkat, adapun marketing berarti pemasaran. Jadi, dari kata tersebut dapat dipahami bahwa MLM adalah pemasaran yang berjenjang banyak. Disebut sebagai “Multi Level” karena merupakan suatu organisasi distributor yang melaksanakan penjualan yang berjenjang banyak atau bertingkat-tingkat (Harefa, 1999).

Pengertian multi level marketing atau di singkat MLM adalah sebuah sistem pemasaran modern melalui jaringan distribusi yang dibangun secarapermanen dengan memposisikan pelanggan perusahaan sekaligus sebagai tenaga pemasaran. Dengan kata lain dapat dikemukakan bahwa MLM adalah pemasaran berjenjang melalui jaringan distributor yang dibangun denganmenjadikan konsumen sebagai tenaga pemasaran (Muslih, 2010).

Menurut Royan (2002) MLM atau Multi Level Marketing dikenal juga sebagai network marketing merupakansalah satu metode pemasaran wirausaha dengan memanfaatkan sistem jaringan (network). Yusuf (dalam Rozi, 2003) berpendapat bahwa, dikatakan network marketing karena merupakan sebuah jaringan kerja pemasaran yang di dalamnya terdapat sejumlah orang yang melakukan proses pemasaran produk/jasa. Pemasaran dan distribusi yang dilakukan melalui banyak level (tingkatan), yang biasa dikenal dengan istilah Upline (tingkat atas) dan Downline (tingkat bawah), orang akan disebut Upline jika mempunyai Downline.

Multi Level Marketing dinilai sebagai metode pemasaran yang lebih efisien dan efektif pada tingkat retail (penjualan eceran) karena besarnya dan luasnya gerakan individu-individu yang melancarkan program marketing ini dibandingkan sistem pemasaran biasa. Multi Level Marketing atau Network Marketing merupakan sistem pendistribusian barang atau jasa lewat suatu jaringan atau orang-orang yang independen, kemudian orang-orang iniakan mensponsori orang-orang lain untuk membantu-meneruskan lewat satu atau beberapa tingkat pemasukan (Roller, 1995).

Ciri-ciri Multi Level Marketing


Adapun yang menjadi ciri-ciri dan bisnis Multi Level Marketing menurut Andreas Harefa (1999) adalah:

  • Memberikan kesempatan yang samabagi setiap anggota untuk berhasil.

  • Keuntungan dan keberhasilan distributor sepenuhnya ditentukan oleh hasil kerja dalam bentuk penjualan dan pembelian produk dan jasa perusahaan.

  • Setiap anggota berhak menjadi anggota satu kali.

  • Biaya pendaftaran menjadi anggota tidak terlalu mahal dan dapat dipertanggungjawabkan karena nilainya setara dengan barang yang diperoleh.

  • Keuntungan yang diperoleh distributor independen dihitung dengan sistem perhitungan yang jelas berdasarkan hasil penjualan pribadi maupun jaringannya.

  • Setiap distributor independen dilarang untuk menumpuk barang, karena yang terpenting adalah pemakaian produk yang dirasakan manfaat atau khasiatnya secara langsung oleh konsumen.

  • Keuntungan yang dinikmati anggota Multi Level Marketing, tidak hanya bersifat finansial tetapi juga nonfinansial seperti penghargaan, posisi dalam peringkat, derajat sosial, kesehatan, pengembangan karakter, dan sebagainya.

  • Perusahaan Multi Level Marketing membina distributornya dalam program pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan.

  • Dalam sistem Multi Level Marketingpelatihan produk menjadi hal yang sangat penting untuk disampaikankepada konsumen.

  • Setiap sponsor atau upline berkepentingan untuk meningkatkan kualitas distributor di jaringannya.

  • Pembagian komisi atau bonusbiasanya dilakukan sebulan sekali (Harefa, 1999)