© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Pemanasan Global?

Pemanasan global (Global warming) adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Secara singkat, pemanasan global, berarti Bumi kita semakin panas. Istilah ini sering kita dengar sekarang karena dalam beberapa puluh tahun terakhir, karena kenyataannya suhu Bumi memang cenderung meningkat.

Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Planet Bumi telah menghangat (dan juga mendingin) berkali-kali selama 4,65 milyar tahun sejarahnya. Pada saat ini, Bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap disebabkan aktifitas manusia.

Rata-rata temperatur permukaan Bumi sekitar 15°C (59°F). Selama seratus tahun terakhir, rata-rata temperatur ini telah meningkat sebesar 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit). Para ilmuan memperkirakan pemanasan lebih jauh hingga 1,4 - 5,8 derajat Celsius (2,5 - 10,4 derajat Fahrenheit) pada tahun 2100.

Fenomena Pemanasan Global


Bumi mempunyai suhu yang sesuai bagi kehidupan baik manusia maupun lainnya, akibat dari efek rumah kaca (ERK). Jika tidak ada ERK di dunia ini, maka bumi akan mempunyai suhu di bawah titik beku, yang akan berpengaruh terhadap kehidupan di muka bumi ini. Dengan demikian ERK tidaklah seburuk apa yang diduga oleh setiap insan yang awam terhadap penge-tahuan tersebut. Cahaya matahari yang berwarna putih, sebenarnya terdiri atas berbagai macam jenis warna (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu). Masing-masing jenis warna mempunyai panjang gelobang tertentu, cahaya ungu mempunyai panjang gelombang terpendek, dan merah terpanjang.

Di sisi lain ada cahaya yang tidak tampak yaitu “Ultra violet” dengan panjang gelombang lebih pendek dari pada cahaya unggu; namun sebaliknya cahaya infra-merah dengan panjang gelombang lebih panjang dari pada merah, dan merupakan sinar yang bersifat panas. Di dalam atmosfer, bumi terdapat berbagai jenis gas; dimana gas-gas tersebut dapat meneruskan sinar matahari yang bergelombang pendek, hingga sinar mata hari dapat sampai ke permukaan bumi dan akibat yang ditimbulkannya permukaan bumi menjadi panas; dan permukaan bumi memancarkan kembali sinar yang diterimanya.

Menurut hukum fisika panjang gelombang sinar yang dipancarkan sebuah benda tergantung pada suhu benda tersebut. Makin tinggi suhunya akan semakin pendek gelombangnya. Matahari dengan suhu yang tinggi, memancarkan sinar dengan gelombang yang pendek.

Namun sebaliknya karena permukaan bumi dengan suhu yang rendah, maka memancarkan sinar dengan gelombang panjang yaitu sinar infra-merah. Sinar infra merah dalam atmosfer terserap oleh gas tertentu, hingga tidak terlepas ke angkasa luar. Panas yang terperangkap di dalam lapisan bawah atmosfir yang disebut troposfer; sebagai akibat yang ditimbulkannya permukaan bumi dan tropsfer menjadi naik suhu udaranya; dan peristiwa inilah yang disebut dengan istilah “efek rumah kaca”.

Gas yang menyebabkan terjadinya ERK disebut “gas rumah kaca“ (GRK); yang antara lain meliputi uap air (H2O); Carbon dioksida (CO2); metan (CH4); N02; Ozon dan CFC (gas buatan manusia). Pemantauan terhadap kadar GRK dalam atmosfer, kecuali air menunjukan kecende-rungan semakin meningkat; oleh karena itu dikhawatirkan intensitas ERK akan menjadi naik, hingga suhu permukaan bumi akan menjadi lebih tinggi dari keadaan sekarang ini; peristiwa inilah yang dikenal dengan istilah “pemanasan global”. Menurut Scneirder (1989), jika kecenderungan seperti sekarang ini terus berlangsung, maka pada abad yang akan datang suhu udara permukaan bumi akan naik antra 2-3 Celsius sampai 7 derajat C; walaupun kenaikan ini nampaknya kecil, namun dampaknya akan sangat besar.