© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Paro Hidup Literatur?

paro hidup literatur

Apa yang dimaksud dengan paro hidup literatur atau half-life literature dalam ilmu bibliometrika?

Paro Hidup Literatur


Kemutakhiran suatu informasi bersifat relatif. Dalam ilmu bibliometrika, kemutakhiran atau keusangan literatur dikenal dengan istilah paruh hidup ( half- life ), artinya separuh (50%) dari literatur yang ada dalam bidang tertentu berusia n tahun. Paro hidup merupakan salah satu kajian dalam bidang bibliometrika yang menentukan tingkat keusangan dari sebuah literatur perpustakaan.

Istilah paro hidup (half-life) pertama digunakan oleh R. E. Borton dan R. W. Kebler tahun 1960 mereka memakai istilah “ half-life ” yang berarti waktu saat setengah dari seluruh literatur suatu disiplin ilmu yang digunakan secara terus menerus. Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Charless F Gosnell tahun 1944. Gosnell meneliti dengan skala yang lebih kecil yaitu mengenai tingkat keterpakaian koleksi diperpustakaan. Penelitian ini belum bersifat ilmiah dan masih sangat sederhana.

Paro hidup merupakan istilah yang diambil dari bidang ilmu fisika yang menunjukkan masa aktif suatu zat radio-aktif. Paro hidup mengacu pada adanya waktu yang diperlukan oleh suatu atom untuk meluruh menjadi setengahnya secara terus menerus hingga atom suatu unsur itu habis. Dalam kajian keusangan literatur, paruh hidup diartikan bahwa rentang waktu dimana suatu literatur digunakan sebanyak 50 persen (separuh) penggunaan total dokumen itu. Parameter paruh hidup ini dapat menunjukkan umur dokumen. Maurice B. Line yang dikutip oleh Mustafa (2008) menyatakan: ” the half life of a literature is bound to be shorter the more rapidly the literature growing ”. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa paro hidup dari sebuah literatur adalah batas cepat tidaknya pertumbuhan dari suatu literatur.

Menurut I Gede Surata yang dikutip oleh Mustikasari (2008) menyatakan bahwa “Paro hidup literatur merupakan ukuran waktu pada saat mana setengah dari semua literatur suatu disiplin ilmu secara terus-menerus digunakan sejak diterbitkan”.

Untuk menghitung paro-hidup dilakukan dengan cara mengurutkan semua referensi yang dipergunakan oleh semua dokumen pada masing-masing bidang mulai yang tertua (tahun terkecil) sampai tahun yang terbaru (tahun terbesar) atau sebaliknya. Kemudian dicari median yang membagi daftar referensi yang sudah terurut tersebut. Median ini menunjukkan paro-hidup literatur pada bidang yang bersangkutan (Gupta, B.M., yang dikutip oleh Hartinah, 2005).

Hal ini menunjukkan bahwa paro hidup literatur dapat digunakan sebagai salah satu tolak ukur kekayaan atau kemiskinan informasi dari suatu disiplin ilmu. Dengan mengetahui paro hidup suatu disiplin ilmu, maka dapat dilihat perkembangan dari bidang ilmu yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan semakin banyak terbitan-terbitan baru dari suatu bidang ilmu, maka dapat diprediksi bahwa bidang ilmu tersebut akan terus berkembang. Jika sedikit terbitan-terbitan baru dari suatu bidang ilmu maka ada kemungkinan bidang ilmu tersebut mengalami stagnasi atau perkembangan ilmu tersebut berjalan lambat.

Untuk menghitung paro hidup, jumlah sitiran dari dokumen di suatu bidang ilmu dibagi dalam kelompok 10 tahun, misalnya 0-10 tahun, 11-20 tahun, 21-30 tahun, dan seterusnya. Nilai umur paro hidup dihitung dengan menetapkan tahun pada saat persentase kumulatif dari sitiran untuk sumber yang disitir dapat mencapai jumlah sama atau lebih dari 50%. Jumlah ini menjadi bilangan untuk menentukan nilai umur paro hidup bidang tersebut.

Dalam kajian bibliometrika paro hidup merupakan tingkat keusangan literatur berdasarkan sitirannya. Kajian paro hidup menitikberatkan tahun terbit seluruh jumlah sitiran pada literatur tersebut. Hal ini menunjukkan kemutakhiran kandungan informasi pada literatur ilmiah. Semakin baru terbitan suatu literatur maka literatur tersebut akan sering disitir oleh karya tulis lainnya. Hal ini dapat dilihat dari kurva di bawah ini:

image
Keterangan mengenai kurva diatas yaitu:

  • Garis kurva tersebut menggambarkan suatu literatur.
  • Number of users adalah pengguna yang menggunakan literatur tersebut.
  • Age of time of use adalah penggunaan literatur tersebut.

Pada gambar kurva dan keterangan di atas, dapat dilihat bahwa semakin baru terbitan suatu literatur, maka semakin sering literatur tersebut digunakan. Sedangkan jika tahun terbit literatur tersebut semakin jauh dari waktu sekarang maka akan semakin sedikit pengguna yang menggunakan literatur tersebut.

Hartinah (2002) yang dikutip oleh Hasugian (2005) menyatakan bahwa: setiap bidang ilmu mempunyai usia paro hidup yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil penelitian di luar negeri, paro hidup literatur untuk ilmu fisika adalah 4,6 tahun, fisiologi 7,2 tahun, matematika 10,5 tahun, geologi 11,8 tahun, kedokteran 6,8 tahun, hukum 12,9 tahun dan untuk bidang sosial kurang dari 2 tahun. Jika melebihi usia paro hidup di atas maka bisa dikatakan bahwa literatur tersebut sudah usang.

Dalam kajian bidang ilmu perpustakaan dan informasi, Mete dan Deshmukh (1996) menemukan bahwa jurnal yang paling sering dikutip adalah dari hasil komunikasi antara para peneliti ilmu perpustakaan dan informasi dan yang bersumber dari jurnal yang paling banyak dipublikasikan. Usia paro hidup dari bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang ditemukan adalah 8 tahun untuk jurnal dan 12 tahun untuk buku.

Kemudian pada tahun selanjutnya, Deshmukh (2011) melakukan analisis dan menemukan bahwa usia paro hidup dari bidang ilmu perpustakaan dan informasi adalah 9 tahun untuk jurnal dan 14 tahun untuk buku. Hal ini dapat dilihat dari grafik dibawah ini:
image
image
Untuk mengetahui paro hidup jurnal dan buku, sebuah grafik yang digunakan dengan menggambarkan tahun periode sebagai sumbu X dan jumlah rujukan dengan sumbu Y. Sebuah garis pararel untuk sumbu X digambarkan dari titik A ke titik B. Titik A mempresentasikan setengah dari rujukan. Kemudian sebuah garis tegak lurus AC digambarkan dari titik A ke sumbu X pada C. C mempresentasikan periode paro hidup, dimana 9 tahun untuk rujukan jurnal dan 14 tahun untuk rujukan buku.

Jika dilihat dari kedua penelitian mengenai bidang ilmu perpustakaan dan informasi diatas, maka dapat diketahui bahwa paro hidup bidang ilmu tersebut mengalami peningkatan. Berdasarkan pendapat di atas, dapat diketahui bahwa setiap bidang ilmu memiliki perbedaan dalam hal usia paro hidup dokumen. Usia paro hidup tersebut nantinya akan menunjukkan batasan tahun keusangan literatur atau dokumen dari berbagai bidang ilmu. Paro hidup literatur dipengaruhi oleh beberapa faktor. Mustafa (2008:3) menyatakan beberapa faktor yang mempengaruhi ialah :

  • Jumlah penggunaan literatur
  • Jumlah publikasi
  • Jumlah penulis pada bidangnya

Manfaat Paro Hidup


Usia paro hidup suatu literatur ditentukan oleh tahun terbit referensinya, sehingga dapat diketahui publikasi yang terbit dalam jangka waktu tertentu dan dapat diprediksi pertumbuhan publikasi selanjutnya dimasa yang akan datang, (Egghe, 2002). Hal ini menunjukkan bahwa paro hidup literatur dapat digunakan sebagai salah satu tolak ukur kekayaan atau kemiskinan informasi dari suatu disiplin ilmu.
Pendapat lain yang dikemukakan oleh Panggabean (2010:21), manfaat lain dari kajian usia paro hidup dokumen bagi pihak perpustakaan adalah sebagai berikut:

  1. untuk mengetahui tingkat keusangan literatur dari kolesi perpustakaan
  2. untuk mengetahui kemuktahiran informasi dalam sebuah literatur perpustakaan
  3. efektifitas kegiatan penyiangan terhadap koleksi yang tidak digunakan lagi
  4. pemisahan koleksi yang digunakan dengan frekwensi tertinggi dan terendah
  5. efektifitas pelayanan perpustakaan

Merujuk pada berbagai pendapat di atas, dapat diuraikan secara jelas bahwa manfaat kajian paro hidup dokumen secara umum adalah :

  1. Dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk kepentingan penulisan karya ilmiah dalam hal melakukan pembatasan penggunaan literatur yang akan digunakan
  2. Dapat menjadi indikator kemutakhiran informasi bagi perpustakaan (khususnya dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menyediakan koleksi bagi pengguna)
  3. Dapat bermanfaat untuk mengetahui pertumbuhan suatu bidang ilmu pengetahuan
  4. Meningkatkan efisiensi dalam mengelola dan kegiatan pengembangan koleksi.