Apa yang dimaksud dengan Parasocial relationships dalam ilmu sosial?

Apa yang dimaksud dengan Parasocial relationships dalam ilmu sosial?

Parasocial Relationship sering kita rasakan ketika mengenal selebritis dari tv atau media lainnya, padahal orang tersebut tidak merasa kenal kita secara intanse, apakah kalian pernah merasakan Parasocial Relationship ?

hubungan parasosial

Konsep interaksi parasosial pertama kali dicetuskan oleh Horton dan Wohl di tahun 1956 sebagai suatu hubungan pertemanan atau hubungan intim dengan tokoh media berdasarkan perasaan ikatan afektif seseorang terhadap tokoh tersebut (dalam Harvey & Manusov, 2001, hlm 326). Lebih lanjut dijelaskan bahwa hubungan ini terjadi seakan-akan berdasarkan suatu persetujuan implisit antara performer (tokoh media atau selebriti) dengan pemirsa televisi dimana mereka (pemirsa televisi) akan menganggap bahwa hubungan tersebut merupakan suatu hubungan dengan pertemuan langsung (face-to-face encounter) bukan hubungan yang melalui perantara (Horton & Wohl, dalam Gumpert & Cathcart, 1982).

Kunci utama dari interaksi parasosial adalah hubungan satu arah (one-way relationship) dimana pemirsa televisi dapat “merasa” memiliki hubungan dengan selebriti favoritnya, tapi hubungan tersebut bersifat “satu arah, non-dialektikal, dikontrol oleh performer, dan tidak dapat berkembang” (Horton & Wohl dalam Watkins, 2005).

Secara lengkap, Horton dan Wohl kemudian mendefinisikan hubungan dan interaksi parasosial dalam penelitiannya yang berjudul Mass Communication and Para-Social Interaction: Observation on Intimacy at a Distance.

Menurut mereka hubungan parasosial adalah:

One of the striking characteristics of the new mass media-radio, television, and the movies is that they give the illusion of face-to-face relationship with the performer. We propose to call this seeming face-to- face relationship between spectator and performer a para-social relationship.
(Horton & Wohl, dalam Gumpert & Cathcart, 1982, hal 188)

Sedangkan interaksi parasosial adalah:

The more the performer seems to adjust his performance to supposed response of the audience, the more audience tends to make the response anticipated. This simulacrum of conversational give and take may be called para-social interaction.
(Horton & Wohl, dalam Gumpert & Cathcart, 1982, hal 189)

Jadi, hubungan parasosial adalah suatu ilusi mengenai hubungan langsung antara pemirsa televisi dengan performer, sebagai hasil rekaan dari media massa, sedangkan interaksi parasosial adalah suatu upaya pemunculan percakapan antara performer dengan pemirsa televisi (Biran, 2003). Secara esensial definisi, hubungan parasosial dan interaksi parasosial memiliki definisi yang serupa, oleh karena itu untuk selanjutnya akan disebut dengan perilaku parasosial.

Bagi pemirsa televisi, pengalaman melalui perantara media ini merupakan suatu pengalaman nyata, sehingga terbentuk “ilusi keintiman” dalam perilaku parasosial ini, dimana pemirsa televisi merasa dirinya sangat mengenal tokoh idolanya, bahkan lebih daripada ia mengenal tetangga sebelah rumahnya (Horton & Wohl, 1982).

Ilusi keintiman yang terbentuk bersifat cukup mendalam, dipersepsikan sebagai hubungan dua arah dan memiliki tanda-tanda yang serupa dengan hubungan personal pada umumnya, seperti merasa kehilangan saat idolanya tidak ada ataupun menyayangkan kesalahan atau kegagalan yang dialami tokoh idolanya (Rubin, Perse & Powell, 1985).

Istilah television performer, personae digunakan untuk menjelaskan tokoh khas dan asli dalam kehidupan sosial yang ditampilkan di radio dan televisi seperti karakter fiksi yang tampil dalam film atau opera (Horton & Wohl, 1982). Selain itu, television performer bisa berasal dari tokoh yang menunjukkan karakter dirinya sendiri seperi pembawa acara, penyanyi, model, politikus, olahragawan, dan lain-lain. Dalam kasus ekstrim, television performer bisa juga bukan manusia nyata, melainkan tokoh kartun (Giles, 2002).

Karakteristik Individu Parasosial

Menurut Hoffner (2002) terdapat tujuh karakteristik individu yang memiliki kecenderungan melakukan perilaku parasosial, yaitu:

  1. Individu yang kurang atau jarang melakukan hubungan sosial. Berdasarkan hasil penelitian Norlund (dalam Hoffner, 2002), individu yang kurang atau jarang melakukan hubungan sosial akan lebih sering berada di dalam rumah sehingga cenderung menggunakan televisi sebagai teman dan membentuk hubungan parasosial.

  2. Perbedaan individu dalam berempati. Empati dapat meningkatkan kecenderungan pemirsa televisi untuk mengenali dan berbagi pola pikir serta pengalaman emosional dengan karakter dalam media.

  3. Self-esteem yang rendah. Hasil penelitian Turner (dalam Hoffner, 2002) menunjukkan bahwa individu yang memiliki self-esteem rendah akan menemukan kesulitan untuk berkomunikasi langsung dengan orang lain, oleh karena itu mereka lebih memilih untuk menonton televisi dan menciptakan suatu hubungan dengan television performer yang mereka saksikan di televisi.

  4. Tingkat pendidikan. Menurut Levy (1982), individu yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik, akan lebih sedikit membutuhkan hubungan parasosial karena individu yang lebih berpendidikan biasanya tidak memiliki masalah dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain.

  5. Individu yang tidak bisa keluar rumah (housebound infirm). Mereka yang tidak bisa keluar rumah – mungkin karena masalah kesehatan – biasanya kurang memiliki kesempatan untuk melakukan interaksi sosial dengan orang lain, sehingga memiliki keenderungan untuk membentuk hubungan parasosial (Levy, 1982).

  6. Interpersonal attachment. Menurut Cole dan Leets (1999) jenis interpersonal attachment yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi pembentukan perilaku parasosial. Dikatakan bahwa individu yang memiliki gaya attachment anxious-ambivalent merupakan individu yang paling memiliki kecenderungan untuk membentuk perilaku parasosial, sedangkan individu yang memiliki gaya attachment avoidant merupakan individu yang paling kecil memiliki kecenderungan membentuk perilaku parasosial.

  7. Gender. Beberapa penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa perilaku parasosial lebih kuat dan lebih sering terjadi pada perempuan (Hoffner, 2002).

interaksi parasosial

Faktor yang Mempengaruhi Parasosial

Selain faktor karakteristik personal individu, terdapat beberpa faktor lainnya yang diyakini turut mempengaruhi terbentuknya perilaku parasosial, antara lain motivasi.

Motivasi di sini adalah motivasi untuk memperoleh tujuan, kebutuhan dan keinginannya yang dalam konteks parasosial adalah kebutuhan akan kepuasan sosial dan emosional. Hal tersebut dapat memotivasi individu untuk menonton tayangan televisi lebih lanjut dan dapat membantu individu memuaskan kebutuhuan keanggotaan individu dalam suatu perkumpulan (Hoffner, 2002).

Faktor lainnya adalah faktor kesamaan (similiarity) antara individu dan television performer-nya, baik dalam hal penampilan fisik, tingkah laku, reaksi emosional, maupun kepribadian. Biasanya individu akan lebih tertarik pada karakter dan kepribadian performer yang mirip dengan dirinya. Misalnya persamaan dalam jenis kelamin, etnis, kelas sosial, usia, kepribadian, kepercayaan dan pengalaman (Hoffner, 2002).

Faktor ketiga menurut Hoffner (2002) adalah adanya keinginan individu untuk mengidentifikasikan television performer pada dirinya. Biasanya, ciri-ciri performer yang disukai seseorang adalah individu yang tampan atau cantik, menarik, berbakat dan sukses, kemudian, performer tersebut akan menjadi panutan bagi para pemirsa televisi.
Komunikasi antara pemirsa televisi dengan pemirsa telivisi lainnya juga dapat mempengaruhi terbentuknya perilaku parasosial.

Mereka akan saling berkomunikasi dengan tujuan untuk mengurangi ketidaktentuan akan berita mengenai performer dan juga meningkatkan pengetahuan akan kehidupan dan kepribadian performer. Semakin sering mereka berkomunikasi dan menambah pengetahuan mengenai performer, maka makin kuat perilaku parasosial yang dibentuknya (Hoffner, 2002).

Altman dan Taylor (dalam Camella, 2003) menambahkan bahwa lamanya individu menonton televisi juga turut mempengaruhi kuatnya perilaku parasosial yang terbentuk. Semakin lama individu menonton televisi, maka individu tersebut akan semakin intim dengan performer dan perilaku parasosialnya semakin kuat.

Efek Parasosial

Beberapa hal yang terbentuk atau dipengaruhi oleh adanya perilaku parasosial antara lain:

  1. Sense of companionship. Dengan adanya hubungan dan interaksi parasosial, individu dakam merasakan suatu kepuasan dalam kebutuhan interaksi sosialnya (Hoffner, 2002).

  2. Pseudo-friendship. Adanya perilaku parasosial juga dapat menimbulkan rasa persahabatan semu antara individu dengan selebriti favoritnya (Hoffner, 2002). Hal ini dapat terjadi karena individu merasa mengetahui dan berhubungan langsung dengan selebriti favoritnya sebagai mana mereka berhubungan dengan teman mereka (Cole & Leets, 1999).

  3. Pedoman dalam bertingkah laku. Tingkah laku sosial dan nilai-nilai budaya (misalnya pernikahan atau pola asuh) performer akan menjadi acuan bagi para penggemarnya untuk bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari (McCourt & Fitzpatrick, 2001; Hoffner, 2002).

  4. Personal identity. Individu menggunakan situasi dan tingkah laku selebriti favoritnya di dalam film atau pun di dunia nyata untuk mengartikan dan memahami kehidupan dirinya sendiri (McQuail, dkk., dalam Giles, 2002).

  5. Pemirsa patologis. Interaksi yang sangat kuat antara individu dan selebriti favoritnya dapat menimbulkan gejala patologis, dimana individu akan melakukan segala hal yang dilakukan oleh selebriti favoritnya, bahkan tingkah laku yang buruk sekalipun (Giles, 2002).

Pengukuran Parasosial

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur perilaku parasosial adalah skala sikap terhadap selebriti yaitu The Celebrity Attitude Scale yang dikembangkan oleh McCutcheon (dalam Ashe & McCutcheon, 2001). Terdapat tiga aspek yang diukur oleh skala ini, yaitu:

  • Aspek sosial dan hiburan (social/entertainment), dimana individu mengagumi selebiriti dan merasakan bahwa hal tersebut menghibur,

  • Aspek intense personal feeling, individu merasakan adanya hubungan emosional dengan selebiriti favoritnya, dan

  • Aspek patologi ringan (mild pathology), dimana individu menunjukkan tanda-tanda patologis terhadap selebriti favoritnya dan bahkan rela berbuat hal-hal berbahaya demi selebriti favoritnya.