© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan paradoks didalam ilmu pengetahuan?

Paradoks

Paradoks merupakan pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks

Paradoks berasal dari bahasa Latin paradoxum yang berhubungan dengan bahasa Yunani paradoxon. Kata terdiri dari kata “para” yang berarti “dengan cara” atau “menurut” dan kata “doxa”, yang berarti “apa yang diterima”.

Paradoks merupakan kalimat yang disatu sisi mengandung kebohongan dan disisi lain mengandung kebenaran. Paradoks tidak selamanya buruk, karena dengan pemahaman paradoks malah dapat menumbuhkan kreativitas.

Bekerja dan berpikir dengan paradoks dapat menumbuhkan refleksivitas diri dan meningkatkan “percakapan” di antara para peneliti dan praktisi (Morgan, 1983; Zald, 1996).

Paradoks dapat berfungsi sebagai alat konseptual yang berguna yang memperluas kemampuan kami di luar batas yang dipaksakan oleh logika formal (Ford & Backoff, 1988; Starbuck, 1988).

Terdapat 3 tipe paradoks, yaitu :

  • Formal/logical : “Dua proposisi yang bertentangan atau bahkan kontradiktif dimana argumen tersebut tampaknya masuk akal” (van Heigenoort, 1972)

  • Informal/ordinary language : “Digunakan secara longgar, sebagai “payung” informal untuk segala macam kontradiksi yang menarik dan menggugah pikiran” (Poole & Van de Ven, 1989)

  • Rhetorical/literary criticism : “Sebuah kesimpulan atau apodosis (menyatakan akibat) yang bertentangan dengan apa yang diharapkan oleh audiens” (Oxford English Dictionary Online, 2003).

Paradox in Philosophy of Science


Paradoks, pandangan alternatif sains, akan memaksa peneliti untuk “berpikir dua kali” tentang asumsi-asumsi yang biasanya diterima begitu saja (taken-for-granted), terutama yang terkait dengan kenyataan, kebenaran, dan pengetahuan (Krippendorff, 1984; Quine, 1976).

Bekerja dengan paradoks memungkinkan para peneliti untuk terus mencari “kebenaran”, yang seringkali proses pencarian kebenaran tersebut dilakukan dengan pengetahuan yang mereka sendiri tidak dapat mencapainya" (Chargaff, 1977).

Hal ini disebabkan karena kebenaran sangat bergantung pada “permainan bahasa” yang digunakan orang dalam membangun atau memahami realitas yang mereka hadapi (Berger & Luckman, 1967; Wittgenstein, 1953).

Sejauh kebenaran tidak menempati posisi tertentu, dan kebenaran tersebut belum “ada di mana-mana”, dalam artian belum ada kebenaran mutlak (Dunnette, 1970; dikutip dalam McCall & Bobko, 1990), maka pencarian kebenaran akan terus berlangsung. Pencarian semacam itu dapat menghasilkan pengetahuan yang lebih besar, dan disaat yang sama, juga menghasilkan ketidaktahuan yang lebih besar. Dengan kata lain, “semakin banyak yang kita tahu, semakin sedikit yang kita tahu” (Chargaff, 1977).

Gagasan, seperti kenyataan, kebenaran, pengetahuan, dan kemajuan, lebih bersifat proksimal (dekat ke pusat) daripada distal (Goodman & Elgin, 1988; Lakatos, 1976, 1978), yang mencerminkan hubungan kita dengan dunia kita (Berman, 1984). Pengetahuan dipahami sebagai sebab dan akibat, keadaan maupun aliran (Snowden, 2002), yang mencerminkan bagaimana isi pengetahuan didalam konteks pengetahuan yang saling terkait (misalnya, Cook & Brown, 1999 ).

Memahami pengetahuan sebagai sebab dan akibat akan menantang pemikiran positivis tradisional yang menekankan pengetahuan sebagai objek yang dapat “ditemukan” secara independen melalui metode ilmiah dan membuat pengetahuan “subyektif” mengarah pada seni dan filsafat (Chalmers, 1999).

Pandangan pengetahuan paradoks menunjukkan bahwa

“apa yang menjadi penyebab hanya dapat diidentifikasi dalam proses untuk mempengaruhi ‘sesuatu’, dengan bukti yang sama hanya dapat diidentifikasi sebagai ‘efek’ dengan ‘sesuatu’ yang memproduksinya ”(Fischer, 2003).

Kemajuan ilmiah bukan dipandang sebagai gerakan linear menuju kebenaran tertentu dan final tetapi dipandang sebagai proses dialektis dari oposisi, kontradiksi, dan konflik, resolusi yang akan memunculkan paradoks lain di tingkat yang lebih kompleks (Rosen, 2006). 1994; Whitehead, 1978).

Lakatos (1978) mengusulkan “methodology of scientific research programs” (MSRP) yang berusaha untuk mengarahkan kembali pembicaraan tentang falsification, yang didominasi oleh Popper (Chalmers, 1999).

MSRP Lakatos menawarkan “sintesis yang bersaing” mengenai penyebab kemajuan ilmiah — tercermin dalam penjelasan Popper (1959), Kuhn (1970), dan Feyerabend (1988), antara lain — ke dalam kerangka kerja yang koheren (jika paradoks) untuk memahami pertumbuhan teori-teori ilmiah.

Dalam kerangka kerja ini, Lakatos mencatat bahwa terbukti tidak ada “demarkasi antara “soft”, ‘teori’ yang tidak dapat dibuktikan dengan “hard”, ‘basis empiris’ yang dapat dibuktikan: semua proposisi sains bersifat teoretis, tak dapat disangkal, tetapi dapat keliru” (1978).

Dia mengusulkan falsification “canggih” (Sophisticated methodological falsificationism) (sebagai lawan falsification “naif” Popperian) sebagai dasar yang lebih baik untuk menilai pengetahuan ilmiah atau klaim kebenaran, sejauh hal tersebut memungkinkan dilakukannya pengujian sistem teori dalam program penelitian.

Hipotesis tambahan ini membentuk “protective belt” di sekitar hard core program penelitian. Hard core ini, terdiri dari serangkaian fakta, ide, atau proposisi yang telah dapat diterima begitu saja oleh para ilmuwan yang bekerja dalam program penelitian, dan kebal terhadap upaya falsification

Peneliti dapat fokus pada menambah hard core program penelitian dengan meningkatkan konten teoretisnya, membuatnya mampu untuk mengantisipasi fenomena baru Berlawanan dengan falsifikasi naif, Lakatos berpendapat bahwa tidak ada falsifikasi sebelum munculnya teori yang lebih baik, namun teori yang lebih baik tidak dapat muncul jika semua pernyataan teoritis harus menanggung beban falsifikasi. Dalam sistem Lakatos, kemajuan ilmiah dihasilkan dari dialektis yang saling mempengaruhi di antara berbagai teori yang bersaing dalam suatu program penelitian “organik”.