© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Paradigma Stuktur Perilaku Kinerja (Structure-Conduct-Performance (S-C-P) paradigm)?

Teori Stuktur Perilaku Kinerja

Paradigma atau teori SCP mengatakan bahwa Struktur (structure) suatu industri akan menentukan bagaimana para pelaku industri berperilaku (conduct) yang pada akhirnya menentukan keragaan atau kinerja (performance) industri tersebut.

S-C-P (Structure-Conduct-Performance) merupakan tiga kategori utama yang digunakan untuk melihat kondisi struktur pasar dan persaingan yang terjadi di pasar. Struktur sebuah pasar akan mempengaruhi perilaku perusahaan dalam pasar tersebut yang secara bersama-sama menentukan kinerja sistem pasar secara keseluruhan.

Paradigma Struktur-Perilaku-kinerja (Structure-Conduct-Performance) mengemukakan hubungan keterkaitan antara struktur pasar (structure) dan kinerja pasar (performance). Secara spesifik, struktur pasar memengaruhi perilaku (conduct) perusahaan-perusahaan yang ada di pasar, dan selanjutnya memengaruhi kinerja (performance) perusahaan-perusahaan yang ada di pasar tersebut (Lipczynski, 2009).

Paradigma SCP dimotori oleh E. S. Mason pada tahun 1930 hingga 1940-an, lalu dilanjutkan oleh muridnya, Joe S. Bain pada tahun 1950 hingga 1960-an (Clarke, 2003).

Paradigma SCP cenderung lebih terkonsentrasi pada analisis empiris daripada teoritis, meskipun sejumlah aspek dalam pemikiran SCP berbasis pada teori ekonomi mikro klasik.

Menurut Clark (2003), struktur pasar merupakan suatu pola ketika elemen-elemen pasar saling berinteraksi, baik antara penjual, antara pembeli, antara penjual dan pembeli, maupun antara penjual yang sudah ada dengan calon pesaing yang akan masuk ke pasar. Struktur pasar terkait dengan seberapa tinggi derajat konsentrasi pasar (distribusi jumlah dan skala usaha perusahaan/penjual untuk komoditas tertentu di pasar), derajat konsentrasi penjual (jumlah dan skala usaha pembeli komoditas tertentu di pasar), derajat diferensiasi produk (seberapa tinggi tingkat variasi produk tertentu di pasar), dan hambatan untuk terjadinya kompetisi (seberapa tinggi tingkat kesulitan yang ditemui oleh perusahaan baru untuk masuk ke pasar). Struktur pasar, bersama-sama dengan tujuan perusahaan, cenderung memengaruhi perilaku pelaku pasar dalam menjalankan bisnisnya.

Perilaku pasar merupakan pola perilaku yang diikuti oleh perusahaan-perusahaan yang ada di pasar dalam menyesuaikan diri dengan pasar, untuk mencapai tujuan masing-masing perusahaan. Perilaku pasar mencakup penentuan harga, jenis, dan kuantitas produk yang akan dijual, standar proses dan kualitas produk, strategi periklanan, penelitian dan pengembangan, serta berbagai bentuk praktik persaingan maupun kerja sama yang ada di pasar. Berdasarkan pendekatan SCP, perilaku pasar diasumsikan memengaruhi kinerja pasar. Kinerja pasar tercermin dari profitabilitas, efisiensi, dan pertumbuhan pasar, maupun sejumlah variabel lain berdasarkan tujuan masing-masing perusahaan. Penjelasan di atas merupakan kerangka pikir dasar dari pendekatan SCP. Sejumlah studi terkini menyatakan adanya kecenderungan hubungan yang lebih kompleks dalam paradigma SCP (Clarke, 2003).

Contohnya, kinerja pasar dapat mendorong terwujudnya struktur pasar tertentu. Dengan kata lain, tidak ada hubungan yang baku antara elemen dalam pendekatan SCP tersebut.


Gambar Hubungan keterkaitan antarelemen dalam pendekatan SCP.

Berdasarkan logika SCP yang dikemukakan oleh Mason dan Bain, hubungan keterkaitan antarelemen SCP mengalir dari struktur menuju kinerja. Meskipun demikian, digambarkan sejumlah kemungkinan lain, seperti: dari kinerja menuju ke perilaku, dari perilaku menuju ke struktur, dan dari kinerja menuju ke struktur. Aliran yang tidak sesuai dengan paradigma awal SCP digambarkan dengan garis putus-putus.

Struktur


Struktur pasar cenderung berubah secara lambat, bahkan dapat dikatakan tetap dalam jangka pendek. Variabel-variabel utama yang terdapat dalam elemen ini adalah:

1. Distribusi jumlah dan skala pembeli dan penjual

Variabel ini merupakan penentu utama dari kekuatan pasar yang dimiliki oleh pelaku-pelaku utama yang ada di pasar dan kemampuan pelaku-pelaku utama tersebut untuk mengendalikan harga pasar berdasarkan harga yang mereka terapkan. Sebagai contoh, untuk kasus pasar barang konsumsi yang terdapat banyak sekali penjual dengan skala kecil sementara penjual dengan jumlah penjual relatif lebih sedikit dibandingkan jumlah pembeli, maka hal yang akan menjadi perhatian utama adalah konsentrasi penjual. Sementara itu, pada kasus pasar barang modal dengan jumlah pembeli sedikit, maka hal yang perlu menjadi perhatian dalam analisis SCP bukan hanya konsentrasi penjual, namun juga konsentrasi pembeli.

2. Hambatan pasar

Hambatan pasar dapat diartikan sebagai kondisi ketika perusahaan potensial yang akan masuk ke pasar mengalami kesulitan karena tidak memiliki keunggulan kompetitif sebagaimana yang dimiliki oleh perusahaan yang sudah ada di pasar maupun karena sejumlah sebab, seperti karakteristik teknologi yang digunakan dalam proses produksi, struktur biaya, kebijakan perusahaan yang dirancang untuk mempersulit perusahaan lain untuk masuk ke pasar, dan kebijakan pemerintah.

3. Diferensiasi produk

Diferensiasi produk mengacu pada karakteristik produk. Seberapa mirip produk masing-masing perusahaan dengan produk perusahaan pesaingnya? Seberapa tinggi tingkat keunikan suatu produk? Dalam hal ini, adanya perubahan terhadap karakteristik produk yang dilakukan oleh suatu perusahaan mungkin akan dapat memengaruhi share dari permintaan pasar yang diperoleh oleh masing-masing perusahaan dalam pasar.

4. Integrasi vertikal dan diversifikasi

Integrasi vertikal dapat diartikan sebagai tingkatan sejauh mana suatu perusahaan terlibat dalam berbagai macam tahapan dalam proses produksi suatu produk. Sementara itu, diversifikasi dapat diartikan sebagai suatu kondisi ketika suatu perusahaan menyediakan berbagai variasi barang dan jasa untuk pasar yang berbeda.

Derajat sejauh mana perusahaan-perusahaan yang ada di dalam pasar terintegrasi secara vertikal atau berdiversifikasi, cenderung akan memengaruhi perilaku dan kinerja pasar. Dalam hal ini, perusahaan-perusahaan yang terintegrasi secara vertikal cenderung lebih mudah untuk mendapatkan pasokan input dan outlet untuk menjual produknya. Sementara itu, perusahaan-perusahaan dengan derajat diversifikasi yang tinggi akan memperoleh benefit berupa cakupan ekonomis (economies of scope) dan risiko yang lebih rendah daripada perusahaan dengan derajat diversifikasi rendah (karena kerugian di pasar salah satu produk dapat dikompensasi dengan keuntungan di pasar produk lainnya).

Perlu diketahui, dalam jangka panjang, integrasi vertikal dan diversifikasi dapat berubah menjadi elemen perilaku seiring dengan kemampuan perusahaan dalam pasar untuk melakukan integrasi vertikal dan diversifikasi, serta keputusan perusahaan untuk menjadikan integrasi vertikal dan diversifikasi sebagai strategi perusahaan.

Perilaku


Variabel-variabel utama yang terdapat dalam elemen ini adalah:

1. Tujuan bisnis

Tujuan bisnis dari suatu perusahaan sering kali ditentukan oleh karakteristik struktural dari suatu industri, khususnya distribusi skala perusahaan. Meskipun demikian, dalam analisis teori yang umumnya menjadi acuan terkait penentuan tujuan perusahaan adalah teori neoklasik.

Teori neoklasik hanya mengasumsikan maksimisasi keuntungan (profit) sebagai tujuan bisnis perusahaan. Sementara itu, sejumlah teori lain, seperti teori manajerial menyatakan sejumlah tujuan lain dari bisnis perusahaan yang tidak berorientasi pada maksimisasi profit, namun lebih berorientasi pada maksimisasi penjualan atau maksimisasi utilitas manajer.

2. Kebijakan harga

Kemampuan suatu perusahaan untuk menentukan harga produknya sangat ditentukan oleh karakteristik struktur industri yang melingkupi perusahaan tersebut. Kebijakan harga yang dapat diterapkan oleh perusahaan, antara lain cost plus pricing, marginal cost pricing, entry-deterring pricing, predatory pricing, price leadership dan price discrimination.

Bagi pelaku pasar dalam struktur pasar oligopoli atau yang biasa disebut oligopolis, persaingan harga secara terbuka sering kali dihindari karena dapat memicu perang harga yang merugikan para oligopolis dalam pasar.

3. Desain produk, periklanan, dan pemasaran

Karakteristik dari suatu produk perusahaan memengaruhi kompetisi nonharga yang terjadi pada proses desain, periklanan, dan pemasaran produk antarperusahaan. Oleh karena itu, proses diferensiasi produk menjadi penting. Diferensiasi produk tidak hanya merupakan elemen struktur yang bersifat given, namun bisa juga merupakan elemen perilaku, khususnya dilihat dari perannya sebagai strategi perusahaan.

4. Penelitian dan pengembangan

Seperti strategi periklanan dan pemasaran, strategi penelitian dan pengembangan juga menjadi motor persaingan nonharga antara perusahaan yang ada di pasar. Cakupan, efektivitas, dan derajat penyebaran (sejauh mana ide atau penemuan baru diadopsi oleh perusahaan selain penemunya), serta penelitian dan pengembangan merupakan penentu utama dari kemajuan teknologi.

5. Kolusi

Kolusi merupakan suatu strategi yang digunakan oleh perusahaan- perusahaan yang menghindari kompetisi, baik harga maupun nonharga. Dalam hal ini, perusahaan-perusahaan yang ada di pasar saling bekerja sama untuk mencapai kesepakatan bersama terkait harga, level output yang diproduksi, aktivitas periklanan, atau penentuan anggaran untuk penelitian dan pengembangan.

6. Merger

Merger dapat dibagi menjadi dua, yaitu merger horizontal dan merger vertikal. Merger horizontal terjadi antara perusahaan yang memproduksi barang yang serupa, sementara merger vertikal terjadi antara perusahaan yang aktivitas produksinya saling terkait. Merger horizontal berpengaruh secara langsung terhadap konsentrasi produsen (penjual) dalam pasar.

Sementara itu, merger vertikal berpengaruh langsung terhadap derajat integrasi vertikal.

Kinerja


Variabel-variabel utama yang terdapat dalam elemen ini adalah:

1. Profitabilitas

Teori neoklasik yang digunakan dalam pendekatan SCP mengasumsikan bahwa profit yang tinggi (di atas normal) hanya dapat terjadi pada perusahaan yang memiliki dan memanfaatkan kekuatan pasarnya untuk mengendalikan harga dan kuantitas produk yang diproduksi atau dijualnya. Di sisi lain, aliran pemikiran ekonomi lain yang biasa disebut Chicago School menyatakan bahwa profit di atas normal terjadi karena keunggulan biaya atau superioritas efisiensi sejumlah perusahaan yang kemudian meningkatkan derajat monopoli yang dicapainya.

Sementara itu, berdasarkan pemikiran aliran Schumpeterian atau Austrian, profit di atas normal dianggap sebagai bentuk dari keberhasilan proses inovasi pada masa sebelumnya. Sebagai tambahan, tingkat profitabilitas memengaruhi keputusan perusahaan untuk tetap berada di dalam pasar atau keluar dari pasar. Tingkat profitabilitas juga memiliki implikasi langsung terhadap struktur pasar, khususnya distribusi jumlah dan skala produsen (penjual).

2. Pertumbuhan

Profitabilitas merupakan ukuran yang tepat bagi tingkat keberhasilan kinerja perusahaan yang bertujuan untuk memaksimumkan profit. Meskipun demikian, indikator profitabilitas kurang relevan untuk menganalisis kinerja perusahaan yang tidak bertujuan untuk memaksimumkan profit. Terkait dengan hal ini, indikator pertumbuhan, seperti pertumbuhan penjualan, pertumbuhan aset, atau pertumbuhan lapangan kerja mungkin dapat menjadi salah satu alternatifnya. Indikator pertumbuhan juga memiliki kelebihan, yaitu perusahaan dengan skala usaha yang tidak sebanding pada awal periode dapat diperbandingkan.

3. Kualitas produk

Kualitas produk dapat menjadi indikator yang penting ketika kepuasan konsumen menjadi tujuan utama perusahaan. Indikator ini biasa digunakan dalam analisis yang digunakan oleh lembaga pemerintahan maupun organisasi konsumen.

4. Perkembangan teknologi

Tingkat perkembangan teknologi sering kali dianggap sebagai indikator kinerja industri yang penting. Dalam jangka panjang, kemajuan teknologi mampu menciptakan dampak yang sangat besar bagi pasar, terutama melalui pengaruhnya terhadap sisi permintaan (selera dan preferensi konsumen cenderung berubah seiring dengan keluarnya produk baru ke pasar) dan sisi penawaran (teknologi dan struktur biaya cenderung berubah ketika terdapat mekanisme produksi baru dan lebih efisien yang berhasil dibangun).

5. Efisiensi
Efisiensi dapat dibagi menjadi 2, yaitu efisiensi produktif dan efisiensi alokatif. Efisiensi produktif terkait jumlah output yang dihasilkan dengan jumlah input tertentu, termasuk terkait pemilihan kombinasi input untuk memproduksi output dalam jumlah tertentu. Sementara itu, efisiensi alokatif terkait dengan kemampuan pasar dalam memaksimalkan kesejahteraan para pemangku kepentingan dalam pasar tersebut.

Kritik Paradigma SCP


Meskipun paradigma SCP memiliki peran yang sangat penting dalam ekonomika industri, terdapat sejumlah kritik yang diajukan pada paradigma SCP. Berikut ini adalah sejumlah kritik tersebut (Lipczynski, et al., 2009):

  1. Paradigma SCP masih banyak memanfaatkan teori-teori ekonomi mikro dan teori perusahaan neoklasik dalam analisisnya. Bagaimanapun juga, teori-teori tersebut sering kali tidak mampu menganalisis secara tepat hubungan antara struktur, perilaku, dan kinerja.

  2. Sering kali terdapat kesulitan dalam mengklasifikasikan apakah variabel tertentu tergolong dalam struktur, perilaku, atau kinerja. Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, diferensiasi produk bisa dikategorikan dalam elemen struktur maupun perilaku.

  3. Pencapaian kinerja dari tiap-tiap perusahaan tidak dapat disamakan. Hal ini karena kinerja sebenarnya merupakan kesuksesan dalam mencapai tujuan. Karena tujuan dari masing-masing perusahaan berbeda, maka pengukuran kinerja dalam analisis SCP tidak bisa hanya mengandalkan indikator kinerja yang sama untuk semua perusahaan yang dijadikan objek analisis.

  4. Dalam analisis empiris dengan pendekatan SCP, pada umumnya hanya digunakan indikator-indikator yang mudah diakses saja (misalnya, konsentrasi pasar untuk menggambarkan struktur pasar). Sementara itu,

variabel-variabel lain yang membentuk elemen-elemen SCP jarang sekali digunakan, misalnya derajat integrasi vertikal, kolusi, tingkat kemajuan teknologi, dan efisiensi produktif. Hal ini dapat berbahaya karena sering kali satu atau beberapa indikator saja belum mampu menggambarkan elemen dari SCP (misalnya, konsentrasi industri saja dalam menggambarkan struktur pasar).

  1. Analisis SCP lebih memperhatikan hubungan antarelemen dalam SCP secara statis bukan secara dinamis. Seharusnya, analisis dengan pendekatan SCP juga perlu memperhatikan pertanyaan, seperti “Bagaimana pengaruh kinerja saat ini terhadap struktur industri di masa mendatang?”.

  2. Seperti telah disinggung sebelumnya, paradigma SCP mendasarkan hubungan antara struktur pasar dan profitabilitas berdasarkan pandangan neoklasik (collusion hypothesis), dalam hal ini profitabilitas yang tinggi terjadi karena adanya kolusi dalam pasar. Padahal, profitabilitas yang tinggi dapat dicapai juga melalui tingkat efisiensi atau kemampuan perusahaan mencapai economies of scale, seperti yang dinyatakan oleh aliran Chicago School dalam efficiency hypothesis.