Apa yang dimaksud dengan overnutrition?

Kondisi overnutrien dapat dilihat pada gambar.
Apa yang dimaksud dengan overnutrition?

2 Likes

Status gizi lebih (overnutrition) merupakan keadaan tubuh seseorang yang mengalami kelebihan berat badan, yang terjadi karena kelebihan jumlah asupan energi yang disimpan dalam bentuk cadangan berupa lemak. Ada yang menyebutkan bahwa masalah gizi lebih identik dengan kegemukan.

Kegemukan dapat menimbulkan dampak yang sangat berbahaya yaitu dengan munculnya penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, hipertensi, gangguan ginjal dan masih banyak lagi (Soerjodibroto, 1993).

Masalah gizi lebih ada dua jenis yaitu overweight dan obesitas. Batas IMT untuk dikategorikan overweight adalah antara 25,1 – 27,0 kg/m2 , sedangkan obesitas adalah ≥ 27,0 kg/m2 .

Kegemukan (obesitas) dapat terjadi mulai dari masa bayi, anakanak, sampai pada usia dewasa.

  • Kegemukan pada masa bayi terjadi karena adanya penimbunan lemak selama dua tahun pertama kehidupan bayi. Bayi yang menderita kegemukan maka ketika menjadi dewasa akan mengalami kegemukan pula.

  • Kegemukan pada masa anak-anak terjadi sejak anak tersebut berumur dua tahun sampai menginjak usia remaja dan secara bertahap akan terus mengalami kegemukan sampai usia dewasa.

  • Kegemukan pada usia dewasa terjadi karena seseorang telah mengalami kegemukan dari masa anak-anak (Suyono, 1986).

Ketidakseimbangan antara asupan energi (energy intake) dengan kebutuhan gizi mempengaruhi status gizi seseorang. Ketidakseimbangan positif terjadi apabila asupan energi lebih besar dari pada kebutuhan sehingga mengakibatkan kelebihan berat badan atau gizi lebih (Guthrie, Helen A., 1995).

Khomsan (2004), menambahkan “penyebab kelebihan gizi dibagi menjadi dua faktor yaitu faktor endogen dan faktor eksogen. Faktor endogen adalah terjadinya gangguan metabolisme tubuh sedangkan faktor eksogen adalah kelebihan konsumsi dan kurangnya aktifitas fisik”.

Makanan dengan kepadatan energi yang tinggi (banyak mengandung lemak atau gula yang ditambahkan dan kurang mengandung serat) turut menyebabkan sebagian besar keseimbangan energi yang positif ini. Selanjutnya penurunan pengeluaran energi akan meningkatkan keseimbangan energy yang positif. Faktor penyebabnya adalah aktivitas fisik golongan masyarakat rendah, efek toksis yang membahayakan, kelebihan energi, kemajuan ekonomi, kurang gerak, kurang pengetahuan akan gizi seimbang, dan tekanan hidup (stress). Akibat dari kelebihan gizi di antaranya obesitas (energi disimpan dalam bentuk lemak), penyakit degenerative seperti hiperensi, diabetes, jantung koroner, hepatitis, dan penyakit empedu, serta usia harapan hidup semakin menurun. Gizi lebih dapat ditentukan dengan menggunakan IMT (Indeks Massa Tubuh), gizi lebih di angka 25 – 27 dan lebih dari 27 dikatakan obesitas (Depkes, 2014).

Overnutrition atau kelebihan gizi didefinisikan sebagai konsumsi nutrisi dan makanan secara berlebihan sampai pada titik dimana kesehatan terpengaruh. Kelebihan gizi dapat berkembang menjadi obesitas yang meningkatkan risiko kondisi kesehatan yang serius, termasuk penyakit kardiovaskular, hipertensi, kanker, dan tipe-2 diabetes.

Sampai saat ini, kelebihan gizi telah dipandang sebagai masalah yang hanya memengaruhi negara maju. Akan tetapi, kelebihan gizi adalah masalah yang berkembang di seluruh dunia. World Health Organization (WHO) menjelaskan masalah ini: “Di negara-negara termiskin, meskipun penyakit menular dan kekurangan gizi mendominasi beban penyakit mereka saat ini, faktor risiko utama untuk penyakit kronis menyebar. Prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas meningkat di negara-negara berkembang, dan bahkan di kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah di negara-negara maju”. Masalah kekurangan gizi meningkat bahkan di negara-negara dimana kelaparan lazim terjadi.

Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap Overnutrition

Amerika Serikat sekarang dilanda lingkungan obesogenic. The National Center for Health Statistics at the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan bahwa pada tahun 2015-2016, prevalensi obesitas di Amerika Serikat adalah 39,8% pada orang dewasa dan 18,5% pada remaja. Obesitas dan kelebihan berat badan adalah akibat dari berbagai penyebab termasuk penyebab perilaku individu dan genetik. Sementara banyak faktor termasuk genetika, obat-obatan, dan kondisi medis lainnya dapat berkontribusi terhadap obesitas, perilaku mungkin merupakan penyumbang paling umum. Berat badan sehat individu dikaitkan dengan makanan sehat dan aktivitas fisik yang teratur. Restoran menyajikan makanan yang tinggi kalori, dengan beberapa makanan yang mengandung 2.000 kalori. Orang-orang menjadi lebih banyak duduk di rumah dan kantor.

Budaya obesogenik ini telah menyebar ke negara-negara lain, termasuk banyak negara berkembang. China, misalnya, sekarang memiliki lebih dari 5.000 restoran Kentucky Fried Chicken (KFC) di 1.100 kota. Demikian pula, McDonald’s mengharapkan untuk memiliki 4.500 restoran di China pada 2022, naik dari 2.500 di 2017. Selain itu, pertumbuhan sejumlah rumah tangga China memiliki televisi, kendaraan pribadi, dan teknologi lainnya yang mengurangi aktivitas fisik dan memfasilitasi penambahan berat badan.

Ketidaksetaraan ekonomi di negara-negara ini adalah penyebab utama kelebihan gizi (Overnutrition) dan kekurangan gizi (Undernutrition). Studi yang dilakukan di India menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan memiliki efek yang sama pada risiko kelebihan berat badan seperti halnya pada risiko kekurangan berat badan; khususnya, untuk setiap peningkatan standar deviasi dalam ketimpangan pendapatan, peluang kekurangan berat badan meningkat 19% dan peluang obesitas meningkat sebesar 21%. Sementara beberapa orang memiliki sumber daya untuk membeli jumlah makanan di luar kebutuhan kalori harian mereka di saat yang lain tidak dapat memenuhi asupan kalori yang direkomendasikan. Akan tetapi, semakin banyak orang miskin menjadi kelebihan berat badan di lebih banyak negara, karena orang-orang ini mengonsumsi makanan yang terjangkau namun sangat tinggi kalori, seperti makanan cepat saji dan makanan olahan.

Referensi
  1. Parks, N. “What Is Overnutrition and Undernutrition?” Livestrong. https://www.livestrong.com/article/518819-what-is-overnutrition-and-undernutrition/.
  2. WHO. (2004) World Health Assembly. “Global Strategy on Diet, Physical Activity and Health.” http://www.who.int/nmh/wha/59/dpas/en/.
  3. CDC. “Prevalence of Obesity Among Adults and Youth, 2015-2016.” NCHS Data Brief No. 288, October 2017. https://www.cdc.gov/nchs/products/databriefs/db288.htm.
  4. Jacobs, H. “KFC is by far the most popular fast food chain in China and it’s nothing like the US brand - here’s what it’s like.” (April 15, 2018) Business Insider. https://www.businessinsider.com/most-popular-fast-food-chain-in-china-kfc-photos-2018-4.
  5. Pisani, J. “McDonald’s plans to nearly double restaurants in China.” (August 8, 2017) USA Today. https://www.usatoday.com/story/money/2017/08/08/mcdonalds-plans-nearly-double-restaurants-china/548184001/.
  6. Subramanian SV, Kawachi I, Smith GD. (2007) “Income Inequality and the Double Burden of Under- and Overnutrition in India.” Journal of Epidemiology and Community Health. 61:802-9.
  7. Module 4: Overnutrition. http://www.uniteforsight.org/hunger/module4. Diakses pada 2 Juni 2020.