© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Obesitas ?

Kegemukan atau obesitas adalah suatu kondisi medis berupa kelebihan lemak tubuh yang terakumulasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan, yang kemudian menurunkan harapan hidup dan/atau meningkatkan masalah kesehatan.

Seseorang dianggap menderita kegemukan (obese) bila indeks massa tubuh (IMT), yaitu ukuran yang diperoleh dari hasil pembagian berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter, lebih dari 30 kg/m2.

Apa yang dimaksud dengan Obesitas ?

Obesitas merupakan keadaan dimana seseorang memiliki kelebihan lemak (body fat) sehingga orang tersebut memiliki risiko kesehatan. Riskesdas 2013, prevalensi penduduk laki-laki dewasa obesitas pada tahun 2013 sebanyak 19,7% lebih tinggi dari tahun 2007 (13,9%) dan tahun 2010 (7,8%). Sedangkan pada perempuan di tahun 2013, prevalensi obesitas perempuan dewasa (>18 tahun) 32,9 persen, naik 18,1 persen dari tahun 2007 (13,9%) dan 17,5 persen dari tahun 2010 (15,5%).

WHO, dalam data terbaru Mei 2014, obesitas merupakan faktor risiko utama untuk penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular (terutama penyakit jantung dan stroke), diabetes, gangguan muskuloskeletal, beberapa jenis kanker (endometrium, payudara, dan usus besar). Dari data tersebut, peningkatan penduduk dengan obesitas, secara langsung akan meningkatkan penyakit akibat kegemukan.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

Biasanya pasien datang bukan dengan keluhan kelebihan berat badan namun dengan adanya gejala dari risiko kesehatan yang timbul.

Penyebab

  1. Ketidakseimbangnya asupan energi dengan tingkatan aktifitas fisik.

  2. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan antara lain kebiasaan makan berlebih, genetik, kurang aktivitas fisik, faktor psikologis dan stres, obat-obatan (beberapa obat seperti steroid, KB hormonal, dan anti-depresan memiliki efek samping penambahan berat badan dan retensi natrium), usia (misalnya menopause), kejadian tertentu (misalnya berhenti merokok, berhenti dari kegiatan olahraga, dsb).

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

  1. Pengukuran Antropometri (BB, TB dan LP)
    Indeks Masa Tubuh (IMT/Body mass index/BMI) menggunakan rumus

    Berat Badan (Kg) / Tinggi Badan kuadrat (m2)

    Pemeriksaan fisik lain sesuai keluhan untuk menentukan telah terjadi komplikasi atau risiko tinggi

  2. Pengukuran lingkar pinggang (pada pertengahan antara iga terbawah dengan krista iliaka, pengukuran dari lateral dengan pita tanpa menekan jaringan lunak). Risiko meningkat bila laki-laki >85 cm dan perempuan >80cm.

  3. Pengukuran tekanan darah
    Untuk menentukan risiko dan komplikasi, misalnya hipertensi.

Pemeriksaan Penunjang
Untuk menentukan risiko dan komplikasi, yaitu pemeriksaan kadar gula darah, profil lipid, dan asam urat.

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.


Gambar Kategori obesitas

Diagnosis Banding:

  1. Keadaan asites atau edema
  2. Masa otot yang tinggi, misalnya pada olahragawan

Diagnosis klinis mengenai kondisi kesehatan yang berasosiasi dengan obesitas:

  1. Hipertensi
  2. DM tipe 2
  3. Dislipidemia
  4. Sindrom metabolik
  5. Sleep apneu obstruktif
  6. Penyakit sendi degeneratif

Komplikasi

Diabetes Mellitus tipe 2, Hipertensi, penyakit kardiovakular, Sleep apnoe, abnormalitas hormon reproduksi, Low back pain, perlemakan hati Obesitas dikelompokkan menjadi obesitas risiko tinggi bila disertai dengan 3 atau lebih keadaan di bawah ini:

  1. Hipertensi
  2. Perokok
  3. Kadar LDL tinggi
  4. Kadar HDL rendah
  5. Kadar gula darah puasa tidak stabil
  6. Riwayat keluarga serangan jantung usia muda
  7. Usia (laki-laki > 45 thn, atau perempuan > 55 thn).

Risiko mengalami obesitas
Gambar Risiko mengalami obesitas

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

Non –Medikamentosa

  1. Penatalaksanaan dimulai dengan kesadaran pasien bahwa kondisi sekarang adalah obesitas, dengan berbagai risikonya dan berniat untuk menjalankan program penurunan berat badan
  2. Diskusikan dan sepakati target pencapaian dan cara yang akan dipilih (target rasional adalah penurunan 10% dari BB sekarang)
  3. Usulkan cara yang sesuai dengan faktor risiko yang dimiliki pasien, dan jadwalkan pengukuran berkala untuk menilai keberhasilan program
  4. Penatalaksanaan ini meliputi perubahan pola makan (makan dalam porsi kecil namun sering) dengan mengurangi konsumsi lemak dan kalori, meningkatkan latihan fisik dan bergabung dengan kelompok yang bertujuan sama dalam mendukung satu sama lain dan diskusi hal-hal yang dapat membantu dalam pencapaian target penurunan berat badan ideal.
  5. Pengaturan pola makan dimulai dengan mengurangi asupan kalori sebesar 300- 500 kkal/hari dengan tujuan untuk menurunkan berat badan sebesar ½-1 kg per minggu.
  6. Latihan fisik dimulai secara perlahan dan ditingkatkan secara bertahap intensitasnya. Pasien dapat memulai dengan berjalan selama 30 menit dengan jangka waktu 5 kali seminggu dan dapat ditingkatkan intensitasnya selama 45 menit dengan jangka waktu 5 kali seminggu.

Konseling dan Edukasi

  1. Perlu diingat bahwa penanganan obesitas dan kemungkinan besar seumur hidup. Adanya motivasi dari pasien dan keluarga untuk menurunkan berat badan hingga mencapai BB ideal sangat membantu keberhasilan terapi.

  2. Menjaga agar berat badan tetap normal dan mengevaluasi adanya penyakit penyerta.

  3. Membatasi asupan energi dari lemak total dan gula.

  4. Meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, serta kacang-kacangan, biji-bijian dan kacang-kacangan.

  5. Terlibat dalam aktivitas fisik secara teratur (60 menit sehari untuk anak-anak dan 150 menit per minggu untuk orang dewasa)

Kriteria Rujukan

  1. Konsultasi pada dokter spesialis penyakit dalam bila pasien merupakan obesitas dengan risiko tinggi dan risiko absolut

  2. Jika sudah dipercaya melakukan modifikasi gaya hidup (diet yang telah diperbaiki, aktifitas fisik yang meningkat dan perubahan perilaku) selama 3 bulan, dan tidak memberikan respon terhadap penurunan berat badan, maka pasien dirujuk ke spesialis penyakit dalam untuk memperoleh obat-obatan penurun berat badan

Prognosis
Terdapat berbagai komplikasi yang menyertai obesitas. Risiko akan meningkat seiring dengan tingginya kelebihan berat badan.

Ringkasan
  1. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan primer
  2. Henthorn, T.K. Anesthetic Consideration in Morbidly Obese Patients. [cite 2010 June 12] Available from: http://cucrash.com/Handouts04/MorbObese Henthorn.pdf.
  3. Sugondo, Sidartawan. Obesitas. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Ed. V. Jakarta. 2006. Hal. 1973-83.
  4. Vidiawati,D. Penatalaksanaan Obesitas.Pedoman Praktik Klinik untuk Dokter Keluarga. Ikatan Dokter Indonesia. HWS-IDI. 200. (Trisna, 2008)

Obesitas dan overweight , adalah dua istilah yang sering digunakan untuk menyatakan adanya kelebihan berat badan. Kedua istilah ini sebenarnya mempunyai pengertian yang berbeda. Obesitas didefinisikan sebagai suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Overweight adalah kelebihan berat badan dibandingkan dengan berat ideal yang dapat disebabkan oleh penimbunan jaringan lemak atau nonlemak, misalnya pada seorang atlet binaragawan, kelebihan berat badan dapat disebabkan oleh hipertrofi otot.

Cara Menentukan Obesitas


Obesitas berkaitan tidak hanya dengan berat badan total, namun juga distribusi lemak yang tersimpan di dalam tubuh. Secara klinis obesitas dapat dengan mudah dikenali antara lain:

  • wajah membulat
  • pipi tembam
  • dagu rangkap
  • leher relatif pendek
  • dada membusung dengan payudara yang membesar mengandung jaringan lemak
  • perut membuncit disertai dinding perut yang berlipat-lipat
  • kedua tungkai berbentuk X dengan kedua pangkal paha bagian dalam saling menempel dan bergesekan. Akibatnya, dapat terjadi laserasi dan ulserasi yang dapat menimbulkan bau yang kurang sedap.
  • pada anak laki-laki, penis tampak kecil karena tersembunyi jaringan lemak suprapubik ( burried penis) .

Banyak teknik yang digunakan untuk menentukan akumulasi lemak yang ada di dalam tubuh seseorang, antara lain:

  • Mengukur dan menghubungkan berat badan dengan tinggi badan menggunakan Body Mass Index (BMI) / Indeks Massa Tubuh (IMT)

  • Pengukuran lemak subkutan dengan mengukur tebal lipatan kulit

  • Variasi lingkar badan, biasanya merupakan rasio dari pinggang dan panggul

Untuk menentukan seseorang menderita obesitas atau tidak, cara yang paling banyak digunakan adalah menggunakan IMT. IMT ditunjukkan dengan perhitungan kilogram per meter kuadrat (kg/m2), berkorelasi dengan lemak yang terdapat dalam tubuh. Rumus menentukan IMT adalah:

IMT = Berat badan (kg) / [Tinggi Badan (m)]2

Klasifikasi Obesitas untuk orang dewasa menurut kriteria Asia Pasifik tertuang pada tabel berikut ini.

Tabel Klasifikasi Berat Badan Lebih dan Obesitas pada Orang Dewasa Berdasarkan IMT Menurut Kriteria Asia Pasifik.

Klasifikasi IMT (kg/m2)
Underweight < 18,5
Normal 18,5-22,9
Overweight > 23,0-24,9
Obesitas I 25,0-29,9
Obesitas II > 30,0

Untuk anak-anak pada masa tumbuh kembang, penentuan obesitas ditentukan menggunakan grafik CDC 2000. Dengan memasukkan data ke grafik, dapat ditentukan posisi persentilnya. Untuk persentil 86-94 dikategorikan dalam overweight dan untuk persentil > 95 dikategorikan dalam obesitas. Grafik CDC 2000 dapat dilihat pada grafik berikut ini.


Gambar Grafik Penentuan IMT Berdasarkan Usia CDC 2000 untuk Anak Usia 2 – 20 Tahun.

Etiologi Obesitas


Obesitas merupakan penyakit dengan etiologi yang sangat kompleks dan belum sepenuhnya diketahui. Keadaan obesitas terjadi jika makanan sehari- harinya mengandung energi yang melebihi kebutuhan anak yang bersangkutan ( positive energy balance ).

Pada umumnya, berbagai faktor yang menentukan keadaan obesitas seseorang seperti:

  • Herediter
    Anak yang obes biasanya berasal dari keluarga penderita obesitas. Bila kedua orangtua obes, sekitar 80% anak-anak mereka akan menjadi obes. Bila salah satu orangtua obes kejadiannya menjadi 40% dan bila kedua orangtua tidak obes maka prevalens obesitas akan turun menjadi 14%. Peningkatan risiko menjadi obesitas tersebut kemungkinan disebabkan oleh pengaruh gen atau faktor lingkungan dalam keluarga.

  • Pola makan
    Peran nutrisi dimulai sejak masa gestasi. Perilaku makan mulai terkondisi dan terlatih sejak bulan-bulan pertama kehidupan yaitu saat diasuh orangtua. Pemberian susu botol pada bayi mempunyai kecenderungan diberikan pada jumlah yang berlebihan sehingga risiko menjadi obesitas menjadi lebih besar daripada ASI saja. Akibatnya anak akan terbiasa untuk mengkonsumsi makanan melebihi kebutuhan dan berlanjut ke masa prasekolah, masa usia sekolah, sampai masa remaja.

    Peranan diet terhadap terjadinya obesitas sangat besar, terutama diet tinggi kalori yang berasal dari karbohidrat dan lemak. Masukan energi tersebut lebih besar daripada energi yang digunakan. Anak-anak usia sekolah mempunyai kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji ( junk foods dan fast foods ), yang umumnya mengandung energi tinggi karena 40-50% nya berasal dari lemak.

    Kebiasaan lain adalah mengkonsumsi makanan camilan yang banyak mengandung gula sambil menonton televisi. Pilihan jenis makanan camilan bisa dipengaruhi oleh iklan di televisi.

    Penelitian yang dilakukan oleh Vanelli dkk (2005) menemukan bahwa melewatkan makan pagi pada anak-anak dapat meningkatkan risiko overweight dan obesitas. Pada anak-anak yang melewatkan makan pagi dilaporkan 27,5% overweight dan 9,6% obes (p=0,01 dan p=0,04 berturut-turut) dibandingkan anak-anak yang makan pagi (9,1% dan 4,5% berturut-turut).8 Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan Dubois dkk (2006) ditemukan bahwa melewatkan makan pagi meningkatkan risiko overweight hampir dua kali lipat dengan odds ratio = 1,9(1,2-3,2).

  • Aktivitas fisik
    Aktivitas fisik sehari-hari dipercaya menjadi salah satu faktor munculnya obesitas pada seseorang. Suatu data menunjukkan bahwa aktivitas fisik anak-anak cenderung menurun. Anak-anak lebih banyak bermain di dalam rumah dibandingkan di luar rumah, misalnya bermain games komputer maupun media elektronik lain dan menonton televisi.

    Sebaliknya menonton televisi akan menurunkan aktivitas dan keluaran energi, karena mereka menjadi jarang atau kurang berjalan, bersepeda, naik-turun tangga. Suatu penelitian kohort mengatakan bahwa menonton televisi lebih dari lima jam meningkatkan prevalens dan angka kejadian obesitas pada anak 6-12 tahun (18%), serta menurunkan angka keberhasilan sembuh dari terapi obesitas sebanyak 33%.

  • Gangguan Hormonal
    Walaupun sangat jarang, adakalanya obesitas disebabkan oleh endocrine disorder , seperti pada Sindroma Cushing , hiperaktivitas adrenokortikal, hipogonadisme, dan penyakit hormon lain.

Patogenesis Obesitas


Obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan energi dengan keluaran energi ( energy expenditures ) sehingga terjadi kelebihan energi yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Asupan dan pengeluaran energi tubuh diatur oleh mekanisme saraf dan hormonal, seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Skema Ringkas dari Jalur yang Mengatur Keseimbangan Energi
Gambar Skema Ringkas dari Jalur yang Mengatur Keseimbangan Energi.

Hampir setiap individu, pada saat asupan makanan meningkat, konsumsi kalorinya juga ikut meningkat, begitupun sebaliknya. Karena itu, berat badan dipertahankan secara baik dalam cakupan yang sempit dalam waktu yang lama. Diperkirakan, keseimbangan yang baik ini dipertahankan oleh internal set point atau lipostat , yang dapat mendeteksi jumlah energi yang tersimpan (jaringan adiposa) dan semestinya meregulasi asupan makanan supaya seimbang dengan energi yang dibutuhkan.

Skema yang dapat dipakai untuk memahami mekanisme neurohormonal yang meregulasi keseimbangan energi dan selanjutnya mempengaruhi berat badan terlihat pada gambar diatas. Secara garis besar, ada tiga komponen pada sistem tersebut:

  • Sistem aferen, menghasilkan sinyal humoral dari jaringan adiposa (leptin), pankreas (insulin), dan perut (ghrelin).

  • Central processing unit, terutama terdapat pada hipotalamus, yang mana terintegrasi dengan sinyal aferen.

  • Sistem efektor, membawa perintah dari hypothalamic nuclei dalam bentuk reaksi untuk makan dan pengeluaran energi.

Pada keadaan energi tersimpan berlebih dalam bentuk jaringan adiposa dan individu tersebut makan, sinyal adiposa aferen (insulin, leptin, ghrelin) akan dikirim ke unit proses sistem saraf pusat pada hipotalamus. Di sini, sinyal adiposa menghambat jalur anabolisme dan mengaktifkan jalur katabolisme. Lengan efektor pada jalur sentral ini kemudian mengatur keseimbangan energi dengan menghambat masukan makanan dan mempromosi pengeluaran energi. Hal ini akan mereduksi energi yang tersimpan. Sebaliknya, jika energi tersimpan sedikit, ketersedian jalur katabolisme akan digantikan jalur anabolisme untuk menghasilkan energi yang akan disimpan dalam bentuk jaringan adiposa, sehingga tercipta keseimbangan antara keduanya.

Pada sinyal aferen, insulin dan leptin mengontrol siklus energi dalam jangka waktu yang lama dengan mengaktifkan jaras katabolisme dan menghambat jaras anabolisme. Sebaliknya, ghrelin secara dominan menjadi waktu yang singkat.

Hormon ghrelin menstimulasi rasa lapar melalui aksinya di pusat makan di hipotalamus. Sintesis ghrelin terjadi dominan di sel-sel epitel di bagian fundus lambung. Sebagian kecil dihasilkan di plasenta, ginjal, kelenjar pituitari, dan hipotalamus. Sedangkan reseptor ghrelin terdapat di sel-sel pituitari yang mensekresikan hormon pertumbuhan, hipotalamus, jantung, dan jaringan adiposa.

Konsentrasi ghrelin dalam darah paling rendah terjadi setelah makan dan meningkat ketika puasa sampai waktu makan berikutnya. Grafik berikut ini menunjukkan pola kadar plasma ghrelin pada satu hari.

Kadar Plasma Ghrelin dalam Satu Hari
Gambar Kadar Plasma Ghrelin dalam Satu Hari.

Walaupun insulin dan leptin sama-sama berpengaruh dalam siklus energi, data yang ada menyatakan bahwa leptin mempunyai peran yang lebih penting daripada insulin dalam pengaturan homeostatis energi di sistem saraf pusat.

Sel-sel adiposa berkomunikasi dengan pusat hypothalamic yang mengontrol selera makan dan pengeluaran energi dengan cara mengeluarkan leptin, salah satu jenis sitokin. Jika terdapat energi tersimpan yang berlimpah dalam bentuk jaringan adiposa, dihasilkan leptin dalam jumlah besar, melintasi sawar darah otak, dan berikatan dengan reseptor leptin. Reseptor leptin menghasilkan sinyal yang mempunyai dua efek, yaitu menghambat jalur anabolisme dan memicu jalur katabolisme melalui neuron yang berbeda. Hasil akhir dari leptin adalah mengurangi asupan makanan dan mempromosikan faktor pengeluaran energi. Karena itu, dalam beberapa saat, energi yang tersimpan dalam sel-sel adiposa mengalami reduksi dan mengakibatkan berat badan berkurang. Pada keadaan ini, equilibrium atau energy balance tercapai. Siklus ini akan terbalik jika jaringan adiposa habis dan jumlah leptin berada di bawah ambang batas normal.

Jalur Neurohormonal pada Hipotalamus yang Mengatur Keseimbangan Energi
Gambar Jalur Neurohormonal pada Hipotalamus yang Mengatur Keseimbangan Energi.

Cara kerja leptin secara molekuler sangat kompleks dan belum dapat diuraikan secara lengkap. Secara garis besar, leptin bekerja melalui salah satu bagian jaras neural terintegrasi yang disebut leptin-melanocortin circuit. Pemahaman tentang sirkuit ini penting mengingat obesitas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius dan pengembangan obat antiobesitas tergantung sepenuhnya pada pemahaman jaras ini.

Risiko Komplikasi Obesitas


Dampak obesitas, meliputi faktor resiko kardiovaskular, sleep apneu , gangguan fungsi hati, masalah ortopedik yang berkaitan dengan obesitas, kelainan kulit serta gangguan psikiatrik. Komplikasi yang mungkin terjadi pada penderita obesitas terangkum dalam tabel berikut ini.

Tabel Komplikasi Medis yang Berhubungan dengan Obesitas.

Sistem Komplikasi obesitas
Gastrointestinal Kolelitiasis, pankreatitis, hernia abdomen, GERD.
Metabolik- Endokrin Metabolic syndrome , resistensi insulin, toleransi glukosa terganggu, DM tipe II, dislipidemia, sindrom ovarium polikistik.
Kardiovaskuler Hipertensi, penyakit jantung koroner, gagal jantung kongestif, aritmia, cor pulmonale, stroke iskemik, thrombosis vena dalam, emboli paru.
Respirasi Abnormalitas fungsi paru, obstructive sleep apnea , sindrom hipoventilasi obesitas
Muskuloskeletal Osteoarthritis, gout arthritis , low back pain
Ginekologi Menstruasi abnormal, infertilitas
Genitourinaria Urinary stress incontinence
Ophtalmologi Katarak
Neurologi Hipertensi intrakranial idiopatik (pseudotumor cerebri)
Kanker Esophagus, kolon, empedu, prostat, payudara, uterus, serviks, ginjal

Perilaku dan kebiasaan makan yang baik merupakan cara terapeutik yang dianjurkan untuk menghindari obesitas. Secara umum farmakoterapi untuk obesitas dikelompokkan menjadi tiga, yaitu penekan nafsu makan misalnya sibutramin, penghambat absorbsi zat-zat gizi misalnya orlistat, dan kelompok lain- lain termasuk leptin, octreotide , dan metformin. Belum tuntasnya penelitian tentang jangka panjang penggunaan farmakoterapi obesitas pada anak, menyebabkan belum ada satupun farmakoterapi tersebut di atas yang diizinkan pemakaiannya pada anak oleh U.S. Food and Drug Administration sampai saat ini.

Tatalaksana Komprehensif Obesitas


Tatalaksana komprehensif obesitas meliputi penanganan obesitas dan dampak yang muncul. Prinsip penatalaksanaannya adalah mengurangi asupan energi dan meningkatkan pengeluaran energi. Caranya dengan pengaturan diet, peningkatan aktivitas fisik, memodifikasi perilaku, dan yang terpenting adalah keterlibatan keluarga dalam proses terapi.

Untuk mengatur diet, yang perlu diperhatikan adalah pemberian diet yang seimbang sesuai dengan RDA, dengan cara mengintervensi diet anak. Salah satu contoh cara pengaturan diet untuk anak yaitu the traffic light diet . Pada program ini terdapat tiga golongan makanan yaitu, green food (makanan rendah kalori dan lemak yang boleh dikonsumsi dengan bebas), yellow food (makanan rendah lemak namun dengan kalori sedang yang boleh dimakan namun terbatas), dan red food (makanan mengandung lemak dan kalori kadar tinggi yang tidak boleh dimakan sama sekali atau hanya seminggu sekali).

Dalam pengaturan kalori yang perlu diperhatikan adalah:

  • Kalori yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan normal.

  • Diet seimbang dengan komposisi karbohidrat 50-60%, lemak 30%, dan protein 15-20%

  • Diet tinggi serat dapat membantu pengaturan berat badan melalui jalur intrinsik, hormonal dan kolonik.

Untuk pengaturan aktivitas fisik, cara yang dilakukan adalah latihan dan meningkatkan aktivitas harian. Aktivitas fisik berpengaruh bermakna terhadap penggunaan energi. Peningkatan aktivitas pada anak gemuk bisa menurunkan nafsu makan dan meningkatkan laju metabolisme. Latihan aerobik teratur yang dikombinasikan dengan pengurangan asupan energi akan menghasilkan penurunan berat badan yang lebih besar dibandingkan hanya dengan diet biasa. Latihan fisik yang diberikan pada anak disesuaikan dengan tingkat perkembangan motorik, kemampuan fisik, dan umurnya. Aktivitas sehari-hari dioptimalkan, misalnya berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah, menempati kamar tingkat agar naik-turun tangga, mengurangi lama menonton televisi, atau bermain games komputer, menganjurkan bermain di luar rumah.

Untuk modifikasi perilaku, tatalaksana diet dan aktivitas fisik merupakan komponen yang efektif untuk pengobatan, serta menjadi perhatian paling penting bagi ahli fisiologi untuk mendapatkan bagaimana memperoleh perubahan makan dan aktivitas perilakunya. Beberapa cara perubahan perilaku tersebut di antaranya:

  • Pengawasan sendiri terhadap berat badan, masukan makanan, dan aktivitas fisik, serta mencatat perkembangannya

  • Kontrol terhadap rangsangan stimulus

  • Mengubah perilaku makan

  • Penghargaan dan hukuman dari orangtua

  • Pengendalian diri

Peran serta orangtua, anggota keluarga, teman, dan guru telah terbukti efektif dalam penurunan berat badan atau keberhasilan pengobatan. Peran tersebut dapat berupa menyediakan nutrisi yang sesuai dengan petunjuk ahli gizi, berpartisipasi mendukung program diet, atau memberikan pujian bila anaknya berhasil menurunkan berat badannya.

Bila pasien obesitas yang disertai penyakit penyerta tidak memberikan respon pada terapi konvensional, maka dapat dilakukan terapi intensif. Terapi ini terdiri dari diet berkalori sangat rendah, farmakoterapi, dan terapi bedah.

Terapi diet berkalori sangat rendah diindikasikan jika berat badan > 140% BB ideal. Protein-sparing modified fast (PSMF) adalah formula diet berkalori sangat rendah yang paling sering diterapkan. Diet ini membatasi asupan kalori hanya 600-800 kalori/hari. Secara umum diet ini hanya boleh diterapkan selama 12 minggu dengan pengawasan dokter.

Secara umum farmakoterapi untuk obesitas dikelompokkan menjadi tiga, yaitu penekan nafsu makan, misalnya sibutramin, penghambat absorbsi zat gizi, misal orlistat, dan kelompok lainnya termasuk leptin, octreotide , dan metformin.

Terapi bedah jika BB > 200% BB ideal. Prinsipnya ada dua, yaitu:

  • Gastric-banding dan vertical-banded gastroplasty untuk mengurangi asupan makanan dan memperlambat pengosongan lambung.

  • Membuat gastric bypass dari lambung ke bagian akhir usus halus.

Pencegahan Obesitas


Pencegahan dilakukan dengan menggunakan dua strategi pendekatan, yaitu strategi pendekatan populasi untuk mempromosikan cara hidup sehat pada semua anak dan remaja beserta orangtuanya, serta strategi pendekatan pada kelompok yang berisiko tinggi pada obesitas. Anak-anak yang berisiko menjadi obesitas adalah seorang anak yang salah satu atau kedua orangtuanya obesitas dan anak yang memiliki kelebihan berat badan semenjak masa kanak-kanak.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan antara lain mempromosikan pemberian ASI eksklusif sampai usia enam bulan terutama pada bayi yang secara genetik rentan untuk menjadi obesitas. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pemberian ASI jangka panjang serta menunda pemberian makanan pendamping ASI dapat membantu menurunkan prevalens obesitas.

Obesitas


Obesitas merupakan keadaan patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan daripada yang diperlukan untuk fungsi tubuh (Mayer, 1973 dalam Pudjiadi, 1990). Obesitas dari segi kesehatan merupakan salah satu penyakit salah gizi, sebagai akibat konsumsi makanan yang jauh melebihi kebutuhannya. Perbandingan normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 12-35% pada wanita dan 18-23% pada pria. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko penyebab terjadinya penyakit degeneratif seperti Diabetes Mellitus (DM), Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan Hipertensi (Laurentia, 2004). Obesitas umumnya menyebabkan akumulasi lemak pada daerah subkutan dan jaringan lainnya. Salah satu cara yang digunakan untuk mengukur lemak subkutan di lengan atas yaitu dengan mengukur tebal lipatan kulit trisep. Pada anak dan remaja pada usia dan jenis kelamin sama dikatakan obesitas apabila tebal lipatan kulit trisep berada di atas persentil ke-85. Lalu apabila tebal lipatan kulit trisep menunjukkan di atas persentil ke-95 anak atau remaja tersebut dikatakan super-obesitas (Soetjiningsih, 2004).

Masalah kesehatan yang signifikan berhubungan dengan obesitas seperti Penjakit Jantung Koroner (PJK), Diabetes Mellitus Tipe 2 dan Hipertensi biasanya ditemukan saat usia dewasa. Namun masalah kesehatan yang berhubungan dengan komplikasi ini pernah terjadi pada anak-anak. Sekitar 40% anak yang obesitas dan sekitar 80% remaja yang obesitas akan menjadi obesitas pada usia dewasa. Penambahan berat badan biasanya dimulai pada usia 5-7 tahun, selama pubertas atau saat usia remaja awal (Wardlaw&Hampl, 2007). Pada masa anak-anak, total lemak tubuh meningkat minimal 16% pada perempuan dan 13% pada laki-laki. Total lemak tubuh akan meningkat untuk persiapan masa growt spurt saat remaja. Peningkatan total lemak tubuh dan pubertas terjadi lebih dulu pada perempuan dibandingkan laki-laki (19 pada perempuan dan 14 pada laki-laki) sedangkan saat memasuki usia remaja awal laki-laki memiliki massa otot yang lebih tinggi dibandingkan perempuan(Brown et al, 2005 ).

Status gizi lebih yang terjadi pada anak usia 7-9 tahun akan terus berlanjut sampai menjadi dewasa, serta akan memberikan dampak timbulnya penyakit degeneratif seperti kardiovaskuler, aterosklerosis, hipertensi dan lain-lain (Wahlqvist, 1994, Serdula 1995). Penelitian terhadap 120 orang dewasa yang mengalami kegemukan ditemukan bahwa 80% dari mereka pada masa anak-anak juga mengalami kegemukan.

Di Indonesia, masalah kesehatan yang diakibatkan oleh gizi lebih ini mulai muncul pada awal tahun 1990-an. Peningkatan pendapatan masyarakat pada kelompok sosial ekonomi tertentu, terutama di perkotaan, menyebabkan adanya perubahan pola makan dan pola aktifitas yang mendukung terjadinya peningkatan jumlah penderita kegemukan dan obesitas (Almatsier, 2004). Pada tahun 2007, diperkirakan sekitar 22 juta anak di dunia yang berusia kurang dari 5 tahun mengalami kegemukan dan obesitas. Lebih dari 75% anak yang mengalami kegemukan dan obesitas itu tinggal di negara yang pendapatannya menengah ke bawah (WHO, 2009).

Obesitas berhubungan dengan pola makan, terutama bila makan makanan yang mengandung tinggi kalori, tinggi garam dan rendah serat. Selain itu terdapat faktor lain yang mempengaruhi seperti faktor demografi, faktor sosiokultur, faktor biologi dan faktor perilaku (Suastika, 2002). Obesitas juga dapat disebabkan oleh faktor genetik atau keturunan. Menurut Dietz dalam Penuntun Diet Anak (2003), kemungkinan seorang anak berisiko menderita obesitas sebesar 80% jika kedua orang tuanya mengalami obesitas. Sedangkan seorang anak akan berisiko menderita obesitas sebesar 40% jika salah satu orang tuanya mengalami obesitas. Ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran energi mengakibatkan pertambahan berat badan. Obesitas yang muncul pada usia remaja cenderung berlanjut hingga ke dewasa, dan lansia. Sementara obesitas itu merupakan salah satu faktor risiko penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, artritis, penyakit kantong empedu, beberapa jenis kanker, gangguan fungsi pernapasan, dan berbagai gangguan kulit (Arisman, 2004).

Untuk mendiagnosis obesitas harus ditemukan gejala klinis obesitas serta pemeriksaan antropometri yang jauh diatas normal. Pemeriksaan antropometri yang sering digunakan adalah berat badan terhadap tinggi badan, berat badan terhadap umur dan tebalnya lipatan kulit. Pengukuran lipatan kulit digunakan untuk memperkirakan jumlah lemak subkutan dan total lemak dalam tubuh (Durnin & Rahaman, 1967). Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan cara pegukuran sederhana yang dapat digunakan untuk menentukan status gizi seseorang. Adapun kriteria status gizi yang digunakan berdasarkan Central for Disease Control Prevention (CDC) adalah sebagai berikut :

No Status Gizi IMT
1. Kurus < 5 persenti
2. Normal 5-84 persenti
3. Kelebihan Berat Badan > 85 persenti
4. Obesitas > 95 persenti

Menurut Soetjiningsih obesiatas dibagi berdasarkan gejala klinisnya, yaitu :

  1. Obesitas sederhana (simple obesity)
    Terdapat gejala hanya kegemukan saja tanpa disertai dengan kelainan hormonal/mental/fisik lainnya. Obesitas seperti ini disebabkan karena faktor nutrisi.

  2. Bentuk khusus obesitas

    • Kelainan endokrin/hormonal (Sindrom Chusing)
      Obesitas ini terjadi pada anak yang sensitif terhadap pengobatan dengan hormon steroid

    • Kelainan somatodismorfik (Sindrom Prader-Willi, Sindrom Summit dan Carpenter, Sindrom Laurence-Moon-Biedl dan Sindrom Cohen)
      Obesits dengan kelainan ini hampir selalu disertai mental retardasi dan kelainan ortopedi.

    • Kelainan Hipotalamus
      Kelainan pada hipotalamus yang mempengaruhi nafsu makan dan berakibat terjadinya obesitas, sebagai akibat dari kraniofaringioma, lekemia serebral, trauma kepala dan lain-lain

Obesitas dapat dibedakan berdasarkan kondisi sel dalam tubuhnya, yaitu :

  1. Tipe Hiperplastik : jumlah sel dalam tubuh lebih banyak dibanding kondisi normal, tetapi ukuran selnya sesuai dengan ukuran sel normal. Obesitas ini biasanya terjadi pada masa anak-anak dan sulit diturunkan.

  2. Tipe Hipertropik : jumlah sel yang normal, tetapi ukuran selnya lebih besar dibanding dengan sel normal, dan biasanya terjadi setelah dewasa.

  3. Tipe Hiperplastik-Hipertopik : baik jumlah maupun ukuran selnya melebihi batas normal. Biasanya keadaan obesitas ini sudah dimulai sejak amsa anak-anak dan berlangsung terus hingga dewasa. Orang yang mengalami tipe ini sulit untuk menurunkan BB.

Selain perbedaan kondisi sel yang ada dalam tubuh seseorang yang mengalami obesitas, obesitas juga diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahannya dan tipenya terutama pada anak-anak (Soetjiningsih, 2004) ;

  1. Berdasarkan keparahannya :
  • moderate obesity : bila berat badan antara 120%-170% dari berat badan idealnya
  • severe obesity : bila berat badan lebih dai 170% dari berat badan ideal.
  1. Berdasarkan tipenya ;
  • inappropiate eating habits : karena adanya kelebihan masukan makanan, biasanya terjadi pada masa bayi dan masa remaja.
  • high set point for fat store : kecenderungan terjadinya peningkatan deposit lemak, biasanya dimulai pada masa anak-anak dan selalu ada faktor keturunan.

Banyak faktor yang dapat menyababkan obesitas, diantaranya sebagai berikut :

  1. Herediter atau keturunan
    Kecenderungan menjadi gemuk pada keluarga tertentu. Kalau salah satu orangtuanya yang obesitas, maka anaknya mempunyai risiko 40% menjadi obesitas, sedangkan bila kedua orangtuanya obesitas risikonya menjadi 80%.

  2. Suku/bangsa
    Pada suku/bangsa tertentu kadang-kadang terlihat banyak anggotanya yang menderita obesitas.

  3. Pandangan masyarakat yang salah, yaitu bayi yang sehat adalah bayi yang gemuk

  4. Anak cacat, anak aktivitasnya kurang karena problem fsik atau cara mengasuh

  5. Meningkatnya keadaan sosial ekonomi seseorang
    Orangtua yang dulunya berasal dari keluarga yang kurang mampu, maka mereka cenderung memberikan makanan sebanyak-banyaknya pada anak- anaknya. Keluarga yang migrasi dari negara berkembang ke negara yang maju atau kaya.

Diagnosis Obesitas


Secara klinis obesitas dapat dikenali dengan mudah karena mempunyai tanda dan gejala yang khas antara lain (Juanita, 2008) :

  • Wajah membulat

  • Pipi tembem

  • Dagu rangkap

  • Leher relatif pendek

  • Dada yang menggembung dengan payudara yang membesar mengandung jaringan lemak

  • Perut membuncit dan dinding perut berlipat-lipat serta kedua tungkai umumnya berbentuk x dengan kedua pangkal paha bagian dalam saling menempel dan menyebabkan lecet.

  • Pada anak laki penis tampak kecil karena terkubur dalam jaringan lemak

Dampak bagi anak yang mengalami obesitas dapat terjadi dalam jangka pendek maupun jangka panjang (Juanita, 2008), misalnya:

  1. Gangguan psikososial, rasa rendah diri, depresif dan menarik diri dari lingkungan. Hal ini karena anak obese sering menjadi bahan olok-olokan teman main dan teman sekolah. Dapat pula karena ketidakmampuan untuk melaksanakan suatu tugas/kegiatan terutama olahraga akibat adanya hambatan pergerakan oleh kegemukannya.

  2. Pertumbuhan fisik/linier yang lebih cepat dan usia tulang yang lebih lanjut dibanding usia biologinya.

  3. Masalah ortopedi akibat beban tubuh yang terlalu berat: slipped capital femoral epiphysis.

  4. Gangguan pernapasan: infeksi saluran napas, tidur ngorok, sering mengantuk siang hari.

  5. Gangguan endokrin: menars lebih cepat terjadi.

WHO (2000) secara sederhana mendefinisikan obesitas sebagai kondisi abnormal atas akumulasi lemak yang ekstrim pada jaringan adipose. Inti dari obesitas ini adalah terjadinya keseimbangan energi positif yang tidak diinginkan dan bertambahnya berat badan.

Obesitas merupakan keadaan patologis, yaitu terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh yang normal (Soetjiningsih, 1995).

Obesitas pada anak merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kejadian obesitas saat dewasa. Sekitar 26% bayi dan anak-anak dengan status obes akan tetap menderita obes dua puluh tahun kemudian (Dietz, 1987).

Identifikasi Gejala Obesitas

  1. Gejala Klinis

    Obesitas dapat terjadi pada setiap umur dan gambaran klinis obesitas pada anak dapat bervariasi dari yang ringan sampai dengan yang berat sekali. Menurut Soedibyo (1986), gejala klinis umum pada anak yang menderita obesitas adalah sebagai berikut:

    • Pertumbuhan berjalan dengan cepat/pesat disertai adanya ketidakseimbangan antara peningkatan berat badan yang berlebihan dibandingkan dengan tinggi badannya.

    • Jaringan lemak bawah kulit menebal sehingga tebal lipatan kulit lebih daripada yang normal dan kulit nampak lebih kencang.

    • Kepala nampak relatif lebih kecil dibandingkan dengan tubuhnya atau dibandingkan dengan dadanya (pada bayi).

    • Bentuk pipi lebih tembem, hidung dan mulut tampak relatif lebih kecil, mungkin disertai dengan bentuk dagunya yang berganda (dagu ganda).

    • Pada dada terjadi pembesaran payudara yang dapat meresahkan bila terjadi pada anak laki-laki.

    • Perut membesar menyerupai bandul lonceng, dan kadang disertai garis-garis putih atau ungu (striae).

    • Kelamin luar pada anak wanita tidak jelas ada kelainan, akan tetapi pada anak laki-laki tampak relatif kecil.

    • Pubertas pada anak laki-laki terjadi lebih awal dan akibatnya pertumbuhan kerangka lebih cepat berakhir sehingga tingginya pada masa dewasa relatif lebih pendek.

    • Lingkar lengan atas dan paha lebih besar dari normal, tangan relatif lebih kecil dan jari-jari bentuknya meruncing.

    • Dapat terjadi gangguan psikologis berupa : gangguan emosi, sukar bergaul, senang menyendiri dan sebagainya.

    • Pada kegemukan yang berat mungkin terjadi gangguan jantung dan paru yang disebut Sindroma Pickwickian dengan gejala sesak napas, sianosis, pembesaran jantung dan kadang-kdang penurunan kesadaran.

  2. Pemeriksaan Laboratorium

    • Pada pemeriksaan darah ditemukan adanya gangguan endokrin.

    • Kemungkinan terjadinya gangguan metabolisme hidrat arang dan lemak

    • Pada air seni (urine) ditemukan peningkatan pengeluaran zat tertentu

      Kelainan-kelainan tersebut akan menghilang dengan sendirinya jika obesitas yang dideritanya sembuh.

  3. Penyebab Obesitas

    Menurut hukum termodinamik, obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan energi dengan keluaran energi sehingga terjadi kelebihan energi yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Kelebihan energi tersebut dapat disebabkan oleh asupan energi yang tinggi atau keluaran energi yang rendah (Damayanti, 2002).

    Soetjiningsih (1995) menyebutkan 3 faktor utama penyebab obesitas adalah masukan energi yang melebihi dari kebutuhan tubuh, penggunaan kalori yang kurang, dan faktor hormonal. Disamping itu obesitas juga disebabkan oleh beberapa faktor predisposisi seperti faktor herediter, suku bangsa, dan persepsi bayi gemuk adalah bayi sehat. Damayanti secara garis besar membagi faktor penyebab obesitas menjadi 2, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Berikut ini akan dipaparkan berbagai penyebab obesitas yang dirangkum dari berbagai sumber.

    • Faktor Genetik

      Tingginya angka obesitas pada orang tua yang memiliki anak obes dipercaya bahwa faktor genetik menjadi faktor yang cukup penting. Penelitian telah menunjukkan 60-70% remaja obes mempunyai salah satu atau kedua orang tua yang juga obes. 40 remaja obes mempunyai saudara kandung yang juga obes (Pipes, 1993).

      Faktor genetik yang diketahui mempunyai peranan kuat adalah parental fatness, anak yang obesitas biasanya berasal dari keluarga yang obesitas. Bila kedua orang tua obesitas, sekitar 80% anak-anak mereka akan menjadi obesitas. Bila salah satu orang tua obesitas kejadiannya menjadi 40%, dan bila kedua orang tua tidak obesitas. maka prevalensi obesitas akan turun menjadi 14 %. Peningkatan resiko menjadi obesitas tersebut kemungkinan disebabkan oleh pengaruh gen atau faktor lingkungan dalam keluarga (Damayanti, 2002).

    • Konsumsi ASI

      Telah diketahui sejak dulu bahwa pemberian susu formula dan makanan semi- solid dapat menjadi penyebab obesitas (Pipes, 1993). Y. H. Hui dalam bukunya Principles and Issues in Nutrition menyebutkan bahwa salah satu penyebab obesitas yakni pengaruh kondisi masa kecil ( childhood conditioning ) dimana salah satu turunan dari childhood conditioning ialah infancy eating dan maladjustment . Ini berarti bayi telah diberikan makanan tambahan/pendamping ASI yang padat serta susu formula yang tinggi kalori terlalu dini.

      Hal ini tentu saja menggagalkan bayi dari proses pemberian ASI eksklusif yang seharusnya menjadi hak mereka dan dapat mencegah dari kemungkinan menjadi obesitas di kemudian hari. Untuk mencegah obesitas orang tua harus memberi ASI yanpa memberi makanan pendamping ASI sebelum usia 3-4 bulan, setelah usia 5-6 bulan orang tua baru diperbolehkan memberi MP ASI pada anak. Pemberian ASI eksklusif sejak saat lahir hingga usia 6 bulan merupakan langkah awal yang paling tepat dalam menjamin asupan yang baik (Mokoagow, 2007).

      Handayani (2007) dalam penelitiannya tentang durasi pemberian ASI dan resiko terjadinya obesitas pada anak praどsekolah di kabupaten Purwerejo menyebutkan pemberian ASI dapat memperkecil resiko terjadinya obesitas jika ASI diberikan >12どг24 bulan. Selain itu umur mulai mendapatkan makanan tambahan juga menjadi faktor yang dapat dapat meyebabkan terjadinya obesitas pada anak.

    • Kebiasaan Makan

      Hui (1985) mengatakan bahwa orang obes sangat suka sekali makan. Mereka biasanya makan dengan jumlah kalori lebih banyak daripada yang mereka butuhkan. Kebiasaan makan diartikan sebagai cara individu atau kelompok individu dalam memilih pangan dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologik psikologik, sosial, dan budaya. Kebiasaan makan sebagai tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhannya akan makanan meliputi sikap, kepercayaan dam pemilihan makanan.

      Kebiasaan makan juga merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kebiasaan dan perilaku yang berhubungan dengan makanan dan makan. Seperti tata karma, frekuensi makan, pola makan yang dimakan, kepercayaan yang dimakan (misalnya pantangan), distribusi makanan diantara anggota keluarga, penerimaan terhadap makanan (suka atau tidak suka) dan pemilihan bahan makanan yang hendak dimakan (Suhardjo, 1989).

Obesitas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting terkait dengan beberapa kondisi kesehatan kronis termasuk penyakit jantung, hipertensi, hiperlipidemia, diabetes, hiperinsulinemia, dan kanker (Layman, Evans, Baum, & Seyler, 2005).

Menurut (Sartika, 2011) Obesitas merupakan akibat dari keseimbangan energi positif untuk periode waktu yang cukup panjang. Masalah obesitas dapat terjadi pada usia anak-anak, remaja hingga dewasa.

Obesitas merupakan suatu penyakit kronis dengan ciri-ciri timbunan lemak tubuh yang berlebihan (eksesif). Batasan obesitas beragam oleh para ahli, namun biasanya patokan kelebihan berat badan sebesar 20 persen dari berat badan ideal (Sandjaja, 2009).

Juga di definisikan oleh (Budianto, 2002) obesitas ialah ketidak seimbangan antara konsumsi kalori dan kebutuhan energi, dimana konsumsi terlalu banyak dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi.

Banyak sekali faktor yang menyebabkan obesitas. Obesitas disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah energi yang masuk dengan yang dibutuhkan oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis seperti pertumbuhan fisik, perkembangan, aktivitas, pemeliharaan kesehatan (Jahari, 2004). Faktor penyebab obesitas lainnya adalah kurangnya aktivitas fisik baik kegiatan harian maupun latihan fisik terstruktur. Aktivitas fisik yang dilakukan sejak masa anak sampai lansia akan mempengaruhi kesehatan seumur hidup (Maffeis CG, 1998;).

Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya obesitas, berikut faktor-faktor penyebabnya antara lain:

  1. Faktor Genetik
    Parental fatness merupakan faktor genetik yang berperanan besar. Bila kedua orang tua obesitas, 80% anaknya menjadi obesitas. Bila salah satu orang tua
    obesitas, kejadian obesitas menjadi 40% dan bila kedua orang tua tidak obesitas, prevalensi menjadi 14% (Mustofa, 2010).

  2. Faktor lingkungan

    • Aktifitas fisik
      Aktifitas fisik sangat berpengaruh pada timbulnya obesitas pada manusia. Aktifitas fisik sangat berhubungan dengan pembakaran lemak yang terjadi pada tubuh manusia, semakin sedikit beraktifitas maka semakin banyak lemak yang ditimbulkan.

    • Gaya hidup
      Di era yang serba modern seperti saat ini gaya hidup mengikuti yang serba instan, karena dari segi waktu dirasa lebih efisien. Memilih makanan juga instan ahirnya fast food menjadi salah satu pilihan alternative seperti hamburger, pizza, ayam goreng dengan kentang goreng, es krim, aneka macam mie dan lain-lain.

    • Sosial ekonomi
      Perubahan pengetahuan, sikap, perilaku dan gaya hidup, pola makan, serta peningkatan pendapatan mempengaruhi pemilihan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi.