Apa yang dimaksud dengan MSG dan Apa Bahayanya bagi Tubuh?

MSG

MSG atau yang sering disebut penyedap rasa, vetsin, atau micin itu saat ini sudah banyak digunakan. Tapi benarkah MSG berbahaya bagi kesehatan?

MSG adalah kepanjangan dari Monosodium Glutamat. Sesuai namanya, MSG ini adalah garam yang terbentuk dari sodium dan asam glutamat. Asam glutamat ini sendiri adalah salah satu asam amino yang paling lazim ditemui dalam berbagai protein. Glutamat memiliki keunikan sifat, yaitu dapat membuat molekul-molekul dari makanan yang kita makan melekat lebih kuat di lidah. Tentu saja, molekul makanan yang melekat lebih kuat di lidah akan “dibaca” oleh reseptor rasa yang ada di lidah tersebut sebagai rasa yang lebih kuat juga. Menurut orang Jepang, tingkah si glutamat tersebut memberikan efek rasa yang unik di lidah. Mereka biasa menyebutnya dengan rasa umami. Inilah yang membuat rasa makanan tersebut menjadi lebih kuat dan lebih sedap.

Sampai saat ini belum benar-benar terbukti bahwa MSG adalah biang bagi semua penyakit di atas. Yang jelas, MSG ini aman bagi tubuh manusia bila dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Sialnya, kadar wajar tiap orang itu memang berbeda-beda. Ada beberapa orang yang sensitif terhadap MSG sehingga sedikit kadar MSG saja sudah menyebabkan gangguan kesehatan bagi tubuhnya, namun ada pula yang tidak sensitif.

Sumber:

Monosodium glutamat adalah hasil dari purifikasi glutamat atau gabungan dari beberapa asam amino dengan sejumlah kecil peptida yang dihasilkan dari proses hidrolisa protein ( hydrolized vegetable protein/ HVP). Tubuh manusia dapat menghasilkan asam glutamat, sehingga asam glutamat digolongkon pada asam amino non esensial. Protein nabati mengandung 40% asam glutamat sedangkan protein hewani mengandung 11-22% asam glutamat.

Monosodium glutamat adalah garam natrium dari asam glutamat (glutamic acid). MSG telah dikonsumsi secara luas didunia termasuk Indonesia dalam bentuk L-glutamic acid sebagai bahan penambah rasa makanan. Masyarakat Indonesia rata-rata mengkonsumsi MSG sekitar 0,6 g/kg BB.

image

Monosodium glutamat berbentuk tepung kristal berwarna putih yang mudah larut dalam air dan tidak berbau. MSG mempunya rumus kimia C5H8O4NNaH2O dengan persentase unsur pokok yang terkandung dalam MSG diataranya: glutamat 78,2%, Na 12,2%, H2O 9,6%. Di dalam 1 gram MSG mengandung 0,122 Na.

Metabolisme MSG


Metabolisme glutamat menyebar luas ke jaringan tubuh. Konsumsi glutamat bebas akan meningkatkan kadar glutamat dalam plasma darah. Selanjutnya glutamat di dalam mukosa usus halus akan diubah menjadi alanin dan didalam hati akan diubah menjadi glukosa dan laktat. Kadar puncak MSG dalam plasma dipengaruhi oleh usia hewan coba, cara pemberian dan konsentrasi MSG dalam larutan. Pada hewan baru lahir metabolisme asam glutamat lebih rendah dari pada hewan dewasa. Pemberian MSG secara parenteral akan memberikan reaksi yang berbeda dengan pemberian MSG per oral karena pada pemberian secara parenteral, MSG tidak melalui usus dan vena portal. Sedangkan pada pemberian per oral, MSG akan melalui usus ke sirkulasi portal dan hati. Hati mempunyai kesanggupan untuk metabolisme asam glutamat ke metabolit lain. Oleh karena itu, apabila pemberian glutamat melebihi kemampuan kapasitas hati untuk metabolismenya, maka dapat menyebabkan peningkatan glutamat plasma.

Glutamat menjalankan beberapa fungsi penting di dalam proses metabolisme di dalam tubuh, antara lain :

  1. Substansi untuk sintesa protein
    Diperkirakan 10-40% glutamat terkandung di dalam protein. L-glutamic acid merupakan bahan yang penting untuk sintesa protein. Asam glutamat memiliki karakter fisik dan kimia yang dapat menjadi struktur sekunder dari protein yang disebut rantai α.

  2. Pasangan transaminasi dengan α-ketoglutarate
    L-glutamate disintesa dari ammonia dan α-ketoglutarate dalam suatu reaksi yang dikatalisir oleh L-glutamate dehydrogenase (siklus asam sitrat). Reaksi ini penting dalam biosintesa seluruh asam amino. Glutamat yang diserap ditransaminasikan dengan piruvat dalam bentuk alanin. Alanin dari hasil transaminasi dari piruvat, oleh asam amino dekarboksilat menghasilkan α-ketoglutarat atau oksaloasetat. Glutamat yang lolos dari metabolisme mukosa, dibawa melalui vena portal ke hati. Sebagian glutamat dikonversikan oleh usus dan hati dalam bentuk glukosa dan laktat, kemudian dialirkan ke darah perifer.

  3. Prekusor glutamin
    Glutamin dibentuk dari glutamat oleh glutamin sintase. Reaksi ini juga penting dalam metabolisme asam amino. Ammonia akan dikonversikan menjadi glutamin sebelum masuk ke sirkulasi. Glutamat dan glutamin merupakan mata rantai karbon dan nitrogen di dalam proses metabolisme karbohidrat dan protein.

  4. Neurotransmitter
    Glutamat adalah transmitter mayor di otak, berfungsi sebagai mediator untuk menyampaikan transmisi post sipnatik. Selain itu glutamat juga berfungsi sebagai prekusor dari neurotransmitter Gamma Ammino Butiric Acid (GABA).

Efek MSG


New England Journal of Medicine melaporkan keluhan “Chinese Restaurant Syndrome” yang dialami beberapa orang setelah makan di restoran China. Keluhan tersebut meliputi :

  1. Rasa terbakar di dada
  2. Rasa terbakar dibagian belakang leher
  3. Rasa terbakar di lengan bawah
  4. Kebas-kebas pada bagian belakang leher yang menjalar ke lengan dan punggung
  5. Perasaan geli, hangat dan kelemahan diwajah, punggung atas, leher dan lengan,
  6. Sakit kepala
  7. Mual
  8. Jantung berdebar-debar
  9. Sulit bernapas
  10. Mengantuk.

MSG dapat menyebabkan berbagai efek patologis pada hewan coba seperti terganggunya sistem hormonal, neurotoksik, nefrotoksik, hepatotoksik, obesitas, gangguan penglihatan, dan gangguan pencernaan. Pemberian MSG secara kronis dilaporkan dapat mengakibatkan stres oksidatif pada hewan coba.

Penelitian yang dilakukan oleh A.O.Eweka yang memberikan MSG pada tikus Wistar dengan dosis 6 gr menyebabkan beberapa perubahan pada gambaran histologis ovarium berupa hipertrofi sel, dan degenerasi serta atrofi pada lapisan sel granulosa. Penemuan ini mengindikasikan bahwa dengan dosis yang lebih tinggi akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan oosit bahkan infertilitas.

A.O. Eweka juga melakukan penelitian efek MSG terhadap intestinum tikus. Hasilnya menunjukkan bahwa pemberian 3g MSG mengakibatkan peningkatan basofil dan atrofi sel usus halus (duodenum dan jejenum) tikus pada gambaran histologinya. Pada dosis yang lebih tinggi yaitu 6g MSG, kerusakan usus halus lebih berat, pada gambaran histologis terlihat atrofi dan degenerasi sel.

MSG memiliki efek mutagenik yang termanifestasikan sebagai suatu mikronukleus. MSG yang diberikan pada mencit jantan dan betina dengan dosis 3 g/hari, 6 g/hari dan 9 g/hari menyebabkan terbentuknya mikronukleus pada sel darah merah sumsum tulang femur mencit. Pemberian MSG dosis 9 gram pada mencit jantan (jumlahnya 278) dan pada mencit betina (jumlahnya 244) menunjukkan jumlah mikronukleus yang lebih banyak.

1 Like