Apa yang dimaksud dengan Modifikasi Perilaku atau Behavior Modification?

Modifikasi Perilaku atau Behavior Modification

Eysenk dalam Soetarlinah Soekadji (1983) menyatakan bahwa modifikasi perilaku adalah usaha mengubah perilaku dan emosi manusia dengan cara yang menguntungkan berdasarkan hukum-hukum teori modern proses belajar

Apa yang dimaksud dengan Modifikasi Perilaku atau Behavior Modification?

Pengertian Modifikasi Perilaku


Modifikasi Perilaku menekankan pada penerapan teori dan hukum belajar, mengubah perilaku baru disebut modifikasi perilaku bila teknik kondisioning diterapkan secara ketat: tanggapan, konsekuensi dan stimulus didefinisikan secara objektif dan dicatat secara cermat. Edy Legowo & Munawir Yusuf (2007) mengungkapkan bahwa modifikasi perilaku adalah teknik pengubahan tingkah laku yang dapat digunakan oleh orangtua maupun guru untuk mengubah tingkah laku siswa melalui prosedur yang sistematis dan mendasarkan pada prinsip– prinsip teori pembelajaran. Diperkuat oleh Edi Purwanta (2005) terdapat dua hal pokok dalam modifikasi perilaku, yaitu: (1) adanya penerapan prinsip–prinsip belajar, dan (2) adanya suatu teknik mengubah perilaku berdasar prinsip prinsip belajar.

Dari pernyataan–pernyataan beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa modifikasi perilaku adalah teknik pengubahan perilaku yang didasarkan pada prosedur dan prinsip–prinsip belajar. Perilaku yang perlu diubah adalah perilaku yang tidak dikehendaki kemudian diubah menjadi perilaku yang dikehendaki melalui proses belajar. Salah satu ciri belajar adalah adanya perubahan, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari tidak mengerti menjadi mengerti.

Tujuan Modifikasi Perilaku


Tujuan utama dari modifikasi perilaku adalah menghendaki adanya perubahan, tujuan modifikasi perilaku dapat mencakup empat perubahan perilaku. Pengertian perubahan perilaku dalam modifikasi perilaku menurut Sutarlinah Soekadji (dalam Munawir Yusuf, 2007) mengandung empat hal :

  1. Peningkatan perilaku yang dikehendaki. Peningkatan perilaku dapat dilihat dari frekuensi, intensitas dan lamanya perilaku

  2. Pemeliharaan perilaku yang dikehendaki. Pemeliharaan perilaku nertujuan agar perilaku yang sudah terbentuk tidak hilang atau berkurang frekuensi, intensitas dan lamanya perilaku

  3. Pengurangan atau penghilangan perilaku yang kita tidak hendaki. Pengurangan atau penghilangan perilaku dimaksudkan agar perilaku yang tidak kita kehendaki dapat dihilangkan atau dikurangi. Bentuknya dapat berupa extinction, punishment, reinforcement

  4. Perkembangan atau perluasan perilaku. Perkembangan atau perluasan perilaku bertujuan untuk membentuk perilaku yang lebih spesifik, serta variasi perilaku yang berhasil dikukuhkan bertambah luas penggunaan dan macamnya.

Perubahan yang terjadi dapat berupa pengetahuan, sikap, maupun keterampilan atau psikomotorik. Modifikasi perilaku dinyatakan berhasil jika perilaku yang bermasalah diterapkan treatment (dikuatkan maupun dihilangkan atau dikurangi) mengalami perubahan menjadi perilaku yang diinginkan.

Prosedur Modifikasi Perilaku


Langkah awal dalam modifikasi perilaku disebut dengan analisis fungsi, dalam kegiatan ini mengumpulkan informasi yang relevan sesuai dengan permasalahan yang ditangani. Untuk melakukan analisis fungsi dapat digunakan formula ABC (Edi Purwanta, 2012). Formula tersebut adalah sebagai berikut :

  1. A (Antecendent) adalah segala hal yang mencetuskan atau menyebabkan perilaku yang dipermasalahkan. Antecendent ini berkaitan dengan situasi tertentu (bila sendiri, bila bersama teman, saat tertentu, selagi melakukan aktivitas tertentu, dan sebagainya)

  2. B (Behavior) adalah segala hal mengenai perilaku yang dipermasalahkan. Behavior ini dilihat dari sisi frekuensinya, intensitas, dan lamanya

  3. C (Consequence) adalah akibat–akibat yang diperoleh setelah orang lain merespon anak. Konsekuensi inilah yang biasanya memperkuat/memelihara perilaku yang menjadi masalah.

Pembelajaran terjadi ketika pengalaman menyebabkan perubahan yang relatif permanen pada pengetahuan atau perilaku individu. Perubahan itu bisa sengaja atau tanpa sengaja, untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk, benar atau salah, dan sadar atau tidak sadar. Pandangan behavioral secara umum berasumsi bahwa hasil pembelajaran adalah perubahan pada perilaku, dan menekankan efek kejadian eksternal pada individu.

Oemar Hamalik (2011) belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan, jadi merupakan langkah– langkah atau prosedur yang ditempuh. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan. Hasil atau bukti belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang pada orang tersebut. Tingkah laku manusia terdiri dari beberapa aspek, hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan pada aspek–aspek tersebut. Adapun aspek–aspek tersebut adalah

  1. Pengetahuan,
  2. Pengertian,
  3. Kebiasaan,
  4. Keterampilan,
  5. Apresiasi,
  6. Emosional,
  7. Hubungan sosial,
  8. Jasmani,
  9. Etis atau budi pekerti, dan
  10. Sikap.

Perubahan–perubahan tersebut adalah:

  1. Peningkatan perilaku,
  2. Pemeliharaan perilaku,
  3. Pengurangan atau penghilangan perilaku,
  4. Perkembangan atau perluasan perilaku.

Setiap perubahan yang diinginkan memerlukan prosedur tersendiri dalam meningkatkan ataupun mengurangi perilaku. Di bawah ini adalah macam–macam perubahan beserta prosedur yang dapat diterapkan dalam modifikasi perilaku :

Mumpuniarti (2007) menambahkan ciri–ciri modifikasi perilaku dalam penerapan pengajaran berprogram sebagai berikut :

  1. Suatu program tersusun secara langkah kecil atau pendek dari tugas yang dapat dilakukan siswa menuju kepada tugas yang sukar atau belum dikenal siswa

  2. Belajar yang paling efektif dan efisien bila berperan dalam proses pengajaran

  3. Positif Reinsforcement harus segera diberikan untuk mengikuti tanggapan–tanggapan atau respon yang tepat. Hal ini sebagai penguat Ekstrinsik, misalnya : hadiah, pujian, dan ganjaran

  4. Program harus menyediakan bagi pengajaran yang bersifat individual sehingga siswa mampu belajar sesuai dengan kemampuannya. Siswa hendak diberi waktu yang cukup sesuai kebutuhannya untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

  5. Evaluasi dilakukan untuk menentukan cara siswa belajar pada setiap materi pengajaran sehingga menghasilkan suatu catatan tentang keefektifan dan keefisienan materi tersebut.

Modifikasi perilaku yang diterapkan untuk anak harus terstruktur dan jelas kapan penerapan modifikasi perilaku dilakukan. Perilaku yang akan diubah harus ditentukan apakah tingkah laku itu akan dikurangi, dihentikan atau diperkuat. Penerapan modifikasi yang satu dengan yang lain harus sejalan, misalkan penerapan modifikasi perilaku tipe Punishment (hukuman) harus didukung dengan penerapan Reinforcement (penguatan). Setelah Punishment hukuman diberikan dan perilaku sasaran berkurang atau hilang maka guru dapat memberikan pujian sebagai Reinforcement (penguatan).

Di dalam modifikasi perilaku terdapat manajemen–manajemen yang digunakan. Terdapat strategi yang dapat diberlakukan di dalam manajemen perilaku. Strategi manajemen perilaku yang diungkapkan oleh Jody L. Maanum (2009) ada beberapa strategi yang dilakukan dalam modifikasi perilaku adalah sebagai berikut:

  1. Proximity Control, strategi pendekatan yang digunakan pendidik untuk mengontrol perilaku siswa
  2. Preventative Control, strategi pencegahan untuk mengontrol perilaku yang muncul
  3. Self Monitoring, pengendalian diri
  4. Planned Ignoring, pengabaian yang direncanakan dan
  5. Behavior Contracts, kontrak perilaku yang digunakan untuk meningkatkan perilaku subjek.

Strategi dalam Modifikasi Perilaku Bentuk-bentuk strategi yang dikembangkan dari perpaduan pengajaran berprogram menurut Muljono (dalam Mumpuniarti, 2007) diantaranya adalah sebagai berikut ini :

  1. Reinforcement adalah proses dimana tingkah laku diperkuat oleh konsekuensi yang segera mengikuti tingkah laku tersebut. Prinsip reinforcement menunjukkan peningkatan frekuensi respon, jika respon tersebut diikuti dengan konsekuensi tertentu. Konsekuensi yang mengikuti perilaku atau respon harus merupakan suatu kesatuan dengan perilaku tersebut. Saat sebuah tingkah laku mengalami penguatan maka tingkah laku tersebut akan cenderung untuk muncul kembali pada masa mendatang.

  2. Punishment. Prinsip punishment adalah kehadiran suatu peristiwa yang tidak menyenangkan atau penghilangan peristiwa menyenangkan yang mengikuti respon dan dapat menghilangkan atau mengurangi frekuensi respon tersebut. Saat analis behavior berbicara mengenai punishment, menunjuk sebuah proses dimana konsekuensi dari sebuah tingkah laku dapat menghasilkan penurunan kejadian tingkah laku dikemudian hari. Hal ini sangat berbeda dengan pemikiran kebanyakan orang mengenai makna dari punishment. Dalam pemakai yang umum, punishment dapat berarti banyak hal, kebanyakan dari pengertian tersebut tidak menyenangkan.

  3. Extinction. Extinction yaitu penghentian reinforcement dari suatu respon. Tingkah laku yang telah mengalami penguatan, pada beberapa saat/periode waktu tidak lagi diperkuat, dan oleh karena itu, tingkah laku tersebut berhenti untuk muncul. Perbedaan antara extinction dengan punishment, bahwa extinction suatu peristiwa tidak dihadirkan atau dihilangkan, sedangkan punishment peristiwa yang tidak menyenangkan mengikuti respon atau peristiwa yang menyenangkan dihilangkan.

  4. Shaping dan Backward Chaining. Proses memecah perilaku yang dipelajari menjadi bagian-bagian kecil merupakan implementasi dari analisis tugas dan prosedur berprogram yang bertujuan memudahkan anak khususnya anak tunagrahita agar mudah menerima dan mengolah perilaku yang dipelajari tersebut. dalam shaping perilaku akhir yang diharapkan dicapai melalui pemberian reinforcement terhadap setiap langkah menuju respon akhir. Penggunaan shaping dapat disertai dengan backward chaining, yaitu melatihkan tahap-tahap perilaku yang dipelajari anak dengan arah terbalilk

  5. Prompting dan Fading. Penggunaan prompt (suatu peristiwa yang memudahkan anak memulai suatu respon) untuk variasi dengan menggunakan reinforcement dimaksudkan agar anak tidak cepat bosan. Prompt diberikan pada awal latihan pengembangan perilaku, jika anak telah merespon dengan tepat prompt dapat dihilangkan (fading).

Modifikasi perilaku dapat diartikan sebagai:

  1. upaya, proses, atau tindakan untuk mengubah perilaku,
  2. aplikasi prinsip-prinsip belajar yang teruji secara sistematis untuk mengubah perilaku tidak adaptif menjadi perilaku adaptif,
  3. penggunaan secara empiris teknik-teknik perubahan perilaku untuk memperbaiki perilaku melalui penguatan positif, penguatan negatif, dan hukuman, atau
  4. usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsip psikologi hasil eksperimen pada manusia.

Dalam pandangan kaum behavioristik aliran klasik, modifikasi perilaku dapat diartikan sebagai penggunaan secara sistematik teknik kondisioning pada manusia untuk menghasilkan perubahan frekuensi perilaku tertentu /mengontrol lingkungan perilaku tersebut. Jika teknik kondisioning diterapkan secara ketat, dengan stimulus, respon dan akibat konsekuensi diharapkan terbentuk perilaku lahiriah yang diharapkan.

Dalam pandangan aliran operan, modifikasi perilaku akan terbentuk ketika penguat / pengukuh diberikan berupa reward / punishment. Sedangkan dalam panangan aliran behavior analist, modifikasi perilaku merupakan penerapan dari psikologi eksperimen seperti dalam laboratorium. Proses, emosi, problema, prosedur, semua diukur.

Pengubahan perilaku dilaksanakan dengan rancangan eksperimen dibuat dengan cermat. Perilaku dihitung secara cacah untuk mendaparkan data dasar. Variabel bebas dimanipulasi, metode statistik digunakan untuk melihat perubahan perilaku, pengulangan jika perlu dilakukan hingga terjadi perubahan perilaku secara jelas.

Sedangkan dalam pandangan para ahli, menurut Eysenk modifikasi Perilaku adalah upaya mengubah perilaku dan emosi manusia dengan cara yang menguntungkan berdasarkan teori yang modern dalam prinsip psikologi belajar.

Menurut Wolpe, yaitu penerapan prinsip-prinsip belajar yang telah teruji secara eksperimental untuk mengubah perilaku yang tidak adaptif, dengan melemahkan atau menghilangkannya dan perilaku adaptif ditimbulkan atau dikukuhkan.

Sedangkan menurut Hana Panggabean, modifikasi perilaku adalah penerapan dari teori Skinner, sering juga disebut sebagai behavior therapy. Merupakan penerapan dari shaping (pembentukan TL bertahap), penggunaan positive reinforcement secara selektif, dan extinction.

Karakteristik Modifikasi Perilaku


Terdapat empat ciri utama modifikasi perilaku, yaitu:

  1. Fokus pada perilaku (focuses on behavior),
  2. Menekankan pengaruh belajar dan lingkungan (emphasizes influences of learning and the environment),
  3. Mengikuti pendekatan ilmiah (takes a scientific approach), dan
  4. Menggunakan metode-metode aktif dan pragmatik untuk mengubah perilaku (uses pragmatic and active methods to change behavior).

Fokus pada perilaku artinya menempatkan penekanan pada perilaku yang dapat diukur berdasara atas dimensi-dimensinya, seperti frekuensi, durasi, dan intensitasnya. Karena itu metode modifikasi perilaku selalu mengamati dan mengukur setiap tahap perubahan sebagai indikator dari berhasil atau tidaknya program bantuan yang diberikan.

Dalam modifikasi perilaku, akan menghindari label-label interpretatif dan sistem diagnostik (avoid interpretive labels and diagnostic systems), serta fokus pada perilaku yang berkekurangan atau yang berlebihan (focus on behavioral deficits or behavioral excess).

Dalam modifikasi perilaku, mengkategorikan apakah suatu perilaku sebagai berlebihan atau kekurangan merupakan langkah yang mutlak, sehingga dapat dipahami secara pasti mana perilaku yang termasuk excesses atau berlebihan dan akan dikurangi atau yang termasuk defisit atau berkekurangan dan akan ditingkatkan.

Identifikasi ini harus dilihat dalam konteks di mana perilaku tersebut muncul. Behavioral exceses adalah perilaku target yang negatif (tidak layak) yang ingin dikurangi frekuensi, durasi, atau intensitasnya. Termasuk perilaku ini misalnya:

  1. Perilaku anak yang tidak bisa diam, seperti keluar masuk rumah, naik turun tangga, membuang pakaian ke lantai.
  2. Perilaku anak yang selalu mengomentari orang lain, mengejek, berlama-lama ngobrol menggunakan telepon.
  3. Perilaku anak yang selalu mengganti chanel TV atau berlama-lama duduk di depan TV, dan sebagainya.

Dalam kasus anak autis, perilaku berlebihan ini tampak misalnya pada perilaku stimulasi diri (menatap jari jemari, mengepak-ngepak tangan), self-abuse (memukul menggigit, mencakar diri sendiri), tantrum (menjerit, mengamuk), atau agresif (menendang, memukul, mencubit, menggigit orang lain).

Sedangkan Behavioral deficit adalah aladah target perilaku yang positif yang ingin ditingkatkan frekuensi, durasi, atau intensitasnya. Termasuk dalam perilaku yang kurang, misalnya:

  1. Anak yang tidak dapat menghitung atau menjumlahkan angka-angka dengan tepat.
  2. Siswa yang tidak pernah mengerjakan tugas-tugas sekolah
  3. Siswa yang selalu melanggar aturan dan tata tertib sekolah
  4. Siswa yang sering melakukan pencurian, suka merokok, dan sebagainya.

Pada kasus anak autis, termasuk perilaku yang berkekurangan ini misalnya tidak mau atau sedikit bicara, secara sosial cenderung mengganggap orang lain sebagai benda atau bahkan tidak ada, ketika bermain hanya senang memutar roda mobil-mobilan, tidak mau merespon stimulus dari lingkungan, sehingga sering disangka tuli-buta, kehidupan emosinya yang datar (misal, hanya bengong ketika dikelitiki), dan sebagainya.

Modifikasi perilaku juga menekankan pengaruh belajar dan lingkungan, artinya bahwa prosedur dan teknik tritmen menekankan pada modifikasi lingkungan tempat dimana individu tersebut berada, sehingga membantunya dalam berfungsi secara lebih baik dalam masyarakat. Lingkungan tersebut dapat berupa orang, objek, peristiwa, atau situasi yang secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap kehidupan seseorang.

Mengikuti pendekatan ilmiah artinya bahwa penerapan modifikasi perilaku memakai prinsip-prinsip dalam psikologi belajar, dengan penempatan orang, objek, situasi, atau peristiwa sebagai stimulus, serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sedangkan menggunakan metode-metode aktif dan pragmatik untuk mengubah perilaku maksudnya bahwa dalam modifikasi perilaku lebih mengutamakan aplikasi dari metode atau teknik-teknik yang telah dikembangkan dan mudah untuk diterapkan.

Modifikasi perilaku sebagai salah satu metode dalam memberikan bantuan pada klien, menerapkan metode yang berbeda. Martin dan Pear (2003) menyatakan modifikasi perilaku tidak hanya sekedar terapi biasa yang mengandalkan pembicaraan terapist kepada kliennya. Bedanya dengan psikoterapi, psikolog yang melakukan modifikasi perilaku:

  1. terlibat secara aktif dalam mengkonstruksi ulang lingkungan kehidupan sehari-hari klien dalam rangka memperkuat perilaku yang tepat.
  2. seringkali memberikan tugas atau pekerjaan rumah kepada klien untuk memfasilitasi perubahan perilaku ini.
  3. metode dan tahap demi tahapnya dapat dibuat dengan jelas, sehinga orang lain dapat menggunakan dan menjalankan program yang dibuat orang lain.
  4. dapat dilakukan sendiri secara perseorangan atau paling tidak dapat dilakukan oleh orang tua, guru, mentor untuk membantu perubahan perilaku anak-anak atau bawahannya.
  5. selalu berlandaskan pada prinsip belajar umum dan operant, khususnya conditioning dari Pavlov.
  6. menekankan bahwa pendekatan tertentu cocok untuk perubahan perilaku tertentu pula.
  7. melibatkan semua pihak, klien, administrator, konsultan, dan lain-lain.

Martin dan Pear (2003) mendefinisikan modifikasi perilaku sebagai sebuah aplikasi sistematis dari prinsip-prinsip dan teknik-teknik belajar untuk mengukur dan meningkatkan tingkah laku individu dalam rangka membantunya agar dapat berfungsi secara penuh di tengah masyarakat. Tingkah laku yang dimaksud meliputi tingkah laku yang nampak ( overt ) maupun tidak nampak ( covert ). Tingkah laku yang tidak nampak artinya aktivitas yang terjadi di dalam diri seseorang sehingga membutuhkan instrumen khusus untuk diobservasi oleh orang lain. Baik tingkah laku overt maupun covert dapat dipengaruhi oleh teknik- teknik modifikasi perilaku.

Morris (1985) mengemukakan beberapa asumsi dasar umum dari modifikasi perilaku antara lain :

1. Tingkah laku adalah sesuatu yang dipelajari. Sekalipun gangguan tertentu seperti retardasi mental disebabkan oleh faktor biologis atau genetis, tidak berarti masalah dalam perilaku mereka juga diakibatkan oleh faktor yang sama. Asumsi modifikasi perilaku adalah masalah tingkah laku dan belajar yang dimiliki seorang anak merupakan hal yang dipelajari, kecuali terdapat bukti yang menunjukkan sebaliknya.

2. Masing-masing masalah tingkah laku dipelajari secara terpisah . Seorang anak bisa saja memiliki beberapa tingkah laku bermasalah. Asumsi modifikasi perilaku adalah bahwa setiap tingkah laku bermasalah tersebut dipelajari secara terpisah dan berkembang sendiri-sendiri.

3. Masalah tingkah laku maupun belajar dapat dimodifikasi dengan menggunakan prosedur modifikasi perilaku . Prosedur modifikasi perilaku memiliki lingkup aplikasi yang luas serta baik untuk dipertimbangkan sebagai treatment terhadap berbagai masalah tingkah laku maupun belajar anak. Beberapa penelitian bahkan mengemukakan bahwa prosedur ini bisa digunakan secara efektif untuk memodifikasi berbagai masalah tingkah laku maupun belajar yang disebabkan oleh faktor fisik atau biologis. Misalnya, untuk mengajarkan anak cerebral palsy berjalan, atau mengontrol tingkah laku disruptif seperti memukul orang pada anak-anak dengan kerusakan otak (Meyerson, Kerr, & Michael, 1967, Whitman, Scibak, & Reid, 1983 dalam Morris, 1985).

4. Masalah tingkah laku maupun belajar yang ditunjukkan oleh seorang anak pada situasi tertentu hanya mengindikasikan bagaimana ia biasanya bertingkah laku pada situasi tersebut. Masalah tingkah laku maupun belajar ini muncul pada suatu kondisi spesifik dan tidak tergeneralisasikan pada situasi yang lain.

5. Penekanan dilakukan terhadap perubahan masalah tingkah laku maupun belajar anak di sini dan saat ini ( here and now ). Tidak seperti beberapa bentuk terapi anak dan pendekatan intervensi tertentu, modifikasi perilaku berfokus pada apa yang saat ini berkontribusi terhadap tingkah laku anak dan apa yang bisa dilakukan saat ini untuk mengubah tingkah laku tersebut. Penekanannya adalah pada masa kini serta dalam menentukan bagaimana tingkah laku bisa diubah pada situasi dimana ia muncul.

6. Tujuan dari modifikasi perilaku adalah untuk memodifikasi masalah tingkah laku maupun belajar yang spesifik. Bukan hanya “menjadikan anak lebih baik” melainkan tingkah laku yang ingin diubah harus jelas.

7. Masalah tingkah laku maupun belajar disebabkan oleh lingkungan . Prosedur intervensi menekankan pada identifikasi faktor-faktor di lingkungan sekitar anak yang dapat meningkatkan atau menurunkan frekuensi munculnya tingkah laku tertentu. Faktor-faktor ketidaksadaran tidak memainkan peranan yang esensial dalam mempengaruhi tingkah laku seseorang.

8. Insight tidak diperlukan untuk mengubah tingkah laku anak . Berkaitan dengan asumsi sebelumnya, maka seorang anak tidak perlu memperhatikan faktor ketidaksadaran atau alasan-alasan lain yang mendasari tingkah lakunya sebelum perubahan tingkah laku ke arah positif terjadi.

9. Tidak terjadi substitusi simptom atau gejala . Sebagian guru dan terapis anak berkeyakinan bahwa ketika penyebab dari tingkah laku diabaikan dan hanya masalah yang di permukaan saja yang ditangani, maka anak akan terus memunculkan masalah tingkah laku baru sampai isyu yang lebih mendalam tersebut diselesaikan.

Karakteristik Modifikasi Perilaku

Martin dan Pear (2003) mengemukakan 7 karakteristik modifikasi perilaku, yaitu:

  • Menekankan pada pendefinisian masalah dalam ranah tingkah laku yang bisa diukur serta menggunakan perubahan pada pengukuran tingkah laku sebagai indikator terbaik mengenai apakah masalah telah berhasil dibantu.

  • Prosedur dan teknik treatment merupakan cara untuk mengubah lingkungan individu (orang, objek, kejadian, atau tingkah laku individu sendiri) dalam rangka membantunya berfungsi secara penuh di tengah masyarakat. Pemberi modifikasi perilaku terlibat aktif dalam merestrukturisasi lingkungan keseharian klien untuk memperkuat tingkah laku yang sesuai.

  • Metode-metode dan prinsip-prinsip modifikasi perilaku dapat dideskripsikan dengan tepat dan jelas sehingga mampu direplikasi oleh pemberi modifikasi perilaku lainnya.

  • Teknik-teknik modifikasi perilaku sering diaplikasikan oleh individu dalam kehidupan sehari-hari. Deskripsi yang jelas dari teknik modifikasi perilaku yang dilakukan memungkinkan orangtua, guru, pelatih, dan lain-lain untuk mengaplikasikan modifikasi perilaku pada situasi sehari-hari.

  • Teknik-teknik modifikasi perilaku merupakan percabangan dari penelitian aplikatif mengenai psikologi belajar secara umum dan prinsip-prinsip operant serta pavlovian conditioning secara khusus.

  • Menekankan demonstrasi ilmiah bahwa intervensi tertentu bertanggungjawab terhadap tingkah laku tertentu.

  • Sangat menekankan pada pertanggungjawaban dari setiap orang yang terlibat dalam program modifikasi perilaku, yaitu klien, staff, administrator, konsultan, dan sebagainya.

Langkah-Langkah Penyusunan Modifikasi Perilaku

Martin dan Pear (2003) mengatakan bahwa sebuah program modifikasi perilaku yang berhasil biasanya terdiri atas 4 fase pengidentifikasian, pendefinisian, dan pencatatan perilaku target, yaitu fase screening atau intake, fase baseline, fase treatment, dan fase follow up yang dijelaskan sebagai berikut :

  • Fase Screening atau Intake

Fase ini merupakan interaksi awal antara klien dengan ahli atau pemberi modifikasi perilaku yang memiliki beberapa fungsi. Fungsi pertama adalah menentukan kesesuaian dari ahli yang bersangkutan untuk menangani masalah tingkah laku tertentu dari klien. Fungsi kedua adalah menyampaikan kebijakan dan prosedur yang berlaku sepanjang sesi. Fungsi ketiga adalah mengidentifikasi adanya kondisi krisis seperti risiko bunuh diri, child abuse, dan lain-lain yang harus segera ditangani. Fungsi keempat adalah mengumpulkan informasi untuk mendiagnosa gangguan atau masalah yang dimiliki oleh klien melalui wawancara atau tes psikologi. Fungsi terakhir adalah memperoleh informasi mengenai tingkah laku yang akan menjadi target intervensi. Pada fase pertama ini, pemberi informasi bisa menggunakan berbagai indikator awal, misalnya laporan guru atau skor tes inteligensi anak.

  • Fase Baseline

Setelah mendapatkan gambaran awal mengenai masalah yang dialami oleh klien, pemberi modifikasi perilaku masuk ke dalam fase baseline, yaitu mendefinisikan tingkah laku yang hendak diubah secara jelas, lengkap, dan terukur. Tingkah laku target harus dinyatakan secara spesifik sehingga pada akhirnya dapat ditentukan ketercapaiannya. Untuk meyakinkan hal tersebut, dapat dilakukan tes IBSO ( Is-the-Behavior-Specific-and-Objective ) yaitu : a) Apakah kita dapat menyampaikan kepada orang lain bahwa perilaku target sudah berlangsung sebanyak X kali atau selama X menit selama waktu tertentu?; b) Apakah orang lain dapat mengetahui ketika tingkah laku target dilakukan oleh anak?; c) Perilaku target seharusnya tidak dapat diuraikan kembali menjadi komponen-komponen tingkah laku yang lebih kecil dan lebih mudah diobservasi.

Setelah analisis I-B-S-O, perlu dilakukan asesmen fungsional (Martin & Pear, 2003, Morris, 1985) yaitu analisa terhadap lingkungan terkini dari klien untuk mengidentifikasi variabel yang mungkin mengontrol tingkah laku target. Caranya adalah dengan menentukan situasi pemicu munculnya tingkah laku dan konsekuensi apa yang membuat tingkah laku berulang. Namun demikian, perlu diingat bahwa tingkah laku tertentu bisa saja muncul tanpa adanya situasi pemicu yang jelas maupun konsekuensi yang membuat tingkah laku berulang. Tingkah laku yang tidak diinginkan dapat muncul karena anak belum pernah mempelajari tingkah laku yang tepat. Jika ini terjadi, pemberi modifikasi perilaku perlu mendefinisikan ulang tingkah laku yang tidak diinginkan menjadi tingkah laku yang diinginkan, lalu menggunakan prosedur modifikasi perilaku untuk mengajarkan tingkah laku yang diinginkan tersebut kepada anak (Bijou & Baer, 1979 dalam Morris, 1985). Langkah selanjutnya adalah melakukan pencatatan perilaku target untuk menentukan tingkatannya sebelum treatment diberikan. Cara pencatatan bisa berbeda antara perilaku yang satu dengan yang lain. Misalnya, jika target berupa peningkatan tingkah laku mengimitasi atau mengenali huruf, pemberi modifikasi perilaku dapat merencanakan sesi observasi harian ketika ia sedang mengajari anak untuk melakukan perilaku tersebut.

  • Fase Treatment

Setelah menentukan tingkah laku target dan tingkatannya, pemberi modifikasi perilaku masuk ke dalam fase treatment , yaitu mendesain program penanganan yang efektif untuk mengubah perilaku. Pada setting pendidikan,

program ini disebut dengan program pelatihan ( training ) atau pengajaran ( teaching ). Sementara itu, pada setting komunitas atau klinis, program biasanya disebut dengan strategi intervensi atau program terapi. Pada fase ini juga perlu disusun rencana pengukuran kemajuan dari tingkah laku yang menjadi target intervensi, selain pengukuran sebelum dan sesudah program. Dalam hal ini dapat digunakan grafik (Mash & Terdal, 1981; Miller, 1980 dalam Morris, 1985) yang menunjukkan efektivitas prosedur intervensi bagi anak yang sedang ditangani, yaitu apakah kemajuan menetap atau berfluktuasi serta prosedur modifikasi perilaku apa yang berhasil dan yang tidak secara obyektif dan tidak bias. Grafik bisa berupa pencatatan berapa kali tingkah laku muncul, berapa lama tingkah laku muncul, berapa langkah perilaku sudah muncul, serta persentase tingkah laku yang tepat muncul.

  • Fase Follow Up

Fase terakhir adalah follow up, yaitu untuk menentukan apakah peningkatan yang terjadi selama treatment dilakukan tetap bertahan setelah terminasi program. Penekanan terhadap pengukuran setelah terminasi program dilakukan karena masalah belum dapat dikatakan selesai jika peningkatan tidak bersifat permanen walaupun pengukuran ini belum tentu dapat dilakukan pada situasi-situasi tertentu.