© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Model Teoretik The Wheel of Wellness?

The Wheel of Wellness 690x320

Wellness merupakan sebuah keadaaan yang bukan saja tidak ada penyakit namun disertai dengan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial. The World Health Organization (WHO, 1958)

Apa yang dimaksud dengan Model teoretik The Wheel of Wellness ?

1 Like

The Wheel of Wellness model merupakan model wellness pertama yang dikembangkan dalam bidang konseling oleh Sweeney dan Witmer pada tahun 1991. Model ini merupakan model teoretik yang diperoleh dari review penelitian interdisipliner dimana para peneliti didalamnya berupaya untuk mengidentifikasi hubungan korelatif kesehatan, kualitas kehidupan (quality of life), dan panjangnya usia manusia.

Filosofis dari Adlerian Individual Psychology lah yang dijadikan landasan pada model ini (Myers & Sweeney, 2007) yang mana manusia memiliki lima tugas-tugas kehidupan. Tugas-tugas itu adalah spiritualitas (spirituality), bekerja dan waktu luang (work and leisure), pertemanan (friendship), kasih sayang (love), dan pengarahan-diri (self-direction) (Hattie, Myers, & Sweeney, 2004).

Pada tahun 2000, model ini dikembangkan lagi dan spiritualitas diposisikan di tengah gambar lingkaran yang berupa seperti roda tersebut. Spiritualitas ini dinilai sebagai karakteristik yang paling penting dalam kesejahteraan seseorang (Hattie, Myers, & Sweeney, 2004). Selain berkaitan dengan agama atau keyakinan spiritual dan praktiknya, komponen dalam karakteristik spiritualitas ini termasuk makna dalam kehidupan. Berikut adalah visualisasi The Wheel of Wellness.

image
Gambar Visualisasi the Wheel of Wellness

Menyebar dari spiritualitas adalah serangkaian 12 jeruji yang merupakan subdivisi dari tugas-tugas kehidupan yang meliputi :

  • rasa berharga (sense of worth),
  • rasa mengendalikan (sense of control),
  • keyakinan realistis (realistic beliefs),
  • kesadaran emosional dan menghadapi masalah (emotional awareness and coping),
  • pemecahan masalah dan kreativitas (problem solving and creativity),
  • rasa humor (sense of humor),
  • nutrisi (nutrition),
  • olah raga (exercise),
  • perawatan diri (self- care),
  • manajemen stress (stress management),
  • identitas gender (gender indentity), dan
  • identitas budaya (cultural identity).

Setiap bagian jeruji dalam roda ini berfungsi mengarahkan diri individu untuk merespon lima tugas-tugas kehidupan yang disebutkan di atas. Model ini diajukan sebagai sebuah ekologi yang mana pengaruh dari luar seperti media dan pemerintah digambarkan mempengaruhi wellness seseorang. Semua komponen dalam roda ini interaktif sehingga ketika ada satu bagian yang berubah akan mengakibatkan perubahan di bagian yang lain (Hattie, Myers, & Sweeney, 2004).

Model ini merupakan dasar dari sebuah instrument pengukuran yang dikenal dengan the Wellness Evaluation of Lifestyle (WEL) dan telah digunakan secara luas dalam workshop, seminar, dan penelitian-penelitian empiris. Bagi konselor, model ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pengukuran baik secara formal ataupun non formal dalam konseling yang berorientasi wellness (Myers & Sweeney, 2008).

Sumber :
Nanang Erma Gunawan, Wellness: paradigma, model teoretik, dan agenda penelitian konseling di Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta

Model wellness ini didasarkan oleh kajian empiris dari berbagai lintas disiplin diantaranya bidang psikologi, antropologi, sosiologi, agama dan pendidikan (Wittmer dan Sweeney, 1992). Model ini sejalan dengan psikologi individual Adler, bahwa individu dimotivasi oleh dorongan- dorongan sosial, individu merupakan makhluk sosial dan masing-masing individu dalam berelasi dengan oranglain untuk mengembangkan gaya hidup yang unik (Corey, 2010). Adler memaparkan bahwa manusia memiliki keunikan tersendiri dalam konsep gaya hidup yang tidak ada kesamaan antara individu satu dengan yang lain.

Adler berpendapat bahwa individu merupakan suatu kesatuan antara pikiran, tubuh, semangat, unik, dan kereatif merupakan unsur yang saling berkaitan dalam the wheel of wellness. Terdapat lima dimensi kunci wellness yakni spiritual, self-direction, kerja dan waktu luang, persahabatan dan cinta (Myers, Sweeney, dan Witmer, 2000). Adapun uraian dimensi tersebut sebagai berikut.

1. Spiritual

Spiritual adalah sebuah kesadaran akan adanya kekuatan yang melebihi aspek material kehidupan dan memberikan perasaan yang dalam akan keluasan dan keterhubungan alam semesta. Spiritual merupakan pusat atau bagian utama dalam the wheel of wellness (Sweeney, 2009) yang menjadi satu kesatuan kesatuan individu, kehidupan batin, dan tujuan hidup (Witmer dan Sweeney, 1992).

2. Self-direction

Self-direction adalah cara setiap individu mengatur diri, disiplin dan mengarahkan dirinya dalam aktivitas sehari-hari dan dalam pencapaian tujuan jangka panjang. Tugas ini termasuk rasa kehati-hatian dan upaya menemui tugas utama kehidupan.

3. Kerja dan waktu luang

Kerja dalam hal ini tidak hanya aktivitas bekerja saja akan tetapi kerja yang membawa berbagai manfaat seperti psikologis, sosial, dan keuangan serta waktu luang bertujuan untuk memperluas gagasan kerja individu. Kerja dan waktu luang dipahami sebagai alokasi waktu yang memungkinkan individu untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan, yang mana dengan aktivitas tersebut individu dapat merasakan pencapaian akan sesuatu.

4. Persahabatan

Persahabatan adalah hubungan sosial yang melibatkan hubungan dengan orang lain secara individu dan dalam masyarakat. Hubungan ini bukan termasuk pernikahan, seksual, kekeluargaan atau hubungan yang dibangun atas dasar komitmen.

5. Cinta

Cinta didefinisikan sebagai sebuah hubungan yang dikembangkan berdasarkan komitmen yang berkelanjutan, jangka panjang, saling menguntungkan, dan didalamnya terdapat intimasi (Myers dan Sweeney, 2005).

Dari lima life-task diatas, The Wheel of Wellness diuraikan kembali menjadi 17 komponen diantaranya adalah :

  1. Kreativitas dan pemecahan masalah,
  1. Rasa kontrol
  1. Coping dan kesadaran emosi

  2. Rasa humor

  3. Pekerjaan

  4. Waktu luang

  5. Manajemen stress

  6. Rasa layak

  7. keyakinan realistik

  8. Pertemanan

  9. Cinta

  10. Spiritual

  11. Perawatan diri

  12. Identitas gender

  13. Identitas Budaya

  14. Gizi

  15. Latihan (Hattie, Myers, and Sweeney, 2004).

Ketujuh belas komponen diatas saling berkaitan antara komponen satu dengan komponen yang lain. Menurut Hattie, Myers, dan Sweeney (2004) memaparkan bahwa :

  • Faktor pertama dari uraian selain life-task diatas yakni creatif-self yang termasuk pemecahan masalah (problem solving) dan kreatifitas (creativity), rasa control (sense of control), rasa humor (sense of humor), kesadaran emosi dan coping (emotional awareness and coping) serta pekerjaan (work).

  • Faktor kedua, yakni coping self yang termasuk diantaranya yakni waktu luang (leisure), keyakinan realistik (realistic beliefs), manajemen stress (stress management), dan rasa berharga (sense of worth).

  • Faktor ketiga, social-self yang diuraikan menjadi persahabatan (friendship) dan cinta (love). Faktor keempat, essential-self termasuk spiritualitas (spirituality), perawatan diri (self- care), identitas gender (gender identity), dan identitas budaya (cultural identity). Dan faktor kelima yakni physical-self yanng termasuk gizi (nutrition) dan latihan (exercise).