Apa yang Dimaksud dengan Mobilitas Sosial?

image
Dalam ilmu Sosiologi terdapat istilah mobilitas sosial.

Apa yang dimaksud dengam mobilitas sosial?

Mobilitas sosial (gerak sosial ) adalah proses perpindahan dari kedudukan satu ke kedudukan lainnya yang lebih tinggi atau sebaliknya. Gejala semacam ini sangat umum ditemui dalam dunia sosial. Ada orang yang dulunya “kere” kemudian berubah jadi orang “terhormat” karena menjadi kaya dan punya kedudukan yang mendatangkan status dengan hak istimewa. Ada juga orang yang awalnya berada di puncak lapisan masyarakat tiba-tiba pada suatu saat jatuh pada lapisan bawah.

Itulah yang disebut oleh Kimball Young dan Raymond W. Mack (1959) sebagai suatu gerak dalam struktur sosial. Menurutnya, mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur, yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat hubungan antara individu dalam kelompok serta hubungan antara individu dan kelompoknya.

Masyarakat modern semakin membuka peluang bagi terjadinya mobilitas sosial dibandingkan masyarakat zaman dulu. Pada masyarakat yang kuno dan masih tradisional, mobilitas sosial sangat sulit dilakukan karena stratifi kasi sosialnya tertutup dan kaku. Dalam sistem kasta, misalnya, tak ada mobilitas sosial. Dalam sistem tersebut, bila seseorang lahir dari kasta yang paling rendah, untuk selamanya ia tetap berada pada kasta yang rendah. Dia tidak mungkin dapat pindah ke kasta yang lebih tinggi meskipun ia memiliki kemampuan atau keahlian karena yang menjadi kriteria stratifi kasi adalah keturunan. Dengan demikian, tidak terjadi gerak sosial dari strata satu ke strata lain yang lebih tinggi.

Selain itu, bisa penulis tambahkan tentang perbedaan antara masyarakat modern yang terindustrikan dan masyarakat lama (feodal) dalam kaitannya dengan peluang mobilisasi sosial tersebut:

  • Feodalisme adalah corak produksi yang sederhana dan pembagian kerja yang sederhana. Pembagian kelasnya—tuan tanah (landlord) dan tani hamba—juga sudah diterima sebagai hubungan ketika tani hamba dan rakyat jelata harus tunduk patuh pada para tuan tanah dan kaum bangsawan karena kelas atas ini dianggap sebagai perwakilan dewa/Tuhan di muka bumi. Tani hamba dan rakyat jelata harus berkerja untuk tuannya, misalnya hasil panennya harus disetor pada raja-raja sebagai upeti. Para rakyat jelata dan keturunannya juga merasa bahwa perbedaan status itu sudah ditetapkan sebagai takdir. Jadi, ada perasaan tak ada peluang untuk “naik kelas”. Mobilitas sosial tertutup; sedangkan

  • Dalam masyarakat industri, pembagian kerja semakin kompleks dan diferensiasi sosial berkembang. Jadi, peran yang bisa diambil oleh kelas bawah, di bawah dominasi kelas atas (industrialis/ kapitalis) untuk bekerja semakin banyak. Apalagi, saat kapitalisme berkembang dengan memunculkan lembaga-lembaga dan pranata-pranata baru, peluang untuk mendapatkan pekerjaan kian terbuka. Pada saat yang sama, secara kesadaran tidak lagi apatis, mengingat banyaknya peluang yang ada di depan mata, interaksi (kontak sosial dan komunikasi) yang relatif luas (apalagi dalam era teknologi informasi dan komunikasi yang canggih) memungkinkan terjadinya mobilitas sosial.

Jadi, sebenarnya mobilitas sosial dipengaruhi oleh faktor kontak sosial dan komunikasi (interaksi sosial). Dalam interaksi sosial yang tertutup (batas-batas pergaulan antara minoritas kelas atas dan mayoritas kelas bawah yang tebal), pergaulan yang eksklusif, kemungkinan terjadinya mobilitas sosial sangat sulit. Nah, pergaulan hidup lintas kelas yang sangat mungkin dalam era kemajuan teknologi komunikasi sangat membantu pergaulan, pertukaran pengalaman, keterampilan, dan pengetahuan. Teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan persebaran pengetahuan, berbeda dengan zaman feodal ketika hanya anak-anak bangsawan yang merasakan pendidikan dan mendapatkan keterampilan dan pengetahuan. Oleh karenanya, tidak ada ketimpangan yang mencolok dalam kualitas kepribadian (pengetahuan, keterampilan, dan lain-lain). Siapa pun yang beruntung dalam menggunakan sumber daya, akses, jaringan, keterampilan, dan menemukan kesempatan (chance), tentu akan menjadi orang yang berhasil dan mungkin akan menduduki status yang tinggi.

Mobilitas sosial dalam suatu masyarakat tentu dipengaruhi oleh banyak faktor dan pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong terjadinya mobilitas sosial (Ianneli & Peterson 2007; Haveman & Smeeding 2006). Beberapa studi empiris tentang hubungan antara jenjang pendidikan dan gaji yang diperoleh menunjukkan hasil bahwa tingkat pendidikan berkorelasi positif dengan tingkat pendapatan (Mok 2015). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendidikan menjadi faktor determinan terhadap mobilitas sosial.

Contoh mobilitas sosial yang ada di Indonesia

Hubungan positif antara pendidikan dan mobilitas sosial ditegaskan pula oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Pattinasarany (2012) di dua provinsi di Indonesia, yakni Jawa Barat dan Jawa Timur. Hasil penelitian (estimasi mobilitas) menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin besar pula ia memperoleh mobilitas ke atas ( upward mobility ). Estimasi mobilitas vertikal naik (ayah-anak) menggambarkan bahwa responden dengan pendidikan setara SMP (Sekolah Menengah Pertama) memiliki peluang 21,3% lebih tinggi untuk naik kelas sosial daripada mereka yang berpendidikan SD (Sekolah Dasar) atau lebih rendah. Sementara itu, peluang mobilitas naik semakin tinggi pada mereka yang berpendidikan setara SMA (25,2%) dan perguruan tinggi (46,1%).

Meskipun begitu, di balik korelasi positif antara pendidikan tinggi dan mobilitas sosial vertikal terdapat isu ketimpangan sosial ( social inequality ) yang seringkali diabaikan dalam analisis penelitian mobilitas sosial. Hal ini terjadi umumnya karena para peneliti abai melakukan analisis kritis terhadap fakta dominasi dan opresi yang terjadi dalam masyarakat. Beberapa studi empiris menemukan fakta bahwa akses terhadap pendidikan tinggi tidak ditentukan oleh tingkat pendidikan seseorang semata melainkan juga yang terutama adalah latar belakang sosial-ekonomi keluarga ( family background ) (Gao 2011; Brown, Lauder & Ashton 2011). Kondisi ini ditambah dengana adanya perubahan global (globalisasi) yang berdampak pada perubahan prediktor mobilitas sosial di mana saat ini kepemilikan ijazah atau sertifikat pendidikan tinggi belum tentu berimplikasi langsung terhadap kemudahan dalam memperoleh pekerjaan, peningkatan pendapatan, dan terutama terjadinya mobilitas sosial vertikal.

Secara umum, cara orang untuk dapat melakukan mobilitas sosial ke atas adalah sebagai berikut:

1. Perubahan Standar Hidup

Standar hidup mengacu pada gaya, selera, dan tingkat konsumsi ekonomi dan budaya yang menunjukkan status sebagaimana layaknya orang kaya atau kelas atas. Dengan bergaya seperti laiknya orang kaya, berarti akan dilihat seakan status kita naik (di mata orang lain) meskipun penghasilan tak sebanyak orang-orang yang ingin ditirunya. Pun, orang yang penghasilannya tinggi, tetapi gaya hidup dan standar gaya dan konsumsi budayanya rendah, biasanya akan dipandang orang lain statusnya rendah. Artinya, kenaikan penghasilan tidak dengan serta-merta menaikkan status seseorang, tetapi akan merefl eksikan suatu standar hidup yang lebih tinggi.

Contoh: jika ada orang yang tiba-tiba mendapatkan pekerjaan bagus dan mendatangkan banyak penghasilan, tidak dengan sertamerta status dan kehormatannya di masyarakat akan naik jika gayanya masih seperti orang yang berpenghasilan rendah dengan alasan hidup sederhana.

2. Perkawinan

Perkawinan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan status sosial yang lebih tinggi. Tentunya jika menikah dengan orang yang kaya dan punya status tinggi. Jika seorang perempuan dari keluarga miskin menikah (dinikahi) laki-laki kaya statusnya akan naik. Ini karena pernikahan adalah menyatukan dia dengan suaminya, yang dipandang orang lain juga sebagai satu kesatuan. Suaminya yang kaya akan menutupi segala kekurangan-kekurangannya yang dibawa dari latar belakangnya.

Akan tetapi, pernikahan antara perempuan miskin dan lakilaki kaya sangatlah penuh risiko. Terutama bagi si perempuan, dalam ranah domestik. Ketergantungan ekonomi pada laki-laki dan fakta bahwa si laki-laki (suami) yang memberinya nafkah akan membuat si laki-laki mendominasi dan menganggap dirinya yang paling berkuasa. Kekuasaan ini bisa mengarah pada tindakan tidak demokratis, misalnya ia akan berkeinginan untuk selingkuh. Jika diketahui si istri, betapa sakit hati perasaannya. Kadang, si suami juga punya keinginan menikah lagi. Dalam konteks ini, perkawinan seakan tak dilandasi cinta, tetapi ajang relasi kuasa. Tak ada cinta yang bisa dibagi, yang bisa dibagi adalah harta atau seks. Perempuan yang suaminya kaya dan ia hanya “nunut (menumpang)” melalui perkawinan akan mendapatkan rasa sakit hati semacam itu.

Akan tetapi, hal ini tak mengurangi status jika dipandang oleh orang lain (masyarakat). Apalagi, tindakan selingkuh dilakukan secara sembunyi dan ketika istri tahu, ia akan menyimpannya, kadang masyarakat kurang tahu. Kecuali, jika si suami menikah lagi, masyarakat akan tahu, tetapi tampaknya tak akan mengurangi status atau kehormatan masyarakat pada si istri. Hak istimewa si istri memang dikurangi atau bahkan dihilangkan oleh suami karena si suami lebih sering memberikan perhatian besar pada istri barunya. Namun, biasanya status di masyarakat akan berkaitan dengan fakta bahwa istri pertama lebih identik dengan si suami dan statusnya, juga kehormatannya karena kekayaan dan kedudukan yang ada di masyarakat.

3. Perubahan Tempat Tinggal

Rumah atau tempat tinggal biasanya dianggap sebagai wakil tingkat kekayaan seseorang yang sudah berkeluarga. Untuk meningkatkan status sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru. Atau, dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah, indah, dan mewah.

4. Perubahan Tingkah Laku

Kelas atas biasanya memiliki karakter budaya, mulai pakaian, perkataan, tingkah laku, dan lain-lain yang lahir dari posisi kelasnya. Karena terdidik dengan baik dan banyak mengonsumsi pengetahuan, misalnya buku-buku atau majalah-majalah papan atas, perkataannya sering menggunakan bahasa-bahasa yang berbeda dengan yang digunakan dengan kelas bawahan.

Oleh karena itu, tak sedikit orang yang ingin status dan prestisnya naik, dia meniru tingkah laku dan gaya berpakaian maupun ucapan para orang kaya seperti kelas selebritis. Agar penampilannya meyakinkan dan dianggap sebagai orang dari golongan lapisan kelas atas, ia selalu mengenakan pakaian yang bagus-bagus. Jika bertemu dengan kelompoknya, dia berbicara dengan menyelipkan istilahistilah asing.

5. Perubahan Nama

Nama itu tentunya bermakna dan mencerminkan status atau budaya. Dalam suatu masyarakat, sebuah nama diidentifikasikan pada posisi sosial tertentu. Nama-nama bangsawan akan beda dengan nama-nama rakyat jelata. Oleh karena itu, tak mengherankan jika gerak ke atas dapat dilaksanakan dengan mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih tinggi. Sebagai contoh: di kalangan masyarakat feodal Jawa, ketika seorang yang awalnya rakyat biasa diangkat menjadi pejabat (pamong praja), ia biasanya akan mengubah namanya sebagaimana kedudukannya yang baru, ditambahi nama depan “raden”.

Jika mobilitas sosial itu merupakan suatu yang sulit, tentu ada hambatan-hambatan yang menyebabkannya sulit dilakukan. Ada hambatan-hambatan material maupun hambatan-hambatan berupa nilai-nilai budaya yang berkembang di masyarakat. Faktor-faktor penghambat itu antara lain sebagai berikut:

Rasialisme

Rasisme yaitu perasaan/pandangan bahwa ras yang dianggap rendah tidak boleh menduduki tempat-tempat atau posisi-posisi sebagai mana ras lainnya. Misalnya, ras berkulit hitam atau berwarna hanya dipandang pantas sebagai kelas pekerja atau budak. Pandangan seperti itu akan membuat orang yang berasal dari ras yang dipandang rendah akan sulit untuk naik kelas;

Agama

Seperti yang terjadi pada agama-agama yang mendukung sistem kasta, misalnya di India. Tentu bukan hanya agama yang bersistem kasta saja yang menyebabkan sulitnya mobilitas sosial. Akan tetapi, jika mobilitas sosial akan terjadi bila seseorang mempunyai semangat kemajuan dan kreativitas atau pengetahuan, agama yang hanya membuat orang hanya bisa pasrah pada keadaan juga merupakan hambatan budaya.

Kecenderungan agama yang hanya membuat manusia berpasrah pada keadaan (fatalisme), dengan doktrin “biarlah kalian bersusah-susah di dunia, sabar saja karena nanti kesengsaraan itu akan dibalas di surga dengan kenikmatan tiada tara” akan membuat kelas bawah tidak bersemangat kemajuan untuk mengubah nasibnya. Ajaran kedermawanan, seperti zakat, juga membuat orang merasa bahwa solusi kemiskinan adalah pemberian dan pertolongan orang lain. Pemberian semacam ini akan membuat orang miskin tergantung dan tak merasa harus bangkit memaksimalkan dirinya untuk bangkit mencari pekerjaan, melengkapi diri dengan pengetahuan dan keterampilan;

Kemiskinan

Suatu kondisi yang membuatnya tidak memiliki modal untuk membiayai diri mendapatkan pendidikan (pengetahuan dan keterampilan) sehingga ia tak akan bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Seorang remaja atau pemuda memutuskan untuk tidak sekolah karena tak ada biaya. Maka, ia akan kesulitan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik yang biasanya syarat-syaratnya adalah pendidikan yang dibuktikan dengan ijazah;

Perbedaan jenis kelamin

Pandangan yang menganggap bahwa suatu kedudukan atau pekerjaan hanya pantas dilakukan oleh jenis kelamin tertentu. Pandangan yang menyatakan bahwa jenis kelamin perempuan tidak layak untuk menduduki jabatan tertentu (misalnya, presiden atau bupati) akan menghambat mobilitas sosial kaum perempuan. Pandangan yang memandang perempuan lemah dan hanya boleh berperan dalam ranah publik jelas akan menghambat mobilitas perempuan untuk naik kelas;

Budaya Kolusi dan Nepotisme

Budaya memberikan jabatan dan kedudukan pada anggota keluarga, kerabat dan saudara, atau orang-orang yang memberinya sogokan. Rekrutmen pekerjaan dan kedudukan/jabatan bukan didasarkan pada kemampuan dan kecerdasan seseorang, melainkan pada kedekatan emosional atau karena sogokan. Ini merupakan salah satu hambatan bagi orang yang ingin atau yang mampu menduduki jabatan, tetapi tidak dekat dengan orang yang menentukan posisi yang diinginkan. Tak jarang hambatannya adalah uang sogokan. Ini adalah penyakit di negara, seperti Indonesia. Misalnya, pada rekrutmen pegawai negeri sipil (CPNS) yang diwarnai sogok-sogokan uang, yang menyogok dengan jumlah uang besar (Rp75—125 juta) akan mendapatkan posisi, sedangkan tes yang dilaksanakan hanya kebohongan belaka. Juga, pada kasus kenaikan jabatan (promosi) yang juga diwarnai kasus sogok-menyogok pada pengambil kebijakan atau pimpinan dinas.

Di bawah ini adalah bentuk-bentuk mobilitas sosial yang ada di masyarakat, antara lain:

Mobilitas Sosial Horizontal

Ini adalah gerak sosial ketika terjadi peralihan individu atau objek-objek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang tingkatannya sederajat. Tidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang dalam mobilitas sosialnya yang mendatangkan kehormatan, penghasilan yang lebih banyak, atau status sosial yang baru. Misalnya, pergantian kewarganegaraan, seperti warga asing yang karena pindah ke Indonesia mengganti status kewarganegaraannya. Atau, guru SD yang dipindah ke sekolah lain, tetapi tetap sebagai guru dan bukan sebagai kepala sekolah—karena kalau kepala sekolah berarti terjadi mobilitas ke atas.

Mobilitas Sosial Vertikal

Gerak sosial ini membuat seseorang menjadi naik kelas atau turun kelas. Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan individu atau objek-objek sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat, lebih tinggi atau lebih rendah. Sesuai dengan arahnya, mobilitas sosial vertikal dapat dibagi menjadi dua, mobilitas vertikal ke atas (social climbing) dan mobilitas sosial vertikal ke bawah (social sinking).

Mobilitas vertikal ke atas (social climbing) mempunyai dua bentuk yang utama:

  • Masuk ke dalam kedudukan yang lebih tinggi. Masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi, namun kedudukan tersebut telah ada sebelumnya. Contoh: A adalah seorang guru di sebuah sekolah, kemudian ia diangkat menjadi kepala sekolah; dan
  • Membentuk kelompok baru. Pembentukan suatu kelompok baru memungkinkan individu untuk meningkatkan status sosialnya, misalnya dengan mengangkat diri menjadi ketua organisasi. Contoh: pembentukan organisasi baru memungkinkan seseorang untuk menjadi ketua dari organisasi baru tersebut sehingga status sosialnya naik.

Sedangkan, mobilitas vertikal ke bawah (social sinking) mempunyai dua bentuk utama:

  • Turunnya kedudukan. Kedudukan individu turun ke kedudukan yang derajatnya lebih rendah. Contoh: seorang prajurit dipecat karena melakukan tindakan pelanggaran berat ketika melaksanakan tugasnya; dan
  • Turunnya derajat kelompok. Derajat sekelompok individu menjadi turun yang berupa disintegrasi kelompok sebagai kesatuan. Contoh: Juventus terdegradasi ke seri B. Akibatnya, status sosial tim pun turun.

Mobilitas Antargenerasi

Mobilitas antargenerasi berarti mobilitas yang terjadi antara dua generasi atau lebih, misalnya generasi ayah-ibu, generasi anak, generasi cucu, dan seterusnya. Mobilitas ini ditandai dengan perkembangan taraf hidup, baik naik atau turun dalam suatu generasi. Penekanannya bukan pada perkembangan keturunan, melainkan pada perpindahan status sosial suatu generasi ke generasi lainnya. Misalnya, si A adalah seorang petani yang sekolah SD saja tidak tamat. Akan tetapi, karena ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi dari hasil panennya, anaknya kemudian menjadi seorang pegawai negeri.

Mobilitas Intragenerasi

Mobilitas sosial intragenerasi adalah mobilitas yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang dalam satu generasi. Misalnya, si B awalnya hanyalah seorang buruh. Akan tetapi, karena ia tekun bekerja, rajin menabung, dan bisa memanfaatkan peluang-peluang, akhirnya ia membangun usaha sendiri setelah memutuskan siap keluar dari pabrik. Usahanya ternyata semakin besar dan mendapatkan banyak keuntungan, bahkan kemudian ia punya banyak karyawan. Penghasilannya kian bertambah besar setelah usahanya diperbesar. Maka, ia akhirnya menjadi orang kaya. Karena ia juga aktif di partai politik dan di kalangan rakyat kecil namanya cukup populis, suatu saat ia maju dalam pemilihan DPR di daerahnya, dia pun terpilih. Dengan posisi itu, dia kian kaya. Suatu saat, banyak orang yang mencalonkannya sebagai walikota. Siapa sangka, orang yang 20 tahun lalu hanyalah seorang buruh pabrik, kini menjadi seorang walikota.

Gerak Sosial Geografis

Gerak sosial geografi s adalah gerak sosial yang melampaui geografi , seperti wilayah, status kewarganegaraan/kependudukan, dan lain sebagainya. Jadi, ada perpindahan individu atau kelompok dari satu daerah ke daerah lain.

Bentuknya adalah:

  • Transmigrasi: perpindahan ke daerah lain, tetapi masih satu negara. Misalnya, dari Jawa ke Papua atau Sumatra;
  • Urbanisasi: perpindahan dari daerah tinggalnya yang pedesaan menuju ke wilayah perkotaan; dan
  • Migrasi: perpindahan ke negara lain.

Saluran-saluran mobilitas sosial yang ada di masyarakat, antara lain:

Organisasi Ekonomi

Organisasi ekonomi, seperti perusahaan, koperasi, BUMN, dan lainlain merupakan lembaga strategis untuk memperoleh pendapatan seseorang. Dalam lembaga ini, dimungkinkan prestasi dan hasil kerjanya dihargai yang akan membuatnya dipromosikan utnuk mendapatkan pangkat yang lebih tinggi.

Angkatan Bersenjata

Angkatan bersenjata adalah lembaga tempat aturan kepangkatannya sangat jelas. Selain itu, lembaga ini sangat strategis mengingat posisinya yang penting, terutama di negara-negara berkembang atau negara-negara ketiga yang stabilitas politik dan keamanannya masih belum stabil. Kemenangan angkatan bersenjata adalah karena ia memegang senjata dan merupakan organisasi yang selalu dibutuhkan.

Percepatan mobilitas dalam makna kepangkatan biasanya disebabkan oleh keberaniannya dan kekuatannya dalam bertempur meskipun ia berasal dari kalangan miskin, tetapi jasanya dalam pertempuran atau keamanan akan membuatnya naik pangkat. Selain itu, di masyarakat, orang yang profesinya tentara juga dipertimbangkan. Biasanya, ia juga akan diikutkan dalam lembagalembaga atau aktivitas sosial lainnya. Dengan demikian, ketika ia pensiun pun, ia akan menjadi tokoh masyarakat. Tak heran jika pensiunan tentara banyak yang menjadi kepala desa, bahkan anggota DPR.

Lembaga Pendidikan

Tak lagi diragukan bahwa saluran paling penting bagi mobilitas sosial adalah pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai social elevator (perangkat) yang bergerak dari kedudukan yang rendah ke kedudukan yang lebih tinggi. Mengapa demikian? Dalam pendidikan, orang dididik untuk menyiapkan diri dengan diberikan pengetahuan, keterampilan, dan wawasan untuk mengisi pekerjaan-pekerjaan, kedudukan, dan jabatan yang ada di masyarakat. Pendidikan memberikan kesempatan pada setiap orang untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi.

Lembaga-Lembaga Keagamaan

Sebagai pranata yang sangat dijunjung kesakralannya dan nilainilainya masih punya daya ikat, agama bisa menjadi kekuatan yang dapat digunakan untuk menyalurkan diri dan meraih mobilitas sosial. Tokoh agama adalah tokoh masyarakat, berarti membangun ketokohan lembaga agama ini, juga memungkinkan seseorang untuk mendapatkan status sosial yang tinggi.

Organisasi Politik

Organisasi politik memungkinkan anggotanya yang loyal dan berdedikasi tinggi untuk menempati jabatan yang lebih tinggi, tentunya dengan kerja-kerja politik, seperti lobi-lobi dan membangun jaringan ke pusat-pusat strategis. Selain itu, momentum politik elektoral seperti pemilihan umum juga menyediakan ruang bagi seorang aktivis partai politik untuk memperebutkan jabatan wakil rakyat. Jika sudah menduduki jabatan ini, potensi untuk memperoleh sumber daya yang besar ada di tangan. Tak heran jika hingga saat ini organisasi politik masih merupakan saluran yang banyak diminati oleh orang-orang yang ingin meningkatkan statusnya.

Organisasi atau Lembaga Keahlian

Organisasi keahlian adalah organisasi yang mengumpulkan orangorang dengan keahlian yang sama untuk menyalurkan bakat-bakat mereka. Dengan berorganisasi pada lembaga ini, siapa yang menonjol dalam keahliannya akan dipandang dan statusnya akan meningkat. Organisasi juga bisa dilihat sebagai lembaga atau sarana yang bisa membuat seseorang menyalurkan bakat dan keahliannya. Misalnya, dengan keberadaan koran atau majalah, seorang yang mempunyai keahlian menulis dan mengarang bisa menyumbangkan tulisantulisan, karya, dan pemikirannya melalui media tersebut. Biasanya, penerbit/media akan memberikannya honor yang membuat seorang itu mendapatkan penghasilannya. Selain itu, karena media adalah tempat publikasi, yang nama pengarang/penulisnya tercantum, ia akan kian terkenal. Popularitas ini dalam modal sosial yang penting untuk meningkatkan status .

Pengertian Mobilitas Sosial

Mobilitas berasal dari bahasa latin mobilis yang berarti mudah dipindahkan atau banyak bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Kata sosial yang ada pada istilah mobilitas sosial untuk menekankan bahwa istilah tersebut mengandung makna gerak yang melibatkan seseorang atau sekelompok warga dalam kelompok sosial. Mobilitas sosial adalah perubahan, pergeseran, peningkatan, ataupun penurunan dalam segi status sosial dan peran termasuk pula segi penghasilan, yang dapat dialami oleh beberapa individu atau oleh keseluruhan anggota kelompok. Misalnya, seorang pensiunan pegawai rendahan salah satu departemen beralih pekerjaan menjadi seorang pengusaha dan berhasil dengan gemilang. Proses perpindahan posisi atau status sosial yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang dalam struktur sosial masyarakat inilah yang disebut gerak sosial atau mobilitas sosial (social mobility).

Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt (Bagong Suyatno, 2004:202) mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya baik itu berupa peningkatan atau penurunan dalam segi status sosial dan (biasanya) termasuk pula segi penghasilan, yang dapat dialami oleh beberapa individu atau oleh keseluruhan anggota kelompok. Pernyataan Horton dan Hunt di dukung oleh Huky bahwa istilah mobilitas diartikan sebagai suatu gerak orang perorangan atau grup dari suatu kelompok ke kelompok lainnya dalam masyarakat.

Sementara menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack ( dalam Narwoko, 2010:208), mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya. Tingkat mobilitas sosial pada masing-masing masyarakat berbeda-beda. Pada masyarakat yang bersistem sosial terbuka maka mobilitas sosial warga masyarakatnya akan cenderung tinggi. Tetapi, sebaliknya, pada sistem sosial tertutup seperti masyarakat feodal atau masyarakat bersistem kasta maka mobilitas sosial warga masyarakatnya akan cenderung sangat rendah dan sangat sulit diubah atau bahkan sama sekali tidak ada.

Dalam dunia modern, banyak orang berupaya untuk melakukan mobilitas sosial. Mereka yakin bahwa melakukan mobilitas sosial akan membuat orang menjadi lebih bahagia dan memungkinkan mereka melakukan jenis pekerjaan yang paling cocok bagi diri mereka. Apabila tingkat mobilitas sosial tinggi, meskipun latar belakang sosial berbeda, mereka tetap dapat merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi danm apabila tingkat mobilitas sosial rendah, tentu saja kebanyakan orang akan terkurung dalam status nenek moyang mereka, maka mereka hidup dalam kelas sosial yang tertutup. Contohnya, transformasi pekerjaan petani ke pengrajin industri kecil yang terjadi di sentra industri kecil di Surakarta, juga telah mengakibatkan terjadinya proses mobilitas sosial, baik secara vertikal maupun horizontal. Mobilitas sosial itu dapat dijelaskan dengan proses petani menjadi buruh, pengrajin atau pengrajin pengusaha. Karena terbatasnya pekerjaan di sektor pertanian, buruh tani pindah atau bekerja sambilan sebagai buruh di industri kecil. Mereka yang sebagai buruh purna waktu umumnya tidak memiliki lahan sawah atau tegalan, atau karena terbatasnya jumlah upah sebagai buruh tani mereka memilih bekerja sebagai buruh pengrajin.

Dengan demikian pekerjaan buruh industri kecil bagi mereka adalah sebagai “pekerjaan utama”. Adapun bagi buruh pengrajin yang masih memiliki lahan pertanian, mereka hanya bekerja sebagai buruh sambilan, dan fungsi pekerjaannya hanyalah penambah pendapatan. Istilah yang sering diungkapkan oleh mereka yaitu “nasinya dari sawah dan lauknya dari pekerjaan industri.” Dalam kasus ini sebenarnya merupakan proses mobilitas sosial yang vertikal “ke bawah,” karena kemudian menjadi pekerja dari orang lain. Namun jika bekerja sambilan ini dilihat sebagai “proses belajar” untuk dapat menjadi pengrajin, maka disebut mobilitas vertikal. Bagi pengrajin (sering disebut “juragan kecil”), umumnya masih bekerja sebagai pengrajin sambil bertani. Kalaulah juragan kecil tidak bertani, tanah-tanah mereka disewakan kepada petani lain. Mereka belum sepenuhnya menaruh harapan kepada industri kecil, dan karenanya tanah-tanah pertaniannya dijadikan penyangga atau alternatif jika terjadi kerugian dalam usaha industrinya.

Referensi

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/41649/Chapter%20II.pdf;sequence=4