Apa yang Dimaksud dengan Metadata?

Metadata dikenal dalam kajian sistem informasi sebagai sebuah sistem komputasi dan juga bisa diartikan dalam istilah perpustakaan. Pengertian populer mengenai metadata pada bidang ilmu perpustakaan adalah metadata merupakan ‘data dalam data’ atau ‘informasi dalam informasi’. Apa pengertian sebenarnya dan menyeluruh mengenai metadata?

2 Likes

Apa itu Metadata?

Hal pertama yang terlintas saat mendengar kata metadata adalah ada 2 kata di dalamnya yaitu meta dan data. Meta bentuk terikat yang kemudian berubah dan data atau kerap didefinisikan sebagai keterangan yang benar. Nyatanya kata ini merupakan satu kesatuan, metadata. Lantas apa itu metadata?

Metadata adalah informasi terstruktur yang mendeskripsikan, menjelaskan, memposisikan, atau sebaliknya membuatnya lebih mudah untuk temu kembali, menggunakan, atau memanajemen sumber informasi. Metadata biasa disebut ‘data dalam data’ atau ‘informasi dalam informasi’. Istilah metadata didefinisikan berbeda tiap masyarakat penggunanya. Beberapa mendefinisikan metadata sebagai informasi yang dapat dipahami oleh mesin, sedangkan ada juga yang mendefinisikan sebagai penyimpanan yang mendeskripsikan sumber informasi elektronik beraneka rupa.

Contoh dari metadata dalam perpustakaan tradisional adalah format MARC 21 yang memuat peraturan AACR2 sebagai standarnya. Saat ini sudah terdapat beraneka skema metadata. Hal ini terjadi agar dapat memenuhi pendeskripsian tipe-tipe informasi tekstual maupun tidak seperti buku, dokumen elektronik, arsip pembantu, objek seni, alat pendidikan dan pelatihan, serta data saintifik. Dengan begitu dapat dipaparkan bahwa terdapat tiga tipe utama metadata yaitu:

  1. Descriptive Metadata (metadata deskriptif)

  2. Structural Metadata (metadata struktural)

  3. Administrative Metadata (metadata administratif)

Tipe metadata deskriptif menjelaskan ciri fisik dan isi sebuah sumber informasi. Biasanya sudah terdapat patokan terstandar tentang kolom-kolom (query) yang harus diisi untuk memenuhi metadata jenis ini. Selanjutnya, metadata struktural mengindikasi bagaimana campuran dalam isi sebuah sumber informasi. Jadi dengan metadata struktural, informasi yang kuantitasnya cukup besar dan beraneka ragam dapat terdefinisikan isinya dengan cepat. Terakhir, metadata administratif menyediakan informasi untuk membantu memanajemen sumber informasi melalui kapan dan bagaimana sumber informasi tersebut terbentuk serta jenis atau informasi teknis mengenai sumber informasi tersebut. Metadata administratif juga membantu dalam penentuan hak pengakses serta hukum-hukum yang melindungi hak cipta sumber informasi tersebut dan bagaimana cara preservasinya.


Sumber: devops.com

Hal yang membuat metadata menjadi satu dari inovasi yang mempermudah adalah karena dapat mendeskripsikan sumber informasi dari segala level kesatuan koleksi. Metadata bisa mendeskripsikan koleksi, satu sumber informasi, atau komponen dari sumber informasi yang besar. Metadata merupakan kunci yang menjamin sumber informasi akan tetap bertahan dan dapat digunakan seterusnya di masa depan.

Dimana kita bisa melihat metadata? Sebagai alat pendeskripsi sumber informasi, maka metadata biasanya lekat dengan sumber informasi yang ditiadakannya. Sebenarnya untuk letak metadata tersebut tergantung kebijakan perpustakaan induknya, namun biasanya sebuah metadata diletakkan di dalam sumber informasi. Biasanya masuk dalam dokumen HTML sumber informasi tersebut, tepatnya pada kop. Dengan meletakkan metadata di tempat tersebut akan memastikan bahwa sumber informasi dan metadatanya terupdate bersama ketika terdapat perubahan. Atau bila sumber informasi tersebut bukan bentuk yang bisa memiliki dokumen HTML maka meta datanya disimpan dalam sistem basis data dan memiliki link penghubung dengan sumber informasi ter metadata tersebut.

Berbagai penjelasan di atas menunjukkan bahwa metadata dapat membantu khususnya dalam penelusuran sumber informasi. Terdapat 5 fungsi metadata yaitu:

  1. Resource discovery (pencarian sumber informasi)

Menyediakan sumber informasi relevan, mengidentifikasi, mengumpulkan sumber informasi yang sama serta menjauhkannya bila tidak sama serta memberi lokasi informasi.

  1. Organizing electronic resources (pengorganisasi sumber informasi elektronik)

Memberi link metadata sebuah sumber informasi. Biasanya tersimpan dalam database perpustakaan.

  1. Interoperability

Interoperability adalah kemampuan beberapa sistem dengan hardware dan software yang berbeda, struktur data dan tampilan data luarnya dengan kehilangan minimal dari isi dan fungsinya. Cara kerjanya dengan mendefinisikan skema metadata, membagi transfer protokol, dan alur lintas antara skema dan sumber informasi agar lebih cepat.

  1. Digital identification (identifikasi digital)

Biasanya sebuah metadata memiliki nomor induk terstandar untuk mendefinisikan sumber informasi yang dimetadatakannya. Nomer tersebut juga bisa berupa nama file, atau bisa dikatakan sesuai kemampuan penomoran dan kebijakan perpustakaannya. Contoh dari identifikasi digital metadata adalah URL (Uniform Resource Locator), PURL (Persistence URL), DOI (Digital Object Identifier). Penomoran ini bertujuan agar perpindahan lokasi dari sumber informasi dapat ter-update dengan cepat. Selain itu nomor induk terstandar digital dapat menjadi bagian dari validasi deskripsi fisik sumber informasi.

  1. Archiving and preservation (pengarsipan dan preservasi)

Segala bentuk sumber informasi memiliki kerentanan masing-masing, oleh karena itu dengan adanya fungsi metadata sebagai pengarsipan dan preservasi membawa informasi kebutuhan perawatan sumber informasi. Selain itu, informasi dalam metadata bisa menjadi penanda bagi kebutuhan preservasi sumber informasi tertera.

Setelah banyak mengetahui tentang apa itu metadata, serta serba-serbi teoritis metadata. Secara praktis, metadata memiliki skema. Skema metadata merupakan seperangkat elemen metadata yang didesain untuk tujuan tertentu. Elemen metadata didefinisikan sebagai penunjang sebuah skema, dan nilai yang diberikan dalam metadata merupakan bagian dari isi metadata. Dalam skema metadata terdapat beberapa rumus atau syntax biasanya menggunakan SGML (Standard Generalized markup language) atau XML (Extensible Markup language). SGML dan XML merupakan perpanjangan tangan dari HTML yang memiliki struktur lebih mudah khususnya untuk dibaca. Dengan adanya syntax tersebut sebuah metadata dapat dengan mudah ditukarkan dan mendapatkan pertukaran dengan data lainnya dari sistem yang berbeda pula. Skema metadata sudah banyak ditemukan hingga saat ini dan dalam jurnal ini lebih banyak membahas antara lain:

Dublin Core

Terdapat 13 elemen yang memetakan isi dan deskripsi fisik sumber informasi. Dublin core termasuk skema metadata yang paling sederhana dan mudah, baik bagi pengguna ataupun pustakawan. Semua elemen merupakan opsional dan dapat diulangi sesuai kebutuhan. Karena kemudahan ini maka banyak pengguna luar pemustaka menggunakan Dublin core untuk pengatalogan ataupun mengumpulkan data dari internet.

The Text Encoding Initiative (TEI)

Skema metadata ini muncul karena inisiasi dari kebutuhan markup dari koleksi seperti novel, naskah drama dan puisi bentuk teks. Koleksi yang bentuk teks didigitalkan metadatanya dengan membuat link antara kolesi dengan metadatanya sehingga koleksi fisik pun dapat memiliki metadata yang mudah diakses pula. Biasanya menggunakan SGML dan nanti dalam header atau kop TEI akan tercantum link metadatanya.

Metadata Encoding and Transmission Standard (METS)

Apabila TEI menggunakan SGML sebagai bahasanya, METS menggunakan XML. Karena menggunakan XML maka sumber informasi yang diskemakan metadatanya merupakan sumber informasi digital. Konsep kerjanya hampir sama dengan TEI. Dalam METS terdapat tujuh seksi antara lain; kop, metadata deskriptif, metadata administratif, letak file, peta struktur, link terstruktur, kebiasaan. Selain data digital, gambar pun juga dapat diskemakan dengan standar yang bernama MIX (Metadata for Images in XML Schema). Untuk cara penggunaan skema ini bisa dengan mengakses website official METS.

Metadata Object Description Schema (MODS)

MODS memiliki konsep yang hampir sama dengan METS dan juga memiliki elemen lebih banyak dari Dublin core. Bahasanya menggunakan XML. Kemampuan MODS adalah memberi deskripsi terperinci dari peta struktur METS objek metadata.

The Encoded Archival Description (EAD)

Apabila ke-4 skema di atas menonjolkan sisi kelengkapan metadata yang dimilikinya. EAD menambahnya dengan akses online metadatanya. EAD biasanya populer di dunia akademisi karena reliabilitasnya. Selain itu perpustakaan yang memiliki koleksi luas dan banyak serta beragam lebih cocok menggunakan skema ini. Dengan EAD juga memberi kesempatan untuk perpustakaan melakukan preservasi tanpa batas dari berbagai sisi karena seluruh orang yang mengakses metadata bisa memberikan tanggapan dan masukan.

Learning Object Metadata

Sumber informasi kadang kala bisa menjadi barang yang tidak terpakai, maka dengan Learning Object Metadata sumber informasi dapat digunakan kembali dan diperbaharui. Atribut Learning Object Metadata ada delapan yaitu; umum, siklus kehidupan, teknisan, pendidikan atau pelatihan, hukum, relasi, anotasi, dan klasifikasi.

E-Commerce

Era globalisasi membawa masyarakat menjadi lebih bergantung pada segala hal berbau digital. Oleh karena itu sumber informasi harus mulai mengembangkan dirinya agar dapat memenuhi mayoritas keinginan penggunanya seperti dengan menggunakan skema metadata e-commerce. E-commerce mengunggulkan pertukaran data dan perpindahan data. Sintak yang digunakan adalah , sintak ini memperbolehkan berbagai macam jenis sumber informasi untuk ditransfer dan dimetadatan. Untuk melakukan transfer atau perpindahan biasanya menggunakan ONIX (Online Information Exchange). ONIX merupakan standar internasional transfer data sehingga dengan menggunakan skema e-commerce maka secara tidak langsung metadata dari sumber informasi yang diinput sudah terstandar dunia.

Visual Objects (CDWA dan VRA)

Sesuai namanya, skema metadata ini khusus untuk objek visual seperti gambar dan karya seni lainnya (artwork). Metadata dalam koleksi jenis ini mengakomodasi identitas koleksi tanpa harus menambah atau mengubah bentuk asli koleksi.

MPEG Multimedia Metadata

Beranekaragamnya informasi tentu membawa inovasi baru, khususnya di skema metadata ini. Adanya koleksi bentuk 3D atau seni instalasi lainnya juga membutuhkan metadata karena merupakan sumber informasi. Sistem MPEG adalah dengan mengalamatkan metadata dari sumber informasi ke database yang dimiliki badan atau perpustakaan yang menaunginya.

Belajar tentang metadata artinya harus mau bergelut dengan keanekaragaman sumber informasi didalamnya. Memang masih banyak hal yang belum termaktub dalam tulisan ini, tapi setidaknya dengan membaca sumber informasi sesuai bisa membuat pengetahuan tentang teori serta teknisan metadata. Dengan beragamnya sumber informasi maka skema meta datanya akan beragam juga agar bisa mengakomodasi bentuk sumber informasi tersebut.

Referensi
  1. Anglo-American cataloguing rules. 2nd ed., 2005 revision. Ottawa : Canadian Library Association ; Chicago : American Library Association, 2002-2005.
  2. Avram, Henriette D. 2011. Machine-Readble Cataloging (MARC) Program. Dalam Encyclopedia of Library and information Science. Hlm. 3512-3529
  3. Cataloging tackling the basics. 2011. http://www.library.nd.gov/publications/catalogingworkshop.pdf
  4. Chan, Lois Mai. 2007. Cataloging and classification : an introduction. – 3rd ed.—Maryland : Scarecrow.
  5. Delsey, Tom. 2009. AACR2 versus RDA. Presentation given at the CLA Pre-Conference Session From Rules to Entities: Cataloguing with RDA. Encyclopedia of library and information sciences. 2010.–3rd ed.-- Boca Raton, FL : CRC Press.
  6. Irma U. Aditirto. 2011. Dari AACR2 ke RDA : pengantar singkat. Jakarta
  7. Oliver, Chris. 2010. Introducing RDA : a guide to the basics. Chicago : American Library Association. RDA : Resources Deskription and Access. 2010. Chicago : American Library Association,
  8. Schiff, Adam L. 2011. Change from AACR2 to RDA : a comparison examples. http://faculty.washington.edu/aschiff/BCLAPresentationWithNotes-RevMay2011.pdf
  9. Suharyanto. 2011. Pengantar Anglo American Cataloguing Rules 2 (AACR2). Makalah diklat CPTA 2011.
  10. Taylor, Arlene G. 2006. Introduction to cataloging and classification. – 10th ed. London : Libraries. _______________. 2009. The organization of information. – 3rd ed. London : Libraries, 2009.
  11. Tillett, Barbara B. 2010. RDA : Resource Description & Access : Change from AACR2 for texts. 2010. https://staff.lib.ncsu.edu/.../NCSU+RDA+Training+Day+2.pptx?version