© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan meta-analisis?

Meta analisis

Meta analisis merupakan suatu teknik statistika yang mengabungkan dua atau lebih penelitian sejenis sehingga diperoleh paduan data secara kuantitatif. Dilihat dari prosesnya, meta-analisis merupakan suatu studi observasional retrospektif, dalam artian peneliti membuat rekapitulasi data tanpa melakukan manipulasi eksperimental.

Meta-analisis merupakan suatu teknik statistika untuk menggabungkan hasil 2 atau lebih penelitian sejenis sehingga diperoleh paduan data secara kuantitatif. Dilihat dari prosesnya meta-analisis merupakan suatu studi observasional retrospektif, dalam arti peneliti membuat rekapitulasi fakta tanpa melakukan manipulasi eksperimental.

Karena pada umumnya pembuat meta-analisis tidak memiliki data dasar penelitian, maka praktis dimensi effect size yang digabungkan dalam meta-analisis sama dengan yang dilaporkan dalam artikel yang digabungkan. Skala variabel efek pada meta-analisis dalam literatur kedokteran dapat berskala nominal, numerik, atau ordinal.

Effect size, yakni perbedaan kejadian efek antara kelompok eksperimental dan kelompok kontrol dalam meta-analisis merupakan gabungan effect size masing-masing studi yang dilakukan dengan teknik statistika tertentu.

Langkah-langkah dalam Penyusunan Meta-analisis


Meta-analisis dapat dipandang sebagai suatu penelitian tersendiri, termasuk dalam desain studi observasional retrospektif. Bila subyek penelitian klinis adalah pasien, dalam meta-analisis `subyek penelitiannya’ adalah hasil penelitian yang akan disertakan dalam meta-analisis. Sama halnya dengan penelitian lain, peneliti (pembuat meta-analisis) harus membuat usulan penelitian yang rinci.

Usulan penelitian meta-analisis mencakup :

I. Pendahuluan

  1. Latar belakang: pernyataan yang jelas mengapa perlu dilakukan meta- analisis
  2. Pertanyaan penelitian
  3. Hipotesis yang akan diuji
  4. Tujuan dan manfaat penelitian

II. Metodologi

  1. Kriteria pemilihan (kriteria inklusi dan eksklusi) untuk artikel penelitian yang akan disertakan dalam meat-analisis. Tentukan apakah akan disertakan hasil penelitian yang tidak dipublikasi, bagaimana cara menemukan hasil penelitian yang tidak dipublikasi tersebut.
  2. Metode untuk menemukan atau menelusur penelitian, dan siapa yang akan melakukan penelusuran pustaka.
  3. Kriteria yang jelas untuk penilaian kualitas artikel penelitian yang mencakup aspek desain, pelaksanaan, serta analisis
  4. Klasifikasi dan kodifikasi unit penelitian untuk digabungkan
  5. Abstraksi kuantitatif hasil masing-masing penelitian
  6. Rencana penggunaan model statistika yang sesuai untuk penggabungan hasil
  7. Rencana interpretasi hasil
  8. Rencana pelaporan hasil

Tidak ada standar baku universal dalam melakukan meta analisis. Teknik abstraksi, penentuan kualitas, dan statistika yang digunakan untuk melakukan meta-analisis dapat bervariasi, yang antara lain bergantung pada jenis data dan substansi yang diselidiki.

Pertimbangan utama untuk menyertakan suatu studi dalam meta-analisis adalah relevansi studi terhadap tujuan meta-analisis. Harus diingat bahwa laporan penelitian dapat merupakan suatu rangkaian (laporan pendahuluan, laporan akhir); kedua jenis laporan ini tidak boleh dimasukkan bersama-sama, hanya laporan akhir (final report) yang dapat disertakan. Pemilihan studi yang akan disertakan sama pentingnya dengan pemilihan metode statistika untuk menggabungkan hasilnya. Dalam melakukan meta-analisis dituntut keahlian dalam metodologi maupun substansi, karenanya pembuatan meta-analisis memerlukan kerja sama antara ahli klinik yang menguasai substansi dan ahli statistika yang menguasai teknik meta-analisis.

1. Kriteria Pemilihan

Studi yang akan disertakan dalam meta-analisis bergantung pada maksud meta- analisis. Karena itulah hipotseis studi meta-analisis amat membantu menentukan kriteria inklusi dan eksklusi yang harus digunakan sejak awal untuk identifikasi studi yang relevan.
Peneliti harus menetapkan jenis dan rincian laporan penelitai n yang akan digabung. Untuk uji klinis, msi alnya perlu ditetapkan apakah hanya akan disertakan uji klinis dengan randomisasi, berapa jumlah subyek minimal yang dapat diterima, karakteristik klinis pasien, intervensi yang dilakukan, lama follow-up minimal, outcome yang diperlukan, rentang umur subyek, serta lain-lain rincian data yang diperlukan.

Perlu pula dari awal ditentukan laporan dalam bahasa apa saja yang akan disertakan (apakah hanya artikel yang berbahasa Inggris atau mencakup yang berbahasa lain), tahun publikasi, dan lain-lain aspek yang relevan dengan hipotesis atau pertanyaan penelitian.
Juga harus ditentukan apakah meta-analisis hanya dilakukan terhadap laporan penelitian yang telah dipublikasi ataukah mencakup pula data yang tidak dipublikasi. Bila meta-analisis hanya dilakukan terhadap laporan penelitian yang telah dipublikasi, mungkin hasilnya tidak optimal, karena terdapatnya publication bias.

Telah diketahui bahwa peneliti engan mengirim hasil penelitian yang tidak bermakna, demikian pula editor cenderung menolak laporan hasil penelitian tersebut. Peneliti juga cenderung mengirim penelitian dengan haisl bermakna ke jurnal internaisonal, sedangkan yang hasilnya tidak bermakna dikirim ke jurnal lokal. Publication bias memang merupakan salah satu kendala yang nyata dalam meta-analisis. Di lain sisi bila disertakan data yang tidak dipublikasi dari pihak yang mempunyai kepentingan (misalnya dari perusahaan farmasi), hal ini pun dapat mengundang masalah.

Hasil penelitian yang tidak dpi ublikasi antara lain dapat dpi eroleh dengan menghubungi pusat-pusat penelitian tertentu yang biasanya dikenal oleh peer-group bidang studi yang berkaitan. Tentu saja tidak mungkin bagi penulis metaanalisis untuk memperoleh seluruh hasil penelitian yang tidak dipublikasi yang ada di seluruh dunia.

2. Strategi Penelusuran Laporan Penelitian

Untuk penelusuran (searching) bahan studi harus ditentukan kualifikasi penelusur (misalnya petugas perpustakaan dan peneliti). Ini perlu ditekankan, karena kualitas penelusur sangat mempengaruhi jumlah dan jenis pustaka yang diperlukan. Untuk menelusur atrikel yang telah dipublikasi, database elektronik sangat bermanfaat; namun bila hanya cara ini yang digunakan, mungkin akan terlewatkan hasil studi lain yang relevan. Oleh karenanya biasanya disarankan untuk melengkapinya dengan pencarian manual, misalnya melalui Index Medicus, daftar pustaka buku ajar, tnijauan pustaka, dan publikasi lain. Untuk uji klinis, database Cochrane Collaboration merupakan sumber yang sangat membantu.

Untuk kepentingan ini harus dijelaskan spesifikasi database yang dipakai, strategi pencarian, termasuk periode waktu yang disertakan dan kata kunci yang digunakan. Harus dijelaskan cara untuk memasukkan semua studi yang ada yang memenuhi kriteria, termasuk kontak dengan para penulis, perangkat lunak yang dipakai (nama dan versi), pencarian secara manual (dari daftar rujukan pada artikel), bahasa selain bahasa Inggris, serta metode penelusuran hasil studi yang tidak dipublikasi.

3. Penilaian kualitas artikel

Artikel yang telah terkumpul harus diteliti satu demi satu. Pada tahapan pertama harus dipastikan apakah semua sesuai dengan kriteria pemilihan yang telah ditetapkan. Bila hasil penelusuran awal sangat banyak, penyaringan dapat dilakukan dengan cara menilai abstrak masing-masing artikel.

Setelah dipastikan sesuai dengan kriteria, kemudian setiap laporan tsudi dinilai
kualitasnya oleh peneliti. Pada umumnya penilaian dilakukan oleh dua orang penilai (reviewer) secara terpisah, dengan menggunakan standar penilaian yang telah ditetapkan sebelumnya, biasanya dengan menggunakan sistem score. Apabila terdapat ketidaksesuaain dilakukan diskusi untuk mecnapai kesepakatan.

Oleh karena kualitas hasil penelitian yang akan digabungkan tidak sama, maka perlu diberikan pembobotan terhadap masing-masing artikel. Misalnya, studi yang menggunakan 200 subyek dengan teknik randomisasi yang baik serta menggunakan teknik double blind tentu tidak sama bobotnya dengan studi yang hanya melibatkan 40 pasien tanpa blinding.

4. Menggabungkan hasil studi

Penggabungan hasil berbagai studi merupakan langkah paling menentukan dalam meta-analisis. Dalam penggabungan ini diperlukan teknik statistika tertentu yang mengundang banyak beda pendapat. Berikut ini diuraikan beberapa prinsip yang perlu dki etahui dalam penggabungan hasil banyak penelitian.

Perlu diingat bahwa dalam penggabungan hasil, penelitian dengan jumlah subyek yang berbeda dan dengan kualitas yang berbeda tidak dapat diperlakukan sama. Penelitian dengan jumlah subyek yang banyak dan yang berkualitas lebih baik harus mendapat bobot yang lebih besar.

Penelitian dapat memberi hasil akhir (outcome) berupa data nominal, numerik, atau ordinal.
Penggabungan hasil dilakukan sesuai dengan data pada penelitian aslinya seperti tampak berikut ini

A. Hasil berskala numerik

  1. Perbedaan rerata (mean difference)
  2. Perbedaan rerata yang distandardisasi (standardaized mean difference)

B. Hasil berskala nominal

  1. Data nominal non-komparati f

    • Odds
    • Insidens
  2. Data nominal komparati f

    • Rasio odds
    • Risiko relatif
    • Perbedaan risiko (risk difference)
    • Number needed to treat

C. Hasil berskala ordinal

Apabila hasil suatu uji klinis berskala numerik (misalnya penelitian yang membandingkan dua obat dalam menurunkan kadar kolesterol), maka yang digabungkan dapat berupa beda rerata (mean difference) antara kedua kelompok. Untuk meniadakan peran jumlah subyek ini, maka beda rerata lebih baik tidak dinyatakan dalam angka mutlak, melainkan dalam besaran simpang baku (standard deviation) berupa standardized mean difference yakni beda rerata dibagi dengan simpang bakunya. Oleh karena penghitungan simpang baku telah menyertakan jumlah subyek, maka dengan menyatakan hasil studi dalam standardized mean difference dapat ditiadakan peran jumlah subyek dari masing masing penelitian.

Bila hasil penelitian berupa data nominal dikotom (sembuh-tidak sembuh, hidup-meninggal), maka penggabungan hasil dapat dinyatakan dalam odds, insidens, beda risiko, rasio odds, atau risiko relatif.

Seperti telah disebutkan, karena besar sampel pada tiap penelitian tidak sama, maka menjumlahkan hasil masing-masing penelitian dan menghitung reratanya tidak laik dilakukan. Untuk ini diperlukan teknik statistika tersendiri, yang jenisnya bermacam-macam, namun dapat dikategorikan dalam 2 kelompok, yakni fixed effects model dan random effects model.

  • Pada fixed effects model diasumsikan bahwa variabilitas di antara berbagai penelitian semata-mata didasarkan oleh faktor peluang; artinya apabila penelitian dilakukan tak terbatas, akhirnya akan diperoleh hasil yang sama. Pada model ini variabilitas antar-studi diabaikan atau dianggap tidak ada, yang ada hanyalah variabilitas intra-studi berupa variabilitas berdasarkan faktor peluang. Dengan teknik ini diperoleh nilai interval kepercayaan yang sempit.

  • Pada random effects model selain variabilitas intr-astudi juga diperhitungkan variabilitas antar-studi. Dengan teknik ini akan diperoleh interval kepercayaan yang lebih lebar dibanding pada fixed effects model. Namun bila penelitian yang digabungkan lebih kurang bersifat homogen, hasil yang diperoleh dengan kedua model tersebut tidak banyak berbeda. Perbedaan yang berarti baru terjadi bila hasil penelitian yang digabungkan sangat heterogen.

Sebagian ahli statistika (aliran teori probabilitas Bayes) menyatakan ada dimensi lain yang perlu diperhitungkan, yakni prior probability distribution yang ditentukan oleh peneliti sebelum melihat data. Dengan memasukkan dimensi ini maka interval kepercayaan menjadi lebih lebar lagi. Oleh banyak ahli teknik ini dinilai kontroversai l, karena penentuan prior probability merupakan proses yang sebagian berdasar pada faktor subyektif.

5. Penilaian Heterogenitas

Bagaimana bila hasil pelbagai studi sangat heterogen? Dalam hal ini maka kita tidak dapat langsung menggabungkan hasilnya. Ini merupakan suatu masalah penting dalam meta-analisis, dan belum ada cara definitif untuk mengatasinya. Salah satu upaya yang dapat dliakukan adalah melakukan uji heterogenitas yang jenisnya juga bervariasi, mulai dari yang paling sederhana (misalnya uji x2 untuk data nominal) sampai penggunaan pelbagai diagram atau plot. Bila uji heterogenitas memberikan hasil tidak bermakna, maka dapat dai nggap hasil studi cukup homogen, dan analisis statistika yang sesuai adalah fixed effects model.

Bila hasilnya heterogen, maka random effects model yang diterapkan. Kekurangan cara ini adalah power uji statistika menjadi rendah, sehingga gagal menunjukkan perbedaan yang bermakna meskipun perbedaan tersebut ada. Namun hasil yang heterogen, asalkan kualitas studi dinilai baik, tidak boleh diatasi dengan cara membuang hasil penelitian yang merupakan outlier (amat berbeda dengan hasil lainnya). Bila yang memberi hasil berbeda dibuang, maka yang lain juga harus dibuang. Perbedaan tersebut setidaknya menunjukkan bahwa prosedur yang sama dapat berbeda hasilnya bila dilakukan terhadap populasi, waktu, tempat, atau kondisi yang berbeda.

6. Penyajian Laporan Meta-analisis

Seperti pada laporan penelitian lain, penyajian laporan meta-analisis mencakup Pendahuluan, Metode, Hasil, dan Diskusi. Penyajian Hasil biasanya diawali dengan karakteristik subyek penelitian, dalam hal ini berupa rincian tentang penelitian yang disertakan daal m meta-analisis. Biasanya disertakan tahun publikasi, karakteristik subyek, jumlah subyek, rentang usia, randomisasi, lama follow-up, hasil akhir penelitian, dan lain-lain yang relevan.

Hasil akhir meta-analisis sendiri biasanya disajikan dalam bentuk grafik seperti pada Gambar 1 (untuk hasil berskala nominal dikotom) dan Gambar 2 (untuk hasil berskala numerik).

meta-analisis  yang   disajikan   dalam   forest   plot
Gambar 1. Hasil meta-analisis yang disajikan dalam forest plot, memperlihatkan rasio odds masing-masing studi (kotak hitam) dengan interval kepercayaannya (garis horizontal). Garis vertikal menunjukkan rasio odss = 1 artinya tidak ada perbedaan antara kelompok eksperimental dan kontrol. Rasio odds gabungan digambarkan sebagai wajik (diamond). Agar interval kepercayaan simetris di sekitar rsio odds, diagram dibuat dalam logaritme rasio odds. Pada contoh ini 6 dari 7 studi yang digabungkan interval kepercayaannya memotong garis vertikal yang dibuat melalui hasil gabungan, yang menunjukkan bahwa studi yang digabungkan bersifat homogen.

Hasil meta-analisis  yang disajikan dalam forest  plot
Gambar 2. Hasil meta-analisis yang disajikan dalam forest plot, memperlihatkan beda rerata yang telah disesuaikan dengan jumlah subyek atau standardized mean difference, SMD, untuk masing-masing studi (kotak hitam) dengan interval kepercayaannya (garis horizontal). Garis vertikal menunjukkan beda rerata = 0, artinya tidak ada perbedaan antara kelompok eksperimental dan kontrol. SMD gabungan digambarkan sebagai wajik (diamond). Pada contoh ini 4 dari 6 studi interval kepercayaannya tidak memotong garis vertikal dari nilai gabungan, yang menunjukkan bahwa kelima studi yang digabungkan tidak homogen.

Pada kedua gambar tampak garis vertikal yang menunjukkan tidak ada beda (beda rerata = 0 untuk hasil numerik, atau rasio odds atau risiko relatif = 1 untuk hasil nominal dikotom). Resume masing-- masing penelitian dinyatakan dalam beda rerata atau rasio odds berupa bujur sangkar, dengan interval kepecr ayaan (biasanya IK 95%) berupa garis horizontal. Besarnya bujur sangkar melambangkan bobot masing-masing penelitian yang digabungkan dalam meta-analisis. Bila interval kepercayaan memotong garis vertikal, berarti mencakup beda rerata = 0 atau rasio odds = 1, artinya secara statistika tidak bermakna (p > 0,05); apabila interval kepercayaan tidak memotong garis vertikal berarti secara statistika bermakna (p < 0,05).

Gabungan nilai beda rerata atau rasio odds total dan interval kepercayaannya digambarkan pada bagian bawah akhir grafik, berupa gambar wajik (diamond), dari sini dibuat garis terputus vertikal. Bila semua atau hampir semua interval kepercayaan penelitian memotong garis terputus, ini berarti penelitian yang digabungkan homogen; bila tidak maka berarti heterogen.

Perlu diingatkan kembali bahwa interval kepercayaan merujuk pada rentang nilai pada populasi yang diwakili oleh sampel. Interval kepercayaan rasio odds seharusnya bersifat asimetris. Untuk membuatnya simetris dan mudah diinterpretasi, maka interval kepercayaan tersebut dinyatakan dalam bentuk logaritme. Dengan cara ini maka interval kepercayaan rasio odds menjadi simetris, dan nilai 2 sama artinya dengan 0,5 namun dengan arah yang berlawanan.

Salah satu keuntungan meta-analisis adalah diperolehnya jumlah subyek yang besar, sehingga dapat dilakukan analisis terhadap hasil subgrup (misalnya hasil berdasarkan jenis kelamin atau kelompok usia). Bila subgrupnya hanya sedikit, maka hasil penggabungan subgrup dapat dimasukkan dalam diagram hasil keseluruhan, namun bila subgrupnya cukup banyak hasil penggabungan subgrup digambarkan dalam diagram terpisah.

7. Analisis Sensitivitas

Untuk menilai apakah satu hasil meta-analisis `robust’ (relatif stabil terhadap perubahan) perlu dilakukan uji sensitivitas, antara lain dengan cara:

  • Dibandingkan hasil bila analisis dilakukan dengan fixed effects model atau random effects model. Bila hasilnya sama atau hampir sama, dapat disimpulkan bahwa variasi antar-penelitian tidak begitu penting pada set data tersebut.

  • Dilakukan uji untuk menilai peran kualitas metodologi penelitian terhadap hasil yang diperoleh. Untuk uij klinis, misalnya, nilai yang tertinggi diberikan pada studi dengan seleksi subyek yang baik, randomisasi dilakukan dengan benar, perlakuan terhadap kedua kelompok sama, terdapat tersamar ganda (double blind), dan analisis dilakukan secara intention to treat analysis (semua subyek yang telah dialokasi tetap dinilai pada alokasi awalnya, tanpa melihat statusnya. Dengan memberi nilai pada semua penelitian, mungkin akan terdapat penelitian dengan skor rendah. Bila penelitian yang bernilai rendah ini dikeluarkan dalam analisis, dan hasil yang diperoleh tidak banyak berubah, berarti hasil keseluruhan tidak dipengaruhi oleh penelitian yang berkualitas kurang baik tersebut.

  • Diidentifikasi terdapatnya publication bias. Semua penelitian dinilai; bila memang ada publication bias, penelitian dengan subyek paling banyak akan memberikan effect size yang paling kecil. Bila hal ini terjadi, maka penelitian dengan subyek yang paling sedikit dicoba untuk tidak diikutsertakan dalam analisis. Bila hasil akhirnya tetap sama atau identik, berarti publication bias tidak berperan cukup besar dalam meta-analisis tersebut.

  • Dilakukan uji terhadap keadaan khusus. Misalnya ada penelitian yang tidak sepenuhnya memenuhi kriteria inklusi, yakni studi yang dihentikan sebelum seluruh subyek masuk (interim analysis), studi ini dicoba dikeluarkan dari analisis. Bila hasilnya tetap atau hampir sama, berarti studi yang dihentikan sebelum waktunya itu tidak mempengaruhi hasil secara keseluruhan.

Tujuan Meta-analisis


Tujuan meta-analisis pada umumnya tidak berbeda dengan jenis penelitian klinis lainnya, yaitu:

  • Untuk memperoleh estimasi effect size, yaitu kekuatan hubungan ataupun besarnya perbedaan antar-variabel

  • Melakukan inferensi dari data dalam sampel ke populasi, baik dengan uji hipotesis (nilai p) maupun estimasi (interval kepercayaan)

  • Melakukan kontrol terhadap variabel yang potensial bersifat sebagai perancu (confounding) agar tidak mengganggu kemaknaan statistik dari hubungan atau perbedaan.

Berikut beberapa definisi meta analisis menurut beberapa ahli :

  • Menurut Glass (1981), meta analisis merupakan analisis kuantitatif dan menggunakan sejumlah data yang cukup banyak serta menerapkan metode statistik dengan mempraktekkannya dalam mengorganisasikan sejumlah informasi yang berasal dari sampel besar yang fungsinya untuk melengkapi maksud-maksud lainnya.

  • Menurut Borg (1983), meta analisis merupakan teknik pengembangan paling baru untuk menolong peneliti menemukan konsistensi atau ketidak-konsistenan dalam pengkajian hasil silang dari hasil penelitian sejenis.

  • Menurut Sutjipto (1995), meta analisis sebagai salah satu upaya untuk merangkum berbagai hasil penelitian secara kuantitatif. Dengan kata lain, meta- analisis sebagai suatu teknik ditujukan untuk menganalisis kembali hasil-hasil penelitian yang diolah secara statistik berdasarkan pengumpulan data primer.

  • Menurut Sugiyanto (2004), meta-analisis merupakan studi dengan cara menganalisis data yang berasal dari studi primer. Hasil analisis studi primer dipakai sebagai dasar untuk menerima atau mendukung hipotesis,dan dapat pula digunakan untuk menolak/menggugurkan hipotesis yang diajukan oleh beberapa peneliti.

  • Menurut Barbora (2009), meta analisis merupakan teknik yang digunakan untuk merangkum berbagai hasil penelitian secara kuantitatif dengan cara mencari nilai effect size. Effect size dicari dengan cara mencari selisih rata-rata kelas eksperimen dengan rata-rata kelas control, kemudian dibagi dengan standard deviasi kelas control.

Dengan kata lain, meta-analisis adalah suatu bentuk penelitian kuantitatif yang menggunakan angka-angka dan metode statistik dari beberapa hasil penelitian untuk mengorganisasikan dan menggali informasi sebanyak mungkin dari data yang diperoleh, sehingga mendekati kekomprehensifan dengan maksud-maksud lainnya.

Salah satu syarat yang diperlukan dalam melakukan meta analisis adalah pengkajian terhadap hasil-hasil penelitian yang sejenis.

Meta-analisis lebih tidak bersifat subjektif dibandingkan dengan metode tinjauan lain. Meta analysis tidak fokus pada kesimpulan yang didapat pada berbagai studi, melainkan fokus pada data, seperti melakukan operasi pada variabel- variabel, besarnya ukuran efek, dan ukuran sampel. Untuk mensintesis literatur riset, meta- analisis statistikal menggunakan hasil akhir dari studi-studi yang serupa seperti ukuran efek, atau besarnya efek. Fokus pada ukuran efek dari penemuan empiris ini merupakan keunggulan meta-analisis dibandingkan dengan metode tinjauan literatur lain.

Meta-analisis memungkinkan adanya pengkombinasian hasil-hasil yang beragam dan memperhatikan ukuran sampel relatif dan ukuran efek. Hasil dari tinjauan ini akurat mengingat jangkauan analisis ini yang sangat luas dan analisis yang terpusat. Meta-analisis juga menyediakan jawaban terhadap masalah yang diperdebatkan karena adanya konflik dalam penemuan-penemuan beragam studi serupa.

Kelebihan Meta Analisis


Kelebihan meta analisis antara lain (King & Jun He, 2005):

  1. Meta analisis memungkinkan mengkombinasikan berbagai macam hasil penelitian dengan cara yang kuantitatif,

  2. Mampu menggambarkan hubungan antar penelitian dengan baik sehingga dapat mengatasi adanya perbedaan hasil antar penelitian,

  3. Meta analisis lebih objektif karena fokus pada data sedangkan review literatur lainnya (seperti metode naratif) fokus pada kesimpulan dari berbagai macam studi,

  4. Meta analisis fokus pada effect size,

  5. Meta analisis dilakukan secara kuantitatif, sehingga lebih mudah dilakukan.

Kekurangan Meta Analisis


Kekurangan meta analisis Antara Lain (DeCoster, 2009):

  1. Sampling bias towards empirical studies
    Sampling bias berarti pengambilan sampel yang tidak sesuai karena ketidak seragaman tiap-tiap studi. Pengambilan sampel yang cocok untuk meta- analisis adalah dengan cara survey, laboratorium experiment, dan studi lapangan.

  2. Publication Bias
    Meta analisis menggunakan data yang terdapat dalam penelitian yangtelah terpublikasi sehingga dianggap penelitian tidak representatif karenahasil-hasil pengamatan yang signifikan lebih cenderung dipublikasikandaripada yang tidak signifikan.

  3. Apples and Oranges
    Metode ini bisa dianalogikan seperti membedakan antara buah jeruk dan apel, artinya mengkombinasikan studi yang berbeda dalam analisis yang sama.

  4. Methodological Error
    Kesimpulan yang salah dapat dikarenakan kesalahan yang bersifat metodologi. Dalam melakukan analisis, peniliti sebaiknya melakukan ekstraksi pada data dan statistik yang terdiri dari effect size, ukuran sampel, variabel moderator yang mungkin dan sebagainya.

Tujuan Meta-Analisis


Penelitian meta analisis secara lebih sederhana dan mencakup poin-poin penting dalam pengertian para ahli yang telah dijabarkan adalah sebuah analisis atas analisis, dari sejumlah hasil penelitian dalam masalah sejenis dengan merangkum hasil-hasil penelitian tersebut secara kuantitatif.

Penelitian meta analisis memiliki beberapa tujuan, antara lain :

  1. Untuk menyelesaikan ketidak pastian hasil laporan

  2. Untuk menjawab pertanyaan atau menyelesaikan masalah yang belum dikaji

  3. Untuk menemukan konsistensi atau ketidak-konsistenan suatu penelitian yang sejenis.

  4. Untuk memperoleh estimasi effect size, seberapa kuat hubungan atau seberapa besar perbedaan antar variabel ditiap penelitian.

  5. Melakukan interfensi dari data dalam sample ke dalam populasi, baik dengan hipotesis (anggapan dasar yang masih perlu dibuktikan) maupun dengan melakukan estimasi (perkiraan berdasarkan keadaan-keadaan yang ada).

  6. Melakukan control terhadap variabel yang berpotensi mengacaukan agar tidak mengganggu hubungan atau perbedaan dari penelitian-penelitian yang ada.

Langkah-langkah dalam Meta Analisis


Langkah-langkah dalam melakukan meta analisis secara umum adalah sebagai berikut (DeCoaster, 2009):

  1. Menentukan dan mempelajari topik penelitian yang akan dirangkum,

  2. Mencari dan mengumpulkan sejumlah penelitian dengan topik yang telah ditentukan dan menyeleksinya. Pencarian literatur penelitian dapat dilakukan secara manual ataupun melalui situs-situs internet.

  3. Melakukan perhitungan effect size dengan metode dalam meta analisis dan uji hipotesis terhadap effect size,

  4. Mengidentifikasi ada tidaknya heterogenitas effect size dalam model pada tahap ini, jika teridentifikasi adanya heterogenitas effect size, maka lanjut ke langkah e. Namun, jika tidak teridentifikasi adanya heterogenitas effect size maka menuju ke langkah f.

  5. Analisis variabel moderator

  6. Menarik kesimpulan dan menginterpretasi hasil penelitian meta analisis.

Effect Size


Effect size adalah indeks kuantitatif yang digunakan untuk merangkum hasil studi dalam meta-analisis. Artinya, effect size mencerminkan besarnya hubungan antar variabel dalam masing-masing studi. Pilihan indeks effect size bergantung pada jenis data yang digunakan dalam studi.

Ada empat jenis data dalam penelitian menurut Borenstein, M. et al (2009), yaitu:

  1. Dikotomi
    Pada data yang dibangun secara dikotomi, sepert hidup/mati, sukses/gagal, ya/tidak, maka effect size yang digunakan antara lain relative risk atau risk ratio (RR), odds ratio (OR), atau risk difference (RD).

    Misalkan sebuah meta analisis terdiri dari k penelitian. Penelitianpenelitian tersebut mempunyai variabel hasil dikotomi atau biner.Hasil setiap penelitian dapat dipresentasikan dalam tabel kontingensi 2 x 2. Tabel ini memberikan informasi jumlah partisipan yang terbagi dalam dua grup, yaitu grup eksperimen dan kontrol baik yang mengalami kejadian event maupun tidak no event.

    Tabel Kontigensi 2 x 2 Untuk K Penelitian
    image

    dimana :
    aj = frekuensi event dalam grup eksperimen pada penelitian ke-j
    bj = frekuensi no event dalam grup eksperimen pada penelitian ke-j cj = frekuensi event dalam grup kontrol pada penelitian ke-j
    dj = frekuensi no event dalam grup kontrol pada penelitian ke-j
    n1j = banyaknya partisipan pada grup eksperimen pada penelitian ke-j n2j = banyaknya partisipan pada grup kontrol pada penelitian ke-j m1j = frekuensi event pada penelitian ke-j
    m2j = frekuensi no event pada penelitian ke-j
    nj = banyaknya partisipan pada penelitian ke-j (j = 1, 2, …, k).

  2. Continuous
    Pada data yang dibangun secara kontinu, seperti kehilangan bobot, tekanan darah, maka effect size yang digunakan antara lain mean difference (MD), atau standardized mean difference (SMD).

  3. Time-To-Event Atau Survival Time
    Untuk data jenis ini, misalnya waktu kambuh, waktu sembuh, maka digunakan rasio hazard.

  4. Ordinal
    Sebuah hasil yang dikategorikan berdasarkan kategori tertentu, misal ringan/sedang/berat.