© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Media Convergence?

Media Convergence

Media Convergence atau Konvergensi Media adalah gabungan kata konvergensi dan media. Konvergensi berasal dari Bahasa Inggris, Convergence yang artinya tindakatan/ bersatu di suatu tempat; pemusatan pandangan mata ke suatu tempat yang sangat dekat.

Konvergensi media adalah proses dimana berbagai jenis konten media berkembang menjadi sebuah platform media tunggal melalui internet.

Dengan kata lain, Konvergensi Media dapat diartikan sebagai sumber media yang berbeda bergabung bersama-sama dan menjadi satu. Sebagai contoh jika Anda ingin membaca koran Anda tidak perlu membeli koran dicetak Anda bisa membacanya pada ponsel pintar Anda.

Ini telah secara drastis mengubah cara kita mengkonsumsi media, orang sekarang berpikir dan berperilaku berbeda karena perubahan ini. Perubahan ini disebut determinisme teknologi di mana teknologi sumber utama perubahan dalam masyarakat.

Konvergensi media dilakukan tidak semata-mata hanya untuk mengikuti perkembangan teknologi saja. Saling berintegrasinya media massa konvensional dengan media online, memungkinkan terjadinya perluasan cakupan dalam skala apapun, baik perluasan jaringan, perluasan khalayak hingga perluasan interaksi yang muncul.

Perkembangan media online tidak berhenti pada adanya website saja, kemudian muncul situs jejaring sosial yang ternyata diterima dengan baik oleh masyarakat dunia.

Kebutuhan terhadap interaktivitas komunikasi yang memungkinkan orang untuk berbagi sesuatu tanpa karakteristik delay adalah hal yang menjadi titik lemah teknologi konvensional dan sebaliknya menjadi salah satu dasar berkembangnya tren konvergensi. Konvergensi media membuat khalayak memiliki lebih banyak pilihan media dengan konten yang semakin beragam pula (Grant dan Wilkinson, 2009).

Mario Garcia (2009) memetakan siklus bergerak pada bidang media massa telah melihat peluang bagi penyatuan fungsifungsi dari berbagai domain bisnis yang dimilikinya untuk memfasilitasi tren konvergensi. Perbincangan mengenai surat kabar menarik karena berkaitan dengan perkembangan teknologi analog menjadi digital. Berbagai bentuk media baru menjadi alternatif masyarakat untuk mendapatkan informasi. Fenomena terkini dari perkembangan media yaitu teknologi media yang memungkinkan terjadinya konvergensi teknologi media, telekomunikasi dan komputer (Straubhaar, 2009). Jumlah pengguna komputer dan gadget untuk mengakses internet juga semakin bertambah seiring dengan kemudahan untuk mengaksesnya.

Media yang telah terkonvergen bukan saja berpengaruh pada perkembangan terknologinya saja namun juga berpengaruh terhadap besarnya kepentingan ekonomi politik dalam penerapan konvergensi. Hal ini menimbulkan masalah serius mengingat media dan teknologi kini telah menjadi kebutuhan pokok (primary need) masyarakat modern.

Koran Tribun yang memiliki jaringan terbesar di Indonesia dan telah terkonvergen ini kembali menjadi sangat seksi untuk diteliti lebih lanjut mengingat setiap industri media massa memiliki kepentingan ekonomi politik. Transformasi menuju konvergensi media menjadi sebuah keharusan agar sebuah media cetak tetap dapat bertahan hidup. Pemilihan model transformasi media secara tepat dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi media cetak ikut menentukan tercapainya konvergensi media.

Gerakan konvergensi media tumbuh secara khusus dari munculnya Internet dan digitalisasi informasi. Konvergensi media ini menyatukan 3C yaitu computing (memasukkan data melalui komputer), communication (komunikasi), dan content
(materi isi/ konten). Teori konvergensi media yang diteliti oleh Henry Jenkins pada tahun 2006, menyatakan bahwa konvergensi media merupakan proses yang terjadi sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat. Konvergensi media membutuhkan
perubahan hubungan antara semua pemangku kepentingan dalam sektor media: industri, teknologi, audiens, dan pasar. Dengan kata lain, konvergensi media mengubah dua aspek utama media:

  • bagaimana media beroperasi (secara rasional), dan
  • bagaimana konsumen media mengakses konten.

Esensi dari konvergensi dalam hal ini adalah penyatuan antara teknologi informasi dan komunikasi. Konvergensi memungkinkan dinikmatinya berbagai macam layanan seperti layanan penyiaran, telekomunikasi dan internet dalam satu perangkat terpadu. Menurut Mc Chesney dan Herman onvergensi penting dilihat dari dua sisi, pertama, pertumbuhan dan perkembangan sektor informasi komunikasi pada level global dimana banyak perusahaan besar dunia yang menguasai pasar jatuh ke model konvergensi dimana sebagian dari jumlah tersebut memilih sektor komunikasi untuk dikembangkan. Kedua munculnya ketidakpastian pasar akibat trend konvergensi. Ketidakpastian tersebut didorong oleh banyaknya proses akuisisi dan merger, usaha patungan dan aliansi yang ditempuh sebagai cara untuk bertahan dalam kompetisi dan untuk meningkatkan penghasilan di sektor baru (Chesney dan Herman: 1997).

Dailey, Demo, dan Spillman (2005) mendefinisikan lima tahap aktivitas dalam konvergensi berdasarkan tingkat partisipasinya yang lebih dikenal dengan sebutan convergence continum, yaitu:

  • Cross-promotion, berarti kerja sama di antara dua media untuk saling
    memberikan ruang untuk memperkenalkan konten media satu sama lain.

  • Cloning, yaitu ketika konten media diperbanyak untuk dimuat di media lainnya. Artinya, satu media menampilkan konten berita dari ruang berita media lain apa adanya tanpa perubahan.

  • Coopetition yaitu tahap ketika entitas media yang terkonvergensi saling bekerja sama dan berkompetisi di saat yang bersamaan.

  • Content Sharing yang memungkinkan kedua media yang berlainan saling berbagi konten dalam bentuk pengemasan ulang (repackaged) atau bahkan termasuk berbagi budgeting. Konvergensi media dalam tahap ini sebagian besar dilakukan oleh media yang berada di bawah satu kepemilikan.

  • Full Convergence, yaitu ketika media yang berbeda bekerja sama secara penuh, baik dalam hal pengumpulan, produksi, dan distribusi konten, dan bertujuan untuk memaksimalkan keunikan karakteristik masing-masing media untuk menyampaikan konten. Dalam tahap full convergence, media yang bekerja sama menghasilkan konten dan topik secara kolaboratif dengan memanfaatkan kekuatan platform media masing-masing. Tahap full convergence ini jarang ditemui penerapannya di berbagai grup media.