Apa yang dimaksud dengan masalah sosial?

masalah sosial

Masalah Sosial adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan atau sebagai kesenjangan antara situasi yang ada dengan situasi yang seharusnya (Jenssen, 1992). Masalah sosial dipandang oleh sejumlah orang dalam masyarakat sebagai sesuatu kondisi yang tidak diharapkan. Banyak sekali masalah sosial saat ini,namun apa sebenarnya pengertian dari masalah sosial tersebut ?

Yang dimaksud dengan masalah sosial adalah suatu kondisi yang terlahir dari sebuah keadaan masyarakat yang tidak ideal, atau definisi masalah sosial yaitu keditaksesuaian unsur-unsur masyarakat yang dapat membahayakan kehidupan kelompok sosial. Masalah sosial merupakan suatu kondisi yang dapat muncul dari keadaan masyarakat yang kurang atau tidak ideal, maksudnya selama terdapat kebutuhan dalam masyarakat yang tidak terpenuhi secara merata maka masalah sosial akan tetap selalu ada didalam kehidupan.

Sumber : http://www.pengertianku.net/2015/08/pengertian-masalah-sosial-dan-contohnya-maupun-penyebabnya.html

Ditinjau dari paradigma ilmu-ilmu sosial — sosiologi misalnya — pengertian masalah sosial hingga saat ini masih lazim digunakan untuk menunjuk suatu masalah yang tumbuh dan/atau berkembang dalam kehidupan komunitas, di mana masalah itu dianggap kurang atau bahkan tidak sesuai dengan nilai-nilai dan/atau norma-norma sosial dalam komunitas tersebut.

Tumbuh dan/atau berkembangnya suatu masalah sosial sangat tergantung pada dinamika proses perkembangan komunitas itu sendiri. Ketika suatu komunitas mengalami proses perkembangan, baik karena adanya faktor-faktor dari luar komunitas, karena adanya faktor-faktor dari dalam komunitas itu sendiri, maupun ad anya proses deferensiasi struktural dan kultural, biasanya komunitas tersebut akan selalu mengalami goncangan, apalagi jika faktor-faktor perubahan itu datangnya sangat cepat.

Dalam situasi seperti ini, tidak semua anggota komunitas siap dalam menerima perubahan itu. Misalnya, ada anggota komunitas yang sangat siap, cukup siap dan bahkan sama sekali tidak siap dalam menerima perubahan itu. Adanya perbedaan dalam kesiapan menerima perubahan itulah, yang biasanya menjadi faktor pemicu tumbuh dan/atau berkembangnya suatu masalah-masalah sosial. Lihatlah, bagaimana timbulnya pro dan kontra tentang pornografi dan pornoaksi dalam liputan media massa yang merebak akhir-akhir ini!

Dalam konteks ini, tolok-ukur suatu masalah layak disebut sebagai masalah sosial atau tidak, akan sangat ditentukan oleh nilai -nilai dan/atau norma-noma sosial yang berlaku dalam komunitas itu sendiri. Oleh karena itu, pernyataan sesuai atau tidaknya suatu masalah itu dengan nilai-nilai dan/atau norma-norma sosial harus dikemukakan ol eh sebagian besar (mayoritas) dari anggota komunitas.

Konsep tentang Masalah Sosial


Secara sederhana, konsep masalah sosial seringkali dikaitkan dengan masalah yang tumbuh dan/atau berkembang dalam kehidupan komunitas. Apa pun masalah itu — pokoknya jika berada dalam kehidupan suatu komunitas — akan selalu dikatakan sebagai masalah sosial. Benarkah ? Jika ditinjau dari dimensi sosiologi — sebagai sebuah ilmu sosial yang selama ini sering menganalisis, mensintesis dan juga memprognosis berbagai masalah sosial — pernyataan itu salah.

Dalam perspektif sosiologi, tidak semua masalah yang tumbuh dan/atau berkembang dalam kehidupan suatu komunitas adalah masalah sosial. Istilah sosial di sini tidaklah identik dengan komunitas, namun hanya menunjukkan bahwa masalah itu berkaitan dengan tata interaksi, interelasi, dan interdependensi antar anggota komunitas. Dengan kata lain, istilah sosial dalam masalah sosial menunjukkan bahwa masalah itu berkaitan dengan perilaku masyarakat.

Oleh karena itu, jika ditinjau secara teoritik, ada banyak faktor penyebab terhadap tumbuh dan/atau berkembangnya suatu masalah sosial. Secara umum, faktor penyebab itu meliputi faktor struktural, yaitu pola-pola hubungan antar-individu dalam kehidupan komunitas; dan faktor kultural, yaitu nilai-nilai yang tumbuh dan/atau berkembang dalam kehidupan komunitas. Adanya perubahan atas kedua faktor itulah, yang selama ini diteorikan sebagai faktor penyebab utama munculnya suatu masalah sosial.

Logika teoritisnya adalah: ketika terjadi perubahan pola -pola hubungan sosial dan/atau perubahan nilai-nilai sosial, maka sebagian anggota komunitas akan ada yang sangat siap, cukup siap dan bahkan sama sekali tidak siap dalam menerima perubahan itu. Kesiapan dan/atau ketidaksiapan itulah yang kemudian menyebabkan perbedaan mereka dalam melakukan adaptasi dengan lingkungan sosialnya. Jika mereka yang tidak siap menerima perubahan itu justru sebagian besar (mayoritas) anggota komunitas, maka muncullah masalah sosial itu.

Kata kuncinya dalam konteks ini adalah adaptasi sosial yang dilakukan individu. Berikut ini akan dikemukakan berbagai cara adaptasi terhadap lingkungan sosial yang bisa dipilih individu, ketika ia menerima perubahan baik secara struktural maupun kultural, sebagaimanaditeorikansecara klasikoleh Robert K. Merton(1961).

Keterangan:

  • Tanda + berarti menerima perubahan nilai-nilai dan cara-cara yang dilem-bagakan
  • Tanda - berarti menolak perubahan nilai -nilai dan cara-cara yang dilem-bagakan
  • Tanda +/- berarti menolak dan menghendaki nilai -nilai dan cara-cara baru yang dilembagakan

Berdasarkan tabel tersebut, maka conformity berarti individu menerima perubahan nilai -
nilai kultural (cultural goals) dan menerima cara-cara yang dilembagakan (institutionalized means). Innovation berarti individu hanya menerima perubahan nilai -nilai kulturalnya saja. Ritualism berarti individu hanya menerima perubahan cara-cara yang dilembagakan saja. Retreatism berarti individu sama sekali tidak menerima perubahan apa pun. Dan rebellion berarti individu tidak menerima perubahan, namun sekaligus menginginkan adanya nilai -nilai dan cara- cara baru yang dilembagakan.

masalah sosial

Fokus Analisis


Fokus analisis terhadap masalah-masalah sosial akan sangat tergantung pada ruang lingkup dari masalah sosial itu sendiri. Artinya, dalam kenyataannya, ada masalah sosial yang ruang lingkupnya kecil, lumayan besar atau sangat besar. Oleh karena itu, untuk menentukan apa fokus analisis terhadap masalah-masalah sosial tersebut, lebih dulu harus dilihat beberapa indikator berikut ini.

  1. Dengan melihat angka rata-rata pertumbuhan dan/atau perkembangan dari masalah tersebut, terutama dalam kurun waktu tertentu.
  2. Dengan mencermati gabungan angka rata -rata itu dalam berbagai kasus.
  3. Dengan mencermati terganggunya hubungan -hubungan sosial antar-lapisan, antar-kelompok maupun antar-golongan dalam suatu komunitas.
  4. Dengan mencermati terganggunya partisipasi anggota suatu komunitas dalam suatu kegiatan sosial.
  5. Dengan mencermati adanya keresahan sosial dalam suatu komunitas.

Tentu saja untuk mengetahui apakah kelima indikator tersebut menggejala atau tidak dalam suatu komunitas, harus didukung oleh data, fakta atau informasi empiris yang benar -benar valid dan realible.

Mengapa ?

Karena masalah sosial adalah masalah yang benar -benar riil yang dihadapi oleh komunitas itu sendiri, dan bukan dihadapi oleh orang yang berada di luar komunitas. Karena itu dalam berbagai kasus, fokus analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu masalah sosial adalah kelompok. Kelompok di sini bisa berupa kelompok kecil (misalnya, terdiri dari komunitas se-Desa atau se-Kelurahan), kelompok agak besar (misalnya, terdiri dari komunitas se-Kabupaten atau se-Kota), atau kelompok besar (misalnya, terdiri dari masyarakat se-Bangsa atau se-Negara).

Namun, apa pun kriteria dari besar atau kecilnya kelompok tersebut, semua akan tergantung kepada sejauh mana ikatan nilai-nilai dan norma-norma sosial masih menjadi acuan dari kelompok tersebut dan apakah nilai -nilai dan norma-norma sosial tersebut masih digunakan secara efektif oleh kelompok sebagai instrumen pengendali dalam kehidupankomunitasnya.

Implikasi-implikasi


Jika dicermati secara teoritis dan empiris, berbagai implikasi akan dengan sendirinya muncul sebagai akibat dari adanya suatu masalah sosial dalam suatu komunitas.

  1. Akan terjadi konflik dalam komunitas, baik konflik yang menyangkut struktur mau pun kultur atau konflik antara das sein dan das sollen.

  2. Akan menyebabkan terjadinya perubahan sosial dalam komunitas, baik perubahan yang menyangkut sistem, struktur maupun kultur itu sendiri.

  3. Akan menyebabkan terjadinya polarisasi sosial di mana m asing-masing komponen dalam komunitas saling terpisah satu sama lain.

  4. Akan menyebabkan terjadinya disintegrasi sosial di mana masing -masing komponen dalam komunitas mengalami disfungsi.

  5. Akan menyebabkan munculnya kasus -kasus lain sebagai akibat dari adanya kesenjangan antara cultural goals dan institutionalized means sebagaimana telah dikemukakan di muka.

Untuk mencari bagaimana solusi terbaiknya dalam mengatasi suatu masalah sosial yang tumbuh dan/atau berkembang dalam suatu komunitas memang tidaklah mudah, karena apapun solusi itu semuanya akan tetap tergantung pada apa akar penyebabnya. Ditinjau secara metodologis, untuk mencari apa akar penyebab dari suatu masalah sosial biasanya dengan melakukan penelitian secara empiris, baik dalam skala mikro maupun makro.

Penelitian secara mikro misalnya, dilakukan dengan cara melakukan suatu studi kasus. Sedangkan penelitian secara makro, dilakukan dengan cara melakukan survai terhadap suatu masalah sosial. Namun, apa pun skala penelitian yang di-lakukan, semuanya itu akan berupaya untuk menemukan apa akar penyebab dari suatu masalah sosial. Berbagai kegagalan — atau setidak-tidaknya disebut sebagai kurang efektifnya dalam mengatasi suatu masalah sosial — biasanya dikarenakan kurangnya pemahaman secara empiris tentang dinamika perkembangan suatu komunitas.

Sumber : Doddy Sumbodo Singgih, Masalah-masalah sosial di Indonesia: Pemahaman Konsep, Fokus Analisis, Skema Hubungan antar-variabel dan Metode Analisis, Universitas Airlangga.