© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan manajemen laba?

manajemen laba

Apa yang dimaksud dengan manajemen laba ?

berikut ini merupakan pengertian dari manajemen laba:

  • Menurut Nuryaman (2008) Manajemen laba merupakan suatu kondisi dimana manajeme melakukan intervensi proses penyusunan laporan keuangan bagi pihak eksternal sehingga dapat meratakan, menaikan dan menurunkan pelaporan laba.

  • Manajemen laba adalah tindakan-tindakan manajer untuk menaikan atau menurunkan laba periode berjalan dari sebuah perusahaan yang dikelolanya tanpa menyebabkan kenaikan atau penurunan keuntungan ekonomi perusahaan jangka panjang. Menurut Iqbal (2007) manajemen laba adalah tindakan manajemen dalam proses penyusunan laporan keuangan untuk mempengaruhi tingkat laba yang ditampilkan.

  • Sedangkan manajeman laba merupakan suatu intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses pelaporan keuangan eksternal dengan sengaja untuk memperoleh beberapa keuntungan pribadi (Ujiyanto, 2007).

  • Dengan kata lain manajemen laba adalah aktivitas manajemen manajerial untuk mempengaruhi dan mengintervensi laporan keuangan (Sulistyanto, 2008).

  • Widyaningdyah (2001) mendefinisikan manajemen laba adalah tindakan manajer untuk meningkatkan atau mengurangi laba yang dilaporkan tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomi jangka panjang unit tersebut.

Menurut Theresia (2005), manajemen laba merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja perusahaan. Manajemen akan memilih metode tertentu untuk mendapatkan laba yang sesuai dengan motivasinya. Hal ini akan mempengaruhi kualitas kinerja yang dilaporkan oleh manajemen (Gideon, 2005).

Manajemen laba ( earnings management ) merupakan fenomena yang sukar untuk dihindari, karena fenomena ini merupakan dampak dari penggunaan dasar akrual dalam penyusunan laporan keuangan. Praktek manajemen laba tidak hanya berkaitan dengan motivasi individu manajer, tetapi bisa juga untuk kepentingan perusahaan.

Menurut Schipper dalam Gumanti (2001), pengertian manajemen laba adalah sebagai berikut “Earnings Management is disclosure management in the sense of purposeful intervention in external reporting process, with intent of obtaining some private gain”.

Menurut Sulistyanto (2008), pengertian manajemen laba adalah “Upaya manajer perusahaan untuk mengintervensi atau mempengaruhi informasi-informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan”.

Menurut Subramanyam dan Wild (2010) yaitu sebagai berikut “Manajemen kosmetik laba merupakan hasil dari kebebasan dalam aplikasi akuntansi akrual yang mungkin terjadi”.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa manajemen laba merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh manajer dengan cara memanipulasi data atau informasi akuntansi agar jumlah laba yang tercatat dalam laporan keuangan sesuai dengan keinginan manajer, baik untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan perusahaan.

Klasifikasi Manajemen Laba

Klasifikasi manajemen laba menurut Sastradipraja (2010), adalah sebagai berikut:

  1. Cosmetic Earnings Management

    Cosmetic earnings management terjadi jika manajer memanipulasi akrual yang tidak memiliki konsekuensi cash flow. Teknik ini merupakan hasil dari kebebasan dalam akuntansi akrual. Akuntansi akrual membutuhkan estimasi dan pertimbangan ( judgement ) yang mengakibatkan manajer memiliki kebebasan dalam menetapkan kebijakan akuntansi. Meskipun kebebasan ini memberikan kesempatan bagi manajer untuk menyajikan gambaran aktivitas usaha perusahaan yang lebih informatif, namun kebebasan ini juga memungkinkan mereka mempercantik laporan keuangan ( window-dress financial statement ) dan mengelola earnings.

  2. Real Earnings Management

    Real earning management terjadi jika manajer melakukan aktivitas dengan konsekuensi cash flow. Real earnings management lebih bermasalah dibandingkan dengan cosmetic earnings management, karena mencerminkan keputusan usaha yang sering kali mengurangi kekayaan pemegang saham.

Strategi Manajemen Laba

Menurut Subramanyam dan Wild (2010), terdapat tiga jenis strategi manajemen laba, yaitu sebagai berikut:

  1. Meningkatkan Laba

    Salah satu strategi manajemen laba adalah meningkatkan laba yang dilaporkan pada periode kini untuk membuat perusahaan dipandang lebih baik. Cara ini juga memungkinkan peningkatan laba selama beberapa periode. Pada skenario pertumbuhan, akrual pembalik lebih kecil dibandingkan akrual kini, sehingga dapat meningkatkan laba. Kasus yang terjadi adalah perusahaan melaporkan laba yang lebih tinggi berdasarkan manajemen laba yang agresif sepanjang periode waktu yang panjang. Selain itu, perusahaan dapat melakukan manajemen laba untuk meningkatkan laba selama beberapa tahun dan membalik akrual sekaligus pada satu saat pembebanan. Pembebanan satu saat ini sering kali dilaporkan “dibawah laba bersih” ( below the line ), sehingga dipandang tidak terlalu relevan.

  2. Big Bath

    Strategi big bath dilakukan melalui penghapusan ( write-off ) sebanyak mungkin pada satu periode. Periode yang dipilih biasanya periode dengan kinerja yang buruk (seringkali pada masa resesi dimana perusahaan lain juga melaporkan laba yang buruk) atau peristiwa saat terjadi satu kejadian yang tidak biasa seperti perubahan manajemen, merger, atau restrukturisasi. Strategi big bath juga sering kali dilakukan setelah strategi peningkatan laba pada periode sebelumnya. Oleh karena sifat big bath yang tidak biasa dan tidak berulang, pemakai cenderung tidak memperlihatkan dampak keuangannya. Hal ini memberikan kesempatan untuk menghapus semua dosa masa lalu dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan laba di masa depan.

  3. Perataan Laba

    Perataan laba merupakan bentuk umum manajemen laba. Pada strategi ini, manajer meningkatkan atau menurunkan laba yang dilaporkan untuk mengurangi fluktuasinya. Perataan laba juga mencakup tidak melaporkan bagian laba pada periode baik dengan menciptakan cadangan atau “bank” laba dan kemudian melaporkan laba ini saat periode buruk.

Salah satu ukuran kinerja perusahaan yang sering digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan bisnis adalah laba yang dihasilkan perusahaan. Informasi laba sebagaimana dinyatakan dalam Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) Nomor 2 merupakan unsur utama dalam laporan keuangan dan sangat penting bagi pihak-pihak yang menggunakannya karena memiliki nilai prediktif. Hal tersebut membuat pihak manajemen berusaha untuk melakukan manajemen laba agar kinerja perusahaan tampak baik oleh pihak eksternal.

Manajemen laba ( earning management ) didefinisikan oleh beberapa peneliti akuntansi secara berbeda-beda sbb :

Widyaningdyah (2001) membagi definisi manajemen laba menjadi dua yaitu:

  • Definisi sempit Earning management dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Earning management dalam artian sempit ini didefinisikan sebagai perilaku manager untuk “bermain” dengan komponen discretionary accruals dalam penentuan besarnya laba.

  • Definisi luas Earning management merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas unit dimana manager bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut.

Healy dan Wahlen (1999) memberikan definisi manajemen laba yang ditinjau dari sudut pandang penetap standar, yaitu manajemen laba terjadi ketika para manajer menggunakan keputusan tertentu dalam pelaporan keuangan dan mengubah transaksi untuk mengubah laporan keuangan sehingga menyesatkan stakeholder yang ingin mengetahui kinerja ekonomi yang diperoleh perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil kontrak yang menggunakan angka-angka akuntansi yang dilaporkan itu.

Schipper (1989) mengartikan manajemen laba dari sudut pandang fungsi pelaporan pada pihak eksternal, sebagai disclosure management , dalam pengertian bahwa manajemen melakukan intervensi terhadap proses pelaporan keuangan kepada pihak eksternal dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Menurut Assih dan Gundono (2000:) mengartikan manajemen laba sebagai suatu proses yang dilakukan dengan sengaja dalam batasan General Accepted Accounting Pincipples (GAAP) untuk mengarah pada suatu tingkat yang diinginkan atas laba yang dilaporkan.

Meskipun sudut pandang definisi manajemen laba yang telah dikemukakan oleh beberapa peneliti akuntansi berbeda, namun pada dasarnya definisi manajemen laba yang dikemukakan mengarah pada perspektif opportunist .

Scott (2000) membagi cara pemahaman atas manajemen laba menjadi dua.

  • Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak uang, dan political cost ( opportunistic Earnings Management ).

  • Kedua, memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting ( efficient Earning Management ), dimana manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak- pihak yang terlibat dalam kontrak.

Dengan demikian manajer dapat mempengaruhi nilai pasar saham perusahaannya melakukan manajemen laba, misalnya dengan membuat perataan laba dan pertumbuhan laba sepanjang waktu. Selain itu, dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa manajemen laba yang dilakukan oleh manajer tidak hanya dengan cara memaksimalkan laba tetapi juga dengan meminimalkan laba.

Pengertian Manajemen Laba


Manajemen laba merupakan campur tangan manajemen dalam penyusunan dan pelaporan laporan keuangan perusahaan untuk mencapai tingkat laba tertentu (Siallagan, 2009). Belkaoui (2006) mengungkapkan bahwa manajemen laba adalah suatu kemampuan untuk memanipulasi pilihan-pilihan yang tersedia dan mengambil pilihan yang tepat untuk dapat mencapai tingkat laba yang diharapkan. Belkaoui (2006) juga mengungkapkan bahwa para manajer memiliki fleksibilitas untuk memilih di antara beberapa alternatif dalam mencatat transaksi sekaligus memilih opsi yang ada dalam perlakuan akuntansi yang sama.

Schipper (1989) dalam Belkaoui (2006) melihat manajemen laba sebagai suatu intervensi yang sengaja diproses pada pelaporan eksternal dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Schipper juga melihat manajemen laba baik dari sudut pandang laba ekonomi (nyata) ataupun dari sudut pandang informasional. Sudut pandang laba mengasumsikan adanya eksistensi dari suatu laba ekonomi yang nyata didistribusikan dengan menggunakan manajemen laba yang disengaja dan atau menggunakan kesalahan-kesalahan pengukuran yang terdapat dalam aturan-aturan akuntansi, dan sudut pandang laba yang kedua mengasumsikan adanya pendapatan yang kacau dan belum dikelola yang diperoleh dari properti-properti baru manajemen laba baik dilihat dari jumlah, bias atau variansnya. Sedangkan sudut pandang informasional mengasumsikan bahwa pendapatan adalah salah satu sinyal yang digunakan untuk pertimbangan dan pengambilan keputusan dan asumsi kedua menyatakan bahwa para manajer memiliki informasi pribadi yang dapat mereka gunakan ketika mereka memilih unsur-unsur dalam GAAP terhadap berbagai kumpulan kontrak yang akan menentukan pembicaraan dan perilaku mereka.

Schipper (1989:92) dalam Pramerina (2009) mengungkapkan juga bahwa manajemen laba sebagai manajemen pengungkapan dalam pengertian intervensi dengan maksud tertentu dalam proses pelaporan eksternal, untuk memperoleh keuntungan pribadi atau perusahaan. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa earnings management senantiasa disangkut-pautkan dengan upaya manajemen untuk memodifikasi pendapatan atau laba dengan tujuan untuk kepentingan individual maupun untuk kepentingan perusahaan dimata para investor.

Manajemen laba dapat dikatakan sebagai perilaku manajer untuk bermain-main dengan komponen akrual yang discretionary untuk menentukan besar kecilnya laba, sebab standar akuntansi memang menyediakan berbagai alternatif metode dan prosedur yang bisa dimanfaatkan. Upaya ini diakui dan diperbolehkan dalam standar akuntansi selama apa yang dilakukan perusahaan diungkapkan secara jelas dalam laporan keuangan. Meskipun kewajiban untuk mengungkapkan semua metode dan prosedur akuntansi ini belum mampu untuk mengeliminasi upaya-upaya curang manajer untuk memaksimalkan keuntungan untuk pribadinya sendiri (Sulistyanto, 2008).

Fisher dan Rosenzweig (1995) dalam Sulistyanto (2008) mengatakan manajemen laba adalah tindakan-tindakan manajer untuk menaikkan atau menurunkan laba periode berjalan dari sebuah perusahaan yang dikelolanya tanpa menyebabkan kenaikan atau penurunan keuntungan ekonomi perusahaan jangka panjang.

Lewitt (1998) dalam Sulistyanto (2008) berpendapat bahwa manajemen laba adalah fleksibilitas akuntansi untuk menyetarafkan diri dengan inovasi bisnis. Penyalahgunaan laba ketika publik memanfaatkan hasilnya. Penipuan mengaburkan volatilitas keuangan sesungguhnya. Itu semua untuk menutupi konsekuensi dari keputusan-keputusan manajer.

Healy dan Wahlen (1999) dalam Belkaoui (2006) mengemukakan manajemen laba terjadi ketika para manajer menggunakan pertimbangan mereka dalam pelaporan keuangan dan sturktur transaksi dalam mengubah laporan keuangan dengan tujuan menyesatkan beberapa pemangku kepentingan mengenai kondisi kinerja ekonomi perusahaan atau untuk memengaruhi hasil- hasil kontraktual yang bergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan.

Manajemen laba adalah campur tangan dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri. Manajemen laba merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan, manajemen laba menambah bias dalam laporan keuangan dan dapat mengganggu pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa menurut Setiawati dan Na’im (2000) dalam Rahmawati (2006).

Sulistyanto (2008) mengungkapkan bahwa kebebasan manajer untuk memilih dan menggunakan standar akuntansi serta ketidaktahuan stakeholder terhadap informasi yang diungkapkan dalam catatan kaki itulah yang mendorong perilkau oportunitis seorang manajer. Kedua hal itu dimanfaatkan manajer untuk mengoptimalkan kepentingan dan kesejahteraannya. Semua keputusan manajerial yang seharusnya diambil untuk kepentingan dan kesejahteraan stakeholder diselewengkan untuk kepentingan pribadi. Hal ini disebabkan adanya kesenjangan informasi antara manajer dengan stakeholder. Manajer sebagai pengelola perusahaan cenderung lebih menguasai informasi mengenai perusahaan dibandingkan pihak lain.

Motivasi Manajemen Laba


Sulistyanto (2008) mengungkapkan ada tiga hipotesis dalam teori akuntansi positif yang dipergunakan untuk menguji perilkau etis seseorang dalam mencatat transaksi dan menyusun laporan keuangan, antara lain sebagai berikut:

  • Bonus plan hypothesis,
    Menyatakan bahwa rencana bonus atau kompensasi manajerial akan cenderung memilih dan menggunakan metode-metode akuntansi yang akan membuat laba yang dilaporkannya menjadi lebih tinggi. Konsep ini membahas bahwa bonus yang dijanjikan pemilik perusahaan kepada manajer tidak hanya memotivasi manajer untuk bekerja dengan lebih baik, tetapi juga memotivasi manajer untuk melakukan kecurangan manajerial. Agar selalu bisa mencapai tingkat kinerja yang memberikan bonus, manajer mempermainkan besar kecilnya angka-angka akuntansi dalam laporan keuangan sehingga bonus selalu didapatkan manajer setiap tahunnya. Hal ini yang menyebabkan pemilik perusahaan mengalami kerugian ganda, yaitu pertama perusahaan memperoleh informasi palsu dan perusahaan pun harus mengeluarkan sejumlah bonus untuk sesuatu yang tidak semestinya.

  • Debt equity hypothesis,
    Menyatakan bahwa perusahaan yang mempunyai rasio antara utang dan ekuitas lebih besar, cenderung memilih dan menggunakan metode-metode akuntansi dengan laporan laba yang lebih tinggi serta cenderung melanggar perjanjian utang apabila ada manfaat dan keuntungan tertentu yang dapat diperolehnya. Keuntungan tersebut berupa permainan laba agar kewajiban utang-piutang dapat ditunda untuk periode berikutnya sehingga semua pihak yang ingin mengetahui kondisi perusahaan yang sesungguhnya memperoleh informasi yang keliru dan membuat keputusan bisnis menjadi keliru pula. Akhirnya, terjadi kesalahan dalam mengalokasikan sumber daya.

  • Political cost hypothesis,
    Menyatakan bahwa perusahaan cenderung memilih dan menggunakan metode-metode akuntansi yang dapat memperkecil atau memperbesar laba yang dilaporkannya. Konsep ini membahas bahwa manajer perusahaan cenderung melanggar regulasi pemerintah, seperti perundang- undangan perpajakan, apabila ada manfaat dan keuntungan tertentu yang dapat diperolehnya. Manajer akan mempermainkan laba agar kewajiban pembayaran tidak terlalu tinggi sehingga alokasi laba sesuai dengan kemauan perusahaan.

Selain tiga hipotesis diatas, Sulistyanto (2008) juga mengungkapkan ada motivasi lain yang mendasari perilaku manajemen laba, antara lain sebagai berikut:

  • Motivasi pasar modal
    Dalam teori manajemen modern dijelaskan pentingnya pemisahan dan kepemilikan perusahaan. Tujuannya, agar perusahaan dikelola secara profesional oleh orang yang memahami bagaimana menjalankan sebuah perusahaan dengan baik. Pemilik membutuhkan bantuan orang lain yang mempunyai kemampuan untuk menjalankan fungsi yang seharusnya dilakukannya. Tuntutan pemisahan kepemilikan dan kepengelolaan ini semakin kencang untuk perusahaan publik atau perusahaan yang telah melepaskan sebagian sahamnya ke publik, sebab dalan perusahaan publik tidak ada lagi pemilik tunggal. Sebagai perusahaan dengan kepemilikan terbuka maka kepemilikan dibagi-bagi untuk siapapun yang memegang saham perusahaan bersangkutan. Setiap pemegang saham menjadi mempunyai hak suara untuk menentukan siapa yang harus mengelola dan membuat kebijakan dasar perusahaan.

    Ada alasan penting mengapa pemegang saham mayoritas tidak menjalankan perusahaan secara langsung. Sebagai perusahaan dengan kepemilikan terbuka, maka integritas dan kredibilitas perusahaan merupakan kunci utama diterima tidaknya saham perusahaan itu oleh publik. Penilaian ini juga mencakup apakah perusahaan telah dikelola mengikuti kaidah-kaidah bisnis atau tidak, termasuk apakah perusahaan dikelola oleh orang-orang yang hanya mewakili kepentingan pemegang saham mayoritas atau tidak. Publik cenderung akan memilih perusahaan-perusahaan yang dikelola oleh para profesional yang integritas dan kredibiltas telah teruji.

    Inilah yang mengakibatkan pemegang saham mayoritas menyerahkan pengelolaan perusahaan ke pihak lain. Meski pemegang saham ini tetap bisa memengaruhi dan mengintervensi keputusan dan kebijakan manajerial perusahaan. Secara konseptual, pemisahan ini mendorong terjadinya asimetri informasi antara manajer perusahaan dengan pihak eksternal yang tidak mempunyai akses dan sumber informasi yang memadai. Sebagai pihak yang menguasai informasi lebih banyak dibandingkan dengan pihak lain, manajer akan berperilaku oportunitis, yaitu mendahulukan kepentingan pribadinya diatas kepentingan pihak lain. Kewajiban manajer sebagai pengelola perusahaan untuk mengungkapkan semua informasi mengenai apa yang dilakukan dan dialaminya kedalam laporan keuangan dimanfaatkan untuk keuntungan pribadi. Laporan keuangan yang seharusnya menginformasikan nilai dan kondisi fundamental perusahaan, malah digunakan untuk kepentingan pribadi. Hal ini dilakukan dengan menyembunyikan, menunda pengungkapan, atau mengubah informasi fundamental menjadi informasi palsu pada saat perusahaan akan melakukan suatu transaksi tertentu.

  • Penawaran saham perdana
    Penawaran saham perdana atau initial public offerings (IPO) merupakan penawaran saham suatu perusahaan private untuk pertama kalinya kepada publik. Sebagai perusahaan private maka seluruh kepemilikan perusahaan itu dimiliki dan dikuasai oleh orang, keluarga atau kelompok tertentu, sehingga perusahaan semacam ini seringkali disebut sebagai perusahaan keluarga atau perusahaan tertutup. Perusahaan cenderung menginformasikan hal-hal yang positif agar investor juga secara positif merespon saham yang ditawarkan. Manajer akan menyembunyikan, menunda atau mengubah informasi yang dapat membuat investor mempunyai persepsi negatif terhadap perusahaan sebab hal ini akan mengakibatkan harga saham perusahaan bersangkutan jatuh. Inilah sebabnya mengapa manajer melakukan manajemen laba pada saat penawaran saham pperdana. Perusahaan memiliki dorongan untuk melakukan manajemen laba yang dapat meningkatkan penerimaan melalui pengaturan tingkat laba yang dilaporkan dalam prospektus. Perusahaan melaporkan labanya lebih tinggi dibandingkan laba sesungguhnya ketika penawaran itu.

    Meski perusahaan mempunyai keleluasaan untuk merekayasa informasi-informasi yang disampaikannya kepada publik, upaya ini tidak mungkin dilakukan secara terus menerus. Sebagai sebuah informasi mengenai kinerja yang berisi angka- angka akuntansi maka upaya untuk menyembunyikan, menunda atau memalsukan informasi sebenarnya hanyalah merupakan upaya untuk mengundur pengakuan atau pencatatan suatu transaksi atau peristiwa. Atau dengan kata lain, upaya-upaya seperti ini hanyalah permainan diatas kertas belaka.

  • Motivasi kontraktual
    Profesionalisme pengelolaan perusahaan akan muncul seandainya setiap pihak menjalankan perannya masing-masing tanpa mengintervensi kepentingan pihak lain. Sebaliknya, permasalahan agensi akan muncul seandainya ada pihak yang mendahulukan kepentingan pribadi dengan mengintervensi pihak lain. Permasalahan inilah yang memicu konflik kepentingan antara manajer dan pemilik perusahaan. Manajer cenderung selalu berusaha memaksimalkan kepentingan pribadinya dari hubungan bisnis yang dijalin dengan pihak lain. Hubungan bisnis yang seharusnya dijalin dengan dasar saling menguntungkan semua pihak malah dimanfaatkan manajer untuk mencari kepentingan serta keuntungan pribadi. Upaya mencari keuntungan pribadi ini bisa dilakukan manajer sebab kesuperiorannya dalam menguasai informasi mengenai perusahaan dibandingkan dengan pihak lain. Sebagai pengelola perusahaan, manajer mangetahui dan menguasai seluruh informasi mengenai perusahaan, baik informasi bagus maupun buruk. Hal ini mendorong manajer bersikap oportunitis dengan hanya mempublikasikan informasi-informasi yang memberi manfaat bagi dirinya.

    Informasi yang kurang menguntungkan bagi dirinya jika diketahui orang lain tidak akan dipublikasikan kepada publik. Hingga manajer akan memilih mana informasi yang harus disembunyikan, ditunda publikasinya, maupun diubah sesuai dengan kepentingan yang ingin dicapainya. Akibatnya, informasi yang disampaikan kepada pihak lain menjadi tidak mencerminkan nilai perusahaan yang sesungguhnya.

Teknik Manajemen Laba


Tearney, dkk (2006) dalam Sulistiawan, dkk (2011) mengungkapkan bahwa teknik yang biasanya ditemukan dalam praktik manajemen laba dibagi kedalam lima teknik, antara lain sebagai berikut:

  • Mengubah metode akuntansi
    Metode akuntansi merupakan pilihan-pilihan yang disediakan oleh standar akuntansi dalam menilai aset perusahaan. Pemilihan atas metode akuntansi tertentu akan memberikan outcome yang berbeda, baik bagi manajemen, pemilik, maupun pemerintah yang berdampak menimbulkan konflik kepentingan diantara ketiganya. Namun, pemilihan metode akuntansi tertentu yang dilakukan oleh manajer atau pengelola perusahaan merupakan salah satu bentuk maksimalisasi nilai perusahaan menurut perspektifnya masing-masing, sepanjang pemilihan tersebut sejalan dengan rambu- rambu yang sudah diatur dalam SAK.

    Contoh dari teknik ini adalah pemilihan metode penyusutan aset tetap antara garis lurus (straight line method) dan saldo menurun (declining balance method). Dalam kasus ini, manajer cenderung memilih menggunakan metode garis lurus dibandingkan saldo menurun, karena metode garis lurus akan menghasilkan laba yang lebih besar dibandingkan laba dari metode saldo menurun pada awal periode penyusutan. Metode garis lurus akan mengalokasikan biaya depresiasi dengan jumlah yang sama sepanjang masa manfaat, sedangkan metode saldo menurun akan membebankan biaya depresiasi yang lebih besar pada awal periode pembebanan.

  • Membuat estimasi akuntansi
    Teknik ini dilakukan dengan tujuan memengaruhi laba akuntansi melalui kebijakan dalam membuat estimasi akuntansi. Beberapa bentuk estimasi akuntansi tersebut antara lain sebagai berikut:

    • Estimasi dalam menentukan besarnya jumlah piutang tidak tertagih, baik dengan persentase penjualan maupun persentase piutang.

    • Estimasi dalam menentukan umur ekonomis aset, baik aset tetap maupun aset tidak berwujud.

    • Estimasi tingkat bunga pasar yang digunakan untuk mendiskonto arus kas pada masa mendatang untuk penilaian kewajaran aset yang tidak memiliki pembanding atau kewajaran nilai obligasi. Cara untuk mendapatkan tambahan atau pengurangan laba adalah mengubah estimasi akuntansi. Perubahan estimasi akuntansi ini disesuaikan dengan kebutuhan penyajian laporan keuangan. Jika mengharapkan kenaikan laba, perusahaan dapat mengubah estimasi aset tetap atau aset tidak berwujudnya menjadi lebih panjang. Hasilnya, laba menjadi lebih tinggi karena biaya penyusutan menurun.

  • Mengubah periode pengakuan pendapatan dan biaya
    Teknik ini dilakukan untuk mempercepat atau menunda pengakuan pendapatan dan biaya dengan cara menggeser pendapatan dan biaya ke periode berikutnya agar memperoleh laba maksimum. Manajer akan mempercepat pengakuan pendapatan periode mendatang dengan melaporkannya ke periode tahun berjalan agar kinerja perusahaan pada tahun berjalan menjelang IPO terlihat baik atau menunjukan laba maksimal. Contoh lainnya adalah mempercepat atau menunda periode pengakuan biaya penelitian dan pengembangan (R&D) ke periode berikutnya, mempercepat atau menunda periode pengakuan iklan, mempercepat atau menunda periode pengakuan pengiriman tagihan dan pengiriman produk ke vendor.

  • Mereklasifikasi akun
    Permainan akuntansi dilakukan dengan memindahkan posisi akun dari satu tempat ke tempat lainnya. Jadi, sebenarnya laporan keuangan yang disajikan sudah sama, tetapi karena kelihaian penyajinya, laporan keuangan ini bisa memberikan dampak interpretasi yang berbeda bagi penggunanya. Dengan menggunakan strategi reklasifikasi, perusahaan itu mencatat diskon penjualan menjadi biaya pemasaran. Hasilnya memang tidak mengubah nilai akhir dalam laporan laba rugi. Namun jika diperhatikan, nilai labanya akan meningkat. Dan ini mengakibatkan memperbesar nilai penjualannya memberikan persepsi yang salah tentang kemampuan perusahaan dalam menjual barangnya. Implikasi dari rekayasa seperti ini berdampak pada terjadinya kesalahan interpretasi laporan keuangan oleh pengguna, terutama yang tidak memiliki pengetahuan akuntansi. Meskipun laba rugi memberikan informasi lengkap, sampai saat ini banyak pengguna laporan keuangan cenderung hanya membaca bagian laba bersihnya.

  • Mereklasifikasi akrual diskrioner dan akrual nondiskrioner
    Akrual diskrioner (discretionary accruals) adalah akrual yang dapat berubah sesuai dengan kebijakan manajemen, seperti pertimbangan tentang penentuan umur ekonomis aset tetap atau pertimbangan pemilihan metode depresiasi. Akrual nondiskrioner (nondiscretionary accruals) adalah akrual yang dapat berubah bukan karena kebijakan atau pertimbangan pihak manajemen, seperti perubahan piutang yang besar karena adanya tambahan penjualan yang signifikan. Sementara itu, akrual (accruals) adalah penjumlahan antara akrual diskrioner dan akrual nondiskrioner. Akrual merupakan perbedaan laba dengan arus kas operasi. Makin besar perbedaannya, maka perbedaan itu disebabkan karena aspek akrual atau kebijakan akuntansi. Laba dipengaruhi oleh kebijakan akuntansi, sedangkan arus kas operasional hanya berasal dari transaksi kas riil. Makin tinggi nilai akrual menunjukan adanya strategi menaikkan laba dan makin rendah nilai akrual menunjukan adanya strategi menurunkan laba.