Apa yang dimaksud dengan Leptospirosis?

Leptospirosis

Leptospirosis adalah penyakit akibat bakteri Leptospira sp. yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya (zoonosis).

Leptospirosis dikenal juga dengan nama Penyakit Weil, Demam Icterohemorrhage, Penyakit Swineherd’s, Demam pesawah (Ricefield fever), Demam Pemotong tebu (Cane-cutter fever), Demam Lumpur, Jaundis berdarah, Penyakit Stuttgart, Demam Canicola, penyakit kuning non-virus, penyakit air merah pada anak sapi, dan tifus anjing.

Apa yang dimaksud dengan Leptospirosis ?

Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang menyerang manusia disebabkan oleh mikroorganisme Leptospira interogans dan memiliki manifestasi klinis yang luas. Spektrum klinis mulai dari infeksi yang tidak jelas sampai fulminan dan fatal. Pada jenis yang ringan, leptospirosis dapat muncul seperti influenza dengan sakit kepala dan myalgia. Tikus adalah reservoir yang utama dan kejadian leptospirosis lebih banyak ditemukan pada musim hujan.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan:

Demam disertai menggigil, sakit kepala, anoreksia, mialgia yang hebat pada betis, paha dan pinggang disertai nyeri tekan. Mual, muntah, diare dan nyeri abdomen, fotofobia, penurunan kesadaran

Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

  1. Febris
  2. Ikterus
  3. Nyeri tekan pada otot
  4. Ruam kulit
  5. Limfadenopati
  6. Hepatomegali dan splenomegali
  7. Edema
  8. Bradikardi relatif
  9. Konjungtiva suffusion
  10. Gangguan perdarahan berupa petekie, purpura, epistaksis dan perdarahan gusi
  11. Kaku kuduk sebagai tanda meningitis

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Laboratorium

  1. Darah rutin: jumlah leukosit antara 3000-26000/μL, dengan pergeseran ke kiri, trombositopenia yang ringan terjadi pada 50% pasien dan dihubungkan dengan gagal ginjal.

  2. Urin rutin: sedimen urin (leukosit, eritrosit, dan hyalin atau granular) dan proteinuria ringan, jumlah sedimen eritrosit biasanya meningkat.

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis dapat ditegakkan pada pasien dengan demam tiba-tiba, menggigil terdapat tanda konjungtiva suffusion, sakit kepala, mialgia, ikterus dan nyeri tekan pada otot. Kemungkinan tersebut meningkat jika ada riwayat bekerja atau terpapar dengan lingkungan yang terkontaminasi dengan kencing tikus.

Diagnosis Banding

  1. Demam dengue,
  2. Malaria,
  3. Hepatitis virus,
  4. Penyakit rickettsia.

Penatalaksanaan komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

  1. Pengobatan suportif dengan observasi ketat untuk mendeteksi dan mengatasi keadaan dehidrasi, hipotensi, perdarahan dan gagal ginjal sangat penting pada leptospirosis.

  2. Pemberian antibiotik harus dimulai secepat mungkin. Pada kasus-kasus ringan dapat diberikan antibiotik oral seperti doksisiklin, ampisilin, amoksisilin atau eritromisin. Pada kasus leptospirosis berat diberikan dosis tinggi penisilin injeksi.

Komplikasi

  1. Meningitis
  2. Distress respirasi
  3. Gagal ginjal karena renal interstitial tubular necrosis
  4. Gagal hati
  5. Gagal jantung

Konseling dan Edukasi

  1. Pencegahan leptospirosis khususnya didaerah tropis sangat sulit, karena banyaknya hospes perantara dan jenis serotipe. Bagi mereka yang mempunyai risiko tinggi untuk tertular leptospirosis harus diberikan perlindungan berupa pakaian khusus yang dapat melindunginya dari kontak dengan bahan-bahan yang telah terkontaminasi dengan kemih binatang reservoir.

  2. Keluarga harus melakukan pencegahan leptospirosis dengan menyimpan makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, mencuci tangan, kaki serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja di sawah/ kebun/ sampah/ tanah/ selokan dan tempat tempat yang tercemar lainnya.

Rencana Tindak Lanjut

Kasus harus dilaporkan ke dinas kesehatan setempat.

Kriteria Rujukan

Pasien segera dirujuk ke pelayanan sekunder (spesialis penyakit dalam) yang memiliki fasilitas hemodialisa setelah penegakan diagnosis dan terapi awal.

Peralatan

Pemeriksaan darah dan urin rutin

Prognosis

Prognosis jika pasien tidak mengalami komplikasi umumnya adalah dubia ad bonam.

Infografik

Referensi

  1. Zein, Umar. Leptospirosis. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit dalam FKUI. 2006. Hal 1823-5. (Sudoyo, et al., 2006)
  2. Cunha, John P. Leptospirosis. 2007. Available at: (Cunha, 2007)
  3. Dugdale, David C. Leptospirosis. 2004.Available at: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001376.htm. (Dugdale, 2004)

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Leptospira intterorgans yang berbentuk batang helikoidal yang memiliki lekukan dan bergerak maju-mundur. Bakteri ini bersifat aerob obligat. Penularan Leptospirosis terjadi melalui urin hewan yang terinfeksi yang mengkontaminasi air, makanan atau tanah di kandang atau tempat tinggal ternak lainnya.

Gejala penyakit leptospirosis yaitu terjadi demam, malaise, depresi, hilang nafsu makan, kelemahan, peradangan selaput mata, anemis, hemoglobinuria, urin menjadi merah gelap atau hampir hitam, ikterus dan ensefalitis dapat juga teramati, air susu berwarna kuning dan menggumpal, agalaktia, encefalitis, nefritis, hemoglobinuria atau hematuria.

image
Bakteri Leptospira intterorgans

image
Bakteri Leptospira intterorgans

image
Leptospirosis Pada Ginjal Sapi

Cara pengendalian penyakit Leptospirosis yaitu:

  1. Sapi yang terinfeksi dikarantina.

  2. Dihidrostreptomisin dengan dosis 11mg/kg berat badan setiap 12 jam selama 3 hari atau 5 gram sehari dua kali selama 3 hari berturut-turut.

  3. Berikan kombinasi antibiotic penicillin dan eritromisin.

  4. Anak sapi yang berumur 4-6 bulan diberi vaksin.

  5. Menjaga kebersihan minuman, makanan dan lingkungan agar tidak terkontaminasi.