Apa yang dimaksud dengan lanskap pertanian?

Lansekap adalah Kesatuan wilayah di permukaan bumi yang terdiri dari kesatuan ekosistem yang saling berinteraksi(batuan, air, udara, tumbuhan, hewan, dan manusia.

LANSKAP PERTANIAN
image
Sumber : https://makassardigitalvalley.id/peluang-startup-agritech-selesaikan-isu-manajemen-produk-pertanian/

Mungkin dari sebagian Anda jika melihat kalimat “Lanskap Pertanian” terbesit di bayangan Anda berupa sawah. Ternyata lingkup dari Lanskap Pertanian itu sendiri banyak maknanya. Lanskap pertanian dibagi menjadi definisi Lanskap dan Pertanian.

Lanskap yang berarti wajah dan karakter lahan/tapak bagian dari muka bumi dengan segala kegiatan kehidupan dan apa saja yang ada di dalamnya baik bersifat alami, non alami atau keduanya, yang merupakan bagian atau total lingkungan hidup manusia beserta makhluk lainnya, sejauh mata memandang, sejauh segenap indra dapat menangkap dan sejauh imajinasi dapat membayangkan.

Pertanian yang berarti suatu kegiatan yang menggunakan skala/ruang sebagian besar penduduk yang ada di perdesaan.

Sehingga bisa diartikan Lanskap Pertanian merujuk pada bentuk lanskap yang penggunaan lahannya untuk kegiatan pertanian. Kegiatan pertanian yang dimaksud yaitu segala mata pencaharian penduduk yang berada di perdesaan seperti pertanian, pertenakan, dan penggembala. Lanskap pertanian yang luas atau makro akan memberikan lingkungan yang nyaman, suatu lingkungan yang mencirikan kehidupan di perdesaan.

STRUKTUR LANSKAP PERTANIAN

  1. Pertanian Monokultur

Pertanaman tunggal atau monokultur merupakan salah satu cara budidaya di suatu lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada suatu areal. Monokultur menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena hasil budidaya yang ditanam seragam, Kelemahan dari pertanian monokultur yaitu karena keseragaman kultivar tersebut dapat mempercepat penyebaran Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti hama dan penyakit. Pola tanam monokultur memiliki pertumbuhan dan hasil lebih besar dibandingkan pola tanam lain karena tidak ada daya saing antar tanaman dalam memperebutkan unsur hara maupun sinar matahari (Raharja dan Wiryanto 2005)

  1. Pertanian Polikultur

Pertanaman polikultur atau terpadu berasal dari kata poly dan culture . Poly berarti banyak dan culture berarti pengolahan. Sehingga pengertian polikultur yaitu penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada suatu lahan pertanian dalam waktu satu tahun. Polikultur merupakan model pertanian yang menerapkan aspek lingkungan yang lebih baik dan melestarikan keanekaragaman hayati lokal. Keanekaragaman hayati lokal yang dimaksud tidak hanya dari segi flora tetapi juga fauna yang ada di daerah tersebut (Sabirin 2010).

FUNGSI LANSKAP PERTANIAN

Ekologis

Fungsi ekologis ini berkaitan dengan hubungan antara proses ekologi di lingkungan dan ekosistem tertentu. Hal ini dilakukan dalam berbagai skala lanskap baik itu skala makro sampai mikro, pola tata ruang pembangunan dan tingkat organisasi penelitian dan kebijakan. Ekologs lanskap mengintregrasikan pendekatan biofisik dan analitis dengan perspektid humanistic dan holistic di seluruh alam dan ilmu sosial. Bentang alam yang saling berinteraksi dengan berbagai patch atau ekosistem seperti hutan, padang rumput, dan danau hingga lingkungan yang didominasi manusia seperti di perkotaan (Wu 2006).

Ekonomi

Fungsi ekonomi sangat berkaitan dengan mata pencaharian penduduk dan masyarakat yang mengelola suatu lanskap pertanian. Jika suatu penduduk mengelola lanskap pertanian dengan bijak dan potensi tanaman budidaya yang ada di daerah tersebut dimanfaatkan dengan baik, hal ini bisa meningkatkan perekonomian penduduk setempat (Suparmoko 2008).

Sosial

Jika fungsi ekologis dan ekonomi telah tercapai, masyarakat sekitar bisa sejahtera karena meningkatnya perekonomian penduduk dan ruang lingkun ekologis dipergunakan dengan baik. Hal ini juga bisa menjaga ketahanan pangan, tingkat pendidikan penduduk menjadi sejahtera (Jennings et al 2002).

LANSKAP AGROFORESTRI SEBAGAI LANSKAP PERTANIAN BERKELANJUTAN


sumber : https://rimbakita.com/agroforestri/

Lanskap agroforestri terdiri dari Agro dan Forest, Agro yang berarti sistem pertanian dan Forest yaitu kehutanan.

Lanskap agroforestri didefinisikan sebagai kombinasi lanskap pertanian dan kehutanan yang dikelola sedemikian rupa untuk menciptakan keseimbangan antara intensifikasi pertanian dan kelestarian kehutanan.

Lankap agroforestri juga dikembangkan dalam pengelolaan lahan yang kompleks mampu mengoptimalkan keuntungan keberlanjutan baik dari aspek ekologi dan sosial yang timbul akibat interaksi biologis ketika organisme didalamnya berkembang secara efektif. Agroforestri merupakan sistem multifungsi lanskap sebagai sumber pendapatan petani, perlindungan tanah dan air di sekitarnya. Lanskap pertanian juga termasuk agroforestri berukuran makro. Agroforestri merupakan teknik yang bisa ditawarkan untuk ADAPTASI karena mempunyai daya sangga ( buffer ) terhadap efek perubahan iklim antara lain pengendalian iklim mikro (Van Noordwijk 2008), mengurangi terjadinya longsor (Hairiah et al 2006), limpasan permukaan dan erosi serta mengurangi kehilangan hara lewat pencucian (Widianto et al 2007), dan mempertahankan biodiversitas flora dan fauna tanah (Dewi 2007).

KARATER TANAMAN UNTUK SISTEM AGROFORESTRI

Karakter/Tanaman Zona DAS
Hulu Tengah Hilir
Bentuk Sederhana Sederhana Kompleks
Pohon Pinus, Kayu Mahoni, jeunjing Kayu campuran
Tanaman Wortel, sawi, bawang daun, cabai (sayuran, dataran tinggi) Cabe, tomat, jagung, wortel Jagung, cabai, tomat
Pola Alley cropping (pertanaman lorong) Tanaman pagar dan Alley cropping Multiple cropping (Pertanaman ganda)

JENIS-JENIS AGROFORESTRI

Agroforestri Tradisional

Agroforestri tradisional atau agroforestry klasik adalah setiap sistem pertanian dengan pohon-pohonan baik yang berasal dari penanaman atau pemeliharaan tegakan/tanaman yang telah ada menjadi bagian terpadu, sosial-ekonomi, dan ekologis dari keseluruhan dan ekologis dari keseluruhan sistem ( agroecosystem ) (Thaman 1989). Orientasi penggunaan lahan subsistem hingga semi komersial dan memiliki keterkaitan dengan sosial budaya lokal karen atelah turun temurun dipraktekan. Contohnya tegakan hutan alam tropis lembab, hutan payau atau hutan pantai, hutan sekunder yang bersatu dengan usaha-usaha pertanian seperti sistem perladangan berpindah atau pertanian gilir-balik tradisional, tegakan permanen seperti praktik kebun hutan atau forest garden , dan penamaman pepohonan pada kebun pekarangan

Agroforestri Modern

Agroforestri modern umumnya hanya melhat pengkombinasian antara tanaman keras atau pohon komersial dengan tanaman sela terpilih. Kombinasi jenis hanya terdiri dari 2-3 kombinasi jenis salah satunya merupakan komoditas unggulan. Struktur tegakan sederhana karena menggunakan pola lajur/baris yang berselang-seling dengan jarak tanam yang jelas. Oriestasi komersial dalam skala makro, dan tidak adanya keterkaitan sosial budaya setempat (Suharjito et al 2000). Contohnya yaitu agroforestry kopi dan gamal di Sumberjaya, Lampung.

DINAMIKA LANSKAP PERTANIAN

Berdasarkan komponen masukan dalam proses produksi pertanian di daerah tropika mengalami perubahan ke dalam 2 corak sistem yakni :

  • Pertanian yang menggunakan masukan eksternal berlebihan ( High External Input Agriculture , HEIA), dan
  • Pertanian yang secara intensif menggunakan sumber daya lokal dan sedikit atau tanpa masukan eksternal, tetapi masih mengalami degradasi sumber daya alam ( Low External Input Agriculture , LEIA).

HEIA ( High External Input Agriculture )

Sistem HEIA sangat bergantung pada masukan yang berupa bahan kimia buatan (pupuk inorganik dan pestisida), benih hybrid dan varietas unggul, mekanisasi dan irigasi. Penggunaan masukan eksternal terbukti telah berhasl meningkatkan produksi tanaman, tetapi memberikan dampak yang negative, antara lain dalam bentuk degradasi kualitas kehidupan dan lingkungannya. Mekanisasi yang kebanyakan menggunakan bahan bakar asal fosil yang tidak terbaharukan juga akan merusak lingkungan

LEIA ( Low External Input Agriculture )

Sistem LEIA biasanya dilaksanakan di daerah yang kompleks, tersebar dan beresiko di antaranya di daerah berbukit atau bergunug. Daerah dengan sistem LEIA bercirikan lingkungan fisik dan infrastruktur yang tidak memungkinkan penyebarluasan masukan yang dibeli, aksesibilitas untuk pasokan sarana produksi dan penjualan hasil pertanian rendah, tadah hujan, pertumbuhan produksi di bawah pertumbuhan penduduk, dan teknologi pertanian rendah.

SISTEM LEISA ( Low External Input and Suistainable Agriculture )

Bentuk pertanian yang mencari optimasi penggunaan sumberdaya yang tersedia lokal dengan mengkombinasikan komponen-komponen yang berbeda dari suatu usahatani (tanaman, hewan, tanah, air, iklim, dan manusia) sehingga saling melengkapi (komplementer) dengan memiliki kemungkinan pengaruh sinergi yang paling besar. Bentuk pertanian LEISA yang mencari cara penggunaan masukan eksternal sebanyak yang diperlukan untuk menyediakan unsur-unsur hara yang berkekurangan dalam ekosistem dan meningkatkan sumberdaya biologik, fisik, dan manusia yang tersedia secara lokal (Nuraini et al 2015).

Ciri-ciri Sistem LEISA

Ciri-ciri dari sistem LEISA yaitu tidak mengejar keluaran berupa produksi maksimal dalam jangka pendek, melainkan mencapai keluaran berupa taraf produksi yang stabil dan berkecukupan dalam jangka panjang, dengan sumberdaya alam yang tetap terpelihara atau dapat ditingkatkan, penggunaan yang maksimal dan proses-proses alamiah, serta perolehan kembali hara yang terangkut keluar saat panen atau pemasaran. Spesifik lokasi, artinya merupakan model pengembangan pertanian yang berdasarkan kondisi ekologi dan sosioekonomi setempat atau sistem yang ada. Berpendekatan pengembangan teknologi partisipatif yakni suatu proses yang ditempuh untuk mengombinasikan pengelolaan dan pengalaman petani setempat dengan masukan eksternal untuk mengembangkan teknik pertanian spesifik lokasi secara sosioekonomik adaptif (Nuraini et al 2015).

REFERENSI

  • Dewi W.S. 2007. Dampak alih guna lahan hutan menjadi lahan pertanian : perubahan diversitas cacing tanah dan fungsinya dalam mempertahankan pori makro tanah. Disertasi. Malang (ID) : Pasca Sarjana Universitas Brawijaya.
  • Hairiah K. Sulistyani H. Suprayogo D. Widianto, P. Purnomosidhi, Widodo R.H., Van Noordwijk M. 2006. Litter layer residence time in forest and coffee agroforestry systems in Sumberjaya. Forest Ecology and Management . 224 : 45-57
  • Jennings S.R, Nussbaum, Judd N, Synnott T. 2002. Identifying High Conservation Values At A National Level . Oxford (UK) : ProForest.
  • Nuraini A., Yuwariah Y., Rochayat Y. 2015. Pengembangan produksi pertanian lahan kering dengan sistem low external input suistainable agriculture (LEISA) di desa cigadog, dan mandalagiri kecamatan, leuwisari kabupaten tasikmalaya. Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat. 4(2) : 113- 118.
  • Raharja, Wiryanto W. 2005. Diktat Dasar-Dasar Agronomi . Malang (ID) : Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya.
  • Sabirin. 2010. Modul Sekolah Lapang Polikultur Medan (ID) : BITRA Indonesia.
  • Suharjito D., Khan A., Djatmiko W.A, Strait M.T, S. Evelyna. 2000. Karateristik Pengelolaan Hutan Berbasiskan Masyarakat . Yogyakarta (ID) : Aditya Media.
  • Suparmoko. 2008. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan . Yogyakarta (ID) : BPPE.
  • Thaman R.R. 1989. Rainforest management within cintex of existing agroforestry systems. Proceeding GTZ Regional Seminar . Fiji (JPN) : Korolevu.
  • Widianto, Suprayogo D., Lestari I.D. 2007. Alih Guna Lahan Hutan Menjadi Lahan Pertanian : Apakah Fungsi Hidrologis Hutan Dapat Digantikan Sistem Kopi Monokultur? . Prosiding Seminar “Penanganan Benacan Sumber Daya Pertanian”. Malang (ID) : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.
  • Van Noordwijk M. 2008. Agroforestri sebagai solusi mitigasi dan adaptasi pemanasan global : Pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan dan fleksibel terhadap berbagai perubahan. Makalah Bunga Rampai pada Semianr Nasional Agroforestri “Pendidikan Agroforestri sebagai strategi menghadapi pemanasan global”. Solo (ID) : UNS.
  • Wu J. 2006. Ekologi lanskap, lintas disiplin, dan ilmu keberlanjutan. Jurnal Ekologi Lanskap . 21(1) : 1-4
1 Like