© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Kya'i?

Apa yang dimaksud dengan kya’i sebagai tokoh dalam islam?

Kyai adalah orang yang memiliki ilmu agama (Islam) plus amal dan akhlak yang sesuai dengan ilmunya. Menurut Saiful Akhyar Lubis (2007), menyatakan bahwa “Kyai adalah tokoh sentral dalam suatu pondok pesantren, maju mundurnya pondok pesantren ditentukan oleh wibawa dan kharisma sang kyai. Karena itu, tidak jarang terjadi, apabila sang kyai di salah satu pondok pesantren wafat, maka pamor pondok pesantren tersebut merosot karena kyai yang menggantikannya tidak sepopuler kyai yang telah wafat itu”.

Menurut Abdullah ibnu Abbas, kyai adalah orang-orang yang mengetahui bahwa Allah SWT adalah Dzat yang berkuasa atas segala sesuatu (Rasyid, 2007). Menurut Mustafa al-Maraghi, kyai adalah orang-orang yang mengetahui kekuasaan dan keagungan Allah SWT sehingga mereka takut melakukan perbuatan maksiat. Menurut Sayyid Quthb mengartikan bahwa kyai adalah orang-orang yang memikirkan dan menghayati ayat-ayat Allah yang mengagumkan sehingga mereka dapat mencapai ma`rifatullah secara hakiki. Menurut Nurhayati Djamas mengatakan bahwa “kyai adalah sebutan untuk tokoh ulama atau tokoh yang memimpin pondok pesantren” (Djamas, 2008).

Sebutan kyai sangat populer digunakan di kalangan komunitas santri. Kyai merupakan elemen sentral dalam kehidupan pesantren, tidak saja karena kyai yang menjadi penyangga utama kelangsungan sistem pendidikan di pesantren, tetapi juga karena sosok kyai merupakan cerminan dari nilai yang hidup di lingkungan komunitas santri. Kedudukan dan pengaruh kyai terletak pada keutamaan yang dimiliki pribadi kyai, yaitu penguasaan dan kedalaman ilmu agama, kesalehan yang tercermin dalam sikap dan perilakunya sehari-hari yang sekaligus mencerminkan nilai-nilai yang hidup dan menjadi ciri dari pesantren seperti ikhlas, tawadhu`, dan orientasi kepada kehidupan ukhrowi untuk mencapai riyadhah.

Menurut asal-usulnya perkataan kyai dalam bahasa jawa dipakai
untuk tiga jenis gelar yang saling berbeda (Dhofier, 1982):

  • Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap kramat ; umpamanya, “Kyai Garuda Kencana” dipakai untuk sebutan Kereta Emas yang ada di Kraton Yogyakarta.
  • Gealar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya.
  • Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau yang menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santri. Selain gelar kyai, ia juga disebut dengan orang alim (orang yang dalam pengetahuan keislamanya).

Ciri-ciri Kyai


Menurut Sayyid Abdullah bin , Alawi Al-Haddad dalam kitabnya An-Nashaihud Diniyah mengemukakan sejumlah kriteria atau ciri-ciri kyai di antaranya ialah: Dia takut kepada Allah, bersikap zuhud pada dunia, merasa cukup (qana’ah) dengan rezeki yang sedikit dan menyedekahkan harta yang berlebih dari kebutuhan dirinya. Kepada masyarakat dia suka memberi nasehat, ber amar ma’ruf nahi munkar dan menyayangi mereka serta suka membimbing ke arah kebaikan dan mengajak pada hidayah. Kepada mereka ia juga bersikap tawadhu`, berlapang dada dan tidak tamak pada apa yang ada pada mereka serta tidak mendahulukan orang kaya daripada yang miskin. Dia sendiri selalu bergegas melakukan ibadah, tidak kasar sikapnya, hatinya tidak keras dan akhlaknya baik (Bisri, 2003).

Menurut Munawar Fuad Noeh menyebutkan ciri-ciri kyai di antaranya yaitu:

  • Tekun beribadah, yang wajib dan yang sunnah.
  • Zuhud, melepaskan diri dari ukuran dan kepentingan materi duniawi
  • Memiliki ilmu akhirat, ilmu agama dalam kadar yang cukup
  • Mengerti kemaslahatan masyarakat, peka terhadap kepentingan umum
  • Dan mengabdikan seluruh ilmunya untuk Allah SWT, niat yang benar dalam berilmu dan beramal.

Menurut Imam Ghazali membagi ciri-ciri seorang Kyai di antaranya yaitu:

  • Tidak mencari kemegahan dunia dengan menjual ilmunya dan tidak memperdagangkan ilmunya untuk kepentingan dunia. Perilakunya sejalan dengan ucapannya dan tidak menyuruh orang berbuat kebaikan sebelum ia mengamalkannya.

  • Mengajarkan ilmunya untuk kepentingan akhirat, senantiasa dalam mendalami ilmu pengetahuan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, dan menjauhi segala perdebatan yang sia-sia.

  • Mengejar kehidupan akhirat dengan mengamalkan ilmunya dan menunaikan berbagai ibadah.

  • Menjauhi godaan penguasa jahat.

  • Tidak cepat mengeluarkan fatwa sebelum ia menemukan dalilnya dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.

  • Senang kepada setiap ilmu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tugas-tugas Kyai


Di samping kita mengetahui beberapa kriteria atau ciri-ciri seorang kyai diatas, adapun tugas dan kewajiban kyai yaitu sebagai berikut:

Menurut Hamdan Rasyid bahwa kyai mempunyai tugas di antaranya adalah:

  • Melaksanakan tablikh dan dakwah untuk membimbing umat. Kyai mempunyai kewajiban mengajar, mendidik dan membimbing umat manusia agar menjadi orang-orang yang beriman dan melaksanakan ajaran Islam.

  • Melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Seorang kyai harus melaksanakan amar maruf dan nahi munkar, baik kepada rakyat kebanyakan (umat) maupun kepada para pejabat dan penguasa Negara (umara), terutama kepada para pemimpin, karena sikap dan perilaku mereka banyak berpengaruh terhadap masyarakat.

  • Memberikan contoh dan teladan yang baik kepada masyarakat. Para kyai harus konsekwen dalam melaksanakan ajaran Islam untuk diri mereka sendiri maupun keluarga, saudara-saudara, dan sanak familinya.

Kyai adalah seseorang yang mengajarkan pengetahuan agama dengan cara berceramah, menyampaikan fatwa agama kepada masyarakat luas.1 Kyai secara etimologis (lughotan) menurut Adaby darban kata kiyai berasal dari bahasa jawa kuno “kiya-kiya” yang artinya orang yang dihormati. Selain itu ada pula yang mengartikan “man balagha sinnal arbain”, yaitu orang-orang yang sudah tua umurnya atau orang-orang yang mempunyai kelebihan.

Sedangkan secara terminologi kyai menurut Manfred Ziemek adalah pendiri dan pemimpin sebuah pesantren yang sebagai muslim “terpelajar” telah membaktikan hidupnya “demi Allah” serta menyebarluaskan dan mendalami ajaran-ajaran, pandangan Islam melalui kegiatan pendidikan Islam.

Secara umum Kyai mempunyai beberapa pengertian yaitu:

  • Kyai adalah orang yang memiliki lembaga pondok pesantren, dan menguasai pengetahuan agama serta konsisten dalam menjalankan ajaran-ajaran agama.

  • Kyai yang ditujukan kepada mereka yang mengerti ilmu agama, tanpa memiliki lembaga pondok pesantren atau tidak menetap dan mengajar di Pondok pesantren.

  • Kyai adalah orang yang mengajarkan pengetahuan agama dengan cara berceramah, menyampaikan fatwa agama kepada masyarakat luas.

Di Indonesia, istilah kyai ada yang membedakan dengan istilah ulama. Horikoshi membedakan kyai dan ulama terutama dalam perilaku dan pengaruh keduanya di masyarakat. Secara umum ulama lebih merujuk kepada seorang muslim yang berpengetahuan,sedangkan istilah yang paling umum sering digunakan untuk merujuk tingkat keulamaan yang lebih tinggi adalah kyai. Seorang kyai mempunyai pengaruh kharismatik yang luar biasa, sehingga kyai tidak disamakan dengan ulama. Kyai memiliki keunggulan baik secara formal maupun sebagai seorang alim, karena pengaruhnya yang dipercaya oleh sebagian publik.

Pengaruh kyai tergantung pada loyalitas komunitas terbatas yang didorong oleh perasaan hutang budi, namun sepenuhnya ditentukan oleh kualitas kekharismaan mereka. Kedudukan kyai tidak bisa diwarisi begitu saja oleh generasi keturunannya, karena pribadi yang dinamis atau kharisma yang dimiliki merupakan manifestasi dari kemampuan- kemampuan secara individual.

Dalam tradisi dunia pesantren, ada juga orang yang menjadi kyai karena “ ascribed status” seorang dapat menjadi kyai dikarenakan ayahnya, kakeknya, dari pihak ayah atau ibu semua menjadi kyai, walau hal ini merupakan penilaian parsial.

Pengertian kyai yang paling luas adalah “ pendiri dan pemimpin sebuah pesantren yang sebagian muslim “terpelajar” telah membaktikan hidupnya “ demi alloh” serta menyebarluaskan dan memahami ajaran ajaran dan pandangan Islam melalui kegiatan pendidikan Islam.

Dalam perspektif Al-quran, kyai adalah sebutan bagi orang yang berpengetahuan beranekaragam yaitu ulama;ulil ilm;arrasikhun fil ilm, ahludzkr dan ulul albab.

Karena banyaknya definisi tentang kyai maka kajian Bahrudin Asubki, membatasi kriteria kyai sekurang-kurangnya meliputi:

  • Menguasai ilmu agama (taffaqquh fi al din) dan sanggup membimbing umat dengan memberikan ilmu keIslaman yang bersumber dari al-quran, hadis, ijma dan Qiyas.

  • Ikhlas melaksanakan ajaran Islam

  • Mampu menghidupkan sunnah rosul dengan mengembangkan Islam secara kaffah

  • Berakhlak luhur, berpikir kritis, aktif mendorong masyarakat melakukan perbuatan positif, bertanggungjawab dan istiqomah.

  • Berjiwa besar, kuat mental dan fisik, tahan uji, hidup sederhana, amanah, beribadah berjamaah, tawadhu’, kasih sayang terhadap sesama, mahabah, dan tawakkal pada alloh swt.

  • Mengetahui dan peka terhadap situasi zaman serta mampu menjawab setiap persoalan untuk kepentingan Islam dan umatnya.

  • Berwawasan luas dan menguasai beberapa cabang ilmu demi pengembangannya dengan Islam dan bersikap tawadhu’.

Tipologi Kyai

Endang Turmudi membedakan kyai menjadi empat kategori yaitu:

  • Kyai Pesantren, adalah kyai yang memusatkan perhatian pada mengajar di pesantren untuk meningkatkan sumberdaya masyarakat melalui peningkatan pendidikan.

  • Kyai tarekat, memusatkan kegiatan mereka dalam membangun batin (dunia hati) umat Islam. Karena tarekat adalah sebuah lembaga informal. Sedangkan para pengikut kyai tarekat adalah anggota formal gerakan tarekat.

  • Kyai panggung, adalah para dai. Melalui kegiatan dakwah mereka menyebarkan dan mengembangkan Islam.

  • Kyai politik, merupakan tipologi kyai yang mempunyai concern (perhatian) dalam dunia perpolitikan.

Selain yang disebut di atas, Abdurrahman Masud menyimpulkan pula karakteristik dan tipologi dari beberapa figur kyai yaitu:

  • Kyai atau ulama encyclopedic dan multidisipliner, kyai ini mengkonsentrasikan diri dalam dunia ilmu, belajar mengajar dan menulis, menghasilkan banyak kitab seperti Nawawi al-Bantani

  • Kyai yang ahli dengan satu spesialisasi bidang ilmu pengetahuan Islam

  • Kyai kharismatik yang memperoleh kharismanya dari ilmu pengetahuan keagamaan, khususnya dari sufismenya. Guru yang memiliki derajat spiritualitas yang tertinggi dan paling dihormati dalam tradisi pondok pesantren.

  • Kyai da’i keliling, kyai ini perhatian dan keterlibatan terbesar mereka pada interaksi dengan publik dan menyampaikan ilmunya bersamaan dengan misi melalui bahasa retorikal yang efektif

  • Kyai pergerakan, kyai ini pemimpin yang paling menonjol karena keunikan posisinya kaena memiliki peran dan skill kepemimpinan yang luar biasa,baik dalam masyarakat maupun organisasi yang didirikannya. Selain itu kyai ini memiliki kedalaman ilmu pengetahuan keagamaan yang dia peroleh dari para kyai paling disegani dalam komunitas pondok pesantren.

Dari beberapa tipologi kyai ini, bisa berpengaruh pada pola kepemimpinan yang berbeda. perilaku dan kemampuan membina hubungan dengan publik yang bermacam-macam pula. Namun dalam prinsip public relations , bagaimanapun tipe seseorang mereka harus mampu menjalin hubungan baik dengan seluruh stakeholder nya dengan disesuaikan pada konsen kemampuan masing-masing yang dimiliki kyai.

Kyai merupakan bagian terpenting di dalam pondok. Kepemimpinan kyai sangat berpengaruh di dalam kehidupan suatu pondok pesantren. Kyai adalah pimpinan sekaligus pemegang kendali dalam melaksanakan segala kegiatan yang ada di dalam pondok. Kyai sebagai pimpinan merupakan sosok yang kuat dan sangat disegani baik oleh Ustadz maupun santri sesuai dengan pendapat Ziemek bahwa kepemimpinan kyai juga dapat digambarkan sebagai sosok kyai yang kuat kecakapan dan pancaran kepribadiannya sebagai seorang pimpinan pesantren, yang hal itu menentukan kedudukan dan kaliber suatu pesantren. Sosok kyai sebagai pimpinan pondok merupakan gambaran bagi santri dalam melaksanakan kegiatan atau aktivitas di dalam pondok terutama dalam membentuk karakter mandiri santri.

Kyai dalam memimpin santri selalu memegang teguh sifat-sifat Rosulullah sebagai seorang pemimpin. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang mencontoh dan menerapkan sifat-sifat Rosulullah kepada santri di dalam pondok. Kyai memberikan contoh kepada santri seperti yang telah dilaksanakan oleh Rosulullah. Dengan mendidik dan memberi contoh sifat Rosulullah, maka santri dapat meniru dan mencontoh apa yang telah dilaksanakan oleh Kyai sebagai pimpinan pondok sesuai dengan pendapat Bandura dalam buku Hall & Linzey bahwa subjek-subjek yang dibiarkan mengamati serangkaian respon tak lazim yang dilakukan oleh orang lain (model) cenderung melakukan respon- respon yang sama ini apabila ditempatkan dalam situasi yang sama. Anak-anak dapat mempelajari respon- respon baru hanya dengan mengamati orang lain. Kemandirian santri di dalam pondok akan terbentuk dengan cara santri menerapkan apa yang telah diajarkan kyai di dalam pondok. Kyai adalah orang yang memiliki ilmu agama (Islam) plus amal dan akhlak yang sesuai dengan ilmunya.”

Menurut Saiful Akhyar Lubis, menyatakan bahwa ”Kyai adalah tokoh sentral dalam suatu pondok pesantren, maju mundurnya pondok pesantren ditentukan oleh wibawa dan kharisma sang kyai. Karena itu, tidak jarang terjadi, apabila sang kyai di salah satu pondok pesantren wafat, maka pamor pondok pesantren tersebut merosot karena kyai yang menggantikannya tidak sepopuler kyai yang telah wafat itu.

Menurut Abdullah ibn Abbas, kyai adalah orang-orang yang mengetahui bahwa Allah SWT adalah Dzat yang berkuasa atas segala sesuatu.5 Menurut Mustafa al-Maraghi, kyai adalah orang-orang yang mengetahui kekuasaan dan keagungan Allah SWT sehingga mereka takut melakukan perbuatan maksiat. Menurut Sayyid Quthb mengartikan bahwa kyai adalah orang-orang yang memikirkan dan menghayati ayat-ayat Allah yang mengagumkan sehingga mereka dapat mencapai ma ͉rifatullah secara

hakiki.Menurut Nurhayati Djamas mengatakan bahwa “kyai adalah sebutan untuk tokoh ulama atau tokoh yang memimpin pondok pesantren” Sebutan kyai sangat popular digunakan di kalangan komunitas santri. Kyai merupakan elemen sentral dalam kehidupan pesantren, tidak saja karena kyai yang menjadi penyangga utama kelangsungan sistem pendidikan di pesantren, tetapi juga karena sosok kyai merupakan cerminan dari nilai yang hidup di lingkungan komunitas santri. Kedudukan dan pengaruh kyai terletak pada keutamaan yang dimiliki pribadi kyai, yaitu penguasaan dan kedalaman ilmu agama; kesalehan yang tercermin dalam sikap dan perilakunya sehari-hari yang sekaligus mencerminkan nilai-nilai yang hidup dan menjadi ciri dari pesantren seperti ikhlas, tawadhu ͉, dan orientasi kepada kehidupan ukhrowi untuk mencapai riyadhah.

Sedangkan kyai, menurut Zamakhsyari Dhofier merupakan gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab klasik kepada para santrinya. Di Jawa Barat mereka disebut ajengan . Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ulama yang memimpin pesantren disebut kiai . Di Indonesia sekarang, banyak juga ulama yang cukup berpengaruh di masyarakat juga mendapat gelar “ kiai ” walaupun mereka tidak memimpin pesantren. Gelar kiai biasanya dipakai untuk menunjuk para ulama dari kelompok Islam tradisional.

Para kiai dengan kelebihan pengetahuannya dalam Islam, seringkali dilihat sebagai orang yang senantiasa dapat memahami keagungan Tuhan dan rahasia alam, hingga dengan demikian mereka dianggap memiliki kedudukan yang tidak terjangkau, terutama oleh kebanyakan orang awam. Dalam beberapa hal, mereka menunjukkan kekhususan mereka dalam bentuk pakaian yang merupakan simbol kealiman yaitu kopiah dan surban.