Apa yang dimaksud dengan Kualitas Hidup?

Kualitas Hidup

Menurut World Health Organization (1998), Kualitas Hidup berarti persepsi individu dalam hidupnya yang menyangkut pada kebudayaan dan sistem yang ada dimana mereka hidup dan hubungan pada ekspektasi, standard dan ketertarikan pada lingkungan

Apa yang dimaksud dengan Kualitas Hidup?

Definisi Kualitas Hidup


Menurut World Health Organization (1998), Kualitas Hidup berarti persepsi individu dalam hidupnya yang menyangkut pada kebudayaan dan sistem yang ada dimana mereka hidup dan hubungan pada ekspektasi, standard dan ketertarikan pada lingkungan. Definisi ini mencerminkan pandangan bahwa kualitas hidup mengacu pada evaluasi subjektif yang tertanam dalam konteks budaya, sosial dan lingkungan, dengan demikian, kualitas hidup tidak bisa disamakan hanya dengan istilah “status kesehatan”, “gaya hidup”, “kepuasan hidup”, “mental” atau “kesejahteraan”. Felce and Perry (1995) menyatakan kualitas hidup sebagai kesejahteraan umum secara keseluruhan yang terdiri dari deskriptor objektif dan evaluasi subjektive fisik, material, sosial dan kesejahteraan sosial dan kesejahteraan emosional bersama-sama dengan tingkat pengembangan pribadi dan aktivitas terarah.

Cohen dan Lazarus (dalam Sarafino, 1994) mengatakan Kualitas Hidup adalah tingkatan yang menggambarkan keunggulan seorang individu yang dapat dinilai dari kehidupan mereka. Keunggulan individu tersebut biasanya dapat dinilai dari tujuan hidupnya, kontrol pribadinya, hubungan interpersonal, perkembangan pribadi, intelektual dan kondisi materi. Sedangkan menurut Fayers & Machin (dalam Kreitler & Ben, 2004) Kualitas Hidup diartikan sebagai persepsi individu mengenai keberfungsian mereka di dalam bidang kehidupan, lebih spesifiknya adalah penilaian individu terhadap posisi mereka di dalam kehidupan, dalam konteks budaya dan sistem nilai dimana mereka hidup dalam kaitannya dengan tujuan individu, harapan, standar serta apa yang menjadi perhatian individu.

Berdasarkan paparan diatas dapat di simpulkan bahwa kualitas hidup merupakan persepsi individu dalam menilai hidupnya. Persepsi individu tersebut adalah apa yang dirasakan individu dalam kehidupan sehari-hari individu, seperti suatu penilaian atas kesejahteraan yang mereka rasakan. Hal ini mencakup seluruh aspek emosi, sosial, dan fisik dalam kehidupan individu.

Domain Kualitas Hidup


Domain Kualitas Hidup dilihat dari seluruh Kualitas Hidup dan kesehatan secara umum (WHOQOL Group, 1998):

  1. Kesehatan fisik: seseorang yang memiliki kesehatan fisik biasanya jaug dari suatu penyakit dan kegelisah, memilii pola tidur yang cukup serta beristirahat dengan baik dan tidak ketergantungan pada obat maupun bantuan medis serta memiliki kapasitas pekerjaan yang baik

  2. Psikologis: perasaan positif dalam berfikir, belajar, mengingat, dan konsentrasi. Memiliki self-esteem yang baik, percaya diri pada penampilan dan gambaran jasmani, kurangnya perasaan negatif dan memiliki kepercayaan individu yang besar.

  3. Tingkat kemandirian: kemampuan umum seseorang untuk melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain terlepas dari cara yang digunakan untuk melakukannya.

  4. Hubungan sosial: hubungan pribadi yang baik, dukungan sosial yang mencukupi dan aktivitas seksual.

  5. Lingkungan: lingkungan meliputi kebebasan yang dimiliki seseorang, keselamatan fisik dan merasa aman, lingkungan rumah yang baik, sumber keuangan, kesehatan dan kepedulian sosial, peluang dalam memperoleh keterampilan dan informasi baru, keikutsertaan dalam berekreasi, aktivitas di lingkungan sekitar dan transportasi yang memadai.

  6. Spiritual/ religional/ personal belief : keyakinan pribadi seseorang dan bagaimana hal ini mempengaruhi Kualitas Hidup.

Faktor Kualitas Hidup


Raebun dan Rootman (Angriyani, 2008) mengemukakan bahwa terdapat delapan faktor yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang, yaitu:

  1. Kontrol, berkaitan dengan control terhadap perilaku yang dilakukan oleh seseorang, seperti pembahasan terhadap kegiatan untuk menjaga kondisi tubuh.

  2. Kesempatan yang potensial, berkaitan dengan seberapa besas seseorang dapat melihat peluang yang dimilikinya.

  3. Keterampilan, berkaian dengan kemampuan seseorang untuk melakukan keterampilan lain yang mengakibatkan ia dapat mengembangkan dirinya, seperti mengikuti suatu kegiatan atau kursus tertentu.

  4. Sistem dukungan, termasuk didalamnya dukungan yang berasal dari lingkungan keluarga, masyarakat maupun sarana-sarana fisik seperti tempat tinggal atau rumah yang layak dan fasilitas-fasilitas yang memadai sehinga dapat menunjang kehidupan.

  5. Kejadian dalam hidup, hal ini terkait dengan tugas perkembangan dan stres yang diakibatkan oleh tugas tersebut. Kejadian dalam hidup sangat berhubungan erat dengan tugas perkembangan yang harus dijalani, dan terkadang kemampuan seseorang untuk menjalani tugas tersebut mengakibatkan tekanan tersendiri.

  6. Sumber daya, terkait dengan kemampuan dan kondisi fisik seseorang. Sumber daya pada dasarnya adalah apa yang dimiliki oleh seseorang sebagai individu.

  7. Perubahan lingkungan, berkaitan dengan perubahan yang terjadi pada lingkungan sekitar seperti rusaknya tempat tinggal akibat bencana.

  8. Perubahan politik, berkaitan dengan masalah Negara seperti krisi moneter sehingga menyebabkan orang kehilangan pekerjaan/mata pencaharian.

Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas hidup memiliki beberapa faktor. Faktor tersebut dibagi kedalam 2 macam, yaitu faktor eksternal yang meliputi: Sistem dukungan, perubahan lingkungan, perubahan politik. Faktor internal yaitu: kontrol, kesempatan yang potensial, keterampilan, kejadian dalam hidup dan sumber daya.

Kualitas hidup didefinisikan sebagai persepsi individu dari posisi mereka dalam kehidupan dalam konteks budaya dansistem nilai di mana mereka tinggal dan dalam hubungannya dengan tujuan mereka, harapan , standar dan kekhawatiran (WHO, 1996).

Kualitas hidup merupakan persepsi subjektif dari individu terhadap kondisi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari yang dialaminya (Urifah, 2012).

Sedangkan menurut Chipper (dalam Ware, 1992) mengemukakan kualitas hidup sebagai kemampuan fungsional akibat penyakit dan pengobatan yang diberikan menurut pandangan atau perasaan pasien. Donald (dalam Urifah, 2012) menyatakan kualitas hidup merupakn suatu terminologi yang menunjukkan tentang kesehatan fisik, sosial dan emosi seseorang serta kemsmpusnnys untuk melaksanakan tugas sehari-hari.

Kualitas hidup adalah suatu cara hidup, sesuatu yang yang esensial untuk menyemangati hidup, eksistensi berbagai pengalaman fisik dan mental seorang individu yang dapat mengubah eksistensi selanjutnya dari individu tersebut di kemudian hari, status sosial yang tinggi, dan gambaran karakteristik tipikal dari kehidupan seseorang individu (Brian, 2003).

WHO (dalam Kurniawan, 2008) menggambarkan kualitas hidup sebagai sebuah persepsi individu terhadap posisi mereka dalam kehidupan dalam konteks budaya dan sistem nilai dimana mereka tinggal dan hidup dalam hubungannya dengan tujuan hidup, harapan, standart dan fokus hidup mereka. Konsep ini meliputi beberapa dimensi yang luas yaitu: kesehatan fisik, kesehatan psikologis, hubungan sosial dan lingkungan.

Sedangkan menurut Hermann (Silitonga, 2007) kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan dapat diartikan sebagai respon emosi dari pasien terhadap aktivitas sosial, emosional, pekerjaan dan hubungan antar keluarga, rasa senang atau bahagia, adanya kesesuaian antara harapan dan kenyataan yang ada, adanya kepuasaan dalam melakukan fungsi fisik, sosial dan emosional serta kemampuan mengadakan sosialisasi dengan orang lain.

Faktor yang mempengaruhi kualitas hidup


Berbagai penelitian mengenai kualitas hidup menemukan beberapa faktorfaktor lain yang mempengaruhi kualitas hidup. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas hidup yaitu :

  1. Usia
    Seiring bertambahnya usia seseorang lebih rentan terhadap penyakit jantung koroner, namun jarang menyebabkan penyakit serius sebelum 40 tahun dan meningkat 5 kalilipat pada usia 40 samapi 60 tahun (Price & Wilson, 2006). Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 172 pasien penyakit hipertensi, dilaporkan bahwa 33,2% pasien yang berusia lebih dari 75 tahun mempunyai kualitas hidup buruk dibandingkan dengan pasien yang berusia lebih muda. Pasien berusia 18-24 tahun, hanya 7,5% yang mempunyai kualitas hidup buruk (Steigelman et al, 2006).

  2. Jenis Kelamin
    Moons, Marquet, Budst, dan De Gees (2004) mengatakan bahwa gender adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup. Bain, Gillian, Lamnon, Teunise (2003 dalam Nofitri, 2009) menemukan adanya perbedaan antara kualitas hidup antara laki-laki dan perempuan, dimana kualitas hidup laki-laki cenderung lebih baik daripada kualitas hidup perempuan.Bertentangan dengan penemuan Bain, Gillian, Lamnon, Teunise (2004) menemukan bahwa kualitas hidup perempuan cenderung lebih tinggi daripada laki-laki.

  3. Pendidikan
    Moons, Marquet, Budst, dan De Gees (2004) mengatakan bahwa tingkat pendidikan adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup subjektif. Penelitian yang dilakukan oleh Wahl, Astrid, Rusteun, Hanested (2004) menemukan bahwa kualitas hidup akan meningkat seiring dengan lebih tingginya tingkat pendidikan yang didapatkan oleh individu. Penelitian yang dilakukan oleh Noghani, Asghapur, dan Safa (2007) dalam menemukan adanya pengaruh positif dari pendidikan terhadap kualitas hidup subjektif namun tidak banyak.

  4. Status pernikahan
    Moons, Marquet, Budst, dan De Gees (2004) mengatakan bahwa terdapat perbedaan kualitas hidup antara individu yang tidak menikah, individu bercerai ataupun janda, dan individu yang menikah atau kohabitasi. Penelitian empiris di Amerika secara umum menunjukkan bahwa individu yang menikah memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi daripada individu yang tidak menikah, bercerai, ataupun janda/duda akibat pasangan meninggal.

    Hal ini didukung oleh penelitian kualitas hidup dengan menggunakan kuesioner SF-36 terhadap 145 laki-laki dan wanita, dilaporkan bahwa laki-laki dan perempuan yang sudah menikah memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan dengan yang belum menikah atau yang sudah bercerai. Kualitas hidup yang baik pada laki-laki dan wanita yang sudah menikah karena adanya dukungan sosial dari pasangannya (Quan, Rong, Chan, Rong & Xiu, 2009).

  5. Pekerjaan
    Moons, Marquet, Budst, dan De Gees (2004) mengatakan bahwa terdapat perbedaan kualitas hidup antara penduduk yang berstatus sebagai pelajar, penduduk yang bekerja, penduduk yang tidak bekerja (atau sedang mencari pekerjaan), dan penduduk yang tidak mampu bekerja (atau memiliki disabiliti tertentu). Wahl, Astrid, Rusteun & Hanested (2004) menemukan bahwa status pekerjaan berhubungan dengan kualitas hidup baik pada pria maupun wanita.

  6. Lama menderita hipertensi
    Menurut WHO (2010) Kesehatan merupakan sebuah kondisi yang setabil atau normal dalam system koordinasi jiwa dan raga manusia maupun mahluk hidup yang lain. Kesetabilan pada koordinasi organorgan pada tubuh manusia atau mahluk hidup lainya dapat berpengaruh pada kesehatan jasmaninya.

    Sementara itu kesehatan rohani merupakan kesehatan jiwa pada manusia atau mahluk hidup lainnya yang memiliki akal dan pikiran, agar dapat mengkoordinasikan hati dan pikiran guna memperoleh rasa nyaman. Saat ini hipertensi perlu diperhatiakan dalam kesehatan masyarakat, karena lama menderita hipertensi dapat menyebabkan komplikasi yang lebih berat apabila tidak segera ditangani.

  7. Keteraturan berobat
    Penyakit hipertensi sering disebut sebagai the silent disease atau pembunuh diam-diam, karena pada umumnya penderita tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya. Kepatuhan menjalani pengobatan sangat diperlukan untuk mengetahui tekanan darah serta mencegah terjadinya komplikasi. Keteraturan berobat dikatakan teratur apabila dilakukan berturut-turut dalam beberapa bulan terahir dan tidak teratur apabila tidak dilakukan berturut-turut dalam beberapa bulan terahir (Annisa, 2013).

    Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mubin (2010) yang mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan tentang penyakit hipertensi seperti akibat dari penyakit jika tidak minum obat atau kontrol tekanan darah secara rutin maka akan mengakibatkan komplikasi penyakit, sehingga mereka meluangkan waktu untuk kontrol tekanan darah.

  8. Tekanan darah
    Tekanan darah adalah kekuatan yang diperlukan agar darah dapat mengalir dalam pembuluh darah dan beredar mencapai semua jaringan tubuh manusia. Darah yang dengan lancar beredar ke seluruh bagian tubuh berfungsi sangat penting sebagai media pengangkut oksigen serta zat-zat lain yang diperlukan bagi kehidupan sel-sel tubuh. Selain itu, darah juga berfungsi sebagai sarana pengangkut sisa hasil metabolism yang tidak digunakan lagi oleh tubuh untuk dikeluarkan (Gunawan, 2007).

Kualitas hidup menurut World Health Organozation Quality of Life (WHOQOL) Group (dalam Rapley, 2003), didefinisikan sebagai persepsi individu mengenai posisi individu dalam hidup dalam konteks budaya dan sistem nilai dimana individu hidup dan hubungannya dengan tujuan, harapan, standar yang ditetapkan dan perhatian seseorang. (Nimas, 2012)

Kualitas hidup merupakan persepsi subjektif dari individu terhadap kondisi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari yang dialaminya (Urifah, 2012).Sedangkan menurut Chipper (dalam Ware, 1992) mengemukakan kualitas hidup sebagai kemampuan fungsional akibat penyakit dan pengobatan yang diberikan menurut pandangan atau perasaan pasien.

Donald (dalam Urifah, 2012) menyatakan kualitas hidup merupakan suatu terminologi yang menunjukkan tentang kesehatan fisik, sosial dan emosi seseorang serta kemsmpusnnys untuk melaksanakan tugas sehari-hari. Kualitas hidup adalah suatu cara hidup, sesuatu yang yang esensial untuk menyemangati hidup, eksistensi berbagai pengalaman fisik dan mental seorang individu yang dapat mengubah eksistensi selanjutnya dari individu tersebut di kemudian hari, status sosial yang tinggi, dan gambaran karakteristik tipikal dari kehidupan seseorang individu (Brian, 2003)

Menurut Karangora (2012) mendefinisikan kualitas hidup sebagai persepsi seseorang dalam konteks budaya dan norma yang sesuai dengan tempat hidup seseorang tersebut serta berkaitan dengan tujuan, harapan, standard an kepedulian selama hidupnya. Kualitas hidup individu yang satu dengan yang lainnya akan berbeda, hal itu tergantung pada definisi atau interpretasi masing-masing individu tentang kualitas hidup yang baik. Kualitas hidup akan sangat rendah apabila aspek-aspek dari kualitas hidup itu sendiri masih kurang dipenuhi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Kualitas Hidup

Kualitas hidup pasien diabetes melitus dipengaruhi oleh berbagai faktor baik secara medis, maupun psikologis. Berbagai faktor tersebut diantaranya adalah pemahaman terhadap diabetes, penyesuaian terhadap diabetes, depresi, regulasi diri (Watkins, Connell, Fitzgerald, Klem, Hickey & Dayton, 2000) emosi negatif, efikasi diri, dukungan sosial, komplikasi mayor (kebutaan, dialysis, neuropati, luka kaki, amputasi, stroke dan gagal jantung), karakteristik kepribadian dan perilaku koping (Rose et al., 1998; 2002), tipe dan lamanya diabetes, tritmen diabetes, kadar gula darah, locus of control, jenis kelamin, tingkat pendidikan, usia, status perkawinan dan edukasi diabetes (Milencovic et al.,2004; Akimoto et al.,2004), emotional distress yang berhubungan dengan diabetes (Polonsky, Fisher, Earles, Dudl, Lees, Mullan & Richard, 2005). (Melina, 2011)

Menurut WHOQOL-BREF (dalam rapley, 2003) terdapat empat aspek mengenai kualitas hidup, diantaranya sebagai berikut: (Nimas, 2012)

  1. Kesehatan fisik, mencakup aktivitas sehari-hari, ketergantungan pada obat-obatan, energi dan kelelahan, mobilitas, sakit dan ketidaknyamanan, tidur/istirahat, kapasitas kerja

  2. Kesejahteraan psikologis, mencakup bodily image appearance, perasaan negative, perasaan positif, self-esteem, spiritual/agama/keyakinan pribadi, berpikir, belajar, memori dan konsentrasi.

  3. Hubungan sosial, mencakup relasi personal, dukungan sosial, aktivitas seksual

  4. Hubungan dengan lingkungan mencakup sumber finansial, kebebasan, keamanan dan keselamatan fisik, perawatan kesehatan dan sosial termasuk aksesbilitas dan kualitas, lingkungan rumah, kesempatan untuk mendapatkan berbagai informasi baru maupun keterampilan, partisispasi dan mendapat kesempatan untuk melakukan rekreasi dan kegiatan yang menyenangkan di waktu luang, lingkungan fisik termasuk polusi/kebisingan/lalu lintas/iklim serta transportasi.

Defenisi Kualitas Hidup

Kualitas hidup menurut World Health Organozation Quality of Life (WHOQOL) Group (dalam Rapley, 2003), didefinisikan sebagai persepsi individu mengenai posisi individu dalam hidup dalam konteks budaya dan sistem nilai dimana individu hidup dan hubungannya dengan tujuan, harapan, standar yang ditetapkan dan perhatian seseorang. (Nimas, 2012).

Kualitas hidup didefinisikan sebagai persepsi individu dari posisi mereka dalam kehidupan dalam konteks budaya dansistem nilai di mana mereka tinggal dan dalam hubungannya dengan tujuan mereka, harapan , standar dan kekhawatiran (WHO, 1996) Kualitas hidup merupakan persepsi subjektif dari individu terhadap kondisi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari yang dialaminya (Urifah, 2012).Sedangkan menurut Chipper (dalam Ware, 1992) mengemukakan kualitas hidup sebagai kemampuan fungsional akibat penyakit dan pengobatan yang diberikan menurut pandangan atau perasaan pasien.

Donald (dalam Urifah, 2012) menyatakan kualitas hidup merupakn suatu terminology yang menunjukkan tentang kesehatan fisik, sosial dan emosi seseorang serta kemsmpusnnys untuk melaksanakan tugas sehari-hari. Kualitas hidup adalah suatu cara hidup, sesuatu yang yang esensial untuk menyemangati hidup, eksistensi berbagai pengalaman fisik dan mental seorang individu yang dapat mengubah eksistensi selanjutnya dari individu tersebut di kemudian hari, status sosial yang tinggi, dan gambaran karakteristik tipikal dari kehidupan seseorang individu (Brian, 2003)

WHO (dalam Kurniawan, 2008) menggambarkan kualitas hidup sebagai sebuah persepsi individu terhadap posisi mereka dalam kehidupan dalam konteks budaya dan system nilai dimana mereka tinggal dan hidup dalam hubungannya dengan tujuan hidup, harapan, standart dan fokus hidup mereka. Konsep ini meliputi beberapa dimensi yang luas yaitu: kesehatan fisik, kesehatan psikologis, hubungan sosial dan lingkungan.

Menurut Cohan & Lazarus (dalam Handini, 2011) kualitas hidup adalah tingkatan yang menggambarkan keunggulan seseorang individu yang dapat dinilai dari kehidupan mereka.Keunggulan individu tersebut biasanya dilihat dari tujuan hidupnya, kontrol pribadinya, hubungan interpersonal, perkembangan pribadi, intelektual dan kondisi materi.Sedangkan Ghozali juga mengungangkap faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup diantaranya adalah mengenali diri sendiri, adaptasi, merasakan perhatian orang lain, perasaan kasih dan sayang, bersikap optimis, mengembangkan sikap empati.

Defenisi kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan (health-related quality of life) dikemukakan oleh Testa dan Nackley (Rapley, 2003), bahwa kualitas hidup berarti suatu rentang anatara kedaan objektif dan persepsi subjektif dari mereka.Testa dan Nackley menggambarkan kualitas hidup merupakan seperangkat bagian-bagian yang berhubungan dengan fisik, fungsional, psikologis, dan kesehatan sosial dari individu.Ketika digunakan dalam konteks ini, hal tersebut sering kali mengarah pada kualitas hidup yang mengarah pada kesehatan. Kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan mencakup lima dimensi yaitu kesempatan, persepsi kesehatan, status fungsional, penyakit, dan kematian.

Sedangkan menurut Hermann (Silitonga, 2007) kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan dapat diartikan sebagai respon emosi dari pasien terhadap aktivitas sosial, emosional, pekerjaan dan hubungan antar keluarga, rasa senang atau bahagia, adanya kesesuaian antara harapan dan kenyataan yang ada, adanya kepuasaan dalam melakukan fungsi fisik, sosial dan emosional serta kemampuan mengadakan sosialisasi dengan orang lain.

Kualitas hidup menurut definisi WHO adalah persepsi individu tentang keberadaannya di kehidupan dalam konteks budaya dan system nilai tempat ia tinggal. Jadi dalam skala yang luas meliputi berbagai sisi kehidupan seseorang baik dari segi fisik, psikologis, kepercayaan pribadi, dan hubungan sosial untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Definisi ini merefleksikan pandangan bahwa kualitas hidup merupakan evaluasi subjektif, yang tertanam dalam konteks cultural, sosial dan lingkungan. Kualitas hidup tidak dapat disederhanakan dan disamakan dengan status kesehatan, gaya hidup, kenyamanan hidup, status mental dan rasa aman (Snoek, dalam Indahria, 2013)

Menurut Karangora (2012) mendefinisikan kualitas hidup sebagai persepsi seseorang dalam konteks budaya dan norma yang sesuai dengan tempat hidup seseorang tersebut serta berkaitan dengan tujuan, harapan, standard an kepedulian selama hidupnya. Kualitas hidup individu yang satu dengan yang lainnya akan berbeda, hal itu tergantung pada definisi atau interpretasi masing-masing individu tentang kualitas hidup yang baik. Kualitas hidup akan sangat rendah apabila aspek-aspek dari kualitas hidup itu sendiri masih kurang dipenuhi.

Dari beberapa uraian tentang kualitas hidup diatas maka dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan kualitas hidup dalam kontek penelitian ini adalah persepsi individu terhadap posisi mereka dalam kehidupannya baik dilihat dari konteks budaya maupun system nilai dimana mereka tinggal dan hidup yang ada hubungannya dengan tujuan hidup, harapan, standart dan fokus hidup mereka yang mencakup beberapa aspek sekaligus, diantaranyaaspek kondisi fisik, psikologis, sosial dan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi

http://digilib.uinsby.ac.id/13318/3/Bab%202.pdf

Secara umum, kualitas hidup (bahasa Inggris: quality of life; QoL atau QOL) adalah kualitasyang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari individu, yaitu suatu penilaian atas kesejahteraan mereka atau ketiadaannya. Hal ini mencakup seluruh aspek emosi, sosial, dan fisik dalam kehidupan individu. Dalam perawatan kesehatan, kualitas hidup terkait kesehatan (bahasa Inggris: health-related quality of life, HRQoL) merupakan suatu penilaian tentang bagaimana kesejahteraan individu seiring berjalannya waktu mungkin terpengaruh oleh penyakit, disabilitas, atau kelainan.

Kualitas hidup adalah persepsi individu terhadap posisi mereka dalam kehidupan, dalam konteks budaya, dan nilai dimana mereka hidup dan dalam hubungannya dengan tujuan hidup, harapan, standard dan perhatian (Putri, 2014). Menurut Polonsky (dalam Putri, 2014) kualitas hidup adalah perasaan individu tentang kesehatan dan kesejahteraannya dalam area yang luas meliputi fungsi fisik, fungsi psikologis dan fungsi sosial.

Kebutuhan yang Menentukan Kualitas Hidup

Menurut Hunt and McKenna (dalam Juczynski, 2016) kebutuhan yang menentukan kualitas hidup, yaitu:

a. Makan, minum, tidur, aktivitas, seks, menghindari rasa sakit, kehangatan, keamanan, tidak adanya kecemasan dan stabilitas

b. Cinta, kontak fisik, keintiman, berkomunikasi, saling berbagi pengalaman, bekerja menuju tujuan bersama.

c. Rasa ingin tahu, menjelajahi dunia, persetujuan, rasa hormat, perasaan kegunaan, harga diri, profesionalisme, kekuasaan, kemandirian dan kebebasan.

d. Aktualisasi diri.

Komponen Kualitas Hidup

Menurut Cummins (dalam Veenhoven, 2016) ada tujuh komponen dalam kualitas hidup, yaitu:

a. Kesejahteraan materi
Diukur berdasarkan pendapatan, kualitas rumah dan harta benda.

b. Kesehatan
Diukur dengan jumlah cacat dan konsumsi medis.

c. Produktivitas
Diukur dengan kegiatan dalam pekerjaan, pendidikan dan rekreasi.

d. Keintiman
Kontak dengan teman dekat dan ketersediaan dukungan.

e. Keselamatan
Keamanan yang dirasakan di rumah, kualitas tidur dan mengkhawatirkan.

f. Tempat di komunitas
Kegiatan sosial, tanggung jawab, diminta untuk saran.

g. Kesejahteraan emosional
Kesempatan untuk melakukan atau memiliki hal-hal yang di inginkan dan kenikmatan hidup.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup

Menurut Juczynski (2016) ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas hidup, yaitu:

a. Faktor internal, mengacu pada ciri-ciri pribadi dan keterampilan tertentu yang memungkinkan manusia untuk mengambil tindakan individu, otonom,

b. Faktor eksternal, mengacu pada kondisi lingkungan hidup individu.

Siegrist and Junge (dalam Juczynski, 2016) ada tiga faktor yang mempengaruhi kualitas hidup, yaitu:

a. Faktor fisik seperti kecacatan dan rasa sakit.

b. Faktor psikologis seperti suasana hati, tingkat kecemasan dan depresi

c. Faktor sosial seperti tingkat isolasi dari lingkungan, peluang untuk melakukan peran sosial.

Definisi Kualitas Hidup

Kualitas hidup menurut World Health Organozation Quality of Life (WHOQOL) Group (dalam Rapley, 2003), didefinisikan sebagai persepsi individu mengenai posisi individu dalam hidup dalam konteks budaya dan sistem nilai dimana individu hidup dan hubungannya dengan tujuan, harapan, standar yang ditetapkan dan perhatian seseorang. (Nimas, 2012)

Kualitas hidup didefinisikan sebagai persepsi individu dari posisi mereka dalam kehidupan dalam konteks budaya dansistem nilai di mana mereka tinggal dan dalam hubungannya dengan tujuan mereka, harapan , standar dan kekhawatiran (WHO, 1996) Kualitas hidup merupakan persepsi subjektif dari individu terhadap kondisi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari yang dialaminya (Urifah, 2012).Sedangkan menurut Chipper (dalam Ware, 1992) mengemukakan kualitas hidup sebagai kemampuan fungsional akibat penyakit dan pengobatan yang diberikan menurut pandangan atau perasaan pasien.

Donald (dalam Urifah, 2012) menyatakan kualitas hidup merupakn suatu terminology yang menunjukkan tentang kesehatan fisik, sosial dan emosi seseorang serta kemsmpusnnys untuk melaksanakan tugas sehari-hari. Kualitas hidup adalah suatu cara hidup, sesuatu yang yang esensial untuk menyemangati hidup, eksistensi berbagai pengalaman fisik dan mental seorang individu yang dapat mengubah eksistensi selanjutnya dari individu tersebut di kemudian hari, status sosial yang tinggi, dan gambaran karakteristik tipikal dari kehidupan seseorang individu (Brian, 2003)

WHO (dalam Kurniawan, 2008) menggambarkan kualitas hidup sebagai sebuah persepsi individu terhadap posisi mereka dalam kehidupan dalam konteks budaya dan system nilai dimana mereka tinggal dan hidup dalam hubungannya dengan tujuan hidup, harapan, standart dan fokus hidup mereka. Konsep ini meliputi beberapa dimensi yang luas yaitu: kesehatan fisik, kesehatan psikologis, hubungan sosial dan lingkungan. Menurut Cohan & Lazarus (dalam Handini, 2011) kualitas hidup adalah tingkatan yang menggambarkan keunggulan seseorang individu yang dapat dinilai dari kehidupan mereka.Keunggulan individu tersebut biasanya dilihat dari tujuan hidupnya, kontrol pribadinya, hubungan interpersonal, perkembangan pribadi, intelektual dan kondisi materi.Sedangkan Ghozali juga mengungangkap faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup diantaranya adalah mengenali diri sendiri, adaptasi, merasakan perhatian orang lain, perasaan kasih dan sayang, bersikap optimis, mengembangkan sikap empati.

Defenisi kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan (health-related quality of life) dikemukakan oleh Testa dan Nackley (Rapley, 2003), bahwa kualitas hidup berarti suatu rentang anatara kedaan objektif dan persepsi subjektif dari mereka.Testa dan Nackley menggambarkan kualitas hidup merupakan seperangkat bagian-bagian yang berhubungan dengan fisik, fungsional, psikologis, dan kesehatan sosial dari individu.Ketika digunakan dalam konteks ini, hal tersebut sering kali mengarah pada kualitas hidup yang mengarah pada kesehatan. Kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan mencakup lima dimensi yaitu kesempatan, persepsi kesehatan, status fungsional, penyakit, dan kematian.

Sedangkan menurut Hermann (Silitonga, 2007) kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan dapat diartikan sebagai respon emosi dari pasien terhadap aktivitas sosial, emosional, pekerjaan dan hubungan antar keluarga, rasa senang atau bahagia, adanya kesesuaian antara harapan dan kenyataan yang ada, adanya kepuasaan dalam melakukan fungsi fisik, sosial dan emosional serta kemampuan mengadakan sosialisasi dengan orang lain. Kualitas hidup menurut definisi WHO adalah persepsi individu tentang keberadaannya di kehidupan dalam konteks budaya dan system nilai tempat ia tinggal. Jadi dalam skala yang luas meliputi berbagai sisi kehidupan seseorang baik dari segi fisik, psikologis, kepercayaan pribadi, dan hubungan sosial untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Definisi ini merefleksikan pandangan bahwa kualitas hidup merupakan evaluasi subjektif, yang tertanam dalam konteks cultural, sosial dan lingkungan. Kualitas hidup tidak dapat disederhanakan dan disamakan dengan status kesehatan, gaya hidup, kenyamanan hidup, status mental dan rasa aman (Snoek, dalam Indahria, 2013)

Menurut Karangora (2012) mendefinisikan kualitas hidup sebagai persepsi seseorang dalam konteks budaya dan norma yang sesuai dengan tempat hidup seseorang tersebut serta berkaitan dengan tujuan, harapan, standard an kepedulian selama hidupnya. Kualitas hidup individu yang satu dengan yang lainnya akan berbeda, hal itu tergantung pada definisi atau interpretasi masing-masing individu tentang kualitas hidup yang baik. Kualitas hidup akan sangat rendah apabila aspek-aspek dari kualitas hidup itu sendiri masih kurang dipenuhi.

Dari beberapa uraian tentang kualitas hidup diatas maka dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan kualitas hidup dalam kontek penelitian ini adalah persepsi individu terhadap posisi mereka dalam kehidupannya baik dilihat dari konteks budaya maupun system nilai dimana mereka tinggal dan hidup yang ada hubungannya dengan tujuan hidup, harapan, standart dan fokus hidup mereka yang mencakup beberapa aspek sekaligus, diantaranyaaspek kondisi fisik, psikologis, sosial dan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi

http://digilib.uinsby.ac.id/13318/3/Bab%202.pdf