Apa yang dimaksud dengan konservatisme akuntansi?

konservatisme akuntansi

Sterling (1970) menyatakan bahwa konservatisme akuntansi merupakan prinsip yang paling berpengaruh dalam valuasi akuntansi. Prinsip ini menekankan untuk memilih alternatif pencatatan akuntansi yang memiliki kemungkinan terkecil untuk meng- overstate asset dan pendapatan.

1 Like

Konservatisme dapat diartikan sebagai preferensi akuntan untuk memilih metode akuntansi tertentu yang menghasilkan pencatatan nilai modal yang lebih kecil. Bliss (1924) mendefinisikan konservatisme sebagai anticipate no profit but anticipate all losses (Watts, 2003, p.208). Yakni, prinsip yang menekankan pada pencatatan keuntungan ketika telah tersedia cukup bukti atas pendapatan yang dapat menghasilkan keuntungan tersebut dan segera mengakui kerugian.

FASB menjelaskan definisi konservatisme di dalam SFAC no.2 tahun 1980 sebagai reaksi yang hati-hati dalam menghadapi ketidakpastian dalam perusahaan untuk meyakinkan bahwa ketidakpastian dan risiko yang melekat di dalam bisnis perusahaan sudah cukup dipertimbangkan.

Definisi konservatisme di atas masih samar dalam menjelaskan bagaimana sesungguhnya praktek akuntansi konservatif yang diterapkan oleh para akuntan. Beberapa buku teks akuntansi memberikan penjelasan yang lebih deskriptif mengenai definsi konservatisme. Berikut adalah definisi konservatisme akuntansi menurut para ahli :

  • Schroeder (2003) menjelaskan konservatisme akuntansi sebagai pilihan manajemen perusahaan ketika berada dalam keragu-raguan untuk menggunakan metode pencatatan yang memiliki kemungkinan terkecil untuk meng- overstate asset dan laba yang dilaporkan.

  • Wolk dan Tearney (2000) menyebutkan bahwa konservatisme akuntansi merupakan preferensi terhadap metode-metode akuntansi yang menghasilkan nilai paling rendah untuk aset dan pendapatan, sementara nilai paling tinggi untuk utang dan biaya, atau menghasilkan nilai buku ekuitas yang paling rendah.

  • Basu (1997) menyatakan bahwa konservatisme akuntansi merupakan kecenderungan akuntan untuk mempersyaratkan tingkat verifikasi yang lebih tinggi dalam mengakui good news sebagai keuntungan daripada bad news sebagai kerugian. Sehingga dapat diartikan bahwa semakin tinggi perbedaan tingkat verifikasi antara bad news dan good news di dalam perusahaan maka semakin konservatif laporan keuangan yang dikeluarkan perusahaan.

Implikasi dari definisi konservatisme adalah dalam prakteknya, akuntansi konservatif akan mengakui seluruh biaya atau rugi yang kemungkinan akan terjadi, tetapi tidak segera mengakui pendapatan atau laba yang akan datang walaupun kemungkinan terjadinya besar.

Tetapi, sebagaimana dinyatakan oleh Givoly dan Hayn (2000), definisi konservatisme tersebut mengabaikan pentingnya dimensi waktu dari konservatisme akuntansi. Pelaporan konservatif dalam satu periode mengimplikasikan pelaporan nonkonservatif dalam beberapa periode berikutnya. Sebagai contoh, membebankan sepenuhnya suatu aset yang memiliki kemungkinan manfaat ekonomis di masa yang akan datang akan mengurangi jumlah laba (laba akan lebih konservatif) dalam periode pengeluaran biaya. Sebaliknya, laba pada periode berikutnya akan menjadi kurang konservatif (misal, overstated ) karena biaya yang berkaitan telah dibebankan sepenuhnya dalam periode sebelumnya.

Givoly dan Hayn (2000) dan Watts (2003) menunjukkan perspektif jangka panjang terhadap konservatisme. Givoly dan Hayn (2000) mendefinisikan konservatisme sebagai pengakuan awal untuk biaya dan rugi serta menunda pengakuan untuk pendapatan dan keuntungan.

Watts (2003) menyatakan konservatisme menyebabkan understatement terhadap laba dalam current period yang dapat mengarahkan pada overstatement terhadap laba pada periode-periode berikutnya, sebagai akibat understatement terhadap biaya pada periode tersebut. Secara ringkas, mereka menyatakan bahwa konservatisme akuntansi menyebabkan understatement yang persisten dari laba laporan kumulatif dan aset bersih sepanjang periode pelaporan.

Sejarah Konservatisme


Konservatisme telah mempengaruhi pelaporan dan pencatatan akuntansi sejak beberapa abad yang lalu. Penndorf (1930) menyatakan bahwa pencatatan historis dalam perdagangan antar persekutuan pada abad ke 15 di Eropa Tengah menunjukkan bahwa pencatatan akuntansi di abad tersebut telah menerapkan praktek konservatisme (Basu, 1997, p.8).

Prinsip konservatisme menjadi semakin menonjol pada tiga dekade awal abad ke-20. Hellman (2007) menyatakan bahwa hingga saat ini, prinsip konservatisme masih menjadi prinsip yang paling berpengaruh pada praktek akuntansi konvensional. Prinsip ini diyakini mampu mencegah terjadinya kerugian akibat optimisme manajemen yang berlebihan yang mengakibatkan tingginya kecenderungan para manajer tersebut untuk meng- overstate nilai aktiva bersih dan laba perusahaan. Para akuntan mempercayai bahwa dengan menggunakan metode penilaian yang menghasilkan nilai aktiva bersih dan laba terkecil, maka semakin kecil kemungkinan para pengguna laporan keuangan mengalami mislead .

Namun, praktek konservatisme menimbulkan sebuah permasalahan yakni akuntansi konservatif membuat pencatatan asset mengalami understatement, kewajiban menjadi overstatement serta pengakuan pendapatan yang terlalu lambat dan pengakuan biaya yang terlalu cepat (Watts, 2003). Dengan berbagai kritik yang mengemuka atas penerapan prinsip ini, konservatisme tetap menjadi salah satu prinsip yang paling berpengaruh dalam akuntansi konvensional (Hellman, 2007). Kebutuhan para akuntan akan akuntansi konservatif berkaitan dengan dapat diandalkannya pelaporan keuangan yang menerapkan konservatisme. Sangat kecil kemungkinan akuntan dan auditor menghadapi tuntutan hukum dari para pengguna laporan keuangan akibat laporan keuangan yang terlalu konservatif.

Bagaimanapun, saat ini para pelaku pasar semakin menghendaki pelaporan keuangan berdasarkan nilai pasar dan bukan nilai historis. Keinginan para pelaku pasar tersebut telah diakomodir oleh standar pelaporan keuangan internasional (IFRS) dengan mempersyaratkan pembaruan atas penilaian akun-akun pada neraca atas nilai pasarnya setiap pelaporan kuartalan. Peraturan baru yang diterapkan IASB tersebut telah membuat praktek konservatisme mengalami kemunduran.

Berkaitan dengan tujuan penyesuaian standar akuntansi di Indonesia dengan standar akuntansi Internasional, konservatisme menjadi isu penting yang harus diperhatikan oleh para pembuat standar akuntansi di Indonesia. Penerapan prinsip konservatisme yang semakin dibatasi dan ditinggalkan oleh standar akuntansi Internasional (IFRS) membuat PSAK pun harus menerapkan perlakuan yang serupa terhadap prinsip konservatisme agar sejalan dengan IFRS.

Konservatisme dalam PSAK


PSAK sebagai standar pencatatan akuntansi di Indonesia menjadi pemicu timbulnya penerapan prinsip konservatisme. Pengakuan prinsip konservatisme di dalam PSAK tercermin dengan terdapatnya berbagai pilihan metode pencatatan di dalam sebuah kondisi yang sama. Pilihan metode pencatatan tersebut cenderung menimbulkan laporan laba perusahaan yang konservatif, karena akuntan akan cenderung memilih metode pencatatan yang menghasilkan nilai aktiva bersih dan laba perusahaan yang terkecil. Beberapa pilihan metode pencatatan di dalam

PSAK yang dapat menimbulkan laporan keuangan konservatif di antaranya adalah:

  • PSAK No.14 tentang persediaan yang menyatakan bahwa perusahaan dapat mencatat biaya persediaan dengan menggunakan salah satu dari metode : FIFO ( first in first out) , LIFO ( last in first out) dan rata-rata tertimbang ( weighted average) . Dimana LIFO dianggap menghasilkan nilai laba yang lebih konservatif dibandingkan metode lainnya.

  • PSAK No.16 tentang aktiva tetap dan aktiva lain-lain yang mengatur estimasi masa manfaat suatu aktiva tetap. Estimasi masa manfaat suatu aktiva didasarkan pada pertimbangan manajemen yang berasal dari pengalaman perusahaan saat menggunakan aktiva yang serupa. Estimasi masa manfaat tersebut haruslah diteliti kembali secara periodik dan jika manajemen menemukan bahwa masa manfaat suatu aktiva berbeda dari estimasi sebelumnya maka harus dilakukan penyesuaian atas beban penyusutan saat ini dan di masa yang akan datang. Standar ini memungkinkan perusahaan untuk mengubah masa manfaat aktiva yang digunakan dan dapat mendorong timbulnya laba yang konservatif.

  • PSAK No. 17 tentang akuntansi penyusutan yang menyatakan bahwa perusahaan dapat memilih untuk menggunakan salah satu dari metode penyusutan yang ditetapkan untuk mengalokasikan aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaatnya. Metode penyusutan yang dapat dipergunakan perusahaan adalah :

    • Berdasarkan Waktu

      • Metode Garis Lurus ( straight line method)
      • Metode Jumlah Angka Tahun ( sum of the year digit method)
      • Metode Saldo Menurun/ Saldo Menurun Ganda ( Double Declining method)
    • Berdasarkan Penggunaan

      • Metode Jam Jasa ( service hours method)
      • Metode Jumlah Unit Produksi ( productive output method)
    • Berdasarkan Kriteria Lainnya

      • Metode Annuitas ( annuity method)
      • Sistem Persediaan (Inventory System)
  • PSAK No. 20 tentang biaya riset dan pengembangan yang menyebutkan bahwa alokasi biaya riset dan pengembangan ditentukan dengan melihat hubungan antara biaya dan manfaat ekonomis yang diharapakan perusahaan akan diperoleh dari kegiatan riset dan pengembangan. Apabila besar kemungkinan biaya tersebut akan meningkatkan manfaat ekonomis di masa yang akan datang dan biaya tersebut dapat diukur secara andal, maka biaya- biaya tersebut memenuhi syarat untuk diakui sebagai aktiva.

Konservatisme Akuntansi dalam IFRS


Konservatisme akuntansi tidak menjadi prinsip yang diatur dalam standar akuntansi internasional (IFRS). Hellman (2007) menyatakan bahwa jika dibandingkan dengan akuntansi konvensional, IFRS fokus pada pencatatan yang lebih relevan sehingga menyebabkan ketergantungan yang semakin tinggi terhadap estimasi dan berbagai judgement . Dalam hal ini, kebijakan yang ditetapkan IASB ( Internaional Accounting Standard Board) tersebut menyebabkan semakin berkurangnya penekanan atas penerapan akuntansi konservatif secara konsisten dalam pelaporan keuangan berdasarkan IFRS (Hellman, 2007).

Beberapa poin di bawah ini akan memberikan penjelasan yang lebih terperinci mengenai semakin berkurangnya penekanan atas penggunaan akuntansi konservatif yang konsisten dalam IFRS :

Dalam kerangka konseptual IFRS yang dipublikasikan IASC ( International Accounting Standard Committee) tahun 1989 dan diadopsi oleh IASB tahun 2001 penggunaan pelaporan keuangan dengan pendekatan laporan keuangan yang telah digunakan sejak lama dalam akuntansi konvensional digantikan dengan pendekatan neraca. Dalam pendekatan baru tersebut, penekanan prinsip akuntansi yang digunakan tidak lagi matching cost against revenue , namun penentuan, pengakuan dan pengukuran nilai asset serta kewajiban dengan tepat.

Jika hal tersebut dapat dilaksanakan dengan tepat maka pendapatan ( revenue ) dapat dihitung berdasarkan peningkatan nilai aktiva atau penurunan nilai utang dan beban dapat dihitung berdasarkan penurunan nilai aktiva atau peningkatan nilai utang. Pada kondisi diketahuinya nilai pasar dari aktiva dan utang yang dimiliki perusahaan, maka pengukuran nilai aktiva dan utang tersebut didasarkan pada nilai pasarnya. Dalam hal ini, IFRS mengeluarkan peraturan baru di tahun 2005 yang diaplikasikan untuk perusahaan-perusahaan publik di Swedia.

Peraturan tersebut mempersyaratkan perusahaan untuk memperbarui pengukuran akun-akun di neraca berdasarkan nilai pasarnya di setiap laporan kuartalan (Swaard, Rosencratz dan Narayanan, 2005). Penerapan regulasi baru tersebut menyisakan sedikit ruang bagi praktek konservatisme di bawah standar IFRS (Hellman, 2007).

  • IAS 11 ( Zero Profit Recognition for fixed-Price Contracts)

    Versi terbaru dari IAS 11 mulai berlaku sejak tahun 1995. Standar ini mengatur mengenai penggunaan metode POC ( Percentage of Completion) untuk pengakuan atas pendapatan dan biaya dalam kontrak konstruksi sebagai pengganti dari metode CC ( Completed Contract) . Hellman (2007) menyatakan metode CC dinilai lebih konservatif dibandingkan metode POC karena dalam metode CC nilai keuntungan yang dapat diakui perusahaan akan mengalami Understatement selama proses kontrak dan akan mengalami overstatement setelah kontrak selesai. Hal ini disebabkan, perusahaan hanya boleh mengakui pendapatan dari kontrak konstruksi tersebut setelah proses konstruksi selesai. Sementara, dalam metode POC, perusahaan dapat mengakui pendapatan berdasarkan estimasi persentase penyelesaian kontrak pada tanggal neraca.

  • IAS 12 ( Deferred Tax Asset)

    IAS 12 yang berlaku efektif sejak tanggal 1 Januari 1998 mengatur mengenai pengakuan deferred tax asset pada neraca jika mungkin ( probable) terdapat future taxable profit . Sebelum dikeluarkannya IAS 12 tersebut, deferred tax asset tidak diakui di dalam neraca karena terdapat ketidakjelasan atas perolehan taxable profit di masa yang akan datang. Pemberlakuan efektif atas IAS 12 tersebut merepresentasikan perlakuan akuntansi yang kurang konservatif (Hellman, 2007).

IAS 16 ( Property, Plant and Equipment)

IAS 16 mengatur bahwa dalam pengukuran nilai aktiva tetap, perusahaan dapat memilih penggunaan metode biaya atau metode revaluasi. Metode biaya merupakan metode yang telah lama digunakan dalam akuntansi konvensional, sementara metode revaluasi yang mensyaratkan perusahaan untuk memperbarui nilai aktiva secara periodic atas nilai pasarnya dinyatakan sebagai metode yang kurang konservatif (Swaard, Rosencratz dan Narayanan, 2005). Dalam metode revaluasi ini, perusahaan dapat mengakui peningkatan nilai aktiva sebagai penambahan atas modal atau peningkatan nilai pendapatan jika penurunan nilai aktiva pada periode sebelumnya telah diakui sebagai biaya.

  • IAS 38 ( Capitalisation of Development Cost)

    IAS 38 pertama kali dikeluarkan pada tahun 1998, kemudian diikuti dengan revisinya yang berlaku sejak tanggal 31 Maret 2004. Berdasarkan IAS 38, aktiva tidak berwujud yang berasal dari aktivitas pengembangan diakui sebagai aktiva jika telah memenuhi beberapa syarat tertentu. Sebelum diberlakukannya standar ini, pembebanan langsung menjadi acuan utama dalam perlakuan akuntansi atas biaya pengembangan. Standar ini merepresentasikan regulasi akuntansi yang kurang konservatif.

Implikasi Konservatisme


Praktek konservatisme memberikan dampak terhadap nilai earning dan aktiva bersih yakni akuntansi konservatif akan menghasilkan nilai laba dan aktiva bersih perusahaan yang lebih rendah. Hal tersebut timbul sebagai akibat dari karakteristik konservatisme yang merefleksikan bad news lebih cepat dibandingkan good news .

Berbagai studi telah dilakukan oleh para peneliti akuntansi dalam menganalisis setiap implikasi dari praktek konservatisme. Penelitian mengenai konservatisme diawali oleh Watts dan Zimmerman (1986), Watts (1993) dan Basu (1995). Ketiga penelitian tersebut menyatakan bahwa bias konservatisme timbul akibat adanya pengaruh pengontrakan dalam akuntansi dan pelaporan keuangan perusahaan.

Basu (1997) kemudian mengembangkan penelitian yang telah dilakukannya pada tahun 1995 untuk menganalisis dampak dari konservatisme. Ia menguji argumentasinya bahwa konservatisme menghasilkan nilai earning yang lebih cepat merefkleksikan bad news daripada good news . Hal tersebut menyiratkan bahwa terdapat perbedaan sistematis antara periode pengakuan bad news dan good news di dalam nilai earning yang berpengaruh terhadap persistensi nilai earning tersebut. Dalam penelitiannya ini, Basu mengembangkan metode pengukuran return-earning fixed coefficient model untuk menguji argumentasinya.

Lebih jauh lagi, Basu memperlihatkan konservatisme sebagai sebuah mekanisme pencatatan akuntansi yang menyebabkan terjadinya asymmetric timeliness of earning yakni nilai earning lebih sensitive serta lebih cepat merefleksikan bad news daripada good news yang dialami perusahaan. Karakteristik konservatisme tersebut menyebabkan nilai laporan earning konservatif cenderung lebih sensitif terhadap informasi publik yang buruk ( bad news) dibandingkan sebaliknya ( good news) . Dalam hal ini, nilai earning diprediksi akan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan bad news dibandingkan dengan good news .

Untuk menganalisis hubungan antara earning dengan bad news dan good news , Basu menggunakan return saham perusahaan untuk menangkap pengaruh kedua jenis berita tersebut terhadap nilai earning yang dilaporkan perusahaan. Dalam hal ini, Positive return menjadi proksi dari good news dan negative return menjadi proksi dari bad news . Variabel return saham perusahaan yang digunakan oleh Basu untuk mencerminkan good news dan bad news diperkuat oleh riset sebelumnya yang dilakukan oleh Ball dan Brown (1968) yang berargumen bahwa harga saham mencerminkan informasi mengenai perusahaan yang diperoleh investor dari berbagai sumber selain laporan keuangan, pergerakan harga saham mendahului nilai reported earning .

Kenaikan harga saham perusahaan menggambarkan sentimen investor terhadap kondisi perusahaan. Dengan berbagai informasi yang diterima, para investor berekspektasi kondisi perusahaan akan semakin profitable dan menjanjikan keuntungan yang lebih besar bagi mereka. Dalam hal ini, informasi

yang diterima oleh para investor tersebut merupakan good news yang tercermin dalam kenaikan harga saham dan return saham yang positif. Sebagai contoh, para investor memperoleh informasi dari luar perusahaan bahwa perusahaan sedang menanamkan investasinya pada sebuah proyek yang memiliki nilai NPV yang positif. Proyek tersebut menjanjikan keuntungan yang cukup besar bagi perusahaan di masa yang akan datang. Hal ini tentunya merupakan kabar baik ( good news) bagi para investor dan membentuk sentimen positif investor terhadap perusahaan yang tercermin melalui kenaikan harga saham perusahaan. Namun, keuntungan atas proyek dengan NPV yang positif tersebut belum terealisasi sehingga, dengan diterapkannya prinsip konservatisme oleh perusahaan maka good news tersebut belum tercermin pada nilai reported earning .

Sebaliknya, ketika investor menerima berita yang menginformasikan bahwa perusahaan sedang mengalami kondisi yang buruk dan akan berdampak pada menurunnya keuntungan perusahaan, hal tersebut akan segera tercermin pada menurunnya harga dan return saham perusahaan yang negatif. Sementara, dengan diterapkannya prinsip konservatisme oleh perusahaan, bad news tersebut juga akan segera tercermin dengan menurunnya nilai reported earning . Sebagai contoh, ketika terjadi kenaikan mata uang dollar, perusahaan yang memiliki hutang luar negeri dalam bentuk dollar harus menanggung kerugian atas kenaikan kurs tersebut. M eskipun belum terealisasi, kerugian tersebut akan segera tercermin pada laporan keuangan konservatif dan akan menyebabkan sentimen negatif para investor di bursa saham serta mendorong terjadinya penurunan harga dan return saham perusahaan.

Dari penjelasan di atas, terdapat dugaan bahwa penerapan konservatisme dalam pelaporan keuangan perusahaan menyebabkan nilai earning lebih sensitive serta lebih cepat menggambarkan bad news ( negative return) dibandingkan good news (positive return) . Hasil dari pengujian hipotesis tersebut akan menunjukkan earning lebih sensitif dan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan bad news dibandingkan good news jika nilai β untuk sampel dengan bad news lebih tinggi dibandingkan sampel good news .

Penelitian mengenai konservatisme juga dikembangkan oleh para ahli lainnya, di antaranya Givoly dan Hayn (2000) yang mendefinikan konservatisme sebagai pemilihan metode akuntansi yang menghasilkan nilai earning terendah dengan memperlambat pengakuan keuntungan, mempercepat pengakuan biaya serta menggunakan penilaian aktiva terendah dan biaya terbesar. Dalam penelitiannya, mereka menggunakan pengukuran konservatisme berbasis akrual.

Pengukuran konservatisme lainnya dikembangkan oleh Beaver dan Ryan (2000), mereka menggunakan model pengukuran perbandingan nilai buku dan nilai pasar dari aktiva bersih perusahaan. Penelitian ini menguji argumentasi bahwa konservatisme menyebabkan nilai buku dari aktiva bersih perusahaan akan lebih rendah dari nilai pasarnya secara konsisten.

konservatisme akuntansi menurut Suwardjono (2014) adalah “Sikap atau aliran (mazhab) dalam menghadapi ketidakpastian untuk mengambil tindakan atau keputusan atas dasar munculan (outcome) yang terjelek dari ketidak pastian tersebut. Sikap konservatif juga mengandung makna sikap berhati-hati dalam menghadapi resiko dengan cara bersedia mengorbankan sesuatu untuk mengurangi atau menghilangkan resiko.”

Sedangkan pengertian konservatisme akuntansi menurut Bealkoui (2007) sebagai berikut :
The conservatism principle is an exception or modifying principle in the sense that it acts as a constraint to the presentation of relevant an reliable accounting data. The conservatism principles holds that when choosing among two or more acceptable accounting techniques, some preferences is shown for the option that has the least favorable impact on the stock holder’s equity.

Bliss dalam Watts (2003) mendefinisikan konservatisme “Conservatism by the adage “anticipate no profit, but anticipate all loses”. It means recognizing profits before there is legal claim to revenues generating them and the revenue verifiable.”

Kemudian, Widayati (2011) menyatakan bahwa “Konservatisme akuntansi merupakan pandangan yang pesimistik dalam akuntansi. Akuntansi yang konservatif berarti bahwa akuntan bersikap pesimis dalam menghadapi ketidakpastian laba atau rugi dengan menggunakan prinsip memperlambat pengakuan pendapatan, mempercepat pengakuan biaya, merendahkan penilaian asset dan meninggikan penilaian utang.”

Jenis –jenis Konservatisme

Menurut Subramanyam (2010), konservatisme dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :

  1. Konservatisme Tak Bersyarat (Unconditional Conservatism), yaitu bentuk akuntansi konservatisme yang di aplikasikan secara konsisten dalam dewan direksi. Hal ini mengarah kepada nilai aset yang lebih rendah secara prepetual. Contoh dari konservatisme tak bersyarat adalah akuntansi untuk penelitian dan pengembangan (R&D). Beban R&D dihapuskan ketika sudah terjadi, meskipun ia mempunyai potensi ekonomis. Oleh karena itu, aset bersih dari perusahaan yang melakukan R&D secara insentif akan selalu lebih rendah (understated).

  2. Konservatisme Bersyarat (Conditional Conservatism), yaitu mengacu kepada pepatah lama “semua kerugian diakui secepatnya, tetapi keuntungan hanya diakui saat benar-benar terjadi”. Contoh konservatisme bersayarat adalah menurunkan nilai aset seperti PP&E atau goodwill apabila nilainya mengalami penurunan secara ekonomis, yaitu pengurangan potensi arus kasnya meningkat dikemudian hari, maka kita tidak dapat serta merta menaikkan nilainya karena laporan keuangan hanya mencerminkan kenaikan potensi arus kas selama periode secara perlahan, dan hal itu dilakukan apabila arus kas benar-benar terjadi”.

Dari kedua macam akuntansi konservatisme, jenis konservatisme tak bersyaratlah yang lebih berharga bagi analis, terutama analis kredit karena ia mengkomunikasikan informasi tepat pada waktunya mengenai perubahan yang merugikan dalam situasi ekonomi perusahaan yang mendasarinya.

Konservatisme Akuntansi dalam PSAK

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) tahun 2015 menyebutkan ada beberapa metoda yang menerapkan prinsip konservatisma. Oleh karena itu konservatif merupakan salah satu metoda yang dapat digunakan perusahaan dalammelaporkan laporan keuangannya. Hal tersebut akan mengakibatkan angka-angka yang berbeda dalam laporan keuangan yang pada akhirnya akan menyebabkan laba yang cenderung konservatif. Beberapa metoda dalam Penyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) tahun 2015 terhadap penerapan prinsip konservatisma:

  1. PSAK No. 14 yang mengatur perlakuan akuntansi untuk persediaan. Perhitungan biaya persediaan dengan menggunakan metode FIFO (First In First Out) adalah perhitungan yang dapat menghasilkan laba lebih besar daripada merode LIFO (Last In First Out) dan rata-rata tertimbang. Hal ini disebabkanbiaya persediaan yangbesar menyebabkan harga pokok penjualan yang kecil, sehingga laba yang dihasilkan besar.

    Oleh karena itu, metode FIFO merupakan metode yang optimis jika dibandingkan dengan metode LIFO yang menghasilkan angka lebih rendah. Karena laporan laba rugi fiscal hanya mengakui dua metode penyusutan yaitu metode FIFO dan rata-rata tertimbang maka metode rata-rata tertimbang merupakan metode yang paling konservatif. Hal iyu dikarenakan biaya persediaan akhir lebih kecil yang mengakibatkan harga pokok penjualan menjadi besar sehingga laba yang dihasilkan menjadi kecil.

  2. PSAK No. 16mengenai aset tetap dan pilihan dalam menghitung biaya penyusutannya. Apabila metode penyusutan yang digunakan untuk menilai asset tetap perusahaan memiliki periode yang semakin pendek, maka prinsip akuntansi yang diterapkan akan semakin konservatif.

    Metode penyusutan saldo menurun berganda (double declining balance method) merupakan metode yang lebih konservatif jika dibandingkan dengan metode garis lurus (straight line method). Hal ini karena metode saldo menurun berganda memiliki kos yang lebih besar, sehingga angka laba yang tersaji menjadi rendah.

  3. PSAK No. 19 untuk menetukan perlakukan akuntansi bagi aset tidak berwujud yang tidak diatur secara khusus pada standar lainnya. Pernyataan ini juga mengatur cara mengukur jumlah tercatat dari asset tidak berwujud dan menentukan pengungkapan yang harus dilakukan bagi asset tidak berwujud. Metode amortisasi untuk mengalokasikan jumlah aste tidak berwujud yang serupa dengan penyusutan pada aset tetap meliputi :

    • Metode garis lurus
    • Metode saldo menurun berganda
    • Metode jumlah unit produksi

    Jika periode amortisasi asset tidak berwujud semakinpendek maka akuntansi yang diterapkan juga semakin konservatif, sebaliknya bila periode amortisasi semakin panjang maka semakin tidak konservatif. Periode amortisasi yang semakin pendek menyebabkan biaya amortisasi yang semakin besar pada tiap periodenya sehingga berakibat pula pada laba yang menjadi kecil.

    Dari ketiga metode amortisasi tersebut, metode saldo menurun berganda merupakan metode yang paling konservatif. Lebih lanjut, apabila amortisasi aset tidak berwujud diakui sebagai bagian dari harga pokok asset lainnya maka membuat laba yang dihasilkan menjadi besar yang berarti tidak konservatif. Namun apabila amortisasi tersebut diakui sebagai beban, maka laba yang dihasilkan menjadi lebih kecil atau dapat dikatakan konservatif.

  4. PSAK No. 20 tentang biaya riset dan pengembangan. Apabila biaya riset dan pengembangan diakui sebagai beban daripada sebagai asset maka akuntansi yang diterapkan cenderung konservatif. Karena jika biaya yang terjadi diakui sebagai beban, maka laba yang dihasilkan didalam laporan keuangan menjadi kecil. Sebaliknya, bila biaya yang terjadi diakui sebagai aset, maka laba yang dihasilkan besar dan akuntansi menjadi tidak konservatif.

    Seperti halnya yang telah disebutkan bahwa ada beberapa metoda dalam PSAK yang terkait dalam penerapan prinsip konservatisme. Widayati (2011) menyatakan bahwa “Metoda yang paling konservatif dalam penilaian persediaan adalah metoda LIFO (asumsi perekonoman dalam keadaan iinflasi), sedangkan yang paling optimis atau liberal adalah metoda FIFO. Kedua metoda itu akan menghasilkan laba yang berbeda. Penerapan metoda LIFO akan menghasilkan laba yang lebih kecil dibandingkan dengan metoda FIFO (dalam keadaan inflasi).”

    Standar akuntansi mengenai pengakuan biaya riset dan pengembangan memungkinkan perusahaan utnuk memilih metoda yang lebih sesuai dengan keadaan perusahaan. Jika kos diakui dalam perioda berjalan, maka perusahaan menghasilkan laporan yang cenderung konservatif. Biaya riset yang dicatat sebagai kos pada perioda berjalan menyebutkan kos menjadi semakin tinggi sehingga laba yang dihasilkan kecil.