© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan kewirausahaan atau Entrepreneurship?

Kewirausahaan atau Entrepreneurship

Entrepreneurship merupakan kegiatan individual atau kelompok yang membuka usaha baru dengan maksud memperoleh keuntungan (laba), memelihara usaha itu dan membesarkannya, dalam bidang produksi atau distribusi barang-barang ekonomi atau jasa

Kewirausahaan atau Entrepreneurship mempunyai arti yang yangat luas, karena entrepreneurship sendiri dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Menurut Cuervo, dkk. (2007), secara garis besar kewirausahaan (entrepreneurship) dapat dipandang dalam 4 sudut pandang, yaitu :

  • Entrepreneurship sebagai faktor wirausaha (entrepreneurial factor), yang dipahami sebagai faktor baru dalam sebuah produksi yang berbeda dengan gagasan klasik terkait dengan bumi, pekerjaan, dan modal

  • Entrepreneurship sebagai fungsi wirausaha (entrepreneurial function), yang merupakan suatu proses di mana seorang individu atau sekelompok orang di dalam sebuah organisasi mengejar peluang yang ada (Stevenson dan Jarillo, 1990) atau proses penemuan peluang bisnis dan penciptaan operasi ekonomi baru, yang biasanya dilakukan melalui pembentukan organisasi baru (Reynolds, 2005). Entrepreneurship berfungsi untuk melakukan penemuan, penilaian dan peluang pada produk, jasa atau proses produksi baru, strategi perusahaan dan bentuk organisasi yang baru serta pasar baru untuk produk baru yang dihasilkan (Shane dan Venkataraman, 2000).

  • Entrepreneurship sebagai inisiatif wirausaha (entrepreneurial initiative), yang berkaitan dengan konsep penciptaan, pengambilan risiko, pembaruan atau inovasi di dalam atau di luar organisasi yang ada.

  • Entrepreneurship sebagai perilaku wirausaha (entrepreneurial behaviour), yang dipandang sebagai perilaku yang menggabungkan perilaku inovasi, perilaku berani mengambil risiko dan perilaku proaktif (Miller, 1983). Dengan kata lain, perilaku wirausaha menggabungkan teori klasik milik Schumpeter (1934, 1942) tentang wirausahawan inovatif, teori milik Knight (1921) tentang keberanian seorang wirausahawan dalam mengambil risiko dalam kondisi yang tidak pasti, dan kemampuan seorang wirausahawan untuk berinisiatif dan berimajinasi sehingga mampu untuk menciptakan peluang baru.

  • Entrepreneurship sebagai semangat wirausaha (entrepreneurial spirit), yang menekankan proses eksplorasi, pencarian dan inovasi, dimana hal ini bertentangan dengan proses eksploitasi peluang bisnis.

Teori entrepreneur fokus pada heterogenitas keyakinan tentang nilai suatu sumber daya (Alvarez dan Busenitz, 2001). Entrepreneurship merupakan hal yang sangat penting bagi sebuah perusahaan. Perusahaan yang mengadopsi perilaku wirausaha ketika mengembangkan strategi mereka akan menghadapi masa depan yang lebih cerah (Lee dan Peterson, 2000).

Entrepreneur


Entrepreneur adalah seorang individu yang mempunyai kemampuan wirausaha. J. Schumpeter (1934), dalam bukunya, Theory of Economic Develepment, mengemukakan bahwa seorang wirausahawan, yang juga dapat disebut sebagai seorang inovator, merupakan seorang yang mampun menciptakan peluang keuntungan dengan merancang produk baru, proses produksi baru, atau strategi pemasaran baru.

Scumpter menyarankan (1942) bahwa ;

  • Fungsi entrepreneurial adalah memberikan keinginan kepada seorang entrepreneur untuk melakukan tindakan dalam rangka memperkenalkan sebuah inovasi pada suatu kegiatan ekonomi,
  • Kepemimpinan entrepreneurial merupakan sumber energi kreatif untuk inovasi
  • Keuntungan entrepreneurial adalah keuntungan sementara atas kegiatan monopoli yang didapat dari kegiatan pribadi seorang entrepreneur.

Schumpeter (1965) mendefinisikan “entrepreneur sebagai individu yang memanfaatkan peluang pasar melalui inovasi teknis dan / atau inovasi organisasi”. Knight (2005) dan Drucker (1985) menyebutkan bahwa “entrepreneurship adalah tentang mengambil risiko”.

Seorang entrepreneur merupakan individu (pemilik bisnis) yang berupaya untuk selalu menghasilkan nilai pada produk atau jasa yang diberikan, melalui penciptaan atau perluasan kegiatan ekonomi, dengan mengidentifikasi dan mengeksploitasi produk atau jasa, proses, atau pasar baru.

Tugas seorang entrepreneur adalah melakukan identifikasi terhadap adanya peluang komersialisasi yang didapatkan dari proses inovasi dan mengubah peluang tersebut menjadi sebuah produk atau layanan baru.

Peluang entrepreneurial adalah peluang ekonomi yang tidak terduga dan belum dinilai. Peluang entrepreneurial muncul karena aktor yang berbeda akan memiliki ide yang berbeda terhadap nilai relatif suatu sumber daya. “Peluang” tidak tersedia di pasar manapun, sehingga kita tidak dapat membeli “peluang” tersebut, sehingga seorang entrepreneur harus mampu untuk melakukan eksploitasi dan atau eksplorasi terhadap peluang-peluang yang ada. Seorang entrepreneur juga harus selalu mengembangkan kemampuannya untuk mendapatkan, mengatur dan memanfaatkan peluang tersebut.

Berikut perbedaan antara seorang wirausahawan dan manajer,

Entrepreneur Manajer
Karakteristik Menemukan (eksplorasi) dan eksplotasi peluang Administrasi dan mengelola sumber daya
Seorang pencipta yang memulai dan memotivasi adanya proses perubahan Seorang administrator
Perilaku Bersedia mnerima risiko Menghindari atau mengalihkan risiko
Menggunakan intuisi, waspada, mengeksplorasi bisnis baru Membuat keputusan secara “Rasional”, mengeksploitasi bisnis yang ada
Kepemimpinan, memulai cara yang baru Menciptakan dan mempertahankan keunggulan kompetitif
Melakukan identifikasi peluang bisnis Menciptakan kepercayaan untuk meningkatkan kerja sama
Penciptaan Perusahaan baru Pengawasan proses administrasi

Studi Tentang Entrepreneur


Seperti disebutkan diatas, aktivitas sentral seorang wirausahawan (entrepreneur) adalah penciptaan bisnis yang memungkinkan terjadinya pengembangan bisnis, dengan cara mempelajarinya secara individu atau kelompok melalui pendidikan formal, lingkungan maupun keluarga atau dengan cara melakukan analisis terkait dengan aspek lingkungan ekonomi, sosial dan budaya.

  • Studi tentang entrepreneur sebagai individu dilakukan dengan cara melakukan analisis variabel yang menjelaskan penampilan mereka, seperti karakteristik pribadi, baik variabel psikologis, seperti kebutuhan untuk berprestasi, kapasitas untuk mengendalikan sesuatu, toleransi pada ambiguitas dan kecenderungan untuk mengambil risiko dll maupun variabel non-psikologis, seperti pendidikan, pengalaman, jaringan kneksi, keluarga, dll.

    Fokus studi yang dilakukan ada pada individu, dengan kata lain, tindakan kewirausahaan dipahami sebagai atribut manusia, seperti kesediaan untuk menghadapi ketidakpastian (Kihlstrom dan Laffont, 1979), menerima risiko, kebutuhan untuk pencapaian (McClelland, 1961), dimana atribut-atribut tersebut membedakan membedakan seorang wirausahawan dengan non-wirausahawan.

  • Studi tentang variabel sosial-budaya dan kelembagaan menggarisbawahi peran pengucilan dan perubahan sosial sebagai motivator fungsi wirausaha dalam kelompok minoritas atau terpinggirkan.

    Fokus studi sosial-budaya terkait dengan berfungsinya institusi, budaya dan nilai-nilai sosial. Pendekatan ini tidak eksklusif (Eckhardt dan Shane, 2003), mengingat bahwa aktivitas kewirausahaan juga merupakan aktivitas manusia dan tidak terjadi secara spontan semata-mata hanya karena lingkungan ekonomi atau perubahan teknologi, normatif atau demografis.

  • Studi tentang variabel lingkungan menekankan budaya atau nilai-nilai bersama dalam masyarakat, institusi yang terkait dengan kerangka hukum, variabel-variabel yang berkaitan denga lingkungan ekonomi (permintaan) dan finansial (modal ventura dan biaya), bersama-sama dengan lingkungan spasial (kelompok dan ekonomi aglomerasi).

    Fokus studi ini berkaitan dengan faktor ekonomi, lingkungan yang memotivasi dan memungkinkan kegiatan wirausaha, seperti dimensi pasar, dinamika perubahan teknologi (Tushman dan Anderson, 1986), struktur pasar - normatif dan demografis - (Acs dan Audretsch , 1990) atau dinamika industri.

Referensi
  • Acs, Z.J. & Audretsch, D.B. (1990). Innovation and Small Firms. Cambridge, MA: MIT Press.
  • Alvarez, S.A. and Busenitz, L.W. (2001), The entrepreneurship of resource-based theory. Journal of Management, 27, pp. 755-775
  • Cuervo, A., Ribeiro,D. and Roig,S. (2007), Entrepreneurship: Concepts, Theory and Perspective. Introduction, pp:1-20.
  • Drucker, Peter F. (1985). Innovation and Entrepreneurship. Practices and principles, New York: Harper & Row
  • Eckhardt, J.T. & Shane, S.A. (2003). Opportunities and entrepreneurship. Journal of Management, 29, 333-349.
  • Kihlstrom, R.E. & Laffont, J.J. (1979). General equilibrium entrepreneurial theory of firm formation based on risk aversion. Journal of Political Economy, 87, 719-748.
  • Knight, F. (1921) Risk, uncertainty and profit. Boston, MA: Houghton Mifflin.
  • Knight, Frank Hyneman. (2005). Risk, Uncertainty and Profit. Cosimo, Inc. ISBN 978-1-59605-242-0.
  • Lee, S.M. & Peterson, S.J. (2000). Culture, entrepreneurial orientation, and global competitiveness. Journal of World Business, 35, 401-416.
  • McClelland, D.C. (1961). The achieving society. Princeton, NJ: Van Nostrand.
  • Miller, D. (1983). The correlates of entrepreneurship in three types of firms. Management Science, 29, 770-791.
  • Reynolds, P.D. (2005). Understanding business creation: Serendipity and scope in two decades of business creation studies. Small Business Economics, 24, 359-364.
  • Schumpeter, J.A. (1934). The theory of economic development. Cambridge: Harvard University Press.
  • Schumpeter, J.A. (1942). Capitalism, socialism and democracy. New York: Harper
  • Schumpeter, J. A. (1965). Economic Theory and Entrepreneurial History. In: Aitken HG (ed) Explorations in enterprise. Harvard University Press,
  • Cambridge, MA.
  • Shane, S.A. & Venkataraman, S. (2000). The promise of entrepreneurship as a field of research. Academy of Management Review, 25, 217-226.
  • Stevenson, H.H. & Jarillo, J.C. (1990). A paradigm of entrepreneurship research: Entrepreneurial management. Strategic Management Journal, 11, 17-27.
  • Tushman, M.L. & Anderson, P. (1986). Technological discontinuities and organizational environments. Administrative Science Quarterly, 31, 439-465.

kewirausahaan adalah hasil dari suatu disiplin, proses sistematis penerapan kreativitas dan keinovasian dalam memenuhi kebutuhan dan peluang di pasar (Suryana, 2001).

kewirausahaan menurut Hisrich yaitu “ Entreprenuership is the process of creating something different with value by devoting the necessary time and effort, assuming the accompanying financial, psyicological, and social risk and receiving the resulting rewards of monetary and personal satisfactionand independence”. (Alma, 2004)

kewirausahaan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil risiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan. Berjiwa berani mengambil risiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti ( Kasmir, 2010).

Ciri-ciri dan Karakteristik Wirausaha

Seorang wirausahawan haruslah seorang yang mampu melihat ke depan. Melihat kedepan dan berfikir dengan penuh perhitungan, mencari pilihan dari berbagai alternatif masalah dan pemecahannya. Dari berbagai penelitian di Amerika Serikat, untuk menjadi wirausahawan, seorang harus memiliki ciriciri sebagai berikut:

Ciri-ciri dan Karakteristik Wirausaha

Menurut Scarborough dan Zimmerer mengemukakan delapan karakteristik wirausaha meliputi:

  1. Desire for responsibility, yaitu memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya. Seorang yang memiliki rasa tanggung jawab akan selalu mawas diri.
  2. Preference for moderate risk, yaitu lebih memilih risiko yang moderat, artinya ia selalu mengindari risiko yang rendah dan menghindari risiko yang tinggi.
  3. Confidence in their ability to success, yaitu percaya akan kemampuan dirinya untuk berhasil.
  4. Desire for immediate feedback, yaitu selalu menghendaki umpan balik yang segera.
  5. High level of energy, yaitu memiliki semangat dan kerja keras untuk mewujudkan keinginanya demi masa depan yang lebih baik.
  6. Future orientation, yaitu berorientasi ke masa depan, perspektif, dan berwawasan jauh ke depan.
  7. Skilll at organizing, yaitu memiliki keterampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah.
  8. Value of achievement over money, yaitu selalu menilai prestasi dengan uang (Suryana ,2001)