© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Keusangan Literatur?


Apa yang dimaksud keusangan literature atau obsolescence literature?

Keusangan Literatur (Obsolescence)


Keusangan literatur adalah kajian bibliometrika atau informetrika tentang penggunaan dokumen (literatur) yang berkaitan dengan umur literatur tersebut. Sesungguhnya fenomena lahir, hidup dan mati bagi mahluk hidup dapat pula diterapkan pada dokumen. Suatu dokumen dikatakan “lahir” pada saat dokumen itu diterbitkan. Kemudian, dokumen dikatakan “hidup” selama dokumen itu dimanfaatakan. Pada akhirnya, dokumen dikatakan “mati” pada saat tidak ada lagi yang menggunakan dokumen itu. Death of paper adalah konsep dalam ilmu informetrika atau bibliometrika yang berarti bahwa suatu karya tidak pernah lagi dikutip. Keusangan literatur / obsolescence berasal dari kata obsolete berarti out- of-date, no longer in use, no longer valid atau no longer fashionable.

Keusangan literatur atau obsolescence adalah konsep yang relatif karena ada literatur yang baru terbit sekitar lima tahun sudah jarang digunakan lagi, tetapi sebaliknya. Ada literatur yang sudah terbit puluhan bahkan ratusan tahun, tetapi masih tetap digunakan oleh banyak orang. Ada dokumen yang sudah usang, bahkan sebelum diterbitkan. Ada orang yang menganggap suatu dokumen sudah usang, tetapi bagi orang lain belum usang.

Menurut Mustafa (2008:2), keusangan literatur adalah kajian bibliometrika atau informetrika tentang penggunaan dokumen (literatur) yang berkaitan dengan umur literatur tersebut. Sedangkan menurut Vickery yang dikutip oleh Mustafa (2008:2) menyatakan:

“… obsolescence is in fact a function of two factors, growth and obsolescence ”, yang berarti keusangan literatur merupakan sebuah fungsi yang terdiri dari dua faktor, yaitu pertumbuhan dan keusangan.

Sementara Brookes yang dikutip oleh Mustafa (2008) mengemukakan bahwa: a further factor should be considered – the rate of growth of the number of contributing scientists ,

the number of papers and the number of contributing scientists act in opposite directions on the rate of ageing.

Dari uraian tersebut dijelaskan bahwa kajian mengenai bibliometrik harus mempertimbangkan faktor yang lebih lanjut yaitu tingkat pertumbuhan dari jumlah ilmuwan yang memberikan kontribusi (dalam melakukan penelitian), jumlah tulisan dan jumlah ilmuwan yang memberikan kontribusi atas tindakan yang berada pada tujuan yang berlawanan dalam tingkat keusangan.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa obsolescence merupakan fungsi dari 2 (dua) faktor yang nyata yakni pertumbuhan dan keusangan serta dalam melakukan kajian mengenai bibliometrik perlu mempertimbangkan faktor yang lebih lanjut yaitu tingkat pertumbuhan jumlah ilmuwan yang melakukan penelitian yang memberikan kontribusi dan jumlah tulisan.

Keusangan literatur ( literature aging atau obsolescence ) adalah penurunan atas waktu dalam hal kesahihan atau pemanfaatan koleksi. Penurunan penggunaan suatu literatur atau kelompok literatur dalam suatu subjek tertentu pada suatu periode atau kurun waktu dikarenakan literatur tersebut semakin tua.

Maurice B. Line yang dikutip oleh Mustafa (2008) menyatakan bahwa pengurangan penggunaan suatu literatur disebabkan oleh:

  • Informasinya masih sahih ( valid ), tetapi sudah dicakup dalam karya lain yang lebih baru
  • Informasinya masih sahih, tetapi sudah disuperseded oleh karya lain yang lebih baru
  • Informasinya masih sahih, tetapi pada bidang/subjek yang semakin tidak diminati
  • Informasinya tidak lagi sahih.

Keusangan literatur merupakan dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini terjadi karena hanya literatur yang mutakhir yang menarik bagi ilmuwan, sedangkan literatur yang lebih tua digunakan hanya bila mengandung informasi yang cenderung menggabungkan karya yang terakhir.

Keusangan literatur ( literature aging atau obsolescence ) terbagi dua yaitu synchronous dan diachronous. Obsolescence synchronous adalah ukuran keusangan literatur dengan cara memeriksa tahun terbitan referensi melalui median citation age (median umur sitiran). Obsolescence diachronous adalah ukuran keusangan literatur dari sekelompok literatur dengan memeriksa tahun terbitan dari sitiran yang diterima suatu literatur tersebut. Dalam bibliometrika yang menjadi data penelitian dalam ukuran keusangan ( Obsolescence ) literatur adalah sitiran yang ada pada dokumen tersebut. Obsolescence synchronous dapat diukur melalui median usia ditiran yang dapat diperoleh dengan cara mengurangi tahun terbit dokumen sumber dengan median tahun terbit yang terdapat dalam daftar referensi.

Sedangkan obsolescence diachronous dapat mengukur usia kelompok dokumen melalui suatu pengujian terhadap tahun terbit sitiran yang diterima oleh dokumen obsolescence diachronous diukur melalui paro hidup ( half-life ) yang dapat diperoleh dengan cara mengurangi median tahun terbit dokumen yang menyitir dokumen sumber dengan tahun terbit termuda dokumen sumber.

Kedua cara tersebut memang mirip tetapi dengan cara penanganan yang berbeda. Jika synchronous menentukan literatur yang menyitir kemudian mengkaji distribusi usia referensi yang ada didalamnya, maka Diachronous menentukan literatur yang disitir kemudian mengkaji penggunaan literatur tersebut pada terbitan selanjutnya. Dikemukakan dalam berbagai penelitian bahwa masing-masing bidang ilmu memiliki keusangan literatur yang berbeda (Purnomowati, 2004).

Manfaat kajian keusangan literatur


Kajian literatur setidaknya bermanfaat untuk efisiensi dalam bidang pengelolaan perpustakaan. Hal ini karena hasil kajian keusangan literatur dapat digunakan untuk:

  • Penyiangan (weeding) koleksi yang tidak diperlukan lagi
  • Pemanfaatan ruang/rak yang terbatas
  • Pemisahan koleksi yang digunakan dengan frekuensi tinggi dan rendah
  • Efektifitas pelayanan

Mustafa (2008:4) menyatakan parameter informasi yaitu:

  • Kuantitas. Diukur dengan jumlah dokumen, halaman, kata, karakter, byte dsb
  • Isi. Arti atau makna suatu informasi
  • Struktur. Format atau bangun suatu informasi dan kata logisnya diantara unsur-unsur yang membentuknya
  • Bahasa. Simbol, abjad, kode atau tata bahasa informasi itu disampaikan
  • Kualitas. Kelengkapan, ketepatan, relevansi informasi yang disampaikan
  • Usia. Selang waktu kapan suatu informasi masih bernilai atau dimanfaatkan

Faktor yang mempengaruhi suatu dokumen (literatur) digunakan adalah:

  • Jumlah dokumen lain yang dibuat berdasarkan dokumen itu
  • Jumlah kutipan rata-rata per dokumen
  • Jumlah dokumen pada dokumen yang dikutip
  • Aksesibilitasnya secara bibliografis
  • Aksesibilitasnya secara fisik
  • Aksesibilitasnya secara digital
  • Nilai ilmiahnya
  • Jumlah karya lain dalam dokumen yang sama yang mungkin dikutip