Apa yang dimaksud dengan ketimpangan pendapatan (income disparity)?

Apa yang dimaksud dengan ketimpangan pendapatan (income disparity) ?

Apa yang dimaksud dengan ketimpangan pendapatan (income disparity) ?

2 Likes

Ketimpangan pendapatan merupakan wujud bahwasanya distribusi pendapatan yang didapatkan oleh masyarakat pada suatu negara tidaklah sama. Ketimpangan pendapatan sendiri sebenarnya merupakan fenomena yang hampir terjadi di seluruh negara, baik itu negara miskin, negara sedang berkembang, maupun negara maju, yang membedakan hanyalah besaran dari tingkat ketimpangan pendapatannya.

John Rawls (dalam Todaro dan Smith, 2006), seorang filsuf mengajukan sebuah eksperimen pikiran dimana menurutnya sebagian besar orang akan memilih negara dengan tingkat ketimpangan pendapatan tertentu. Hal ini dikarenakan setiap orang pada dasarnya tidak mau berada di posisi orang termiskin dengan kondisi tingkat ketimpangan pendapatan yang tinggi, namun apabila terjadi pemerataan yang sempurna (setiap orang memiliki pendapatan yang sama) maka dorongan untuk bekerja keras atau berinovasi akan hilang.

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulakan bahwasanya suatu negara tidak harus mencapai pemerataan pendapatan yang sempurna untuk mensejahterakan seluruh masyarakatnya, melainkan tugas negara adalah mengendalikan tingkat ketimpangan pendapatan masyarakatnya hingga tingkat serendah mungkin namun bukan 0. Negara bisa mengendalikan tingkat ketimpangan pendapatannya melalui pengendalian faktor-faktor yang menjadi penyebab tingkat ketimpangan pendapatan.

Teori Ketimpangan Pendapatan


Adelman & Morris (dalam Arsyad, 2010) mengemukakan bahwa ada delapan penyebab ketidakmerataan distribusi pendapatan di Negara Sedang Berkembang (NSB), yaitu:

  1. Pertambahan penduduk yang tinggi akan memicu penurunan pendapatan per kapita
  2. Inflasi dimana pendapatan atas uang bertambah namun tidak diikuti secara proposional oleh pertambahan produksi barang-barang
  3. Ketidakmerataan pembangunan antardaerah
  4. Investasi yang sangat banyak dalam proyek-proyek yang padat modal (capital intensive) sehingga persentase pendapatan yang berasal dari kerja, sehingga angka pengangguran pun bertambah
  5. Rendahnya mobilitas sosial
  6. Pelaksanaan kebijakan industri subtitusi impor yang mengakibatkan kenaikan pada harga barang-barang hasil industri guna melindungi usaha-usaha kapitalis
  7. Memburuknya nilai tukar (term of trade) bagi NSB dalam perdagangan dengan negara-negara maju, sebagai akibat adanya ketidakelastisan permintaan terhadap barang-barang ekspor NSB
  8. Hancurnya industri-industri kerajinan rakyat seperti pertukangan, industri rumah tangga, dan lain-lain

Pengukuran Ketimpangan Pendapatan


Distribusi pendapatan sebagai suatu ukuran dibedakan menjadi dua ukuran pokok, baik untuk tujuan analisis maupun untuk tujuan kuantitatif (dalam Todaro dan Smith, 2006), yaitu:

  1. Distribusi pendapatan perseorangan atau distribusi ukuran pendapatan
    Sistem distribusi ini paling banyak digunakan ahli ekonomi. Ukuran ini secara langsung menghitung jumlah penghasilan yang diterima oleh setiap individu atau rumah tangga sementara sumber pendapatannya diabaikan. Kemudian membagi total populasi menjadi sejumlah kelompok atau ukuran sesuai dengan tingkat pendapatan yang diterima lalu menetapkan berapa proporsi yang diterima oleh masingmasing kelompok dari pendapatan nasional total.

  2. Distribusi pendapatan fungsional atau pangsa distribusi pendapatan per faktor produksi
    Sistem distribusi ini berfokus pada pendapatan nasional total yang diterima oleh masing-masing faktor produksi (tanah, tenaga kerja, dan modal) dan pada dasarnya mempersoalkan presentase penghasilan tenaga kerja secara keseluruhan serta membandingkan dengan presentase pendapatan total yang dibagikan dalam bentuk sewa, bunga, dan laba.

Ada tiga alat ukur tingkat ketimpangan pendapatan, yaitu Rasio Kuznet, Kurva Lorenz, dan Koefisien Gini. Rasio Konsentrasi Gini atau yang sederhananya disebut Koefisien Gini dirumuskan pertama kali oleh ahli statistik Italia pada tahun 1912. Menurut Arsyad (2010), koefisien Gini adalah suatu ukuran yang singkat mengenai derajat ketidakmerataan distribusi pendapatan dalam suatu negara. Koefisisen gini ini merupakan ukuran ketidakmerataan agregat yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna).

Adapun tingkat ketimpangan pendapatan berdasarkan Koefisien Gini adalah sebagai berikut (Arsyad, 2010):

image

Keterangan :
KG = Koefisien Gini
Xᵢ = Proporsi jumlah rumah tangga kumulatif dalam kelas i
fᵢ = Proporsi jumlah rumah tangga dalam kelas i
Yᵢ = Proporsi jumlah pendapatan rumah tangga kumulatif dalam kelas i

Referensi

Hasna , H T. 2015. Pengaruh Keterbukaan Ekonomi Terhadap Ketimpangan Pendapatan Di Tingkat Provinsi Di Indonesia. Skripsi. Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.