© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan keramik gigi atau keramik dental?

Keramik gigi

Keramik gigi merupaka suatu bahan yang pada dasarnya terdiri dari elemen logam dan non logam yang dibakar dengan suhu tinggi untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Bahan-bahan yang terdapat dalam keramik gigi antara lain alumina oksida yang merupakan suatu oksida yang sangat kuat, boric oksida yang merupakan suatu flux keramik, dan juga digunakan feldsfar, kaolin, silika, oksida lain, serta bahan pewarna. Keramik gigi memiliki compressive strength yang tinggi, tensile strength yang rendah, hardness yang tinggi serta mempunyai biokompatibilitas yang baik.

Seramik adalah senyawa anorganik dengan sifat-sifat nonlogam (nonmetallic) yang secara khas tersusun dari elemen logam atau semilogam dan nonlogam.

Seramik Dental merupakan senyawa anorganik dengan sifat-sifat nonlogam, biasanya tersusun atas oksigen dan satu atau lebih elemen logam (atau semilogam), misalnya aluminum, kalsium, magnesium, dan zirconium, dll. yang diformulasikan untuk memproduksi protesa berbahan seramik

Feldspathic Porcelain merupakan seramik yang tersusun atas fase matriks kaca dan satu atau lebih fase kristalin.

Seramik Kaca merupakan seramik yang terdiri dari fase matriks kaca dan setidaknya satu fase kristal yang dibentuk dari kristalisasi kaca yang terkontrol

Seramik Glaze merupakan suatu bubuk seramik khusus yang ketika dicampur dengan likuid yang diaplikasikan ke permukaan seramik dan dipanaskan pada temperatur yang tepat dengan waktu cukup, membentuk lapisan halus yang mengkilap pada permukaan seramik.

Restorasi Seramik Logam merupakan restorasi yang dibuat dengan substrat logam tempat porselen beradhesi guna meningkatkan estetiknya dengan intermedia suatu lapisan oksida logam.

Aluminous Porcelain merupakan suatu seramik yang terdiri atas fase matriks kaca dan paling sedikit 5% vol alumina.

Body Porcelain merupakan suatu seramik vinir yang digunakan untuk restorasi seramik atau logam –seramik.

Castable ceramic merupakan suatu kaca atau seramik lain yang khusus digunakan untuk pengecoran (casting) ke dalam refractory mold
untuk menghasilkan core coping atau kerangka kerja restorasi seramik

Seramik CAD-CAM merupakan seramik tipe ini digunakan untuk membuat keseluruhan atau sebagian dari restorasi all ceramic dengan menggunakan proses computer-aided design /CAD dan computer-aided manufacturing / CAM).

KLASIFIKASI


Berdasarkan Kegunaan

  • Seramik logam
  • Gigi protesa seramik
  • Jembatan anterior porselen
  • Mahkota jaket, vinir, inlay porselen

Berdasarkan Temperatur Fusi

  • Seramik fusi tinggi -1300⁰C (2373⁰F)
  • Seramik fusi sedang -1101⁰C s/d 1300⁰C (2013⁰F s/d 2373⁰F)
  • Seramik fusi rendah - 850⁰C s/d 1100⁰C (1562⁰F s/d 2013⁰F)
  • Seramik fusi ultra rendah - <850⁰C (1562⁰F)

Berdasarkan Komposisi

  • Alumina murni
  • Zirkonia murni
  • Kaca silika
  • Seramik kaca berbasis leusit
  • Seramik kaca berbasis lithia

Berdasarkan Metode Pengerjaan

  • Sintering
  • Sintering sebagian dan infiltrasi kaca
  • CAD-CAM
  • Copy milling

KOMPOSISI


Porselen dental pada dasarnya merupakan material kaca. Kaca yang dileburkan mengeras dengan struktur cair dan bukan struktur kristal dalam proses pendinginannya. Struktur yang terbentuk dikenal sebagai vitreous dan prosesnya dikenal dengan vitrifikasi. Anion utama yang bertanggungjawab untuk membentuk ikatan dengan kation multivalen seperti silikon dan boron adalah ion O²¯. Ion ion ini dianggap sebagai pembentuk kaca. Oksida lainnya seperti kalium, natrium, kalsium, atau aluminium oksida ditambahkan pada kaca untuk mencapai sifat yang diinginkan

Porselen Fusi Tinggi

Bahan dasar porselen tipe ini adalah:

  • Feldspar
  • Kaolin (tanah liat)
  • Quartz.

Feldspar

  • Unsur pokok utama
  • Digunakan pada konsentrasi 75 s/d 80%
  • Yang paling banyak digunakan adalah bentuk natrium atau kalium, namun dalam kedokteran gigi, kalium feldspar lebih disukai
  • Kalium feldspar dipilih karena dapat meningkatkan resistensi terhadap pyroplastic flow dan meningkatkan kekentalan.
  • Mengalami pelelehan tidak sejenis pada 1150⁰C sampai 1530⁰C untuk membentuk material kristal dan cair, yaitu kalium auminosilikat yang dikenal dengan nama leusit.

Kaolin

  • Digunakan pada konsentrat 4 s/d 5%
  • Bertindak sebagai bahan pengikat
  • Menurunkan translusensi porselen

Quartz

  • Digunakan pada konsentrasi 13-14 persen
  • Bertindak sebagai penguat
  • Meningkatkan translusensi porselen

Seramik Fusi Sedang dan Rendah

Seramik dengan fusi rendah dan sedang terbentuk melalui proses yang dikenal sebagai fritting dan produk yang diperoleh dikenal sebagai frit.

Bahan utama untuk seramik fusi rendah dan sedang sama dengan fusi tinggi, namun sebagai tambahan, juga ditambahkan modifikasi kaca tertentu

Modifier Kaca

  • Yang paling umum digunakan adalah kalium, natrium dan kalsium oksida
  • Bertindak sebagai fluxes dan mengurangi temperatur yang melunakkan kaca.
  • Menurunkan viskositas kaca

Intermediate oxides

  • Yang umum digunakan adalah aluminium oksida (Al₂O₃).
  • Menurunkan temperatur pelunak serta menurunkan viskositas kaca.

Boron Oksida (B₂O₃)

  • Bertindak sebagai pembentuk kaca dan modifier kaca.
  • Menurunkan titik leleh dan viskositas kaca
  • Matriks B₂O₃ terbentuk oleh penyusunan tiga dimensi dari segitiga BO₃.

Bahan Opasitas

Yang paling umum digunakan adalah:

  • Zirkonium oksida
  • Titanium Oksida
  • Serium Oksida

Bahan Pewarna

Untuk memperoleh corak (hue) dan kroma yang tepat, telah digunakan berbagai bahan pewarna. Tujuan utamanya adalah untuk memeroleh beragam variasi warna agar bisa menyerupai gigi alami.

  • Digunakan untuk menciptakan penanda seperti garis cek email, titik dekalsifikasi, dll.
  • Digunakan untuk menciptakan efek gingiva dan untuk menonjolkan warna badan porselen.

Tabel. Ragam warna yang dihasilkan dari oksida logam pada seramik

Pigmen logam Warna
Ferric oxide Abu-abu
Titanium oksida Kuning kecoklatan
Mangan Oksida Lavender
Kobalt Oksida Biru
Nikel Oksida Coklat
Kromium-alumina Merah muda
Tembaga oksida Hijau

METODE PENGUATAN PORSELEN


Penguatan Kimiawi/Pertukaran Ion

Penguatan Kimiawi/Pertukaran Ion adalah salah satu metode efektif dalam memasukkan tekanan kompresif residual ke dalam permukaan seramik. Penguatan kimiawi biasanya dilakukan dengan menggantikan kation berukuran kecil pada lapisan permukaan dengan kation ukuran besar sementara matriks tetap sama. Proses ini juga dikenal sebagai low temperature ionic crowding.

Ion natrium yang terdapat dalam matriks digantikan dengan ion kalium ukuran besar dengan merendam mahkota porselen dalam kalium nitrat. Ion kalium ukurannya 35% lebih besar dibandingkan dengan ion natrium, sehingga menyebabkan tekanan kompresif residual. Produk ini tersedia dengan nama komersil GC Tuf-coat (GC).

Penguatan Dispersi

Penguatan dispersi adalah proses penguatan yang dilakukan dengan fase terdispersi dari material berbeda dengan kemampuan memblokir menyebarnya keretakan pada material.

Penguatan dispersi seramik bisa diperoleh dengan meningkatkan muatan kristal dari alumina, leusit, dan zirkonia. Contohnya, jika alumina ditambahkan pada kaca, kaca menjadi lebih tangguh dan kuat karena keretakan tidak dapat melewati partikel kristalin yang tangguh seperti alumina dengan mudah, namun dapat melewati kaca dengan mudah.

Perubahan Termal

Perubahan Termal adalah metode yang paling umum untuk memperkuat kaca. Proses ini menghasilkan tekanan kompresif residual dalam kaca dengan cara pemanasan dan ketika kaca dalam keadaan meleleh, segera didinginkan dengan cepat. Pendinginan cepat ini menghasilkan kaca kaku mengelilingi logam yang lunak.

Untuk penggunaan di kedokteran gigi, seramik didinginkan secara cepat (quenched) dalam minyak silikon atau cairan khusus lainnya.

Pengurangan Jumlah Siklus Pembakaran

Fungsi utama siklus pembakaran adalah untuk mensinter partikel bubuk menjadi satu dan menghasilkan permukaan yang relatif halus. Beberapa reaksi kimia terjadi pada saat siklus pembakaran. Jika sejumlah siklus pembakaran ditingkatkan, kandungan leusit dari porselen juga akan meningkat yang selanjutnya akan meningkatkan koefisien ekspansi termal dari porselen.
Ekspansi yang tidak cocok antara porselen dan logam menghasilkan tekanan pada waktu endinginan yang dapat menyebabkan terjadinya retakan pada porselen. Karena itu, pengurangan jumlah siklus pembakaran dapat membantu menurunkan pembentukan retakan.

Membuat Tekanan Kompresi Residual

Metode ini juga penting dalam mengembangkan tekanan kompresif residual pada seramik. Pada mahkota seramik metal, logam harus memiliki koefisien ekspansi termal lebih tinggi dibanding porselen agar pada saat pendinginan, logam berkontraksi sedikit lebih banyak dibandingkan dengan porselen yang akan menimbulkan tekanan dan menguatkan porselen.

Aturan ini juga berlaku pada semua sistem seramik yang lapisan dalamnya (inti) memiliki koefisien ekspansi termal lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan luar, menimbulkan tekanan dan penguatan pada porselen.

Transformasi Penguatan

Pada proses ini, partikel kecil yang kuat disebar seragam ke dalam matriks agar retakan tidak dapat melewati kristal-kristal ini.

Seramik dapat dikuatkan menggunakan berbagai partikel kristalin seperti:

  • Alumina
  • Leusit
  • Lithium di-silikat

Pada seramik berbasis zirkonia, kristal zirkonia mengalami perubahan dari kristal tetragonal menjadi fase monoklinik saat dalam tekanan dan menyebabkan penguatan transformasi.

Glazing yang Tepat dari Porselen

Menghilangkan cacat permukaan dengan glazing dan pemolesan yang tepat dapat meningkatkan kekuatan porselen

Ikatan Adhesif pada Restorasi Seramik

Ikatan adhesif pada restorasi seramik dengan semen luting resin dapat memperkuat restorasi seramik

Keunggulan

  • Estetika tinggi
  • Tidak menampakkan logam
  • Biokompatibel
  • Bersifat kuat setelah terikat pada gigi
  • Tidak bernoda
  • Memiliki konduktivitas/insulasi termal rendah
  • Resistan terhadap abrasi karena kekerasannya
  • Tahan lama
  • Koefisien ekspansi termal yang rendah

Kelemahan

  • Lebih mahal dibandingkan amalgam atau komposit
  • Oklusi yang akurat sulit diperoleh
  • Membutuhkan dua kali kunjungan
  • Penyelesaian dan pemolesan intraoral adalah prosedur yang memakan waktu lama
  • Mudah pecah dan rapuh
  • Abrasif terhadap email antagonis
  • Sangat technique sensitive
  • Penyelesaian pada bagian tmarjin sulit pada area interproximal yang sulit terjangkau
  • Membutuhkan peralatan laboratorium yang khusus dan mahal

RESTORASI SERAMIK LOGAM


Walaupun semua restorasi seramik terlihat sangat alami, namun sebenarnya sangat rapuh dan mudah fraktur. Semua restorasi logam sangat kuat namun tidak dapat digunakan pada area yang mementingka estetika. Pada restorasi seramik logam, keuntungan estetika dari porselen dikombinasikan dengan kekuatan logam

Untuk memeroleh adhesi yang tepat antara logam dan porselen, aloi dan porselen yang digunakan harus memiliki sifat sbb:

  • Porselen dan aloi harus dapat membentuk adhesi yang kuat karena penyebab umuk kegagalan pada restorasi seramik logam adalah terlepasnya adhesi porselen dari logam.
  • Porselen dan aloi harus memiliki koefisien ekspansi termal yang hampir sama agar porselen tidak retak atau memisah dari aloi pada saat pendinginan.
  • Porselen harus terfusi pada temperatur yang lebih rendah daripada temperatur leleh logam. Aloi tidak boleh berubah bentuk pada temperatur fusi porselen.
  • Aloy harus memiliki modulus elastisitas yang tinggi agar dapat berbagi proporsi tekanan yang lebih besar dibandingkan porselen di dekatnya.
  • Tingkat kekakuan yang cukup, tahan terhadap kelenturan dan kekuatan aloi

Komposisi Aloi Seramik Logam dan Seramik

Aloi yang digunakan pada restorasi seramik logam tidak hanya harus memiliki sifat mekanis yang baik tetapi juga harus memiliki koefisien ekspansi termal yang sama dengan porselen.

Aloi yang digunakan adalah:

  • Aloi logam mulia:
    • Aloi emas tinggi
    • Aloi emas-platinum-palladium
  • Aloi emas rendah:
    • Aloi emas-palladium
    • Aloi emas-palladium-perak
    • Aloi perak-palladium
  • Aloi dengan logam dasar:
    • Aloi nikel-kromium
    • Aloi kobalt-kromium

Adhesi Porselen-Logam

Terdapat dua tipe adhesi yang terjadi antara logam dan seramik

  1. Adhesi mikromekanis
  2. Adhesi kimiawi

Adhesi Mikromekanis

Seramik terfusi mengalir di atas logam penutup dan beradaptasi pada ketidakteraturan kecil yang ada di permukaan logam itu dan membentuk adhesi mikromekanis. Ketidakberaturan yang terdapat di permukaan logam itu harus teratur tanpa ada garis sudut tajam untuk menghindari konsentrasi tekanan yang dapat menyebabkan fraktur porselen. Kemampuan porselen terfusi yang dapat beradaptasi dengan logam disebut “wetting”. Ketidakberaturan pada permukaan coping bisa dibuat dengan sand blasting.

Adhesi Kimiawi

Adhesi kimiawi terjadi antara seramik dan permukaan lapisan oksida yang terdapat pada logam dasar seperti besi, indium dan timah pada aloi emas. Porselen terfusi berdifusi ke dalam lapisan oksida logam dan sebaliknya.

Dalam Adhesi Seramik Logam:

  • Logam tidak boleh berinteraksi dengan seramik karena menyebabkan diskolorasi dan memengaruhi estetikanya.
  • Adhesi logam-porselen harus tahan lama dan stabil untuk menahan tekanan mastikasi.

Pada restorasi seramik logam, ketebalan logam di sisi fasial berkisar antara 0.3 s/d 0.4 mm yang ditutupi oleh porselen opak setebal 0.3 – 0.4 mm. Ketebalan badan porselen di didi labial kira-kira 1 mm dan ketebalan porselen transparan di sepertiga insisal sekitar 0.3 s/d 0.5 mm. ketebalan di sepertiga tengah mahkota kira-kira 0.2 s/d 0.3 mm dan di sepertiga servikal kira-kira 0.1 mm.

Gagalnya Restorasi Seramik Logam

Kegagalan pada restorasi seramik logam biasanya terjadi karena retaknya adhesi di interface oksida metal. Penyebab lain gagalnya restorasi seramik logam adalah:

  • Fusi butiran porselen di dalam coping
  • Marjin metal yang tipis melengkung karena kontraksi porselen
  • Deformasi elastik dari struktur logam yang tidak kaku
  • Kontaminasi pengecoran oleh komponen aloi fusi rendah pada die logam.
  • Penyesuaian secara paksa menyebabkan deformasi elastik logam dan rusaknya ikatan porselen.

KONDENSASI PORSELEN


Penyelesaian kondensasi bubuk porselen basah dan membuang kelebihan air atau cairan dengan tisu bersih atau kertas hisap, akan membantu dalam mpenyatuan bubuk porselen dan kondensasi partikel bubuk porselen dengan tepat.

Kelebihan

  • Menurunkan penyusutan karena pemanasan
  • Mengurangi porositas pada porselen yang dibakar

Kondensasi bubuk porselen basah dapat dilakukan dengan metode berikut:

  • Metode vibrasi: Vibrasi ringan membantu memadatkan bubuk basah. Metode ini paling sering digunakan untuk menghilangkan kelebihan air dari campuran.

  • Metode spatulasi: Pada metode ini, spatula kecil digunakan untuk menghaluskan bubuk basah dan partikel basah dikondensasikan bersama-sama sehingga kelebihan air akan naik ke permukaan dan dapat dihilangkan.

  • Teknik menyikat: Pada metode ini, bubuk porselen kering ditambahkan pada permukaan dengan bantuan sikat yang akan menyerap air yang berlebih, sehingga menyebabkan terjadinya kondensasi partikel basah.

PEMBAKARAN PORSELEN


Bubuk porselen dalam bentuk restorasi diletakkan dalam „fire clay tray‟ (nampan/baki dari tanah liat untuk pembakaran) dan dibakar dalam tungku pembakar. Mula-mula lakukan pemanasan awal. Pada pemanasan awal, porselen didiamkan selama 10 menit dalam bilik temperatur rendah bagian luar dari tungku dan pintu tungku dibiarkan terbuka agar uap air dan gas yang ditimbulkan karena pembakaran dapat keluar. Keberadaan uap air dan/atau gas dalam tungku pembakaran, pada temperatur tinggi, dapat merusak pengecoran.
Pada temperatur sekitar 870⁰C, (650⁰C untuk porselen fusi rendah) pembakaran bahan organik selesai. Baki kemudian didorong ke tengah tungku dan siklus pembakaran dimulai setelah menutup pintu tungku… Tingkat kondensasi porselen dan kepadatan restorasi akhir juga dipengaruhi oleh ukuran partikel bubuk porselen. Oleh karena itu, mengingat porselen merupakan konduktor termal yang buruk, pemanasan terlalu cepat dapat menyebabkan fusi berlebihan pada lapisan luar tetapi lapisan dalam hanya terfusi sebagian.

Tahapan Pembakaran

Porselen mengalami tahap yang berbeda selama pembakaran yang dikenal dengan tahap bisque

  • Tahap Bisque Rendah
    Pada tahap bisque rendah, porselen menjadi kaku dan berpori dan mudah menyerap air. Partikel kurang kuat, walaupun porselen menunjukkan sedikit penyusutan dalam tahap ini

  • Tahap Bisque Medium
    Walaupun terjadi kohesi sempurna pada partikel bubuk, permukaannya masih berpori dan kurang translusen serta kurang jernih. Terjadi penyusutan pada tahapan ini.

  • Tahapan Bisque Tinggi
    Pada tahap ini massa porselen menunjukkan permukaan yang mulus dan penyusutan sudah selesai, dan mungkin masih terlihat ada pori dalam jumlah yang tidak banyak. Kini, porselen sudah sangat kuat.

Selama pembakaran dalam fase awal, air akan mengering. Setelah tahap pengeringan, waktu dan temperatur dikontrol hingga tahap fusi akhir, penjernihan, dan penentuan warna porselen selesai.

PENDINGINAN.


Setelah pembakaran selesai, porselen didinginkan. Disarankan untuk melakukan pendinginan secara perlahan karena pendinginan yang teralu cepat dapat menyebabkan retaknya permukaan. Pendinginan perlahan dilakukan denga menempatkan restorasi di bawah penutup kaca untuk melindunginya dari angin dingin dan kontaminasi kotoran.

PENGGERINDAAN UNTUK PENYESUAIAN AKHIR

Penggerindaan permukaan porselen yang sudah dipoles yang dibutuhkan untuk penyesuaian intraoral menyebabkan penurunan kekuatan, peningkatan diskolorasi, dan akumulasi plak. Jika penggerindaan tidak dapat dihindari, maka lakukanlah dengan menggunakan bur intan bulat yang sangat halus pada henpis kecepatan tinggi disertai air pendingin. Setelah penggerindaan selesai, permukaan yang kasar dipoles memakai finishing disc yang sangat halus, laminasi porselen, laminasi pemolesan, atau polishing kit.

PENGKILAPAN (GLAZING)

Guna memeroleh tampilan yang alami dilakukn pengkilapan, serta pemberian warna dan noda (stains).

Lapisan yang mengkilap dibuat dengan ketebalan sekurang-kurangnya 50 mikron. Pengkilapkan membantu dalam :

  • Mengurangi cacat permukaan.
  • Melapisi permukaan yang porus.
  • Menambah kekuatan porselen dengan mecegah perambatan retak.

Tipe glazing

  • Self-glazing: Pada teknik ini, restorasi yang sudah selesai dipanaskan pada suhu glazing. Hal ini menghasilkan pembentukan lapisan yang mengkilap dengan cara mengalirkan massa kental (viscous flow) pada permukaan porselen.
  • Add-on glazing: Pada teknik ini, digunakan kaca tanpa warna dengan temperatur fusi lebih rendah daripada restorasi porselen yang akan membentuk lapisan mengkilap di bagian luar.

Self-glazing lebih disukai daripada add-on glazing karena add-on glazing menghasilkan tampilan kilau yang tidak alamiah, selain itu aplikasinya sulit dan daya tahannya kurang.

SISTEM ALL CERAMIC


Untuk mengatasi kekurangan porselen yang berfusi dengan metal, telah diperkenalkan material all ceramic dengan teknik dan teknologi baru. Berkat perkembangan dalam teknologi, sistem all ceramic memiliki kekuatan tinggi dan presisi yang mendekati seramometal, di samping faktor estetiknya yang baik.

Klasifikasi sistem all ceramics

Traditional Powder Slurry Ceramic

  • Seramik diperkuat dengan alumina (Hi-ceram)
  • Seramik diperkuat dengan leusit (Optec-HSP)

Infiltrated ceramik

  • In ceram
  • In ceram spinel

Castable ceramik

  • Dicor

Pressable ceramik

  • IPS empress 1 dan 2

Machineable ceramik

  • Cerec vitablocks mark I dan II
  • Dicor MGC
  • Celay

Traditional Powder Slurry Ceramic

Seramik ini tersedia dalam bentuk bubuk yang kemudian dicampur dengan air agar menjadi „slurry‟ (adukan seperti semen). Bentuk slurry ini dapat disusun dalam lapisan berbeda pada suatui die guna membentuk restorasi. Seramik jenis ini dapat diklasifikasikan dalam dua tipe:

Seramik diperkuat dengan Alumina

Seramik tipe ini didasari penguatan dispersi – salah satu metode yang ditujukan untuk memperkuat seramik. Kristal alumina didispersikan ecara merata dalam matriks kaca untuk meningkatkan kekuatan, ketangguhan, dan elastisitas material. Pada seramik aluminus, konsentarasi kristal alumina dan bubuk kaca dicampur dan prefitted pada suhu 1200⁰C. Kemudian campuran kristal kaca ini dihaluskan dan digabungkan ke dalam matriks kaca, contohnya, Hi-ceram.

Seramik diperkuat dengan Leusit

Pada tipe ini, kristal leusit (kalium aluminosilikat) ditebar dalam matriks kaca. Leusit ditambahkan dalam feldspathic porcelain untuk menyesuaikan kontraksi termal seramik ke logam,tetapi juga bertindak sebagai filer penguat karena daya rentang (tensile strength)-nya yang sangat tinggi. Leusit dan komponen seperti kaca difusikan dan dibakar pada suhu 1020⁰C untuk membentuk seramik. Seramik ini sangat kuat dan baik translusensinya. Selain itu, dapat ditambahkan warnaa (noda) permukaan atau pigmen untuk meningkatkan estetikanya, contohnya Optec-HSP.

Infiltrated ceramic

Guna mengatasi kekurangan porselen aluminus, telah diperkenalkan suatu sistem baru dengan nama infilterabel ceramic yang alumina/spinelnya digunakan sebagai material inti.

In Ceram

Komposisi: seramik jenis in tersedia dalam dua komponen:

  1. Bubuk: Aluminum oksida
  2. Kaca viskositas rendah

Di sini, alumina oksida dibuat pada substrat yang porus. Pada sustrat ni kaca dengan viskositas rendah dipanaskan pada temperatur tinggi agar dapat diinfiltrasikan dalam matriks ini.

Prosedur

  • Bubuk alumina dicampur air untuk membentuk slurry yang dikenal dengan nama „slip‟ yang dilukiskan pada
  • die. Prosedur ini menghasilkan lapisan alumina padat di permukaan.
  • Sintering dilakukan pada suhu 1120⁰C selama 10 jam untuk membentuk inti yang porus
  • Kaca dipilih dan diaplikasikan pada inti yang porus dan pembakaran dilakukan pada suhu 1100⁰C selama 3 s/d 5 jam.
  • Kaca yang meleleh akan menyusup ke dalam inti dengan gerakan kapiler.
  • Dihasilkan struktur komposit yang sangat kuat, yaitu inceram.

In Ceram Spinel

Spinel ini (aluminium dan magnesium oksida) digunakan sebagai material inti. Spinel ini memiliki tranlusensi yang lebih baik dibandingkan in ceram (sangat opak karena tingginya konsentrasi kristal alumina).

Seramik jenis ini dapat digunakan untuk mahkota – anterior maupun posterior.

Castable ceramic

Castable ceramic pertama kali diperkenalkan pada tahun 1984. Pada seramik ini, seramik kaca adalah material yang dimodifikasi hingga bentuk dan ukurannya sesuai dengan yang diinginkan karena kaca dan pemanasan dilakukan untuk menghasikan kristalisasi. Proses kristalisasi ini dikenal sebagai ceramming.

Komposisi
Setelah ceramming, material akan mengandung:

  • 55 persen – kristal tetrasiicic fluoride
  • 45% - seramik kaca

Pada tahun 1984, castable ceramic dipasarkan dengan merek DICOR.

Kelebihan

  • Kesesuaian marjin memuaskan
  • Sangat kuat
  • Kekerasan permukaan lebih baik
  • Ketahanan terhadap keausan mirip email
  • Inlay Dicor lebih kuat daripada inlay porselen yang dibuat pada refractory die.

Pressable ceramic

Seramik jenis ini tersedia dalam bentuk batangan inti yang dipanaskan pada temperatur tinggi dan ditekan ke dalam sebuah cetakan. Proses penekanan dilakukan selama 45 menit pada temperatur tinggi untuk memeroleh substruktur seramik yang kelak dapat diwarnai dengan stains atau melalui glazing.

Dua Tipe Pressable Ceramic yang Tersedia

  1. IPS Empress 1: Mengandung 35 persen vol. kristal leusit
  2. IPS Empress 2: Mengandung 70 persen vol. kristal lithia disilikat

Kelebihan

  • Tidak mengandung logam
  • Kekuatan lentur tinggi
  • Kecocokan baik
  • Estetika baik

Kekurangan

  • Cenderung patah pada area posterior

Machineable ceramic

Seramik jenis ini disuplai dalam bentuk balok seramik dengan beragam warna. Kelak, balok ini akan dibuat menjadi inlay, onlay, dan mahkota dengan menggunakan CAD-CAM atau copymilling.

Restorasi Seramik dengan Bantuan Komputer

Perkembangan teknologi mutakhir menghasilkan berbagai peralatan yang terkomputerisasi yang dapat digunakan untuk membuat inlay dan onlay seramik, coping mahkota dan jembatan, dari balok seramik berkualitas tinggi. Retorasi seramik menggunakan komputer secara tidak langsung dapat dibuat di klinik dengan CEREC® SYSTEM-CAD (Desain menggunakan komputer/Computer Aided Design)), CAM (Pembuatan menggunakan computer/Computer Aided Manufacturing). Sistem CEREC® ini merupakan sistem CAD/CAM yang pertamakali tersedia secara komersial, yang dikembangkan untuk pembuatan desain dan pembuatan restorasi seramik yang mudah dan cepat di klinik.

Machine ceramic adalah sesuatu yang unik dalam dunia kedokteran gigi karena tidak membutuhkan tambahan kaca untuk mencapai morfologi yang tepat. Malahan, morfologi dapat dibuat atau diukir pada satu balok yang murni, unifrom, dan bebas dari seramik (inclusion-free ceramic). Dengan menggunakan kamera khusus, gambaran gigi yang akurat dipotret dan kemudian ditransfer dan ditampilkan pada layar komputer berwarna; di sini teknologi CAD digunakan untuk mendesain restorasi. Kemudian CAM mengambil alih dan secara otomatis membuat restorasi dalam hitungan menit.

Kelebihan

  • Waktu yang dibutuhkan inlay atau onlay dari preparasi gigi sampai sementasi sekitar 1 jam
  • Cukup dilakukan dalam 1 kali kunjungan
  • Tidak membutuhkan cetakan konvensional, beberapa kali kunjungan, dan restorasi sementara.
  • Kualitas material restorasi seramik sangat baik. Balok seramik yang machinable dengan kualitas sangat baik digunakan untuk milling. Material ini tersedia dalam bermacam-macam warna alami.
  • Tidak ada biaya laboratorium untuk inlay dan onlay
  • Restorasi terlihat alamiah dengan estetika yang memuaskan.
  • Hasil restorasi: antiabrasif, bio-kompatibel, dan resisten tehadap plak.

Kekurangan

  • Peralatan mahal
  • Membutuhkan pelatihan khusus
  • Diperlukan preparasi yang lebih konservatif
  • Komputer membuat anatomi oklusal kasar tanpa mempertimbangkan anatomi oklusal gigi antagonis.
  • Membutuhkan penyesuaian akhir oklusal

Contoh

  • Vitablocks mark I dan II: Memiliki sifat yang mirip dengan porselen feldspathic dan dikembangkan oleh Sistem Cerec-CAD. VitaBlocks Mark II memiliki kekuatan lebih tinggi dibandingkan VitaBlock Mark I. Material ini dapat digunakan untuk inlay, onlay maupun crown.

  • Dicor MGC: CAD-CAM Ceramic Dicor MGC memiliki konsentrasi kristal tetrasilicicfluormika tinggi (yaitu 70%) dibandingkan castable Dicor ceramic (yaitu 55%). Cirinya sama dengan seramik Dicor kecuali kurang translusen

  • Procera allceram: Mahkota jenis ini mengandung sintered aluminum oxide yang sangat padat (99.9%) sebagai material intinya yang dikombinasikan sebagai all ceram veneering porcelain. Material ini adalah salah satu seramik terkeras yg digunakan dalam kedokteran gigi untuk mahkota anterior dan posterior, inlay dan onlay.

INLAY DAN ONLAY SERAMIK


Inlay seramik merupakan restorasi seramik yang paling konservatif dan memungkinkan mempertahankan sebanyak mungkin email yang tersisa. Inlay seramik pas sekali dengan kontur gigi dan disemenkan pada struktur gigi yang tersisa. Onlay masuk pas sekali dengan kontur gigi dan menutupi sebagian atau seluruh permukaan oklusal yang perlu direstorasi.

Untuk pasien yang membutuhkan restorasi estetis, inlay dan onlay seramik memberikan alternatif yang lebih tahan lama dibandingkan resin komposit posterior. Adhesi dengan porselen dicapai dengan mengetsa gigi dengan asam hydrofluoric dan penggunaan silane coupling agent.

Indikasi

  • Bila estetika sangat dipentingkan
  • Pasien memiliki status kebersihan mulut baik
  • Cocok untuk preparasi besar
  • Bila jalan masuk dan isolasi gigi mudah dilakukan
  • Ketika tidak ada undercut berlebih pada preparasi gigi
  • Ketika marjin preparasi terlatak di email dan struktur giginya yang sehat memungkinkan terdjadinya adhesi dengan bahan restorasi.

Kontraindikasi

  • Pada pasien dengan kebersihan mulut buruk
  • Pasien dengan banyak karies aktif
  • Karena sifatnya yang rapuh, dikontraindikasikan untuk pasien dengan tekanan oklusal berlebihan seperti penderita bruksisme
  • Ketika estetika tidak dipentingkan
  • Pada kasus dengan kerusakan gigi minimal
  • Ketika kontrol kelembaban sulit dicapai
  • Pada kasus dengan atrisi gigi berlebihan
  • Kurangnya email untuk adhesi.
  • Ketika ada undercut pada preparasi gigi

Kelebihan

  • Estetika sangat baik
  • Konduktivitas termal rendah
  • Tahan lama
  • Tidak aktif secara kimiawi
  • Koefisien ekspansi termal rendah
  • Bersifat biokompatibel

Kekurangan

  • Lebih mahal dibandingkan dengan amalgam atau komposit
  • Membutuhkan peralatan laboratorium khusus yang mahal
  • Membutuhkan dua kali kunjungan
  • Penyelesaian akhir intraoral dan pemolesan memakan waktu lama
  • Rapuh dan mudah pecah, sehingga penyesuaian oklusal intraoral tidak mungkin dilakukan sebelum inlay/onlay dipasangi
  • Bersifat abrasif terhadap email antagonis
  • Sangat technique sensitive

Preparasi Gigi

Guna meningkatkan visibilitas dan mengontrol kelembaban gigi diisolasi dengan isolator karet.

Sebelum isolator dipasang, tandai dan nilai relasi kontak oklusal dengan kertas artikulasi. Guna menghindari pecah atau ausnya luting resin, hindari penempatan marjin restorasi di kontak sentrik.

Bentuk Ragangan (Outline form)

Bentuk ragangan biasanya ditentukan oleh luas karies dan restorasi yang sudah ada. Bentuk ragangan secara garis besar sama dengan bentuk ragangan inlay dan onlay logam konvensional, kecuali bevel dan pelebaran ke arah oklusal (flare) di sini tidak dikerjakan. Pada awal preparasi gigi, bor yang digunakan asalah bor karbid. Bor harus dipegang miring agar dinding tegak fasial dan lingual menjadi divergen ke oklusal agar insersi restorasi dan mengeluarkannnya kelak menjadi mudah. Selama preparasi akhir, gunakan bur intan kasar. Buang email yang lemah atau tidak terdukung dentin. Kurangi central groove (kira-kira 1.5-2mm) mengikuti anatomi gigi yang belum dipreparasi. Hal ini menambah besarnya badan tambalan (seramik) sekaligus kekuatannya. Bentuk ragangan harus menghindari kontak oklusal.

Berikan jarak sekurang-kurangnya 1.5 mm dari semua permukaan untuk menghindari fraktur seramik. Dinding preparasi harus divergen ke oklusal sebesar 6-8 derajat per dinding. Penambahan derajat kemiringan ini dibuat karena restorasi seramik terikat secara adhesif pada struktur gigi sehingga restorasi harus terletak secara pasif pada preparasi gigi.

Perluas boks proksimal sehingga memiliki jarak (clearance) minimal 0.6 mm guna memudahkan pencetakan. Lebar isthmus paling sedikit 1.5 mm untuk menghindari fraktur. Marjin preparasi harus dijaga tetap di supragingiva. Lebar alas gingiva dari boks berkisar harus sekitar 1,0 mm.

Semua sudut interna dibulatkan dan dinding preparasi harus halus dan seimbang. Semua marjin cavosurface harus dibuat dalam butt angled. Bevel merupakan kontraindikasi sebab ketebalan badan tambalan diperlukan guna mencegah fraktur. Bagi marjin onlay seramik direkomendasikan suatu heavy champer

Hilangkan semua karies yang tidak termasuk bentuk ragangan menggunakan ekskavator atau bur bulat berkecepatan rendah.

Letakkan agen pelindung pulpa berupa basis semen ionomer kaca modifikasi resin pada jaringan yang sudah diekskavasi di dinding gingiva.

Haluskan marjin preparasi dengan finishing bur dan instrumen genggam, buang kelebihan basis ionomer kaca karena dibutuhkan marjin yang jelas dan halus untuk ketepatan penempatan restorasi seramik.

VINIR LAMINASI PORSELEN


Vinir porselen dikenalkan sekitar 25 tahun lalu. Hasil estetik vinir seramik sangat baik dibandingkan dengan vinir resin.

Indikasi

  • Vinir laminasi porselen dapat digunakan pada kondisi berikut:
  • Noda permanen ekstrinsik, tidak dapat diatasi dengan teknik bleaching.
  • Noda instrinsik yang disebabkan oleh:
    • Penuaan fisiologis
    • Erosi dan abrasi
    • Trauma
    • Amelogenesis imperfekta
    • Fluorosis
    • Hipoplasia email
    • Noda tetrasiklin
  • Gigi nonvital
  • Mengoreaksi gigi malformasi seperti insisif lateral dengan bentuk peg-shape
  • Memperbaiki tepi insisal yang patah
  • Perawatan diastema

Kontraindikasi

  • Pasien dengan risiko karies tinggi
  • Gigi dengan keadaan periodontium yang buruk
  • GIgi dengan resesi gingiva
  • Pada kasus yang preparasinya harus diperluas sampai struktur servikal gigi
  • Pada gigi tidak teratur (rotasi dan gigi tumpang tindih)
  • Pada kasus gigitan dalam (karena kekuatan oklusal berlebih)
  • Pada gigi diskolorasi berat (mahkota adalah pilihan yang lebih baik pada gigi seperti ini).
  • Pada gigi dengan karies interproksimal
  • Pasien dengan motivasi rendah.

Keuntungan

  • Preparasi gigi bersifat konservatif (hanya membutuhkan sekitar 0.5mm reduksi fasial)
  • Karena preparasi gigi terbatas pada lapisan email, anestesia lokal biasanya tidak dibutuhkan
  • Kecocokan warna dan estetika bagus
  • Tidak bereaksi secara kimiawi, karena itu resisten terhadap absorpsi cairan.
  • Bersifat biokompatibel
  • Resistensi yang baik terhadap abrasi

Kerugian

  • Rapuh dan mudah pecah
  • Sulit diperbaiki atau dimodifikasi setelah sementasi
  • Lebih mahal dibandingkan dengan amalgam atau komposit
  • Membutuhkan peralatan laboratorium khusus yang mahal
  • Penyelesaian akhir intraoral dan pemolesannya membutuhkan waktu lama
  • Sangat technique sensitive
  • Membutuhkan preparasi gigi yang tepat

Preparasi Gigi

  • Untuk mencapai estetika yang optimal, harus dilakukan reduksi yang maksimal pada email dan penetrasi minimal ke dalam dentin karena sepertiga gingiva dan garis sudut proksimal seringkali overkontur pada restorasi ini.
  • Buat kedalaman dengan bur bulat hingga diperoleh kedalamann yang seragam.
  • Kedalaman yang dibutuhkan umumnya paling sedikit 0.5 mm, walaupun jumlah reduksi bergantung pada perluasan diskolorasi
  • Preparasi gigi harus mengikuti kontur anatomi gigi
  • Marjin harus mengikuti puncak gingiva. Ini akan menutupi (dengan vinir) seluruh email yang terdiskolorasi tanpa melibatkan sulkus gingiva yang tidak perlu.
  • Jika memungkinkan, tempatkan marjin preparasi labial terhadap daerah kontak proksimal agar tetap di email
  • Buat marjin “long chamfer”. Desain ini akan menghasilkan sudut cavosurface yang tumpul, yang akan memajankan prismata email di daerah marjin agar hasil etsanya lebih baik.
  • Buat jarak (clearance) untuk memisahkan model kerja (working cast) dan mengakses marjin proksimal untuk penyelesaian akhir dan pemolesan. Pekerjaan ini menggunakan diamond finishing strip…
  • Jika mungkin, hindari memotong pinggiran insisal karena ini akan menyokong porselen.
  • Jika perlu menambah panjang tepi insisal, perluas preparasi ke lingual tanpa undercut karena undercut akan menghambat penempatan vinir.
  • Akhirnya konfirmasikan kembali bahwa semua permukaan preparasi membulat untuk menghindari konsentrasi tekanan pada porselen

MAHKOTA SERAMIK PENUH


Indikasi

  • Pada area yang membutuhkan estetika tinggi yang jika dibuat restorasi yang lebih konservatif tidak akan adekwat
  • Pada gigi dengan karies fasial dan/atau karies proksimal yang tidak dapat direstorasi dengan resin komposit.
  • Pada gigi dengan struktur korona yang cukup untuk menyokong restorasi khususnya pada area insisal.

Kontraindikasi

  • Bila bisa dibuat restorasi yang lebih konserfatif.
  • Pada gigi posterior dengan tekanan oklusal besar dan kebutuhan estetika rendah sehingga mahkota seramik logam lebih cocok.
  • Jika tekanan oklusal tidak menguntungkan
  • Jika email tidak cukup untuk memberi dukungan.

Keuntungan

  • Faktor estetika sangat baik
  • Translusensi mirip dengan struktur gigi asli
  • Biokompabel
  • Dengan tidak adanya dukungan substruktur logam menyebabkan pengurangan permukaan fasial lebih konservatif dibandingkan dengan mahkota metal-seramik

Kekurangan

  • Berkurangnya kekuatan restorasi karena tidak adanya dukungan substruktur ogam
  • Membutuhkan lebih banyak pemotongan gigi karena dibutuhkan preparasi bahu mengelilingi marjinal.
  • Pada beberapa kasus sulit mencapai marjin yang tepat
  • Tidak dapat dimodifiksi setelah dipreparasi
  • Desain preparasi yang tepat sangat penting untuk memastikan keberhasilan mekanis.
  • Membutuhkan sudut cavosurface „butt joint‟ untuk meminimalisir risiko keretakan.
  • Preparasi harus menyokong porselen sepanjang tepi insisal. Karena itu tidak dapat diaplikasikan pada gigi dengan kerusakan parah.
  • Restorasi ini tidak efektif sebagai retainer protesa sebagian cekat.

Preparasi Gigi

Reduksi Oklusal

  • Idealnya harus tersedia jarak di insisal/oklusal sebesar 1.5 – 2 mm bagi porselen dalam semua gerakan ekskursif mandibula. Hasil restorasi akan lebih memuaskan secara estetika dengan kekuatan yang cukup
  • Buat groove yang dalam (kira-kira 1.3 mm) pada permukaan oklusal untuk mengantisipasi bertambahnya kehilangan struktur gigi selama penyelesaian
  • Groove harus diarahkan tegak lurus terhadap sumbu panjang gigi antagonis guna memberikan support yang cukup bagi mahkota porselen.

Reduksi Fasial

  • Buat groove dalam dan kurangi permukaan fasial. Kedalaman groove harus sekitar 0.8 mm untuk melakukan finishing
  • Satu groove dalam dibuat di tengah dinding fasial dan masing-masing satu di garis sudut mesiobukal dan distobukal.
  • Kurangi setengah dari permukaan fasial. Pastikan bagian servikal paralel dengan path of withdrawal dan satu komponen insisal paralel dengan kontur asli dari gigi.

Reduksi Lingual

  • Buat groove dalam dan kurangi permukaan lingual. Kedalaman groove harus sekurang-kurangnya 0.8 mm agar bisa melakukan finishing dengan baik
  • Gunakan bur intan berbentuk bola (football-shaped) untuk reduksi lingual.
  • Lakukan reduksi lingual sampai ada jarak 1 mm pada setiap gerakan ekskursif mandibula.
  • Buat preparasi bahu (shoulder preparation), dari tengah dinding lingual menuju proksimal, sampai bahu lingual bertemu bahu fasial.

Preparasi Chamfer

  • Untuk marjin subgingiva buat preparasi chamfer setelah meletakkan benang retraksi.
  • Hindari membuat bahu miring yang bisa memberi beban yang tidak diinginkan pada porselen dan akhirnya kegagalan tensil.
  • Perhatikan bahwa tidak ada sisa email yang tidak terdukung dentin untuk menghindari fraktur.
  • Chamfer yang sudah selesai harus selebar 1 mm, halus, kontinyu, dan bebas dari pinggiran yang kasar.

Penyelesaian Akhir (Finishing)

  • Selesaikan dan haluskan permukaan preparasi
  • Tidak boleh ada garis sudut yang tajam yang dapat menyebabkan fraktur karena wedging action.
  • Lakukan perbaikan marjin jika dibutuhkan.

PEMBUATAN RESTORASI SERAMIK


Teknik yang digunakan untuk pembuatan restorasi seramik adalah:

  • Pembakaran foil platina (platinum foil)
  • Menggunakan teknik refraktori
  • Teknik lost wax
  • Restorasi masinal menggunakan teknik CAD-CAM

Pembakaran Foil Platina

Inlay dan onlay seramik umumnya dibuat dengan membakar porselen dental pada die refraktori. Pembakaran merupakan metode paling tua di antara teknik pembuatan lainnya, namun kurang digemari lagi saat ini. Pada teknik ini, foil platina disesuaikan di atas die. Porselen feldspathic diaplikasikan di atas lapisan foil platina, kemudian bersama foil, lapisan porselen dilepaskan dari die dan dibakar di tungku. Sebelum sementasi lepaskan foil platina.

Keuntungan

  • Pembuatannya mudah
  • Daerah proksimal preparasi mudah dijangkau

Kekurangan

  • Tingginya peluang untuk tidak akurat
  • Technique sensitive

Pembuatan Menggunakan Refractory Die

Metode ini adalah metode yang paling sering digunakan untuk pembuatan inlay, onlay, dan vinir.

Langkah-langkah

Teknik Lost Wax

  • Selesaikan preparasi gigi, buat cetakan, tuangi master’ die dan cor dengan die stone.
  • Buat pola lilin dan masukkan dalam phosphate bonded investment
  • Hilangkan lilin dengan dibakar menggunakan tungku penghilang lilin.
  • Panaskan kaca tuang transparan pada 1100⁰ C sampai kaca tuang ini berubah menjadi putih, buram, dan semikristal. Untuk melelehkan batangan kaca digunakan mesin tuang khusus.
  • Kaca yang melebur dituangkan perlahan-lahan ke dalam cetakan menggunakan mesin tuang sentrifugal. Setelah didinginkan, bersihkan restorasi dari investmen.
  • Letakkan restorasi pada master die dan model kerja untuk penyesuaian kontur, penyesuaian akhir, dan
  • finishing.
  • Setelah benar-benar pas, lakukan penyesuaian akhir dan prosedur finishing, aplikasikan warna porselen, lakukan pembakaran untuk penyesuaian warna yang lebih baik, dan lakukan finishing akhir serta glazing.

Restorasi Masinal Menggunakan CAD-CAM

  • Setelah menyelesaikan preparasi gigi, alat pemindai mengumpulkan informasi mengenai bentuk dan ukuran preparasi. Langkah ini disebut “optical impression”. Gambar video dari gigi yang dipreparasi ditampilkan untuk memastikan posisi alat pemindai yang tepat.
  • Sistem ini memproyeksikan gambaran preparasi gigi dan struktur sekelilingnya pada monitor.
  • Setelah desain restorasi selesai, komputer mengarahkan alat micromilling (porsi CAM dari sistem) untuk membuat restorasi dari balok seramik. Balok dari seramik masinal ini yang digunakan khusus untuk alat CAM, dibuat pada kondisi ideal. Balok-balok ini termasuk jenis seramik yang paling kuat yang dapat digunakan, dengan sifat fisik hampir sama dengan email.
  • Restorasi dikeluarkan dari alat millnig, siap untuk dicoba dan disemenkan.

Sementasi

  • Lakukan isolasi pada gigi yang dipreparasi untuk mncegah kontaminasi saliva dan cairan gingiva.
  • Kondisikan permukaan gigi selama 15 detik menggunakan asam fosfat.
  • Aplikasikan bahan adhesif dentin dan sinari.
  • Untuk inlay/onlay seramik, gunakan asam hidrofluorik untuk mengetsa permukaan preparasi selama 1 menit. Bilas, kemudian keringkan
  • Lakukan etsa seramik dengan silanating agent. Agen ini berikatan secara kimiawi dengan silika dalam komposit dan porselen.
  • Aplikasikan resin luting pada permukaan preparasi dan dudukkan restorasinya. Buang kelebihan semen, dan sinari selama 1 menit
  • Setelah sementasi, periksa seluruh marjin. Gunakan instrument intan untuk menyelesaikan marjin restorasi. Pemolesan restorasi seramik dilakukan dengan pasta poles intan dengan sikat bulu.
Referensi
  1. Al-Hiyasat AS, el al. Three-body wear associated with three ceramics and email. J Prosthet Dent. 1999;82:476-81.
  2. Anderson M, Oden A. A new all ceramic crown. A densely sintered high purity alumina copying with porcelain. Acta Odont Scant. 1993;51:9.
  3. Anderson M, Razzoog ME, Oden A, et al. Procera. A new way to achieve an all ceramic rown. Quint Int. 1998;29:285.
  4. Anuasavice KJ, Zhang NZ. Chemical durability of Dicor and Lithia based glass ceramics. Dent Mater. 1997;l13:13.
  5. Anusavice KJ. Recent developments in restorative dental ceramics. JADA. 1993;124:72.
  6. Banks RG. Conservative posterior ceramic restoration: a literature review. J Prosthet Dent. 1990;63:619-26.
  7. Barnes DM, Blank LW, Gingell JC, Latta MA. Clinical evaluation of castable ceramic vinirs. J Esthet Dent. 1992;4:21.
  8. Burgoyne AR, et al. In vitro two-body wear of inlay-onlay composite resin restoratives. J Prosthet Dent. 1991;65:206-14.
  9. Burke FJT, QQualtrough AJE. Aesthetic inlays. Composite or cerami? BDJ. 1994;176:53.
  10. Calamia JR, SImonsen RJ. Effects of coupling agents on bond strength of etched porcelain. JDR (Spl. Issue):1984;63:179.
  11. Cattell MJ, et al. The transverse strength reliability and microstructural features of four dental eramics – part I. J Dent 1997;25:399-407.
  12. Christensen GJ. Ceramic v/s porcelain fused-to-metal crowns: give your patients a choice. JADA. 1994;125:311.
  13. Christensen GJ. Viniring of teeth. State of the art. DCNA. 1985;29:373.
  14. Christensen GJ. Why all-ceramic crowns? JADA. 1997;128:1453.
  15. David SB, LoPresti JT. Tooth-colored posterior restoration using cerec method (CAD/CAM) generated ceramic inlays. Compend. Contin Educ Dent. 1994;7-134.
  16. Eidenbenz S, Lehner Ch R, Scharer P. Copy milling ceramic inlays from resin analogs: A practicable approach with the CELAY system. Int J Prosth. 1994;7:134
  17. El-Mowafy O, Brochu JF. Longevity and clinical performance of IPS-Empress ceramic restoration - a literature review. J Can Dent Assoc. 2002;8:233-7.
  18. Estafan D, et al Scanning electron microsope evaluation of CEREC II and CEREC III inlays. Gen Dent. 2003;51:230-4.
  19. Ferrari M, et al. Influence of tissue characteristics at marjins on leakage of Class II indirect porcelain restoration. Am J Dent. 1999;12:134-42.
  20. Fradeani M, et al. Longitudinal study of pressed glass-ceramic inlays for four and a half years. J Prosthet Dent. 1997;78:346-53.
  21. Hager B, Oden A, Andersson B, et al. Procera allceram laminates: A clinical report. J Prosth Dent. 2001;85:231.
  22. Hayashi M, et al. Eight-year clinical evaluation of fire ceramic inlays. Oper Dent. 2000;25:473-81.
  23. Haywood VB, Heymann HO, Kusy RP, et al. Polishing porcelain veners: An SEM and specular reflectance analysis. Dent Mater/ 1998;4:116.
  24. Ibsen RL, Yu XY. Establishing cuspid, guided occlusion with bonded porcelain. Esthet Dent. 1989;80.
  25. Jensen ME, Redford DA, Williams BT, et al. Poterior etched porcelain restoration: An in vitro study. Compend Educ. Dent. 1987;8:615.