Apa yang dimaksud dengan Kepribadian Altruisme (Altruistic personality)?

Altruisme adalah keinginan untuk menolong orang lain walaupun orang yang menolong tersebut harus mengeluarkan biaya atau pengorbanan.

Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika.

Altruism (altruisme) adalah tindakan sukarela untuk membantu orang lain tanpa pamrih, atau ingin sekedar beramal baik (Schroder, Penner, Dovido, & Piliavin, 1995). Berdasarkan definisi ini, apakah suatu tindakan bisa dikatakan altruistik akan bergantung pada niat si penolong.

Orang asing yang mempertaruhkan nyawanya untuk menarik korban dari bahaya kebakaran dan kemudian dia pergi begitu saja tanpa pamit adalah orang benar-benar melakukan tindakan altruistic. (Shelley E. Taylor, Letitia Anne Peplau, David O. Sears, 2009 : 457)

Menurut Auguste Comte altruisme berasal dari bahasa Perancis, autrui yang artinya orang lain. Comte memercayai bahwa individu-individu mempunyai kewajiban moral untuk berkidmat bagi kepentingan orang lain atau kebaikan manusia yang lebih besar.

Menurut Baron dan Byrne (1996) altruisme merupakan bentuk khusus dalam penyesuaian perilaku yang ditujukan demi kepentingan orang lain, biasanya merugikan diri sendiri dan biasanya termotivasi terutama oleh hasrat untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain agar lebih baik tanpa mengaharapkan penghargaan.

Altruisme adalah hasrat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri.

Altruisme merupakan suatu sifat suka mempertahankan juga mengutamakan kepentingan orang lain, cinta kasih yang tidak terbatas pada sesama manusia, juga merupakan sifat manusia yang berupa dorongan untuk berbuat jasa dan kebaikan terhadap orang lain

Altruisme merupakan lawan dari egoisme dan membela sikap melayani tanpa pamrih kepada orang lain, kesediaan berkorban demi kepentingan orang lain atau masyarakat serta usaha mengekang keinginan diri demi cinta orang lain.

Lebih jauh lagi Macaulay dan Berkowitz mengatakan bahwa perilaku altruisme adalah perilaku yang menguntungkan bagi orang lain. Jadi seseorang yang melakukan tindakan altruisme bukan sajamenguntungkan bagi si penolong, melainkan juga menguntungkan bagi orang-orang yang ditolong, sebab mereka yang melakukan tindakan altruisme akan menolong orang lain tanpa mengharapkan balasan apapun.

Ciri-ciri Altruisme

Fuad Nashori mengutip Cohen yaitu ada tiga ciri altruisme, yaitu.

  • Empati
    Empati adalah kemampuan untuk merasakan perasaan yang dialami olehorang lain

  • Keinginan memberi
    Keinginan untuk memberi adalah maksut hati untuk memenuhi kebutuhanorang lain

  • Sukarela
    Sukarela adalah apa yang diberikan itu semata-mata untuk orang lain, tidakada kemungkinan untuk memperole imbalan (Nashori, 2008:36).

Fuad mengutip leads yang menjelaskan bahwa ada tiga ciri altruisme, yaitu

  1. Tindakan tersebut bukan untuk kepentingan diri sendiri

    Ketika sipelaku memberikan tindakan altruistic boleh jadi ia mengambil resiko yang berat, namun ia tidak mengharapkan imbalan materi, nama, kepercayaan, tidak pula untuk menghindari kecaman orang lain. Tindakan tersebut semata-mata untuk kepentingan orang lain.

  2. Tindakan tersebut dilakukan secara sukarela

    Tidak ada keinginan untuk memperoleh apapun. Kepuasaan yang diperoleh dari tindakan sukarela ini adalah semata-mata ditinjau dari sejauh mana keberhasilan tindakan tersebut.Misalnya, bila donor darah yang diberikan memberikan manfaat untuk menolong kehidupan, maka si pemberi pertolongan semakin puas.

  3. Hasilnya baik bagi si penolong maupun yang menolong

    Tindakan altruistic tersebut sesuai dengan kebutuhan orang yang ditolong dan si pelaku memperoleh internalreward (contohnya: kebanggaan, kepuasan diri, bahagia, dan lain sebagainya) atas tindakannya (Nashori, 2008:36).

Menurut teori Myers membagi perilaku altruisme ke dalam tiga aspek

  1. Memberikan perhatian terhadap orang lain

    Seseorang membantu orang lain karena adanya rasa kasih saying, pengabdian, kesetian yang diberikan tanpa ada keinginan untuk memperoleh imbalan untuk dirinya sendiri.

  2. Membantu orang lain

    Seseorang dalam membantu orang lain disadari oleh keinginan yang tulus dan hati nurani dari orang tersebut, tanpa adanya pengaruh orang lain.

  3. Meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri

    Dalam membantu orang lain, kepentingan yang bersifat pribadi dikesampingkan dan lebih mementingkan kepntingan orang lain (umum) (Myers, 1987:383).

berbagi

Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika. Beberapa aliran filsafat, seperti Objektivisme berpendapat bahwa altruisme adalah suatu keburukan.

Altruisme adalah lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri. Lawan dari altruisme adalah egoisme.

Altruisme dapat dibedakan dengan perasaan loyalitas dan kewajiban. Altruisme memusatkan perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan tanpa memperhatikan ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral dari individu tertentu (seperti Tuhan, raja), organisasi khusus (seperti pemerintah), atau konsep abstrak (seperti patriotisme, dsb).

Beberapa orang dapat merasakan altruisme sekaligus kewajiban, sementara yang lainnya tidak. Altruisme murni memberi tanpa memperhatikan ganjaran atau keuntungan.

Konsep ini telah ada sejak lama dalam sejarah pemikiran filsafat dan etika, dan akhir-akhir ini menjadi topik dalam psikologi (terutama psikologi evolusioner), sosiologi, biologi, dan etologi. Gagasan altruisme dari satu bidang dapat memberikan dampak bagi bidang lain, tetapi metode dan pusat perhatian dari bidang-bidang ini menghasilkan perspektif-perspektif berbeda terhadap altruisme. Berbagai penelitian terhadap altruisme tercetus terutama saat pembunuhan Kitty Genovese tahun 1964, yang ditikam selama setengah jam, dengan beberapa saksi pasif yang menahan diri tidak menolongnya.

Istilah “altruisme” juga dapat merujuk pada suatu doktrin etis yang mengklaim bahwa individu-individu secara moral berkewajiban untuk dimanfaatkan bagi orang lain.

Konsep Altruisme diciptakan oleh filsuf Perancis dan sosiolog bernama Auguste Comte (1798-1857). Altruisme berasal dari kata Italia altrui yang merupakan “untuk orang lain”.

Mercer dan Debbie (2010) mendifinisikan altruism sebagai helping behavior yang tidak mementingkan diri sendiri yang termotivasi oleh keinginan untuk menguntungkan orang lain.

Konsep Altruisme juga diterapkan dalam perusahaan Jepang yang sering disebut sebagai Ritashugi. Rita yang mengandung arti “altruisme” dan Shugi yang mengandung arti “penerapan”, sehingga ritashugi memiliki arti “penerapan altruisme”.

Altruisme dan prosocial behavior sering dipakai bergantian namun sebenarnya tidak sama dan terdapat perbedaan, karena prosocial behavior dapat juga mendapatkan imbalan, sedangkan altruisme merupakan tindakan prososial sebagai tujuan sendiri dengan tidak adanya keuntungan bagi altruis.

Menurut teori Darwin dalam Mercer dan Debbie (2010:98), Altruisme merupakan tindakan yang berkaitan dengan sifat-sifat positif seperti kedermawanan, dan berbaik hati.

Altruisme

Ciri-ciri Sifat Altruistik (Altruistic Personality)


Bierhoff et al dalam Mercer dan Debbie (2010) menyatakan bahwa orang yang memiliki sifat altruistik, tinggi pada lima dimensi yang merupakan ciri khas seseorang (altruistic personality) yang terlibat dalam perilaku prososial dalam berbagai konteks:

  1. Empathy
    Seperti yang kita lihat bahwa orang yang membantu memiliki rasa empati yang tinggi. Mereka juga mendeskripsikan diri mereka sebagai orang yang bertanggung jawab, bersosialisasi, sesuai dengan norma yang berlaku, toleransi, pengontrolan diri dan termotivasi untuk membuat kesan yang baik.

    Baron et al dalam Mercer dan Debbie (2010) mengatakan bahwa empati merupakan respon afektif dan kognitif yang kompleks terhadap tekanan emosional orang lain yang telah banyak dikaitkan dengan prosocial behavior.

    • Komponen afektif telah diidentifikasi sebagai perasaan tertekan sendiri ketika orang lain tertekan dan perasaan simpati dan kepedulian terhadap orang, sehingga anda ingin mencoba untuk meringankan penderitaan tersebut.

    • Komponen kognitif mengacu pada kemampuan untuk mempertimbangkan sudut pandang orang lain, sering disebut sebagai ‘pengambilan perspektif’

    Aspek-aspek yang menjelaskan perbedaan individual dan empati menurut para ahli :

    • Biological; Davis et al dalam Mercer dan Debbie (2010) mengatakan bahwa perbedaan biologis dianggap mencapai sekitar sepertiga dari variasi dalam empati afektif. Mereka menemukan bukti tersebut untuk efek herediter pada komponen afektif empati yaitu tekanan personal dan perhatian simpatik.

    • Socialisation; Eisenberg et al dalam Mercer dan Debbie (2010) mengatakan bahwa kita mungkin dilahirkan dengan kapasitas untuk berempati, namun pengalaman sosialisasi bisa menentukan jikalau ini menjadi komponen utama dari diri kita sendiri. Penelitian mengungkapkan bahwa anak-anak yang sangat empatik memiliki ibu yang empatik, pengambil perspektif yang baik, hangat dan nyaman.

    • Motivation; Batson menyoroti empati sebagai motivasi untuk altruisme. Ia membedakan antara membantu yang termotivasi secara egoistic (bermanfaat bagi pelaku) dan membantu yang termotivasi secara altruistik (fokus terhadap kebutuhan orang lain). Biehroff dan Rohmann dalam Mercer dan Debbie (2010:100) mengatakan bahwa bukti eksperimental ini menunjukkan bahwa orang yang mengalami keadaan afektif cenderung memiliki kemungkinan untuk lebih membantu orang yang membutuhkan.

  2. Belief in a just world
    Orang yang selalu membantu melihat dunia ini sebagai tempat yang adil dan dapat diprediksi bahwa yang berperilaku baik akan dihargai dan yang berperilaku jahat akan dihukum.

    Mercer dan Debbie (2010) menambahkan bahwa kita semestinya memiliki norma keadilan yang mempengaruhi cara kita menilai kebutuhan orang lain untuk bantuan dan mempertimbangkan beban terhadap diri kita sendiri.

    Jika hasil dari membantu tidak cocok dengan standarisasi keadilan kita, maka kita terbilang termotivasi secara egoistik daripada secara altruistik.

  3. Social responsibility
    Orang yang selalu membantu juga meyakini bahwa setiap orang memiliki kewajiban dan tanggung jawab melakukan yang terbaik untuk membantu siapapun yang membutuhkan bantuan.

  4. Internal locus of control
    Kepercayaan bahwa manusia dapat memilih untuk berperilaku dalam arah yang memaksimalkan hasil yang baik dan meminimalkan yang buruk, namun hasil juga dikendalikan oleh keberuntungan , nasib, orang-orang dengan kekuasaan dan faktor tak terkendali lainnya.

  5. Low egocentrism
    Seseorang yang bersifat altruistik cenderung tidak mementingkan diri sendiri dan kompetitif.

Bentuk-bentuk Altruisme


Scott dan Jonathan (2007) mengemukakan bentuk-bentuk altruism yang dihasilkan melalui adaptasi urutan tahap moral milik Kohlberg yaitu sebagai berikut;

  1. Mutual Altruism; bertujuan untuk memenuhi kewajiban peran bersama

  2. Conscientious Altruism; ditandai dengan rasa empati yang lebih besar dari tanggung jawab sosial

  3. Autonomous Altruism; berdasarkan martabat universal, kesetaraan, dan hak semua orang

  4. Reciprocal Altruism; dilakukan dengan harapan mendapatkan imbalan di masa yang akan datang dari keuntungan seseorang.

Altruism (altruisme)adalah tindakan sukarela untuk membantu orang lain tanpa pamrih, atau ingin sekedar beramal baik (Schroder, Penner, Dovido, & Piliavin, 1995). Berdasarkan definisi ini, apakah suatu tindakan bisa dikatakan altruistik akan bergantung pada niat si penolong. Orang asing yang mempertaruhkan nyawanya untuk menarik korban dari bahaya kebakaran dan kemudian dia pergi begitu saja tanpa pamit adalah orang benar-benar melakukan tindakan altruistic. (Shelley E. Taylor, Letitia Anne Peplau, David O. Sears, 2009).

Menurut Baron dan Byrne (1996) altruisme merupakan bentuk khusus dalam penyesuaian perilaku yang ditujukan demi kepentingan orang lain, biasanya merugikan diri sendiri dan biasanya termotivasi terutama oleh hasrat untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain agar lebih baik tanpa mengaharapkan penghargaan. Sementara itu Myers (dalam Sarwono, 2002) altruisme dapat didefinisikan sebagai hasrat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri.

Menurut David O. Sears altruisme adalah tindakan sukarela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengaharapakan imbalan apapun, kecuali telah memberikan suatu kebaikan (Nashori Fuad, 2008).

Ciri-ciri Altruisme


Fuad Nashori mengutip Cohen yaitu ada tiga ciri altruisme, yaitu.

  • Empati
    Empati adalah kemampuan untuk merasakan perasaan yang dialami oleh orang lain

  • Keinginan memberi
    Keinginan untuk memberi adalah maksut hati untuk memenuhi kebutuhan orang lain

  • Sukarela
    Sukarrela adalah apa yang diberikan itu semata-mata untuk orang lain, tidakada kemungkinan untuk memperole imbalan (Nashori, 2008).

Fuad mengutip leads yang menjelaskan bahwa ada tiga ciri altruisme, yaitu

  • Tindakan tersebut bukan untuk kepentingan diri sendiri
    Ketika si pelaku memberikan tindakan altruistic boleh jadi ia mengambil resiko yang berat, namun ia tidak mengharapkan imbalan materi, nama, kepercayaan, tidak pula untuk menghindari kecaman orang lain. Tindakan tersebut semata-mata untuk kepentingan orang lain.

  • Tindakan tersebut dilakukan secara sukarela
    Tidak keinginan untuk memperoleh apapun.Kepuasaan yang diperoleh dari tindakan sukarela ini adalah semata-mata ditinjau dari sejauh mana keberhasilan tindakan tersebut.Misalnya, bila donor darah yang diberikan memberikan manfaat untuk menolong kehidupan, maka si pemberi pertolongan semakin puas.

  • Hasilnya baik bagi si penolong maupun yang menolong
    Tindukan altruistic tersebut sesuai dengan kebutuhan orang yang ditolong dan si pelaku memperoleh internalreward (contohnya: kebanggaan, kepuasan diri, bahagia, dan lain sebagainya) atas tindakannya (Nashori, 2008:36).

Aspek-aspek Altruisme


Menurut teori Myers membagi perilaku altruisme ke dalam tiga aspek

  • Memberikan perhatian terhadap orang lain
    Seseorang membantu orang lain karena adanya rasa kasih saying, pengabdian, kesetian yang diberikan tanpa ada keinginan untuk memperoleh imbalan untuk dirinya sendiri.

  • Membantu orang lain
    Seseorang dalam membantu orang lain disadari oleh keinginan yang tulus dan hati nurani dari orang tersebut, tanpa adanya pengaruh orang lain.

  • Meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri
    Dalam membantu orang lain, kepentingan yang bersifat pribadi dikesampingkan dan lebih mementingkan kepntingan orang lain (umum) (Myers, 1987)

Faktor-faktor Altruisme


Menurut Faturochman bahwa perilaku menolong itu dipicu oleh factor-faktor :

  • Situasi sosial
    Kondisi dimana masing-masing orang merasa bahwa member pertolongan adalah bukan tanggung jawabnya sendiri dikenal sebagai diffusion of responsibility. Kondisi kondisi seperti ini tidak akan muncul bila kelompok yang mengamati memiliki kohesivitas yang tinggi. Dengan kata lain, orang-orang yang ada di sekitar kejadian merupakan suatu kelompok yang satu dengan yang lainnya sudah saling mengenal (Faturochman, 2009)

  • Biaya menolong
    Dengan keputusan member pertolongan berarti akan ada cost tertentu yang harus dikeluarkan untuk menolong itu. Pengeluaran untuk menolong bisa berupa materi (biaya, barang), tetapi yang lebih sering adalah pengeluaran psikologis (member perhatian, ikut sedih dan lainnya).Tidak hanya pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk menolong (cost of helping) yang menjadi pertimbangan, tetapi juga pengeluaran yang harus ditanggung oleh korban kelak atau pengeluaran untuk mengembalikan ke kondisi semula (victim cost). Korban yang parah di satu sisi mendorong penolong untuk segera menolong, di sisi lain timbul pertimbangan bahwa hal itu berarti memerlukan pengeluaran lebih banyak. Apabila secara sepintas korban dianggap mampu menanggung pengeluaran itu, maka kana muncul pertolongan lebih cepat. Sebaliknya, bila calon penolong menganggap kemampuan korban menanggung biaya tidak besar, maka akan menghambat muncul pertolongan sesegera mungkin. (Faturochman, 2009)

  • Norma
    Hampir disemua golongan masyarakat ada norma bahwa member pertolongan kepada orang yang membutuhkan adalah suatu keharusan. Gejala ini disebut norma tanggung jawab social (norm of social responsibility). Meskipun ada norma semacam itu, tidak bebrarti setiapa orang suka membantu orang lain. Dalam hal ini ada hal lain yang tidak bisa diabaikan yaitu norm of reciprocity (norma timbal balik). Norma yang terakhir ini mencakup juga harapan bahwa dengan memberi pertolongan sesuatu saat akan diberi pertolongan, terutama oleh orang yang pernah ditolongnya. (Faturochman, 2009)

Altruisme berasal dari kata “alter” yang artinya “orang lain”. Secara bahasa altruism adalah perbuatan yang berorientasi pada kebaikan orang lain. Menurut David O. Sears (1991), altruism adalah tindakan sukarela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan apapun kecuali mungkin perasaan melakukan kebaikan (Fuad, 2008). Dalam artikel berjudul Altruisme dan Filantropis (Borrong, 2006), altruism diartikan sebagai kewajiban yang ditujukan pada kebaikan orang lain. Suatu tindakan altruistic adalah tindakan kasih yang dalam bahasa Yunani disebut agape. Agape adalah tindakan mengasihi atau memperlakukan sesama dengan baik untuk tujuan kebaikan orang itu dan tanpa dirasuki oleh kepentingan orang yang mengasihi.

Menurut Glasman (2009) altruism adalah konsep perilaku menolong seseorang yang didasari oleh keuntungan atau manfaat yang akan diterima pada kemudian hari dan dibandingkan dengan pengorbanan yang ia lakukan saat ini untuk menolong orang tersebut. Manfaat yang didapat dari menolong orang lain harus lebih besar dibandingkan dengan pengorbanan yang dilakukan untuk menolong orang tersebut (Bambang, 2015).

Altruisme merupakan tindakan menolong orang lain secara sukarela tanpa mengharap balasan apapun demi mensejahterakan orang lain yang ditolongnya.

Aspek-aspek Altruisme


Menurut Einsbreg dan Mussen (dalam Dayakisni & Hudaniyah, 2003) hal-hal yang termasuk dalam aspek altruisme adalah sebagai berikut :

  1. Cooperative (kerja sama)
    Individu yang memiliki sifat altruis lebih senang melakukan pekerjaan secara bersama-sama, karena mereka berfikir dengan bekerja sama tersebut mereka dapat lebih bersolsialisasi dengan sesame manusia dan dapat mempercepat menyelesaikan pekerjaannya.

  2. Helping (menolong)
    Individu yang memiliki sifat altruis senang membantu orang lain dan memberikan sesuatu yang berguna ketika orang lain sedang membutuhkan pertolongan karena hal tersebut dapat menimbulkan perasaan positif dalam diri si penolong.

  3. Honesty (kejujuran)
    Individu yang memiliki sifat altruis memiliki suatu sikap yang lurus hati, tulus serta tidak curang karena mereka mengutamakan nilai kejujuran dalam dirinya.

  4. Gonerosity (kedermawanan)
    Individu yang memiliki sifat altruis memiliki sikap suka beramal dan murah hati terhadap orang lain.

Faktor-faktor Altruisme


Beberapa penelitian psikologi sosial melihat bahwa pemberian bantuan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut (Sarwono, 1999) :

  1. Kehadiran orang lain
    Menurut Sarwono (1999), faktor utama dan pertama yang berpengaruh pada perilaku menolong atau tidak menolong adalah orang lain yang kebetulan ada di tempat kejadian. Latane dan Darley (dalam Sears et.al., 1985) mengemukakan bahwa kehadiran penonton yang begitu banyak mungkin memungkinkan tidak adanya usaha untuk memberikan pertolongan. Semakin banyak oranglain, makin kecil kemungkinan orang untuk menolong.

    Analisis pengambilan keputusan tentang perilaku sosial memberikan beberapa penjelasan. Baumiter (dalam Sears et.al., 1985) adalah penyebaran tanggung jawab yang timbul karena kehadiran orang lain.bila hanya satu orang yang menyaksikan korban yang mengalami kesulitan maka orang itu mempunyai tanggung jawab penuh untuk memberikan reaksi tersebut dan akan menimbulkan rasa salah dan sesal bila tidak bertindak.

    Bila orang lain juga hadir, pertolongan juga bisa muncul dari beberapa orang. Kedua tentang efek penonton menyangkut ambiguitas dalam mengintepretasi situasi. Analisis pengambilan keputusan menyatakan bahwa kadang-kadang penolong tidak yakin apakah situasi tertentu dapat benar-benar merupakan situasi darurat. Perilaku penontonyang lain dapat mempengaruhi bagaimana reaksi seseorang.

  2. Kondisi lingkungan
    Keadaan fisik juga mempengaruhi orang untuk memberi bantuan. Sejumlah penelitian membuktikan pengaruh kondisi lingkungan seperti cuaca, ukuran kota, dan derajat kebisingan terhadap pemberian bantuan. Efek cuaca terhadap pemberian bantuan diteliti dalam dua penelitian lapangan yang dilakukan oleh Conmingham (dalam Sears et.al., 1985).

    Dalam penelitian pertama, para pejalan kaki dihampiri diluar rumah dan diminta untuk membantu peneliti dengan mengisi kuisioner. Orang lebih cenderung membantu bila hari cerah dan bila suhu udara relative menyenangkan relative hangat di musim dingin dan relative sejuk di musim panas. Dalam penelitian kedua yang mengamati bahwa para pelanggan memberi tip yang lebih banyak bila hari cukup cerah.

  3. Tekanan waktu
    Menyatakan bahwa orang kadang berada dalam keadaan tergesagesa untuk menolong. Orang yang sibuk cenderung untuk tidak menolong sedangkan orang yang santai lebih besar kemungkinannya untuk memberikan pertolongan pada yang memerlukannya. Bukti nyata efek ini berasal dari eksperimen yang dilakukan oleh Darley dan Botson (dalam Aears, et.al., 1985) dimana ditemukan 10 subyek yang diberikan tekanan waktu memberikan bantuan dan 63 subyek yang tidak diberikan tekanan waktu dapat memberikan pertolongan. Dari hasil tersebut peneliti menyatakan bahwa tekanan waktu menyebabkan seseorang dapat mengabaikan kebutuhan korban sehingga tindakan pertolongan tidak terjadi.

  4. Faktor kepribadian
    Tampaknya ciri kepribadian tertentu mendorong orang untuk memberikan pertolongan dalam beberapa jenis situasi yang lain. Satow (dalam Sears, et.al., 1985), mengamati bahwa orang yang mempunyai tingkat kebutuhan tinggi untuk diterima secara sosial lebih cenderung untuk menyumbangkan uang bagi kepentingan amal daripada orang yang mempunyai tingkat yang rendah untuk diterima secara sosia, tetapi hanya bila orang menyaksikannya. Orang yang mempunyai tingkat kebutuhan tinggi untuk diterima secara sosial, tetapi hanya bila orang menyaksikannya. Orang yang mempunyai tingkat kebutuhan tinggi untuk diterima secara sosial dimotivasi oleh keinginan untuk memperoleh pujian dari orang lain sehingga bertindak lebih prososial agar mereka lebih diperhatikan.

  5. Suasana hati
    Ada sejumlah bukti bahwa orang cenderung untuk memeberikan bantuan bila mereka ada dalam Susana yang baik hati. Suasana perasaan positif yang hangat meningkatkan kesediaan untuk membantu. Efek suasana hati tidak berlangsung lama hanya 20 menit, suasana hati yang positif bisa menurunkan kesediaan untuk menolong bila pemberian bantuan akan mengurangi suasana hati yang baik (Sears, et.al., 1985). Rupanya orang yang berada dalam suasana hati yang baik ingin mempertahankan perasaan mereka.

  6. Distress diri dan rasa empatik
    Distress diri (personal distress) adalah reaksi pribadi terhadap penderitaan orang lain, perasaan terkejut, takut, cemas, prihatin, tidak berdaya atau perasaan apapun yang dialami. Sebaliknya yang dimaksud rasa atau empatik (emphatic concern) adalah perasaan simpati dan perhatian terhadap orang lain, khususnya untuk berbagai pengalaman atau secara secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain. Perbedaan utamanya adalah bahwa penderitaan diri terfokus pada diri sendiri, sedangkan rasa empatik terfokus pada orang lain.

  7. Menolong orang yang disukai
    Rasa suka pada oramg lain dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti daya tarik fisik dan kesamaan. Penelitian tentang perilaku sosial menyimpulkan bahwa kerakteristik yang sama juga mempengaruhi pemberian bantuan. Menurut Feldman (1985), kesedian untuk membantu akan lebih besar terhadap orang yang berasal dari daerah yang sama daripada terhadap orang lain. Bar-Tal (dalam Sears et.al., 1985) mengemukakan bahwa perilaku membantu dipengaruhi oleh jenis hubungan antar orang lain, seperti terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Tidak peduli apakah karena merasa suka, kewajiban sosial, kepentingan diri, orang lebih suka menolong teman dekat daripada orang asing.

  8. Menolong orang yang pantas di tolong
    Apakah seseorang akan mendapatkan bantuan atau tidak sebagian bergantung pada manfaat kasus tersebut. Beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa faktor sebab akibat yang utama adalah pengendalian diri, individu lebih cenderung menolong bila individu yakin bahwa penyebab timbulnya masalah berada di luar kendali orang tersebut. Mungkin seseorang merasa simpati dan prihatin terhadap mereka yang mengalami penderitaan karena kesalahan mereka sendiri.