Apa Yang Dimaksud Dengan Kentang?

Tanaman kentang memiliki nama latin Solanum tuberosum Linn. Kentang merupakan salah satu umbi-umbian yang banyak digunakan sebagai sumber karbohidrat atau makanan pokok bagi masyarakat dunia setelah gandum, jagung dan beras. Menurut Samadi (1997). Tanaman kentang terbentuk dari batang atau struktur modifikasi batang, seperti stolon dan rimpang. Tanaman kentang dapat memunculkan tunas beserta akar, sehingga sering kali dapat dijadikan bahan perbanyakan vegetatif oleh para petani. Kentang juga termasuk dalam kategori tanaman sayuran semusim yang memiliki banyak varietas dan berumur pendek sebagai umbi-umbian, kentang cukup menonjol dalam kandungan zat gizinya. Perbandingan protein terhadap karbohidrat yang terdapat di dalam umbi kentang lebih tinggi dari pada biji serealia dan umbi lainnya. Kandungan asam amino umbi kentang juga seimbang sehingga sangat baik bagi kesehatan.

Menurut Burlingame et al., (2009). Selain sebagai sumber energi, kentang juga mengandung serat makanan (sampai 3,3%), asam askorbat (sampai 42 mg/100 g), kalium (sampai 693,8 mg/100 g), karotenoid total (sampai dengan 2700 mcg/100 g), dan fenol antioksidan seperti asam klorogenat (hingga 1570 mcg/100 g) dan polimer, dan anti-nutrisi seperti α-solanin (0,001- 47,2 mg/100 g), dan jumlah protein yang lebih rendah (0,85-4,2%), asam amino, mineral dan vitamin lain, dan komponen bioaktif. Komposisi kimia pada kentang tersebut dipengaruhi oleh varietas, tipe tanah, cara budidaya, cara pemanenan, tingkat kemasakan dan kondisi penyimpanan.

kentang
Gambar 1. Kentang

Sejarah Kentang

Menurut sejarahnya, kentang berasal dari lembah lembang dataran tinggi di Chili, Peru, dan Meksiko. Jenis tersebut diperkenalkan bangsa Spanyol dari Peru ke Eropa sejak tahun 1565. Semenjak itulah, kentang menyebar ke negara-negara lain termasuk Indonesia. (Central International Potato, 1984).

Di Indonesia, kentang pertama kali ditemukan pada tahun 1794 di daerah Cisarua, Cimahi (Bandung). Jenis kentang yang di tanam di Cisarua di duga berasal dari Amerika Serikat, yang dibawa oleh orang–orang Eropa. Varietas kentang yang pertama kali didatangkan ke Indonesia adalah Eigenhiemer. Pada tahun 1811 kentang sudah ditanam secara luas di berbagai daerah, terutama di pegunungan (dataran tinggi) Pacet, Lembang, Pengalengan (Jawa Barat), Wonosobo, Tawangmangu (Jawa Tengah), Batu, Tengger (Jawa Timur), Aceh, Tanah Karo, Padang, Bengkulu, Sumatera Selatan, Minahasa, Bali dan Flores (Rukmana, 1997).

Klasifikasi

Klasifikasi kentang menurut Rukmana, (1997) adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Subdiviso : Angiospermae

Clasis : Dycotiledone

Ordo : Solanes

Familia : Solanaceae

Genus : Solanum

Spesies : Solanum tuberosum Linn.

Morfologi

Kentang terdiri dari beberapa jenis dan beragam varietas. Jenis-jenis tersebut memiliki perbedaan bentuk, ukuran, warna kulit, daya simpan, komposisi kimia, sifat pengolahan dan umur panen. Berdasarkan warna kulit dan daging umbi, kentang terdiri dari tiga golongan yaitu kentang kuning, kentang putih, dan kentang merah. (Aini, 2012). Kentang yang paling banyak dijumpai adalah jenis warna kulit kuning dengan daging umbi berwarna kuning, kentang ini banyak dijadikan olahan makanan karena rasanya gurih dan tidak mengandung banyak air.
morfologi
Gambar 2. Morfologi Tanaman Kentang

Akar
Tanaman kentang memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut. Akar tunggang dapat menembus tanah sampai kedalaman 45 cm, sedangkan akar serabut umumnya tumbuh menyebar (menjalar) ke samping dan menembus tanah dangkal. Akar tanaman berwarna keputih–putihan dan halus berukuran sangat kecil. Di antara akar–akar tersebut ada yang akan berubah bentuk dan fungsinya menjadi umbi (stolon) yang selanjutnya akan menjadi umbi kentang. Akar tanaman berfungsi menyerap zat–zat yang diperlukan tanaman dan untuk memperkokoh berdirinya tanaman (Samadi, 1997). Tanaman kentang yang berasal dari umbi tidak memiliki akar utama, tetapi hanya memiliki akar serabut berukuran kecil dan berwarna putih yang panjangnya bisa mencapai 60 cm.

Batang
Batang tanaman berbentuk segi empat atau segi lima, tergantung pada varietasnya. Batang tanaman berbuku–buku, berongga, dan tidak berkayu, namun agak keras bila dipijat. Diameter batang kecil dengan tinggi dapat mencapai 50–120 cm, tumbuh menjalar. Warna batang hijau kemerah-merahan atau hijau keungu–unguan (Rukmana, 1997). Pada dasar batang utama akan tumbuh akar dan stolon. Stolon yang beruas akan membentuk umbi, tetapi ada pula yang tumbuh menjadi tanaman baru. Dengan demikian, stolon merupakan perpanjangan dari batang. Dengan kata lain umbi kentang merupakan batang yang membesar (Wattimena et al., 1992).

Daun
Daun merupakan organ tanaman kentang yang paling aktif dan terlihat. Daun tanaman berfungsi sebagai tempat proses asimilasi untuk pembentukan karbohidrat, lemak, protein dan vitamin yang digunakan untuk pertumbuhan vegetatif, respirasi dan persediaan tanaman. Fungsi terpenting daun adalah menyerap sinar matahari untuk proses fotosintesis. Daun tanaman kentang terletak berselang seling pada batang tanaman. Bentuk daun oval sampai oval agak bulat dengan ujung meruncing dan tulang - tulang daun menyirip. Jumlah helai daun umumnya ganjil, saling berhadapan dan diantara pasang daun terdapat pasangan daun kecil seperti telinga, yang disebut daun sela. Pada pangkal tangkai daun majemuk terdapat sepang daun kecil yang disebut daun penumpu (sripulae). Tangkai lembar daun (petiolus) sangat pendek dan seolah – olah duduk. Warna daun hijau muda sampai hijau gelap dan tertutup oleh bulu – bulu halus.

Bunga
Bunga kentang berkelamin dua (hermaphroditus) yang tersusun dalam rangkaian bunga atau karangan bunga yang tumbuh pada ujung batang dengan tiap karangan bunga memiliki 7–15 kuntum bunga. Warna 5bunga bervariasi : putih, merah, biru. Struktur bunga terdiri dari daun kelopak (calyx), daun mahkota (corolla), benang sari (stamen), yang masing–masing berjumlah 5 buah serta putih 1 buah. Bunga bersifat protogami, takni putik lebih cepat masak daripada tepung sari. Sistem penyerbukannya dapat menyerbuk sendiri ataupun silang (Rukmana, 1997).

Buah
Buah kentang dihasilkan dari proses penyerbukan bunga kentang. Setelah proses penyerbukan terjadi bakal buah akan membesar dan pada akhirnya berubah menjadi buah. Buah kentang berbentuk bulat dan berwarna hijau. Buah akan masak setelah berumur 6 sampai 8 minggu. Didalam buah ini terdapat biji kentang yang berukuran sangat kecil dan jumlahnya banyak (Haryono dan Kurniati, 2013). Warna buah kentang bervariasi mulai hijau tua sampai keunguan, berbentuk bulat, berdiameter kurang lebih 2,5 cm dan berongga dua. Buah mengandung sekitar 500 bakal biji, tetapi yang dapat berkembang menjadi biji hanya berkisar antara 10 – 300 biji. Biji kentang berwarna coklat muda (krem), berdiameter kurang lebih 0,5 milimeter dan mempunyai masa dormansi lebih kurang 6 bulan.

Umbi
Umbi terbentuk dari cabang samping diantara akar–akar. Proses pembentukan umbi ditandai dengan terhentinya pertumbuhan memanjang dari rhizome atau stolon yang diikuti pembesaran sehingga rhizome membengkak. Umbi berfungsi menyimpan bahan makanan seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air (Samadi, 1997). Umbi kentang memiliki morfologi bervariasi, dilihat dari bentuk warna kulit, warna daging, dan mata tunasnya. (Rukmana, 1997).

Varietas

Varietas kentang menurut Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) kentang terdiri dari 3 golongan yaitu golongan warna kulit kuning, warna kulit putih dan warna kulit merah, yang memiliki 27 Varietas, diantaranya :

  1. Kentang Varietas Atlantic Malang
  2. Kentang Varietas Merbabu 17
  3. Kentang Varietas Amudra
  4. Kentang Varietas Granola L.
  5. Kentang Varietas Tenggo
  6. Kentang Varietas Erika
  7. Kentang Varietas Repita
  8. Kentang Varietas Cipanas
  9. Kentang Varietas Cosima
  10. Kentang Varietas Ping 06
  11. Kentang Varietas Margahayu
  12. Kentang Varietas Kikondo
  13. Kentang Varietas GM 05
  14. Kentang Varietas GM 08
  15. Kentang Varietas Maglia
  16. Kentang Varietas Medians
  17. Kentang Varietas Olimpus Agrihorti)
  18. Kentang Varietas AR 08 Agrihorti
  19. Kentang Varietas AR 07 Agrihorti
  20. Kentang Varietas Vernei
  21. Kentang Varietas Kastanum
  22. Kentang Varietas Andina
  23. Kentang Varietas Amabile
  24. Kentang Varietas Dayang Sumbi Aghorti
  25. Kentang Varietas Sangkuriang Aghorti
  26. Kentang Varietas Papita Aghorti
  27. Kentang Varietas Spudy Aghorti

Salah satu varietas yang banyak ditanam para petani yaitu Granola L., luas areal tanam varietas kentang ini mencapai 80-90% dari total keseluruhan jenis kentang sayur yang dibudidayakan di Indonesia. Varietas Granola L., sendiri memiliki umur tanam 100-115 hari, dengan tinggi tanaman 65 cm. selain umur tanamannya yang tergolong pendek serta produktifitasnya yang tinggi, kentang varietas Granola L., juga tahan serangan penyakit PVA ( Potato Virus A) dan PVY (Potato Virus Y)

Syarat Tumbuh Tanaman Kentang

Tanaman kentang tergolong tanaman yang memiliki syarat tertentu untuk tumbuh secara optimal. Syarat-syarat seperti iklim daerah yang akan dijadikan tempat budidaya kentang, kondisi lahan, serta kesesuaian lahan dengan produktifitas tanaman kentang. Faktor lingkungan yang dijadikan syarat tumbuh tanaman kentang antara lain, iklim dan keadaan tanah, (Setiadi dan Nurulhuda. 1993.). Sedangkan menurut Rubatzky dan Yamaguchi (1995.) adalah kelengasan dan ketersediaan hara.

Iklim
Tanaman kentang merupakan salah satu tanaman pangan yang sering kita jumpai di daerah-daerah pegunungan karena mempunyai iklim yang rendah serta ketinggian yang cocok untuk pertumbuhannya secara optimal. (Setiadi dan Nurulhuda 1993:20-21) mengemukakan bahwa kentang dapat tumbuh subur di tempat-tempat yang cukup tinggi, seperti di daerah pegunungan dengan ketinggian sekitan 500-3.000 mdpl, tetapi tempat yang ideal berkisar antara 1.000-3.000 mdpl dengan suhu udara berkisar antara 15-18° C pada malam hari dan 24-30° C pada siang hari, serta curah hujan kira-kira 1.500 mm per tahun.

Keadaan tanah
Daerah pegunungan yang dijadikan lahan untuk budidaya tanaman kentang merupakan lahan yang cukup baik dalam perkembangannya karena tanah tersebut mengandung bahan organik dari material vulkanis gunung yang dapat membuat tanah tersebut subur. Menurut AAK (1992:146), tanaman kentang cocok dengan tanah yang subur, ringan dan dalam dengan drainase yang baik. Setiadi dan Nurulhuda (1993:21) memperkuat pendapat tersebut dengan menyatakan bahwa tanah yang paling baik untuk kentang adalah tanah yang gembur atau sedikit mengandung pasir agar mudah diresapi air dan mengandung humus yang tinggi.

Derajat keasaman tanah atau pH tanah juga memiliki pengaruh bagi pertumbuhan tanaman kentang. Setiadi dan Nurulhuda (1993:21) berpendapat bahwa derajat keasaman tanah (pH tanah) yang sesuai untuk kentang bervariasi tergantung dari varietas kentangnya. Namun, tanah dengan pH 5,5-6,5 (agak asam) lebih disukai karena dengan keasaman tanah kurang dari 5,4 membantu mengendalikan kudis kentang umum (Streptomyces scabies).

Kelengasan
Kondisi tanah lahan yang digunakan utnuk budidaya tanaman kentang juga harus diperhatikan kelengasannya. Hal ini dikarenakan kelengasan tanah yang tinggi dibutuhkan setelah inisiasi umbi dan selama pembesaran umbi (Rubatzky dan Yamaguchi, 1995).

Unsur Hara
Semakin baik kondisi lahan tempat budidaya tanaman kentang, maka semakin besar pula kandungan bahan organik dalam lahan tersebut. Sehingga, lahan yang digunakan untuk budidaya tanaman kentang tersebut menjadi lahan yang subur karena mengandung unsur hara yang tinggi. Pernyataan ini didukung oleh Rubatzky dan Yamaguchi (1995) yang mengatakan bahwa ketersediaan hara sangat penting untuk pertumbuhan awal tanaman dan kebutuhan pupuk tertinggi terjadi selama pembesaran umbi.

Teknik Budidaya Kentang

Pemilihan Lokasi dan Penentuan Waktu Tanam

Pemilihan lokasi adalah memilih lokasi tanam yang sesuai dengan persyaratan tumbuh kentang untuk mencegah kegagalan proses produksi dan dapat menghasilkan kentang sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan serta tidak merusak lingkungan. Tujuan dari pemilihan lokasi ini agar diperolah lahan yang dapat mendukung produktivitas tanaman kentang yang optimal, seperti tanah yang subur, ketersediaan sumber air yang cukup, bukan sumber penyakit tular tanah drainase baik dan tidak menyalahi kaidah konservasi tanah dan air.
Penentuan waktu tanam adalah menetapkan waktu tanam yang tepat untuk penanaman kentang, tujuannya agar diperoleh waktu tanam yang tepat sehingga pertumbuhan tanaman kentang optimal. Waktu tanam ditentukan berdasar perkiraan datangnya musim hujan atau tersedianya air irigasi serta berdasar pada kebutuhan. Selain memperhatikan ketersediaan air, juga diperhatikan ketersediaan benih dan saprodi lainnya. Dengan demikian waktu tanam yang tepat dapat berbeda menurut lokasi dan tipe lahan.

Penyiapan Lahan

a. Pembersihan Lahan
Sebelum ditanam, lahan harus dibersihkan dari segala sesuatu yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman agar diperolah lahan yang siap ditanami dan terbebas dari gangguan fi sik (batu-batuan, sampah, dll) maupun biologis (gulma atau sisa-sisa tanaman).
b. Pengolahan Tanah, Pembuatan Parit dan Garitan
Lahan untuk budidaya kentang yaitu memiliki tekstur tanah gembur dan dekat dengan sumber air. Pengolahan tanah, dengan cara membuat parit dan garitan dengan bentuk membujur (disesuaikan dengan denah/letak lahan) dan dengan arah datangnya sinar matahari. Prosedur kerja pengolahan tanah, pembuatan parit dan garitan adalah sebagai berikut:

  1. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara mencangkul atau membajak tanah sedalam 30 cm sampai gembur.

  2. Lahan dibiarkan selama 15 hari untuk memperbaiki keadaan tata udara dan aerasi tanah serta menghilangkan gas-gas beracun.

  3. Tanah dicangkul kembali sampai benar-benar gembur, kemudian diratakan.

  4. Membuat garitan dengan kedalaman ± 7-10 cm, dengan jarak antar garitan sekitar 70-80 cm.

  5. Bila lahan berupa lahan lereng, maka harus ada perlakuan lain, semisal dengan penanaman pohon penguat pematang.

Pembuatan parit dan garitan
Gambar 3. Pembuatan Parit dan Garitan

Lahan Persiapan Tanaman Kentang
Gambar 4. Lahan Persiapan Tanaman Kentang

c. Penentuan Jarak Tanam
Untuk menghasilkan umbi kentang yang baik jarak tanam untuk tanaman kentang adalah 30 cm x 70 cm dengan kedalaman tanam 10 – 15 cm. jarak tanam untuk kentang konsumen akan berbeda dengan jarak tanam untuk kentang bibit (umbi kecil). Hasil penelitian Karjadi (1990), khusus varietas Granola L. kerapatan yang digunakan antara 80 cm x 30 cm sampai dengan 80 cm x 40 cm.
Penetapan Jarak Tanam
Gambar 5. Penetapan Jarak Tanam

Penyiapan Benih

Sebelum ditanam, benih yang akan digunakan harus dipilih terlebih dahulu. Dalam pemilihan benih kentang ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yaitu:

a. Varietas benar, artinya varietas tidak tercampur atau sesuai dengan sertifikat yang dikeluarkan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Pertanian (BPSB).

b. Kualitas benih sehat, tidak cacat atau ada kerusakan mekanis, terserang hama atau penyakit.

c. Ukuran benih sesuai untuk benih, tidak terlalu besar atau terlalu kecil.

d. Benih sudah pecah dormansi atau sudah bertunas dan keadaan tunas baik.

Varietas-kentang-Granula-dan-Atlantik-Unsurtani
Gambar 6. Varietas Unggul Kentang Jenis Granola (kiri) dan Atlantik (kanan)

Penanaman dan Pemupukan Dasar

Penanaman kentang dapat dilakukan dengan sistem baris ganda (Double row) yang ditanam pada bedengan atau baris tunggal (Single row). Sistem tanam tanaman kentang dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu monokultur dan tumpangsari.
sistem tanam
Gambar 7. Sistem Tanam Kentang Baris Tunggal (kiri) dan Sistem Baris Ganda (kanan)

Pemupukan dasar harus mengacu pada 4T, yaitu tepat dosis, tepat cara, tepat waktu dan tepat jenis. Sedangkan untuk penggunaan pupuk organik, harus berupa pupuk yang sudah matang dan terdekomposisi dengan baik. Peletakkan benih pun harus tidak bersinggungan secara langsung dengan pupuk, terutama pupuk anorganik, karena dapat mengakibatkan pembusukan.
Adapun prosedur kerja penanaman dan pemupukan dasar adalah sebagai berikut:

  1. Pupuk organik ditempatkan diantara benih yang telah diletakkan di dalam garitan.
  2. Pupuk kimia diletakkan di atas pupuk organik.
  3. Benih diletakkan diantara pupuk dengan posisi tunas menghadap ke atas dan tidak boleh menyentuh pupuk secara langsung (benih sebar sebanyak 1.200-1.500 kg/ha).
  4. Selanjutnya benih dan pupuk ditimbun (disaeur) dengan tanah sehingga membentuk guludan dengan tinggi ± 10 cm dari permukaan tanah.
    pemupukan dasar
    Gambar 8. Pemupukan Dasar

Pengairan (Pada Musim Kemarau)

Pengairan penting pada awal pertumbuhan agar pertumbuhan vegetatif maksimum. Air irigasi diberikan pada lahan pertanaman apabila pertanaman dilakukan pada musim kemarau. Pada prinsipnya air irigasi diberikan hanya untuk menjaga kelembaban tanah, terutama dalam proses penyerapan unsur hara. Penyaluran air dapat menggunakan pompa air dan dialirkan dengan menggunakan selang ke areal pertanaman (sistem leb/geledeg) atau menggunakan sprinkle.
pengairan sprinkle
Gambar 9. Pengairan dengan Sistem Sprinkle

Pemasangan Ajir/Turus (bila diperlukan)

Tujuan penggunaan ajir/turus ini adalah agar pertanaman mendapat sinar matahari yang optimal dan tidak rubuh. Pembuatan ajir/turus bisa dibuat dari bambu yang dibelah dengan ukuran panjang 70 – 80 cm dengan lebar 2-3 cm. Pemasangan ajir/ turus dilakukan dengan cara ditancapkan berjarak ± 5 cm dari tanaman kemudian antara ajir/turus dengan tanaman diikat menggunakan tali plastik. Ajir/turus yang dipasang tidak boleh melukai dan mengganggu pertumbuhan umbi.
pemasangan ajir
Gambar 11. Pemasangan Ajir/Turus pada setiap Tanaman

Pemupukan Susulan dan Pembubunan

Pemupukan susulan adalah memberikan pupuk sebagai nutrisi tambahan sesuai kondisi pertumbuhan tanaman dengan tujuan menambah kebutuhan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman kentang. Sedangkan pembumbunan adalah meninggikan guludan di lokasi pertanaman dengan tujuan supaya perakaran dan umbi kentang dapat tumbuh secara optimal.
Pembumbunan dilakukan untuk menjaga agar umbi tetap tertutup tanah sehingga ruang pertumbuhan dan perkembangan umbi tidak terbatas. Standar pemupukan susulan harus mengacu pada 5T, yaitu tepat jenis, tepat cara, tepat waktu, tepat dosis dan tepat sasaran, serta sesuai kebutuhan unsur hara tanaman.
pemupukan susulan dan pembububan 2
Gambar 12. Pemupukan Susulan dan Pembubunan

Penyiangan dan Sanitasi

Penyiangan dan sanitasi adalah melakukan pemeliharaan terhadap tanaman kentang dan membersihkan guludan dari gulma, tanaman pengganggu, dan tanaman yang sakit. Tujuan dari penyiangan dan sanitasi ini adalah untuk menjaga kebersihan kebun dan kesehatan tanaman.
Penyiangan dilakukan dengan membersihkan areal pertanaman dari gulma, tanaman pengganggu lainnya dan tanaman yang sakit, penyiangan dapat dilakukan pada saat tanaman berumur 20 – 30 HST. Gulma dan tanaman pengganggu hasil penyiangan dapat dibenamkan diantara guludan. Sedangkan untuk sisa tanaman yang sakit harus segera dimusnahkan dengan cara dibakar atau dibenamkan pada tempat terpisah.
Penyiangan
Gambar 13. Penyiangan terhadap tanaman kentang dari Gulma

Penentuan Waktu Panen

Untuk memperoleh hasil kentang yang sesuai dengan kriteria dan kualitas yang diminta pasar, serta memperoleh produktivitas yang optimal dengan menentukan waktu panen yang tepat. Adapun standar penentuan waktu panen dan penanganan panen adalah sebagai berikut:

  1. Secara visual waktu panen (untuk tujuan konsumsi) dapat dilihat dari perkembangan fisik tanaman kentang, yaitu dari daun dan batang yang berubah dari warna hijau segar menjadi kekuningan dan mengering lebih dari 75 %. Bila tanda-tanda visual tersebut sudah tampak, daun kemudian dipangkas dan dibiarkan minimal tujuh hari, lalu gali dengan hati-hati agar kulit umbi kentang tidak mudah lecet (terkelupas).
  2. Secara perhitungan umur tanaman (untuk tujuan konsumsi), penentuan umur panen tergantung varietas/kultivar (100 - 110 hari), cuaca/musim, dan pemeliharaan tanaman. Panen dilakukan pada saat cuaca cerah dan tidak saat hujan atau menjelang hujan.
  3. Cara panen dilakukan dengan menggali umbi kentang secara hati-hati dengan cara manual menggunakan cangkul atau alat sejenisnya.
  4. Panen sebaiknya dilakukan pada petak umur tanaman yang sama secara serentak.
    siap panen
    Gambar 14. Tanaman kentang siap panen

Panen

Waktu memanen sangat dianjurkan dilakukan pada waktu sore/pagi hari dan dilakukan pada saat cuaca sedang cerah. Adapun prosedur pelaksanaan panen pada tanaman kentang adalah sebagai berikut:

  1. Sebelum panen dilakukan, sangat dianjurkan untuk melakukan pemangkasan tanaman kentang yang berada diatas permukaan tanah, bila diperlukan dapat menggunakan herbisida dengan dosis setengah dari dosis anjuran.
  2. Pembongkaran guludan dilakukan dengan cara mencangkul tanah disekitar umbi dengan hati-hati, lalu mengangkatnya sehingga umbi keluar dari dalam tanah dan diletakkan di permukaan tanah agar terjemur matahari.
    panen kentang
    Gambar 15. Panen Kentang

Pasca Panen

Kentang setelah dipanen masih melakukan aktivitas metabolisme, sehingga apabila tidak ditangani dengan segera akan mengalami kerusakan fisik dan kimiawi. Perubahan yang terjadi setelah panen dan pasca panen tersebut tidak dapat dihentikan, namun prosesnya dapat diperlambat sampai batas tertentu. Untuk itu penanganan pasca panen kentang di tingkat petani perlu diperbaiki dan disempurnakan agar kentang yang dihasilkan dalam kondisi baik dan sesuai/tepat untuk konsumsi segar atau bahan baku pengolahan. Ada pun tahap pasca panen tersebut adalah sebagai berikut:
a. Tahap Pembersihan
Umbi kentang dibersihkan dari segala kotoran yang menempel pada umbi seperti tanah, sisa tanaman atau akar tanaman yang dipangkas, kemudian dicuci dengan air bersih. Cara mencucinya dapat dilakukan dengan cara memasukan umbi kedalam bak air atau dilakukan pencucian dalam air yang mengalir.
b. Tahap Sortasi dan Grading
Tahap sortasi dan grading merupakan proses pemilihan dan pemisahan umbi untuk memperoleh umbi yang seragam dalam ukuran dan kualitasnya. Caranya, dengan memilih umbi yang sudah dibersihkan itu antara umbi yang baik dan umbi yang kurang baik berdasarkan: (1) Ada tidaknya cacat pada umbi, (2) Normal tidaknya bentuk dan ukuran umbi, dan (3) Ada tidaknya serangan hama atau penyakit pada umbi. Umbi yang sudah dipilih itu dipilah-pilah lagi berdasarkan kualitas dan ukuran sebagai berikut :

Ukuran Berat per umbi (gram)
SS <10
S 10-31
M 31-60
L 61-120
XL >120

c. Tahap Penyimpanan
Dalam Tahap Penyimpanan, setelah umbi kentang dimasukan kedalam tempat berupa kotak kayu/krat/keranjang/warng, kemudian wadah itu dimasukkan ke dalam ruang penyimpanan yang disusun secara rapi. Jika wadah berisi kentang itu disimpan digudang atau ruangan, pastikan ruang penyimpanan mempunyai ventilasi udara yang cukup supaya sirkulasi udara lancar dan kelembabannya sekitar 65-85% serta dalam keadaan bersih.

d. Tahap Pengemasan
Tahap pengemasan bertujuan untuk melindungi hasil terhadap kerusakan, mengurangi kehilangan air, dan mempermudah pengangkutan dan perhitungan. Umbi yang sudah dipilih sesuai kualitasnya dikemas dalam wadah tertentu seperti karung, jarring plastik/waring. Tempat berisi kentang itu ujungnya ditutup rapat-rapat dijahit dengan jarum karung atau tali plastik.
pengemasan
Gambar 16. Tahap Penyimpanan dan Pengemasan.

Referensi

AAK. 1992. Petuntuk Praktis Bertanam Sayuran. Kanisius. Yogyakarta.

Agnestika. I. K. Teknik Budidaya Tanaman Kentang (Kajian Pengembangan Tanaman Kentang) . Terdapat Di Http://Blog.Ub.Ac.Id/Agnestikaintan/Files/2012/06/Intan.Pdf Di akses Pada 11 Desember 2020

Aini, K.H., 2012. Produksi tepung kentang . Skripsi. Jakarta. Universitas Pendidikan Indonesia.

Anonym. 2013. Umbi Kentang (Solanum Tuberosum L.) Klon 395195.7 Dan Cip 394613.32 Yang Ditanam Di Dataran Medium Mempunyai Harapan Untuk Keripik . Terdapat Di Http://Hortikultura.Litbang.Pertanian.Go.Id/Iptek/7_Umbi%20kentang_Ali%20asgar.Pdf Diakses Pada 12 Desember 2020

Armini, A.N. M., Wattimena dan L.W. Gunawan, 1992. Perbanyakan Tanaman Bioteknologi Tanaman Laboratorium Kultur Jaringan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor.

Burlingame, B, Mouile, B, Charrondiere, R. 2009. Nutriens: Bioactive Non-nutrients and Anti-nutrients in potatoes. E- Jurnal Food Composittion and Analysis. vol. 22. No. 6.

Central International Potato. 1984. Potatoes for the Developing World . Lima, Peru.

Diwa. A. T., Dianawati. M., Sinaga. A.2015. Petunjuk Teknis Budidaya Kentang . Terdapat Di Http://Repository.Pertanian.Go.Id/Bitstream/Handle/123456789/6496/Juknis_Bdy_Kentang.Pdf?Sequence=1&Isallowed=Y. Di Akses Pada 11 Desember 2020

Handayani. T., Basunanda. P2., Murti. Rh., Sofiari, E., 2013. Perubahan Morfologi Dan Toleransi Tanaman Kentang Terhadap Suhu Tinggi (Morphological Changes And Tolerance Of Potato Plants To Heat Stress) . J. Hort. 23(4):318-328

Haryono, B dan Kurniati. 2013. Seri Tanaman Bahan Baku Industri Kentang . PT Tris Adisakti. Jakarta.

Humas Balitsa, 2019. Varietas Kentang . http://balitsa.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/varietas/kentang di akses pada Desember 11, 2020.

Karjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar . Gramedia: Jakarta.

Muchjidin Rahmat, dkk. 2006. Prosedur Operasional Standar Budidaya Kentang Varietas Granola (Solanum tuberosum L.). Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Jakarta. Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Direktorat JendralHoltikultura, Kementrian Pertanian Republik Indonesia.

Mustofa. 2019. Penentuan Sifat Fisik Kentang (Solanum Tuberosum L.): Sphericity, Luas Permukaan Volume Dan Densitas. Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo (Jtpg) Vol 4 No 2.

Putro. A. T. S. M., 2010. Budidaya Tanaman Kentang (Solanum Tuberosum. L) Di Luar Musim Tanam . Diploma. Surakarta (ID). Universitas Sebelas Maret Surakarta

Rukmana, R. 1997. Kentang: Budidaya dan Pasca Panen . Kanisius. Yogyakarta.

Rutbaztky, Vincent E dan Mas Yamaguchi. 1995. Sayuran Dunia 1: Prinsip, Produksi dan Gizi Edisi Kedua . Penerbit ITB. Bandung.

Samadi, B. 1997. Usahatani Kentang. Kanisius. Yogyakarta.

Setiadi dan Surya Fitri Nurulhuda. 1993. Kentang: Varietas dan Pembudidayaan . Penebar Swadaya: Jakarta.

Sinurat. P. 2018. Identifikasi Karakter Morfologis Tanaman Kentang (Solanum Tuberosum L.) Di Kabupaten Simalungun Dan Kabupaten Karo . Skripsi. Sumatera Utara (ID). Universitas Sumatera Utara.

2 Likes