Apa yang dimaksud dengan Kenakalan Remaja?

Kenakalan remaja

Kenakalan remaja (juvenile delinquency) adalah perilaku ilegal oleh seseorang yang berusia di bawah 18 tahun. Beberapa perilaku ini tidak akan ilegal jika orang tersebut berusia di atas 18 tahun, seperti mengonsumsi minuman beralkohol dan tidak bersekolah, dan beberapa akan ilegal bagi siapa pun tanpa memandang usia, seperti pembunuhan , pemerkosaan, dan pembakaran.

Sumber : David Matsumoto, The Cambridge Dictionary of Psychology

1 Like

Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku negatif atau kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal (Kartono, 2003).

Semua tindakan perusakan yang tertuju ke luar tubuh atau ke dalam tubuh remaja dapat digolongkan sebagai kenakalan remaja (Gunarsa, 2004). Kenakalan remaja merujuk pada tindakan pelanggaran suatu hukum atau peraturan oleh seorang remaja. Pelanggaran hukum atau peraturan bisa termasuk pelanggaran berat seperti membunuh atau pelanggaran seperti membolos, menyontek.

Pembatasan mengenai apa yang termasuk sebagai kenakalan remaja dapat dilihat dari tindakan yang diambilnya, tindakan yang tidak dapat diterima oleh lingkungan sosial, tindakan pelanggaran ringan/ status offenses dan tindakan pelanggaran berat/ index offenses (Santrock, 2003).

Mussen dkk (1994), mendefinisikan bahwa kenakalan remaja sebagai perilaku yang melanggar hukum atau kejahatan yang pada umumnya dilakukan oleh anak remaja yang berusia 16-18 tahun, jika perbuatan ini dilakukan oleh orang dewasa maka akan mendapat sangsi hukum.

Hurlock (1973) juga menyatakan kenakalan remaja adalah tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh remaja, dimana tindakan tersebut dapat membuat seseorang individu yang melakukannya masuk penjara.

Kenakalan remaja merupakan tingkah laku yang yang melampaui batas toleransi orang lain atau lingkungan sekitar serta suatu tindakan yang dapat melanggar norma-norma dan hukum. Secara sosial kenakalan remaja ini dapat disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial sehingga remaja ini dapat mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang.

Sumiati (2009), mendefinisikan kenakalan remaja adalah,

Suatu perilaku yang dilakukan oleh remaja dengan mengabaikan nilai-nilai sosial yang berlaku di dalam masyarakat.

Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma dan hukum yang dilakukan oleh remaja. Perilaku ini dapat merugikan dirinya sendiri dan orang-orang sekitarnya.

Gunarsa (2004), mendefinisikan kenakalan remaja itu terjadi pada remaja yang mempunyai konsep diri lebih negatif dibandingkan dengan remaja yang tidak bermasalah. Remaja yang dibesarkan dalam keluarga kurang harmonis dan memiliki kecenderungan yang lebih besar menjadi remaja yang nakal dibandingkan remaja yang dibesarkan dalam keluarga harmonis dan memiliki konsep diri yang positif.

Berdasarkan beberapa pendapat dari para tokoh diatas, jadi yang dimaksud dengan kenakalan remaja adalah kecenderungan remaja untuk melakukan tindakan yang melanggar aturan yang dapat mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.

Delinquency (kenakalan remaja) biasa disebut dengan istilah juvenile berasal dari bahasa latin juvenilis , yang artinya anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja, sedangkan delinquency berasal dari bahasa latin “delinquere” yang berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, nakal, anti sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat rebut, pengacau peneror, durjana dan lain sebagainya.

Istilah kenakalan remaja menurut Santrock mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yag tidak dapat diterma secara sosial (missal bersikap berlebihan disekolah) sampai pelanggaran status (seperti melarikan diri) hingga pelanggaran kriminal (misalnya pencurian).

Menurut Simanjuntak. Suatu perbuatan disebut delinquency apabila perbuatan-perbatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada di dalam masyarakat dimana ia hidup, atau suatu perbuatan yang anti sosial.

Dari berbagai pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kenakalan siswa adalah tindak perbuatan yang dilakukan siswa dan perbuatan itu bersifat melawan hukum, anti sosial, anti susila dan melanggar norma agama.

Delinquency cenderung lebih banyak dilakukan oleh anak-anak, remaja dan adelesens ketimbag dlakukan oleh orang-orang dengan kedewasaan muda ( young adulthood ). Remaja dan adolesens delinquency ini mempunyai moralitas sendiri, dan biasanya tidak mengindahkan norma-norma moral yang berlaku di tengah mayarakat.

Disamping itu, semua fase transisi, juga frasi tansisi anak-anak menuju kedewasaan, selalu membanggkitkan protes adolesens, walaupun banyak terdapat kesejahteraan, kemakmuran penghasilan yang tinggi dan kesempatan kerja di masyarakat. Semangat protes memberontak inilah yang ikut memainkan peranan penting dalam membentuk pola tingkah laku delinquency .

Dari berbagai pengertian diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa Perilaku delinquency adalah perilaku negatif yang dilakukan oleh remaja berkaitan dengan norma-norma yang ada di dalam lingkungannya, atau suatu perbuatan yang anti sosial bertujuan untuk merusak norma-norma yang ada dengan cara negatif.

Jenis dan Aspek-aspek Delinquency (Kenakalan Remaja)

Seperti yang dikutip Sarwono. Jensen membagi perilaku dellinquency menjadi empat jenis:

  1. Perilaku delinquency yang menimbulkan korban fisik pada orang lain seperti perkelahian, pemerkosaan, penganiayaan dan lain-lain.

  2. Perilaku delinquency yang menimbulkan korban materi bagi orang lain seperti mencuri, mencopet, melakukan pengrusakan barang milik orang lain dan lain-lain).

  3. Perilaku delinquency yang melanggar status (seperti membolos, melawan orang tua, lari dari rumah dan lain-lain).

  4. Perilaku delinquency yang tidak menimbulkan kerugian pada pihak lain dan hanya merugikan diri sendiri (seperti penyalahgunaan obat, pelacuran, hubungan seksual sebelum nikah dan lain-lain).

Az-Zuhaili membagi wujud penyimpangan remaja menjadi enam bagian, yaitu sebagai berikut:

  1. Penyimpangan moral
    Penyimpangan moral terjadi disebabkan oleh seseorang yang meninggalkan perilaku baik dan mulia, lalu menggantinya dengan perbuatan yang buruk, seperti bersikap tidak mau tahu dengan lingkungan sekitarnya, cepat terbawa arus, tidak menjaga kehormatan diri, mengajak perempuan tanpa mahram jalan-jalan, mengikuti gaya dan model barat, tawuran, dan nongkrong di pinggir-pinggir jalan.

  2. Penyimpangan berfikir
    Penyimpangan ini dapat timbul disebabkan oleh adanya kekosongan pikiran, kekeringan rohani, dan kedangkalan keyakinan. Orang yang menyimpang dalam berpikir akan senantiasa manut terhadap serangan pemikiran yag dilakukan pihak asing. Dia juga fanatik buta terhadap suku, bangsa, kelompok, profesi, dan kasta. Dan, dia selalu terbuai dengan kekhayalan dan hal-hal yang bersifat khurafat .

  3. Penyimpangan agama
    Penyimpangan ini terlihat dari sikap ekstrim seseorang dalam memahami ajaran agama, sehingga ia fanatik terhadap madzhab atau kelompoknya, memilih untuk tidak bertuhan (ateis), skeptis terhadap keyakinannya sendiri dan agama yang dianutnya, memperjualbelikan ajaran agama, dan arogan terhadap prinsip- prinsip yang dipegang atau ajaran-ajaran tokoh masyarakatnya.

  4. Penyimpangan sosial dan hukum
    Penyimpangan dalam bidang sosial dan pelanggaran terhadap peraturan dapat dilihat dari sikap yang selalu melakukan kekerasan, seperti megancam, merampas, membunuh, membajak, atau kecanduan minuman keras, mengkonsumsi narkoba, dan penyimpangan seksual.

  5. Penyimpangan mental
    Dalam masalah ini dapat dilihat dari sikap yang selalu merasa tersisih, kehilangan kepercayaan diri, memiliki kepribadian ganda, kehilangan harapan masa depan, merasa selalu sial dan cepat berputus asa, gelisah, bimbang dan sering bingung, melakukan hal-hal yang sia-sia dan tak ada manfaatnya, mengisolasi diri dari kehidupan masyarakat, melibatkan diri dalam hura-hura musik, selalu bertindak ikut-ikutan tanpa ada alasannya, hanya melihat orang dari penampilan luar saja, atau suka meniru orang lain.

  6. Penyimpangan ekonomi
    Dapat berbentuk sikap congkak dan gengsi dengan kekayaan yang dimiliki, boros, berfoya-foya, bermegah-megahan, glamor dalam pakaian, busana, perhiasaan, membuang-buang waktu, bersikap materialistis, dan suka menghambur-hamburkan harta.

Menurut (Sumiati, 2009) menyatakan kenalakan remaja sebagai suatu tingkah laku remaja yang mengabaikan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Kenakalan remaja yaitu meliputi semua tingkah laku yang menyimpang dari norma dan hukum, serta perilaku ini dapat menimbulkan kerugian pada diri sendiri dan orang lain.

Kenakalan remaja yaitu gejala dari sakit psikologis ( patologis ) yang disebabkan oleh lingkungan sosial yang bentuknya adalah pengabaian sosial terhadap remaja-remaja ini, akibatnya remaja itu melakukan perilaku yang menyimpang di luar norma dan agama (Kartono, 2001).

Karakteristik Kenakalan Remaja

Menurut (Conger dalam Monks, 1989) mengemukakan bahwa terdapat ciri remaja yang nakal mempunyai ciri sifat mendendam, memberontak, gampang curiga, impulsif, juga memperlihatkan kontrol diri yang rendah dan dalam hal ini meningkatkan perkembangan konsep diri remaja yang negatif.

Sedangkan (Kartono, 2002) menyatakan bahwa remaja yang nakal mempunyai ciri umum yang dapat menjadi pembeda antara remaja yang nakal dan remaja yang tidak nakal. Pembeda tersebut sebagai berikut :

  1. Dalam Struktur Intelektual
    Fungsi pola pikir atau kognitif pada remaja yang pada umumnya akan mendapatkan nilai yang lebih tinggi disbanding dengan remaja yang nakal. Dalam sisi tugas dan prestasi sangat terlihat beda satu sama lain.

  2. Dalam Segi Fisik Dan Psikis
    Remaja yang nakal biasanya memiliki “debil secara moral” dan memiliki ciri umum yang berbeda secara fisik dari sejak lahir bila dibandingkan dengan remaja pada umumnya. Ciri khas tubuh dari remaja yang nakal terlihat lebih kekar, besar, berotot, kuat dan sikapnya yang lebih agresif.

  3. Dalam Karakteristik Individual
    Remaja yang nakal memiliki sifat pribadi yang berciri khas khusus yang tergolong menyimpang seperti terlalu berorientasi terhadap masa sekarang, bersuka ria dan merasa cukup terhadap hari ini tanpa memikirkan dan memedulikan masa depan, emosional yang terganggu, kurangnya sosialisasi dengan masyarakat sekitar, sehingga tidak dapat mengenali norma-norma yang ada, kurang dan tidak adanya rasa tanggung jawab secara sosial, impulsive dan suka terhadap tantangan serta bahaya, dan yang terakhir kurangnya kemampuan untuk disiplin diri dan kontrol diri.

Bentuk-Bentuk Kenakalan Remaja**

Jensen berpendapat (dalam Sarlito, 1991) kenakalan remaja terbagi empat bentuk, yaitu diantaranya :

  1. Kenakalan remaja yang dapat mengakibatkan korban secara fisik pada orang lain contoh seperti tawuran, penganiayaan, pengambilan nyawa seseorang, pencabulan dan pemerkosaan.

  2. Kenakalan yang dapat mengakibatkan korban secara materi finansial contohnya seperti pencopetan, pencurian, pemalakan, dan pemerasan.

  3. Kenakalan bentuk sosial yang mengakibatkan kerugian atau korban di pihak orang lain, contohnya seperti menyalahgunakan zat adiktif, berhubungan seks pranikah, dan pelacuran.

  4. Kenakalan yang tidak mau mengakui status contohya seperti tidak mengakui status orang tua dengan cara pergi dari rumah atau tidak menerima nasehat dari orang tua, dan remaja yang membolos sekolah karena tidak ingin mengakui sebagai pelajar.

Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja

Faktor yang dapat mempengaruhi kenakalan remaja meliputi seluruh faktor yang juga mempengaruhi perkembangan remaja itu sendiri, terutama dai segi lingkungan sekitarnya, (Daradjat, 1978) membedakan sebagai berikut :

Faktor Positif

  1. Pengakuan norma agama dan sosial pada kebanyakan remaja, adanya usaha-usaha menguatan norma yang ada, dan susunan aturan masyarakat yang masih bisa mengkontrol.

  2. Pengusahaan dalam penegakan keberhargaan norma agama dan norma sosial.

  3. Daya juang yang tinggi terhadap pengaruh negatif yang berkembang di masyarakat.

  4. Ikatan sosial yang berada dalam lingkungan mempunyai kemampuan pengawasan dalam perilaku anggota masyarakat terhadap terjadinya pelanggaran.

Faktor Negatif

  1. Faktor Sosial Politis, yaitu suatu kondisi sosial politis yang kurang baik untuk remaja seperti kemungkinan adanya turunnya mental lewat film dan penerbitan usaha politis.

  2. Faktor Sosial Psikologis, yaitu kurangnya nilai-nilai moral yang menjadi pegangan bagi remaja itu sendiri.

  3. Faktor Sosial Ekonomi, yaitu tingkat kemewahan yang berlebihan, dapat disebut dengan kesejahteraan ekonomi yang tidak merata. Seperti kurangnya fasilitas pendidikan, lapangan kerja yang tidak mencukupi, kesadaran pihak ekonomi tinggi yang kurang tentang membantu kaum ekonomi rendah, dan kesehatan yang kurang.

  4. Faktor Sosial Budaya, yaitu semakin banyak tempat hiburan yang mencontoh seperti film yang kurang menitikberatkan pada pendidikan, dan kurangnya kesiapan masyarakat dan generasi muda yang menerima budaya asing.

  5. Faktor Kependudukan, yaitu tingginya tingkat penduduk sekarang dan semakin banyaknya penduduk yang urbanisasi.

  6. Faktor Moderenisasi, yaitu ketidaksiapan remaja yang menerima pengaruh moderenisasi mengakibatkan goncangan masa depan, gonvangan budaya, yang remaja itu sendiri langsung meniru tanpa ada proses selektif terlebih dahulu.

Gunarsa (2009) berpendapat kenakalan remaja merujuk pada tindakan pelanggaran suatu hukum atau peraturan oleh seorang remaja. Pelanggaran hukum bisa termasuk membunuh dan pelanggaran ringan yaitu mencontek dan membolos. Batas kenakalan remaja dapat dilihat dari tindakan yang tidak dapat diterima oleh lingkungan sosial.

Sarwono (2011) mendefinisikan salah satu bentuk penyimpangan sebagai kenakalan remaja. Kenakalan remaja ini merupakan tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya tidak sempat diketahui oleh petugas hukum maka dirinya dapat dikenai hukuman. Perilaku menyimpang remaja merupakan tingkah laku yang menyimpang dari norma agama, etika, peraturan sekolah dan keluarga, namun jika penyimpangan tersebut terjadi terhadap norma-norma hukum pidana maka dapat disebut tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja.

Menurut Warsito (1991) kenakalan remaja merupakan suatu pelanggaran batas-batas konsep nilai dan norma-norma kewajaran yang berlaku dalam masyarakat, yang berarti dapat menyimpang, bertentangan, bahkan merusak norma-norma. Sedangkan menurut Willis (2012) kenakalan remaja ialah tindak perbuatan sebagian para remaja yang bertentangan dengan hukum, agama, dan norma-norma masyarakat, sehingga akibatnya dapat merugikan orang lain, mengganggu ketentraman umum dan juga merusak dirinya sendiri.

Menurut Musbikin (2012) menjelaskan bahwa: “Kenakalan remaja yang dilakukan oleh anak remaja pada umumnya merupakan produk dari keluarga dan lingkungan terdekatnya yaitu masyarakat ditambah lagi dengan keinginan yang mengarah pada sifat negatif dan melawan arus yang tidak terkendali”.

Aspek-Aspek Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja merupakan perilaku yang menyimpang dari kebiasaan atau melanggar hukum. Sarwono (2011), membagi kenakalan remaja menjadi empat aspek, yaitu :

  1. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, seperti perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan dan lain-lain.

  2. Kenakalan yang menimbulkan korban materi, seperti perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan dan lain-lain.

  3. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain, seperti pelacuran, penyalahgunaan obat.

  4. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara pergi dari rumah atau membantah perintah mereka dan sebagainya.

Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock (2005) bahwa kenakalan yang dilakukan remaja terbagi dalam empat aspek, yaitu:

  1. Perilaku yang menyakiti diri sendiri dan orang lain.

  2. Perilaku yang membahayakan hak milik orang lain, seperti merampas, mencuri, dan mencopet.

  3. Perilaku yang tidak terkendali, yaitu perilaku yang tidak mematuhi orangtua dan guru seperti membolos, mengendarai kendaran dengan tanpa surat izin, dan kabur dari rumah.

  4. Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, seperti mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, memperkosa dan menggunakan senjata tajam.