Apa yang dimaksud dengan Kemalasan Sosial atau Social loafing dalam ilmu sosial?

Social loafing adalah istilah yang dibentuk oleh Latane, Williams, dan. Harkins (1979) untuk mendefinisikan penurunan usaha seseorang yang disebabkan oleh kehadiran orang lain.

Apa yang dimaksud dengan Kemalasan Sosial atau Social loafing dalam ilmu sosial?

Kemalasan Sosial atau Social loafing adalah kecenderungan individu untuk mengurangi motivasi dan usahanya saat bekerja dalam kelompok atau secara kolektif dibandingkan saat bekerja sendiri. Mereka menurunkan usaha mereka karena yakin tugas tersebut juga dikerjakan oleh orang lain. (Williams, Karau, & Bourgeois dalam Hogg & Vaughan, 2011).

Alnuaimi, Robert, & Maruping (2009) mengidentifikasi social loafing sebagai masalah yang disebabkan oleh kurangnya kontrol dan kordinasi dalam sebuah kelompok.

Menurut penelitian Ying, Li, Jiang, Peng, dan Lin (2014), social loafing merupakan kebiasaan seseorang berperilaku untuk melakukan loafing yang rentan terjadi saat bekerja di dalam kelompok.

Ying dkk (2014), membuat alat ukur Social Loafing Tendency Questionnaire (SLTQ) yang digunakan untuk menguji kecenderungan seseorang melakukan social loafing pada tugas individual dan pada tugas kelompok. Hasil penelitian Ying menunjukkan bahwa performansi individu dengan kecenderungan social loafing yang tinggi akan lebih buruk dibandingkan individu yang kecenderungan social loafingnya rendah saat mengerjakan tugas kelompok dibandingkan saat bekerja secara individual.

Dampak Social Loafing


Dampak adanya fenomena social loafing didalam sebuah group atau kelompok adalah sebagai berikut :

  • Social loafing bisa memunculkan iri hati dalam kelompok dan menurunkan potensi dan kohesivitas sebuah kelompok dan berpengaruh pada perfomansi, kehadiran dan kepuasan kelompok (Duffy & Shaw, 2000).

  • Hilangnya motivasi anggota kelompok juga menjadi dampak dari social loafing, adanya individu yang melakukan loafing akan mempengaruhi kinerja anggota kelompok yang lain (Brickner, Harkins, & Ostrom, 1986).

  • Social loafing akan menghilangkan kesempatan individu untuk melatih keterampilan dan mengembangkan diri (Schnake, dalam Liden, Wayne, Jaworski & Bennet, 2003).

  • Individu yang melakukan social loafing produktivitasnya akan terhambat karena harus bekerja di dalam sebuah kelompok (Latane, Williams, & Harkins, 1979).

Faktor-faktor yang mempengaruhi social loafing


Beberapa faktor yang mempengaruhi social loafing adalah sebagai berikut:

  1. Attribution and equity

    Proses atribusi yang dapat menyebabkan seseorang melakukan loafing, karena mereka menganggap orang lain tidak kompeten dan tidak ada gunanya mengeluarkan usaha yang lebih keras dari anggota kelompok yang lain (Latane, Williams & Harkins, 1979)

  2. Submaximal goal setting

    Tujuan kelompok yang tidak dibuat maksimal menyebabkan seseorang melakukan loafing karena menganggap kelompok akan mudah menyelesaikan tugas sehingga usaha dari anggota kelompok yang lain dianggap sudah cukup sehingga individu tidak perlu mengeluarkan usaha yang lebih banyak (Latane, Williams & Harkins, 1979).

  3. Lessened contingency between input and output outcome

    Individu melakukan loafing karena menganggap usaha yang dikeluarkannya dengan hasil yang didapatkan nanti tidak sesuai karena berada di dalam kelompok (Latane, Williams & Harkins, 1979).

  4. Group evaluation

    Seseorang cenderung akan melakukan loafing bila dirinya sendiri atau orang lain tidak ada yang mengevaluasi pekerjaannya (Harkins & Szymanski, 1989).

  5. Group cohesion

    Individu yang berada dalam kelompok yang tidak kohesif akan cenderung melakukan loafing karena sesama anggota kelompok tidak begitu mengenal satu sama lain (Hoigaard, Tofteland, & Ommundsen, 2006).

  6. Distributive justice

    Persepsi individu bahwa hasil kerja setiap anggota kelompok tidak akan mendapat reward yang sama akan menyebabkan individu mengurangi usahanya dalam kelompok (Piezon & Ferree, 2008).

  7. Individualism-collectivism

    Individu yang berasal dari budaya individualis cenderung akan melakukan social loafing dibandingkan individu yang berasal dari budaya kolektivis. Hal ini disebabkan individu dengan budaya kolektivis akan lebih berorientasi pada kelompok dan menempatkan tujuan kelompok sebagai hal yang penting (Earley, 1989).

  8. Expected coworker performance

    Individu akan melakukan loafing bila merasa usaha anggota kelompok yang lain akan tinggi sehingga dia tidak perlu mengeluarkan usaha yang lebih keras (Hart, Karau, Stasson, & Kerr, 2004).

  9. Achievement motivation

    Individu dengan motivasi berprestasi yang rendah akan cenderung melakukan loafing karena motivasi individu untuk beprestasi rendah sehingga tidak ada motivasi yang bisa mengeliminasi kecenderungan individu untuk melakukan loafing (Hart, Karau, Stasson, & Kerr, 2004).

  10. Group size

    Semakin besar anggota kelompok akan meningkatkan kecenderungan seseorang untuk melakukan social loafing. Individu akan merasa kontribusinya terbagi dengan anggota kelompok yang lain (Latane, Williams, & Harkins, 1979).

Aspek Social Loafing


Menurut teori social impact oleh Latane (1981, dalam Chidambaram & Lai, 2005), social loafing memiliki 2 aspek yaitu:

  1. Dillution effect

    Individu akan mengurangi usahanya dalam kelompok karena merasa kontribusinya kecil dalam kelompok atau karena mereka merasa penghargaan untuk kelompok bukan hasil dari pekerjaan mereka.

  2. Immediacy gap

    Individu akan melakukan loafing jika merasa dirinya terasing dari kelompok. Immediacy gap berarti semakin jauh jarak individu dengan pekerjaannya maka di sisi lain jarak individu dengan anggota kelompok yang lain juga semakin jauh.

Social Loafing adalah pengurangan motivasi dan usaha ketika individu bekerja secara kolektif dalam kelompok dibandingkan bila mereka bekerja sendiri (Baron & Byrne, 2003).

Social loafing terjadi jika dalam kelompok terjadi pembagian tugas, dan penilaian tugas yang tidak jelas (Bordens & Horowitz, 2008) Selain itu, social loafing terjadi disebabkan ketidakmampuan dalam mengobservasi kontribusi individu terhadap perilaku.

Misalkan, ketika Anda mendorong mobil bersama-sama, kita akan kesulitan menilai individu yang serius atau berkontribusi maksimal. Semua individu akan menjawab telah memberikan kontribusi yang terbaik dalam melakukan tugasnya.

Menurut Baron dan Byrne, (2003) ada beberapa kondisi yang menyebabkan social loafing berkurang, yaitu:

  1. Individu bekerja dalam kelompok kecil,
  2. tugas yang dianggap penting oleh anggota.
  3. bekerja dengan orang yang dihargai,
  4. Persepsi bahwa kontribusi mereka pada kelompok unik atau penting,
  5. Memperkirakan pekerjaan teman mereka buruk.
  6. Budaya yang menekankan usaha dan hasil individual daripada kelompok

Beberapa cara mengurangi social loafing (Baron & Byrne, 2003; Forsyth, 2010), antara lain :

  1. Melakukan penilaian terhadap tugas masing-masing individu. Kejelasan dalam melakukan penilaian terhadap tugas akan dapat mengurangi social loafing, karena dengan penilaian individu akan diketahui sejauh mana kontribusi individu dalam tugas kelompok.

  2. Meningkatkan komitmen anggota kelompok. Komitment individu untuk mengerjakan tugas sebaik mungkin dapat meningkatkan semangat indvidu dalam memberikan kemampuan terbaik dalam mengerjakan tugas, yang pada akhirnya setiap indvidu bekerja keras dan dapat mengurangi social loafing.

  3. Meningkatkan arti atau makna dari tugas tersebut. mengubah persepsi anggota terhadap tugas merupakan hal penting dalam mengurangi social loafing. Individu yang mempersepsikan tugasnya penting akan berdampak terhadap maksimalnya kontribusi individu dalam mengerjakan tugas.

  4. Memberikan pemahaman bahwa kontribusi individu terhadap tugas unik dan penting. Pemimpin kelompok harus dapat meyakini anggotanya bahwa mereka mempunyai persan yang istimewa dan unik dalam mengerjakan tugas. Hal tersebut akan menimbulkan persaaan bangga dan motivasi untuk mengerjakan tugas dengan sebaik mungkin.

Berdasarkan uraian mengenai pengaruh kelompok terhadap individu maka dapat disimpulkan bahwa kehadiran orang lain dapat mempengaruhi performance individu. Ketika individu mengerjakan tugas yang mudah dan perilaku dapat diobservasi, maka performance individu akan meningkat (fasilitasi sosial), sementara ketika individu mendapat tugas yang sulit, maka akan terjadi distraction dan kekhawatiran akan penilaian orang lain, yang berdampak pada menurunnya performace.

Ketika individu mendapat tugas mudah dan perilakunya tidak dapat diobservasi, indvidu cenderung mengalami penurunan performance (social loafing), sedangkan ketika tugas sulit, individu cenderung mengalami peningkatan performance (tantangan).

Kemalasan Sosial adalah pengurangan motivasi dan usaha individu ketika berkontribusi dalam sebuah kelompok dibandingkan pada saat bekerja secara individual (Sarlito, 2012). Pengertian lain dari kemalasan sosial adalah pengurangan kinerja individu selama bekerja sama dengan kelompok dibandingkan dengan bekerja sendiri (Latane, 1979).

Myers (2012) mengungkapkan pemalasan sosial itu adalah kecenderungan bagi orang-orang untuk mengeluarkan usaha yang lebih sedikit ketika mereka mengumpulkan usaha mereka untuk mencapai suatu tujuan yang sama dibandingkan jika mereka secara individual diperhitungkan.

Sedangkan menurut Ringelmann (dalam Latane, Williams, & Harkins, 1979) kemalasan sosial berarti penurunan usaha individu atau seseorang ketika ia bekerja dalam kelompok dibandingkan dengam ketika ia bekerja seorang diri.

Kemalasan sosial menurut Baron & Birne (2003) kecenderungan seseorang anggota dalam suatu kelompok untuk tidak bekerja sesuai dengan potensinya. Individu cenderung melakukan usaha seperlunya hanya untuk menunjukan performance yang baik atau untuk menghindari rasa bersalah karena tidak berbuat apa-apa. Selain itu, kemalasan sosial adalah demotivasi di dalam kelompok karena merasa idenya telah diwakili oleh anggota lain (Sarwono & Meinarno, 2011).

Aspek-aspek kemalasan sosial


Aspek-aspek kemalasan sosial menurut Myers (2012) adalah :

  1. Menurunnya motivasi
    Seseorang menjadi kurang termotivasi untuk terlibat atau melakukan sesuatu kegiatan tertentu pada saat orang tersebut berada dalam keadaan bersama – sama dengan orang lain. Mereka kurang termotivasi untuk terlibat dalam diskusi karena berada dalam lingkungan di mana ada orang lain yang mungkin mau melakukan respon yang kurang lebih sama terhadap stimulus yang sama.

  2. Sikap Pasif
    Anggota kelompok memilih untuk diam dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan usaha kelompok.

  3. Pelebaran tanggung jawab
    Usaha untuk mencapai tujuan kelompok merupakan usaha bersama para anggotanya. Free rider atau mendopleng pada usaha orang lain. Individu yang memahami bahwa masih ada orang lain yang mau melakukan usaha kelompok cenderung tergoda untuk mendopleng (free ride) begitu saja pada individu lain dalam melakukan usaha kelompok tersebut.

  4. Penurunan kesadaran akan kehadiran orang lain
    Kemalasan sosial dapat juga terjadi karena dalam situasi kelompok terjadi penurunan pada pemahaman atau kesadaran akan evaluasi dari orang lain terhadap dirinya.

  5. Free rider atau mendompleng pada usaha orang lain
    Individu yang memahami bahwa masih ada orang lain yang mau melakukan usaha kelompok cenderung tergoda untuk mendompleng (free ride) begitu saja pada individu lain dalam melakukan usaha kelompok tersebut.

Menurut Chidambaram & Tung (2005), kemalasan sosial dapat dilihat dari 2 aspek yaitu:

  1. Dilution Effect
    Dilution Effect, kurangnya motivasi individu karena merasa kontribusinya tidak berarti atau menyadari bahwa penghargaan yang diberikan kepada tiap individu tidak ada. Hal ini menyebabkan individu bersikap acuh yang menyebabkan individu tidak bertanggung jawab.

  2. Immediacy gap
    Immediacy gap (tidak terpaut dengan tugas dan kelompok), individu merasa terasing atau terisolasi (karena kurang dekat dengan anggota kelompok lainnya) dari kelompok, hal ini menandakan semakin jauh anggota kelompok dari anggotanya maka ia semakin jauh dengan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

Faktor-faktor kemalasan sosial


Faktor-faktor kemalasan sosial menurut Genn (dalam Sarwono & Meinarno, 2009) adalah :

  1. Output equity
    Kemalasan sosial terjadi karena anggota kelompok beranggapan bahwa anggota kelompok cenderung bermalas-malasan sehingga mereka mengira teman sekelompok mereka juga bermalas-malasan. Akibatnya, merekapun bermalas-malasan supaya sama.

  2. Evaluation apprehension
    Kemalasan sosial terjadi karena identitas individu menjadi tersamarkan (anonim) ketika berada didalam kelompok. Hasil kerja individu tidak tampak karena yang dilihat adalah hasil kelompok. Akibatnya, individu yang tidak termotivasi dengan tugas tersebut hanya sedikit berkontribusi.

  3. Matching to standartd
    Kemalasan sosial terjadi karena tidak tersedia standard yang jelas untuk membandingkan performa individu. Hal ini karena hasil kerja yang diperhitungkan adalah hasil kelompok.

Menurut Sanna (1992) faktor-faktor kemalasan sosial adalah:

  1. Evaluation potential
    Kemalasan sosial muncul karena ketika individu bekerja didalam kelompok akan sulit untuk diidentifikasi dan dievaluasi. Akibatnya, bekerja secara kelompok akan membuat individu “bersembunyi didalam keramaian” dan menghindari jika disalahkan atas kinerja yang buruk.

  2. Efikasi diri
    Individu akan bekerja secara keras ketika efikasi diri tinggi pada tugas tersebut. Sebaliknya, kemalasan sosial muncul ketika individu berada pada efikasi diri yang rendah pada tugas tersebut dan mengharapkan evaluasi.

  3. Dispensability of effrort
    Kemalasan sosial muncul ketika individu merasa tidak berdaya dihadapkan tugas dan merasa bahwa masukan/gagasannya tidak dibutuhkan didalam kelompok.

Menurut Karau & Wiliams (dalam Krisnasari dan Purnomo, 2017) kemalasan sosial diartikan sebagai pengurangan motivasi dan usaha ketika individu bekerja secara bersama-sama dibandingkan dengan ketika mereka bekerja secara sendiri.

J. Clark dan Baker (dalam Zahra, 2016) mengatakan pemalasan sosial (social loafing), yaitu tindakan individu untuk berperforma secara minimal di dalam kelompok dibanding dengan ketika bekerja sendiri.

Menurut Latané, Williams, & Harkins (dalam Zahra dkk, 2015) kemalasan sosial (social loafing) merupakan perilaku individu untuk mengurangi usaha ketika bekerja di dalam kelompok, yang mengakibatkan inefektivitas kelompok dalam mencapai tujuan. Menurut Taylor, Pepalu & Sears (dalam Audi, 2014) perilaku pemalasan sosial yang dilakukan oleh individu dapat membuat anggota-anggota kelompok lainnya merasa dirugikan. Perasaan rugi ini dapat menjadi sumber konflik. Di dalam hubungan persahabatan, apabila terjadi konflik, pihak yang terlibat akan cenderung melakukan pengorbanan demi kebaikan hubungan persahabatannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Kemalasan Sosial

Faktor-faktor yang mempengaruhi kemalasan sosial menurut Sarwono (dalam Harmaini dkk, 2016) yaitu:

  • Faktor Kepribadian
    Orang yang mepunyai daya sosial (social efficacy) yang tinggi mengalami fasilitas sosial dengan kehadiran orang lain, sementara yang daya sosialnya rendah mengalami pemalasan.

  • Keterampilan
    Bagi orang yang terlatih kehadiran orang lain meningkatkan prestasi, sedangkan bagi yang tidak terlatih kehadiran orang lain justru akan menurunkan prestasinya.

  • Persepsi terhadap kehadiran orang lain
    Jika seseorang beranggapan bahwa orang-orang lain yang hadir akan meningkatkan semangatnya, akan terjadi fasilitasi sosial.

  • Harga diri
    Bagi orang dengan harga diri rendah, kehadiran orang lain justru menurunkan prestasi. Akan tetapi, pada orang-orang ini kehadiran orang lain tidak berpengaruh jika mereka sedang melakukan tugas-tugas yang sulit karena hasilnya pasti rendah dan dapat dipahami mengapa rendah.

Menurut Fishbein dan Ajzen aspek-aspek kemalasan sosial (social loafing) dapat dilihat berdasarkan:

  • Behavior (perilaku), yaitu perilaku spesifik yang diwujudkan secara nyata oleh individu.

  • Target (sasaran), yaitu objek yang menjadi sasaran yang akan dituju oleh perilaku individu.

  • Situation (situasi), yaitu dalam situasi seperti apa perilaku diwujudkan.

  • Time (waktu), yaitu menyangkut kapan perilaku akan diwujudkan.

Referensi

Sumber Artikel: https://www.universitaspsikologi.com/2019/12/teori-kemalasan-sosial-dan-aspek-social-loafing.html