Apa yang dimaksud dengan kekompakan kelompok atau Kohesivitas Kelompok?

Kohesivitas kelompok adalah daya baik positif atau negatif yang menyebabkan anggota kelompok bertahan dalam kelompok.

Apa yang dimaksud dengan Kohesivitas Kelompok ?

Hubungan yang terjadi satu sama lain anggota kelompok dapat menimbulkan kohesivitas antar anggota kelompok.

Group cohesion refers to the positive emotional attachment that group members have with the other members of the group (Stangor, 2006).

Menurut Taylor, dkk (2009) kohesivitas adalah daya baik positif atau negatif yang menyebabkan anggota kelompok bertahan dalam kelompok. Kohesifitas adalah kekuatan hubungan yang terjadi antar anggota kelompok (Forsyth, 2010).

Lebih lanjut Forsyth (2010) mengatatakan bahwa kohesivitas teridiri empat komponen.

  • Social cohesion, yaitu merupakan daya tarik antar anggota kelompok untuk membentuk kelompok.

  • Task cohesion, kohesivitas anggota kelompok berdasark tujuan kelompok. Kelompok akan semakin memiliki kohesif jika anggota kelompok salang bekerja sama dalam mencapai tujuan kelompok,

  • Perceive cohesion, kesatuan anggota kelompok berdasarkan persepsi dan rasa kebersamaan dan memiliki yang meliputi perasaan terhadap kelompok dan anggota kelompok.

  • Emotional cohesion, yaitu kohesi yang berdasarkan intensitas afektif dalam kelompok. Emosi positif dalam kelompok akan meningkatkan kohesivitas anggota kelompok.

Menurut Bordens dan Horowitz, (2008) ada beberapa yang mempengaruhi kohesivitas anggota kelompok, yaitu :

  1. Ketertarikan antar anggota kelompok. Hubungan interpersonal anggota satu sama lain yang berlandaskan ketertarikan, akan berpotensi menilmbulkan kohesivitas. Semakin kuat ketertarikannya, maka semakin kuat kohesivitas anggota kelompok

  2. Kedekatan anggota. Kedekatan fisik dan psikologis sesama anggota kelompok juga dapat mempengauhi kohesivitas anggota kelompok.

  3. Ketaatan pada norma kelompok. Anggota kelompok yang patuh pada norma kelompok cenderung memiliki kohesivitas kelompok.

  4. Kesuksesan kelompok mencapai tujuan. Kelompok yang berhasil mencapai tujuan memiliki dampak psikologis kepada anggotanya, salah satunya kebersamaan dan kohesi anggota semakin meningkat.

  5. Identifikasi anggota terhadap kelompok: kesetian kelompok. Anggota yang memiliki identifikasi kuat terhadap kelompok cenderung memiliki kohesifvitas tinggi.

Sementara menurut Forsyth (2010) kohesifitas dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya:

  1. Ketertarikan kelompok. Ketertarikan anggota kelompok akan menimbulkan kohesivitas kelompok.

  2. Stabilitas keanggotaan. Kelompok yang memiliki anggota yang cenderung stabil, maka kelompok tersebut cenderung memiliki kohesivitas tinggi dibandingkan kelompok yang sering terjadi perubahan dalam keanggotannya.

  3. Ukuran kelompok.salah satu tanda besarnya kelompok adalah jumlah anggotanya. Semakin banyak anggota, maka semakin besar usaha anggota untuk memperkuat hubungan anrara anggota. Implikasinya tingkat kohesif pada kelompok besar tidak sekuat kelompok yang memiliki ukuran kecil.

  4. Ciri-ciri struktural. Kohesif terkait dengan dua struktur kelompok. Pertama. Kohesi cenderung pada kelompok yang memiliki struktur yang jelas, kedua, tipe struktur kelompok berkaitan dengan tingginya kohesis anggota kelompok.

  5. Permulaan kelompok. Persyaratan awal ketika masuk kelompok menjadi salah satu yang dapat mempengaruhi kohesi kelompok. Misalkan, kegiatan orentasi yang dilakukan padaa anggota baru dapat meningkatkan kohesi anggota kelompok.

Kohesivitas berkaitan dengan peningkatan kepuasan pada anggota dan mengurangi turn over dan stress (Forsyth & Burnette, 2010). Namun kohesif juga dapat berdampak negatif pada masalah psikologis kelompok, seperti ketergantungan, tekanan untuk konformitas tinggi dan penerimaan akan pengaruh menjadi besar sehingga berpotensi bermasalah atau bias pada pengambilan keputusan (Forsyth, 2010).

Studi Pepitone dan Reichling (dalam Stangor, 2004) menemukan kelompok yang memiliki kohesif tinggi cenderung memiliki hostility ke outsider, sementara kelompok yang memiliki kohesif rendah cenderung memiliki hostility ke dalam kelompok.

Baik kelompok formal dan informal, cenderung memiliki kedekatan atau keseragaman dalam hal sikap, perilaku dan kinerja. Kedekatan ini sering kali disebut sebagai kohesivitas. Kohesivitas biasanya dianggap sebagai suatu kekuatan. Kohesivitas mengikat seluruh anggota tim agar berada dalam kelompok dan menangkal pengaruh yang menarik anggota agar keluar dari kelompok. Sebuah kelompok yang memiliki kohesivitas rendah tidak memiliki ketertarikan interpersonal antar anggota kelompoknya.

Sebuah kelompok yang kohesif terdiri dari individu yang saling tertarik satu dengan yang lain.

Menurut Newcomb, kohesivitas kelompok diistilahkan dengan kekompakkan. Kekompakkan adalah sejauh mana anggota kelompok melekat menjadi satu kesatuan yang dapat menampakkan diri dengan banyak cara dan bermacam-macam faktor yang berbeda serta dapat membantu satu sama lain. Sedangkan Robbins (2012), mendefinisikan kohesivitas kelompok sebagai sejauh mana para anggota kelompok tertarik terhadap satu sama lain dan termotivasi untuk tetap dalam suatu kelompok.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa kohesivitas kelompok merupakan daya tarik emosional sesama anggota kelompok kerja dimana adanya rasa saling menyukai, membantu, dan secara bersama-sama saling mendukung untuk tetap bertahan dalam kelompok kerja dalam mencapai suatu tujuan bersama.

Menurut George & Jones (2002) menerangkan kohesivitas sebagai suatu sikap positif yaitu anggota kelompok yang memiliki daya tarik satu sama lain. Meshane & Glinow menjelaskan bahwa kohesivitas itu dianggap sebagai perasaan daya tarik individu terhadap kelompok dan motivasi untuk tetap bersama kelompok yang menjadi faktor penting dalam keberhasilan kelompok. Greenberg (2005), menjelaskan kohesivitas adalah perasaan dalam kebersamaan antar anggota kelompok. Robbins (2001), menjelaskan bahwa kohesivitas merupakan sejauh mana anggota merasa tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tetap berada dalam kelompok tersebut.

Gibson (2003), membuat suatu perbandingan yang menjelaskan bahwa kohesivitas merupakan kekuatan ketertarikan anggota yang tetap pada kelompoknya dari pada terhadap kelompok lain. Certo (2003) menambahkan suatu pertimbangan bahwa kohesivitas adalah memiliki anggota yang ingin tetap tinggal dalam kelompok selama mengalami tekanan dalam kelompok. Artinya kohesivitas kelompok akan membuat anggota tetap tinggal di dalam kelompok meski dalam keadaan tertekan.

Konsekuensi atau dampak dari kuatnya kekompakan kelompok
Gambar Konsekuensi atau dampak dari kuatnya kekompakan kelompok

Forsyth (2010) memandang kohesivitas adalah sesuatu yang terlaksana tanpa disengaja dimana kohesivitas itu dijelaskan sebagai kesatuan yang terjalin dalam kelompok, menikmati interaksi satu sama lain, dan memiliki waktu tertentu untuk bersama dan di dalamnya terdapat semangat yang tinggi.

Kelompok yang sangat kohesif lazimnya terdiri dari individu-individu yang termotivasi untuk bersatu. Akibatnya, manajemen cenderung mengharapkan kelompok kohesif tersebut menunjukkan kinerja yang efektif. Secara umum, seiring peningkatan kohesivitas kelompok, tingkat konformitas terhadap norma-norma kelompok juga akan meningkat.

Forsyth (2010) mengatakan kohesivitas kelompok dapat diklaim untuk menjadi teori yang paling penting dalam grup dynamic (dinamika kelompok). Tanpa adanya kohesivitas kelompok, kelompok akan terpecah dimana anggota kelompok menarik diri dari kelompoknya, selain itu kohesivitas kelompok menjadi indikasi dari keberhasilan dalam kelompok. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kohesivitas kelompok adalah rasa tertarik yang dimiliki seseorang terhadap orang lainnya yang ada dalam suatu kelompok dan kepada kelompok tersebut. Rasa tertariknya membuat seseorang bersikap membantu termotivasi dan saling mendukung antar anggota di dalam kelompok untuk mencapai suatu tujuan bersama dalam kelompok tersebut.

Faktor-faktor pembentuk Kohesivitas Kelompok


Menurut Robbins, terdapat beberapa faktor yang menentukan tinggi rendahnya kohesivitas kelompok, yaitu:

  • Lamanya waktu bersama dalam kelompok, makin lama berada bersama dalam kelompok maka akan saling mengenal, makin dapat timbul sikap toleran terhadap yang lain.

  • Parahnya masa awal, maksudnya adalah makin sulit seseorang diterima didalam kelompok kerja sebagai anggota, makin lekat kelompoknya.

  • Besarnya kelompok, makin besar kelompoknya maka makin sulit terjadi interaksi yang intensif antar anggotanya, makin kurang lekat kelompoknya.

  • Ancaman dari luar, kebanyakan penelitian mengatakan bahwa kelekatan kelompok akan bertambah jika kelompok mendapat ancaman dari luar.

  • Keberhasilan dimasa lalu, setiap orang menyenangi pemenang. Jika satu kelompok kerja, memiliki sejarah yang gemilang, maka terbentuklah esprit de crops yang menarik anggota-anggota baru, kelekatan kelompok akan tetap tinggi.

Faktor-faktor pembentuk Kohesivitas Kelompok
Gambar Faktor-faktor pembentuk Kohesivitas Kelompok

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kohesivitas kelompok dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya adalah : lamanya waktu bersama dalam kelompok, parahnya masa awal, besarnya kelompok, ancaman dari luar, keberhasilan di masa lalu, kesamaan nilai dan tujuan, keberhasilan dalam mencapai tujuan, status kelompok, penyelesaian perbedaan, kecocokan terhadap norma-norma, daya tarik pribadi, persaingan antara kelompok dan pengakuan serta penghargaan.

Dimensi Kohesivitas Kelompok

Forsyth (2010) mengemukakan bahwa ada empat dimensi kohesivitas kelompok, yaitu:

  • Kekuatan Sosial: Keseluruhan dari dorongan yang dilakukan oleh kekuatan atau keinginan individu dalam kelompok untuk tetap berada dalam kelompoknya. Kekuatan yang dirasakan oleh pengurus kelompok untuk tetap berada didalam kepengurusan. Dimana kekuatan tersebut membuat pengurus kelompok untuk tetap saling berhubungan dan bersatu untuk menghadapi kekuatan lain yang akan menyerangnya. Diukur melalui besarnya keinginan pengurus untuk tidak meninggalkan kelompok, tingkat kebersamaan pengurus di dalam kelompok, dan seringnya interaksi bersama yang dilakukan pengurus dan anggota pengurus yang lainnya.

  • Kesatuan dalam Kelompok: Perasaan saling memiliki yang dirasakan pengurus kelompok terhadap kelompok itu sendiri dan memiliki perasaan moral yang berkaitan dengan keanggotaannya dalam kelompok. Setiap pengurus kelompok merasa semua pengurus adalah sebuah keluarga, tim dan kelompoknya serta memiliki perasaan kebersamaan. Diukur melalui kekuatan rasa kepemilikan pengurus untuk bergabung dalam kelompok, dorongan yang dirasakan pengurus untuk lebih aktif terlibat pada kepengurusannya, besarnya kepedulian pengurus untuk merasakan penderitaan jika terjadi beberapa permasalahan sosial dan interpersonal, pengurus lebih antusias terhadap kelompoknya, dan pengurus rela mengorbankan kepentingan individu untuk kepentingan organisasi.

  • Daya Tarik: Pengurus akan lebih tertarik melihat banyaknya manfaat dan keuntungan positif yang diperoleh dari kelompok daripada melihat dari pengurusnya secara spesifik… Diukur melalui manfaat yang dirasakan pengurus dari pengalaman-pengalaman kepengurusannyanya, terpenuhinya sumber daya yang dibutuhkan pengurus untuk kegiatan kelompok, penghargaan (reward) yang diberikan bagi kelompok.

  • Kerjasama Kelompok: Individu memiliki keinginan yang lebih besar untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok. Proses yang dinamis yang mencerminkan kecenderungan pengurus kelompok untuk tetap bersatu dan bekerja bersama dengan tujuan mencapai tujuan dari kelompok. Diukur melalui : besarnya saling ketergantungan yang dirasakan pengurus dengan kelompok, kestabilan kepengurusan didalam kelompok, perasaan bertanggungjawab yang dirasakan pengurus terhadap pencapaian kelompok, pengurus mengurangi ketidakhadiran di dalam kegiatan kelompok, besarnya kemampuan pengurus untuk resisten pada gangguan.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kohesivitas kelompok terdiri dari 4 dimensi, yaitu kekuatan sosial, kesatuan dalam kelompok, daya tarik dan kerjasama kelompok.

Menurut Forsyth (2006) mengatakan bahwa kohesivitas kelompok muncul dari ikatan-ikatan di antara anggota kelompok. Carron, Brawley dan Widmeyer (2009) mendefinisikan kohesivitas kelompok sebagai proses dinamis yang terlihat melalui kecenderungan kelekatan dan kebersatuan kelompok dalampemenuhan tujuan dan atau kepuasan kebutuhan afeksi anggota kelompok.

Selanjutnya, menurut Wagner & Hollenbeck (2010) mendefinisikan kohesivitaskelompok adalah kelompok yang mencerminkan derajat yang mana kelompok tetap bersatu dan anggota merasa tertarik satu sama lain dan kelompok secara keseluruhan.

Robbins (2007) menyatakan bahwa kohesivitas kelompok adalah sejauh mana anggota merasa tertarik satu sama lain dan termotivasi tetap berada dalam kelompok tersebut. Misalnya, karyawan suatu kelompok kerja yang kompak karena menghabiskan banyak waktu bersama, atau kelompok yang berukuran kecil menyediakan sarana interaksi yang lebih intensif, atau kelompok yang telah berpengalaman dalam menghadapi ancaman dari luar menyebabkan anggotanya lebih dekat satu sama lain.

Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kohesivitas kelompok adalah sejauh mana anggota kelompok merasa tertarik terhadap anggota lain dan tugas kelompok serta saling membahu-bahu dalam mencapai tujuan kelompok.

Dimensi Kohesivitas Kelompok

Carron menyebutkan kohesivitas memiliki dua dimensi yang terkandung masing-masing dua pandang yaitu pandangan dalam tugas dan pandangan hubungan sosial dalam kelompok. Kohesivitas harus diperiksa sehubungan dengan baik tugas dan kepedulian sosial dengan orientasi kelompok dan bahwa kognisi tentang kekompakan terkait dengan kelompok sebagai totalitas dan untuk cara di mana kelompok memenuhi kebutuhan pribadi dan tujuan (Carron, Brawley, dan Widmeyer, 2009). Menurut Carron, Brawley, dan Widmeyer, (2009) mengemukakan ada 4 dimensi kohesivitas kelompok yaitu :

  1. Group Integration-Task (kelompok integrasi -tugas)
    Keterpaduan anggota kelompok dari tingkat kelompok yang melakukan kesatuan individu yang meliputi aspek tugas.

  2. Group Integration-Sosial (kelompok integrasi-sosial)
    Keterpaduan anggota kelompok dari tingkat kelompok yang melakukankesatuan individu meliputi aspek sosial.

  3. Individual Attractions to The Group-Task
    Ketertarikan individu masing-masing anggota pada kelompok dan melibatkan pribadinya dalam aspek tugas kelompok.

  4. Individual Attraction to The Group-Social
    Ketertarikan individu masing-masing anggota pada kelompok dan melibatkan pribadinya dalam aspek hubungan sosial.

Carron, Brawley, dan Widmeyer, (2009) mengatakan kohesivitas tugas mencerminkan sejauh mana anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan tujuan, sedangkan kohesivitas sosial mencerminkan atraksi interpersonal diantara anggota kelompok. Selain itu kohesivitas sosial disisi lain, mencerminkan sejauh mana anggota kelompok saling menyukai dan menikmati hubungan sosial di dalam kelompok.

Menurut Gross dan Martin (1952) kohesivitas memiliki unsur yaitu

  1. task cohesiveness, sebagai komitmen kelompok bersama atau ketertarikan atas tugas atau tujuan kelompok.
  2. interpersonal cohesiveness, sebagai daya tarik anggota kelompok yang saling tertarik satu sama lain dalam kelompok.

Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Kohesivitas

Menurut For syth (2006) terdapat faktor yang mempengaruhi timbulnya kohesivitas, yaitu :

  1. Interpersonal Attraction (daya tarik interpersonal)
    Kelompok sering terbentuk ketika individu mengembangkan perasaan ketertarikan terhadap individu yang lain. Tetapi hanya seperti faktor seperti kedekatan terhadap interaksi, kesamaan, saling melengkapi, timbal balik, dan penukaran yang menguntungkan dapat mendorong untuk terbentuknya kelompok, demikian juga mereka bisa berpaling dari kelompok dasar menjadi salah satu kelompok yang sangat kohesif.

  2. Stability of Membership (stabilitas terhadap keanggotaan)
    Perbedaan antara kelompok terbuka dan kelompok tertutup. Perbedaan kelompok berdasarkan sejauh mana batas-batas mereka dapat masuk dalam daftar keanggotaan yang bersifat terbuka dan berfluktuasi dibandingkan tertutup dan tetap. Kelompok terbuka khususnya untuk mencapai keadaan keseimbangan, karena anggota menyadari bahwa mereka mungkin kehilangan atau melepaskan tempat mereka dalam kelompok setiap saat. Pada kelompok tertutup, individu cenderung berfokus pada sifat kolektif kelompok dan lebih mungkin untuk mengidentifikasi dengan kelompok mereka saat mereka bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Kelompok terbuka adalah kelompok yang kohesifnya rendah.

  3. Group Size (ukuran kelompok)
    Kelompok yang berukuran kecil akan lebih kohesif daripada kelompok yang berukuran besar karena akan lebih mudah untuk beberapa orang untuk mendapatkan satu tujuan dan lebih mudah untuk melakukan aktifitas kerja.

  4. Structural Features (bentuk struktur)
    Kohesif itu mempunyai hubungan kepada struktur kelompok dalam dua titik dasar. Pertama, kelompok kohesif cenderung untuk relatif lebih terstruktur. Kedua, bentuk dari struktur kelompok adalah terkait dengan tingkat lebih tinggi dari kohesif daripada struktur kelompok yang lain. Semakin tinggi proporsi hubungan dengan anggota non group relatif membuat hubungan dengan anggota kelompok semakin rendah kekompakkan keseluruhan kelompok.

  5. Initiations (inisiasi/ permulaan)
    Kelompok dengan kebijakan keanggotaan yang ketat, termasuk penerimaan, menghindari masalah ini dengan menyaring anggota dan melakukan pemantauan erat dan mengabaikan orang-orang yang tidak menunjukkan diri mereka.

Kelompok kerja menjadi suatu hal yang sangat penting saat ini. Bekerja dalam sebuah kelompok tentu saja memberikan keuntungan dibandingkan dengan bekerja sendiri. Baron dan Byrne (2004) mendefinisikan kelompok sebagai sekelompok orang yang dipersepsikan terikat satu sama lain dalam sebuah unit yang koheren pada derajat tertentu. Faktor-faktor yang menyebabkan anggota kelompok bertahan dalam kelompok inilah yang disebut kohesivitas.

Menurut Walgito (2003) kohesivitas kelompok merupakan dimensi fundamental dari struktur kelompok dan secara meyakinkan berpengaruh pada perilaku kelompok. Pada umumnya kohesivitas kelompok meningkatkan produktivitas dan kinerja kelompok, konformitas terhadap norma kelompok, memperbaiki semangat dan kepuasan kerja, mempermudah komunikasi dalam kelompok, mengurangi permusuhan dalam kelompok, meningkatkan rasa aman dan harga diri.

Pendapat ini didukung pula dari hasil penelitian Oktaviansyah (2008) yang menyebutkan bahwa pada kelompok yang kohesivitasnya tinggi akan memiliki tingkat ketertarikan pada anggota dan kelompok yang kuat, ada konformitas (pengaruh sosial) sehingga menimbulkan iklim kerjasama yang baik, kegairahan bekerja dan membuat anggota menjadi betah selanjutnya tingkat kohesivitas akan memiliki pengaruh terhadap komitmen organisasi tergantung seberapa jauh kesamaan kelompok dengan organisasi.

Carron, dkk. (2001) mendefinisikan kohesivitas kelompok sebagai proses dinamis yang terlihat melalui kecenderungan kelekatan dan kebersatuan kelompok dalam pemenuhan tujuan dan atau kepuasan kebutuhan afeksi anggota kelompok level kohesivitas yang tinggi biasanya bermanfaat bagi pelaksanaan fungsi kelompok karena kohesivitas kelompok juga diartikan sebagai kekuatan, baik positif maupun negatif, yang menyebabkan anggota tetap bertahan dalam kelompok (Taylor, dkk., 2009).
Fungsi kelompok akan tercapai secara maksimal pada kelompok yang kohesif karena eksistensi kelompok kohesif tetap terjaga seiring dengan anggotanya yang juga eksis di dalam kelompok.

Kohesivitas kelompok diartikan sebagai ketertarikan anggota kelompok sehingga termotivasi untuk tetap bertahan di dalam kelompok serta bersama-sama melaksanakan fungsi dan meraih tujuan kelompok.

Aspek aspek Kohesivitas Kelompok


Aspek-aspek kohesivitas kelompok menurut Forsyth (2006) mengemukakan bahwa ada empat dimensi kohesivitas kelompok yaitu:

  1. Kekuatan Sosial: keinginan dalam diri individu untuk tetap berada dalam kelompoknya. Atau dapat juga diartikan sebagai desakan atau dorongan dari setiap individu terhadap organisasi ataupun kelompoknya untuk tetap berada dalam kelompok.

  2. Kesatuan dalam kelompok: Perasaan saling memiliki terhadap kelompoknya dan memiliki perasaan moral yang berhubungan dengan keanggotaannya dalam kelompok. Kesatuan dalam kelompok juga dapat diartikan sebagai kumpulan manusia yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat. Kelompok juga dapat memengaruhi perilaku para anggotanya.

  3. Daya Tarik: Individu akan lebih tertarik melihat dari segi kelompok kerjanya sendiri dari pada melihat dari anggotanya secara spesifik. Daya tarik ini dapat berupa semangat kerja yang dimiliki kelompk sehingga akan berdampak positif terhadap perkembangan dan keberlangsungan kelompok tersebut untuk dapat mencapai tujuan.

  4. Kerjasama Kelompok: Individu memiliki keinginan yang lebih besar untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok. Kerja sama sendiri juga mampu menjadi standart penilaian kerja sesorang dalam beberapa kelompok. Untuk dapat melihat seberapa kuat dan seberapa besar partisipasi dari setiap anggota kelompok.

Aspek-aspek kohesivitas kelompok Menurut Pendapat Cota (1995) ada empat aspek yaitu:

  1. Integrasi kelompok dalam tugas (group integration-task); persepsi anggota kelompok terhadap persamaan dan kedekatan tim dalam menyelesaikan tugas. Menurut Soerjono Soekanto (2001) integrasi kelompok adalah sebuah proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi gol melawan lawan yang disertai dengan ancaman dan / atau kekerasan.

  2. Integrasi kelompok secara sosial (group integration-social); persepsi anggota kelompok terhadap kedekatan dan keakraban tim dalam aktivitas sosial. Menurut Baton menyatakan bawah integrasi sosial ialah suatu integrasi sebagai pola hubungan yang mengakui adanya suatu perbedaan ras dalam masyarakat, tetapi tidak memberikan suatu fungsi penting pada perbedaan dalam sebuah ras.

  3. Ketertarikan individu pada tugas kelompok (individual attraction to grouptask); persepsi anggota kelompok terhadap keterlibatan diri pada tugas kelompok. Jadi disini ketertarian individu pada tugas kelompok dapat diartikan sebagaimana setiap anggota kelompok mampu terlibat dan dapat berkontribusi dalam pekerjaan dalam kelompknya.

  4. Ketertarikan individu pada kelompok secara sosial (individual attraction to group-social); persepsi anggota kelompok terhadap keterlibatan interaksi sosial dalam kelompok (dalam Supramono, 2007). Ketertarikan sosial mengacu kepada perasaan yang timbul terhadap orang lain. Perasaan ini meliputi dimensi rasa suka dan rasa tidak suka. Tujuan dari rasa ini adalah untuk menilai seorang individu atau suatu kelompok, yang dilakukan secara positif bermaksud untuk mendekatinya, dan untuk berperilaku positif kepada individu atau kelompok tersebut.

Faktor-faktor Kohesivitas Kelompok


Mason (dalam Rachmawati; 2009) menyatakan bahwa kohesivitas dipengaruhi banyak hal. Beberapa tercipta secara alami, sedang yang lainnya terbentuk akibat pengaruh tujuan organisasi, struktur dan strategi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kohesivitas menurut Mason, yaitu:

  1. Kegiatan-kegiatan kelompok, yakni dengan ikut berpartisipasi dalam acara– acara yang diselenggarakan bersama.
  2. Simbol, simbol yang dapat menjadi pembeda antar anggota kelompok dengan komunitas lain.
  3. Komunikasi, komunikasi dalam sebuah kelompok adalah sesuatu hal yang penting yang menyatukan banyak bagian menuju kohesivitas yang tinggi. Fokusnya pada komunikasi interpersonal, komunikasi interpersonal sendiri merupakan interaksi berbalasan antara dua orang dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan atau meraih hasil yang diharapkan (Rakhmat, 2000).
  4. Ancaman luar, tekanan yang dapat menahan ancaman dari luar yaitu adalah musuh.
  5. Prospek masa depan, kohesivitas dipengaruhi oleh apakah organisasi tersebut memiliki prospek yang baik atau tidak, sebuah harapan menjadi faktor penting saat mengerjakan tugas kelompok atau individu.
  6. Homogenitas, semakin homogen sebua kelompok, maka semakin mudah untuk menciptakan kohesivitas kelompok.
  7. Interaksi, semakin sering anggota bekerja bersama, maka semakin mudah untuk terciptanya kohesivitas.
  8. Pencitraan, saat anggota merasa bahwa kelompoknya mampu meningkatkan citra serta harga diri mereka, maka kohesivitas akan meningkat.

Kelompok yang kohesif menurut Faturochman (2006) bila memiliki beberapa hal berikut ini:

  1. Setiap anggotanya komitmen tinggi dengan kelompoknya
  2. Interaksi di dalam kelompok didominasi kerjasama bukan persaingan
  3. Kelompok mempunyai tujuan yang terkait satu dengan yang lainnya dan sesuai dengan perkembangan waktu tujuan yang dirumuskan meningkat.
  4. Terjadi pertukaran antar anggota kelompok yang sifatnya mengikat
  5. Ada ketertarikan antar anggota sehingga relasi yang terbentuk menguatkan jaringan relasi di dalam kelompok. Berdasarkan beberapa teori yang diacu, faktor-faktor yang mempengaruhi kohesivitas kelompok adalah interaksi kelompok, ukuran kelompok, komitmen, produktivitas, ketertarikan dan keberadaan ancaman.
Referensi

http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/3817/3/BAB%20II.pdf

Ivancevich (2004) mengklasifikasikan kelompok menjadi dua bagian yaitu: kelompok formal dan informal yang mana cenderung memiliki kedekatan atau keseragaman dalam hal sikap, perilaku dan kinerja. Kedekatan ini sering kali disebut sebagai kohesivitas.

Kohesivitas biasanya dianggap sebagai suatu kekuatan. Kohesivitas mengikat seluruh anggota tim agar berada dalam kelompok dan menangkal pengaruh yang menarik anggota agar keluar dari kelompok. Sebuah kelompok yang kohesif terdiri dari individu yang saling tertarik satu dengan yang lain.

Sebuah kelompok yang memiliki kohesivitas rendah tidak memiliki ketertarikan interpersonal antar anggota kelompoknya. Menurut Newcomb (Dian & Safitri, 2011) kohesivitas kelompok diistilahkan dengan kekompakkan. Kekompakkan adalah sejauh mana anggota kelompok melekat menjadi satu kesatuan yang dapat menampakkan diri dengan banyak cara dan bermacam-macam faktor yang berbeda serta dapat membantu satu sama lain. Sedangkan Robbins (2012), mendefinisikan kohesivitas kelompok sebagai sejauh mana para anggota kelompok tertarik terhadap satu sama lain dan termotivasi untuk tetap dalam suatu kelompok.

Kohesivitas kelompok merupakan daya tarik emosional sesama anggota kelompok kerja dimana adanya rasa saling menyukai, membantu, dan secara bersama-sama saling mendukung untuk tetap bertahan dalam kelompok kerja dalam mencapai suatu tujuan bersama.

Menurut George & Jones (2002) menerangkan kohesivitas sebagai suatu sikap positif yaitu anggota kelompok yang memiliki daya tarik satu sama lain. Meshane & Glinow menjelaskan bahwa kohesivitas itu dianggap sebagai perasaan daya tarik individu terhadap kelompok dan motivasi untuk tetap bersama kelompok yang menjadi faktor penting dalam keberhasilan kelompok. Oleh Greenberg (2005), menjelaskan kohesivitas adalah perasaan dalam kebersamaan antar anggota kelompok. Robbins (2001), menjelaskan bahwa kohesivitas merupakan sejauh mana anggota merasa tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tetap berada dalam kelompok tersebut.
Gibson (2003), membuat suatu perbandingan yang menjelaskan bahwa kohesivitas merupakan kekuatan ketertarikan anggota yang tetap pada kelompoknya dari pada terhadap kelompok lain. Certo (2003) menambahkan suatu pertimbangan bahwa kohesivitas adalah memiliki anggota yang ingin tetap tinggal dalam kelompok selama mengalami tekanan dalam kelompok. Artinya kohesivitas kelompok akan membuat anggota tetap tinggal di dalam kelompok meski dalam keadaan tertekan.

Forsyth (2010) memandang kohesivitas adalah sesuatu yang terlaksana tanpa disengaja dimana kohesivitas itu dijelaskan sebagai kesatuan yang terjalin dalam kelompok, menikmati interaksi satu sama lain, dan memiliki waktu tertentu untuk bersama dan di dalamnya terdapat semangat yang tinggi.
Kelompok yang sangat kohesif lazimnya terdiri dari individu- individu yang termotivasi untuk bersatu. Akibatnya, manajemen cenderung mengharapkan kelompok kohesif tersebut menunjukkan kinerja yang efektif. Secara umum, seiring peningkatan kohesivitas kelompok, tingkat konformitas terhadap norma-norma kelompok juga akan meningkat.

Forsyth (2010) mengatakan kohesivitas kelompok dapat diklaim untuk menjadi teori yang paling penting dalam grup dynamic (dinamika kelompok). Tanpa adanya kohesivitas kelompok, kelompok akan terpecah dimana anggota kelompok menarik diri dari kelompoknya, selain itu kohesivitas kelompok menjadi indikasi dari keberhasilan dalam kelompok.

Kohesivitas kelompok adalah rasa tertarik yang dimiliki seseorang terhadap orang lainnya yang ada dalam suatu kelompok dan kepada kelompok tersebut. Rasa tertariknya membuat seseorang bersikap membantu termotivasi dan saling mendukung antar anggota di dalam kelompok untuk
mencapai suatu tujuan bersama dalam kelompok tersebut.

Faktor-faktor Kohesivitas Kelompok


Menurut Robbins (Munandar 2001) ada terdapat beberapa faktor yang menentukan tinggi rendahnya kohesivitas kelompok, yaitu:

  • Lamanya waktu bersama dalam kelompok, makin lama berada bersama dalam kelompok maka akan saling mengenal, makin dapat timbul sikap toleran terhadap yang lain.

  • Parahnya masa awal, maksudnya adalah makin sulit seseorang diterima didalam kelompok kerja sebagai anggota, makin lekat kelompoknya.

  • Besarnya kelompok, makin besar kelompoknya maka makin sulit terjadi interaksi yang intensif antar anggotanya, makin kurang lekat kelompoknya.

  • Ancaman dari luar, kebanyakan penelitian mengatakan bahwa kelekatan kelompok akan bertambah jika kelompok mendapat ancaman dari luar.

  • Keberhasilan dimasa lalu, setiap orang menyenangi pemenang. Jika satu kelompok kerja, memiliki sejarah yang gemilang, maka terbentuklah esprit de crops yang menarik anggota-anggota baru, kelekatan kelompok akan tetap tinggi.

Dimensi Kohesivitas Kelompok


Forsyth (2010) mengemukakan bahwa ada empat dimensi kohesivitas kelompok, yaitu:

  • Kekuatan Sosial: Keseluruhan dari dorongan yang dilakukan oleh kekuatan atau keinginan individu dalam kelompok untuk tetap berada dalam kelompoknya.

  • Kesatuan dalam Kelompok: Perasaan saling memiliki yang dirasakan anggota kelompok. Besarnya kepedulian anggota kelompok untuk merasakan penderitaan jika terjadi beberapa permasalahan sosial dan interpersonal, maka anggota tersebut lebih antusias terhadap kelompoknya, dan rela mengorbankan kepentingan individu untuk kepentingan organisasi.

  • Daya Tarik: Anggota kelompok akan lebih tertarik melihat banyaknya manfaat dan keuntungan positif yang diperoleh dari organisasi daripada melihat dari anggota kelompok secara spesifik.

  • Kerjasama Kelompok: Anggota kelompok memiliki keinginan yang lebih besar untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok.

Kohesivitas kelompok mengacu pada sejauh mana anggota kelompok saling tertarik satu sama lain dan merasa menjadi bagian dari kelompok tersebut. Dalam kelompok yang kohesivitasnya tinggi, setiap anggota kelompok itu mempunyai komitmen yang tinggi untuk mempertahankan kelompok tersebut.

Kelompok – kelompok yang berbeda dalam hal kohesivitasnya, dan banyak yang tidak pernah mencapai tingkat kelompok yang mempunyai daya tarik tertentu dan komitmen bersama yang merupakan ciri kohesivitas yang kuat.

Kohesivitas yang lebih besar terutama berkembang dalam kelompok yang relatif kecil dan mempunyai organisasi yang lebih bersifat kerjasama dari pada persaingan (Jewel & Reitz, 1981). Kesempatan saling berinteraksi antara para anggotanya secara lebih sering membantu berkembangnya kohesivitas kelompok tersebut.

Kohesivitas yang lebih besar terdapat dalam kelompok yang mempunyai lebih banyak kemiripan sikap, pendapat, nilai dan perilaku diantara para anggotanya (Cartwright, 1968). Pada tahap awal perkembangan kelompok tingkat kemiringan tadi mengurangi kemungkinan terjadinya pertentangan yang mungkin memecah kelompok tadi menjadi fraksi – fraksi yang lebih kecil atau menghancurkannya sama sekali.

Norma – norma adalah standar tidak tertulis mengenai perilaku, nilai dan sikap yang tumbuh dari interaksi antar kelompok. Semakin tinggi rasa kebersamaan suatu kelompok, semakin kuat norma – normanya, dan semakin besar kemungkinannya memaksakan individu mengikuti norma kelompok (Kiesler & Kiesler, 1969, dalam, Jewell, LN; Siegall M, 1990).

Dalam penelitian dinamika kelompok, sifat kohesif merupakan seluruh kekuatan yang membuat anggota kelompok tetap menjadi bagian kelompok itu. Biasanya sifat kohesif dirumuskan atas dasar pilihan persahabatan secara sosiometrik. Taraf sifat kohesif ditentukan oleh beberapa faktor:

  1. Lebih mementingkan kerjasama daripada persaingan
  2. Lebih bersifat demokratis daripada otoriter atau liberal
  3. Adanya organisasi dalam kelompok
  4. Keanggotaan dalam kelompok kedudukan yang tinggi kedudukan sentral dalam kelompok kedudukan rendah.

Anggota-anggota suatu kelompok biasanya saling menaruh perhatian yang besar terhadap sesamanya. Mereka pun lebih terbuka terhadap perubahan maupun pengaruh lain serta lebih mudah menjiwai kaidah-kaidah yang berlaku. Kelompok-kelompok kohesif lazimnya lebih ramah dan lebih tahan terhadap tekanan tekanan. Sifat kohesif merupakan salah satu faktor yang menjadi landasan keseragaman maupun tingkah laku. (Soekanto, 1986).

Menurut Fritzredl, unsur- unsur emosional kelompok merupakan landasan proses pembentukan kelompok (Soekanto, 1986). Anggota kelompok dengan kohesi tinggi, bersifat kooperatif dan pada umumnya mempertahankan dan meningkatkan integrasi kelompok, sedangkan pada kelompok dengan kohesi rendah lebih independen dan kurang memperhatikan anggota lain (Walgito, 2007).

Kohesi menjadi prasayarat terciptanya groupthink . Kohesi adalah semangat kelompok yang tinggi, sebuah ikatan kedekatan dengan hubungan interpersonal yang akrab, kesetiakawanan, dan perasaan “ke-kita-an” yang sangat dalam (Rakhmat, 2002).

Menurut Bettinghaus (1973, dalam Rakhmat, 2002), kohesi kelompok ditandai dengan beberapa gejala, satu di antaranya jika anggota kelompok yang berbeda/menyimpang (devian) akan ditentang keras. Pemimpin atau komunikator akan dengan mudah berhasil memperoleh dukungan kelompok jika gagasannnya sesuai dengan mayoritas anggota kelompok. Sebaliknya, ia akan gagal jika menjadi satu-satunya devian dalam kelompok.