© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Kecemasan Komunikasi di Depan Umum (Communication Apprehension)?

Kecemasan komunikasi di depan umum

Kecemasan komunikasi di depan umum menurut Opt & Laffredo, (2000) menyebutkan kecemasan berkomunikasi di depan umum disebut dengan istilah “Communication Apprehension”. Hal ini menjelaskan bahwa kecemasan komunikasi di depan umum merupakan bentuk perasaan takut atau cemas secara nyata ketika berkomunikasi di depan orang-orang sebagai hasil proses belajar sosial.

Apa penjelasan yang lebih detail tentang Kecemasan komunikasi di depan umum (Communication Apprehension) ?

image

Terdapat perbedaan antara berkomunikasi di depan umum dengan berkomunikasi biasa. Pada konteks berkomunikasi biasa individu merasa aman untuk menyampaikan pikiran-pikirannya. Berbeda dengan berkomunikasi di depan umum secara otomatis individu tersbut menjadi pemimpin dan memegang kendali penuh dari banyak orang.

Oleh karena itu dapat dijelaskan individu yang mengalami kecemasan berkomunikasi di depan umum tidak mengalami kecemasan berkomunikasi pada saat biasa. Individu biasanya hanya menjadi cemas karena berhubungan dengan situasi berkomunikasi di depan umum.

Kecemasan berkomunikasi di depan umum termasuk pada Communication Apprehension In Generalized Context. Dalam Communication Apprehension in Generalized Context beberapa individu mengalami kecemasan hanya pada kondisi tertentu, maksudnya ada tipe general dari setting atau kondisi yang menimbulkan kecemasan.

Penekanannya adalah bahwa fenomena kecemasan berkomunikasi di depan umum berpusat pada pembicara. Konteks yang banyak ditemuai adalah berkomunikasi di depan umum, misalnya memberi pidato, presentasi di depan kelas, pada saat pertemuan atau meeting.

Individu akan mengalami kecemasan ketika akan membayangkan sampai berlangsungnya pengalaman berkomunikasi di depan umum.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kecemasan berkomunikasi di depan umum adalah situasi yang terancam, tidak menyenangkan yang diikuti oleh sensasi fisik, psikis akibat kekhawatiran karena tidak mampu menyesuaikan atau menghadapi situasi saat berkomunikasi di depan umum tanpa sebab yang pasti, yang muncul sebelum atau selama berkomunikasi.

Teori Communication Aprehension atau disebut dengan rasa malu, keengganan, ketakutan berbicara di depan umum, dan sikap pendiam merujuk pada perasaan takut atau kecemasan dalam interaksi komunikai. Individu tersebut akan mengembangkan perasaan-perasaan negatif dan memprediksikan hal-hal negatif saat terlibat dalam interaksi komunikasi. (DeVito, 2001)

Kecemasan berkomunikasi atau Communication Apprehension merupakan bagian dari teori-teori tentang sifat manusia (trait).

Kecemasan berkomunikasi memiliki variabel yang memiliki jenjang rendah sampai tinggi. Dan dalam penerapan praktisnya, persoalan tentang kecemasan berkomunikasi ini dapat diatasi dengan perlakuan-perlakuan tertentu (treatable) kepada individu yang mengalaminya.

Solusi yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi atau mengurangi kecemasan berkomunikasi dengan orang lain adalah melalui berbagai upaya individu untuk melibatkan diri secara sosial (Lewis & Slade, 1994).

Wujud nyata dari keterlibatan sosial seseorang adalah perilaku yang bersifat responsif dan asertif. Perilaku asertif seringkali diberi makna sebagai kemampuan dari seseorang untuk memiliki kepekaan terhadap perilaku komunikasi orang lain atau kemampuan seseorang untuk menemukan cara-cara yang sesuai dalam menilai perilaku atau komentar orang lain.

Perilaku yang responsif juga memiliki aspek empati. Artinya, seseorang secara non verbal akan selalu berupaya membesarkan hati orang lain dengan mencoba memahami dan merasakan apa yang sedang dialami seseorang. Salah satu model alternatif yang ditawarkan mengenai kemampuan berkomunikasi yang berkaitan dengan keterlibatan sosial.

Model ini menegaskan bahwa orang yang memperlihatkan tataran keterlibatan sosial yang tinggi mengindikasikan adanya kemungkinan bahwa orang tersebut suka bergaul (sociable) dan bersikap ramah (outgoing).

Bell menegaskan adanya 3 (tiga) perilaku yang secara khusus penting dalam mengkomunikasikan keterlibatan sosial, yaitu perilaku perseptif, atentif, dan responsif.

Perilaku perseptif melibatkan keterpaduan makna diri (self) dalam hubungan dengan orang lain. Setelah seseorang berperilaku secara perseptif, ia melanjutkan perilakunya secara atentif, yaitu perhatian selektif kepada informasi yang relevan terhadap interaksi yang sedang berlangsung. Dan pada akhirnya, seseorang perlu menunjukkan perilaku responsifnya secara sosial, seperti misalnya kemampuan untuk bertindak secara pantas dengan kesadaran tentang peran antarpribadinya.

Dalam komunikasi publik penyampaian pesan berlangsung secara kontinu. Dapat didefinisikan siapa yang berbicara (sumber) dan siapa pendengarnya. Interaksi antara sumber dan penerima terbatas, sehingga digunakan sangat terbatas.

Hal ini disebabkan karena waktu yang digunakan sangat terbatas, dan jumlah khalayak yang relatif besar. Sumber sering tidak dapat mengidentifikasi satu per satu pendengarnya. Ciri lain yang dimiliki komunikasi publik bahwa pesan yang disampaikan itu tidak berlangsung secara spontanitas, tetapi terencana dan dipersiapkan lebih awal.

Tipe komunikasi publik biasanya ditemui dalam berbagai aktivitas seperti kuliah umum, khotbah rapat akbar pengarahan, dan ceramah.

Secara teoritik, kecemasan untuk berkomunikasi dengan orang lain dapat dipilah menjadi dua bagian, yaitu kecemasan berkomunikasi yang muncul dalam diri seseorang (trait) dan kecemasan yang timbul karena situasi sosial yang menyebabkan seseorang tidak mampu menyampaikan pesannya secara jelas (state). McCroskey (1996) membagi kecemasan berkomunikasi dalam 4 (empat) tipe yaitu :

  1. Traitlike Communication Apprehension
    Derajat kecemasan yang relatif stabil dan relatif panjang waktunya ketika seseorang dihadapkan pada berbagai konteks komunikasi, seperti dalam publik speaking, pertemuan-pertemaun (meetings), komunikasi antarpribadi, dan komunikasi kelompok.

    Sementara itu Traitlike Communication Apprehension juga bisa dilihat sebagai refleksi kepribadian dari seseorang yang mengalami tingkat kecemasan berkomunikasi.

  2. Context-Based Communication Apprehension
    Menegaskan bahwa meskipun orang cenderung konsisten terhadap konteks waktu, namun dalam beberapa hal, kecemasan berkomunikasi akan berubah konteksnya. Misalnya, seseorang yang akan mengalami kecemasan ketika berbicara di depan umum dibandingkan ketiak ia berada dalam konteks diskusi kelompok.

    Sebaliknya ia merasa akan tidak cemas ketika berpidato, namun ia merasa tidak nyaman ketika dengan orang lain secara tatap muka.

  3. Audience Communication Apprehension
    Merupakan Communication Apprehension yang dialami seseorang ketika ia berkomunikasi dengan tipe-tipe orang tertentu tanpa memandang waktu atau konteks. Anggota khalayak yang bersifat khusus ini akan memicu munculnya reaksi kecemasan.

    Misalnya, seseorang yang mengalami kecemasan berkomunikasi dengan orang tua akan mengalami Communication Apprehension ketika menyampaikan sebuah pidato dimana orang tua mereka berada dalam kumpulan khalayak tersebut, meskipun sebenarnya mereka tidak merasa cemas ketika meraka akan melakukan kegiatan public speaking. Individu tersebut akan merasakan kecemasan yang sama ketika ia berbicara secara pribadi dengan orang tuanya.

  4. Situasional Communication Apprehension
    Berhubungan dengan situasi ketika seseorang mendapatkan perhatian yang tidak biasa (unusual) dari orang lain, seperti misalnya ketika individu sedang melakukan publik speaking, atau berhubungan dengan orang lain yang memiliki status sosial atau jabatan yang lebih tinggi.

1 Like

Kecemasan Berkomunikasi atau Communication Apprehension merupakan kecemasan yang muncul dalam diri individu dalam kaitannya dengan kemampuan berkomunikasi. Communication Apprehension yang biasa dikenal dengan istilah CA dapat terjadi karena kurangnya pengalaman individu atau keterbatasan informasi yang dimiliki. Menurut Beatty (1998) dalam Blume (2013), CA merupakan kombinasi dari dimensi kepribadian yang tertutup dan neuroticism dalam interaksi sosial yang ditandai dengan adanya sikap yang menghindari interaksi atau munculnya berbagai perasaan cemas saat berkomunikasi.

Burgoon & Ruffner (1978) menyatakan bahwa CA merupakan suatu reaksi negatif yang muncul dalam diri individu yang biasanya berupa rasa yang dialami individu saat berkomunikasi, baik dalam komunikasi antar pribadi, komunikasi di depan umum, atau komunikasi masa. Rogers (2004) juga menyatakan bahwa kecemasan dan ketakutan berbicara di depan umum ditandai dengan perasaan gelisah dan tertekan. Selain itu, Daradjat (1969) menjelaskan bahwa kecemasan merupakan manifestasi dari berbagai proses emosi yang bercampur baur, yang terjadi ketika individu mengalami tekanan perasaan dan pertentangan batin. Spielberger (1972) menambahkan bahwa kecemasan merupakan reaksi emosional yang disertai dengan perubahan sistem syaraf otonom dan pengalaman subjektif sebagai tekanan, ketakutan, dan kegelisahan. Selanjutnya, ada ungkapan yang menyatakan bahwa CA adalah elemen utama yang berkaitan erat dengan keterbatasan kemampuan individu dalam berkomunikasi. Secara tegas, ungkapan tersebut dijelaskan oleh McCroskey (1977) sebagai berikut:

Communication Apprehension is an individual’s level of fear or anxiety associated with either real or anticipated communication with another person or persons”

Teori Communication Apprehension


Kecemasan komunikasi merupakan suatu gejala yang mempunyai banyak istilah. Horwits (2001) menyatakan bahwa kecemasan komunikasi sebagai demam panggung ( stage fright ), kecemasan komunikasi ( communication anxiety ), kecemasan tampil di depan umum ( performance anxiety ), kemudian berkembang dengan istilah Communication Apprehension (CA). Kecemasan Berkomunikasi didefinisikan sebagai kecemasan atau ketakutan yang diderita oleh individu secara nyata atau antisipasi komunikasi, baik dalam suatu kelompok atau individu dengan individu, sehingga kecemasan komunikasi akan sangat memengaruhi komunikasi verbal mereka. Kecemasan berbicara didepan umum (CA) terbagi menjadi beberapa komponen.

Menurut Rogers (2004), kecemasan berbicara di depan umum terbagi menjadi 3 komponen, yaitu komponen fisik, komponen proses mental, dan komponen emosional.

  • Komponen fisik biasanya dirasakan jauh sebelum individu memulai pembicaraan, dan gejala-gejala fisik yang ditimbulkan oleh tiap-tiap individu berbeda-beda.

  • Komponen proses mental, individu biasanya mengulang kata atau kalimat, kehilangan ide secara tiba-tiba sehingga sulit mengingat fakta secara tepat dan melupakan hal penting.

  • Komponen emosional adalah munculnya rasa tidak mampu, takut, dan rasa kehilangan kendali.

Horwitz (2001) juga mengemukakan bahwa kecemasan komunikasi merupakan suatu jenis fobia sosial, yang ditandai dengan adanya suatu pemikiran bahwa dirinya akan dikritik atau dinilai jelek oleh orang lain. Hal ini tampak pada diri seseorang terutama saat diminta untuk melakukan presentasi dalam bahasa asing. Seperti yang dikemukan Rakhmat (2007) bahwa orang yang mengalami kecemasan komunikasi akan sedapat mungkin menghindari situasi komunikasi, hal ini karena ia takut orang lain akan mengejeknya atau menyalahkannya.

Selain Horwitz (2001), Berrios (1999) menyatakan bahwa kecemasan merupakan sesuatu yang berkaitan dengan ketidakmudahan, ketakutan dan kegugupan yang dirasakan oleh individu yang memiliki ketakutan untuk gagal dalam mengerjakan suatu tugas. Selain itu, MacIntyre & Gardner (1991) menyatakan bahwa kecemasan berbicara merupakan masalah yang paling rumit dan mengerikan yang sering muncul ketika individu mencoba berkomunikasi dengan individu-individu lainnya. Menurut Spielberger (1972), kecemasan berkomunikasi dibedakan menjadi dua, yaitu state anxiety dan trait anxiety.

State anxiety merupakan kecemasan yang bersifat sementara, sedangkan trait anxiety lebih mengarahkan pada kestabilan perbedaan personality dalam kecenderungan untuk merasa cemas. Dalam hal ini trait anxiety tidak dapat terlihat langsung pada perilaku individu, tetapi dapat dilihat dari frekuensi state anxiety yang muncul dalam diri individu.

Sejalan dengan hal tersebut, McCroskey (1977) menyebutkan bahwa CA merupakan kecemasan dasar yang sangat berkaitan dengan oral communication . McCroskey juga menggolongkan CA menjadi 4 tipe atau dimensi, yaitu CA as a trait , CA in generalized context , CA with generalized people , dan juga CA as a state .

Communication Apprehension merupakan kecemasan yang terdapat atau dapat dilihat dalam kelompok, di dalam kelas, dalam komunikasi interpersonal, dan juga di lingkungan publik. McCroskey (1977) juga menyatakan bahwa tidak dalam semua kondisi individu mengalami kecemasan karena beberapa individu hanya mengalami kecemasan pada kondisi tertentu, sebagai contohnya adalah berbicara di depan umum.