Apa yang dimaksud dengan Kecemasan Kompetitif atau Competitive Anxiety?

kecemasan kompetitif

Apa yang dimaksud dengan kecemasan kompetitif?

1 Like

Kecemasan Kompetitif (Competitive Anxiety)


Kecemasan merupakan emosi yang muncul karena adanya interpretasi dan penilaian terhadap situasi yang dihadapi (Cox, 2007). Dalam konteks olahraga, emosi negatif spesifik muncul sebagai respon dari tekanan kompetitif, yaitu yang berkaitan dengan situasi kompetisi atau pertandingan, yang disebut dengan kecemasan kompetitif (Mellalieu, Hanton, & Fletcher, 2009).

Secara umum, individu dapat menampilkan performa terbaiknya ketika berada dalam kondisi tertekan dengan tingkatan sedang (Davies, 1989).

Dalam kondisi tersebut, sistem saraf otonom akan bertindak dengan meningkatkan gugahan. Ketika gugahan bertambah, performa individu akan meningkat karena individu menjadi lebih waspada dan dapat merespon situasi dengan lebih cepat dan akurat. Namun ketika tekanan dirasa terlalu berat, hal tesebut dapat memperburuk performa dan pada tingkatan ekstrim, individu akan panik, gagal menampilkan hasil belajarnya, dan adanya kemunduran dalam menampilkan kemampuannya. Gunarsa (2008), mengemukakan bahwa kecemasan dan ketegangan dapat berpengaruh pada kondisi fisik dan mental atlet yang bersangkutan.

Berikut merupakan perwujudan dari ketegangan atau kecemasan pada komponen fisik dan mental:

  • Pengaruh pada Kondisi Fisik
    Kecemasan memiliki pengaruh terhadap kondisi fisik seorang atlet. Kecemasan dapat meningkatkan detak jantung atlet menjadi lebih keras atau lebih cepat. Selain itu kecemasan juga dapat membuat telapak tangan menjadi berkeringat. Pada atlet bulutangkis, tenis, atau tenis meja, tangan yang berkeringat membuat mereka cenderung untuk mengubah-ubah posisi tangan pada raket atau berusaha untuk mengeringkan telapak tangan dengan menyekanya pada baju yag dikenakan. Hal ini dapat mengganggu konsentrasi mereka. Kecemasan juga dapat menyebabkan mulut menjadi kering sehingga atlet akan mereasa lebih cepat haus. Pada banyak orang, kecemasan dapat menyebabkan gangguan pada perut atau lambung. Gangguan perut dan lambung dapat muncul dalam berbagai bentuk, baik gangguan yang benar-benar menimbulkan luka pada lambung, maupun gangguan yang sifatnya semu seperti mual-mual. Kondisi fisik lain yang dapat muncul akibat adanya kecemasan yaitu otot-otot pundak dan leher yang menjadi kaku.

  • Pengaruh pada Aspek Mental
    Dalam hubungannya dengan aspek mental, kecemasan dapat membuat atlet menjadi gelisah. Gejolak emosi yang dimiliki atlet cenderung tidak stabil. Atlet dapat menjadi sangat peka terhadap stimulus yang ada sehingga ia akan cepat bereaksi atau menjadi tidak peka yang membuat reaksinya menjadi tumpul. Kecemasan juga dapat menghambat konsentrasi sehingga kemampuan berpikir atlet menjadi kacau. Hal ini membuat kemampuan atlet dalam membaca permainan lawan menjadi tumpul dan dapat memunculkan keragu-raguan untuk mengambil keputusan dalam pertandingan.

Ketika atlet berada dalam kondisi fisik dan mental seperti di atas, penampilannya pun akan ikut terganggu. Ia akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan irama permainan. Pengaturan ketepatan waktu dalam bereaksi menjadi pun berkurang. Selain itu koordinasi otot menjadi tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki, seperti kesulitan untuk mangatur kekerasan atau kehalusan dalam menggunakan kontraksi otot. Atlet juga cenderung akan merasa lebih lelah karena pemakaian energi menjadi boros. Kemampuan dan kecermatan membaca permainan lawan menjadi berkurang, dan pengambilan keputusan cenderung tergesa-gesa, tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Permainan pun akan cenderung dikuasai oleh emosi sesaat sehingga gerakan pun dilakukan tanpa kendali pikiran.

Dampak kecemasan dan ketegangan terhadap penampilan atlet secara bertingkat akan berakibat negatif, seperti yang terlihat pada bagan. Tingkat kecemasan yang tinggi akan mempengaruhi peregangan otot-otot sehingga berpengaruh pada kemampuan teknisnya. Penampilan pun akan terpengaruh dan mengakibatkan permainan menjadi buruk. Hal ini akan mengganggu pikiran atlet dan memunculkan berbagai pikiran negatif. Pikiran negatif tersebut akan memunculkan kecemasan baru sehingga kecemasan yang dimiliki atlet akan semakin meningkat.

Dalam konteks olahraga, kecemasan atlet sebelum bertanding disebut sebagai competitive state anxiety (kecemasan kompetitif). Menurut Burton (1988) dalam (Eys dkk., 2003, hal. 67), kecemasan kompetitif adalah “thought to derive largely from feelings of stress that arise from perception about the importance of the situations and uncertainty about the outcome”. Berdasarkan definisi ini dapat disimpulkan bahwa kecemasan kompetitif adalah pemikiran yang berasal dari sebagian besar perasaan stres, yang muncul dari persepsi tentang pentingnya situasi dan ketidakpastian tentang hasil.

Martens, dkk (1990) mengembangkan teori kecemasan kompetitif multidimensi, yang menjelaskan bahwa kecemasan kompetitif termanifestasikan dalam tiga bentuk, yaitu kecemasan kognitif, kecemasan somatik, dan kepercayaan diri. Kecemasan kognitif dihipotesiskan memiliki hubungan linier negatif dengan performa atlet, kecemasan somatik dihipotesiskan memiliki hubungan terbalik yang berbentuk U dengan performa atlet, dan kepercayaan diri dihipotesiskan memiliki hubungan linier positif dengan performa atlet.
Berdasarkan teori ini, Martens, dkk (1990) mengembangkan sebuah alat ukur kecemasan kompetitif yang bernama Competitive State Anxiety Inventory. Alat ukur ini kemudian banyak digunakan dalam penelitian yang menguji asosiasi antara kecemasan kompetitif dengan performa atlet (Jones & Swain, 1996; Woodman & Hardy, 2003; Besharat & Pourbohlool, 2011).

Lebih lanjut, Martens, dkk (1990) menjelaskan bahwa kecemasan kognitif adalah harapan negatif dan kekhawatiran kognitif tentang diri sendiri, situasi yang dihadapi, dan potensi konsekuensi yang akan dihadapi. Misalnya, keraguan tentang diri dan kekhawatiran tentang kekalahan. Kecemasan somatik adalah persepsi dari gairah fisiologis seseorang, misalnya, peningkatan denyut jantung, gemetar, dan berkeringat. Sedangkan, kepercayaan diri adalah keyakinan seseorang dalam menghadapi tantangan tugas yang akan dilakukan, misalnya berbentuk perasaan santai dan aman.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan Kompetitif

Merujuk pada Endler (1978) dalam Cox (2003), ada lima faktor yang menyebabkan terjadinya peningkatan kecemasan kompetitif atlet, yaitu:

  1. Takut gagal.
  2. Takut mendapatkan evaluasi sosial yang negatif.
  3. Takut cedera.
  4. Situasi yang ambigu.
  5. Tuntutan merubah sesuatu tanpa ada latihan.

Pengukuran Kecemasan Kompetitif

Dalam beberapa tahun terakhir, metode pengukuran trait dan state kecemasan cenderung lebih banyak menggunakan inventori kertas dan pensil. Namun hal ini bukan berarti metode lain seperti asesmen perilaku dan fisiologis menjadi tidak berarti. Penggunaan inventori kertas dan pensil lebih sering digunakan karena metode tersebut lebih mudah dikerjakan dibandingkan asesmen perilaku dan fisiologis.

Berdasarkan dimensi pengukuran, metode pengukuran trait dan state kecemasan dibagi menjadi dua, yaitu unidimensi dan multidimensi (Cox, 2003). Dalam inventori multidimensi, pengukuran trait dan state kecemasan biasanya mengukur dimensi kecemasan kognitif, somatik, dan kepercayaan diri. Sedangkan pada inventori unidimensi, trait dan state kecemasan diukur secara keseluruhan, tidak dibagi ke dalam dimensi-dimensi.

Sejak tahun 1990, CSAI-2 telah dipilih menjadi inventori yang digunakan untuk mengukur kecemasan kompetitif (Cox, 2003). CSAI-2 terdiri dari 27 item yang mengukur dimensi kecemasan kognitif, kecemasan somatik, dan kepercayaan diri. Namun pada tahun 2003, pengukuran kecemasan kompetitif dialihkan menggunakan CSAI-2R yang dikembangkan oleh Cox, Martens, dan Russels (2003). Hal ini disebabkan karena CSAI-2 mempunyai item-item yang berkorelasi tinggi dengan satu dimensi lain atau lebih pada konstruk kecemasan kompetitif.

1 Like

Menurut Singgih, {1996: 147), “kecemasan adalah perasaan tidak berdaya, tak aman tanpa sebab yang jelas, kabur atau samar-samar. Kecemasan dalam pertandingan akan menimbulkan tekanan emosi yang berlebihan yang dapat mengganggu pelaksanaan pertandingan serta mempengaruhi
penampilan atau prestasi”. Budiarjo, dkk. (1987: 351), menyatakan bahwa “kecemasan adalah keadaan tertekan dengan sebab atau tidak adanya sebab yang dimengerti, kegelisahan hampir selalu disertai dengan gangguan sistem syaraf otonom dan disertai rasa mual”. Saparinah dan Sumarno. (1982: 23), “kecemasan adalah perasaan yang dapat mengurangi bahkan meniadakan potensi yang dimiliki oleh atlet karena kecemasan merupakan perasaan tak berdaya dan perasaan tekanan tanpa sebab yang jelas.”

Competitive anxiety merupakan suatu hal negatif dalam menghadapi kompetisi karena dapat menurunkan capaian prestasi dan hal ini diindikasi salah satunya terkait dengan mental toughness atau kemampuan untuk bersikap positif ketika menghadapi suatu tekanan khususnya dalam sebuah pertandingan.

Berbagai Gejala Anxiety

Munculnya rasa cemas karena harus berhadapan dengan situasi atau keadaan yang dianggap dapat menimbulkan stres adalah hal yang normal. Orang yang cemas biasanya akan merasakan gejala-gejala berikut ini:
• Gugup, gelisah, dan tegang
• Detak jantung cepat
• Napas cepat
• Gemetaran
• Sulit atau bahkan tidak bisa tidur
• Banyak berkeringat
• Tubuh terasa lemas
• Sulit konsentrasi
• Adanya perasaan seperti akan ditimpa bahaya

Kecemasan dapat digambarkan sebagai suatu kekhawatiran umum mengenai suatu peristiwa yang tidak jelas, tidak pasti terhadap peristiwa yang akan datang (Mu’arifah, 2005). Aspek-aspek kecemasan adalah kecemasan
menghadapi kompetisi menurut Hartanti (2004) yang dapat timbul pada individu dalam situasi kompetitif (situasi pertandingan) adalah sebagai berikut:
a. Keluhan Somatik (Somatic Complains)
b. Ketakutan akan kegagalan (Fear of Failure)
c. Perasaan tidak mampu (Feelings of Inadequacy)
d. Kehilangan kontrol (Lost of Control)
e. Kesalahan (Guilt)

Kecemasan adalah suatu pengalaman subjektif mengenai ketegangan
mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dan ketidakmampuan
menghadapi masalah atau adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menyenangkan
ini umumnya menimbulkan gejala-gejala fisiologis (seperti gemetar, berkeringat,
detak jantung meningkat, dan lain-lain) dan gejala-gejala psikologis seperti; panik,
tegang, bingung, tak dapat berkonsentrasi, dan sebagainya (Amir, 2004).

Kecemasan tidak selalu merugikan, karena pada dasarnya rasa cemas berfungsi sebagai mekanisme kontrol terhadap diri untuk tetap waspada terhadap apa yang akan terjadi, namun jika level kecemasan sudah tidak terkontrol
sehingga telah mengganggu aktivitas tubuh, maka hal itu jelas akan sangat mengganggu. Skill individu atau kelompok yang sebelumnya baik atau diatas rata-rata tidak akan keluar dalam sebuah pertandingan jika atlet tersebut mengalami kecemasan dan tidak bisa mengontrol kondisi emosinya. Tingkat kecemasan yang tinggi dapat mempengaruhi kognitif seseorang, menyebabkan dampak negatif dalam pikiran, dan potensi performa yang kurang memuaskan.

Ramiah (2003) menungkapkan bahwa pengaruh masa penonton atau masa sangat berpengaruh pada suasana pertandingan baik secara positif maupun negatif yang dapat berpengaruh terhadap kestabilan mental atlet pada saat
bertanding. Atlet takut apabila mengalami kegagalan yang menimbulkan tuntutan untuk selalu meraih hasil positif dalam setiap pertandingannya. Hal ini sesuai pernyataan Hartanti (2004) yang menyatakan aspek-aspek kecemasan dapat timbul pada individu dalam situasi kompetitif (situasi pertandingan) adalah
sebagai berikut:
a. Keluhan Somatik (Somatic Complains)
b. Ketakutan akan kegagalan (Fear of Failure)
c. Perasaan tidak mampu (Feelings of Inadequacy)
d. Kehilangan kontrol (Lost of Control)
e. Kesalahan (Guilt)

Oleh sebab itu, para pelatih harus senantiasa memberikan dorongan semangat kepada para atletnya agar mereka dapat melaksanakan perlombaan dengan baik. Untuk dapat berprofesi sebagai pelatih yang profesional harus mengetahui ilmu-ilmu yang mendukung dalam praktik kepelatihan lainnya. Menurut Pate Rutella dan Clenaghan yang dialihkan bahasanya oleh Kasiyo Dwijowinoto (1993: 2-3), ilmu-ilmu yang mendukung tersebut antara lain psikologi olahraga, biomekanika dan fisiologi latihan. Menurut Suharno (1985:5) seorang pelatih dikatakan baik apabila memiliki kemampuan fisik yang baik, menguasai ilmu-ilmu sesuai dengan bidangnya secara teoritis dan praktis, kemampuan psikis yang baik, berkepribadian yang baik dan kemampuan peranan ilmu di dalam masyarakat untuk memperlihatkan prestasi kerja sebaik-baiknya.

Beberapa Cara Mengatasi Anxiety

Untuk meredakan atau mencegah munculnya perasaan cemas, dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut ini:
• Mencukupi waktu tidur dan istirahat
• Membatasi konsumsi kafein dan minuman beralkohol
• Mengurangi stress dengan mencoba teknik relaksasi, misalnya meditasi dan yoga
• Melakukan aktivitas fisik atau berolahraga secara teratur
• Mencoba bertukar pikiran atau curhat dengan teman
Anxiety yang muncul akibat gangguan kecemasan lama-kelamaan berpotensi membuat penderitanya merasa depresi, ingin bunuh diri, hingga menyalahgunakan obat-obatan atau minuman beralkohol. Oleh karena itu, jika Anda mengalaminya, segeralah berkonsultasi dengan psikiatre.

1 Like

Halo kak, aku boleh minta like tidak? di link Perjuangan tuk Kebebasan, Karya Christiano Terima kasih yaa ^,^